Saturday, 9 December 2017

Melegawa, Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian

Yang ada di postingan ini adalah copy paste dari status Facebook, tentang pengalaman mendapat kekerasan dalam perkawinan. Karena ada yang meminta untuk diposting kembali, karenanya diposting kembali, tapi bukan di medsos yang sama, melainkan di sini, di blog ini.

Semoga bermafaat.


1 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (1)

: oh, enak karena kematian Description: https://www.facebook.com/images/emoji.php/v9/f51/1/16/1f603.png

Ya, sering kali gue mendengar kalimat yang menyatakan bahwa perpisahan karena kematian dengan pasangan adalah hal indah, berbeda dengan perpisahan karena perceraian pengadilan.
Gue tersenyum, tertawa pelan, bahkan akhirnya terbahak-bahak.
Apakah kamu tahu yang dihadapi dan dijalani sebelumnya?
Apakah kamu tahu perkawinan yang dijalani seperti apa?
Bagaimana mungkin kamu bisa berpikir seperti itu?
Apakah perkawinan yang terhenti karena maut lebih indah dibanding yang berhenti karena perceraian pengadilan?
Jawaban gue adalah,"Jangan sotoy tentang hidup orang lain yang kamu tidak tahu secara pasti."
Cerai mati bukan berarti perkawinan yang ada tuh berjalan sempurna, harmonis, suka cita!
Apakah kamu tahu, saat perkawinan berlangsung, luka demi luka tumbuh dan makin menyiksa?
Apakah kamu tahu, senyum saat itu adalah senyum menahan perih?
Apakah kamu tahu, senyum yang sekarang adalah senyum kelegaan karena sudah terlepas dari segala hal yang menyakitkan?
Menjadi seorang single mom adalah sebuah kebahagiaan bagi gue dan tiga kekasih.
Kenapa?
Nanti akan gue ceritakan, setelah sarapan dengan tiga kekasih.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 01 Oktober 2017, rumah dua jendela: saya mengasihi tiga kekasih!


Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (2)

: kenali apa yang terjadi

Flash back bukan untuk mengungkit kisah lama, juga bukan untuk membangkitkan kisah buruk tentang siapa pun. Ini sebagai contoh kasus. Bercerita bukan untuk menjelekkan siapa pun, apalagi karena yang bersangkutan sudah meninggal. Tapi ini sejarah, sebagai pelajarandan pembelajaran. Jika sejarah yang indah saja yang diungkap, kapan kita bisa dewasa memandang kejadian hidup?
Gue seorang single mom karena kematian.
Apakah perkawinan gue berjalan dengan indah? Apakah berlangsung seperti dalam buku-buku yang berkisah tentang perkawinan sempurna, ideal, harmonis? Apakah sejak awal kisah hingga akhir napasnya ada detak kasih ditabur untuk keluarga? Apakah segala sesuatunya disikapi dengan tanggung jawab dan penuh kasih? Apakah ada kasih untuk keluarga, untuk tiga kekasih? Ga usah bicara tentang bagaima sikapnya ke gue, tapi apakah dia mengingat dengan baik bahwa tiga kekasih adalah anak-anaknya yang perlu kasih? Ga perlu ngomong kasih, tapi apa dia mau tahu bahwa tiga kekasihnya makan atau tidak setiap harinya?
Jawaban gue ada 1 juta kata, dan semuanya cuma berisi kata yang berulang sebanyak 1 juta kali.
T I D A K !
Jangan terkejut dengan pernyataan ini. Baru tahun lalu gue memberanikan diri untuk bicara tentang ini ke dunia luas. Sebelumnya hanya sahabat yang tahu apa yang gue alami. Itu pn setelah kepergiannya. Sebelumnya? Hanya gue dan tiga kekasih yang tahu apa yang kami hadapi dan jalani, dan ada seorang sahabat yang tahu betul perjalanan ini. Orang tua? Mereka ga tahu apa-apa. Saudara? Mereka ga pernah tahu kejadian ini.
Setelah 10 tahun, gue semakin berani bicara.
Mau tahu kenapa?
Karena otak gue STUCK sebelumnya!
Mau tahu kenapa?
KDRT yang terjadi membekukan otak gue, membekukan kisah yang yang terjadi.
Mau tahu kenapa?
KDRT itu membuat gue berusaha untuk melupa! Kejadian traumatis muncul satu per-satu, dan menyakitkan saat gue menyadari betapa itu amat hitam!
Single mom karena kematian adalah hal yang indah? Ya jelas indah, karena gue dan tiga kekasih ga merasakan KDRT lagi. Setelah belasan tahun!
Single mom karena kematian bukan indah karena penuh kasih. Tapi kasih itu muncul setelah kematian memberi jarak antara kami dan dia.
Nanti gue lanjutkan lagi. Tiga kekasih mengajak ngobrol di hari libur ini. Hal yang sulit dilakukan saat dia masih ada. Hal yang ga mungkin ada saat kami masih menjadi keluarga utuh, ayah, ibu, tiga anak.
Singlemom karena kematian bukan hal luar biasa indah, semua punya kisah sendiri.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 01 Oktober 2017, rumah dua jendela: saya mengasihi tiga kekasih, maka saya menulis ini.


Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (3)

: KDRT itu jahat sekali

Sekali lagi flash back ini sebagai pembelajaran, bukan untuk menjahati orang yang sudah tiada, bukan untuk menggosip tentang jahatnya sikap yang dulu diberikan oleh dia untuk kami. Gue bukan bicara sebagai korban KDRT, tapi gue bicara sebagai seorang single mom karena kematian, yang biasa dianggap indah berpisah karena kematian.
Perkawinan gue berlangsung selama 16 tahun. Ya, 16 tahun. Bukan waktu yang sebentar, juga bukan waktu yang lama kalau dibandingkan dengan mereka yang hingga puluhan tahun bersama.
Perkawinan selama 16 tahun ini penuh dengan segala cerita, yang banyak dipendam, dan amazing sekali gue baru tahu bahwa perkawinan ini memang 'sakit' setelah 16 tahun, dan baru menyadari bahwa itu menyakitkan, setelah bertahun dia tiada.
Banyak yang merasa aneh karena perkawinan yang luar biasa penuh kemarahan bisa memiliki tiga kekasih. Bukankah seharusnya ga memiliki anak, atau cuma 1 saja? Marah kok anaknya banyak, ini kata seorang sahabat.
Aneh? Ga aneh menurut gue. GUSTI memberi tiga kekasih untuk gue! Sebagai penguat gue! Kalau ga ada tiga kekasih, mungkin sudah sejak lama gue pergi atau malah meninggalkan seluruh cerita hidup,mendahului garis waktu GUSTI.
Mau tahu maksud kalimat mendahlui garis waktu GUSTI? Suicide. Bunuh diri. Karena itu gue bersyukur ada tiga kekasih. Mereka yang menguatkan gue hingga bisa seperti sekarang. Jangan bilang bahwa gue kuat saat menghadapi dan menjalani perkawinan saat itu. Gue hampir saja bunuh diri karena ga kuat menghadapi segala kekerasan yang terjadi dalam perkawinan selama belasan tahun.
KDRT tu jahat, jahat sekali. Lalu apakah gue harus diam saat ini? Membiarkan jahatnya KDRT, dan membiarkan KDRT itu ada dan dialai oleh sahabat-sahabat lain? Gue tahu akibatnya! Gue tahu bagaimana rasanya.
Gue bicara tentang ini semua karena gue mengasihi tiga kekasih. Mereka saksi KDRT, mereka juga merasakan KDRT yang dilakukan oleh orang yang kami kasihi. Catat ya, oleh orang yang kami kasihi. Ya, kami mengasihinya, walau dia ga mengasihi kami.
Rumah adalah tempat penuh kasih. Bukan tempat menumpahkan caci maki, umpatan, kemarahan. Rumah bukan sebagai tempat untuk sekadar 'nyodorin muka',"Nih gue pulang." Bukan. Tapi apakah kehadirannya tulus dan penuh kasih? Menyapa anak-anak dengan senyum, bicara dengan kelembutan dan perhatian, itu bagian bentuk kasih.
Rumah kami penuh amarah, caci maki, umpatan, semua keluar dari mulutnya. Seorang suami, ayah, yang berpendidikan bagus, dan seorang yang harusnya mengerti tentang kesehatan mental.
Apa yang kami lakukan saat ada amarah, umpatan,caci maki?
Gue berusaha tersenyum manis.
Apakah sejak awal gue bisa tersenyum manis? NOP! Awalnya gue menangis saat malam, dan dia ga pernah tahu itu. Gue ga pernah ingin memperlihatkan air mata pada orang yang menyakiti. Air mata itu mengalir berapa lama? Bertahun-tahun tanpa ada yang tahu.
Nanti dilanjutkan lagi, ya. Gue harus menenangkan diri karena segala kisah melompat keluar satu persatu. Ternyata ada banyak kisah yang baru saja gue bisa mengingatnya setelah 10 tahun kepergiannya.
Nanti gue akan bicara tentang KDRT dan setelah KDRT.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink,01 Oktober 2017, rumah dua jendela: saya mengasihi tiga kekasih, tiga anak-anak saya, dan saya ga akan membiarkan cerita buruk hadir lagi dalam hidup mereka!


Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (4)

: cinta itu ada di mana?

Menikah dengan seseorang yang dicintai adalah luar biasa membahagiakan. Gue pun bahagia bisa menikah dengan orang yang gue cintai. Gue pikir dia pun bahagia menikah dengan gue.
Hari pertama menikah, saat pesta usai, dia mengatakan ke gue,"Jangan tidur sebelum aku tidur." Rasanya ga ada hal yang aneh dengan kalimat itu. Tapi ternyata itu untuk selamanya. Gue ga boleh tidur sebelum dia tidur. Dia akan marah sekali kalau gue tertidur.
Gue bukan perempuan cantik, juga bukan perempuan feminin, plus bukan perempuan handal di dapur. Tapi gue berusaha untuk bisa menjadi cantik, feminin, juga bisa memasak.
Menjadi cantik dan feminin, ditunjang oleh mama dan bap, yang selalu mengirim paket baju, celana, bedak, juga uang. Bukan hanya untuk gue, tapi juga baju untuk dia, dan tiga kekasih. Ini berlangsung sejak awal perkawinan, sejak belum memiliki anak. Gue ga pernah meminta apa pun ke dia, karena takut kemarahannya muncul. Tapi reaksinya kalau paket dari mama dan bap datang, cuma lecehan dan umpatan, juga ejekan.
"Murahan!"
Selama 16 tahun perkawinan, dia 2 kali membelikan baju untuk gue.
1. Waktu dia dinas ke Jakarta. Dibelikannya gue sehelai kaos berwarna broken white, dengan hiasan batu-batuan di sekeliling lehernya.
Saat gue mengucap,"Makasih ya Pa. Papa tahu ya aku suka kaos ini."
Jawabannya,"Pertama kali lihat kaos ini, aku benci banget. Jadi aku tahu kamu suka. Aku benci lihat kaos ini."
Gue menyesal sekali mengucap itu kepadanya.
2. Saat dia berlibur ke Bali bersama teman-temannya.
Sehelai kaos kerah berwarna putih, dan celana batik Bali selutut berwarna orange.
"Makasih ya, Pa. Kamu tahu ukuranku. Pas, loh."
Jawabannya,"Temen-temenku pada beli untuk oleh-oleh. Aku malu kalau ga beli. Ukurannya cuma ada itu."
Gue menyesal sekali mengucap itu.
Dan memang 2 kali itu saja dia membelikan untuk gue. Untuk anak-anak? Sama aja. Kan sudah dipenuhi oleh kiriman paket dari mama dan bap.
Dalam perjalanan perkawinan, apa pun yang gue lakukan, semuanya salah. Begitu juga dengan apa pun yang dikerjakan oleh tiga kekasih. Semuanya ga ada yang baik, ga ada yang bagus, ga ada yang bener. Padahal gue melakukan sesuai dengan perintahnya. Perintah? Ya,perintah. Karena memang perintah yang selalu diucap olehnya. Sesuai dengan perintah, dimaki. Ga sesuai, ya lebih lagi makiannya. Berapa lama umpatan dan makian juga kemarahannya? Selama dia ada di rumah. Kalau Sabtu-Minggu di rumah, ya dua hari penuh makian dan umpatannya ada. Hanya saat sedang tidur, ga ada itu. Tapi jangan dikira saat dia tidur kami bisa tenang. Takut. Kami ketakutan. Gue dan tiga kekasih ketakutan saat dia di rumah. Setiap dia ada di rumah, ga ada suara tiga kekasih dan gue. Kami takut bersuara keras. Kami takut bersuara. Kami lebih berbisik-bisik. Karena kalau dia mendengar suara kami, kemarahannya bisa memuncak. Kami ketakutan. Sosoknya jadi teror untuk kami berempat.
Dia berangkat pagi hari, dan pulang amat larut, saat tiga kekasih sudah tidur. Pukul 00.00 itu termasuk cepat.
Beberapa tahun terakhir, dia ga pulang setiap hari. Dan percakapan ini yang biasa terjadi di rumah setiap hari antara gue dan tiga kekasih.
"Mama, Papa pulang ga hari ini?"
Kalau gue menjawab,"Papa ga pulang."
Mau tahu bagaimana reaksi tiga kekasih?
"Horreee! Horrree, papa ga pulang!"
"Mama, papa pulang ga hari ini?"
Kalau jawaban gue seperti ini,"Papa pulang, sayang."
Reaksi mereka seperti ini.
"Yaaaa!" Dengan wajah kecewa, dan takut.
Miris sekali anak-anak bisa berteriak gembira karena papanya ga pulang.
Di rumah ga ada komunikasi antara kami dan dia. Kami takut mengajaknya berbincang.
Di rumah hanya tidur, karaoke, atau bermain games, juga sibuk dengan hp-nya.
Nanti aku lanjutkan lagi. Lumayan menguras energi sewaktu menulis ini. Masih ada sedikit rasa takut yang ga jelas di dalam pikiran, walau orangnya sudah tiada sejak 10 tahun yang lalu.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 01 Oktober 2017, rumah dua jendela: saya singlemom dan kami bahagia tanpa dia.


1 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (5)

: siapa kami

Gue menulis ini setelah mengumpulkan kekuatan dan keberanian. Setelah 10 tahun kepergiannya, ternyata masih saja ada ketakutan yang tersembunyi. Takut, malu, semuanya akibat kejadian yang ternyata menyebabkan sebagian kenangan itu hilang dari ingatan. Setelah 10 tahun, ada kepingan kenangan yang baru bisa teringat, dan mengejutkan gue. Menulis ini untuk mengosongkan cerita yang dipendam selama bertahun-tahun. Agar lega hingga bisa melangkah ke depan dengan tenang bersama tiga kekasih.
Gue bukan perempuan yang hebat dalam hal masak memasak. Masuk dapur hanya untuk masak mie instan dan goreng telur. Tapi setelah menikah, gue berusaha memasak, belajar memasak. Siapa guru masak gue? Seorang penjual sayur, Yu Tentrem. Setiap pagi gue berbelanja dan bertanya tentang cara memasaknya langkah demi langkah. Not bad, dia makan walau terucap celaan. Tapi nyatanya setiap lauk pasti habis dimakan, sedangkan gue ga kebagian. *mungkin dia lapar amat sangat setiap kali* Bap selalu transfer untuk kebutuhan kami. Dan dia yang pegang semua uang itu.
Setelah ada anak-anak, makanan disediakan untuk mereka. Tapi beberapa tahun kemudian, ga ada lagi makanan untuk anak-anak. Dia ga lagi memberi uang untuk masak. Bahkan untuk membeli gas pun dia menolak.
Semakin ga ada kepedulian untuk kami. Khusunya untuk tiga kekasih setelah kami pindah jauh dari mama dan bap. Makanan hanya ada untuk dia.
Kejadian yang ga pernah dilupakan oleh anak-anak adalah setiap pulang ke rumah, dia menyuruh gue beli sepotong ayam goreng. Sepotong, hanya untuk doa. Tiga kekasih hanya menatap papanya makan. tapi lama kelamaan mereka terbiasa dan ga lagi menatap papa makan.
Anak-anak makan apa?
Ga bisa terlupakan dan rasanya seperti mustahil, karena makanan tersedia karena diberi oleh orang. Gue ga pernah bercerita kami ga punya uang, ga bercerita ga ada makanan. Tapi selalu saja ada yang memberi makanan. GUSTI meringankan, mukjizatNYA ada untuk kami.
Setiap akan pergi, dia ejek baju yang aku kenakan. Jelek, norak, murahan. Padahal dia ga membelikan, ga mau membuang-buang uang untuk gue. Juga untuk anak-anak. Dia hanya mencela.
Dia bekerja dan punya jabatan yang bagus. Penghasilan bagus. Berpendidikan S2. Bukan orang yang bodoh.
Udah dulu, ya. Nanti dilanjutkan lagi. Masih harus menguatkan diri untuk berkisah.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 01 Oktober 2017, sebuah tempat yang menyejukkan berdua Esa.


2 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (6)

: kelahiran tiga kekasih

Bukan hendak menjelekkan seseorang. Bukan hendak membuka aib. Ini sebagai sejarah hidup yang ga bisa dihapus, tapi gue sedang berusaha mengubahnya dalam penerimaan, berdamai dengan kejadian hidup. Ini langkah menyembuhkan diri, dan untuk menyerukan NO KDRT dalam bentuk apa pun. Efeknya amat melukai.
Memiliki anak pastilah membahagiakan. Gue bahagia banget. Dengan kondisi hamil yang berbeda, melahirkan adalah hal luar biasa membahagiakan! Leher rahim gue pendek. Jadi usia janin masuk 10 minggu, sudah mulai buka 1. Jadi harus di'ikat'. Tapi tetap harus berhati-hati karena menurut dokter, bisa melahirkan setiap saat. Kontraksi adalah hal biasa selama kehamilan. Dan luar biasa sakit. Harus bed rest.
Bed rest bukan hal yang mudah. Dengan segala perintah yang harus dikerjakan, gue menahan sakit dan khawatir melahirkan di rumah. Karena bisa mengakibatkan kematian untuk bayi dan gue.
Sebagai catatan untuk yang membaca,, dia berkulit hitam dan rambut berombak. Tapi selalu meyakinkan gue bahwa kulitnya putih.
Saat hamil, apakah berhenti caci maki dan umpatan? Nop.
Saat melahirkan apakah ada kata penghibur? Nop.
Saat Ngka lahir, kulitnya putih sekali dan rambutnya cokelat. Dia begitu bahagia dan selalu berkata bahwa Ngka mirip dia. Ga ada sama sekali wajah gue di sana. Gue cuek. Yang penting sudah lahir.
Saat Esa lahir, dia berujar," Dagunya mirip X (menyebut nama saudaranya sendiri). Memangnya dia 'nyumbang'? Kok anak ini hitam seperti X (disebutlah satu suku)"
Saat hamil kekasih bungsu, malah ada ucapan,"Kalau lahir anak laki-laki lagi, nanti pas besar, aku hajar semua!" Tapi dalam bahasa Jawa.
Hati siapa yang menangis mendengar perkataan bernada ancaman untuk anak-anak? Sedangkan hal tersebut di luar kuasa manusia. Gue berdoa setiap kali agar janin yang gue kandung bukanlah anak laki-laki. Jadikan dia seorang anak perempuan, ya GUSTI. Gue ga rela anak-anak gue dihajar papa kandung mereka. Gue ga akan pernah rela anak-anak disakiti oleh siapa pun.
GUSTI amat baik, lahirlah seorang bayi perempuan cantik! Tapi apa yang diucapnya setelah melihat bayi kami yang akhirnya dipanggil, Pink.
"Kamu 'main' sama orang X (disebutlah satu suku), ya? Anak ini hitam keriting!"
Diucap saat masih di ruang bersalin.
Dilanjut nanti lagi. Lelah saat menulis ini.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 01 Oktober 2017, rumah dua jendela: saya menulis ini karena saya mencintai tiga kekasih. Jangan lagi ada kdrt dalam bentuk apa pun.


