Saturday, 27 December 2014

error,"Pink, autoimun, kucing, dan GUSTI"

Ngka, Esa, Pink, sejak lama meminta ijin untuk punya binatang peliharaan lagi. Gue selalu menolak permintaan mereka itu. Sejak Pink mengidap autoimun, gue menolak untuk ada binatang di rumah. Binatang pembawa penyakit, pembawa virus, pembawa banyak bakteri. Pink ga boleh terpapar virus, bakteri, penyakit. Gue ga mau ambil resiko Pink diserang imunnya cuma karena binatang peliharaan konyol.

Setiap kali ada kucing, setiap kali itu juga gue selalu mendengar,"Lucu ya Ma". Gue tersenyum menanggapi celoteh tentang kucing lucu. Sebenarnya gue sendiri suka banget sih punya binatang peliharaan. Dulu gue punya banyak kucing, dan semuanya nurut ke gue. Setiap mau makan, gue 'ting ting ting' tuh piring keras-keras. Hasilnya? Para kucing berlari pulang semua untuk makan.

Yang gue pelihara kucing kampung, bukan kucing ras. Dan lagi, yang gue adopsi tuh kucing-kucing yang kondisinya ga bagus. Ada satu ekor kucing yang gue beri nama 'kutu", karena dia gue ambil di pasar, dalam kondisi penuh kutu. Badannya kurus, kumisnya dibakar, entah oleh siapa! Sewaktu gue gendong, mbok penjual sayur di pasar berkata,"Jangan diambil. Besok aja saya bawain kucing saya di rumah. Ini kucing bau, jelek, kotor". Gue tersenyum, dan menjawab,"Maunya yang kotor ini aja". Si kutu gue gendong pulang. Di rumah, si kutu selalu gue gendong menggunakan gendongan bayi, dan setiap gue pergi ke warung, gue bawa, masuk ke dalam kantong baju atau kantong celana. Si kutu tuh bayi banget. Tidurnya bareng gue. Setiap pukul 4.30 pagi, dia bangunin gue, minta dibukakan jendela, lalu hap!, keluarlah dia ke alam bebas. Setelah kutu, ada si kecil, si kumbang, dan oops, maaf, si kutang, juga ada si kunyang. Hehehe, kucing-kucing gue memang punya nama berawalan 'ku' semua.

Nah, sebelum pink terdeteksi autoimun, kami juga memelihara binatang, salah satunya seekor kucing yang bernama kunyil. Tapi sesudah dideteksi ternyata autoimun, stoplah sudah binatang peliharaan! No pet! Siapa pula yang mau bertaruh atas kesehatan putri tercinta cuma gegara kucing? Gue jelas ga memperbolehkan ada binatang di rumah! Gue mau Pink sehat selalu, dan itu berarti ga memelihara apa pun.

Sebulanan yang lalu, ada seekor kucing kecil yang kotor, berjalannya pun gemetar, kurus banget, dan suaranya lemah, malah ga bersuara sama sekali, cuma mulutnya aja yang bergerak-gerak, dan sakit mata, dan diare pula, lewat sawah depan rumah. Waktu itu gue dan Pink sedang duduk santai di pinggir sawah. Pink melihatnya, dan suka dengan si kucing! Pink bergerak hendak mengelus, gue spontan melarang. Ada sinar kecewa di mata Pink. Tapi gue tetap melarangnya mengelus. Pink menurut perkataan gue, tapi gue ga bisa lupa mata kecewanya.

Esok harinya, si kucing lewat lagi. Gue ga tega melihatnya, tapi gue ga berbuat apa-apa, sampai akhirnya gue benar-benar ga tega. Esa gue minta untuk membeli obat tetes mata, dan juga obat diare. Gue teteskan obat tetes mata 
ke si kucing, lalu gue beri obat diare sedikit untuk diminumnya. Tiga kali sehari, setiap bertemu, gue obati si kucing. Di teras, gue letakkan kardus serta baju bekas yang ga terpakai, untuk tempat tidurnya. Makan, dan minum air matang pun gue sediakan. Pink masih tetap ga boleh memegangnya. Tapi ada satu saat gue lihat Pink mencuri-curi mengelus, dan gue langsung memintanya mencuci tangan menggunakan sabun. Si kucing datang dan pergi. Setiap datang , gue bersihkan si kucing. Ga setiap hari si kucing ada di rumah. 

Satu hari, si kucing pulang ke rumah saat gue pulang kerja. Dia tidur di teras. Pagi harinya, gue lihat alas tidurnya berwarna merah muda. "Mama, si kucing pipisnya darah!", kata Pink ke gue. Wajah Pink terlihat sedih. Gue melihat matanya penuh dengan rasa sedih. Sepulang kerja, si kucing ga muncul. Gue berpikir, jangan-jangan si kucing mati. Pink terlihat resah.

Beberapa hari kemudian, gue melihat si kucing, lalu dia masuk ke rumah, tidur. Gue beri makan, minum. Si kucing sudah ga diare lagi, juga ga pipis darah, cuma matanya masih harus ditetesi obat tetes mata. Gue lihat mata Pink bersinar.

Si kucing sehatlah sudah. Badannya mulai berisi, dan mulai lincah. Mata Pink penuh dengan binar-binar bahagia! Ngka, Esa pun gembira dengan hadirnya si kucing. Gue mulai goyah mengenai binatang peliharaan. Gue bahagia melihat Ngka, Esa, Pink, bahagia. Terutama Pink! Matanya berbinar cerah! Gue bahagia menatap matanya yang amat hidup saat dia memegang si kucing, mengelus si kucing. Autoimun, dan kucing! Gue gamang. Ya GUSTI, bagaimana menyikapi ini? Gue berusaha untuk tetap tenang, dan berusaha untuk melihat hal ini sebagai hal yang penting dari berbagai sisi. Sisi autoimun, dan sisi jiwa bahagia Pink. Bertahun sudah Pink sakit, bertahun sudah tanpa teman, bertahun sudah hanya diisi obat, dokter, dan segala kesakitan di harinya, dan bertahun dipenuhi dengan berbagai macam pantangan, dari pantangan makanan, minuman, vitamin pabrikan, jajanan, menggaruk badan, dan masih banyak hal lain yang membuatnya terisolasi dari dunia luar. Dan tetap saja autoimun itu ada, walau pun segala pantangan itu sudah dijauhi. Hingga akhirnya gue ga tega, dan mulai membebaskan Pink dari pantangan-pantangan yang menguncinya di penjara autoimun. Gue  ga memung
kiri, beberapa bulan ini kondisi Pink membaik.

Setelah menimbang-nimbang tentang autoimun, dan mata Pink yang berbinar, gue putuskan untuk memelihara si kucing! Gue rasa GUSTI menjaga Pink dengan amat baik. Gue percaya GUSTI menjaganya jauh lebih baik dari siapa pun! Pink membaik bukan karena gue, tapi karena GUSTI memberinya kesehatan yang lebih baik. Gue tertunduk, gue menangis dalam hati. Gue menyayangi Pink, gue percaya GUSTI menjaganya, tapi ternyata gue masih ga berpasrah. Saat itu juga gue minta ampun ke GUSTI, karena mempunya kekhawatiran yang mungkin saja membelenggu Pink dalam sakit. Gue pasrah ke GUSTI. Apa pun yang terjadi, itu adalah yang terindah dari GUSTI. gue berdoa untuk sehatnya Pink, gue memasrahkan segala apa pun yang terjadi. Gue percaya, GUSTI melebihi siapa pun, melebihi apa pun dalam menjaga ciptaanNYA. GUSTI teramat mencintai Pink, lebih dari cinta gue ke Pink. Seekor kucing saja dijaga oleh GUSTI, apalagi seorang Pink.

Sekarang si kucing memang sudah resmi jadi peliharaan di rumah. Namanya masih berubah terus. Masih belum menemukan nama yang pas untuk si kucing pembawa binar mata bahagia Pink. Jadi Ngka, esa, Pink, juga gue, memanggilnya dengan nama,"kucing". Autoimun, atau apa pun itu, gue rasa pasti bisa dikalahkan oleh hati yang gembira, bahagia, suka cita. Buktinya selama ini Pink mampu mengalahkan serangan autoimunnya. GUSTI menjaga Pink, dan gue membantu GUSTI menjaganya, membiarkan binar matanya terus ada, dengan cara memelihara si kucing supaya tetap sehat, agar Pink pun selalu sehat.

GUSTI, autoimun itu ada, tapi aku yakin dan percaya, GUSTI memberi sehat untuk Pink dengan cara yang unik.... Ndu
k, kamu ga sendirian, ada Mama, Ngka, Esa, dan ada GUSTI yang selalu bersama, kita hadapi bersama, jalani bersama, dan nikmati bersama apa yang ada. Mama, Ngka, Esa, mencintaimu...

Salam senyum,
error


Monday, 22 December 2014

Selamat 14 tahun, Pink!

Selamat 14 tahun, Pink!

Hari ini, 22 Desember 2014, Pink 14 tahun. Buat gue, amat istimewa! Hari lahir anak-anak gue, adalah hari istimewa, amat istimewa untuk gue.
Istimewa ga berarti ada perayaan yang heboh. Berjalan seperti hari biasa, biasa bahagia!
Hari ini ada banyak kue, dan itu dari sahabat, bukan dari gue, yang notabene adalah mamanya.
Beberapa novel ada di tangannya, dan itu adalah hadiah hari lahirnya, yang gue berikan untuk Pink di awal bulan. "Novel horor, ya Ma", pintanya.

Selamat 14 tahun, Pink!

Doa dan doa terucap untukmu, nduk cantik cintanya mama... Sehat, bahagia selalu, ada cinta untukmu di sepanjang jalan hidupmu, dari mama, Ngka, Esa. GUSTI selalu mendampingimu, nduk...

Selamat 14 tahun, Pink!

Senyum, tawa ceria, binar bahagia, jangan pernah hapus... Hadapi, jalani, nikmati, segala yang GUSTI beri... Hidup adalah anugerah terindah, isi dengan gerak positif, penuhi dengan bintang ceriamu...

Selamat 14 tahun, Pink!

Sungguh, mama mencintaimu...


Salam senyum penuh cinta,
Mama

Saturday, 15 November 2014

error,"Gadis berkaus cokelat".

Ada banyak teman yang menganggap bahwa gue berani untuk melihat sosok-sosok ga nyata, sosok-sosok dari dunia yang berbeda. Itu karena mereka tahu tentang gue yang memang kebetulan bisa melihat dan merasakan kehadiran sosok-sosok tersebut. Tapi sesungguhnya, gue takut, ga berani untuk melihatnya, cuma mau bagaimana lagi, kenyataannya gue melihat, tanpa bisa menghindar.

