Friday, 29 April 2016

Sabar? Tenang saja

Sabar itu ga ada batas, katanya sih gitu. Sabar itu susah, juga katanya sih gitu. Iya, itu katanya.
Gue orang yang ga sabaran. Hedeh, parah. Berusaha untuk bisa sabar, ga lulus juga. Masih aja ga bisa sabar. Trus gimana dong? Gue memutuskn untuk mengubah usaha menjadi sabar ke menjadi tenang.
Whaaat? Tenaaang? Maksudnyah apah yah?
Dalam menghadapi semua kejadian hidup, gue berusaha untuk tenang. Ga panik, ga marah, ga jengkel, ga kesal, ga bad mood, ga ngamuk-ngamuk. Tenang, tenang, tenang. Segala sesuatu ga ada yang buruk. Semua itu indah, bagus. Gue belajar untuk bisa menyerahkan segala sesuatu ke GUSTI. Susah banget ternyata! Apalagi saat putri bungsu sakit.
"Kalau Allah 'ngambil' anak lo, gimana, Nit?" Tanya seorang sahabat.
Bug! Rasanya kayak ditinju tepat di jantung! Ya, menyerahkan semua ke GUSTI, berarti semua, termasuk hidup dan mati orang-orang terkasih.
Terus dan terus, belajar, berusaha, untuk tenang, dengan cara berserah ke GUSTI. Berusaha melihat segala kejadian dari sisi bahagia. Berusaha mensyukuri yang terjadi, apa pun itu.
Namanya berusaha, belajar, pasti ada waktunya testing. Gue menahan semua gejolak hati dan pikiran. Menenangkan diri, kembali ke GUSTI.
Ternyata benar, semua indah dari GUSTI, ga ada yang buruk. Bahagia adalah takdir manusia.
Sekarang gue jauh lebih tenang dibanding dulu. Dan gue bahagia.
Gue ga berhasil menjadi sabar, tapi gue lumayan berhasil mengendalikan emosi marah, jengkel, kesal, sedih, kecewa. Sabar? Ga, gue memilih menjadi orang yang tenang aja. Dan sampai sekarang pun masih terus berusaha menjadi orang yang tenang. Intinya menyerahkan segala kejadian ke GUSTI.

Salam Senyum Manis,
Nitaninit Kasapink

Wednesday, 27 April 2016

Sarapan? Yuk!

Gue mewajibkan sarapan di rumah. Pukul 6.00 pagi, tiga kekasih sudah selesai sarapan. Masak cepat, jadi sarapan. Paling mudah ya masak nasi goreng.
Tapi pagi ini, ulala sekali! Bangun kesiangan, santai sejenak, lupalah ngintip magic com, masih ada nasi atau perlu masak nasi. Sewaktu mencuci piring, tolong, tolong, ternyata wadah nasi bertengger di bak cuci piring! Waduh, padahal Esa kan akan berangkat sekolah, dan membawa bekal makan dari rumah!
"Sa, makan mie goreng, mau? Bawa mie goreng, mau?" Tanya gje pada Esa yang sedang mandi.
"Mau, Ma"
Ngka masih tidur, Pink juga masih nyenyak.
Ok, deh, langsung ambil kunci motor, bergegas ke pasar! Untung masih sepi! Melangkah ke mbak Nur, penjual sayur langganan. Beli mie, sawi, baso, telur. Yes, selesai, yuk mari kita pulang! Tancap gas!
Sampai di rumah, merebus air untuk mie, mencuci sawi, baso, menyiapkan bumbu. Oh iya, mengocok telur juga.
Kecap, mana kecap? Huwaa, habis! Di botolnya hanya tersisa sedikit. Ya sudahlah, tambahkan air, cukuplah untuk memberi warna pada mie goreng.
Ga lama kemudian, mie goreng sawi, isi telur dan baso pun bisa gue hidangkan. Esa tersenyum, sarapan mie dengan lahapnya. Wadah bekalnya pun sudah diisi penuh mie goreng. Ngka, Pink, dibangunkan oleh Esa. Berempat sarapan bersama.
Ini sarapan asyik, karena harus terburu-buru belanja.
Bagaimana kabar belanjaan yang semalam gue beli? Itu nanti sebelum berangkat kerja, gue memasak lagi untuk makan tiga kekasih hari ini.
Catatan: ge ga membagikan resep mie goreng, karena yakin banyak yang lebih hebat masak-memasak.
Salam Senyum,
Nitaninit Kasapink