2 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (7)

: perkosaan itu menyakitkan sekali

Gue menulis ini bukan untuk minta perhatian atau lebay atau untuk menjelekkan siapa pun. Kejadian ini berlangsung lama sekali dan berhenti saat pelaku meninggal. Dulu gue ga berpikir ini KDRT seksual. Ga berpikir ini kejahatan yang bisa gue angkat ke ranah hukum. Otak gue cuma tahu bahwa kami suami-istri. Dan kami punya anak-anak yang harus gue jaga selalu bahagia.
Sejak awal pernikahan, dia berkata bahwa ga tertarik pada gue. Entah maksudnya apa, gue ga bertanya. Karena gue tipe orang yang lebih baik diam daripada menambah perkara keributan.
Seorang sahabat sesama perempuan pernah bertanya ke gue tentang bagaimana hubungan antara gue dan suami, dulu. Gue cuma tertawa. Bingung mau menjawab seperti apa.
Sampai akhirnya dengan terbuka ngobrol ambil bercanda, nyerempetlah ke masalah seksual. Baru gue sadar, ada yang aneh di gue! Mual, rasanya mau muntah! Oemji, ada yang 'salah' dengan gue! Malu untuk bicara terus terang bahwa gue 'berbeda'.
Bertahun-tahun gue ga bercerita pada siapa pun, bahwa gue punya pengalaman traumatis tentang seksual.
Perlahan berusaha mengingat ada apa sebenarnya di masa lalu.
Cuma kesakitan yang ada saat dia tarik gue untuk intercourse. Ga dihiraukannya kondisi gue saat itu. Butuh, tarik! Selesai, buang!
"Udah, sana, sempit!"
Maksudnya, tempat tidur jadi sempit kalau ada gue.
Jadi setiap selesai, gue diusirnya.
Lama kelamaan gue terbiasa dengan kebiasaannya. Sewaktu awal sih nangis. Tapi akhirnya ya inisiatif begini ini, selesai, langsung pakai celana, keluar kamar.
Ngapain?
Ya ngapain aja. Ngapa-ngapain, yang penting lepas dari sana. Cuci piring, nyapu, ngepel. Menyibukkan diri.
Ternyata semua itu masuk kategori perkosaan. Tapi gue ga menyadari itu.
Gue tahu apa yang terjadi adalah hal yang ga wajar. Ini pun pernah gue sampaikan pada dosen konseling perkawinan tempat gue kuliah. Beliau kaget. Tapi konseling berhenti karena di rumah habis-habisan gue dimaki setelah dia tahu itu.
Sudah dulu, ya. Gue sudah sampai di IPB, mau kunjungan. Nanti dilanjut lagi.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 02 Oktober 2017, IPB: tugas kunjungan.


3 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (8)

: cincin, kalung, gelang

Hanya ingin mengungkap tentang cerai mati yang sering dianggap sebuah perpisahan yang indah sekali. Perpisahaan karena kematian yang dipandang sebagai perkawinan harmonis hingga berhemti karena maut. Bukan untuk membuka aib. Aib siapa? Gue ga merasa ini sebuah aib. Ini cerita hidup yang sebisa mungkin gue share.
Mama paling suka perhiasan. Dan sering menghadiahkan perhiasannya pada gue. Cincin, kalung, gelang. Emas dan berlian. Ya, dulu orang tua gue berkecukupan.
Sewaktu awal menikah pun gue masih mengenakan perhiasan dari mama yang kemudian bertambah dengan selingkar cincin kawin.
Berjalannya waktu, berjalan pula semua perhiasan gue. Perhiasan berjalan? Ya, perhiasan berjalan entah kemana, setelah diambil oleh dia. Semua perhiasan. Entah untuk apa. Gue enggan bersuara. Malas mendengar keributan. Cuma perhiasan, itu ga ada apa-apanya dibanding damai tenang yang gue suka.
Cincin kawin pun dimintanya untuk melepas, lalu lenyap. Mungkin dia pesulap (?).
Sewaktu pergi ke rumah mama, mungkin mama melihat gue ga memakai perhiasan lagi, lalu diberinya lagi kalung, cincin, gelang. Sebenarnya gue sedih saat diberi oleh mama. Karena gue tahu, ini cuma sementara, dan pasti diambil lagi oleh suami. Dan memang begitu kejadiannya. Setiap kali dan selalu.
Kenapa gue diam? Enggan mendengar kemarahan.
Hingga akhirnya saat bertahun setelah dia meninggal, mama gue beritahu bahwa semua perhiasan diambil oleh suami.
Selama pernikahan 16 tahun entah berapa banyak cincin, kalung, gelang, lenyap. Sedangkan dia memang ga pernah membelikan apa pun. Gue bukan tipe istri yang meminta ini dan itu. Dan memang ga pernah meminta apa pun selama perkawinan.
Sudah dulu, ya. Mau bersiap berangkat kerja.
Nanti dilanjut lagi.
Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 03 Oktober 2017, rumah dua jendela: saya single mom yang bahagia dengan tiga anak yatim yang juga berbahagia.


3 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (9)

: gue seorang ibu yang bahagia dengan tiga nyawa kecil yang berbahagia juga

Gue bercerita bukan untuk menyudutkan dia atau siapa pun. Tapi sebagai proses akhir untuk melegakan diri dari segala hal yang pernah terjadi dalam hidup. Sebagai pengingat untuk jangan pernah melakukan hal yang bisa menyakiti hati siapa pun, jangan melukai hidup siapa pun.
Gue mau cerita tentang gue dan tiga kekasih, yang dulu gue panggil sebagai tiga nyawa kecil.
Ngka, Esa, Pink, dulu memang gue sebut sebagai tiga nyawa kecil gue. Karena merekalah motivator hidup terdahsyat hingga gue masih tetap hidup saat saat ini. Tanpa mereka, hidup ga akan menghidupkan jiwa ini. Dalam rumah yang penuh dengan kemarahan saat dia ada, tentunya akan menyakitkan sekali jika tanpa kehadiran tiga nyawa kecil ini, Ngka, Esa, Pink.
Seorang sahabat dengan geregetan berkata,"Kalau gue nikah sama dia, pas barusan aja diomong syah, langsung gue cerai dia." Gue cuma tertawa waktu mendengar itu.
Itu diucap saat perkawinan kami memasuki tahun ke-13. Hingga saat itu tetap tidak terpikir meninggalkan perkawinan.
Cinta menurut gue adalah anugerah. Saat bisa mencintai, itu adalah sebuah anugerah. Dan ketika dicintai oleh orang yang gue cintai, itu adalah anugerah ke-2. Jadi gue bersyukur atas anugerah bisa mencintai.
Mendengar bentakannya, gue tersenyum sambil mengucap syukur karena bisa mendengar suara orang yang gue cintai. Saat ada barang dibanting, bersyukur bahwa dia kuat sekali dan punya energi hingga bisa membanting barang. Hari-hari diisi dengan syukur, dan tersenyum. Mau tahu kenapa? Gue ingin tiga nyawa kecil ini bahagia dalam setiap kejadian hidup. Yang bisa menciptakan anak bahagia adalah seorang ibu, gue.
Apakah gue tertekan? Ya. Tapi apakah gue bahagia? Sangat! Mungkin gila ya, mana bisa bahagia dalam kondisi tertekan? Bisa.
Gue memisahkan antara kondisi bersama dia dan kondisi ga bersama dia. Kondisi kehadirannya dan kondisi kehadiran Ngka, Esa, Pink. Bagaimana kalau dia da, Kasapink pun ada? Aapakah gue tertekan? Nop. Bahagia yang gue miliki jauh lebih besar dibanding kesakitan. Tiga nyawa kecil amat sangat membahagiakan. Kesakitan yang rasanya seperti dibunuh setiap kali oleh dia, ga ada apa-apanya dibanding kebahagiaan bersama Ngka, Esa, Pink.
Dibentak? Gue tersenyum. Kenapa? Gue sedang mendidik tiga nyawa kecil untuk menjadi manusia yang tangguh dalam hadapi dan jalani hidup. Dan juga mengasuh agar jangan membentak siapa pun. Tersenyum saja pada setiap orang, walau dia berusaha menyakiti.
See? Apakah gue tertekan atau bahagia? Bahagia. Karena ada Ngka, Esa, Pink, yang saat itu masih kecil, dan amat menyejukkan hidup.
Saat dia sedang ga ada di rumah, gue mengajak mereka berkeliling naik motor, sambil bernyanyi-nyanyi.
"If you're happy and you know it, claps your hands!"
Berulang-ulang kami menyanyikan lagu itu. Tawa ga pernah henti.
Ngka, Esa, Pink, anak-anak yang ceria. Mereka tahu apa yang terjajdi di dalam rumah jika ada dia. Dan mereka tahu bagaimana harus menyikapinya. Gue amat bersyukur memiliki tiga nyawa kecil yang mengerti tentang situasi dan kondisi tanpa membuat mereka kehilangan keceriaan anak-anak.
Kami selalu sharing cerita tentang apa pun. Ga terkecuali sharing tentang sikap papa mereka. Gue ga pernah menjelekkan dia, tapi juga ga membenarkan sikapnya. Gue memberitahu bahwa ada orang yang seperti papa, tapi jangan sekali-sekali meniru. Papa adalah contoh baik untuk ga ditiru. Biar aja papa dengan sikapnya, yang penting kita tahu bagaimana kita harus bersikap. Bahagia. Sikapi semua yang ada dengan bahagia aja. Senyum aja kalau papa marah-marah. bersyukur kita ga seperti papa yang suka marah-marah.
Gue, Ngka, Esa, Pink, adalah satu team. Itu juga yang selalu gue tekankan pada mereka. Kita satu team. Kita satu tubuh. Kalau tangan terluka, mulut mengaduh, mata melihat tangan yang sakit, kaki berhenti melangkah. Kita saling mendukung dan mendoakan.
Ngka, Esa, Pink, terbiasa dengan berbagi. Dulu kalau gue membeli sebungkus snack anak-anak, ga pernah gue biarkan satu anak memakan lebih dari yang lainnya. Ambil sebuah piring, lalu gue membagi satu-satu, hingga snack dalam bungkus itu habis. Dan membahagiakan sekali karena mereka membagi bagian mereka untuk gue. Sampai saat ini pun mereka terbiasa berbagi. Sepotong kue yang kecil, bisa mereka bagi bertiga, dan gue juga bisa ikut merasakan.
Saat dia di rumah, suasana sunyi senyap. Ngka, Esa, Pink, tahu bahwa kami memang harus diam tanpa suara. Lebih baik jangan membangkitkan kemarahannya. Toh kami tetap bisa tertawa walau berbisik. Malah keadaan sunyi itu membuat kami sering tertawa. Sebenarnya kasihan dia, karena dia ga pernah tertawa.
See? Bukankah kami berbahagia, sedangkan dia ga?
Tiga nyawa kecil selalu membantu gue. Dia seorang yang hebat. Percaya sekali bahwa istrinya adalah perempuan yang kuat dan perkasa. Hingga dia ga mau membelikan kami sebuah pompa air. Jadi gue harus mengambil air di tandon yang ada di bawah tanah dengan menggunakan ember, lalu mengisi kamar mandi, sendirian. Bukankah dia hebat? Dia sedang membentuk gue menjadi perkasa. Dan hebatnya lagi, tiga nyawa kecil membantu gue. Saat gue tertidur, mereka bertiga bergotong royong bersusah payah mengisi bak mandi! Tanpa mengeluh, tapi dengan ceria bernyanyi,"If you're happy and you know it, claps your hands!"
See? Betapa bahagianya gue.
Gue ibu yang berbahagia, dan memiliki tiga nyawa kecil yang juga berbahagia.
Nanti gue lanjut lagi. Mau ngopi dan ngeteh.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 03 Oktober 2017, Petro: kopi ini mendingin, juga tehnya.


Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (10)
: komunikasi

Gue menyadari ada yang seharusnya dikomunikasikan secara serius antara dia dan gue. Kami harus bicarakan semua tentang kami. Tentang perkawinan, juga tentang tiga anak kami. Karena belum pernah kami berkomunikasi tentang keluarga kecil ini.
Reaksinya sungguh di luar dugaan. Dia berkata ga perlu komunikasi. Ga ada masalah. Menurutnya, gue saja yang bodoh, dan ga mengerti apa makna komunikasi, dan ga mengerti apa pun tentang komunikasi. Lumayan shock mendengar jawaban yang seperti itu bisa diucapnya. Tapi gue terus menerus berusaha mengajaknya berkomunikasi, walau terus menerus mendapat perlakuan yang kurang lebih sama.
Kami tinggal satu atap, dan dalam perkawinan yang syah. Tapi rasanya seperti tinggal dengan teman yang ga dikenal di rumah kost. Ngka, Esa, Pink, pun ga berkomunikasi dengannya. Jadi antara dia dan kami, ada jarak yang memang amat jauh membentang, plus diberi tembok penghalang kokoh yang amat tinggi dan panjang.
Terkadang dulu gue merasa iri saat melihat sepasang suami-istri sedang bercakap-cakap. Tapi lebih sering iri pada tukang cabe di pasar. Mereka sepasang suami-istri, dan gue melihat saling menyayangi. Bercanda, tertawa. I love that! Itu ga gue dapatkan di perkawinan selama 16 tahun. Semakin lama dia semakin menjauh. Kalau ada saudara, barulah dia mengajak gue bicara, tapi itu pun sebatas memberi perintah mengambilkan minum. Lumayanlah, daripada bisu seumur hidup.
Saat akan berangkat kerja, gue berusaha memeluknya. Yup, berusaha. Karena dia menolak. Dan gue merasa happy aja kalau akhirnya bisa memeluk, walau menerima kemarahan setelah itu. Untuk gue, itu sebuah hiburan yang luar biasa. membuatnya jengkel seorang suami karena dipeluk seorang istri yang mengasihi, adalah hiburan terlucu untuk gue. Semakin gue tersenyum, semakin amarahnya meluap. Trus apa gue harus kehilangan senyum? Nop. Dia boleh saja memutuskan untuk marah, tapi ga bisa memutuskan senyum yang gue miliki.
Saat berjalan bersama, gue berusaha menggandeng tangannya. Ya, berusaha. Karena selalu ditepis. Tapi jangan salah, tenaga gue jauh lebih besar dibanding dia. Kan dia yang membentuk gue jadi Hercules perempuan. Jadi kalau cuma berusaha menggandengnya, itu masalah sepele untuk gue. Walau kemudian tangannya berubah menjadi kaku seperti batang kayu. Biasanya gue tertawa, dan dia amat marah. Tapi lagi-lagi dia ga bisa menghentikan tawa gue. Dia boleh marah, gue pun boleh tertawa. Toh gue ga berbuat menyakiti.
Komunikasi lewat hp, pun berhenti. Gue ga boleh sms dia. Dulu belum ada Whatsapp atau aplikasi lain. Menurutnya, sms itu seharga 700k. Gue protes, karena sms cuma 350k. Tapi jawabannya, memang 350k, tapi sms yang gue kirim pun dia yang bayar. Ealah, ternyata pulsa gue dihitung pula olehnya.
Komunikasi lewat hp cuma 1 arah. Dia sms, dan ga perlu dijawab. Kenapa? Karena itu hanya berisi perintah. Dan gue ga memang ga pernah menjawabnya, ga pernah mengiriminya sms, karena ga mau membebani dia dengan pulsa-pulsa yang luar biasa.
Eh tapi ada hal yang luar biasa tentang komunikasi. Setelah dia meninggal, seminggu kemudian gue berulang tahun ke-36. Sim card hp nya ada di dompet gue, tapi gue menerima sebuah sms yang dikirim dari nomor hp-nya, berisi ucapan selamat ulang tahun. GUSTI! Selama 16 tahun, baru itu dia mengucap selamat ulang tahun untuk gue!
"Papa ngirim sms dari surga, Ma."
Itu kata Ngka, Esa, Pink.
Gue tertawa.
Sudah dulu, ya. Nanti dilanjut lagi.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit kasapink, 03 Oktober 2017, Petro: istirahat sudah usai, tapi mengantuk mulai muncul Description: https://www.facebook.com/images/emoji.php/v9/f51/1/16/1f603.png


Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (11)

: perlawanan (?)

Gue menyeritakan tentang cerita hidup yang dulu dijalani dalam perkawinan, bukan untuk menjelekkan seseorang, bukan untuk mempermalukan siapa pun, juga bukan karena minta perhatian dari siapa pun. Ini sejarah hidup yang kami miliki. Sejarah berisi banyak cerita, dan ga akan pernah bisa dihapus atau diubah. Gue menyeritakan semua ini karena merasa harus mengosongkan cerita yang disimpan 26 tahun ini agar langkah bisa meringan, walau sudah mengampuni, memaafkannya, juga mengampuni dan mengampuni diri sendiri. Ya, bersyukur sekali, gue sudah berdamai dengan hati dan kejadian hidup.
Ga bermaksud sama sekali bercerita untuk menyudutkan dia. Ga bermaksud menjahati dengan mengungkap kenyataan KDRT yang dilakukannya.
Dia memang sudah ga ada, tapi sejarah ini ada.
Kalau gue dianggap menjahati, bagaimana dengan apa yang sudah dilakukannya terhadap kami?
Gue ga menganggapnya jahat, dia orang baik, hanya saja tidak mengasihi kami atas nama kasih yang sebenarnya.
Ini bukan fiksi. Ini proses gue untuk menjadi lebih legawa.
Dulu setiap kali dibentak, dicaci, dimaki, diumpat, gue lebih banyak tersenyum saja. Mengabaikan suara kerasnya, memilih masuk dalam kasih yang gue miliki.
Apakah gue selalu hanya diam saja? Nop. Tapi bukan membalas membentak, hanya menjawab apa yang dia lontarkan ke gue.
"Kamu boros!"
Gue: Papa, kamu S2, pasti bisa membedakan antara boros dan tidak punya uang. Boros adalah menghamburkan uang untuk hal yang bukan kebutuhan, tapi untuk shopping. Tidak punya uang adalah memang uangnya tidak ada.
Dia diam ga menjawab, berbalik meninggalkan gue.
Ngka ditendang di depan mata gue.
Gue: Kamu boleh bunuh aku. Tapi tidak pada anakku. Kamu menyakiti anak-anakku, berhadapan dengan aku. Aku tidak takut.
Dia diam ga menjawab, berbalik meninggalkan gue.
Kami memiliki anjing bernama Jingan. Dia membenci Jingan, sedangkan Jingan adalah sahabat terbaik untuk gue. Jingan menemani gue setiap saat.
Dia: Buang Jingan! Atau aku yang buang Jingan!
Gue: Kalau Jingan dibuang, aku ikut Jingan.
Dia diam ga menjawab, terlihat amat terkejut. Mungkin karena ternyata istrinya, gue, lebih memilih Jingan dibanding memilih dia.
Dia ga mau membayar uang SPP, kemudian marah-marah dan bertahan ga mau membayar.
Gue: Ga membayar ga apa-apa, Pa. Aku juga ga malu. Kan orang lain tahunya aku punya suami, paling yang malu kamu.
Lalu dia membayar. Kalau untuk yang satu ini, setiap bulan gue mengatakan hal yang sama. Entahlah, mungkin memang harus diingatkan terus menerus tentang kewajiban membayar iuran.
Sedangkan untuk bentakan, cacian, umpatan mengenai hal yang lain, gue ga peduli, dan ga berminat menjawabnya. Gue lebih konsentrasi pada tiga nyawa kecil saja.
Gue bukan bertahan dalam perkawinan. Tapi gue menikmati kebahagiaan yang ada, kebahagiaan bersama Ngka, Esa, Pink. Mungkin terlihat aneh di mata orang lain. Tapi sungguh, gue ga berpikir meninggalkannya sama sekali, juga ga berpikir untuk melawan. Lebih memilih damai berempat dengan anak-anak.
Gue bukan orang yang mudah stress, juga bukan orang dengan tipe ngambek. Tertawa saja, tersenyum saja, setelah menyadari bahwa ini perkawinan yang gue miliki, dan inilah anak-anak gue. Ga berpikir untuk tetap berada dalam perkawinan karena ingin tetap utuh, bukan. Bukan berpikir bertahan karena untuk anak-anak, bukan. Tapi gue berpikir, kami bahagia dalam tangan GUSTI. Dia? Abaikan saja. Kami punya hidup yang berbeda. Biarkan saja dia dengan dunianya, kami dengan dunia kami. Kami dalam dunia bahagia, dia dalam ketegangan yang dia pilih.
Gue ga hendak melawan, karena memang ga berpikir untuk bertarung. Percaya GUSTI ada bersama tiga nyawa kecil, Ngka, Esa, Pink.
Nanti gue akan cerita ada saat psikis gue teramat lemah dan berniat bunuh diri.
Ok, sudah dulu, ya. Nanti dilanjut lagi.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 04 Oktober 2017, Petro: Happy bday to my boss, happy always, ya Mbak.

