Sunday, 13 March 2016

Bekasi - Tangerang - Semarang (3)

Lagi-lagi Ngka duduk bareng Esa, dan kursi mereka ada di depan kursi Pink yang bareng gue. Pink menikmati perjalanan dengan melihat langit, awan-awan yang putih bersih. Gue tidur nyenyak, dan terbangun saat akan landing.

Semarang! Dalam hati berteriak saat memandang kota yang ada di bawah. Delapan tahun kami meninggalkan kota ini. Kota yang penuh kenangan, dan tempat papa Ngka, Esa, Pink, dimakamkan. Delapan tahun bukan waktu yang sebentar.

"Ma, Semarang."

"Ya, Nduk. Semarang."

Wajah Pink ceria.

"Kita langsung ke hotel, atau ke makam papa?"

"Makam papa, Nduk."

Ga ada yang tahu saat itu gue sedang menahan airmata. Jangan menangis, plis, itu yang berulang kali diucap untuk diri sendiri.

Bandara Ahmad Yani. Semarang, kaki kami ada di tanahmu sekarang. Semakin sulit membendung airmata, tapi tetap bertahan untuk tenang.

"Toilet ya, Ma."

Ngka dan Esa, berdua menuju toilet, sedangkan Pink dan gue menunggu mereka keluar. Pink terlihat agak gelisah. Mungkin karena ingin segera nyekar ke makam sang papa.

 Setelah Ngka, Esa, keluar dari toilet, kami menuju luar.

"Taxi atau angkot?"

"Angkot aja, Ma." Jawab Pink.

Kaget sewaktu mendengar Pink yang menjawab. Tubuhnya ringan berjalan, dengan senyum terpahat. Sengatan matahari Semarang ga memudarkan cerah wajahnya!

"Ok, jalan kaki ya ke jalan raya," ujar gue.

Wuaduh, jalan raya masih jauh! Panas pula!

"Taxi aja, ya?"

Baru saja gue selesai mengucap, taxi berhenti di depan kami.

"Bergota, Pak."

Di dalam taxi, bapak sopir mengobrol dengan Esa. Ngka sibuk memegang hp, juga Pink. Gue diam mengamati kota masa lalu.

"Mau nyekar siapa?"

"Papa."

Gue tetap diam. Bagaikan sebuah film panjang diputar kembali dalam kenang.

"Makamnya sebelah mana?"

"Bagian atas, Pak." Jawabku. Film sejarah masa lalu terpenggal.

Taxi melalui jalan menanjak. Pa, sebentar lagi kami tiba, bisik hati.

"Pak, salah jalan. Bukan ini. Di dekat makam ada tempat parkirnya."

"Oh, berarti belokan yang di sana, masih satu belokan lagi."

Sesak. Napas mulai sesak, dada terasa sakit. Sebentar lagi, sebentar lagi!

"Ya, Pak. Di sini, betul. Bapak tunggu aja, ya?"

"Baik, Bu."

Gue bergk cepat membuka pintu. Menggandeng tangan Pink, putri cantik. Ngka dan Esa, pangeran gagah mengawal kami dari belakang.

"Itu papa! Itu papa!" Gue berteriak histeris, berlari menuju makamnya!

Airmata yang dibendung sejak lama, ga bisa lagi ditahan. Terisak duduk di pinggiran makam. Tiga kekasih terdengar isakannya juga.

"Maaf, Pa. Baru bisa mengajak anak-anak menjenguk, sesudah delapan tahun lebih. Maaf ya Pa? Ini anak-anak, Pa." Suara gue terbata saat mengucap maaf ke Henk yang  ada di dalam bumi. Lelaki dalam bumi, sejak 28 September 2007. Yang pergi karena kanker hati, di usia 39 tahun.

"Ini Ngka, Pa."

"Ini Esa, Pa."

"Ini Pink, Pa."

Satu persatu menyapanya, menyapa seorang papa yang delapan tahun pergi.

"Doa untuk Papa, sayang."

Tiga kekasih berdoa, begitu juga gue, lalu kami larut dalam doa. Airmata turun deras.

"Foto, Ka. Foto sama papa."

Lalu berfoto di sana, berfoto bareng lelaki yang ada dalam sejarah hidup, lelaki dari masa lalu, yang ga akan pernah kami lupakan. Darahnya mengalir dalam tubuh Ngka, Esa, Pink.


Selesai berdoa, berfoto, kembali ke taxi.

"Pak, tahu baso petruk?"

"Tahu, Bu."

"Kita ke sana aja, Pak. Ke hotelnya nanti aja."

"Hotel apa, Bu?"

"Whizz, Pak."

"Oh, deket, Bu. Jalan kaki sebentar juga sampai, kok."

Taxi berjalan lambat, dan akhirnya sampai juga di warung baso Petruk.

"Terimakasih ya, Bu. Selamat makan, selamat menikmati kota Semarang."