Si Penikmat Dongeng

Sewaktu gue masih kecil, setiap hari dipenuhi dongeng. Mama selalu  mendongeng. Menurut mama, aki (sebutan para cucu untuk kakek, notabene ayah dari mama) selalu mendongeng untuk mama saat kecil. Dongeng-dongeng membuat gue takjub!
Selain dari mama, gue juga didongengi oleh kaset sanggar cerita. Iya, dulu ada kaset yang khusus berisi cerita, dongeng. Setiap ada keluaran terbaru, bap membelikan untuk gue.
Dongeng-dongeng juga gue baca. Majalah, buku, menjadi amat menarik karena berisi banyak cerita, dongeng.
Waktu berjalan cepat. Gue yang menikmati dongeng mulai mendongeng. Keponakan-keponakan kecil, anak-anak tetangga, jadi korban mendengar dongeng yang gue ceritakan. Hingga akhirnya memiliki anak, dongeng ga hilang dari kehidupan gue.
Banyak nasehat, pesan moral, yang bisa dimasukkan dalam dongeng. Jadi gue ga perlu 'berbusa' menasehati, cukup dengan mendongeng. Dongeng tumbuh di dalam kehidupan gue, dan gue bertumbuh kembang bersama dongeng.
Gue ga tahu, apakah tiga anak tercinta akan meneruskan dongeng-dongeng pada anak-anak mereka kelak, atau dongeng-dongeng hanya akan jadi kenangan dalam hidup. Ga ada yang tahu. Waktu yang akan menjawab. Yang gue tahu, sejak dulu hingga saat ini, mereka juga penikmat dongeng seperti gue. Masa depan tentang mereka dan dongeng, biar saja jadi sebuah rahasia cantik.
Salam Senyum,
Nitaninit Kasapink

Monday, 25 April 2016

IKUTIN MOTOR YANG DI DEPAN!