4 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (12)
: saya seorang istri, dan seorang ibu

Bercerita tentang hal yang terjadi di masa lalu tentang dia dan gue, rasanya lelah sekali. Karena ada kepingan-kepingan cerita yang hilang, dan baru muncul setelah tahun ke-10 menjadi single mom. Menjadi single mom karena kematian dianggap sebagai perpisahan penuh kebahagiaan, karena bukan dipisah oleh perceraian pengadilan. Apa iya begitu? Sering kali gue ditanya tentang perasaan gue yang pastinya bersedih karena dia meninggal. Gue mesti menjawab apa? Haruskah gue menjawab bahwa gue amat bahagia! Oh no, akan banyak menuai caci lagi kalau gue berkata jujur. Pernah sih gue jujur menjawab. Mau tahu reaksi orang itu? Matanya penuh amarah. Apa gue salah? Dia bertanya, gue menjawab. Trus, kalau gue jawab jujur, yang ada reaksinya adalah menghujat,"Istri kurang ajar!"
Plis, jangan suka menghakimi siapa pun, apalagi kalau ga tahu seperti apa sebenarnya yang dihadapi oleh orang tersebut. Kalau pun tahu, bukan bagian kita untuk menghakimi, kan?
Gue single mom karena kematian, dan gue berbahagia setelah dia meninggal. Apa gue salah?
Gue single mom setelah menghadapi dan menjalani perkawinan selama 16 tahun penuh dengan KDRT, dan berhenti dari perkawinan karena kematian. Lalu dipertanyakan, kenapa gue ga bercerai saja saat masih di-KDRT.
Hey, single mom bukan pilihan manis. Tapi menjadi termanis di saat yang tepat!
Jadi, harus bagaimana?
Gue menceritakan ini semua karena memenuhi jalan hidup masa lalu, dan gue ga mau masa lalu membayangi lalu jajdi kepahitan tanpa disadari. hey, gue single mom. Seorang single sekaligus juga seorang mom.
Dua puluh enam tahun gue menyimpan ini. Ngka, Esa, Pink, menyimpannya juga. Dan kami sepakat menyeritakan pada dunia, KDRT adalah hal jahat yang mungkin saja terjajdi pada orang terdekatmu, atau malah mungkin kamu adalah korban, tapi ga menyadarinya.
KDRT bukan berarti tubuh babak belur. Jiwa babak belur ga terlihat!
Setiap kali rasanya seperti dibunuh berulang kali, hingga akhirnya gue bisa menguatkan diri, dan menyerahkan segalanya pada GUSTI. Rasanya seperti disayat setiap detik, hingga gue bisa mengerti bahwa tiap sayatan yang ada itu adalah training GUSTI agar gue bisa menjadi orang yang penuh kasih.
Pink, putri bungsu kami, pernah ikut gue menjemput papanya. Lalu dia berkata ingin makan soto ayam. Apakah kami bertiga makan? Ga. Dia memesan untuk dirinya sendiri, dan lebih dari semangkuk. Minum sendiri, dan lebih dari segelas. Pink? Gue? Duduk diam. Pelayan soto pun bingung melihat kami. Hingga dia bertanya berulang-ulang, apakah benar kami ga ingin memesan lagi?
Kalau hanya mengedepankan rasa pedih, gue sudah menjerit-jerit. Tapi ga. Gue harus bisa tersenyum agar anak-anak gue bisa tersenyum manis!
Gue ga tinggal diam saat dia di rumah. Anak-anak sudah tahu mereka harus bersikap bagaimana kalau papa mereka ada. Lebih baik menjauh, tetap tenang, ga perlu khawatir. Mereka tahu secara pasti, gue, mama mereka, melindungi mereka dengan baik dari kehebohan papa mereka. Mereka tahu, gue, mama mereka, bisa menghadapi papa mereka tanpa jadi pertarungan yang sengit. Hanya ada suara papa mereka, sedangkan mereka tahu secara pasti, gue, mama mereka tersenyum.
Gue ga menangis di depan siapa pun. Baik dia mau pun anak-anak, ga tahu air mata ini mengalir. Karena air mata ini ada hanya saat gue merasa amat lelah. Kalau masih belum amat lelah, gue hanya tertawa.
Dia ga pernah ambil minum sendiri. Gue selalu menyediakan, mengambilkan, sebelum dia meminta.
Dia ga pernah meminta makan, karena memang gue menyiapkan sebelum diminta. Mengambilkan, menghidangkan. Kalau pun jajan, gue yang pergi ke luar, membelikan. Dia? Duduk tenang karaokean atau ngegames.
Dia ga pernah mengenakan kaos kaki sendiri, mengenakan sepatu sendiri, begitu juga melepasnya. Gue yang mengenakan dan melepaskan.
Air di kamar mandi? Selalu penuh, dan dia terima beres.
Mesin cuci rusak? Apa pun rusak? Gue memperbaiki sendiri. Dia? Duduk karaoke, ngegames, nonton tv, tidur, main hp, atau entahlah, kesibukannya sendiri.
Antar jemput anak sekolah? Gue.
Pekerjaan rumah tangga? Ada gue.
Mengasuh anak? Yes, bersyukur sekali, hanya gue! Ini yang amat gue syukuri. Dan ini yang amat membahagiakan. Dia ga pernah mau memegang anak-anaknya, entah kenapa.
Gue seorang istri, gue seorang ibu. Dan gue bersyukur bisa menjadi istri serta ibu. Berbahagia karena gue merasa sebagai seorang istri, sedangkan dia ga merasa menjadi seorang suami. Bersyukur menjadi seorang ibu, dan kasihan sekali dia ga merasa sudah menjadi seorang bapak.
Gue bersyukur dan berbahagia.
Sudah dulu ya, gue menguatkan diri untuk bisa menyusun kisah tentang niat bunuh diri yang akhirnya gagal. Ya gagal, buktinya gue masih hidup dengan kebahagiaan luar biasa hingga sekarang! Luar biasa kebahagiaanNYA.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit kasapink, 04 Oktober 2017, Petro: saya memang bahagia


5 Oktober · 
Cerita Seorang Single Karena Kematian (13)

: interogasi

Menuliskan cerita hidup ini bukan untuk menjelekkan siapa pun, bukan untuk membuka keburukan siapa pun. Gue single mom kematian, lalu ga bolehkan menyeritakan apa yang terjadi dalam perkawinan kami dulu, hanya karena dia sudah ga ada. Lalu kalau yang masih dalam perkawinan, boleh saja bercerita karena pasangannya masih hidup? Rasanya kok jadi aneh.
Gue menuliskan ini bukan untuk menghujat siapa pun. Bukan untuk minta diperhatikan. Nop. Kenyataannya hidup gue dan tiga kekasih saat ini jauh lebih baik dibanding sewaktu kami masih dalam keluarga lengkap. Kami amat sangat berbahagia tanpa dia bersama kami. Ga meminta kamu atau siapa pun mengerti, hanya ingin mengungkap bahwa bisa saja perkawinan, keluarga, seperti yang kami miliki dulu itu memang ada. Ini bukan sinetron!
Ceritakan yang baik-baik saja, karena dia sudah meninggal. Bagaimana kalau gue balik, ceritakan bagaimana tentang kami yang masih hidup?
Gue bukan sadis, bukan mendendam. Nop! Yang lalu memang sudah berlalu. Tapi tahukah kamu, sejarah hidup ga bisa dihapus. Sejarah itu ada bersama kami, dan kami, gue serta tiga kekasih, berusaha keras untuk bisa mengubahnya dalam penerimaan, bukan mengubah sejarah. Berusaha bisa menjadi tetap positif saat segala hal yang tidak sesuai dengan kasih itu datang dan datang setiap kali selama itu. Bahkan hingga saat ini, sesudah 10 tahun lamanya dia mutasi ke surga.
Gue ingin mengosongkan kerak yang mungkin saja masih ada berkarat di hidup. Gue ingin berempat menghadapi hidup dan menjalaninya tanpa pahit karena masa lalu.
Kami sudah memaafkannya, mengampuninya. Juga memaafkan diri kami, dan mengampuni diri kami. Kami menyintai hidup dengan segala hal yang kami percaya hanya dipenuhi kasih.
Dulu tiga kekasih, yang gue sebut sebagai tiga nyawa kecil, karena dulu mereka masih kecil-kecil, ga pernah dekat dengan papa mereka. Hey, bukan karena gue melarang! Tapi dia memang ga mau dekat dengan mereka. Kenapa? Jangan tanyakan ke kami, tanyakan saja langsung pada dia. Silakan.
Saat dia di rumah, sibuk dengan dirinya sendiri, ga ada yang boleh mengusik. Ga mengusik pun bisa dianggap mengusik. Jadi lebih baik tiga nyawa kecil diselamatkan oleh gue. Mereka bermain dengan amat tenang, nyaris tanpa suara.
Sejak dulu, mereka gue asuh agar tenang, ga rewel, dan tersenyum juga tertawa. Caranya? Ya ajak tersenyum, tertawa. Mengajak mereka menyanyi, menari, juga gue mendongeng.
Saat gue melakukan ini, dia ga pernah komentar, juga ga mendekat. Mungkin malah senang karena berarti tiga nyawa kecil ada dalam penanganan yang tepat, ga akan mengganggu dia.
Jangan tanya bagaimana sikapnya kalau menganggap kami mengganggunya. Wajah penuh amarah itu hadir di hadapan kami. Dan gue sebagai ibu dari tiga nyawa kecil, pasti akan menghadapinya dengan senyum sambil berdiri.
"Jangan ganggu anak-anak gue."
Tapi kalimat itu ga gue ucapkan.
Beberapa kali gue pergi meninggalkan nyawa kecil karena gue diperintahkan ke sana-sini. Sesudah gue pulang, tiga nyawa kecil berbisik menceritakan apa saja yang diucapkan oleh papa mereka. Yes, dia menginterogasi mereka.
"Mamamu ngapain aja?"
"Mamamu pergi kemana aja?"
"Kamu kalau pergi sama mama kemana?"
"Teman mama siapa aja?"
Interogasi.
Jawaban mereka,"Ga kemana-mana, di rumah aja."
Dulu gue kadang terpikir, kenapa ga nanya langsung aja ke gue, istrinya? Tapi ya sudahlah, mungkin gue terlalu hebat untuk bisa diinterogasi.
Interogasi-interogasi itu berhenti ketika benar-benar dia dipisahkan dari tiga nyawa kecil. Ya, dipisahkan. Dia di rumah sakit, Ngka, Esa, Pink, di rumah.
Sudah dulu, ya. Nanti gue lanjut lagi.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 05 Oktober 2017: seminggu setelah sepuluh tahun Henk meninggal karena kanker hati, Petro: gue, Ngka, Esa, Pink, bahagia tanpa dia. Apa ini salah?


5 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (14)

: tiga nyawa kecil adalah kekasih

Cerita hidup ini diceritakan terbuka sebagai cara berproses menyehatkan psikis, melegakan hati, meringankan langkah dalam hidup. Gue ingin memberitakan bahwa KDRT adalah penyikapan buruk dalam menghadapi hidup. Pelaku biasanya menang di atas angin. Apalagi kalau KDRT bukan fisik. Sedangkan yang secara fisik menjadi babak belur saja, lingkungan sering kali hanya diam, malah jadi topik perbincangan panas. KDRT bukan hanya fisik. Verbal, seksual, ekonomi, juga ada dalam KDRT. Korban ga babak belur secara fisik. Tapi jauh dalam jiwanya, luka-luka itu amat menyiksa. Korban banyak yang ga menyadari bahwa apa yang diterima adalah KDRT. Lingkungan berpikir itu adalah masalah internal rumah tangga.
Gue bersuara setelah 26 tahun menyimpannya. Setelah 10 tahun dia ke surga.
Duhai korban, menguatlah dan bersuara!
Duhai pelaku, buka seluruh hidupmu, apakah kasih dalam hatimu sudah melenyap?
Duhai yang berada dalam kondisi baik-baik saja, mengertilah, dan jangan menghukum dengan tudingan ga ada rumah tangga seburuk ini, rekayasa! Atau menghakimi bahwa suara korban adalah negatif menjelekkan pelaku. Bersyukur saja, kamu ga menghadapi dan masuk dalam cerita seperti ini. Atau kamu penasaran ingin merasakan nyata seperti gue? Monggo, jalani kisah masa lalu gue. Apakah kamu tahu, gue bersyukur ga jadi gila karena masa lalu ini.
Ngka, Esa, Pink, mereka adalah kekasih sebenarnya kekasih. Mengasihi dan dikasihi mereka adalah kebahagiaan luar biasa untuk gue.
"Aku sering kok pergi sama teman-teman. Males sama kamu."
Sedangkan Kasapink ga pernah enggan bermain bareng gue.
"Aku ga pernah mencintaimu."
Sedangkan Kasapink mencintai gue dengan amat baik.
"Kamu bodoh. Malu-maluin."
Sedangkan Kasapink ga pernah malu.
Kasapink, singkatan dari Ngka Esa Pink, gue jadikan nama keluarga untuk gue, sebagai tanda kasih dan penghormatan untuk mereka. Merekalah kekasih sebenar.
"Aku menemui X (mantan pacarnya)."
"Aku mencari Y (kekasih yang menurutnya amat dicntainya).
Bagaimana perasaanmu kalau suamimu mengatakan ini?
Ya sudahlah. Besok gue lanjutkan.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 46 tahun, rumah dua jendela: love!


Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (15)

: dia seorang (suami) dan seorang (ayah)

Saat berniat menuliskan cerita hidup ini, gue bingung. Mau memulai menuliskan dari mana? Kejadian apa yang akan ditulis? Begitu banyak kejadian yang hendak gue tulis! Masuk dalam kelompok mana kejadian tersebut?
Banyak kejadian di masa lalu. Bukan hanya membanjiri, tapi sebenarnya sudah meluap.
Kalimat yang seperti apa sebaiknya untuk menyeritakannya, agar poin yang diungkapkan bisa dimengerti dengan baik oleh siapa pun. Nop, nop, bukan untuk mengerti tentang gue atau tiga nyawa kecil, bukan. Tapi mengerti tentang KDRT yang sering kali hanya jadi cerita intermezzo, bahkan jadi bahan gosip yang bikin orang semakin asyik menggosip, tanpa jadi peduli pada kejadian KDRT.
Berharap ga ada lagi kekerasan dalam rumah tangga, keluarga. Baik fisik, verbal, seksual, ekonomi atau finansial. Damai sajalah, damai itu membahagiakan sekali. Biarkan damai tumbuh di senyum manis yang tulus.
Gue bukan orang yang sabar, juga bukan orang yang baik, apalagi seorang super. Nop. Gue seorang perempuan, seorang ibu, seorang istri. Kalau kata lagu, gue juga manusia, punya rasa, punya hati.
Berusaha menjadi seorang yang bisa menerima segala kejadian dengan baik. Tersenyum saja. Hingga di satu titik waktu, gue berniat untuk bunuh diri. Suicide, killing myself. Gue ga kuat lagi.
Waktu itu pagi-pagi seperti biasanya rumah kami penuh dengan makian penuh amarah. Luar biasa energinya sungguh dahsyat. Dia akan berangkat bekerja, tiga nyawa kecil sedang libur sekolah.
Saat akan berangkat, gue berusaha memeluk, dan ditepis sambil memaki. Ngka, Esa, Pink, sedang di teras, bermain bertiga.
Setelah dia menghilang dari pandangan, gue berlari ke kamar mandi sembari menahan air mata yang sudah sebenarnya sudah banjir basahi pipi. Gue ga ingin dia melihat gue menangis. Ga akan pernah rela membiarkan orang yang bermaksud menyakiti gue, melihat air mata ini turun. Nop! Juga ga ingin Ngka, Esa, Pink, melihat gue menangis. Karena mereka harus selalu bahagia.
Sesampai di kamar mandi, tergesa menutup pintu kamar mandi, menguncinya. Langsung menjuju sudut, jongkok di depan bak mandi. menangis seheboh yang gue bisa.
GUSTI, aku ga kuat.
GUSTI, aku mau bunuh diri aja.
GUSTI, aku ga tahu mau bunuh diri pakai cara apa.
Terlintas cara-cara bunuh diri.
1. Gantung diri.
Hidung pilek aja susah bernapas, ga enak. Muka tertutup bantal, sesak. Duh, matinya pun jelek. Lidah melet, mata melotot, dari seluruh lubang keluar cairan juga kotoran.
Ga, GUSTI, aku ga mau gantung diri.
2. Menyilet urat nadi.
Duh, ketusuk jarum aja, sakit. Apalagi kalau urat nadi disilet? Matinya pun dibanjiri darah!
Ga, GUSTI, aku ga mau menyilet urat nadi.
3. Minum racun serangga.
Ga sengaja menghirup bau obat nyamuk aja, batuk! Matinya pun berbusa-busa!
GUSTI, aku ga mau minum racun serangga.
GUSTI, kalau bunuh diri, matinya jadi jelek. Aku ga mau jelek pas mati. Apalagi yang pertama melihat adalah Ngka, Esa, dan Pink. Bukan dia!
Terbayang bagaimana traumanya mereka karena melihat gue mati bunuh diri. Juga terbayang kalau mereka sudah besar, akan ditanya oleh teman-temannya, di mana mama mereka. Jawabannya, meninggal. Lalu bakal ditanya apakah meninggal karena sakit? Lalu jawaban anak-anak gue adalah, bukan, tapi karena bunuh diri.
O my GUSTI! bagaimana masa depan tiga nyawa kecil ini kalau aku bunuh diri? Trus belum tentu papa mereka bakal merawat dan mengasuh dengan penuh kasih.
Seperti film, wajah Ngka, Esa, Pink, muncul di benak gue.
GUSTI!
Aku ga akan meninggalkan anak-anakku!
Aku akan merawat mereka dengan benar, dan akan benar merawat mereka!
GUSTI, ampuni aku. Perceraian diperbolehkan, tapi dibenci olehMU. Tapi kalau dia cari gara-gara lagi, aku resign dari perkawinan ini.
Gue hapus air mata yang banjir. Membuka pintu kamar mandi, berlari menuju Ngka, Esa, Pink. Memeluk mereka.
Sudah ya, nanti gue lanjutkan lagi. Cape, karena memerlukan berjam-jam untuk bisa menuliskan cerita hidup bagian ini.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 06 Oktober 2017, Petro: Kasapink, mama mencintamu dan mengasihimu, lebih dari yang kamu tahu dan lebih dari yang kamu rasakan.