Semalam gue sedang di luar pagar rumah. Gue merasa ada Pink di sebelah gue. Sama-sama diam, sama-sama tanpa kata-kata. Ga aneh kan? Tapi sewaktu gue menoleh ke kanan, Pink ga ada di sebelah gue. Ga aneh juga kan? Pink ada di ruang tamu, asyik nge-games. Cuma lumayan kaget karena pink sudah mengganti kausnya. Pink mengenavan kaus berwarna pink, sedangkan tadi mengenakan kaus berwarna cokelat.

"Nduk, kamu ganti kaus?", tanya gue pada Pink.

"Ga, Ma", jawab Pink dengan tetap asyik nge-games.

"Tadi kamu pakai kaus cokelat".

"Mama, dari tadi Pink ga ganti kaus".

"Tadi kamu berdiri di sebelah Mama, kan, di luar?".

"Dari tadi Pink di sini, Mama, nge-games".

Oops, jadi, siapa yang tadi menemani gue di luar? Gadis berkaus cokelat. Dan baru gue sadari, gadis tadi berambut pendek, sedangkan Pink berambut panjang!

Siapa bilang gue ga takut? Gue takut, pastinya. Tapi ya sudahlah, berarti 'gadis' tadi berbaik hati menemani gue yang sendirian di depan pagar memandang sawah depan rumah. Siapa si 'gadis' itu? Gue ga tahu. Dia menghilang saat gue menoleh ke kanan, ke arahnya berdiri.

Rasa-rasanya gue ga akan lagi berdiri sendiri di depan pagar saat malam datang. Ngeri juga siapa tahu si 'gadis' berkaus cokelat datang lagi menemani. Iya kalau dia datang sendiri. Lah kalau 'keluarganya' ikut semua menemani gue, gimana? O ow, tidaaak...!


Salam senyum,
error


Friday, 7 November 2014

error,"Ingkar"

Sebenarnya ini cerita tentang 2 tahun yang lalu, setelah beberapa bulan sakit dan pertama kali lumpuh tangan.

Disarankan oleh dokter yang waktu itu memeriksa kondisi Pink, untuk membawa Pink ke seorang psikolog anak, karena khawatir kondisi psikis menjadi kurang baik setelah berbulan-bulan ga sekolah, hanya di rumah, dan bolak-balik kontrol ke rumah sakit. Di taxi, dalam perjalanan menuju rumah, gue teringat seorang teman kuliah dulu, perempuan yang juga seorang psikolog, yang membuka taman kanak-kanak sekaligus jasa konseling, dan kebetulan bertempat tinggal lumayan ga begitu jauh dari perumahan tempat gue tinggal. Saat itu juga gue menghubungi dia. Dia meminta gue datang saat itu juga, karena kebetulan memang sedang kosong jadwal, katanya. Gue bertanya pada Pink, apakah Pink mau untuk konseling dengan teman gue itu yang sudah dikenalnya, dan apakah Pink kuat untuk pergi lagi setelah tiba di rumah. Jawaban Pink adalah ya. Sip, berarti sesampai di rumah, Pink dan gue akan pergi lagi ke tempat teman gue itu, naik motor.

Pink duduk lemah di boncengan motor. Berdua ke tempat teman gue. Semangat untuk menjadi sehat fisik dan psikis! Gue bangga pada Pink yang selalu bersemangat untuk sehat. Ga berapa lama, sampai juga di tempat teman gue. Disambut dengan senyum, rasanya lega banget. Gue bersyukur ada teman yang bisa dihubungi. Setidaknya, ga jauh dari rumah, dan Pink sudah mengenalnya, jadi konseling pasti berlangsung lebih mudah, dan lancar. Gue berharap konseling yang akan dijalani oleh Pink, akan membuat rasa percaya dirinya pulih. Bayangkan saja, berbulan-bulan sakit, ga berangkat ke sekolah, dan jelas ga mempunyai teman.

Semenit, dua menit, sepuluh menit, lima belas menit, setengah jam, ga ada konseling. Teman gue sepertinya menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Gue mulai khawatir dengan kondisi Pink yang terlihat melemah. Tapi gue masih menahan diri, diam, menunggu. Tunggu ditunggu, teman gue malah tambah sibuk. Apakah dia lupa tadi dia yang memberi jadwal konseling untuk Pink? Dua jam sudah Pink menunggu, dan gue ga melihat tanda-tanda teman gue akan jadi konselor untuk Pink, malah semakin terlihat menyibukkan diri.

Akhirnya gue menyadari ternyata teman gue memang ga ingin jadi konselor untuk Pink. Padahal kalau dia terus terang mengatakan,"Ga mau", atau,"Ga bisa", itu ga masalah kok untuk gue. Atau mungkin dia takut ga gue bayar? Gue menghubungi untuk konseling, pastilah gue juga sudah bersiap untuk membayar biaya konseling. Gue pamit pulang, teman gue mengantar ke depan. Gue menyempatkan diri berbisik,"Terimakasih".

Sampai saat ini gue ga tahu alasan teman gue yang sebenarnya kenapa dia bersikap begitu. Tapi ya sudahlah, itu jadi pelajaran berharga untuk gue dan anak-anak gue, supaya ga bertindak dan bersikap ingkar seperti itu. Membuat janji berarti dituntut konsekuensi. Pelajaran berharga banget yang selalu gue ingat. 



Salam senyum,
error





Saturday, 1 November 2014

error,"Cinta kasih dan bully".

Sebuah lagu dari masa kanak-kanak masih terpatri di ingatan dan kenangan, tentang kasih ibu yang tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. Seorang ibu memancarkan kasih yang lembut, melindungi. Ibu tidak akan menyakiti seorang anak, baik fisik mau pun psikis. Begitu mulianya seorang ibu. Begitu damainya bersama ibu. Ibu memberi indah dan kebahagiaan pada anak.

Tapi banyak juga kenyataan kasus per kasus yang berbeda dengan hal itu, tentang seorang ibu yang seharusnya lembut, mengasihi dengan cinta yang luar biasa, mendamaikan hati, menggebyarkan hidup dengan kebahagiaan yang penuh. Seorang ibu memukul anaknya, memaki anaknya, membimbing anak dengan penuh kemarahan, mengajari anak tanpa kasih. Makna seorang ibu menjadi buram, kusam, hilang... Ibu tak lagi mendamaikan, tak lagi penuh cinta kasih. Yang menyedihkan, ibu tak menyadari sedang membentuk pribadi anak, terekam hingga dewasa. Lalu sang anak yang dewasa tak menyadari bahwa dia pun sudah menjadi 'ibu'. Perlakuan dan penyikapan terhadap kejadian yang berhubungan dengan anak, terjadi lagi. Rantai tanpa kasih ini terus menerus menjadi semakin rumit.

Ga cuma sekali gue mendengar seorang ibu membentak anaknya hanya karena sebuah kesalahan kecil, dan malah seringkali bukan karena sebuah kesalahan. Loh kok bisa? Iya, cuma untuk meminta anaknya mandi, diucaplah nada memerintah, berteriak. Mungkin terlihat sepele, padahal yang 'sepele' itu pun membentuk pribadi anak. Menurut gue, itu sebenarnya bentuk pengenalan di-bully pertama pada anak, tapi orangtua ga merasa bahwa sedang mem-bully, alih-alih bahwa itu bagian pengajaran disiplin, pengajaran penuh ketegasan untuk anak.

Ga adil ya, gue cuma menyorot tentang Ibu? Bapak juga banyak kok yang seperti itu. Tapi memang gue cuma ingin menyorot ibu aja, karena lagu masa kecil itu, yang indah banget tentang kasih seorang ibu, dan gue seorang ibu dari Ngka, Esa, dan Pink. Gue bukan seorang yang lembut, tapi gue ga mau mengasari anak, apalagi dengan alih-alih pelajaran disiplin. Semua berpulang pada diri sendiri, hendak membentuk anak seperti apa dengan cara bagaimana.

Mengasihi dan mencintai, adalah hal indah yang semua orang dambakan. Anak, tentunya juga mendambakan itu. Dan kasih, cinta, ga akan menyakiti siapa pun, tapi pasti mendamaikan. Gue rasa, membentak bukan bagian dari pendamaian dalam hati.

Mencintai dengan cinta kasih yang damai, atau membully dengan alih-alih cinta kasih? Silakan pilih, semua kembali pada diri sendiri.

Damai, bahagia selalu, amin...

Salam senyum,
error

































error,"Pohon Nenangga".

Di depan rumah gue ada pohon jambu air, persis di depan tembok pagar rumah yang gue tempati bersama Ngka, Esa, dan Pink. Pohon jambu airnya memang rajin banget berbuah, ga berhenti berbuah. Siapa pun boleh memanjat, memetik, mengambilnya menggunakan galah. Dengan cara apa pun, jambu air boleh diambil, dan disantap siapa pun, tanpa perlu repot-repot minta ijin.

Tadi sewaktu gue sedang mengobrol santai dengan Ngka, dan pink, tiba-tiba,"Woi, Bu! Ayo rujakaaan!". Gue kaget banget! Ibu tetangga sebelah rumah, tiba-tiba nongol kepalanya dari balik tembok pagar. Gue tertawa, lalu berjalan ke teras. Tetangga gue asyik dengan galahnya, mengambil jambu air.

"Saya suka manjat, Bu".

"Bisa manjat?", tanya gue.

"Iya, saya manjat ambil jambu. Tapi saya ga suka rujak. Yang suka rujak tuh anak saya. Saya lebih suka makan jambu gini aja", lanjutnya sambil mengambil sebuah jambu air, memasukkan ke mulutnya.


Pohon jambu depan rumah memang pohon jambu air biasa, tapi menurut gue, pohon jambu air ini adalah pohon jambu air yang baik. Hehe, gimana ga baik, gegara tu pohon, jadi mempermudah bersosialisai dengan tetangga, mudah berkomunikasi dengan tetangga. Yup, pohon jambu air depan rumah gue, patut punya gelar pohon 'nenangga'... 

pohon 'nenangga' di depan rumah



Salam senyum,
error




Thursday, 30 October 2014

error,"Pojok Esa"

Esa, putra ke-2 gue, selalu membuat gue, Ngka, dan Pink, geleng-geleng kepala. Gimana ga geleng-geleng kepala, lah setiap hari selalu aja pojok rumah di bagian rak buku, bergelimpangan segala benda milik Esa, dan ya tetap begitu, lalu Pink dapat bagian membereskan. Hingga akhirnya kami bertiga, gue, Pink, dan Ngka, sepakat memberi nama "Pojok Esa".