Lalu pak sopir yang gue lupa namanya itu pun berlalu.

 Ngka, Esa, Pink, ga terlihat lelah. Wajah mereka penuh kegembiraan, kelegaan. Sambil menunggu pesanan baso dan minum datang, gue iseng membuka instagram. Dan sungguh mengejutkan ternyata Esa mengunduh foto kami berempat bersama sang papa, dengan tulisan: Hai papa, kita berjumpa lagi.


 Ah cinta, perjalanan ini membuat airmata harus ditahan lagi.


Salam penuh kasih,






Nitaninit Kasapink

Bekasi - Tangerang - Semarang (2)

Esa dan Ngka duduk berdua di dalam bus Damri yang membawa kami ke bandara Soekarno Hatta, sedangkan Pink bareng gue, si emak cantik. Uang transport sudah ada di tangan Ngka. Santailah gue. Selama ini memang gitu, gue ga pernah pegang uang transport, salah satu anak pasti diserahi tanggung jawab untuk membayar, walau pun uang tetap dari emak yang keceh ini. Plis jangan protes, di cerita ini cuma gue satu-satunya emak. Menyerahkan uang transport ke anak tuh selain mengajarkan tanggung jawab, ada fungsi lain, berguna banget untuk gue. Apa coba? Hihi, gue bisa tidur pulas selama perjalanan! Hahaha, asyik banget dah ah!

Tapi perjalanan kali ini ga membuat mata gue mengantuk. Gue dan Pink, foto-foto di dalam Damri.


Ga terasa, yes, yes, yes, bandara!

"Turun, yang." Ujar gue ke Ngka yang duduk bersama Esa.

"Turun, udah terminal 1B." Lanjut gue lagi.

"Udah tau, Ma."

Wajah cuek Ngka tertangkap mata, tapi kemudian ada cengiran asli khasnya. Anak siapa sih tuh? Mbok ya menjawab tuh yang indah gitu, loh. Misalnya,"Iya, Mama yang cantik."

Turun pelan-pelan. Ya iyalah, kalau lari-lari di lapangan aja, kali. Gue, disusul Esa, lalu Pink, dan terakhir Ngka.

Waah, sepiii! Celingak-celinguk mencari bahu untuk bersandar. Eh!

"Duduk di situ aja yuk," ajak gue ke Ngka, Esa, Pink.

Hura, hura, kami bisa  duduk nyaman!

"Ma, ke toilet dulu. Jagain ransel Ngka, ya."

"Esa juga ikut! Jagain ransel Esa juga, ya."

Hmm, besok gue bakal bikin peraturan jam penitipan ransel. Kan kami membawa ransel masing-masing. Jadi lumayan kan ya kalau setiap anak meminta gue menjaga ranselnya. Hihi.

"Pink, Mama lapar. Mau lontong, ga? Bakwan?" Gue sibuk mengobrak-abrik tas perbekalan perang. Untung gue bawa lontong dan bakwan, ga perlu jajan. Irit, bukan  pelit. Sayangnya si lontong dan bakwan ga terdokumentasi.

"Ga, ah. Udah kenyang. Ma, tadi bukannya sarapan? Katanya mau diet?" Tanya Pink dengan suara halus, tapi serasa jeleger di kuping! Tapi gue sih cuek aja, pura-pura ga mendengar.

Esa dan Ngka terlihat berjalan cepat dari arah toilet.

"Mau dong lontongnya." Kata Esa.

Oh, jadi terburu-buru tuh karena lontong! Gue pikir karena khawatir meninggalkan emak dan adik bungsunya. Gue baper banget.

"Nih. Ngka juga ga?" Sambil menyodorkan selonjor lontong isi. Eh, lontong tuh sebuah, atau apa, ya?

"Ngka mau juga, dong."

"Pakai bakwan, ga?"

"Boleh deh."

Sigap gue ambil lontong dan bakwan untuk Ngka,"Lima ribu rupiah aja satunya, Bang."

Ngka bengong.

Akhirnya karena melihat Ngka dan Esa sibuk menghabiskan lontong banyak banget, Pink pun makan lontong.

"Ma, minum."

Gue sodorkan minum ke Esa. Tuh kaaan, kalau pergi sama emak-emak, pasti urusan perbekalan konsumsi komplit!

"Masuk, yuk. Check in sekarang aja."

"Hayuk, Ma."

Kami pun check in. Sebenarnya gue agak dag dig der dor, loh. kondisi Pink kan kurang bagus, kuat ga ya jalan sebegitu jauhnya?

"Pelan-pelan, Ka, Sa. Inget Pink."

"Ya elah Mama, ini udah pelan, kali."

"Ih, Mama, Pink kuat kok, ga apa-apa."

Weeh, gue dikeroyok anak sendiri. Tapi bener loh, Pink jalan dengan gagahnya! Yes! Makasih ya GUSTI.