6 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (16)

: saya seorang ibu yang hendak meminta cerai

Mau tahu perasaan gue saat ini saat menulis? Menahan air mata. Rasanya hendak menangis. Kejadian hendak bunuh diri hingga kejadian ini, untuk hidup gue adalah hal terberat.
Gue bukan seorang yang mudah putus asa. Gue seorang yang punya semangat hidup besar. Bap dengan ajarannya membuat gue menjadi seorang yang ga mudah surut dalam cerita hidup. Tapi ternyata cerita hidup selama itu menyurutkan gue. Gue harus keluar dari perkawinan yang penuh amarah. Harus menyelamatkan anak-anak, karena sekarang gue ga bisa lagi menjadi positif. Menyelamatkan semua ini dengan cara meminta cerai. Saat itu Ngka berusia 11 tahun, Esa 8 tahun, Pink 6 tahun.
Gue seorang istri, seorang ibu, bukan seorang pekerja. Gue, ibu rumah tangga yang ga punya penghasilan.
Mulailah keesokan hari setelah gegayaan mau bunuh diri tapi akhirnya bersyukur ga jadi, bertanya pada tiga anak.
Gue: Kalau Mama pergi, papa juga pergi, tapi perginya ga bareng-bareng, perginya masing-masing, kamu milih ikut siapa? Tapi kalau pergi sama Mama, ga ketemu papa. Kalau pergi sama papa, ga ketemu Mama. Kalau ikut Mama, ga punya uang.
Tiga nyawa kecil, tiga anak, hanya 1 yang menjawab, sedangkan 2 lainnya menangis.
Esa: Esa ikut Mama!
Gue: Tapi Mama ga punya uang. Uang papa banyak.
Esa: Ga apa-apa.
Percakapan berhenti sampai di situ. Setidaknya gue sudah 'mengantongi' 1 orang anak untuk ikut gue. Masih ada 2 anak lagi. Gue berniat bercerai dengan suami, bukan dengan anak-anak. Anak-anak harus bersama gue, karena gue tahu papa mereka ga akan mengurus mereka dengan baik.
Dua hari kemudian, percakapan tentang pergi gue mulai lagi. Satu anak dengan tegas memilih ikut gue, 1 anak menangis, 1 anak terlihat bingung.
Beberapa hari kemudian gue tanyakan lagi hal yang sama. Dan itu hal yang mengejutkan gue.
Kasapink: Ikut Mama!
Gue: Mama ga punya uang.
Kasapink: Ga apa-apa. Laper juga ga apa-apa.
GUSTI, 3 anak sudah ada dalam 'kantong'. Aku minta ampun, aku mau minta cerai. Aku sudah ga tahan lagi.
Sudah dulu, ya. Nanti dilanjut lagi.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 06 Oktober 2017, Petro: saya single mom dan bahagia


6 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (17)

: saya seorang (istri) bagi dia

Menarik napas dalam-dalam saat hendak meneruskan cerita yang semakin lama menuju akhir. Ternyata menjelang akhir adalah hal yang terberat untuk diungkap. Gue ga bohong, di antara dua alis ini, terasa memberat, pusing. Rasanya ada kepingan yang akan muncul lagi setelah tertanam dalam-dalam dan mengerak.
Gue menyeritakan ini bukan untuk bicara hal buruk tentang siapa pun. Jangan berkomentar bahwa lebih baik bicara hal baik tentang orang yang sudah meninggal di sini. Simpan saja dalam pikiranmu kalau itu tebersit. Penjajah sudah meninggal semua, masih saja diceritakan kekejamannya. Untuk apa? Sebagai sejarah, pengalaman agar ga terjadi lagi. Bukan untuk menjelek-jelekkan mereka, kan? Sama halnya dengan gue, bukan untuk mendiskreditkan dia, tapi ini sebagai proses penyehatan mental menuju ringannya langkah ke depan, dan berharap ga ada lagi kekerasan dalam rumah tangga, dalam perkawinan. Yang rumah tangganya damai, bersyukurlah!
Gue menguatkan diri untuk berkata pada dia, untuk meminta bercerai darinya. Gue meyakinkan diri, ga akan pernah bisa dia menyakiti gue dan Ngka, Esa, Pink, lagi dan lagi. Ini harus diucapkan. Aku mau minta cerai.
Beberapa hari kemudian dia pulang ke rumah dengan kondisi sakit. Ga tahu kenapa, berbeda dari biasanya, dia pamit mau ke dokter.
"Badanku ga enak, Nit."
Yup, sejak pertama kali kenal hingga terakhir, dia memang memanggil nama ke gue. Ga pernah memanggil dengan panggilan sayang, atau apalah-apalah. Gue ga mempermasalahkan. Biar saja, itu memang nama gue. Malah biasanya ga memanggil dengan ucapan apa pun.
Baru saja dia pergi, kemudian kembali lagi.
"Anterin aku ke dokter, Nit."
Gue antar dia ke dokter yang masih di lingkungan perumahan kami. Diberi obat, lalu pulang. Obat habis, ke dokter lagi.
Pindah ke dokter di sebuah rumah sakit swasta di kota itu.
USG.
Hati membengkak besar.
Obat, lalu cek darah.
CEA tinggi sekali.
CEA itu sel kanker.
CT scan.
CT scan hari Jumat. Hasil bisa diambil besok, tapi karena kunjungan ke dokter di hari Senin, dia baik sekali,"Senin aja ambilnya. Nanti kamu kecapean."
Yes! Selama perkawinan, kalimat itu terdengar indah banget! "Senin aja ambilnya. Nanti kamu kecapean."
Biasanya sih ga pernah peduli mau cape atau ga.
Pernah gue sedang sakit danga bisa bangun. Dia tetap meminta gue mengerjakan ini dan itu sesuai perintahnya, sampai gue merangkak. Dan dia tetap saja memerintahkan ini dan itu.
Jadi, kalimat itu indah banget, untuk gue!
Sudah dulu, ya. Cape banget otak gue.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 06 Oktober 2017, Petro: kenang itu hanya sebagai kenangan. Sedangkan gue berada di hari ini.


9 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (18)

: dalam sehat dan dalam sakit, dia adalah suami gue

Menuliskan kisah hidup ini membutuhkan kekuatan yang luar biasa. Energi lebih diperlukan agar bisa menyeritakan dengan baik dan bisa diterima baik juga.
Sama sekali bukan untuk menjelekkan siapa pun, apalagi seorang suami, seorang ayah dari anak-anak kami. Bukan untuk membongkar aib. Kalau ada yang bicara kenapa gue mwmbuka aib, gue gantian bertanya, aib siapa? Karena ini adalah pengalaman hidup gue. Kalau dibilang, orangnya udah meninggal, kok diungkit-ungkit? Coba lihat kami, masih hidup dan membawa cerita yang bisa jadi kepahitan seumur hidup karena dia.
Menyeritakan ini agar hati melega, hidup meeingan, langkah menjadi tenang di hari ini. Yang ga suka dengan masa lalu ini, silakan jangan dibaca. Unfriend atau block, juga ga apa-apa. Bagi yang mendukung kami untuk bercerita terbuka, terima kasih sudah menguatkan kami.
Saat dia mulai sakit, sms nya sering masuk. Salah satunya adalah ceritanya yang melihat dirinya sendiri berjalan terseok-seok.
Nit, aku ndelok awakku dewe mlaku meh ning kamar mandi, keser-keser. Padahal aku isih meneng ning kamar.
Description: https://www.facebook.com/images/emoji.php/v9/f4c/1/16/1f642.png(: itu bahasa Jawa. Artikan sendiri, ya.)
Yup, dia di luar kota. Ga sekota dengan kami.
Sewaktu akan menjalani CT scan pun dia harus pulang dari luar kota tempatnya bekerja.
Kami naik taxi ke rumah sakit. Setiba di sana, gue minta dia menunggu di taxi, asedangkan gue berlari mencari kursi roda agar dia ga kesulitan menuju ruang CT scan. Dia menurut sekali. Ga ada tuh marah-marah. Keren banget, suami gue bisa tenang tanpa amarah.
Ternyata menunggu gilirannya tuh lama sekali. Dia mengeluh lelah duduk di kursi roda. Gue bertanya kepada suster, apakah ada tempat tidur untuk suamiku berbaring. Karena sudah ga kuat duduk. Bersyukur akhirnya mendapat sebuah kamar untuk dia berbaring selama menunggu giliran CT scan.
Kontrol kembali ke dokter, masih beberapa hari lagi, dan dia sudah terbaring lemah di rumah. Selama beberapa hari, segala hal dilakukannya di kamar. Dan ga bisa melakukannya sendiri. Dengan bantuan gue, tentunya.
Aku disibin ae. Ga kuat.
Sbin tuh mandi dengan cara seluruh tubuh hanya dilap saja.
Gue mengerjakannya dengan suka cita. Dia suami gue, sehat dan sakit bersama gue.
Sudah dulu, ya. Mau siap-siap untuk berangkat ke Petro. Dilanjutkan nanti.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 09 Oktober 2017, rumah dua jendela: ga jogging lagi.


9 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (19)

: saya seorang (istri)

Masih banyak yang hendak diceritakan tentang masa lalu. Masih banyak hal yang harus dikumpulkan.
Bukan untuk mendiskreditkan siapa pun. Ini untuk melegakan hari yang dijalani bersama tiga nyawa kecil, tiga kekasih.
CT scan hari Jumat pagi. Jadwal kontrol ke dokter hari Senin. Tapi di hari Minggu, dia makin melemah. Makin ga bisa apa-apa. Gue memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit. Harus opname sekarang juga! Tapi dia menolak dengan amarah yang luar biasa.
"Aku panggil taksi, Pa. Kita ke rumah sakit sekarang."
"Aku ga mau!"
"Aku udah telepon taksi, Pa. Kita ke rumah sakit sekarang."
"Berani-beraninya kamu!"
Gue, seorang (istri) yang biasa dibentak kasar dan dimaki, sudah kebal dengan segala hal kemarahannya. Tetap memasukkan baju-bajunya ke dalam tas. Harus ke rumah sakit, ga peduli apa pun yang akan dia lontarkan ke gue.
Taksi datang.
"Pa, yuk, taksinya udah ada."
Dia diam. Tapi kemudian berusaha untuk turun dari tempat tidur. Gue membantunya. Berganti baju, celana panjang. Lalu tertatih ke luar, juga dibantu oleh gue. Amat menyedihkan saat mengetahui bahwa seorang yang amat ekspresif, punya energi luar biasa besar, ga mampu berjalan sendiri.
Taksi berhenti di depan rumah, tapi posisinya agak maju sedikit. Ga sampai setengah meter dari pagar rumah kami.
"Nit, bilang sama sopirnya, munduran. Aku ga bisa jalan ke sana."
Gue bicara pada sang sopir taksi, memintanya memundurkan mobil karena suami ga kuat berjalan. Mobil mundur. Pintu belakang tepat di hadapannya. Untuk maju dua langkah lalu masuk ke dalam taksi pun dia amat kepayahan.
Selama perjalanan ga ada suara apa pun. Sunyi.
Tiba di rumah sakit, gue meminta sang sopir untuk tunggu sebentar, karena gue harus mencari kursi roda untuk suami. Syukurlah sang sopir ga menolak.
Berlari masuk ke dalam rumah sakit. Mencari kursi roda, lalu membawa keluar.
Mendorongnya masuk ke dalam rumah sakit untuk diperiksa di UGD, lalu gue mengurus ruang rawat inapnya.
Tiba di ruang rawat inap, gue berlari menuju tempat CT scan, untuk mengambil hasil. Lalu memberikannya ke ruang dokter. Kemudian gue ke ruang rawat inapnya. Dia sudah diinfus.
"Kamu kemana? Ngapain? Bukannya di sini, malah pergi. Kamu di sini bukan untuk main! Aku sakit!"
Gue cuma menjawab,"Tadi ambil hasil CT scan, kasih ke ruang dokter. Tapi dokternya lagi ga di ruangan."
"Aku tuh sakit apa? Tanya ke dokternya!"
"ya, nanti kan aku pasti tanya."
Ga lama kemudian seorang perawat datang memberitahu bahwa dokter sudah datang, dan meminta gue untuk ke sana.
Gue ga perlu cerita secara detil ya? Ternyata bagian ini membuat gue sesak dan menahan tangis.
"Kanker hati, dan sudah ga bisa diobati."
Gue terhenyak.
"Berapa lagi sisa hidupnya?"
Dokter menjawab,"Umur di tangan Tuhan."
"Menurut medis, berapa lama lagi suami saya bisa bertahan hidup?"
"Setahun."
Menurut gue, dokter sudah memperpanjang usia bisa bertahannya. Jadi bisa saja dia meninggal besok, atau malah hari ini. Karena itu sebuah keputusan gue ambil.
"Jangan ada seorang pun boleh bicara tentang pengobatan, dan jangan ada seorang pun bicara tentang penyakit ke suami saya. Dia ga boleh tahu bahwa dia kanker."
Dokter terkejut.
Gue hanya berusaha menghidupkan semangat hidupnya, kalau memang ga bisa menyelamatkan sisa hidupnya!
Lalu gue menangis di depan dokter. Menangis hingga bisa menguasai diri. Gue ga boleh menangis! Ini waktunya membangkitkan semangat hidupnya.
Berhenti menangis, mencuci muka, lalu kembali ke ruangannya.
"Seko ndi wae kowe!" (:dari mana aja kamu!)
Menahan segala rasa dalam hati, gue tertawa menjawab,"Dipanggil dokter, ngomong tentang sakitmu. Livermu bengkak. Kamu harus istirahat, itu aja."
Udah dulu, ya. Gue harus menenangkan diri. Nanti pasti gue lanjutkan lagi.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 09 Oktober 2017, Petro: saya mencintai tiga kekasih, Ngka, Esa, Pink.


9 Oktober · 
Cerita seorang Single Mom Karena Kematian (20)

: saya seorang (istri) dan dia seorang suami (komandan?)

Energi rasanya hampir habis, malah minus, saat menceritakan hal ini. Tapi masih banyak yang ingin diceritakan. Terutama saat dia sedang sakit.
Bukan untuk bicara tentang keburukannya, tapi ini termasuk dalam rangkaian cerita masa lalu.
Setelah dia ada di ruang rawat inap, gue menahan diri agar ga menangis di hadapannya. Menutupi bahwa dia kanker hati dan sudah ga bisa diobati, adalah hal yang sulit, tapi harus gue jalani. Karena gue ga mau semangat hidupnya lenyap.
Orang pertama yang gue hubungi tentang kanker hatinya adalah bap, tapi dengan catatan: jangan sampai mama tahu bahwa suami gue kanker. Gue ga ingin mama jadi stress kalau tahu tentang ini. Gue meminta bap dan mama, datang ke rumah, untuk menjaga Ngka, Esa, Pink, karena gue akan berada di rumah sakit menemaninya. Dia bukan seorang pemberani kalau urusan sendirian di rumah sakit. Alasannya, takut setan. Sedangkan gue terbiasa melihat para setan. Cocok banget, ya? Dalam hal ini gue dan dia, amat sangat cocok.
Orang ke-2 yang gue hubungi adalah seorang sahabat. Lalu kakaknya.
(Kepingan hilang: dengan siapa Ngka, Esa dan Pink, saat pertama kali dia di rumah sakit? Ya GUSTI, kepingan ingatan itu belum muncul hingga sepuluh tahun berlalu Description: https://www.facebook.com/images/emoji.php/v9/fe/1/16/1f622.png:'( , dan masih banyak kepingan ingatan yang hilang dari ingatan gue sampai saat ini. Rasanya ingin berteriak,"Kembalilah ingatan!")
Esok harinya mama dan bap sudah datang di rumah kami. Fyi, mama dan bap tinggal di kota yang berbeda dengan kami. Pagi-pagi pukul 3.00, gue kembali ke rumah, menyiapkan tiga anak untuk sekolah. Mengantar mereka, lalu kembali ke rumah sakit. Mengurus apa yang dia butuhkan dan inginkan. Lalu pukul 15.00, kembali lagi ke rumah, membantu tiga nyawa kecil belajar. Dan balik lagi ke rumah sakit pukul 17.00, hingga esok harinya pukul 3.00 pagi pulang ke rumah lagi. Itu gue lakukan setiap hari.
Kenapa gue melakukan itu semua? Karena gue ga mau Ngka, Esa, Pink, kehilangan gue. Selain juga ga mau dia ga dijaga dengan baik.
Setiap pukul 3.00 pagi, gue ngebut di motor sendirian, bernyanyi teriak sekeras yang gue bisa! Jalanan sepi, gelap.
Sampai di rumah, mengajak tiga nyawa kecil, Ngka, Esa, Pink, berkeliling perumahan, naik motor berempat, sambil bercerita tentang papa mereka. Meminta mereka mendoakannya. Pukul 04.30, mereka sudah siap dengan seragam, sudah sarapan. Jadi mulai pukul 4.30, kami berkeliling sambil bernyanyi-nyanyi.
No, ga ada kesedihan dihadirkan untuk mereka! Doakan papa agar kembali sehat. Yuk nyanyi-nyanyi, kita bahagia.
Pukul. 06. 30 mengantar ke sekolah.
Pukul 07.00 selesai mengantar, gue ngebut ke rumah sakit. Cukup 10 menit perjalanan, padahal kondisi jalan sedang ramai. Sampai sekarang, gue ga tahu gimana cara gue bawa tuh motor, karena lumayan jauh dari sekolah ke rumah sakit. Dan gilanya, gue baru menyadari bahwa perjalanan sudah selesai, saat sudah sampai di parkiran rumah sakit.
"Loh, gue kok udah parkir motor?"
Lokasi parkiran motor rumah sakit tersebut terpisah dari rumah sakit. Lumayan jauh, dan menanjak. Gue berlari sekencang-kencangnya menuju ruang rawat inap yang juga jauh di belakang.
Gerbang untuk masuk ke dalam rumah sakit masih dikunci, dan ga diperbolehkan masuk. Tapi gue mengacungkan kartu jaga pasien ke penjaga. Awalnya ga diperbolehkan. Lalu gue berkata,"Suamiku kanker dan bisa meninggal kapan pun. Kalau aku ga boleh masuk dan dia meningal, apa kamu mau bertanggung jawab secara moral ke aku?"
Gila, ya, gue gila!
Dari gerbang, gue berlari menuju kamarnya. Tiba di kamarnya, ini yang terjadi.
"Ngapain aja kamu! Terlambat! Sana! Keluar! Dasar perempuan bodoh!"
Sudah dulu, ya. Nanti gue lanjutkan lagi.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 09 Oktober 2017, Petro: Love my Kasapink!


10 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (21)

: antara saya dan cinta, ada kasih di dalamnya

Semakin dalam cerita masa lalu, makin merasa tergesa ingin menyelesaikannya. Tapi energi ini melumpuh. "Ayo Nit, kamu bisa menyeritakan semua dengan gagah!" Dan gue sibuk menahan air mata yang hendak turun.
Gue ga bermaksud menjelekan dia. Hanya ingin mengosongkan hati. Meringankan langkah agar kami bisa menghadapi dan menjalani kenyataan hidup di hari ini tanpa sisa kepahitan masa lalu.
Diusir olehnya saat tiba di ruang rawat inapnya, jadi makanan sehari-hari selama dia dirawat di sana. Gue menjadi kebal terhadap usiran. Niat pun menebal untuk membuatnya bahagia di sisa hidup.
Ketika usiran dilontarkan, gue menahan seluruh perasaan yang campur aduk. Berdoa agar bisa membahagiakannya.
Pelan-pelan gue ambil baju-baju kotornya, masukkan dalam tas, menggantinya dengan yang bersih, bawaan dari rumah. Gue menyempatkan diri menyuci setiap pulang ke rumah.
"Kamu tahu, kamu itu penyebab seluruh marahku!"
Gue berusaha tersenyum sambil menahan air mata yang jelas-jelas hendak turun deras. Setiap dia berkata begitu, gue menjawab,"Ya. Aku mencintaimu."
Gue meninggalkan ruangannya hanya saat dia terlelap. Keluar ruangan, duduk menangis. Kembali masuk jika dia terbangun. Dia pasti menelepon gue saat membuka matanya.
"Di mana kamu! Masuk!"
Waktu pertama rawat inap, dokter berkata begini ke gue,"Dik, suamimu tidak bisa disembuhkan. Akan menghabiskan banyak uang. Bawa pulang saja."
Gue menolak.
"Suami saya bukan orang bodoh. kalau dia dibawa pulang, pasti jadi pertanyaan besar untuk dia. Saya berniat supaya dia ga tahu penyakitnya. Sampai seluruh uang recehku habis, dia akan ada di sini. Kecuali dia yang minta pulang."
Dokter tertegun.
Gue bersyukur sekali bertemu dengan dokter itu. Karena pada akhirnya dia bisa gue ajak bekerja sama dengan baik.
Sudah dulu, ya. Nanti dilanjut lagi.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 10 Oktober 2017, rumah dua jendela: saya mencintai tiga kekasih, Ngka, Esa, Pink.