"Esa, beresin bukunya", kata Pink.

"Pink, Pinky aja, aku ga bisa", jawab Esa.

"Esa, ga mungkin ga bisa", Pink berujar lagi.

"Pink, tapi aku ga bisa. Aku bantuin aja deh", Esa menjawab, lalu bersiap pergi lagi ke sekolah untuk acara Bulan Bahasa. Pink menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa. Esa pun tertawa, lalu pamit pergi kegiatan Bulan Bahasa di sekolah.

Pojok ini masih menunggu Esa pulang dari kegiatan Bulan Bahasa, agar bisa rapi kembali...




Salam Senyum,
error







Wednesday, 22 October 2014

error,"Rujak Jleb!"


Waktu itu gue ke pasar berdua Ngka. Ngka minta dibelikan mangga muda untuk rujak. Wah , mantap banget deh, karena itu gue langsung menyetujui. Tapi ternyata kesibukan (jiailaaah, sibuuuk...! Hahaha!) , gue ga bikin tuh rujaknya. Apalagi di hari Sabtu dan Minggu, jadwal Ngka kuliah tuh padat banget, dari pagi sampai malam. Alhasil mangga muda hanya dipandangi aja di dapur.

Horre, Ngka libur, dan tiba-tiba gue ingat tentang rujak. Asyik banget nih makan rujak. Berangkat kerja kemarin, gue melihat segerombol jambu air ada di pohon. Tambah mantap ngerujaknya, mangga muda, dan jambu air! Lalu gue asyik di dapur ngulek bumbu rujak. Bumbu rujak yang komplit, karena menggunakan kacang goreng juga. Terbayang asyiknya makan rujak di siang hari yang panas.

Taraaaa, jadilah bumbu rujaknya. Gedubrak gedubruk, cari sana-sini, mangga mudanya kok ga ada ya? Gue masih berusaha mencari tuh mangga muda yang kecut tapi 'jleb' sekaleee kalau dirujak.

"Pink, mangga mudanya kok ga ada, ya? Di sini deh Mama naruhnya, tapi kok ga ada", gue berkata pada Pink, putri bungsu gue yang cantik. Jawaban Pink di luar dugaan gue,"Eh, Mama di situ nyari mangga mudanya ya? Hehe, waktu itu Ngka sama Pink bikin rujak, jadi udah habis". Jleb! Mangga mudanya memang benar-benar 'jleb' rasanya...!

Okelah, ga pakai mangga muda, ga masalah, masih ada jambu air di pohon. Jadi gue bisa minta tolong Ngka untuk memanjat pohon, ambil jambu air. gue sih bisa aja memanjat, tapi ga enak ah, nanti tetangga pada terkagum-kagum melihat kelincahan gue nangkring di atas pohon.

"Ngkaaa, tolong ambil jambu air di pohon, sayaaang... Mama lihat di atas sana ada segerombol tuh jambunyaaa". Dan jawaban Ngka benar-benar menambah 'jleb' yang gue rasa. "Mamaaaa, jambu airnya udah diambilin sama tetangga kemarin soreeee...! Udah habis di pohon, tinggal kembang-kembangnya ajaaa", jawab Ngka. O My GUSTIIII...!!

Bumbu rujak ada di cobek, termangu menunggu aksi gue. Rujak buah? Ga lagi-lagi deeeh..., mending beli aja deeeeh, daripada jadi rujak buah rasa 'jleb'. Akhirnya gue ambil tahu, menggorengnya, dan ya gitu deh, daripada merasakan 'jleb' tiada henti, gue makan rujak tahu. Mau? Sayangnya sudah habiiisss... Jleb!


Salam senyum,
error







Wednesday, 15 October 2014

error,"WHAT?? BPKB GUE ADA DI MANA?".

Tadi gue ke Adira Finance, yang bertempat di Sentra Bisnis, Harapan Indah, Bekasi. Tertanggal l1 Juni 2014, gue merevisi BPKB, yang sejak awal penerimaan ternyata no rumah di bagian alamat, salah. Oleh Adira Finance, saat penerimaan itu, gue diminta ke bagian revisi, yang ternyata sebuah biro jasa, CV. Vinno JAYA. Untuk merevisi, gue dikenakan biaya Rp. 50.000,-. Agakbingung juga, karena itu kan bukan kesalahan gue, tapi kok oleh ADIRA finance gue diminta ke bagian yang revisi dan dikenakan biaya, ya? Tapi gue malas ribut, gue bayar tuh biaya revisi. "Nanti Ibu dihubungi kalau sudah selesai, saya ga tahu kapan revisi ini selesai', kata mbak penjaga counter revisi CV. Vinno JAYA. Tunggu ditunggu, ga ada tuh gue dihubungi. Bulan September, gue datangi CV. Vinno JAYA yang di Adira Finance, Sentra Bisnis, Harapan Indah, Bekasi. Ternyata alamat masih belum berubah. Gue kecewa banget, dan rasanya ingin marah. mbak penjaga counter bilang,"Nanti dihubungi, saya kan orang baru, ga tahu". Great, orang baru...

Gue menunggu dihubungi, ga dihubungi juga. Jadi tadi gue ke sana lagi, dan yang gue dapatkan adalah...

"Atas nama Ibu Nita ya? Ga disekolahin lagi Bu?".

"HAH? Belum pernah saya sekolahin. Alamat salah. Sudah jadi belum?".

"Sya ga tahu posisinya ada di mana, Bu. Nanti saya hubungi Ibu. Saya orang baru".

GREAT, ORANG BARU! Setiap hari aja orang baru, ya... Lalu no hp gue dicatat oleh si mbak orang baru itu. Waktu itu juga no hp gue dicatat, tapi kenyataannya gue ga dihubungi tuh.

Gue masih menahan marah, jadi besok gue akan ke sana lagi, kalau tetap ga tahu ada di mana, ya gue mau lanjutin aja deh kasusnya, karena sepertinya ga ada niat baik dari CV. Vinno JAYA dalam hal ini.


Salam senyum,
error



error,"Internet"

Ngka sejak kelas 5 SD, gue ajarkan cara memasak, dan sekarang Ngka sudah jadi seorang mahasiswa. Semua juga tahu bahwa gue ga jago masak, jadi gue cuma mengajarkan yang simpel aja, sesuai dengan kemampuan gue. Tapi yang selalu gue beritahu pada Ngka,"Ga usah takut salah. Pakai feeling, dicoba, dirasa, selesai". Awal kali belajar memasak untuk Ngka, memasak telur matasapi, lalu telur dadar, beranjak memasak mie instan, menggoreng tempe, dan menggoreng-goreng yang lain.

Satu ketika, gue meninggalkan sawi putih tanpa gue masak. Ngka dengan santai menjawab bahwa sawi putih akan dimasak oseng-oseng, atau tumis. Ya memang benar, tiba di rumah, sawi putiih sudah matang, dan berubah menjadi oseng-oseng sawi putih. Gue bersyukur memiliki anak yang bisa diandalkan saat gue malas memasak, hehehe.

"Esa nambah 3 kali, Ma. Ngka masaknya enak banget", ujar Esa.

"Siapa dulu? Ngka!", jawab Ngka.

Esok paginya, gue melihat selembar kertas tergeletak di lantai dapur. gue ambil, dan gue baca. Apa yang tertulis di kertas membuat gue tersenyum. Selembar kertas bertuliskan resep oseng-oseng sawi putih.

"Ngka, kamu dapat darimana resep oseng-oseng sawi putih?", tanyaku pada Ngka.

"Google, Ma", jawabnya.

Senyum gue semakin lebar. Bahagia karena anak gue bisa mengambil manfaat dari internet, bertanya pada si mbah Google. Teringat perkataan seorang keponakan,"Mama ga mau pasang internet di rumah, tante, kata Mama, internet itu bahaya".

Baik dan buruk segala sesuatu, menurut gue berkaitan dengan bagaimana kita menggunakan dan menyikapinya. Internet bisa jadi buruk, kalau digunakan untuk hal buruk. Internet bisa jadi baik, kalau digunavan  untuk hal baik. Bisa memasak karena belajar dari internet, menurut gue adalah hal yang baik. Gunakan dengan bijak, pilih dengan bijak, mau berinternet untuk perubahan baik, atau mau berubah buruk?


Salam senyum,
error



Monday, 13 October 2014

error,"Muntu ditemukan, gembus bacem pun matang!"

Pulang kerja, si muntu udah ketemu. Eh, tahu ga muntu tuh apa? Muntu itu ulek-ulek untuk ngulek sambal atau ngulek bumbu. Tadi pagi menghilang, ngumpet. Senang banget sewaktu diberitahu si muntu sudah ditemukan. "Muntu, jangan nakal lagi ya...!".

Setelah ada muntu, diputuskan untuk membuat bacem gembus. Disambut meriah oleh Ngka. 

"Ulek bawang putih", kataku pada Ngka, lalu Ngka mengulek bawang putih. Jangan salah, Ngka itu asisten masak gue yang bisa diandalkan loh. Seberapa banyaknya bumbu, itu feeling Ngka yang digunakan.

"Terus apa lagi?", tanya Ngka.

"Udah, itu aja. Gula jawa disisir, ketumbar halus udah ada, asem jawanya tuh, daun jeruk, daun salam, kecap. Lengkuasnya habis, ga usah pakai lengkuas ga apa-apa", ujarku. 

Ditumislah bawang putih halus oleh Ngka, lalu diberi air. Ada yang menggunakan air kelapa untuk masak bacem. Tapi, ga usah juga ga apa-apa. Sesudah itu masuklah ketumbar halus, yang seperti biasa tanpa standard kuantitas, feeling aja seberapa banyak digunakannya :D . Gula jawa, asam jawa, daun jeruk, daun salam, gembus-gembus, lalu beri kecap. Ngka, Esa, dan Pink, lebih suka banyak kecap. Tapi malam ini ternyata kecap kurang memadai persediaannya, dan ga tega mau minta salah satu anak ke warung untuk membeli kecap. Sudah, gitu aja. Tinggal tunggu sampai airnya habis di penggorengan. 

Ngka bolak-balik memeriksa ke dapur, apakah sudah kering atau belum tuh masakannya. Sedangkan gue, ya ada di depan laptop, ngeblog :D . Pink dan Esa asyik menonton televisi. Berkumpul di ruang tamu, asyik dengan kesibukan masing-masing, tetap mengobrol, komen sana dan sini, dan hmmm, Ngka kembali lagi ke dapur untuk cek masakannya. 

Harum bacem sudah mulai sampai di hidung. Ya iyalah, masa sampai telinga. Yang menghirup harumnya bacem ya hidung. Atau adakah yang menghirup menggunakan telinga? 