Tadi siang, gue ga di kantor. Tapi pergi ke Kementrian Tenaga Kerja. Sepulang dari sana, gue ke kantor BPJS Ketenaga kerjaan. Sampai di kantor sudah sore, melipir makan baso. Hiyaah, gimana bisa langsing, tadi sebelum berangkat tuh gue sudah makan siang! Lupakan, ini oot.
Kembali ke ruangan kerja, adeeem! Ya iyalah, di luar panas banget, apalagi makan baso panas pula!
Jarum jam ga bergerak! Eh, bergerak, tapi lambat. Padahal udah ga sabar ingin pulang. Ada sebuah boneka besar untuk Pink, hadiah dari siswa PKL yang masa tugasnya selesai hari ini. Juga ada sejumlah oleh-oleh di dalam tas, untuk Ngka, Esa, dan Pink.
Yes, pukul 18.00! Waktunya gue pulang. Semoga ga macet, karena lumayan ribet membawa boneka besar, walau sudah dikemas dalam kantong plastik. Sedangkan back pack pun berat.
Laju motor bagai angin tanpa halangan. Cihui, asyik! Terbayang pulang nanti harus mampir sebentar membeli barang titipan Esa. Tapi okelah, jalanan ga macet, ga masalah. Tapi ulala lalalala! Sewaktu melewati rel kereta, ada beberapa pemuda menghalang jalan. Hedeh mengganggu aja, ya lewati saja! Eeeh, ga sampai 100 meter, jalanan sudah dihadang lagi oleh beberapa pemuda.
"Tawuran!"
"Hah? Apaan?"
"Tawuran. Di sana tawuran. Jangan lewat sini.'
"Eh, aku lewat mana, dong?"
"Ibu mau ke mana?"
"Pulang."
"Pulangnya ke mana, Bu?"
Gue nyengir. Hihi, emak polos ya gini, nih.
"Kemana, Bu?"
"Bekasi."
"Ikutin mikrolet nomor 31 aja, Bu."
"Ok, terimakasih."
Langsung putar arah. Lalu kebingungan. Nomor 31 mana ya? Hihi, entahlah, gue emak polos atau emak tolol. Polos dan tolol, bedanya amat tipis.
Di depan, banyak motor yang juga rasa-rasanya satu tujuan dengan gue, satu perasaan, satu jiwa. Abaikan kelebaian ini. Ikutan ah, ikut aja sama yang didepan. Jalanan menyempit. Sempit, macet, dan cape karena harus menjaga boneka tetap utuh, bersih. Belok kanan, kiri, kanan, kanan, kanan. Ini di mana? Ya ga tau, kan cuma ngikutin yang di depan aja. 
Ngomong-ngomong tentang ikutan dengan motor yang di depan, gue punya pengalaman yang hihihihi. Waktu itu gue ke rumah teman, dan seperti biasa ya nyasar. Sewaktu pulangnya seperti biasa, ya nyasar lagi. Gue ikutin motor yang di depan. Masuk sana, sini, belok sana, sini, eh di depan sebuah rumah, berhenti! Waduh, ternyata dia mau pulang ke rumahnya, bukan menuju ke luar! Yang ada ya gue nyengir sendiri. Dengan pertolongan Yang Maha Kuasa, bisa juga keluar dari keruwetan nyasar.
Kembali ke cerita yang tadi, ya? Gue ikut sana, sini, bosan. Gue belok kiri sewaktu yang lain ke kanan. Bertanya ke tukang sate,"Pak, ini keluarnya di mana?" Dan dijawab, belokan itu tuh masih daerah tawuran. Jadi gue kembali mengikuti iring-iringan motor.
Semakin lama semakin macet. Eh tiba-tiba, blep, motor gue mati. Alamak, mati! Starter ga bisa. Wuaa, wuaa, gimana nih, wuaaaa! Ga lama kemudian, motor bisa hidup lagi. Kasihan mungkin ke gue, emak-emak kudu dorong motor.
Lumayan lama stuck, akhirnya bisa melaju juga walau ga selaju angin. O ow, jalan raya! Tapi ini di mana? Ah sudahlah, ikutin motor yang di depan lagi aja. Terus, teruuus aja! Lah kok ada belok kiri, dan ada naik flyover? Di mana gue? Sudahlah ga usah berpikir, ikutin aja motor di depan, naik flyover.
Terus dan terus, masih tetap ga ngerti ada di mana. Yes, gue memang amat payah tentang arah jalan. Tetap terus, ikutin motor yang di depan. Ey ey, ini kan jalan menuju kantor gue sebelum pindah lokasi! Yuhuuu, gue ga nyasar! Okelah, belok kanan masuk kawasan industri.
Sudah sekitar 2 tahun gue ga lewat kawasan industri. Gelap, gelap. Ah, kok beda ya dengan dulu? Tapi tenang saja, ikutin motor di depan! Gue pikir, bakal muncul di PTC, lalu lewat Cakung. Loh tapi kok ga sampai-sampai di PTC, ya? Nah loh! Mau nanya siapa? Gelap dan sepi! Ah, ikutin aja motor di depan.
Lama ga sampai ujung juga. Hingga akhirnya, ealaaaah maaak, itu kan ujungnya rel kereta api, bukan PTC! Nah loh! Ah sudahlah, ikutin aja motor di depan.
Dubidubidamdam dubidubidam! Hihi, nyanyi syalalalalalala! Keluar rel kereta api, sudah ga macet, ga tawuran. Cihui marihui! Selaju angin kencang di atas motor! Berhenti membeli pesanan Esa, lalu melaju lagi sampai di rumah.
Mengikuti motor yang ada di depan, sebuah pengalaman lagi di hari ini. Jangan ada tawuran lagi, jangan ada pengalihan jalan lagi. Belum tentu ada motor di depan yang bisa gue ikutin di pengalaman berikut. Ya kan?
Salam Senyum Plus Kedip-Kedip,
Nitaninit Kasapink

Saturday, 23 April 2016

SUPER DIDI: MENDADAK JADI SUPER DADDY

Didi (panggilan untuk sang ayah diperankan oleh Vino G. Bastian) jadi punya kesibukan yang heboh karena Muti (panggilan ubtuk sang ibu siperankan oleh Karina Nadila) harus pergi ke Hongkong selama 2 minggu untuk membantu sahabat mereka yang sedang menghadapi krisis perkawinan. Selain harus bekerja sebagai arsitek yang sedang menangani proyek senilai 10 triliun, juga harus mengasuh 2 putri mereka, Anjani dan Velia, yang masih TK. Jadwal anak-anak mereka ditulis oleh muti di sebuah buku, dan selalu dipantau lewat video call.
Didi harus membujuk Anjani dan Velia makan, mengantar ke sekolah, mengepang rambut, mengantar les balet, menonton film frozen, hingga perawatan salon yang dipesan oleh muti menjelang pentas drama Timun Mas di sekolah anak mereka! Seru banget! Di sini juga ada Mayang (oma sayang, diperankan oleh Ira Maya Sopha), dan Opa (Mathias Muchus), yang menambah seru film ini.
Ada kalimat yang menyentuh banget, diucap oleh Didi saat anak bungsu mereka masuk rumah sakit karena jatuh dari tangga di tempat les,"Untuk apa gue dapat proyek bagus, kalau anak gue ga ada yang ngurus." Sang didi berniat mengundurkan diri dari proyek.
Film keren karya Hadrah Daeng Ratu dan Adis Kayl Yurahmah menampilkan cerita sederhana yang menarik.
Penasaran? Tonton deh, keren!