Nitaninit Kasapink  https://www.facebook.com/nitaninit.kasapink/posts/1444676612284302
Cerita Seorang Single Mom Karena kematian (22)

: saya tetap seorang (istri)

Memaafkannya, mengampuninya, sudah gue lakukan sejak dulu. Juga memaafkan diri sendiri dan mengampuni diri sendiri, sudah gue lakukan sejak dulu.
Sejak dulu?
Ya, sejak dulu, dan terus menerus gue lakukan hingga saat ini. Karena gue tetap seorang manusia, yang bisa saja salah, menyangka sudah memaafkan hingga tuntas, ternyata masih saja ada sedikit yang mengganjal. Ya, gue ingin melegawa, dan ini bukan hal yang mudah untuk gue, tapi gue percaya kalau gue berusaha setulus hati, pastilah ketulusan itu yang menempati kelegaan hati.
Bukan untuk menjelekkan siapa pun. Ini sebagai proses meringankan langkah di hari ini bersama tiga kekasih, Ngka, Esa, Pink.
Saat dia di rumah sakit karena kanker hati (plis jangan menanyakan kenapa dia kanker hati, kenapa dia bersikap kasar, ke gue. Baca saja dari awal cerita gue. Ini proses gue melangkah, ga hendak menyurut terus ke belakang. Kalau kamu bertanya kenapa dia kasar, sok atuh tanya aja langsung aja ke dia di surga. Karena gue ga tahu alasannya. Juga jangan bertanya lagi, dulu pacaran atau ga. Ini ga ada hubungannya dengan pacaran atau ga. Mau pacaran 80 tahun kek, dia berubah ya berubah aja. Plis, baca aja dari awal cerita gue, jadi gue ga perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan kenapa dia begini-begitu. Karena yang kamu tanya tuh gue, sedangkan yang jadi topik adalah dia.), gue ada bersama dia tapi juga membagi waktu untuk tetap bersama tiga nyawa kecil, Ngka, esa, Pink. Gue ga ingin mereka kehilangan gue. Lelah badan bukan perkara besar untuk gue. Malah gue ga peduli kelelahan yang terasa. Hanya ingin berbuat maksimal untuk orang-orang terkasih. Terkasih? Ya, terkasih. Dia pun termasuk orang terkasih, walau dia ga mengasihi gue. Gue mengambil sikap mengasihi saja. Dan selama itu gue ga mau cerita tentang buruknya hubungan antara dia dan gue. Berani menghadapi dan menjalani, ya jangan mengeluhkan itu pada siapa pun. Karena kalau sudah mengeluh, itu artiya gue ga akan mau ada di sisinya lagi. Sekali lagi, gue ga ingin mengeluh pada siapa pun.
Di rumah sakit, dokter memberitahu ke gue, dia boleh makan apa pun yang dia mau, apa pun yang dia suka. Tapi dia juga ga tahu akan hal itu. Gue ga memberitahunya. Tapi dia memang ga suka dan ga doyan sama seali masakan rumah sakit. Jadi apa yang kami lakukan? Dia memerintahkan gue untukbeli makanan ini dan itu di sana dan di sini, sedangkan gue diwajibkannya untuk menghabiskan makanan rumah sakit yang jadi jatahnya. Kalau boleh jujur, gue juga ga doyan makanan rumah sakit, karena dalam pikiran gue itu kan bukan bagian gue untuk menghabiskan. Tapi gue embat habis juga tuh makanan agar dia merasa senang. Gue berusaha meminimalisasi kemarahan yang dia punya, mengikis pelan ketidak sukaannya terhadap sesuatu. Gue berusaha maksimal untuk kebahagiaannya di waktunya yang tinggal sebentar.
"Aku mau capcay, ayam goreng mentega. Beli di Cipta Rasa (ini bukan sedang endorse, ya. Cipta Rasa tuh rumah makan dekat rumah kami, dulu.)"
Jadi waktu gue pulang ke rumah, order dua masakan itu untuk dibawa ke rumah sakit. Sarapan, makan siang, juga makan sore, semuanya beli di luar rumah sakit.
Sesuai pemberitahuan dokter dan sesuai perintahnya, gue sibuk dengan pengadaan makanan yang dia mau. Cape? Mungkin waktu iu gue ga punya cape. Badan gue as a robot aja. Suurrr, meluncur ke sana dan ke sini tanpa kenal yang namanya cape.
Selama berada di rumah sakit, apakah ga ada yang menjenguk? Ada, pastinya. Dan setiap menjelang jam kunjung, gue mulai intip-intip ke luar, kalau-kalau ada yag akan menjenguknya. Iseng banget sih ngntipin ada yang bakal jenguk atau ga. Nop, bukan gitu. Tapi mereka yang akan menjenguknya tuh gue cegat! Layaknya preman, gue mencegat mereka. Gue menyegat mereka untuk memberitahu,"Doakan suamiku. Dia kanker hati dan sudah ga bisa diobati lagi. Menurut dokter, usianya sisa 1 tahun. Tolong jangan samapi dia tahu bahwa dia kanker. Jangan bertanya apa penyakitnya. Jangan juga menanyakan bagaimana rasa sakit yang dia rasakan." Gue hanya ingin dia tetap punya semangat hidup.
Trus dia diapain aja di rumah sakit?
Dia ga diinfus. Lalu dia berkata ke gue,"Kenapa aku ga diinfus? Aneh!"
Gue langsung lari menyari dokter!
"Dok, suamiku curiga karena dia ga diinfus. Tolong, Dok, tolong infus dia. Vitamin kek, apa kek, supaya dia ga curiga. Aku ga mau dia tahu tentang kankernya. Tolong, Dok."
Ya GUSTI, dokter itu sungguh baik. Suami gue diinfusnya. Thank you, Dokter!
Hanya beberapa hari diinfus, lalu infus dicopot, kaena memang sebenarnya innfus iu ga diperlukan olehnya.
Dia protes lagi,"Kenapa dicopot! Lihat, Nit! Infusku dicopot!"
Gue lari lagi ke dokter,"Tolong Dok, tolong beritahu dia, infus dicopot karena perkembangannya membaik. Kalau membaik terus, memang ga perlu infus. Kalau ternyata nanti membutuhkan infus, akan diinfus lagi. Tolong dia, Dok."
Ya GUSTI, dokter itu menuruti permohonan gue. Dia ke ruangannya, memberitahunya seperti yang gue mohon. Thank you so much!
Mendampinginya di rumah sakit, gue ga tidur. Mendampingi ya mendampingi. Duduk diam. Gue membawa bacaan dan diary sebagai pengisi waktu.
Kalau cuma bentakan-bentakan di rumah sakit sih, untuk gue tuh udah ga berasa lagi. Terlalu kebal. Tapi tetap aja gue ga kebal senjata tajam dan senjata api. Halah, ngaco.
Gue ga kebal saat melihat dia kesakitan, ga kebal saat melihat dia kesulitan melakukan sesuatu.
GUSTI! Orang ini adalah orang yang luar biasa penuh energi! Dan sekarang, ntuk bergerak pun sulit. Itu yang membuat gue harus menahan tangis, dan berusaha tersenyum tanpa henti.
Gue menangis di luar ruangan. Dan tersenyum juga tertawa saat masukruangannya. Gue hanya mau menyuguhkan suka cita untuk dia. Hanya ingin memberi bahagia, semaksimal yang gue bisa. Orang hanya tahu gue menangis karena suami gue kanker hati. Mereka ga tahu gue menangis karena banyak hal. Bukankah setiap orang hanya melihat yang tampak mata saja?
Sudah dulu, ya. Nanti gue pasti lanjutkan lagi. Mau dandan, kan gue harus berangkat ke Petro.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit asapink, 11 Oktober 2017, rumah dua jendela: Saya mencintai Ngka, Esa, Pink, tiga nyawa kecil, tiga kekasih.



Nitaninit Kasapink  https://www.facebook.com/nitaninit.kasapink/posts/1444676612284302
Cerita Seorang Single Mom Karena kematian (22)

: saya tetap seorang (istri)

Memaafkannya, mengampuninya, sudah gue lakukan sejak dulu. Juga memaafkan diri sendiri dan mengampuni diri sendiri, sudah gue lakukan sejak dulu.
Sejak dulu?
Ya, sejak dulu, dan terus menerus gue lakukan hingga saat ini. Karena gue tetap seorang manusia, yang bisa saja salah, menyangka sudah memaafkan hingga tuntas, ternyata masih saja ada sedikit yang mengganjal. Ya, gue ingin melegawa, dan ini bukan hal yang mudah untuk gue, tapi gue percaya kalau gue berusaha setulus hati, pastilah ketulusan itu yang menempati kelegaan hati.
Bukan untuk menjelekkan siapa pun. Ini sebagai proses meringankan langkah di hari ini bersama tiga kekasih, Ngka, Esa, Pink.
Saat dia di rumah sakit karena kanker hati (plis jangan menanyakan kenapa dia kanker hati, kenapa dia bersikap kasar, ke gue. Baca saja dari awal cerita gue. Ini proses gue melangkah, ga hendak menyurut terus ke belakang. Kalau kamu bertanya kenapa dia kasar, sok atuh tanya aja langsung aja ke dia di surga. Karena gue ga tahu alasannya. Juga jangan bertanya lagi, dulu pacaran atau ga. Ini ga ada hubungannya dengan pacaran atau ga. Mau pacaran 80 tahun kek, dia berubah ya berubah aja. Plis, baca aja dari awal cerita gue, jadi gue ga perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan kenapa dia begini-begitu. Karena yang kamu tanya tuh gue, sedangkan yang jadi topik adalah dia.), gue ada bersama dia tapi juga membagi waktu untuk tetap bersama tiga nyawa kecil, Ngka, esa, Pink. Gue ga ingin mereka kehilangan gue. Lelah badan bukan perkara besar untuk gue. Malah gue ga peduli kelelahan yang terasa. Hanya ingin berbuat maksimal untuk orang-orang terkasih. Terkasih? Ya, terkasih. Dia pun termasuk orang terkasih, walau dia ga mengasihi gue. Gue mengambil sikap mengasihi saja. Dan selama itu gue ga mau cerita tentang buruknya hubungan antara dia dan gue. Berani menghadapi dan menjalani, ya jangan mengeluhkan itu pada siapa pun. Karena kalau sudah mengeluh, itu artiya gue ga akan mau ada di sisinya lagi. Sekali lagi, gue ga ingin mengeluh pada siapa pun.
Di rumah sakit, dokter memberitahu ke gue, dia boleh makan apa pun yang dia mau, apa pun yang dia suka. Tapi dia juga ga tahu akan hal itu. Gue ga memberitahunya. Tapi dia memang ga suka dan ga doyan sama seali masakan rumah sakit. Jadi apa yang kami lakukan? Dia memerintahkan gue untukbeli makanan ini dan itu di sana dan di sini, sedangkan gue diwajibkannya untuk menghabiskan makanan rumah sakit yang jadi jatahnya. Kalau boleh jujur, gue juga ga doyan makanan rumah sakit, karena dalam pikiran gue itu kan bukan bagian gue untuk menghabiskan. Tapi gue embat habis juga tuh makanan agar dia merasa senang. Gue berusaha meminimalisasi kemarahan yang dia punya, mengikis pelan ketidak sukaannya terhadap sesuatu. Gue berusaha maksimal untuk kebahagiaannya di waktunya yang tinggal sebentar.
"Aku mau capcay, ayam goreng mentega. Beli di Cipta Rasa (ini bukan sedang endorse, ya. Cipta Rasa tuh rumah makan dekat rumah kami, dulu.)"
Jadi waktu gue pulang ke rumah, order dua masakan itu untuk dibawa ke rumah sakit. Sarapan, makan siang, juga makan sore, semuanya beli di luar rumah sakit.
Sesuai pemberitahuan dokter dan sesuai perintahnya, gue sibuk dengan pengadaan makanan yang dia mau. Cape? Mungkin waktu iu gue ga punya cape. Badan gue as a robot aja. Suurrr, meluncur ke sana dan ke sini tanpa kenal yang namanya cape.
Selama berada di rumah sakit, apakah ga ada yang menjenguk? Ada, pastinya. Dan setiap menjelang jam kunjung, gue mulai intip-intip ke luar, kalau-kalau ada yag akan menjenguknya. Iseng banget sih ngntipin ada yang bakal jenguk atau ga. Nop, bukan gitu. Tapi mereka yang akan menjenguknya tuh gue cegat! Layaknya preman, gue mencegat mereka. Gue menyegat mereka untuk memberitahu,"Doakan suamiku. Dia kanker hati dan sudah ga bisa diobati lagi. Menurut dokter, usianya sisa 1 tahun. Tolong jangan samapi dia tahu bahwa dia kanker. Jangan bertanya apa penyakitnya. Jangan juga menanyakan bagaimana rasa sakit yang dia rasakan." Gue hanya ingin dia tetap punya semangat hidup.
Trus dia diapain aja di rumah sakit?
Dia ga diinfus. Lalu dia berkata ke gue,"Kenapa aku ga diinfus? Aneh!"
Gue langsung lari menyari dokter!
"Dok, suamiku curiga karena dia ga diinfus. Tolong, Dok, tolong infus dia. Vitamin kek, apa kek, supaya dia ga curiga. Aku ga mau dia tahu tentang kankernya. Tolong, Dok."
Ya GUSTI, dokter itu sungguh baik. Suami gue diinfusnya. Thank you, Dokter!
Hanya beberapa hari diinfus, lalu infus dicopot, kaena memang sebenarnya innfus iu ga diperlukan olehnya.
Dia protes lagi,"Kenapa dicopot! Lihat, Nit! Infusku dicopot!"
Gue lari lagi ke dokter,"Tolong Dok, tolong beritahu dia, infus dicopot karena perkembangannya membaik. Kalau membaik terus, memang ga perlu infus. Kalau ternyata nanti membutuhkan infus, akan diinfus lagi. Tolong dia, Dok."
Ya GUSTI, dokter itu menuruti permohonan gue. Dia ke ruangannya, memberitahunya seperti yang gue mohon. Thank you so much!
Mendampinginya di rumah sakit, gue ga tidur. Mendampingi ya mendampingi. Duduk diam. Gue membawa bacaan dan diary sebagai pengisi waktu.
Kalau cuma bentakan-bentakan di rumah sakit sih, untuk gue tuh udah ga berasa lagi. Terlalu kebal. Tapi tetap aja gue ga kebal senjata tajam dan senjata api. Halah, ngaco.
Gue ga kebal saat melihat dia kesakitan, ga kebal saat melihat dia kesulitan melakukan sesuatu.
GUSTI! Orang ini adalah orang yang luar biasa penuh energi! Dan sekarang, ntuk bergerak pun sulit. Itu yang membuat gue harus menahan tangis, dan berusaha tersenyum tanpa henti.
Gue menangis di luar ruangan. Dan tersenyum juga tertawa saat masukruangannya. Gue hanya mau menyuguhkan suka cita untuk dia. Hanya ingin memberi bahagia, semaksimal yang gue bisa. Orang hanya tahu gue menangis karena suami gue kanker hati. Mereka ga tahu gue menangis karena banyak hal. Bukankah setiap orang hanya melihat yang tampak mata saja?
Sudah dulu, ya. Nanti gue pasti lanjutkan lagi. Mau dandan, kan gue harus berangkat ke Petro.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit asapink, 11 Oktober 2017, rumah dua jendela: Saya mencintai Ngka, Esa, Pink, tiga nyawa kecil, tiga kekasih.



Nitaninit Kasapink  https://www.facebook.com/nitaninit.kasapink/posts/1446606025424694
13 Oktober · 
Cerita Single Mom Karena Kematian (24)

: tersenyum

Ga bermaksud menjelekkan dia atau siapa pun. Ini proses gue meringankan langkah dalam hidup. Dan ini lumayan lebih ringan setelah bercerita ke dunia luas.
Cerita masa lalu ini bukan hal yang buruk, tapi juga jelas bukan hal yang diimpikan untuk terjadi. Dalam pikiran dan impian, tentunya ingin memiliki rumah tangga yang harmonis, penuh kasih, dan senyum. Lepas dari segala yang bernama kemarahan, bentakan, umpatan, cacian. Hanya full bahagia saja.
Sewaktu dia dirawat di rumah sakit, Ngka, Esa, Pink, beberapa kali menjenguk. Tapi mereka malah lebih memilih hanya 'setor muka' sejenak, cium tangan papa mereka, lalu keluar ruangan. Ga ada yang berada di dalam bersama dia. Saat itu gue menemani tiga nyawa kecil. Ga tahu deh dia bersama siapa di sana. Mungkin bersama mama atau bap. Karena Ngka, Esa, Pink, diantar mama dan bap ke rumah sakit.
Awalnya sih dia ga mau dijenguk oleh teman-temannya. Alasannya, malu. Tapi lalu beberapa temannya menjenguk, mereka tahu dari gue. Ingin sekali melihat dia tertawa bersama teman-temannya, agar semangat hidupnya ga hilang.
Dia sering bertanya begini,"Aku kok ga pulang-pulang? Orang-orang udah pada pulang. Kamu tanya yang bener ke dokternya."
Biasanya gue akan menjawab,"Yang lain tuh bodoh, makanya udah pada pulang. Kamu pinter, jadinya di sini terus."
Gue kebal dimaki olehnya, jadi akhirnya ya santai saja menjawab.
"Aku mau celanaku dibawa ke sini. Aku mau pakai."
Lumayan ribet menolaknya. Gue berpikir keras untuk menolak agar dia ga tahu alasan sebenarnya gue ga mau membawa celana itu. Perutnya sudah mulai membesar, pastilah celana itu ga cukup lagi.
"Nanti aku cari. Tapi kan susah pakai celana itu, Pa. Mending pakai celana pendek aja. Gampang."
Ga tahu kenapa, kok ya dia ga menuntut gue ambil tuh celana.
Lama dirawat, dia mulai disorientasi waktu. Pagi, siang, sore, malam, mulai bingung. Jadi gue selalu memberitahunya setiap dia membuka mata.
"Masih pagi, Pa."
"Sudah siang, Pa."
"Mulai sore, Pa."
"Malam, Pa."
Ga ada reaksi apa-apa sih dari dia, tapi gue selalu memberitahunya.
Pernah satu waktu dia gue ajak ke luar ruangan, agar relaks.
"Pa, ke luar, yuk. Duduk di depan kamar."
Eh, dia mau! Gue seneng banget! Gue bantu dia turun dari tempat tidur, menuntunnya ke depan. Duduk di sana.
"Pa, gini loh, Pa. Kayak aku, kaki digoyang-goyang, jadi santai. Jangan tegang."
Eh, dia mau! Gue tambah seneng pakai banget-banget!
Lalu gue ajak dia berjalan ke depan taman.
Eh, dia mau!
Pelan-pelan kami berjalan menuju depan taman. Gue menggandengnya.
Eh, dia menepis! Gue tertawa.
Duduk di kursi yang disediakan, kami diam tanpa obrolan sedikit pun.
Biar sajalah, yang penting dia tenang.
Ga lama kemudian dia minta kembali ke kamar.
"Aku ga mau lagi jalan-jalan!"
Gue tersenyum, dan ga menjawab.
Kembali masuk ke ruangan, kembali berbaring, lalu tidur.
Sudah dulu, ya. Nanti gue lanjut lagi.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 13 Oktober 2017, Petro: mengantuk tapi ada tugas yang harus dikerjakan



14 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (25)

: mengingat

Mengingat, teringat, kenangan masa lalu terkadang mengejutkan diri sendiri, karena kenangan itu sudah lama dipendam hingga gue lupa bahwa itu pernah terjadi.
Menjadi single mom karena kematian bukan sebuah hal yang so sweet dibanding yang bercerai di pengadilan. Semua tergantung bagaimana cerita perjalanan perkawinan. Dan yang berakkhir di pengadilan pun bukan buruk. Semua tergantung perjalanan yang terjadi. Jadi jangan pernah menghakimi siapa pun.
Di rumah sakit, semua berjalan 'baik-baik' saja. Gue bilang baik, karena gue terbiasa dalam situasi dan kondisi seperti itu. Dimarahi, dimaki, diumpat, disalahkan, adalah hal yang luar biasa untuk jadi amat biasa. Ga terpikir lagi untuk meminta cerai, karena fokus pada menumbuhkan semangat hidupnya.
Amat menyedihkan saat melihat di hadapan mata, seorang yang dicintai sedang kesakitan. Amat menyedihkan saat melihat dia yang sebelumnya begitu energik, tiba-tiba berubah menjadi orang yang ga berdaya. Gue benar-benar bersedih, dan merasa harus mengubah sedih yang ada menjadi bahagia agar dia pun menjadi bahagia! Tapi bagaimana caranya?
Gue semakin berusaha mengukir senyum untuknya, juga pada semua orang. Karena kalau sebentar saja gue menghentikan senyum, pastilah kepahitan menyerbu masuk ke dalam hati, lalu melenyapkan seluruh senyum! Padahal gue ingin dia bahagia. Cara membahagiakan orang ain adalah dengan menularkan kebahagiaan. Cara menularkan bahagia adalah dengan menjadi bahagia. Cara menjadi bahagia adalah dengan membahagia di seluruh kejadian hidup, mensyukuri seluruh kejadian hidup.
Ya, bahagia saja!
Gue memegang kursi erat-erat saat dia berusaha menelan obat. Susah sekali, dan terlihat amat kesakitan.
Gue berusaha menenangkan saat dia berkata,"Panas, panas, badanku dibakar api, panas!"
Gue menjawab iya, saat dia berkata,"Ada pangeran datang ke sini. Itu dia!"
Gue berusaha menjawab tenang saat dia berkata ke gue,"Kamu siapa? Namamu siapa? Kamu rumahnya ngontrak di mana?"
Sudah dulu, ya. Nanti gue lanjutkan lagi.

Salam Penuh Kasih,
Nitaniit Kasapink, 14 Oktober 2017, rumah dua jendela: saya ibu dari 3 anak.



Nitaninit Kasapink https://www.facebook.com/nitaninit.kasapink/posts/1449208091831154
16 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (26)

: saya, kamu, bukan berarti kami.