Sambil menunggu gembus bacemnya matang, obrolan makin seru, sambil menonton. 

"Ma, mulai sat", kata Ngka. Sat itu maksudnya, mengering.

"Dibolak-balikkin gembusnya", ujar gue pada Ngka, sambil ini, ngetik artikel ini :D .

Ngka kembali lagi ke ruang tamu, tempat aktivitas kami berempat sehari-hari. 

"Sudah selesai?", tanya gue.

"Belum", jawabnya.

"Udah tuh, coba lihat".
Ngka kembali lagi ke dapur, lalu terdengar sreng, sreng, sreng dari arah dapur. Ga lama kemudian, Ngka muncul lagi di ruang tamu.

"Belum?".

"Belum".

Ngka berlari ke dapur, kemudian membawa piring berisi nasi dan gembus bacem.

"Sudah matang?".

"Sudah. Ini Ngka makan", jawabnya sambil tersenyum.

Horree, gembus bacemnya sudah mataaang!! Makan yuuk... :D




Salam senyum,
error


error,"Teman dunia lain".

Sepi. Ruangan ini sepi sekali. Hanya ada aku. Suara detik jam dinding terdengar keras. Kupandang layar monitor komputer, lalu beralih memandang ke luar, lewat jendela kaca yang persis ada di hadapanku. Angin menyentuh dedaunan dengan lembut, bunga-bunga terlihat segar, dan genit merayu dengan warna-warni yang cerah. Huft, tapi tetap saja aku sendirian di ruangan ini, tak ada seorang pun menemani. Lalu terdengar suara benda berat digeser di lantai bawah terdengar jelas.

Aku duduk diam, waktu berjalan lambat. Detik jam dinding makin terdengar keras di telinga. Langit terlihat agak mendung, berawan abu-abu. Suara benda berat digeser terdengar lagi dari lantai bawah. Siapa yang menggeser-geser benda sejak tadi? Ah sudahlah, biarkan saja. Bisa jadi office boy sedang memindahkan sesuatu, atau mungkin ada kiriman sampel yang banyak dalam peti kemas, hingga lebih baik digeser saja daripada harus menggotongnya. Pekerjaanku masih menumpuk, ada banyak yang harus kuselesaikan. Tenggelam dalam konsentrasi menyelesaikan tugas.

Krieeet...! Uh, suara apa itu? Seperti suara engsel pintu yang harus diberi pelumas. Tapi mana ada pintu seperti itu di sini? Ah biarlah, hanya suara, mungkin halusinasi. Tuk tuk tuk tuk. Suara pelan seperti jari mengetuk meja. Aku hentikan sejenak pekerjaanku. Diam menunggu suara-suara lain yang mungkin akan menyusul terdengar telinga. Ufh, tak ada suara apa pun. Mengapa senyap seperti ini? Lalu kulanjutkan lagi menyelesaikan tugas yang masih menumpuk.

Tiba-tiba aku mendengar seperti suara orang mendengus di sebelahku. Aku menengok ke arah suara tersebut dengan cepat. Ugh, tak ada apa pun! Siapa yang mendengus tadi? Di ruangan ini hanya ada aku sendiri. Lalu terdengar suara air gemericik. Grrrh, suara gemericik air darimana? Toilet jauh dari ruanganku. Tuk tuk tuk tuk tuk, suara jari mengetuk meja terdengar lagi. Aku menggelengkan kepala keras-keras. Halusinasi, ini halusinasi. Lelah, ya, karena kelelahan fisik dan lelah otak, timbulah halusinasi. Ah sudahlah, tak perlu mempermasalahakan halusinasi suara yang kudengar. Kuteruskan mengetik pekerjaan.

Sreeet...! Angin berdesir perlahan menyentuh rambutku. Argh, halusinasi ini semakin menggila saja. Angin! Darimana angin berdesir? Please, jangan berhalusinasi lagi, please, pekerjaan tinggal sedikit, aku berkata pada diriku sendiri. Tuk tuk tuk tuk, suara jari mengetuk lagi. Ugh! Konsentrasi, konsentrasi, ayo Err, konsentrasi, rutukku pada diri sendiri.

Akhirnya selesai juga! Kurapikan file yang menumpuk di atas meja, masukkan ke dalam lemari kaca. Oops, ada seseorang di belakangku! Bayangannya ada di kaca lemari! Aku menengok, tak ada siapa-siapa. Ternyata lelah ini makin menjadi, membuat halusinasi semakin kuat.

Jaket, tas, kunci motor, helm, yup siap untuk pulang. Komputer, monitor, printer, off semua. Ac dan lampu pun sudah off. Kemudian berjalan menuju keluar ruangan, mengunci pintu ruangan yang terbuat dari kaca. WHAAT?? Ada sesosok perempuan dan sesosok yang tak jelas wujudnya memandang lurus padaku. Great! Halusinasi lagi... Turun tangga, absen kepulangan, menuju parkiran motor. Great, dua sosok itu hadir lagi di sana! Dengan tak perduli, kustarter motor, lalu kulihat mereka melambaikan tangan,"Sampai besok".

Ya, besok aku akan bertemu lagi dengan mereka, yang lebih baik kuanggap sebagai halusinasiku saja. Sosok berbeda dari dunia yang berbeda, ah, anggap saja mereka tak ada. Toh mereka juga tak mengganggu. Hanya seringkali membuat bulu kudukku berdiri, bergidik, ngeri! Ah, sudahlah...


Salam senyum,
error







error bercerita,"Misscall si muntu! Gagal masak"

Pagi tadi gue ke pasar dekat rumah. Baru saja tiba di pasar, ibu pedagang sayur langganan gue memanggil,"Bu, Bu, niki loh gembus. Wonten gembus, Bu". Hehe, gue artikan ya,"Bu, Bu, ini loh gembus. Ada gembus, Bu". Gembus tuh seperti tempe, tapi bukan :D . Gue sejak awal pindah ke sini, selalu mencari gembus, tempe gembus, dan hanya mbak Nur, si ibu pedagang sayur di pasar inilah yang menjual tempe gembus. Apa sih gembus itu? Tempe gembus adalah tempe yang dibuat dari ampas tahu yang diberi ragi, lalu di bungkus menggunakan plastik kecil-kecil dan dibiarkan semalaman hingga tumbuh jamur tempe yang warnanya putih. Teksturnya lebih lembut dan kenyal dibanding tempe yang berasal dari kedele. 

Gue senang banget waktu dikasih tahu ada tempe gembus! Esa, putra tengah gue, paling suka makan gembus. Rencananya gue mau masak gembus bacem. Gue beli gembus, dan belanja sayuran, lalu pulang! 

Cling, voila, gue dah sampai di rumah! Rumah gue berjarak kurang lebih 500 meter dari pasar. Dekat kan? Di rumah, Esa masih bersiap-siap hendak mandi saat gue tiba, dan dia senang sekali saat gue beritahu bahwa gue membeli gembus. "Mau dibacem", ujarku padanya, dan wajah Esa terlihat semakin cerah.

Gedubrak, gedubruk, gue bersiap mau masak bacem. Ealaaah, mana ya muntunya? Gue cari ke sana-sini, ga ketemu juga. Esa yang sudah selesai mandi pun ikut mencari, sama saja hasilnya. Hingga Esa sudah berangkat sekolah, muntu masih dalam tahap pencarian. Ngka, dan Pink ikut membantu, masih saja si muntu masuk DPB, bukan DPO. DPB tuh Daftar Pencarian Orang. Rencana tinggal rencana, ya cuma jadi rencana. Gagal masak bacem. Andai saja bisa misscall muntu...

Gembus masih  ada di dapur, dan menunggu gue beraksi... 

tempe gembus yang ga jadi dibacem

Frustasi mencari muntu, waktu juga sudah mendesak untuk berangkat kerja, ya akhirnya gue cuma berpesan pada Ngka,"Mama ga jadi masak gembus dibacem, nanti kamu aja ya goreng gembus pakai tepung. Oh iya, Mama juga beli sawi putih, kamu masak juga ya?". Ngka pun mengangguk, dan menjawab,"Oke, sip, digoreng tepung, dan sawinya nanti dioseng aja". Hihihi, akhirnya belanjaan tadi akan dimasak oleh Ngka, berikut sayurnya :D .

Ooops, sudah hampir pukul 8.00 pagi, gue bersiap dulu ya, mau berangkat kerja. Hmm, kalau nanti ada yang menemukan muntu, tolong kasih tahu gue yaa... Bisa telepon ke no yang tertera berikut ini 081XXXXXXXXX :D .

Babaaay, 
Salam senyum,
error




Sunday, 12 October 2014

error,"HORREE, DAPAT NOL!".

Ga tahu kenapa, tiba-tiba gue teringat kisah lama tentang Ngka, putra sulung gue yang sekarang sudah menjadi mahasiswa, sewaktu masih kelas 1 SD. Ngka terdaftar menjadi siswa SD swasta di dekat rumah. Nilainya bagus-bagus, dan gue hargai itu dari proses Ngka belajar. Saat itu gue ga bekerja, gue seorang ibu rumah tangga fulltime dengan 3 orang campuran putra-putri.

Setiap hari Ngka belajar dibimbing gue. Tapi ada 1 matapelajaran yang gue ga sanggup mengajarinya, yaitu matapelajaran bahasa daerah, bahasa Sunda. Gue menyerah untuk urusan bahasa daerah. Nilai bahasa Sundanya berkisar di nilai 7. Dan gue merasa cukup, karena gue aja ga bisa mengajarinya.

Ngka selalu gue antar dengan mengajak Esa, dan Pink, menunggu di kantin. Dan di hari itu, saat istirahat, gue melihat Ngka berlari riang menuju tempat gue dan dua adiknya menunggu, sambil mengacungkan sebuah buku ke atas.

"Mama! Mama!", teriak Ngka sambil terus berlari ke arah gue.

Gue tertawa melihatnya. Bahagia melihat Ngka yang terlihat senang sekali. Gue ga tahu kenapa Ngka terlihat senang, tapi wajahnya berseri-seri, rambutnya melambai-lambai, begitu pula lembaran halaman buku yang diacungkannya. Ngka belum pernah terlihat begitu senangnya seperti hari itu. Gue penasaran, ada apa gerangan.

"Mama!", ujar Ngka dengan nafas tersengal-sengal, berdiri di hadapanku.

"Ya, ada apa sayang? Lari-lari sampai ngos-ngosan gini", aku berkata pada Ngka sambil mengusap keringat yang basahi dahinya, lalu kuminta Ngka duduk di sebelahku.

