Saturday, 18 July 2015

Mencari Mama (Bagian I)

Hampir setahun gue ga ketemu mama, ga juga bisa menghubungi. Ga ada no telepon yang bisa gue hubungi untuk menanyakan kabar mama di rumah yang baru. Gue juga ga berani cuma mengirim helaian surat ke alamat yang gue dapat. Gue membeli daster untuk mama, dan gue bungkus, tapi gue ga punya keberanian mengirimkannya, padahal gue ingin tau paket bakal sampai di mama, atau ga. Jadi kalau mau mencari rumah mama, setidaknya gue tau, alamat yang gue punya itu benar. Ya, mama pindah tanpa kejelasan yang pasti alamat, dan kakak gue satu-satunya pun ga memberitahu gue. Kakak gue beserta keluarganya pindah ikut mama, setelah rumah mama dijual. Sedangkan gue mengontrak berempat bersama Ngka, Esa, Pink. Terkesan memang ga ingin gue tau alamat yang baru. Gue hanya tau rumah sudah dijual, sudah membeli rumah baru. Cuma itu.

Kangen yang gue punya semakin lama semakin mendesak untuk mencari mama! Ingin sekali mencari rumah mama! Tapi ga bisa. Motor cuma 1, dan digunakan bergantian dengan Ngka. Senin hingga Jumat, gue kerja. Sabtu dan Minggu, Ngka kuliah. Naik kendaraan umum untuk ke daerah sana dari tempat gue, ga ada. Apalagi ini mencari, bukan pergi ke tempat yang sudah jelas. Dan gue sering sakit, karena cape. Gue semakin kangen mama, dan semakin berkali lipat kangen yang ada.

Lebaran semakin dekat, gue sakit lagi. Kali ini gue sakit typhus, dan infeksi kelenjar getah bening. Seharusnya gue dirawat inap, tapi gue ga mau, karena memikirkan anak-anak gue. Ngka berkata bahwa dia akan menjaga gue di rumah sakit. Lalu bagaimana dengan Esa, dan Pink, di rumah? Gue putuskan rawat jalan.

Kondisi mulai membaik, gue memaksakan diri pergi membeli baju untuk mama. Membongkar lagi bungkusan paket yang sudah lama gue akan kirim, tapi meragu, hingga akhirnya menghiasi kamar. Khawatir ga diterima, karena tadinya isinya cuma 2 lembar daster. Dalam paket gue tulis surat untuk mama, menanyakan kondisi mama, dan memberitahu bahwa gue belum bisa ke sana karena gue pun sakit. Paket pun dikirim lewat jasa pengiriman barang. Lega rasanya.

Seorang sahabat yang sudah seperti saudara sendiri, memberitahu,"Cek lewat internet, paket nyampe ato ga ke alamat yang dituju." Gue cek keesokan harinya, cihui banget, paket dah diterima! Berarti alamat yang mama beri ke gue, bukan alamat palsu kayak lagu dangdut. Gue bahagia banget! "Siapa yang terima paketnya?" Tanya sahabat. Gue bingung. "Lihat lagi, ada nama penerimanya." Lagi-lagi sahabat yang baik memberitahu. Gue cek, dan,"Huwaaaa, pa RT 01!" Kok pak RT yang nerima? Mengejutkan, Esa berkata ke gue bahwa ada no hp alm. bapak yang digunakan oleh kakak gue! Gue sms ke no tersebut, memberitahu bahwa gue mengirim paket untuk mama. Ga ada balasan, padahal sms terkirim. Gue ulang lagi, sms ke no itu. Masih sama, ga ada balasan. Rasanya nyesek banget! Yea, ini saatnya untuk mencari mama! Sebelum Lebaran, gue sudah harus bisa ketemu mama. Seorang sahabat yang mengerti jelas apa yang sebenarnya terjadi sebelum mama pindah, mengatakan ke gue,"Rasanya kamu memang sudah dibuang." Wuaaaaa...!!! Airmata gue turun ga bisa berhenti! Doa yang bisa meredam tangis gue.

Rabu, 15 Juli 2015, pagi-pagi gue dan Ngka berdua naik motor menuju alamat yang gue dapat dari mama, alamat yang sulit banget gue dapat. Mama ga pernah mau menjawab pertanyaan gue mengenai alamat rumah yang baru, setiap gue menjenguk mama sebelum pindah. Entah kenapa, jangan tanya ke gue, gue juga ga ngerti kenapa bisa begitu.

Kondisi gue masih belum fit, tapi gue merasa sanggup untuk perjalanan mencari mama. Kondisi Ngka pun sedang kurang bagus. Tapi tekad mencari mama, tebal di hati. Gue mendapat patokan menuju daerah rumah mama, dari seorang sahabat.

"Jauh, ya Ma?" Tanya Ngka.

"Ya, jauh banget. Ini menurut teman mama, masih jauh banget."

"Ma, nanti gantian ya bawa motornya. Ngka kurang enak badan."

"Ya. Nanti kita gantian."