Siapa pun pasti ingin mendapatkan hal yang indah. Tapi indah bagi manusia belum tentu sesuai dengan yang dipikirkan oleh GUSTI. Begitu juga yang gue hadapi. Gue berharap memiliki perjalanan perkawinan yang baik, interaksi antar anggota keluarga pun baik. Tapi ternyata ga.
Bukan berarti gue sedang menjelekkan siapa pun, tapi gue sedang mengosongkan cerita masa lalu, agar bisa meringan dalam langkah bersama tiga kekasih, Ngka, Esa, Pink. Masa lalu yang mungkin ga sesuai dengan harapan kami.
Pernah berantem sama suami atau istri? Kalau ga pernah, bersyukurlah. Kalau pernah, bersyukur jugalah.
Gue ga pernah berantem, karena gue ga pernah mem-berantemi suami. Gue hanya sebagai pendengar bentakan, umpatan, juga cacian dan makian. Enggan menjawab karena gue pikir, hidup gue indah, ga ingin mengisi dengan aura negatif. Dia negatif, ya biar saja. Tapi gue pun ga pernah ingin mengeluhkan ini pada siapa pun, apalagi mencari penggantinya semasa dia masih sebagai seorang suami.
Saat dia rumah sakit, ya, dia membutuhkan gue. Dan gue ga pernah merasa ingin pergi dari dia, karena gue adalah seorang istri dan dia seorang suami. Setidaknya itu yang tertulis di buku nikah. Walau pada kenyataannya dia ga pernah menganggap gue sebagai istri.
Gue berbahagia bisa menjadi seorang ibu. Catat ya, sebagai ibu dari Ngka, Esa, dan Pink. Tapi sayangnay dia ga berbahagia sebagai seorang ayah. Kalau dia berbahagia, ga selayaknya dia mengumpat di depan anak-anak, memaki di hadapan mereka, dan membentak tanpa merasa bahwa apa yang dia lakukan itu adalah pelajaran cinta kasih pada anak-anak.
Gue bukan bertahan dalam perkawinan. Tapi gue bersama tiga kekasih, tiga nyawa kecil, yang berbahagia berempat tanpa dia.
Kenapa?
Karena dia ga ada dalam keseharian kami.
Dia dalam kehidupannya sendiri, dan kami berempat dalam kehidupan kami sendiri.
Gue berbahagia karena tiga nyawa kecil, tiga kekasih, ada bersama gue dalam keseharian, bukan berada dalam pengasuhannya. Ga terbayang kalau dia ada dalam pengasuhan bersama. Pengajaran dan contoh kasih yang luar biasa ga baiknya, jadi dasar kasih Ngka, Esa, Pink. Bersyukur kami ada tanpa dia.
Ga terbayang umpatan-umpatan masuk ke hati anak-anak. Ga terbayang makian dipelajari oleh anak-anak. Ga terbayang juga perilaku kasar dicontoh oleh anak-anak.
Gue hanya ingin tiga nyawa kecil berada dalam cinta kasih, dan cinta kasih sebagai dasar hidup mereka seumur hidup.
Membangun cinta kasih dalam hidup anak-anak adalah yang terpenting untuk gue. Makanya saat gue merasa mulai give up, gue berencana untuk meminta cerai.
Kenapa?
Karena gue adalah contoh utama untuk anak-anak. Kalau gue give up dan merasa tertekan, pastinya gue ga bisa memberi contoh baik pada mereka. Pastilah ga akan pernah bisa memberi aura positif untuk mereka. Saat senyum hilang, segala hal negatif akan segera menyerbu.
Gue mencintai suami, dan lebih lagi mencintai tiga nyawa kecil, tiga kekasih.
"Ngapain aja kamu?" Bentaknya.
Saat itu gue sedang mendampingi anak-anak belajar.
"Aku yang harus kamu layani!"
Gue sedang bersama anak-anak, menyiapkan makan mereka.
"Pulang! Bukan mereka yang harus kamu bantu!"
Ketika itu kami berlima ke sebuah pusat perbelanjaan, dan tiga nyawa kecil bermain trolly. Gue berusaha menjaga mereka agar tidak mengganggu pengunjung lainnya.
Sebenarnya banyak yang terjadi, tapi rasanya gue ga sanggup untuk menceritakan semua bentakan yang tertuju ke gue, karena menurutnya ga mengutamakan dia. Padahal saat itu gue sedang bersama tiga nyawa kecil, tiga kekasih, yang notabene anak gue dan dia. Mungkin di selanjutnya gue bisa bercerita lebih ringan. Saat ini ternyata masih berat menyeritakan dengan ringan hati.
Plis, gue hanya ingin menyuarakan,"Hargai keluargamu. Suami, istri, anak-anak, semuanya. Kalau ga bisa menghargai dengan baik, coba bertanya pada hatimu, maukah kamu berada di posisi seperti gue?"
Kekerasan itu ga indah. Untuk kamu yang sedang menerima kekerasan, pikirkan lagi dengan baik, apakah bisa menerimanya dengan lapang? Apakah benar bisa menjaga anak-anak dari kekerasan?
Untuk yang melakukan tindak kekerasan, pikir sekali lagi deh, enak atau ga, mendapat tindak kekerasan.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 16 Oktober 2017, Petro: GUSTI, saya tahu selalu ada dalam genggaman dan dekapanMU. Kuatkan saya, amin.


16 Oktober · 
cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (27)

: marah

Hai, gue sedang melemaskan ketegangan di kepala yang sepertinya makin menegang saat bercerita masuk ke bagian rumah sakit.
Ingin rasanya meneriakkan pada dunia, jangan mau menerima kekerasan sedetik pun. Tapi rasanya akan lebih tepat berteriak, jangan melakukan kekerasan sedikit pun pada siapa pun. Karena akibatnya amat luar biasa.
"Aku minta kamu bikin kangkung petis! Bukan begini caranya!"
Gue yang sedang ngulek bumbu, terdiam.
"Bodoh banget!"
Gue diam.
Lalu dilemparnya coet dan muntu ke tempat sampah.
Gue diam? Ga, gue menjawab,"Aku lihat kok bumbunya memang ini. Kan sewaktu ayu' pecel bikin, aku lihat. Ibumu juga pernah kasih tahu aku, bumbunya memang itu."
Dia diam, lalu pergi meninggalkan gue yang mengambil coet dan muntu dari dalam tempat sampah.
"Jangan pegang hp-ku!"
Gue kaget. Karena gue hanya akan memindahkannya sejenak. Saat itu sedang membersihkan bufet dari debu.
"Di mana kamu?" Tapi nadanya membentak.
"Aku nunggu kamu, Pa. Kan kamu minta dijemput."
Ternyata jawabannya membuat gue lemas.
"Aku udah di rumah! Pulang! Kayak pelacur kamu!"
Ya GUSTI, gue menjemput di tempat yang dia minta. Di pinggir jalan, di malam yang gelap, selama 2 jam sendirian. Tapi ternyata dia sudah ada di rumah. Apa gue salah?
"Siapa yang suruh bikin acara ulang tahun di sekolah?" Tapi dengan nada membentak by phone.
Waktu itu ulang tahun Esa yang ke-5 tahun. Dan gue sudah meminta izin jauh hari sebelumnya. Rincian biaya pun sudah gue berikan. Dan dia setuju. Ga tahu kenapa saat hari H, dia ngamuk sejadi-jadinya. Gue cuma diam, bengong.
"Cuma disuruh translate aja ga bisa cepet!"
Trus kenapa dia ga translate sendiri? Tapi gue hanya diam. Gue harus translate 1 buku untuk keperluannya, dan diberi waktu cuma 2 hari. Dua hari dengan segala aktifitas yang ga bisa dibilang sedikit.
"Ngapain aja kamu di rumah?" Bentakan itu udah jadi makanan keseharian gue. Yang gue kerjakan adalah menjadi pembantu rumah tangganya, juga baby sitter.
Seorang sahabat yang amat baik pernah berkata,"Dia suamimu, dan kamu istrinya."
Dengan menahan sakit, gue menjawab,"Dia suamiku. Aku pembantu rumah tangganya, pelacurnya, pabrik anaknya, baby sitternya, juga tempat sampahnya."
Sudah dulu, ya. Sudah hampir pulang. Ada janji mau ketemu dengan seorang sahabat di dekat rumah.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 16 Oktober 2017, Petro: saya hanya ingin damai, itu saja.



17 Oktober · 
Cerita Seorang Single Karena Kematian (28)

: saya dan anak-anak bukan hal hina

Sekali lagi mengingat. Memaksa otak untuk recall masa lalu. Gue ga bohong, ini sungguh luar biasa! Gue yang merasa sudah bisa tenang dalam mengenangnya, sudah tanpa rasa sakit dan tangis, ternyata dalam fase pengosongan saat ini, air mata menitik. Ya GUSTI, masih ada yang tertinggal dalam masa lalu. Gue semakin berusaha mengosongkan seluruh kenangan! Ya, harus. Karena gue ingin tenang dalam melangkah, dan tuntas mengampuninya.
Gue bukan seorang yang baik, bukan istri sempurna, juga bukan ibu yang hebat. Gue seorang perempuan yang punya peran sebagai istri, ibu, dan berusaha menjadi istri juga ibu yang lebih baik setiap saat. Gue perempuan yang ga punya keinginan muluk-muluk, hanya berkeinginan dia menganggap gue sebagai istri, juga sebagai ibu, dan dianggap sebagai manusia, karena memang inilah gue.
"Kamu menelepon siapa?" Seperti biasanya membentak.
"Mama."
"Ngapain nelepon segala! Jangan buang-buang uang!"
Gue terdiam, ga menjawab apa pun, lalu memberitahu mama bhwa gue ga bisa menelepon mama lagi.
"Jangan berteman dengan si ini dan itu!"
Disebutkannya semua teman gue, dan dengan nada sinis, dia berkata bahwa mereka ga 'beres'. Semua teman gue, semua. Sewaktu ada reuni, dia pun melarang datang, dia datang sendirian. Kebetulan kami dari fakultas yang sama.
"Anak-anak kurus! Anak orang lain gemuk-gemuk! Kamu tuh ibu yang ga bener!"
Gue diam saja.
"Malu-maluin!"
Akhirnya gue menjawab,"Istri temanmu kurus, ga? Kalau gemuk, ya kamu nikahi istri temanmu, supaya anakmu gemuk-gemuk."
Gue ga tahu apa yang gue katakan ke dia dulu tuh santun atau ga, tapi ternyata berguna banget, dia pergi meninggalkan gue di depan tv.
"Aku lihat pengemis bawa anak bayi di jalan. Persis Pink!"
Ya GUSTI, hampura abdi, nyuwun pangapuro, saat itu gue sakit hati sekali mendengar bentakannya.
"Anak kok ga lucu!"
Gue terbengong-bengong. Bagaimana dia bisa tahu anak kami ga lucu, sedangkan dia ga pernah mau berkumpul bersama kami.
Ufh, sudah dulu ya, gue harus berhenti dulu. Gue harus menenangkan diri, dan sedang mengumpulkan ingatan tentang dia di rumah sakit. Terlalu banyak kepingan yang hilang. Ini yang gue ceritain sekarang aja beberapa baru bisa gue ingat kembali barusan. Pusing saat teringat.
See? Jangan pernah mau jadi korban kekerasan! Dan jangan pernah jadi pelaku kekerasan!

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 17 Oktober 2017, Petro: gue cuma mau berdamai dan tenang. Itu saja. "GUSTI, please, dekap aku sekarang."



Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (29)

: dia memang dia

Menguatkan hati agar bisa seluruh kejadian diingat untuk kemudian ditulis, agar bisa legawa seutuhnya. Legawa tentang masa lalu. Ya, gue ga harus melupakan, tapi harus legawa. Bagaimana bisa memaafkan secara utuh, jika ternyata masih ada hal buruk tertanam sebagai kepahitan tanpa disadari?
Gue sudah memaafkan, dan ingin lega saat memaafkannya.
Saat dia mulai sakit.
Gue memiliki sahabat-sahabat terbaik. Orang yang bijak dan dekat dalam doa.
"Dia seperti itu karena penyakitnya."
Gue tertegun.
"Tunggu, kamu tunggu di sini. Aku pulang sebentar. Aku mau ambil diaryku. Jangan pergi. Tunggu di sini."
Gue berlari ke parkiran motor, ngebut menuju rumah, kembali ke sahabat sambil membawa diary yang gue tulis setiap waktu.
"Ini diaryku. Baca ini. Ini bukan berisi perjalanan keseharianku. Ini berisi perjalanan perasaanku, perjalanan hatiku bersama dia. Baca ini."
Keesokan hari saat bertemu dengannya, sahabat mengembalikan diary. Wajahnya muram, suaranya lebih pelan dibanding biasanya,"Saya sekarang mengerti orang seperti apa yang kamu hadapi."
Sahabat mengajak berdoa bersama,"Saya mau berdoa untukmu."
Gue memegang tangannya erat.
Thank you, kamu tak pernah kami lupakan. Kamu sahabat terbaik kami. Satu hari nanti kami pasti menemuimu.
Sewaktu di rumah sakit, ada seorang lelaki Belanda bijak yang sudah tua, setiap beberapa hari sekali mengunjungi pasien-pasien. Beberapa kali gue melihatnya, tapi ruangannya selalu dilewati, ditoleh pun ga.
Satu hari gue mendekatinya.
"Saya Nita. Suami saya di ruangan itu. Dia kanker hati dan sudah ga bisa diobati lagi. Maukah Bapak menjenguknya? Maukah mendoakannya? Tapi dia ga tahu bahwa dia kanker."
Beliau menggenggam erat telapak tangan gue.
"Siapa namanya?"
Gue menyebutkan namanya.
Kami menuju ruangan tempat dia dirawat. Gue meninggalkan mereka berdua karena gue sudah hampir menangis.
Saat beliau keluar, berkata ,"Saya hanya mau memanggilnya Nita. Saya datang padanya karena kamu. Kalau bukan karena kamu, saya tidak akan mau mengenal lelaki itu."
Gue ga tahu ada kejadian apa di dalam ruangan sewaktu mereka berdua.
Tapi beliau selalu mau mengunjunginya saat melihat gue.
Sudah dulu, ya. Kepingan-kepingan kenangan harus dikumpulkan.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 17 Oktober 2017, rumah dua jendela: GUSTI, kuatkan saya.



Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (30)

: dia

Menggali ingatan yang lama tertimbun dalam-dalam, ternyata membuat gue pusing, mual. Ya GUSTI, kuatkan aku untuk bisa bercerita pelan-pelan, seluruh kisah masa lalu. Bukan untuk menghakimi, tapi justru karena ingin bisa setulus hati tanpa sedikit pun menyimpan kecewa atau pun kepahitan, dalam memaafkan, mengampuninya. Ingin maksimal legawa berdamai dengan kehidupan, berdamai dengan hati.
Gue ingin bercerita tentang seorang sahabat yang gue jumpai di rumah sakit. Lelaki Belanda usia 80 tahun.
Tubuhnya tinggi besar, ramah sekali. Setiap dia berkunjung ke rumah sakit, dia mencari gue. Direngkuhnya gue dalam pelukan hangat seorang bapak. Digenggam eratnya tangan gue saat bicara. Sorot mata tuanya penuh kasih. Tapi dia hanya sekali menjenguk suami, saat awal pertemuan kami. Dia menolak masuk ruang rawat inapnya.
"Saya hanya ingin menjenguk kamu, Nita. Bukan menjenguknya."
"Kenapa? Dia sakit."
"Dia adalah dirinya sendiri. Kamu perempuan baik."
"Nita, saya bicara sebagai diri saya sendiri. Kalau saya punya anak, dan kamu adalah anak saya, tidak akan saya berikan kamu pada dia. Saya tidak akan merelakan kamu menjadi istrinya. Saya bicara sebagai saya."
Gue menangis dalam pelukannya. Beliau tahu pedihnya hati gue, walau gue ga pernah bercerita sedikit pun tentang perjalanan kisah kami. *Gue menangis sambil mengetik.
Beliau selalu duduk di sebelah kiri gue, karena telinga kirinya sudah berkurang pendengaran.
Satu waktu Beliau bertemu mama dan bap di rumah sakit saat berkunjung.
"Ibu, ibu dari Nita?"
Mama mengangguk.
"Ibu punya anak perempuan yang baik. Saya pernah bicara pada Nita, kalau dia anak saya, saya tidak akan memberikannya pada suami seperti itu. Tapi Nita baik, dia mau jadi istrinya."
Pada bap pun beliau berkata hal yang sama.
Pada Ngka, Esa, Pink, beliau memeluk mereka dengan berjongkok,"Kamu anak baik. Mamamu orang baik."
Sudah ya, kepala gue pusing berusaha mengingat lagi. Nanti lanjut lagi, pelan-pelan.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 17 Oktober 2017, rumah dua jendela: menangis pagi-pagi.



   Nitaninit Kasapink  https://www.facebook.com/nitaninit.kasapink/posts/1450744868344143
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (31)

: inilah saya

Memang membutuhkan energi yang luar biasa untuk bisa mengosongkan cerita hidup di masa lalu. Bukan untuk diingat, tapi untuk dibuka secara terbuka, agar perjalanan hari ini meringan. Sebelumnya gue hanya bercerita pada sahabat terdekat, dan itu pun ga bisa menceritakan secara detil. Dan beberapa kisah masa lalu, disamarkan menjadi kisah fiksi yang gue tulis.
Ga ingin bercerita banyak tentang masa lalu bukan karena takut atau pun malu. Tapi lebih ke,"Saya sudah memaafkannya, saya mengampuninya. Saya baik-baik saja. Saya seorang yang bahagia. Tidak ada yang bisa menghancurkan kebahagiaan yang saya punya. Siapa pun dia, apa pun itu, saya bahagia."
Ya, gue percaya bahagia adalah takdir. Jadi gue menghadapi dan menjalani apa pun yang terjadi tanpa banyak protes. Gue percaya semua kejadian adalah kebahagiaan, hanya kemasannya saja yang berbeda.
Hingga akhirnya gue merasa sebenarnya sedang berada di satu titik, menuju legawa. Untuk melegawa, gue harus kuras seluruh kisah yang pernah ada di masa lalu. Harus dibersihkan, harus dikuras, harus tuntas. Bukan hanya bicara sedikit, juga bukan hanya bicara pada sedikit orang, tapi harus pada banyak orang, terbuka pada semua orang, dan harus dibuka semua.
Terengah-engah saat mulai membuka cerita masa lalu. Energi yang sudah gue kumpulkan sejak dulu, dan dikuatkan beberapa waktu, ditambah izin juga energi positif dari tiga kekasih sebelum akhirnya memutuskan waktu menulis yang tepat, tiba-tiba habis! Emosi bergejolak! Ya GUSTI, padahal sudah bersiap untuk menghadapi proses pengosongan ini.
Proses melegowo yang benar-benar legowo ternyata benar-benar bukan hal mudah. Legowo bukan hal yang ringan, tapi kalau sudah benar-benar legowo, pastilah meringan. Ini yang sedang gue jalani sekarang. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Gue ga mau menunggu waktu lagi, karena waktu terus berjalan, hidup terus berlangsung.
Gue berkeinginan melegowo, karena gue mencinta tiga kekasih. Kami masih hidup. Kami masih menghadapi dan menjalani kehidupan yang ada. Kami, bukan hanya gue. Apa jadinya kalau gue, ibu mereka, ga bisa legowo secara tuntas? Kalau hanya legowo sebagian, bagaimana bisa mendampingi mereka dalam hidup dan mendampingi mereka serta membimbing agar bisa menjadi manusia yang legowo?
Gue seorang single mom dengan tiga kekasih, seorang perempuan yang bahagia dengan tiga kekasih, Ngka, Esa, Pink. Gue berbahagia dan tiga kekasih pun bahagia. Gue legowo, tiga kekasih pun lebih mudah menjadi legowo. Proses melegowo ini mengikis seluruh kerak kesakitan, kekecewaan, kemarahan, yang dulu dipendam dalam-dalam. Yang melegakan adalah ternyata kepingan-kepingan kenangan yang hilang dari ingatan selama puluhan tahun, bisa muncul kembali! Ga mudah memunculkan kembali, karena serangan sakit kepala dan mual benar-benar mendera. Tapi gue ga peduli. Bukankah tujuan gue adalah untuk menjadi lebih baik, memperbaiki diri?
Inilah gue, yang ga peduli saat ada yang mencerca karena MEMBUKA AIB. Yang ada di otak gue,"Sekarang saatnya gue harus menjadi lebih baik untuk tiga kekasih yang masih hidup, bukan untuk menjadi baik bagi masa lalu yang pernah gue lalui dengan sebaik mungkin."
Ya, inilah gue dengan proses melegowo yang sedang dijalani.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 18 Oktober 2017, Petro: saya memang bahagia



18 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (32)