"Tahu ga, Ma?", Ngka berujar.

"Apa?", tanyaku.

Dan dengan suara keras, Ngka melonjak kegirangan, berteriak,"MAMA, HORRREEE, AKHIRNYA NGKA BISA DAPAT NOOOOL!!!", sambil mengangsurkan buku bahasa Sunda.

Hwahaha, gue ga bisa menahan geli, ikut tertawa bersama Ngka. Sedangkan Esa, dan Pink, jelas saja ga tahu ada apa sebenarnya. Lah wong Ngka aja ga tahu kenapa gue tertawa mendengar dan melihat nilai nol untuk matapelajaran bahasa Sundanya. Hahaha!


Salam senyum
error

      
Beberapa hari lalu gue bertemu dengan seorang teman, dia mengeluh ga punya uang, hingga anak-anaknya hanya bisa dimasakkan telur. Gue terdiam mendengar ceritanya, dan jadi teringat Ngka, Esa, Pink, mereka pernah kelaparan, dan mereka tetap tersenyum. Dan sewaktu gue tiba di rumah, gue berkata pada Esa,"Sa, besok bawa bekal untuk ke sekolah, nasi telur ya? Ga apa-apa kan?". Dan jawaban Esa,"Ma, udah bagus banget bisa makan telur". Ya, Ngka pun berangkat kuliah membawa bekal makan dan minum dari rumah, supaya lebih hemat, dan sehat, juga seringkali membawa bekal nasi telur. Jadi, sesuatu hal akan jadi masalah kalau dianggap masalah, dan ga jadi masalah, kalau dianggap bukan masalah. Sebagai seorang ibu, single mom, gue ga mau mempermasalahkan makan apa hari ini. tapi gue lebih menekankan bersyukur ada rejeki, dan bisa makan.

Sebagai orangtua, adalah kewajiban memberi nafkah, memberi penghidupan pada anak, memberi hal indah pada mereka. Ufh, menurut gue sih, itu bukan kewajiban, tapi semua itu adalah hak gue sebagai orangtua, untuk bisa memberi hal maksimal, hal yang indah untuk anak-anak gue, dan gue jalani itu dengan sukacita. Maksimal, indah, maksimal. Gue menekankan pada kata maksimal. Maksimal yang bisa gue lakukan ga berarti sama maksimalnya dengan yang orang lain lakukan. Dan gue memberi pengertian pada Ngka, Esa, Pink, untuk bisa menerima keadaan yang ada. Hadapi, jalani, nikmati apa yang ada, jangan mengeluh, syukuri apa yang sudah diberi Tuhan. Siapa sih yang ga ingin hidup makmur? Pasti ingin, tapi bukan berarti sewaktu merasa ga makmur, jadi mengeluh, dan menangisi keadaan.

Bersyukur itu bukan hanya di saat mudah saja kan? Bersyukur di setiap saat, di saat sulit pun harus bersyukur. Dan sewaktu bersyukur, segala hal jadi indah. Masih terngiang di telinga gue,"Makasih Tuhan, bisa makan nasi pakai garam. Garamnya asin, tapi enak banget, amin". Itu sebuah doa salah satu anak gue beberapa tahun yang lalu, dan menurut gue, itu adalah doa yang indah...

Mengajarkan anak untuk mensyukuri sejak kecil, menjadikan anak selalu 'kaya' di setiap waktu, di setiap keadaan, di setiap kejadian hidup. Semoga, amin...


Salam senyum,
error



error,"Tersenyumlah, maka anak pun tersenyum".

Sedih banget tadi menonton video di status teman sosmed, tentang kekerasan fisik yang dilakukan siswa Sekolah Dasar terhadap temannya, seorang siswi, di dalam kelas saat ga ada guru. Ga ada yang menolongnya, malah divideokan oleh siswa lain, dan yang melakukan kekerasan itu bukan cuma seorang saja, melainkan beberapa orang. Yang ga ikut melakukan kekerasan tersebut, hanya diam, ga membantu, dan ga berusaha menghentikannya. Pelaku malah tertawa di depan kamera.

Bergidik melihat tayangan itu, dan ga habis pikir, apakah teriakan-teriakan mereka ga terdengar oleh kelas lain, dan kemanakah guru yang seharusnya mengajar mereka? Sedih banget menontonnya. Pelaku-pelaku di video tersebut anak usia SD, yang mungkin sekitar 10 tahun-12 tahun. Pengasuhan, pendidikan, pengajaran seperti apakah yang mereka dapat dalam menjalani kehidupan, di usia mereka yang baru saja menginjak awal belasan tersebut? Sama sekali ga ada kasih dalam perbuatan itu. Apakah menendang, meninju, memukul kepala seorang lain, dan dilakukan oleh (banyak) orang terhadap orang lain, termasuk bagian dari kasih? Gue rasa, ga!

Siapa yang salah dalam hal ini? Siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas perbuatan seperti ini? Siapa yang patut dituding sebagai penyebab anak menjadi pelaku tindak kekerasan? Orangtua, guru, lingkungan, atau anak itu sendiri?

Anak dilahirkan bersih, putih bagai kertas putih. Orangtua sebagai orang pertama yang mengenalkan pada anak tentang cinta kasih, kasih sayang, kelembutan, dan semua hal awal ada di pengasuhan orangtua. Coretlah dengan tinta hitam, kertas putih tercoret hitam. Coretlah dengan tinta merah, maka kertas putih tercoret merah. Tulislah hal yang indah, maka akan tertulis hal indah di atas kertas putih. Tulislah kemarahan, caci maki, kebencian, maka tertulis pula hal itu di sana.

Anak adalah peniru paling jitu. tersenyumlah, maka mereka belajar meniru senyum, tertawalah dan mereka belajar meniru tertawa. Berteriaklah kasar, maka mereka pun belajar meniru berteriak kasar. Mereka peniru jitu, dan mereka bisa menjadi lebih hebat dari orangtua. Memberi contoh tersenyum, senyum mereka lebih manis dari senyum orangtua. memberi contoh memaki, mereka menjadi lebih hebat dalam memaki dibanding orangtua!

Sang ibu memaki, berteriak, memukul, mencakar, saat marah pada sang ayah, dan bahkan pada putra mereka. Sang ayah dalam posisi 'bertahan' di kondisi tersebut. Bertahan dalam arti membalas makian, dan pukulan. Anak kerap menjadi penonton 'film action nyata' tersebut. Anak belajar menghadapi kondisi 'buruk' tersebut dengan 'baik', dari ibu, juga dari ayah. Di usia kurang lebih 3 tahun, anak tersebut sudah bisa membalas pukulan sang ibu dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya! Menyedihkan... Juga ada contoh lagi, sang anak setiap kali diberi teriakan penuh amarah, dan akhirnya anaknya pun bisa berteriak membalas kemarahan orangtua. Anak rewel, diteriaki bahkan dicubit. Oops, bukankah semakin menjadi-jadi rewel anak tersebut? Dan orangtua semakin marah, dan anak semakin rewel, dan begitu terus. Itukah pengasuhan penuh kasih dari orangtua? Hiks, sedih banget... Balik lagi ke alinea sebelumnya, anak bagai kertas putih, anak peniru paling jitu!

Masih berpikir siapa yang salah di kasus kekerasan yang dilakukan siswa SD ini. Orangtua, guru, lingkungan, atau anak itu sendiri? Jawabannya ada di dalam hati masing-masing.

Ngka, Esa, Pink, mama cinta kalian amat sangat... Ingatkan mama kalau mama berbuat, bersikap, mengucap yang melenceng dari jalur kasih. Saling mengingatkan, kasih itu lembut, kasih itu penyayang...


Salam senyum,
error









error,"Me time a la gue"

Me time! Rasanya siapa pun butuh me time, ya. Gue seorang single mom dengan 3 kekasih jiwa, alias 3 campuran putra dan putri, Ngka, Esa, Pink, yang jelas-jelas beda usia karena mereka bukan kembar, dan beda jenis kelamin. Ngka, mahasiswa awal di sebuah universitas swasta, Esa, seorang pelajar SMA negeri, dan Pink, satu-satunya putri gue, yang saat ini homeschooling karena keterbatasan kondisi kesehatan, dan sekarang SMP kelas terakhir. Untuk menafkahi 3 orang campuran putra-putri ini, gue menjadi perempuan bekerja. Selain bekerja, otomatis gue juga jadi seorang ibu rumah tangga dengan berbagai macam tugas yang menjadi hak gue sebagai ibu. Sabtu dan Minggu menjadi hari ibu untuk gue, karena fulltime mengerjakan tugas rumah. Suntuk? Ga juga sih, karena di saat-saat bersama Ngka, Esa, dan Pink, saat itu juga gue menjalani me time, tanpa meninggalkan mereka. Mereka pun memiliki me time, dan dilakukan saat-saat kebersamaan kami.

Ngka mendengarkan lagu, Pink membaca buku, Esa ngegames, gue menonton, dan itu bersama-sama di 1 ruangan, ruang tamu. Rumah yang kami tempati kecil, jadi untuk kegiatan memang dilakukan di ruang tamu :D . Jangan salah, hal itu ga terasa mengganggu untuk dijalani. Dalam kesibukan masing-masing, tapi tetap mengobrol, dan tertawa bersama-sama, dan itulah me time yang kami miliki. Me time dalam fam time. Laptop cuma 1 buah, dan itu digunakan bergantian. Jadi masalah? Ga juga, santai aja bergantian. Seperti saat ini, gue ngeblog sesudah Esa, dan Pink selesai ngegames.

Pernah seorang teman yang juga single mom, mengeluh pada gue, dia jenuh dengan kesibukannya, dan butuh me time. Teman gue memiliki seorang putri kelas 1 SD. Me time itu menurutnya ga bisa dia dapatkan, karena putrinya selalu mengganggu. Menurut gue, me time bisa dilakukan kapan saja, dan di mana saja, syaratnya cuma 1, nikmati yang dikerjakan, nikmati yang ada, nikmati yang terjadi. Lepaskan seluruh penat dengan bergembira, bersyukur.

Gue ga tahu, me time yang gue jalani ini benar me time atau ga menurut orang lain, tapi yang jelas, gue bisa merasakan bahagia saat melakukan tugas, melakukan hal yang gue suka. Oh ya, untuk gue, mengerjakan tugas rutin sebagai  ibu rumah tangga itu bukan kewajiban, tapi gue anggap itu sebagai hak, hak seorang ibu mencintai anak-anaknya dengan memberikan hal maksimal yang gue bisa. Dan itu jadi me time untuk gue, enjoy aja yuk ah...