Dan, kami pun bergantian nyetir motor. Gue bersyukur banget punya anak lelaki yang sudah besar, jadi bisa gantian gini. Kalau anak gu masih kecil, waduh ga bisa gantian gini.

Sampai di depan pasar yang macet total! Sebelah kanan jalan, pedagang sayur.

"Ga bisa lewat, ya Mang?"

"Bisa, Neng. Tapi pelan-pelan. Emang Neng mau ke mana?"

Gue sebutkan daerah yang hendak gue tuju. Si Mamang terburu-buru mendekati gue, padahal lumayan agak jauh. Gue aja agak berteriak supaya bisa terdengar sama si Mamang. Sumpah, si Mamang baiknya banget-banget!!

"Neng, kalau mau ke sana, balik arah. Bukan ke sini. Ke sana, Neng puter arah aja, sekarang, Neng. Belok kiri, teruuus ajaaaa... Itu ke arah sana!" Luarbiasa si Mamang!

Setelah mengucap terimakasih pada si Mamang, gue langsung putar arah. Aneh juga, jalan yang macet berjejal, sewaktu gue putar arah, kok ya lega ya jalannya, jadi gampang banget gue putar arah. Kemudian mengikuti arah yang diberitahu olehnya tadi.

Jalan berlubang, dan parah macetnya! Tapi kemudian lancar, malah bisa dibilang sepi pakai banget. Gue berkata pada Ngka, lumayan khawatir nyasar, karena ga sesuai dengan yang diberitahu oleh sahabat gue. Lalu bertanyalah Ngka pada seorang bapak yang sedang menunggu bus di pinggir jalan. Ga salah, ini memang arah menuju daerah tempat tinggal mama. Jalan yang sepi, dan ga berbelok, melelahkan. Ngka bertanya lagi pada seorang bapak.

"Teruuus aja. Nanti sesudah pom bensin, belok kiri, itu perempatan."

Jalan lagi. Ga lama kemudian terlihat pom bensin! Tapi mana perempatannya? Ga ada perempatan! Yang ada pertigaan.

"Iya, bener ini, belok sini. Nanti kalau ada tanjakan, itu udah nyampe."

Siiip...! Jalanan yang dilewati menanjak. Beberapa kali menanjak, dan terus menanjak. Sudah sampai atau belum?

"Terus aja, nanti kalau tanjakan, itu artinya sudah sampai."

Tanjakan, tanjakan, dan tanjakan. Di sini tanjakan semua. Tapi ternyata ada tanjakan yang tinggi, lebih tinggi dibanding sebelumnya. Apakah sudah sampai?

"Ya, bener. Ini perbatasan RW-nya. Coba tanya ke sebelah sana."

Yeaaa...!!! Balik arah, tanya ke warung.

"Iya, bener. Rumah Pak RT? Itu masuk ke gang kecil itu. Nanti kalau ketemu perempatan, tanya aja sama orang."

Weeeeh..., yeaaaa!!!

Perempatan, perempatan... Ga ada perempatan. Yang ada jalan tanah, dan ga ada jalanan perempatan.

"Ini masuk lewat sini, kalau ketemu jalan cor, ada pos, itu rumah Pak RT."

Yeaaa...!!!

Pos hansip! Rumah Pak RT! Ketok-ketok, ucap salam, ga ada yang jawab, ga ada orang. Rumahnya sepi. Kemudian gue lihat dari seberang, seorang bapak mendatangi gue.

"Pak RT-nya ga ada ya Pak?"

"Wah, iya. Saya ga tau ke mana."

Seorang bapak datang, disusul seorang ibu, dengan remaja putri naik motor.

"Itu Pak RT."

Gue mengenalkan diri pada Pak RT, lalu gue sampaikan bahwa gue mengirim paket beberapa hari lalu, dan Pak RT yang menerima. Gue bertanya di mana rumah mama.

"Iya, saya terima. Sudah saya sampaikan. Katanya, itu adiknya yang kirim. Rumahnya di sebelah sana." Sambil tangannya menunjuk sambil agak muter-muter gitu. Gue lumayan bingung melihat tunjukan tangannya.

"Anter atuh Pak! Ini pake motor!" Ibu RT mengerti kebingungan gue.

Diantarlah gue ke rumah mama! Gue lihat kursi di teras, yeaaaa, itu kursi mama!!!

"Iya, Pak, bener, Pak! Ini rumah mama saya! Bener, Pak! Terimakasih, Pak!"

Pak RT kembali ke rumahnya.

"Mamaaaaa, Mamaaaaa...!!!" Gue buka pagar yang tak dikunci. Lalu gue mendengar suara dari dalam memanggil gue.

"Niniiiit...! Niniiiiit...!!" Itu mama gue!!

Segini dulu, ya ceritanya Nanti dilanjut lagi di bagian ke-2, gue ceritain gimana senenngnya ketemu mama. Sekarang sih gue masih ga kuat duduk ngetik lama. Gue mau istirahat dulu, mau tiduran lagi. Besok pagi gue mau ke rumah mama lagi bareng Ngka, jadi gue harus sehat.

Salam,
Nitaninit Kasapink