: hening itu luhur

Seorang sahabat yang disimpan dalam masa lalu akan gue ceritakan di sini. Seorang yang amat baik, mendampingi gue sejak dia sakit hingga wafat. Menenangkan gue saat tangis meledak, menyejukkan saat kobaran amarah mulai terasa akan memberangus kehidupan. Dia, seorang sahabat yang amat baik, ga pernah meninggalkan gue yang sedang dalam masa 'krisis ketahanan mental". Dia, sahabat yang gue percaya untuk membaca diary yang gue tulis. Seorang yang dekat dengan doa, yang bijak dalam tenangnya senyum.
Gue mencintai suami sepenuh hati, merindukannya saat dia ga ada di rumah, tapi juga merasakan 'dibunuh' setiap kali oleh sayatan kalimatnya, dan dicampakkan dengan jiwa dibalut luka karena tusukan penyikapan terhadap gue dan pada tiga nyawa kecil kami.
Basicly dia seorang yang baik, tapi lupa bahwa seindahnya hidup adalah diisi dengan kasih yang tulus.
Saat suami mulai sakit, gue mulai hidup dengan rutinitas khawatir akan kesehatannya. Ya, hanya bisa khawatir, karena dia berada di luar kota, sedangkan gue ga berani mengirim sms. Hanya membalas sms kalau dia meminta gue untuk membalasnya.
Semakin hari kesehatannya menurun. Gue berusaha keras untuk bisa handle segala kekhawatiran dengan tenang. Menyerahkan rasa khawatir pada GUSTI.
Gue berlari ke seorang yang dekat dalam doa. Bercerita tanpa ekspresi. Hanya ingin mengurangi beban di otak saja.
Kami menjadi sahabat. Dia sangat baik, orang yang baik. Segala emosi dengan tenang diterima dalam senyum. Segala perkara yang membuat gue bingung, dibantu solusi yang amat bijak.
"Aku harus mengantar anak-anak pagi-pagi. Tapi dia marah! Dia ga mau aku mendahulukan anak-anak. Padahal anak-anak juga membutuhkan aku!"
"Apa yang kamu terima kalau dia marah?"
"Aku pasti diusirnya!"
"Diusir? Setiap kali kamu diusir?"
"Ya!"
"Sudah biasa diusir olehnya?"
"Ya!"
"Ya sudah, antar anak-anak, toh kamu sudah tahu, paling juga diusir. Sudah biasa diusir oleh dia, to?"
Lalu gue dengan ketenangan luar biasa mengantar anak-anak, setelah itu ke rumah sakit. Diusir? Biar saja. Toh biasanya pun diusir.
"Ini bawa untuk anak-anak. Saya sudah ada."
Bahan makanan untuk sebulan diberikannya untuk kami. Gue ga pernah meminta sedikit pun.
"Doakan aku, sekarang. Cepat, sebelum aku ke rumah sakit."
Didoakannya gue, walau dia tahu kami berbeda.
"Doakan dia, cepat. Aku sudah mau berangkat."
Gue menemuinya hanya untuk bercerita, menangis.
Dari dia juga gue akhirnya mengenal hening.
"Diam saja, dengarkan DIA. Luangkan waktu untukNYA. Hening, hening saja."
Mulai sejak itu gue mulai mengheningkan diri, mengheningkan hati, mengheningkan jiwa. Dan itu sungguh menenangkan dan menyejukkan.
Sahabat gue seluhur namanya, Luhur.
Terima kasih banyak. Satu waktu nanti pasti kami mengunjungimu.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 18 Oktober 2017, Petro: sahabat adalah orang yang menerima tanpa menghakimi, tapi menerima sambil membantu perbaikan diri.



Nitaninit Kasapink https://www.facebook.com/nitaninit.kasapink/posts/1451723734912923
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (33)

: tiga nyawa kecil, tiga kekasih

Cerita ini meloncat ke sana dan sini karena gue hanya menuliskan apa yang teringat dan yang bisa diingat. Bukan sedang menyusun sebuah cerita, tapi bercerita untuk mengosongkan diri agar bisa tenang mendekat dalam doa dengan kelegawaan yang lebih utuh. Gue ga ingin menyimpan setitik pun kepahitan. Ini sebagai proses menjadi lebih legawa, dan menuju legawanya hati, berdamai dengan hati, pikiran, jiwa, hidup.
Gue menuliskan ini bukan karena trauma masa lalu. Nop! Selama ini pun gue sudah tenang bercerita tentang masa lalu. Bisa santai menjadikannya contoh tanpa menjadi sakit hati. Gue sudah bisa melepas kesuraman yang muram sejak dulu. Tapi gue ingin bisa menjadi gelas kosong yang siap diisi oleh kehidupan yang indah. Ingin menjadi gelas kosong yang bisa menerima isi dari GUSTI tanpa dipengaruhi masa lalu sedikit pun. Gue percaya hidup berkali-kali, karena setiap hari selalu baru, dan selalu dengan cerita yang juga baru. Karena itu gue kosongkan seluruh ruang masa lalu agar bisa mengisinya dengan masa sekarang. Gue mencintai hari ini, hanya hari ini, setiap hari.
Tiga nyawa kecil yang sudah berubah menjadi tiga kekasih adalah salah satu hal yang membuat gue makin kuat ingin menjadi orang yang legawa. Mereka sudah besar dan gue berkeinginan mendampingi juga membimbing mereka ke arah legawa. Yang berarti gue harus legawa terlebih dulu.
Apakah tiga kekasih membenci papa mereka?
Ga. Mereka tetap mencintai dan menyayanginya.
Gue ga mau menjelekkan papa mereka. Saat mereka kecil hingga sekarang, gue ga menghakiminya sebagai pesakitan, tapi juga ga membenarkan sikap dan perlakuannya.
Saat dia di rumah, anak-anak ga mendekat bukan karena takut, benci, atau apa pun. Tapi lebih karena gue berusaha meminimalisasi mereka mendapat kemarahan atau mendengar kemarahan atau melihat kemarahan. Lebih baik menjaga daripada menyesal.
Saat dia ga di rumah, mereka bebas bereksplorasi di rumah. Bersandiwara kemping, mendirikan tenda, dan masih banyak lagi hal yang bisa dilakukan. Ketika dia ga di rumah, rapi dan sepi. Kami menjalani tanpa rasa benci, atau pun marah.
Bernyanyi-nyanyi sambil keliling perumahan, bisa dilakukan jika dia ga di rumah.
Main games, juga kalau dia ga di rumah.
Dulu gue membimbing belajar gratis untuk siapa pun yang ingin belajar. Hanya bisa dilakukan jika dia ga di rumah. Dia marah besar kalau ada orang lain ke rumah. Kecuali kalau ada hubungannya dengan dia. Galon air pun hanya diantar sampai teras. Ga diperbolehkan si abang pengantar untuk memasang di dispenser. Gue yang mengangkat sampai memasang.
Kami menerima perlakuannya, penyikapannya, dengan perlakuan dan penyikapan yang bukan menentang. Bukan takut, tapi lebih memilih suasana damai.
Setelah dia meninggal, apakah kami marah? Ga. Kami dulu sering menyambangi makamnya karena masih di kota yang sama.
Mengasihinya, itu yang kami lakukan. Mengasihinya, itu penyikapan kami terhadap semua sikapnya.
Udah dulu, ya. Nanti dilanjut lagi.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 19 Oktober 2017, Petro: mengingatmu



19 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (34)

: dia, kami

Dia seorang lelaki yang baik jika saja menyadari bahwa kasih adalah kelembutan, kasih bukan amarah, kasih bukan menyakiti. Dia seorang yang penuh senyum jika menyadari bahwa kami bukanlah musuh, dan ga pernah memusuhinya.
Dia seorang lelaki yang pernah menjadi pacar, lalu menjadi suami, kemudian menjadi ayah dari anak-anak kami. Dia, lelaki yang kami harapkan menyayang dan melindungi kami.
Dia seorang lelaki yang penuh tawa kalau saja mau membagi cerita pada kami. Dia lelaki yang penuh dengan kenangan indah jika saja mau mengisi hari bersama kami.
Dia seorang lelaki yang pasti hangat dalam pelukan jika saja memeluk kami.
Ya, dia seorang yang jika saja dan jika saja.
Kami adalah empat orang yang berharap bisa merasakan kelembutan tulus, mendengar suara penuh kasih, di kehidupan yang dijalani.
Kami adalah empat orang yang berharap bisa dianggap sebagai manusia yang punya peran sebagaimana adanya kami, seorang istri, ibu, juga anak.
Kami adalah empat orang yang berkeinginan dan memang selalu mengisi hari dengan segala macam cerita hingga tertawa bersama. Mengisi seluruh detik dengan kasih hingga menjadi kenangan indah untuk kami.
Ya, inilah kami yang berharap dan akhirnya menghadapi dan menjalani saja yang ada tanpa berpikir seharusnya dia ga seperti itu, seharusnya dia seperti ini, bla-bla-bla. Nop.
Bertahun setelah dia meninggal, pernah kekasih sulung, Ngka, bertanya,"Mama ga kepengen tahu gitu, kenapa kok dia ga bertanggung jawab sama sekali ke kita? Ada perempuan lain, Ma."
Gue menjawab,"Ga pengen tahu. Biar aja. Yang terpenting untuk Mama adalah kalian bertiga."
Pernah merasa nelangsa banget rasanya waktu Pink kecil bangun tidur, menangis,"Mama, Pink lupa mukanya papa."
Itu setelah beberapa tahun sang papa meninggal.
Dia seorang lelaki, seorang suami, seorang ayah, juga sekaligus seorang yang ga ingin memerankan seorang suami, juga ayah.
Kami mengasihinya. Itu saja.
Sudah dulu, ya. Nanti dilanjut lagi. Mau bercerita tentang rumah sakit, tapi ternyata gue harus menenangkan diri banget, karena cerita ini banyak menguras energi.
"GUSTI, paringono kiat, amin."

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 19 Oktober 2017, Petro: kok rasanya melelah. Harus berhenti dulu.



19 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (35)

: dia dan sakitnya dan sehatnya dan segalanya (entahlah, I just need a big hug this time!)
Perlu banyak energi untuk bisa mengingat lalu menyeritakan terbuka di sini. Antara ingin bercerita dan ga hendak mengingat, juga usaha mengingat hal yang sulit sekali diingat.
Di rumah sakit, semakin hari dia makin cepat tertidur. Gue mendampinginya, mendoakan untuk datangnya mujizat baginya. Menyehat cepatlah jika memang menurutMU sehatlah dia. Panggil cepatlah jika memang menurutMU kembali padaMU adalah yang terbaik. Jangan beri dia kesakitan yang berlama-lama. Kasihanilah dia.
(Sumpah gue menahan tangis mengetik ini. Berharap seseorang datang memeluk saat ini juga. Tapi ga ada. Ya GUSTI, kok sedih banget mengingat kesakitannya.)
Di malam yang sepi, gue mengheningkan diri di luar ruangan. Memandang taman yang gelap. Terkadang bingung lalu menelepon sahabat hanya agar bisa mendengar suara selain perawat.
Sewaktu-waktu hp gue berbunyi, karena dia menelepon ketika terbangun. Gue pun segera masuk ke ruangan. Seperti biasa, dia membentak. Gue ga menyalahkannya, karena mungkin dia memang ga tahu bahwa tanpa membentak pastilah dunia menjadi amat damai.
Ditanyakannya gue kemana, kenapa meninggalkan ruangan, dan bla-bla-bla. Gue menjawab tanpa meninggalkan senyum. Juga tanpa air mata. Seumur hidupnya dia ga pernah lihat gue mengalirkan air mata.
"Tadi ada yang jenguk aku. Perempuan pakai baju putih, dia ngelilingin tempat tidur. Kamu kemana?" Bentakan yang lemah diucapnya.
"Perempuan yang mana?"
"Berdua. Tadi, berdua!"
Gue menjawab,"Oh, yang tadi? Sudah pulang, Pa."
"Siapa dia?"
"Suster."
Padahal sama sekali ga ada yang menjenguk. Mungkin dia bermimpi, atau mungkin berhalusinasi. Karena semakin hari halusinasi makin kuat.
Sudah dulu, ya. Gue ga tahan cerita ini. Nanti gue lanjut lagi.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 19 Oktober 2017, Petro: crying at my desk



Nitaninit Kasapink  https://www.facebook.com/nitaninit.kasapink/posts/1451865518232078
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (36)

: mengingat kesakitannya ternyata lebih menyakitkan
Baru menyadari ternyata mengingat kesakitannya lebih menyakitkan untuk gue. Dan gue harus menguatkan diri untuk bisa terus mengingat, menyeritakan di sini.
Selama dia di rumah sakit, selama itu pula gue mencium bau darah anyir yang menyengat, padahal dia sama sekali ga ada pendarahan. Tiga minggu di rumah sakit, selama itu juga bau darah itu ada. Gue mencari asal bau itu, tapi ga pernah bisa menemukannya. Berakhir di tempat dia tidur, tapi ga ada darah. Dan cuma gue yang mencium bau itu. Orang lain ga mencium itu. Juga dia. Gue ga tahu itu sebenarnya berasal dari mana, dan kenapa ada bau darah. Tiga kali pindah ruangan, bau darah itu tetap ada.
Di rumah sakit, tetap berusaha dengan minum ini dan itu, yang katanya bisa menyembuhkan. Tapi memang garis hidup sudah ditentukan.
Gue ga tahu ini sebaiknya gue ceritakan atau ga, tapi setelah dipertimbangkan dan benar-benar menguatkan diri, gue mau cerita hal yang satu ini.
Pasti tahu kan pengobatan alternatif? Alternatif yang ini ada unsur gimana-gimana gitu. Gue cerita ya.
Seorang yang dekat dengan dia (ga usah gue sebut siapanya, ya?) memberitahu gue, tepatnya memberitahu tapi harus dilakukan, untuk penyembuhan lewat hal-hal yang menurut gue di luar akal. Sebenernya gue ga percaya hal itu, karena menurut gue, menyerahkan pada GUSTI adalah yang paling tepat. Tapi kalau gue menolak, bisa-bisa gue dibilang ga pengen dia sembuh.
Gue harus membayar Rp. 2.000.000,- untuk pengobatan yang gue bisa bilang bullsh*t. Yes, dua juta rupiah.
Untuk apa?
Beli kambing.
Kambing itu sebagai media pengganti. Jadi sakitnya pindah ke kambing.
Gue ga lihat kambingnya, gue ga tahu tuh kambing ada atau ga sebenernya. Yang pasti katanya setelah itu kambingnya dimasak dan dimakan. Gue juga ga tahu tuh kambing dimasak apa, dan dimakan oleh siapa. Gue cuma disuruh nyetor sebanyak itu.
Setelah itu ada lagi harus nyetor nominal segini dan segitu. Kalau sekarang gue membayangkan setorannya, lumayan juga ya untuk tahun 2007, dan dalam kondisi seperti itu.
(Bersyukur, menyeritakan si kambing, gue berhenti menangis.)
Yang terakhir ada lagi cerita. Katanya si Anu itu yang juga orang dekat dia (masih orang yang sama), memberitahu bisa ini dan itu. Waktu itu antara lemas karena harus mengusahakan uang lagi, dan harus merasa dikadalin padahal gue sedang butuh dukungan tulus.
Lanjutannya nih:
"Jadi, si Anu melihat Henk (suami gue) di dalam ruangan. Seperti ruang operasi. Si Anu ga bisa masuk ke dalam. Si Anu melihat di luar ruang itu ada lampu seperti di depan ruang operasi. Lampunya masih menyala merah. Berarti masih hidup."
Yaelah, ga usah pakai si Anu, kali. Gue juga tahu suami gue saat itu masih hidup. Lah belum dimakamin!
Itu berlanjut terus. Gue cuma tersenyum sambil,"Oh gitu? Oh ya? Oh, syukurlah."
Kondisi dia? Ya memburuk aja.
Sudah dulu, ya. Lanjut lagi nanti. Gue malah pengen ngakak ingat kambing dan lampu depan ruang operasi yang kadal banget itu.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 19 Oktober 2017, Petro: hujan, dan gue memandang airnya yang mengguyur kaca jendela ruangan HR. Bukan ruangan operasi, loh ya  :D




19 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (37)

: saya mencintai, berharap dicintai, dulu.

Karena hujan deras, gue masih ada di depan monitor dan masih di sini, belum pulang.
Kembali mengingat masa lalu, dan meloncat ke sana karena ingin mengosongkan diri. Harus kosong, agar bisa mengisi hidup dengan seluruh keindahan dari GUSTI tanpa kepahitan walau hanya setitik kecil.
Gue merasakan dia ga mencintai gue. Ah ya sudahlah, gue sudah tahu itu. Tapi rasanya mengejutkan saat dia berkata,"Aku ga pernah mencintai kamu sejak dulu."
Itu diucapkan sewaktu putri bungsu sudah sekolah. Menyakitkan? Lumayan. Tapi dengan tenang gue menjawab,"Yah, kenapa ga ngomong dari dulu? Coba ngomong dari dulu, jadi aku tahu gimana harus bersikap. Maafin aku, ya, Pa, kamu jadi terperangkap di perkawinan ini."
Lalu gue keluar dari kamar, tanpa setitik air mata pun.
Tahu lagu Cinta Pertama (Sunny) -nya BCL? Kalau ga tahu, coba aja cari di youtube. gue sering menyanyikan lagu itu, dulu. Karena gue merasakan seperti itu. Ya, sama seperti lirik yang ini: Tiap kali aku berlutut, aku berdoa suatu saat, kau bisa cinta padaku.
Itu doa gue ke GUSTI tentang dia.
Tahu lagu Cinta Di Ujung Jalan-nya Agnes Monica? Liriknya begini:
Setiap tetes air mataku
Telah kuberikan untuk kisahku
Mengerti tapi tak dimengerti
Cintaku t'lah di ujung jalan
Setiap kata dari bibirku
Kadang tak sama dalam hatiku
Tersenyum dalam hati menangis
Cintaku t'lah di ujung jalan
Aku sangat mengenalmu
Aku juga cintaimu..
Tapi kau tak pernah ada pengertian
Ku senang, ku sedih
Kau tak mau tahu
Aku sangat mengenalmu
Dulu kau tak begitu
Kau bintang di hatiku
Jadilah yang kumau
Ku senang, ku sedih
Kau ada denganku
Ku mengerti kau apa adanya
Begitupun yang kumau darimu
Kau tahu rasanya diabaikan
Cintaku t'lah di ujung jalan
Itu juga gue nyanyikan terus menerus. Karena itu yang gue rasakan, dulu.
Dia dan dirinya sendiri, ga ingin melebur dengan keberadaan gue, dan ga ingin melebur bersama tiga nyawa kecil yang menyayanginya.
Jangan tanya kenapa dia seperti itu. Gue enggan menjawabnya, karena gue ga tahu kenapa.
Remuk redam hati gue, setiap kali menemukan dia hanya sibuk dengan dirinya sendiri.
Malam tahun baru dia ada di rumah. Gue mengirim sms untuknya, berisi doa dan harapan. Tapi sms itu ga pernah dia buka hingga akhir hidupnya. Dan semalaman itu dia sibuk memegang hpnya, sibuk sms. Ga ada ucapan selamat tahun baru untuk gue dan anak-anak. Gue ga berharap dia mengucapkan itu, tapi pasti indah banget kalau dia mengucapkan itu. Dia yang tidur di tempat tidur, dan gue yang tidur beralas lantai.
Waktu gue mengambil hp nya, pagi-pagi, bukan untuk membuka dan melihat isi hpnya, tapi karena jam dinding mati, gue ingin menyocokkan jam hp-nya dengan hp gue, dia berteriak marah,"Ngapain pegang hp-ku!"
Sudah ya, nanti dilanjut lagi.
Pengalaman ini membekas di gue, karenanya gue ingin mengosongkan semuanya.
Hanya ingin legawa.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 19 Oktober 2017, Petro: hujan belum reda.



Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (38)

: hakim?