Salam senyum,
error


Friday, 10 October 2014

error,"Sungai jernih dekat rumah"

Terbayang banjir gegara sungai yang penuh sampah, kotor, tak dijaga dengan baik. Airnya hitam, dan pastinya banyak penyakit. Jadi teringat banjir yang pernah melanda. Dan itu benar-benar melumpuhkan lingkungan perumahan.

Foto ini diambil 18 Januari 2014, air banjir di dalam rumah lebih tinggi dari ini

Itu dulu, dan disebabkan oleh kurangnya resapan air, tidak ada saluran air yang bagus, sungai yang juga menambah masalah. Sungai yang melewati perumahan penuh sampah. Heran juga kenapa masih saja hobi membuang sampah di sungai, ya? Padahal sudah tahu secara pasti, itu mengakibatkan banjir. Juga kenapa pembersihan sungai kalau sudah masuk musim penghujan? Bersih itu sehat, dan itu bukan omong kosong. Ngeri juga kalau mengingat banjir. Air banjir yang kotor, yang jelas dicemari berbagai kotoran, penyakit.

Nah sekarang, dekat rumah gue yang baru sebulan gue tempati bersama Ngka, Esa, dan Pink, ada sungai, mungkin kurang lebih 200 meter, jarak rumah dengan sungai. Sungai yang jernih, bersih, dan indah untuk dipandang. Pokoknya benar-benar keren banget! Narsis dengan latar belakang sungai, wah indahnya pakai banget! Setiap hari gue melewati jembatan yang melewati sungai. Berangkat kerja, berbelanja ke pasar, semua itu melewati jembatan atas sungai, dan selalu saja membuat gue terdiam sejenak melihat sungai tersebut. Gue belum pernah punya kesempatan mendokumentasikan sungai jernih, bersih, indah nan keren itu. Hingga akhirnya tadi pagi, sewaktu gue dan Ngka berjalan kaki pulang dari pasar, gue meminta Ngka mendokumentasikan sungai dari jembatan yang kami lewati.

Ga ada sampah, ga ada apa pun yang menghalangi aliran sungai. Bersih, amat bersih, hingga bisa berkaca di airnya yang bening, jernih. Weh, bisa dijadikan ajang pariwisata. Mau tahu penampakan sungai yang dekat rumah gue? Ini dia!

Sungai dekat rumah, 10 Oktober 2014

Haha, indah banget kan? Dan gue masih terus berharap, ga akan ada banjir...


Salam senyum,
error






error,"Teriakanmu menyedihkan"

Sejak gue bangun tidur, mau berangkat kerja, hingga gue pulang kerja, gue selalu mendengar teriakan yang menyedihkan hati. Bukan, itu bukan teriakan gembira, juga bukan teriakan ke gue, tapi teriakan seorang ibu pada anaknya, yang terdengar jelas sampai ke rumah gue. Setiap kali mendengarnya, terasa banget itu teriakan yang memberi kepedihan. Entah gue yang lebai, atau memang teriakan itu sebenarnya menyedihkan juga untuk orang lain yang mendengar, terutama untuk sang anak.

Gue akui bahwa gue bukan seorang ibu yang baik, bukan ibu yang hebat. Gue seorang ibu yang biasa banget. Gue ga bisa masak yang lezat seperti ibu-ibu yang lain, masakan gue cuma pakai feeling aja, malah anak-anak gue suka minta gini,"Ma, masak makanan yang aneh dong". Hahaha, itu karena gue memang masak makanan aneh, gue aja ga tahu gue masak apa, namanya apa. Jadi kalau ditanya,"Masak apa?", jawaban gue,"Ga tahu". Gue ga bisa menemani anak-anak setiap saat, karena gue bekerja. Ya, gue perempuan bekerja. Memberi barang-barang bagus untuk anak, gue juga ga bisa, karena gaji gue ga mencukupi untuk itu. Yang membereskan rumah bukan gue, tapi bareng Ngka, Esa, Pink, tiga kekasih jiwa gue. Jadi, jelas banget gue bukan seorang ibu yang baik, apa lagi yang bisa dibanggakan. Gue ibu biasa, yang berusaha jadi sahabat untuk Ngka, Esa, Pink.

Ngka, Esa, Pink, bukan anak yang hebat dalam prestasi, mereka biasa-biasa saja, tapi untuk gue, mereka adalah sahabat yang hebat, anak-anak yang amat hebat. Mereka mau mengerti kondisi yang ada. Eh, jangan berfikir bahwa mereka selalu bertindak, selalu bersikap 'benar'. Tapi gue berusaha ga memarahi. Gue juga ga menasehati. Mau tahu alasan gue ga memarahi dan ga menasehati? Hehe, gue sejak kecil ga suka dimarahi, dan juga ga suka dinasehati. Jadi, itu gue terapkan dalam membimbing Ngka, Esa, Pink. Gue terbiasa  bercerita pada mereka tentang apa pun, dan gue menggarisbawahi baik dan buruknya sikap, dan perilaku dari cerita gue itu.

Waktu mereka masih kecil, gue ajak bernyanyi bersama, menari bersama, dan mendongeng untuk mereka. Setiap tokoh cerita, gue beri kebebasan mereka memberi nama. Cerita tentang apa? Ya banyak, mengarang bebas juga ada, banyakmalah. Gue ambil dari kebiasaan mereka yang ingin gue ubah, kebiasaan mereka yang menurut gue kurang baik, itu yang gue angkat jadi cerita. Dan mereka tertawa sewaktu mendengar cerita gue, lalu sikap dan perilaku yang ga baik tadi, berubah. Mereka akan mengingatkan saudaranya yang sikap dan tindakannya ga baik, seperti dalam cerita yang gue ceritakan pada mereka. Dan gue rasa, gue ga perlu lagi marah, apalagi berteriak pada anak-anak gue, Ngka, Esa, Pink.

Sesudah mereka beranjak besar, gue ga mendongeng lagi, tapi gue bercerita tentang segala sesuatu yang nyata. Bercerita tentang pekerjaan di kantor, tentang teman-teman gue, dan gue biarkan mereka berpendapat tentang cerita gue. Dari situ gue jadi tahu bagaimana penyikapan mereka terhadap sesuatu. Mereka masih remaja, dan seringkali terbawa emosi, dan gue cuma mengarahkan aja, sambil tetap dalam konteks mengobrol, sharing pendapat dalam suasana santai.

Gue membagi tugas rumah. Lalu seiring waktu, mereka membagi tugas sendiri, karena mereka lebih tahu siapa yang lebih bisa menghandle ini atau itu.

Ufh, teriakan tetangga terdengar lagi, dan lebih banyak berisi teriakan penuh kemarahan. Gue, bukan seorang ibu yag keibuan, tapi gue jadi sedih sewaktu mendengar tetangga berteriak-teriak meneriaki anaknya. Plis, gue bukan ibu yang baik, tapi berusaha keras untuk mencintai anak dengan kasih, tanpa kemarahan. Apakah ibu-ibu lain yang baik itu ga bisa untuk ga berteriak pada anak-anaknya? Atau memang adalah hal yang baik memarahi anak dengan berteriak-teriak?

Gue bukan ibu yang baik, cuma gue berusaha menjaga harga diri Ngka, Esa, Pink, dengan ga berteriak pada mereka. Gue berusaha menerapkan kasih. Marah terkadang perlu, tapi bukan berarti marah setiap saat, karena situasi dimarahi malah akan menjadi hal yang biasa untuk anak, dan malah mereka akan terus saja berbuat yang 'untuk dimarahi'. Gue tahu, gue bukan ibu yang sabar, karena itu gue menerapkan ini ke Ngka, Esa, Pink, sejak mereka kecil. Dan memang gue ga perlu memarahi mereka.

Tetangga masih saja berteriak-teriak pada anaknya yang masih kecil, dan terdengar suara anaknya membalas berteriak.

Ah, sungguh, teriakan yang terdengar ini menyedihkan gue... Teriakan tanda jauh dari kasih, kasih itu lembut, kasih itu membahagiakan... Gue bukan ibu yang lembut, tapi gue ingin Ngka, Esa, Pink, berbahagia selalu, karenanya gue ga mau berteriak, apalagi teriak penuh kemarahan...

Ngka, Esa, Pink, mama sayang kalian...


Salam senyum,
error
  

error, flash fiction,"Dia, mereka yang berbeda"

Aku ketakutan mendengar suaranya memanggil, dan semakin ketakutan saat dia ada di hadapanku. Sosoknya yang besar, hitam, dibalut senyum yang penuh kepastian tentang kelicikan. ingin berlari, tapi kaki tertahan di lantai, melekat erat, hingga tak bisa beranjak. 

"Ternyata di sini. Hebatnya aku, bisa menemukanmu. Pergi kemana pun, aku tahu kamu berada di mana", dengan seringainya yang membuatku semakin ketakutan, tapi aku berusaha untuk menyembunyikan ketakutanku dalam hati.

"Hmm", jawabku sambil terus saja bermain dengan ponsel, berusaha tidak melihat wajahnya.

"Aku akan berada di sini, mennemanimu".


"Tak perlu", aku menjawab tanpa memperhatikannya sedikit pun.

Lalu dia menghilang. Seperti biasa dia menghilang tiba-tiba, seperti kemunculannya yang juga selalu tiba-tiba. Aku tak bisa menyembunyikan betapa lega rasanya saat dia pfffh, hilang! Bertahun-tahun sosok itu menghantui hidupku, mengganggu keseharian yang kumiliki. Andai saja kubisa menghancurkannya! Hingga aku bisa menghilang, pergi dari tempat tinggal lamaku. Tapi ternyata dia bisa menemukanku dengan mudahnya.

Suasana rumah sepi. Tak ada siapa pun di sini. Semoga saja dia benar-benar menghilang dari hidupku.

"Err! Err!", suara teriakan dari luar rumah terdengar memanggilku. Ugh, tak ada siapa pun. Lalu terdengar lagi suara memanggilku dari luar,"Err!". Tetap tak ada siapa-siapa di luar sana. Rasanya ingin membalas teriakan itu, tapi untuk apa? Berteriak marah pada sosok tak berwujud? Semua orang akan menyebutku gila, jika hal itu kulakukan. Lanjutkan saja kegiatanmu, suara halus berbisik di telingaku. Aaargh, mereka mengganggu lagi.

Dengan tenang kuambil kunci motor, tinggalkan sejenak rumah yang mulai dipenuhi suara tanpa sosok. Segar di luar, angin deras menyentuh tubuh yang tanpa balutan jaket. Biar saja sinar matahari memelukku. Di area pusat jajanan, aku berhenti. Memesan sepiring batagor dan segelas es doger, kurasa mampu menghilangkan penat karena suara-suara, dan karena datangnya sosok hitam besar tadi.