Ah, benar-benar diberi kemudahan perjalanan ke Semarang ini. Pink kuat, ga terlihat lemas, dan kursi-kursi menanti kami untuk diduduki! Yeyeye!

"Masih lama ya, Ma?"

"Masih, Sa."

Lalu sibuk berfoto. Yey! Ada foto keluarga lagi, selain foto-foto narsis ga jelas.

Ngka, Esa, Pink, main bertiga. Seperti biasanya, mereka asyik bertiga, sampai ga menyadari emaknya mengabadikan kebersamaan mereka. Bahagia rasanya melihat mereka ada dalam keceriaan yang hangat bersama.


"Ma, yuk! Pink, ranselmu." Esa berkata sambil bersiap-siap menuju pesawat. Ngka berdiri di sampingnya.

Semarang, kami datang!

Cerita di Semarang, di bagian ke-3, ya.

Salam senyum manis,








Nitaninit Kasapink

Tuesday, 8 March 2016

Bekasi - Tangerang - Semarang (1)

Setelah penantian selama 2 bulan, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba! Yes, ke Semarang! Dua bulan? Iya, kan booking tiket perjalanan dan hotel sejak 2 bulan sebelumnya.

Kamis, 28 Januari 2016, gue pulang dari Petro, pukul. 19.00, sampai di rumah sekitar pukul. 20.00.

"Udah siapin baju untuk ke Semarang?"

"Ini Esa baru mau siapin," jawab Esa kalem.

"Ngka nanti aja, Ma. Santailah, beres."

"Udah, Ma. Pink udah selesai siap-siap."

Hmm, memang beda ya antara cewek dan cowok. Anak cewek udah siap untuk keberangkatan besok, anak cowok mah santai aja. Tapi dalam sekejap, beres semua! Wahahaha, nyata sekali bedanya!

"Jangan tidur kemaleman, ya. Besok berangkat pagi-pagi banget."

"Tenang, Ma. Santai aja."

"Pink tidur sekarang, ya Ma."

Lagi-lagi nyata bedanya ya antara anak cowok dan anak cewek! Tapi akhirnya malah gue yang ga bisa tidur. Begadang semalaman karena kondisi Pink sejak beberapa waktu lalu kurang bagus.

Pukul 4.00 pagi seperti biasa gue ke dapur, menyiapkan sarapan. Nasi, sayur, dan teman-temannya. Lalu mandi, bersiap. Karena kalau Ngka, Esa, Pink, melihat gue belum siap, pastinya mereka akan lebih santai dibanding gue. Ya beginilah si emak, harus siap duluan, padahal mata masih sepet banget.

Pukul 4.30, satu persatu mulai bangun. Dimulai dari Ngka.

"Hp dong, Ma."

Ga sopaaan. Selamat pagi, kek, atau I luv u, Ma, gitu kek ke gue, emaknya. Eh malah minta ambilin hp.

"Sa, bangun, sayang," mulai membangunkan Esa.

"Lima menit lagi, Ma."

"Ikut ke Semarang, ga?"

"Iye deh, bangun, Ma."

Pink yang terakhir dibangunkan. Antri mandi. Ah, gimana kalau gue kasih kotak amal untuk masuk kamar mandi ya, kayak di toilet umum? Pasti hasilnya lumayan. Dasar emak!

Yey, semua sudah rapi! Sarapan!

"Sa, tolong ambilin lontong dong di si ibu."

Esa pun langsung ngacir mengambil pesanan lontong untuk bekal di perjalanan, bekal nunggu di bandara nanti.

Pukul 6.15, yuk ah jalan kaki. Sebelumnya, biasalah foto-foto dulu di depan rumah depan sawah!


Mari kita menuju ke halte Damri! Dari rumah, kami harus jalan kaki menuju tempat angkot, lalu ganti angkot lagi. Sebenarnya ga jauh, masih dalam lokasi perumahan, tapi memang harus berganti angkot.

"Bang, antar ke halte damri aja deh, Bang. Bisa ga?"

Dan yey, si abang supir mau! Memang sih jadi bayar carter. Tapi ga apa-apa deh, daripada Pink kecapean.



Bus damri berangkat setiap 1 jam sekali, dan kami ikut yang pukul 7.00. Jadi masih sempat berfoto bareng-bareng. Foto keluarga, yihaaa!

Mau ngapain ke Semarang? Ceritanya kan kami mau nyekar ke makam papa anak-anak yang meninggal 8 tahun yang lalu. Pink, si putri bungsu yang tercantiklah yang kepengen banget ke sana. Jadi, ya taraaaa, berangkatlah ke Semarang!

Hey, hey, bus Damri datang, kemon ah, memulai otewe ke bandara Soeta.

Sampai di sini dulu, kisah perjalanan selanjutnya menyusul.

Salam,