"Hai Err", seorang teman menyapa.

"Hai. Sendiri?".

"Ya. Malas di rumah", jawabnya. Lalu tak ada pembicaraan lagi, kami menikmati hidangan tanpa kata-kata.

Waktunya pulang... Sepanjang perjalanan aku berdoa agar tak bertemu dengan sosok aneh, dan tak lagi mendengar suara yang memanggil. Great, orang lain bisa saja menganggapku gila, padahal sosok itu benar-benar nyata, dan ada! Aku tidak gila, bukan penderita schizofrenia. Sixth sense ini ada sejak kecil, dan sungguh mengganggu. Beberapa teman dengan santainya berkata padaku untuk mencoba berkomunikasi dengan 'mereka'. Hah! Mereka fikir apa yang kulihat dan kudengar itu tak membuatku bergidik? Mudahnya bicara, tapi coba hal ini menimpa mereka, apakah mereka akan berbuat seperti saran mereka padaku? Belum tentu, mallah mungkin tidak, dan mungkin saja mereka lebih penakut dibanding aku.

Tiba juga di depan pagar, dan kulihat seorang ibu duduk di atas pagar rumah tetangga, dan kulihat seorang anak kecil menangis di pinggir selokan. Huh, ternyata di mana pun sama saja, percuma berlari dari satu tempat ke tempat lain, karena penglihatanku yang berbeda, akan tetap melihat mereka yang berbeda, sosok lain yang hidup di dunia lain...


Salam senyum,
error






Thursday, 9 October 2014

error,"kursi roda kempes"

Di rumah ada sebuah kursi roda, diletakkan di sudut ruang tamu. Melihat kursi roda yang roda nya sudah kempes sebelah, gue merasa bahagia. Aneh ya, melihat kursi roda kempes gue jadi bahagia. Ada rangkaian cerita di sebuah kursi roda, dan ada sejumlah rasa syukur yang memang seharusnya gue ucap pada Tuhan Yang Baik Banget.

Pink waktu itu diserang oleh imunnya sendiri. Ya, Pink hidup dengan autoimun. Saat itu Pink diserang bagian otot kakinya. Pink lumpuh kaki. Bohong kalau gue berkata ga sedih. Gue sedih, tapi gue berusaha untuk bisa menyikapinya dengan senyum. Semua adalah terbaik dari GUSTI, jadi ga mungkin kejadian yang ada tuh sebuah hal buruk. Untuk ke kamar mandi atau ke mana pun dia mau, Esa, Ngka, atau gue, siap menggendongnya. Pink ga bisa berangkat ke sekolah, karena kondisi kesehatannya yang lemah. Beberapa waktu kemudian, Pink mulai bisa bangkit berdiri, tapi masih belum bisa berjalan, saat itu hampir test kenaikan kelas. Gue ingin Pink berangkat ke sekolah, tapi tentu saja dengan kursi roda, karena ga memungkinkan untuknya berjalan. Dan Pink belum memiliki kursi roda.

Gue berkeinginan membelikan Pink sebuah kursi roda. Pink harus memiliki kursi roda. Gue menghubungi seorang teman yang waktu itu berjanji akan mengembalikan uang yang dipinjamnya. Tapi jawabannya,"Sabar". Gue benar-benar ga habis fikir waktu itu, karena dia berjanji hanya beberapa hari, dan itu juga berhubungan dengan kantor tempatnya bekerja. Katanya sih,  kantornya akan mengganti uang yang dipinjam dari gue. Ga banyak mungkin untuk sebagian orang, tapi untuk gue, jumlah senilai itu banyak banget, dan gue meminjamkan karena dia berjanji beberapa hari, dan kantornya akan mengganti. Ternyata sewaktu gue menanyakan hal tersebut, sulit untuk gue hubungi, dan jawabannya,"Sabar ya". Sebelumnya sewaktu gue menanyakan hal itu, saat Pink demam hebat, dan gue harus membawanya ke dokter, jawabannya pun persis sama,"Sabar". Gue bingung, karena Pink butuh kursi roda. Gue tanya sana-sini tentang di mana mencari kursi roda bekas yang murah. Banyak jawaban dari teman-teman. Dan ada seorang teman yang memberi info bahwa temannya akan menjual kursi roda yang sudah ga dipakai lagi. Gue hubungi lagi teman yang meminjam uang tersebut, dan jawabannya,"Sabar". Gue merasa sudah cukup semua jawabannya, maka gue putuskan untuk 'memutihkan' hutangnya. Gue anggap lunas. Gue ucapkan lunas untuknya saat gue berdoa. Dan ajaib, segala rasa khawatir tentang Pink dan kursi roda, cemas, dan semua airmata yang mengalir di hati karena merasa ga sanggup membelikan kursi roda, hilang dari hati, lega. Sesudah gue mengucap dan menetapkan lunas, ada kabar dari seorang sahabat yang gue anggap sebagai adik gue, ada yang ingin memberi kursi roda untuk Pink. Dimintanya data tentang Pink. Dan gue terbengong-bengong.

Saatnya test kenaikan kelas tiba. Ayo Pink, sekolah! Pink meminjam kursi roda milik mama gue, yang notabene eyang puteri dari anak-anak gue.

Gue mengantar dan menunggu Pink test kenaikan kelas, senyum Pink ceria :)

Dan sewaktu pulang sekolah, ga lama sesampainya di rumah, ada seseorang datang dengan kursi roda untuk Pink! Lalu ga lama kemudian, sahabat gue yang gue anggap adik pun datang. Terharu banget rasanya... Dan sejak saat itu Pink memiliki kursi roda sendiri. Esok hari, Pink ikut test kenaikan kelas diantar gue dengan kursi roda miliknya sendiri.

Libur pun tiba, setiap pagi pink diajak berjalan-jalan oleh Esa, Ngka, atau gue, secara bergantian, berkeliling seputaran rumah. Lalu kondisi membaik, membaik, dan membaik.

Saat ini Pink ga membutuhkan kursi roda, Pink sudah bisa berjalan lagi, pulih dari kelumpuhan kaki, karena itu kursi roda ada di sudut ruang tamu, kempes rodanya.

Bahagia, ya gue merasakan kebahagiaan yang ga pernah habis. Tuhan memberikan Ngka, Esa, Pink, untuk gue, mereka anak-anak yang hebat! Tuhan memberi sahabat-sahabat yang baik, memberi kursi roda padahal gue ga memiliki uang, dan memberi sehat untuk Pink.

Gue bahagia banget, dan kursi roda yang ada di sudut ruang tamu adalah saksi kebahagiaan yang gue rasakan.



Salam senyum,
error





error,"Menikmati gelapnya mati lampu".

Semalam gue bersama Esa dan Pink, asyik menonton tv, Ngka pergi dengan sahabatnya, Yosua. Bertiga santai, nonton, ngobrol, tetiba lampu PET, mati. Tunggu ditunggu, eh listrik masih mati juga. Fiuh, mati lampu, atau 'njepret' (njepret listrik tuh namanya apa ya? Tegangan listrik turun? ya maksudnya itu deh) ya? setelah diperiksa oleh Esa, ternyata memang mati lampu. Ngomong-ngomong, di luar negeri mana gitu, ada mati lampu ga ya? Ah ya sudahlah, gue cerita mati lampu semalam aja.

Panas, gerah, orang Jawa bilang,"Sumuk", dan pasti banyak bahasa daerah yang menyatakan maksuda yang sama ini. Pokoknya mulai berkeringat, karena ga ada angin yang menyentuh ruangan. Pintu depan rumah pun dibuka. bertiga duduk di ruang tamu, tetap mengobrol. Seberang rumah, pinggir sawah, ada beberapa tetangga duduk di sana, mungkin karena kegerahan, mereka pun keluar rumah, duduk santai mengobrol sesama warga yang jadi korban mati lampu. Seberang rumah gue memang tempat favorit tetangga duduk. Padahal sejejeran rumah gue, seberangnya sawah juga, tapi seberang rumah gue adalah pojok favorit. Asyik juga, rumah gue jadi banyak yang jaga, hehe.

Setengah jam berlalu, eh masih gelap mati lampu juga. Pink mulai mengantuk, gue juga, sedangkan Esa sudah sukses mengurai lelahnya menjadi istirahat, Esa lelap di kasur palembang ruang tamu yang digelar. Pintu depan rumah tetap dibuka. Nyamuk-nyamuk bersukaria, berteriak-teriak, menjerit melihat Esa yang tidur, Pink yang mulai tidur-tiduran, dan gue yang jelas-jelas besar terlihat oleh nyamuk. "Asupan gizi yang baguuuus..!! Ayoo serbuuu, kita kenyaaang!!", kata nyamuk pada sesama nyamuk, sedangkan gue mulai siaga 1 mendengar teriakan nyamuk yang menurut gue butuh diberi tepuk tangan. Plak! Plak! Beberapa anggota bala tentara nyamuk gugur di telapak tangan gue. Tapi nyamuk ga pernah menyerah, terus saja menyerbu dengan garang dan riang. Semprooot! Sesss, sees, seees, nyamuk-nyamuk disemprot racun serangga. Iya, racun serangga, bukan obat nyamuk. Obat nyamuk itu mengobati nyamuk, berarti nyamuknya sakit, hingga diberi obat khusus nyamuk. Sedangkan gue ga mengobati mereka, gue meracuni nyamuk-nyamuk, dengan harapan terbebas dari suntikan nyamuk yang beracun, mengakibatkan gatal. Diracun atau meracun, itu pilihannya. Dan gue memilih meracuni para nyamuk. Horre, berkurang nyamuknya! Namun setelah itu, serombongan nyamuk yang mungkin keluarga nyamuk yang diracun itu datang semua. Alhasil, bertepuk tangan yang meriahlah gue semalam. Pink sudah menyusul Esa masuk dalam lelap. Dan rasanya gue pun mengantuk, menyusul lelapnya Esa, dan Pink, yang sudah lebih dulu bermimpi. Eh, gue ga usah cerita tentang mimpi gue ya? Satu hari nanti gue akan bercerita mimpi gue yang sebenarnya gue juga lupa mimpi apa :D .

Suara motor berhenti di depan rumah, gue terbangun. Ternyata Ngka sudah pulang. Motor pun dimasukkan Ngka ke teras.
"Ma, mati lampu dari depan sana loh Ma. Dari baru masuk sana tuh, udah gelap!", kata Ngka.
"Mati semua?", tanya gue.
"Iya. Serem deh Ma. Horor!", ujar Ngka lagi.
Gue bersyukur sewaktu mati lampu gue ga lihat yang 'aneh-aneh'.
"Mati lampunya dah lama, Ma?"
"Dari tadi. Nih tante Lia (teman gue yang rumahnya masih 1 perumahan sama gue) nulis: nyala doong, ngantuk niih!, di status BBM-nya".
Ya, mati lampu lama banget semalam, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Dok, dok, dok!! Tukang nasi goreng pun lewat depan rumah. Waah, asyiiik!
"Ma, beli nasi goreng, ya?"
"Ya", jawab gue.
"Mama nambahin seribu aja deh", ujar Ngka.
Cihuui!! Gue semakin semangat menyetujui Ngka membeli nasi goreng. Hihi, dasar emak-emak penuh perhitungan... Hahaha!
Nasi goreng pun dihidangkan, satu piring. Ngka membangunkan dua adiknya, Esa, dan Pink.
"Sa, bangun. Pink, bangun. Mau nasi goreng ga?".
Dan satu piring nasi goreng made by abang tukang nasi goreng pun diserbu bersama. Serbuan nyamuk ga lagi terasa, karena aroma godaan nasi goreng lebih terasa asyik.

Ga lama setelah nasi goreng selesai tandas ga tersisa di piring, lampu pun BYAR!! Horee, teraaang! Selama dua jam menikmati gelap, terang menjadi anugerah yang berlimpah. Tetangga yang duduk mengobrol di seberang rumah pun bubar. Mereka lebih memilih rumah terang dibanding duduk di pinggir sawah dikeroyok nyamuk. Tapi sewaktu rumah gelap, mereka memilih meninggalkan rumah, dan mencari tempat nyaman lain. Jadi mikir, apakah rumah hanya akan dihargai dan disyukuri saat dilimpahi segala terang, dan ditinggalkan begitu saja saat gelap memenuhi ruang...


Salam senyum,
error
        

Wednesday, 8 October 2014

error,"Bihun goreng untuk tetangga".

Hari Sabtu kemarin, gue memberi kue pada tetangga sebelah rumah. Eeh hari Minggu, si ibu tetangga memberi nasi plus lauk khas Lebaran di piring ke rumah. Jadilah gue bingung, tuh piring si ibu mau diisi apa. Mengembalikan piring kosong, rasanya kok ga enak ya. Hari minggu itu gue ga masak, pasar pun sepi, ga ada yang berjualan. Senin berlalu, Selasa juga berlalu, piring si ibu tetangga sebelah rumah masih ada di rumah gue. Huwaaa, gue bingung, mau diisi apa piringnyaaaa? Di kantor, gue menanyakan hal ini pada seorang teman,"Diisi apa ya piring si ibu tetangga sewaktu gue kembalikan piringnya?". Jawabannya fantastis untuk otak gue yang blank! "Bihun goreng, Mbak", kata teman gue. Good idea banget!! Muaaach, Mbak Pupu, udah memberi ide bagus!

Jadi, sepulang kerja kemarin, gue meminta Ngka untuk membeli bihun. Dan tadi pagi-pagi gue ke pasar dekat rumah, membeli sayuran dan baso. Bihun goreng akan terhidang pagi ini, dan nanti akan mengisi piring si ibu tetangga sebelah rumah. Sayangnya gue lupa membeli sawi hijau. Tapi ga apa-apa deh, sayurannya cukup toge, kol, daun bawang. Gue sih ga bisa masak, tapi lumayanlah enaknya. Tanya aja ke Ngka, Esa, Pink,"Mama bisa masak ga?". Jawaban mereka pasti,"Bisa". Tanya aja lagi,"Enak ga?". Jawaban mereka pasti,"Enaaaak banget!!!". Mereka menjawab sambil memandang gue yang melotot di pojokan. Hahahaha!!!

Ngka membantu gue mencuci sayuran dan baso, juga mendidihkan air untuk merendam bihun sampai bihunnya lemas. Sebenarnya sih ga tega sama si bihun, dia direndam di air panas sampai lemas! Ah..., kasihan sekali kamu, bihun! Sesudah itu, bihun ditiriskan, diberi minyak goreng supaya ga saling melekat satu sama lain. Ayo bihun, jangan berantem yaaa... :D, juga diberi kecap secukupnya, sesuka-sukanya aja, aduk rata. Paling enak sih mengaduk dengan menggunakan 2 buah garpu. Beneran, gue mengaduknya dengan cara begitu. Garpu di tangan kiri dan kanan, aduuuuk, aduuk rata. Udah tercampur rata? Cuekkin aja tuh bihun yang sudah berwarna cokelat. Huh, pura-pura ga kenal! Sementara itu Ngka memotong-motong kol, dan daun bawang. Togenya jangan dipotong, ribet. Baso diiris sesuai kata hati aja. Ngka mengirisnya tipis-tipis, katanya,"Supaya jadi banyak!". hahaha!

Gue ambil beberapa siung bawang putih, dan beberapa siung bawang merah. Maaf, maaf, bukan menyembunyikan resep, tapi sumpah, gue asal ambil aja, menggunakan feeling, ga punya standardisasi bumbu yang bakal digunakan :D . Ulek, ulek, ga lupa ambil garam. Mericanya ga perlu diulek, karena gue menggunakan merica bubuk. Selesai deh mengulek-ulek. Telur 3 butir, gue kocok, seperti mau masak telur dadar. Ok, siap deeh. Maksudnya, siapkan wajan yang diisi minyak goreng untuk menumis, dan margarin kalau ada. Lagi-lagi tanpa standard kuantitas :D . Ceklek, kompor menyala, tunggu sebentar minyak mulai panas, masukkan telur yang tadi dikocok. Gue diamkan sebentar, lalu gue kacaukan  tuh telur. hayo telur, gue ga mau telur dadar, gue mau telur untuk di dalam bihun. Sesudah telur masak, masukkan bumbu halus yang tadi diulek. Sreeeng, aduk supaya matang, lalu sreeng, masuk sayuran, beri kecap, garam, merica halus, kemudian coba, coba sudah pas belum rasanya. Wajan jadi terisi sayuran dan mulai berair yang berasal dari sayuran. Sayuran mulai setengah matang, masukkan baso, lalu masukkan bihun, aduk rata hingga tercampur. Coba lagi, udah pas belum ya rasanya.

Dan akhirnyaaaa..., tralala trilili.., bihun goreng pun siap dihidangkan, siap dimakan, siap diantar ke rumah tetangga, dalam rangka mengembalikan piringnya. Mau coba masak bihun goreng juga? Ayo masak, cepat! Pasti masakan lo jauh lebih enak dibanding masakan gue.

Pukul 07.00 pagi, Ngka mengantar bihun goreng ke tetangga sebelah rumah, dan yea, makan bihun, yuk... Pink dan Ngka pun makan, lagi dan lagi...

Salam senyum,
error


error,"Jambreeet!!"

Waktu itu mendekati hari Raya Idul Fitri, siang hari sekitar pukul 14.00, gue mengantar teman mengurus ketenagakerjaan di kantor BPJS ketenagakerjaan yang dulu dikenal dengan Jamsostek. Perusahaan tempat gue bekerja masuk wilayah BPJS ketenagakerjaan di daerah Rawamangun, Jl. Pemuda, Jakarta Timur. Siang terik, panas banget. Gue mengendarai sepeda motor, teman gue dibonceng duduk di belakang. Masa iya teman gue duduk di depan, ga cukup dong... :D .

Perjalanan lancar, gue santai aja mengendarai motor, ga ngebut. Teman gue membawa 2 buah tas, yang 1 diletakkan di tengah antara gue dan dia, berisi dokumen yang diperlukan. Sedangkan tas yang 1 lagi, bergantung di sebelah bahunya.

Untuk mencapai lokasi tujuan, kami melewati Jl. Paus. Macet banget. Motor bergerak perlahan. Panas, macet, benar-benar membuat gue harus berkonsentrasi penuh. Gue ga mau konyol menyerempet mobil orang. Dekat pertigaan Jl. Pemuda, gue mengambil jalur kiri perlahan. Benar-benar pelan-pelan. Jalur kiri kosong, aman dari kendaraan lain, gue masuk, masih dengan bergerak pelan-pelan. Gue masih tenang-tenang aja, sampai terdengar suara,"Mbak Nitaaaa! Mbaaaak! Aku nyangkuuut, Mbaaaak!!". Gue kaget, menengok ke belakang, melihat keadaan temanku, lalu perlahan mencari tempat untuk minggir berhenti. Sesudah behenti, gue bertanya,"Nyangkut di apa mbak?". Gue herang, bingung, karena ga ada tiang atau apa pun yang di dekat kami. Gue pun minggir masuk jalur kiri tuh ga ada motor dekat motor gue, gue benar-benar perlahan, dan hati-hati. Teman gue menjawab,"Dari tadi aku teriak-teriak, Mbak Nita ga dengear. Tasku nyangkut, aku menahan badan supaya ga jatuh. Mbak ga dengar". Gue meminta maaf ke teman gue, karena memang benar ga mendengar teriakannya. Mungkin karena helm gue fullface, jadi ga terdengar suara teriakannya. Atau mungkin ditambah gue sebenarnya lumayan budek :D .

teman gue pucat, lalu dia memeragakan tasnya yang menurutnya tersangkut. Entah tersangkut apa. Tapi sewaktu dia kedepankan tasnya, ya GUSTI..., tas itu sobek-sobek! Temanku kaget bukan alang kepalang! Aku pun kaget, terbengong-bengong! lalu aku lihat ke sekitar, jalanan masih macet, kecuali jalur kiri tempatku terakhir. Beberapa orang pengendara motor yang mendahului, memandang kami. Berarti tadi temanku dijambret!

"Mbak ga apa-apa?", tanyaku pada temanku.

"Ga apa-apa, mbak. Haduh tasku!". Lalu diperiksanya tasnya, apakah ada yang hilang atau tidak. ternyata penjambret itu ga bisa mengambil barang-barang yang ada di tas temanku itu. Syukurlah, temanku selamat, dan ga ada barang yang hilang. Tapi sungguh, itu pengalaman yang ga terlupakan. Teman gue jadi trauma, dan sejak saat itu dia takut membonceng motor siapa pun.

Seiring waktu, kejadjian itu mulai terlupakan. Hingga bulan kemarin, ada berita di kantor, seorang analis di perusahaan kami ga masuk karena kemarin tasnya dijambret orang. Dia dibonceng oleh temannya naik motor. Tasnya ditarik orang, dan berhasil diambil. Syukurlah dia selamat, walau seluruh barang dan surat-surat pentingnya ada dalam tas.

Gue cuma mau bepesan,"Hati-hati...".


Salam senyum,
error