Sejak awal gue bercerita tentang masa lalu, bukan untuk menghujat siapa pun. Apalagi menghujat almarhum suami. Ga pernah terpikir untuk menghujatnya. Mau tahu kenapa? Gue mencintainya sepenuh hati, mengasihinya karena GUSTI. Jadi ini bukan menghujat dia atau menjelekkan dia. Beberapa orang menyerca gue karena gue menuliskan ini. Menurut mereka, janganlah membuka aib orang lain apalagi yang sudah meninggal. Jadi kalau dia masih hidup, boleh dihujat? Ok, gue masih hidup, jadi dulu pun gue boleh dimaki? Apalagi dulu gue masih lebih muda dibanding sekarang.
Bukan sedang membenarkan diri. Gue bukan orang yang baik, jauh dari kata baik. Gue bukan produk keren. Gue juga bukan produk hebat. Gue seorang perempuan, seorang istri (dulu), seorang ibu, seorang manusia. Begitu juga tiga kekasih. Mereka dari dulu hingga sekarang, adalah anak, dan manusia.
Bukan sedang minta keadilan. Untuk apa? Hanya GUSTI yang Luar Biasa Adil. Gue mempercayakan seluruh hidup dan mati di tanganNYA.
Gue bercerita ini dalam proses mengosongkan diri. Untuk apa? Agar lebih bisa mensyukuri yang terjadi. Gue ga ingin kejadian ini menjadi akar kepahitan yang jadi batu sandungan dalam hidup gue dan tiga kekasih di hari ini setiap hari.
Gue percaya mengosongkan diri akan memudahkan diisi dengan segala kebahagiaan.
Jangan dipikir menyeritakan ini semua adalah hal mudah. Amat sulit. Dan baru tahu ternyata gue mengalami amnesia karena kejadian masa lalu.
Siapa pun boleh saja menghakimi gue karena gue bercerita terbuka tentang kekerasan yang terjadi pada kami. Ga ingin menjawab satu persatu.
Bahagia selalu untukmu, amin.
Jangan mau jadi korban kekerasan.
Jangan jadi pelaku kekerasan.
Jangan pernah memghakimi siapa pun.
Mau tahu kenapa?
Hidup ini isinya cuma bahagia.
Jangan rusak takdir bahagiamu.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 20 Oktober 2017, Petro: saya mencintai hari ini.



Nitaninit Kasapink https://www.facebook.com/nitaninit.kasapink/posts/1452746414810655
20 Oktober · 
Cerita Single Mom Karena Kematian (39)

: kenangan indah

Gue bukan orang baik. Sama sepertimu, juga sama seperti dia, manusia yang berusaha menjadi lebih baik setiap kali.
Dia, lelaki yang ada dalam masa lalu, yang ga akan pernah dihapus dari sejarah hidup, karena ga ada seorang pun bisa menghapus sejarah. Sejarah hidup jangan pernah menjadi batu sandungan, jangan menjadi kepahitan.
Dia seorang yang baik. Ya, baik.
"Wajar kalau pramuniaga itu jutek. Dia capek melayani orang dari tadi."
"Aku mau menemani teman."
Baik, kan? Yes, dia memang baik. Tapi sayangnya dia lupa untuk berbaik juga pada keluarga kecil.
Ish, gue ga menginginkan kebaikan yang berlebihan, kok. Tapi kebaikan tulus yang sewajarnya aja. Memanusiakan kami, istri dan anak-anaknya.
Gue ga meminta dia memerhatikan kami, apalagi memerhatikan gue yang berlebihan, kok. Setidaknya ga membentak, ga memaki, ga memberikan kekerasan pada kami.
Gue ga perlu meminta uang makan untuk kami berempat makan sehari-hari, kan? Juga ga perlu kan merengek agar dia mau membayar tagihan listrik? Dan hal-hal lain.
Ada sebuah kejadian yang gue baru ingat. Waktu itu Pink kelas 1 SD.
Gue suka membuat kalung untuk dipakai Pink. Tiga nyawa kecil juga suka membantu.
"Mama, ini ada biru-biru." Pink berkata sambil menunjuk ke hidungnya.
Gue ga ngerti maksud perkataan Pink.
"Biru-biru?"
"Iya, ini loh," ditunjukannya sebutir manik-manik warna biru, lalu menunjuk hidung.
Gue mengangkat Pink, mendudukkannya di atas bufet. Gue intip, ada warna biru di dalam rongga hidungnya. Ok, berarti sebutir manik-manik masuk dalam hidung Pink.
"Jangan nangis. Kita keluarin, ya. Mama mau keluarin manik-maniknya."
Pink tenang mengangguk.
Ambil jepit rambut besar, lalu berusaha mengeluarkannya. Tapi ternyata ga bisa.
"Jangan nangis. Mama mau nelepon papa."
Pink mengangguk.
Ngka dan Esa duduk di sebelah Pink.
Gue meneleponnya, memberitahu bahwa Pink harus dibawa ke THT, ada sebutir manik-manik di dalam hidungnya.
Dia marah besar, tapi gue ga peduli dengan segala kemarahan yang dia lempar ke gue. Yang terpenting butir manik-manik bisa dikeluarkan dari hidung Pink.
Dia pulang dari luar kota. Bertiga ke dokter THT.
"Sudah ga ada apa-apa, Bu. Tapi tunggu tiga hari. Kalau dari hidungnya tercium bau busuk, harus dibawa lagi ke sini."
Perjalanan pulang, hening. Sebenarnya sih perjalanan berangkat pun hening. Dan gue suka banget keheningan. Daripada kemurkaan, lebih baik hening, kan?
Tiba-tiba,"Kita ke sini. Makan di sini."
Kaget banget mendengar suaranya memecah di keheningan. Kami mampir makan sate kambing. Dan kami bertiga makan. Kami loh, kami bertiga! Luar biasa, kan? Ya, jadi hal luar biasa, karena biasanya kami cuma bengong memandang dia makan sendirian.
Di rumah, ga ada pembicaraan apa pun, cuma ada omongan begini,"Jaga anak-anak tuh yang bener! Buang-buang uang aja! Harusnya aku ga pulang hari ini!"
Aih, gue ga peduli itu. Yang penting Pink terlihat amat gembira!
Mau tahu besoknya apa yang terjadi?
"Ma, Mama tahu, ga? Pink kan tahu waktu manik-maniknya keluar."
"Kok ga ngomong?"
"Ga apa-apa, kan enak, jadi jalan-jalan."
O ow, gue tersenyum. Antara miris dan geli.
So, dia baik, kan?

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 20 Oktober 2017, Petro: ngopi, yuk. Yuk, yuk.



22 Oktober · 
Cerita Seorang SingleMom Karena Kematian (40)

: saya mencintai (kamu)

Saat ini kami sedang dalam keadaan tenang sekali. Sesekali menengok ke masa lalu ketika masih dalam keluarga utuh, tapi ga bisa dibilang utuh.
Jadi teringat lugunya Ngka bertanya ke gue, dulu,"Kenapa Mama memilih papa untuk jadi suami? Kalau Mama memilih yang lain, pasti kita ga akan begini."
Bagaimana bisa ada kita, kalau gue ga memilih papanya?  :D
Gue berusaha menjadikan cerita utuh semua kejadian masa lalu. Ga berurutan, karena yang diketik adalah yang teringat. Untuk megingat membutuhka keberanian. Berani pusing. Pusing dala arti sebenarnya. Ternyata kembali ke masa lalu seutuhnya benar-benar luar biasa efeknya. Bersyukur sekali, dulu gue bisa menghadapi dan menjalani dengan tenang.
Pis GUSTI, jangan lagi-lagi kejadian seperti ini ada di dalam kisah hidup kami. Semua sudah selesai. Sekarang hanya ada kebahagiaan, hari ini adalah kebahagiaan, setiap hari.
Plis GUSTI, jangan lagi ada kekerasan. Untuk siapa pun, dan jangan lagi dilakukan oleh sapa pun pada siapa pun. Efeknnya luar biasa.
Saat di rumah sakit, gue sendiriaan, dan memang sendiri, ga ada orang lain yang menemani gue untuk mendampinginya. Anak-anak masih kecil, jelas ga akan gue perhitungkan untuk mendampingi.
"Nit, ada pageran datang."
"Oh ya?"
"Itu, itu pangerannya masih ada di situ!"
Dia menunjuk ke arah ujung pembaringannya.
Kosong, ga ada siapa pun di sana.
"Berdoa, Nit. Berdoa pangeran!"
"Ya, aku berdoa."
Lalu gue diam, hening, mendoakan agar kesakitannya janganlah diperpanjang. Ga tega meihatnya seperti itu.
"Pangeran itu ngomong apa ke kamu?"
"Katanya, segeralah sembuh."
"Dia ga ngomong apa-apa lagi?"
"Ga."
Kemudian dia tertidur {lagi}.
Dia suami yang gue hormati. Dia imam dalam keluarga. Dia seorang yang kami kasihi.
Ga terpikir lagi tentang meminta bercerai, karena gue sudah sibuk dengan sakitnya.
"Pa, kamu ga apa-apa deh marah-marah, asal sembuh."
Jawabannya membuat gue terkejut,"Aku memang bakal marah-marah terus ke kowe!"
Setelah itu marahnya makin menjadi-jadi.
"Kan katamu aku marah-marah ga apa-apa!"
Gue tersenyum,"Sembuhlah, amin."
Satu waktu dia berteriak,"Au cuma marah ke kamu! Kamu tahu, cuma kamu yang bikin aku marah!"
Gue seperti biasa, cuma diam.
Dia lelaki yang gue pilih sebagai suami. Dan gue berharap perkawinan kami penuh kebahagiaan.
Sudah dulu, ya. Nanti dilanjut lagi.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 22 Oktober 2017: saya lelah



22 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (41)

: selalu terbengong-bengong

Menenangkan gelombang pikiran yang terkadang carut marut bergumul dengan kejadian sekarang yang ga ada hbungannya dengan masa lalu, tapi lumayan membuattermehek-mehek. Halah, emak-emak termehek-mehek kayaknya ga jaman, ya?
Mengingat masa lalu sama saja dengan membuka cerita yang aneh. Iya, aneh, karena dulu pun terkadang gue terbengong-bengong saat menghadapi kejadian itu.
Setiap hari bajunya sudah guesiapkan, rapi dalam lemari. Malam sebelumnya gue tanya besok mau baju yang mana. Pagi guegantung baju di luar lemari. Tapi selalu saja dibuang, lalu dia menggantinya dengan baju lain.
Gue bukan istri romantis, tapi sesekali muncul juga keromantisan gue. Ga romantis-romantis amat sih, apalagi lebay alay kayak gue sekarang. Hanya menuliskan doa di secarik kertas. Tapi biasanya gue temukan kertas itu di tempat sampah.
Gue diam saja. Karena pasti hanya memicu kemarahannya saja.
Tapi dulu pernah juga sekali dia mengirimkan selembar kartu untuk gue, dan itu membuat gue terbengong-bengong! Kartu Imlek mendarat manis di rumah, untuk gue. Itu manis banget, kan?
Sudah ya, nanti dilanjut lagi.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 22 Oktober 2017, Bless you.



23 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (42)

: matanya kosong

Berniat mengosongkan seluruh cerita masa lalu agar meringan, melegawa. Sulit, tapi gue berusaha semaksimal mungkin agar segera selesai.
Menjadi terasa sulit karena juga berusaha melangkah tenang di hari ini dengan segala perkara. Membahagia setiap hari, mencintai hari ini setiap hari.
Tentang dia banyak sekali yang bisa gue ceritakan, tapi memang gue memilih, walau gue tahu seharusnya gue ceritakan seluruhnya tanpa kecuali. Pelan-pelan, ya pelan-pelan mengingat, pelan-pelan memberanikan hati untuk bercerita. Nop, bukan takut pada siapa pun, tapi takut shock saat teringat kembali.
Di rumah sakit, gue lumayan 'kosong' perkara biaya. Tapi gue percaya pastilah ada biaya untuk itu. Bukankah GUSTI ga akan meninggalkan ciptaanNYA? Dan selalu saja diselamatkanNYA gue dari segala kebingungan. Jangan tanya tentang kartu ATM nya. Nol rupiah. Gue juga ga tahu kenapa kok nol rupiah. Sudahlah, itu bukan hal yang ingin gue bahas, dan plis jangan tanyakan tentang ini. Gue hanya mengosongkan diri saja.
Sahabat yang luhur selalu menenangkan gue dengan doa-doanya, juga sahabat tua pun menenangkan gue dengan pelukan eratnya. Ga ada orang lain yang bisa menenangkan gue sebegitu hebatnya! Gue berhutang budi pada mereka berdua. Sahabat-sahabat baik yang luar biasa baiknya!
Teman-teman menjenguk silih berganti. Doa dan doa pun datang setiap kali. Ga ada seorang pun yang membicarakan tentang penyakit dan obat, karena gue meminta mereka untuk tidak bicara tentang dua hal itu. Plis ya, suami gue kanker dan sudah ga bisa diobati, walau dengan suntikan seharga 100 juta saat itu!
Teman-temannya menjenguk dan mengatakan akan ada reuni. Dia menyayangkan sekali ga bisa ikut. Gue berkata, tenang saja, reuni diundur, menunggu dia kembali dari rumah sakit. Teman-temannya diam.
Kamu tahu apa yang gue rasakan saat ini? Tubuh gue mendingin semua. Memang butuh perjuangan untuk menyeritakan detil tentang dia dan sakitnya.
Nanti lagi aja ya dilanjutkan lagi.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 23 Oktober 2017, Petro: I need a big hug.



23 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (43)

: matanya cemas

Saat merasa sudah tenang, gue menguatkan niat untuk menyeritakan tentang masa lalu lagi. Tapi setelah mengetik judul, rasanya ada serangan panik dalam diri gue. Akhirnya gue menenangkan diri lagi dan lagi.
Ok, gue cerita lagi, ya.
Saat di hadapanmu seorang yang kamu cintai setulus hati, kamu kasihi setulus doa, menderita sakit, terkapar, apa yang ada di hatimu? Apa yang ada dalam pikirmu?
Gue?
Rasanya ikut terkapar!
Tapi gue ga mau terkapar!
Gue harus bisa menariknya ke dunia yang indah dan penuh kasih juga cinta.
"Apa aku bakal mati?
"Aku juga bakal mati, Pa."
"Apa sakitku ga bakal sembuh?"
"Siapa bilang? GUSTI menyembuhkan siapa pun."
"Aku pasti ga akan mati."
"Ya, kamu disehat dan dipulihkan."
Jangan dikira percakapan pendek ini ga butuh napas panjang. Ini butuh perjuangan besar dalam diri gue.
"Nit, memangnya aku sebentar lagi mati?"
"Kata siapa?"
"Aku!"
"Yuk nyanyi aja."
Matanya penuh kecemasan.
Matanya penuh kebingungan.
"Ini di mana?"
Sudah ya, nanti dilanjut lagi.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 23 Oktober 2017, Petro: saya mencintai hari ini, setiap hari, seperti saya mencintaimu.



24 Oktober · 
Cerita Single Mom Karena Kematian (44)

: lelah

Ternyata menjadi legawa itu luar biasa banget prosesnya! Selama ini sudah benar-benar merasa legawa, ga merasakan sakit hati, tapi ternyata memang hati manusia itu dalam sekali, mengurasnya butuh energi luar biasa, dan butuh ketenangan yang luar biasa juga.
Ternyata menguras hati bukan hanya butuh satu kali, tapi berulang kali. Dan gue sebenarnya sudah melegawakan berulang kali, setiap hari memroses legawa, dan yang sekarang untuk memastikan apakah sudah tuntas atau belum. Lagi-lagi, ternyata masih ada yang melekat!
Keputusan semakin menguat untuk menuntaskan semua!
Setiap gue sedang ga di rumah sakit, dia menelepon ga henti. Terus menerus. Ga berhenti menelepon, untuk meneriaki harus kembali ke rumah sakit. Dan itu membuat gue benar-benar bingung, dan terburu-buru kembali ke rumah sakit. Sebagai catatan, dia ga berani sendirian di rumah sakit, ga berani makhluk halus. Harus ada gue.
Karena bolak-balik rumah sakit - rumah - rumah sakit - rumah, dan terus menerus begitu, akhirnya saat mengantar anak-anak berangkat ke sekolah, kami berempat jatuh. Kami berempat terhimpit motor. Saat itu gue malah ga langsgung bangkit, tapi bingung, kok gue ada di jalan. Seorang pelajar SMA membangunkan motor, membangunkan tiga anak, barulah gue tersadar.
Di rumah sakit, gue bertemu dengan sahabat tua Belanda. Menceritakan hal tersebut pada beliau.
"Nita, kamu harus beristirahat. Kamu harus beritahu dia, kamu harus istirahat."
Gue bingung, bagaimana mungkin memberitahukan itu pada dia, bisa-bisa nanti dia marah besar!
"Nita, kamu harus istirahat!"
Dipeluknya gue erat.
"Kamu anak saya, kamu harus istirahat."
Kemudian gue memberitahunya kejadian itu. Di luar dugaan, dia menyetujui gue beristirahat. Jadi malam itu gue ga mendampinginya di rumah sakit.
Sore itu ada beberapa temannya menjenguk. Ketika sudah mulai masuk senja, gue berkata padanya bahwa gue akan pulang. Dia akan didampingi oleh seorang keponakannya.
Malam itu gue berada di rumah, tidur nyenyak.
Sudah dulu, ya. Nanti gue lanjutkan lagi.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 24 Oktober 2017, Petro: mendung sekali.



Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (45)

: membuka rahasia

Hampir saja terlupa menyeritakan hal yang satu ini, tentang membuka rahasia bahwa dia kanker hati dan sudah ga bisa diobati lagi. yes, rahasia. Hal ini gue rahasiakan dari mama dan anak-anak. Mereka hanya tahu sakit.
Jadi saat siang gue pulang dari rumah sakit, di rumah memanggil mama, bap, Ngka, Esa, Pink.
"Nit mau ngasih tahu sesuatu."
Semua diam. Semua penasaran. Hanya bap yang tahu.
"Kita tahu kan, sakit di rumah sakit selama ini. Doakan aja yang terbaik untuknya. Mam, mas Henk kanker. Udah ga bisa diobati lagi. Kanker hati."
Mama menangis. Tiga nyawa kecil diam. Gue? Juga diam, ga bisa berkata apa-apa lagi.
Duh, udah dulu, ya. Nanti gue lanjutkan lagi.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 24 Oktober 2017, Petro: need a big hug!



25 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (46)

: Jumat terakhir

Menguatkan diri hingga di Jumat terakhirnya, benar-benar luar biasa untuk gue. Bersyukur bisa menyeritakan hingga hampir di akhir cerita tentang kami.
Niat mengosongkan diri agar bisa menerima segala kejadian sebagai anugerah, dan mensyukuri tanpa henti, membuat gue jatuh bangun jatuh bangun, lalu bangun dan bangun lagi.
Hari Kamis malam gue tidur nyenyak di rumah. Tenang dan damai.
Jumat pagi seperti biasa berkeliling perumahan berempat dengan tiga nyawa kecil, naik motor, lalu mengantar mereka ke sekolah. Saat akan ke rumah sakit, ada yang menelepon, ternyata kakaknya.
"Nit."
"Ya."
"Hencky minta pulang."
"Mas Henk minta pulang?
"Iya."
"Kalau dia yang minta pulang, ya pulang aja. Aku cuma mau bawa dia pulang kalau memang dia yang minta pulang, Mbak."
"Kowe serius?"
"Iya."
"Mengko kowe repot." : nanti kamu repot.
"Repot?"
"Pup sama pipisnya kan mesti dibantu."
"Ya ga apa-apa, Mbak. Dia suamiku. Sehat dan sakitnya sama aku. Kalau dia minta pulang, aku bawa pulang sekarang."
"Terserah kowe."
Percakapan berakhir. Gue langsung ngebut ke rumah sakit.
Tiba di parkiran, seperti biasa berlari sambil mengacungkan kartu jaga agar bisa langsung masuk.
Masuk ke ruangan, gue melihat dia dalam kondisi menutup mata, tidur, tapi ada suara mendengkur. Dia ga pernah mendengkur saat tidur. Ada perawat di sana.
Dia sudah dalam kondisi koma.
Yowlo, ya GUSTI, udah dulu, ya. Nanti gue lanjutkan lagi. Sumpah ini udah mau nangis.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 25 Oktober 2017, Petro: -



25 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (47)

: menjelang titik akhir

Bersyukur sekali bisa melepaskan hal yang bisa menjadi sandungan dalam hidup. Perlahan tapi pasti, gue berusaha keras melegakan diri, membebaskan hidup dari ikatan yang bisa menjadi kesesakan hingga mengurangi rasa syukur.
Masa lalu adalah sejarah, dan gue ingin bisa selalu tersenyum lega saat mengenangnya. Tanpa ada sedikit pun rasa sakit dan ga ada sedikit pun hal yang terlupa karena memang dipendam.
Ok, gue akan melanjutkan cerita. Tapi gue akan menghentikannya saat gue merasa ga kuat. Tapi pasti gue bercerita hingga semua cerita masa lalu ini ga lagi menempel dan menjadi titik hitam dalam perjalanan hidup. Dia adalah seorang suami, seorang ayah. Kami mencintainya.
(Hembuskan napas panjang sebelum mulai mengetik)
Ada hal yang terlupa.
Saat akan ke rumah sakit, gue menelepon seorang sahabat, meminta tolong untuk menjemput pulang Ngka, Esa, dan Pink.
Saat gue tiba di rumah sakit, kondisinya sudah koma. Matanya mengatup. Terdengar suara dengkuran.
Gue menghampiri, berdiri di sisinya.
"Pa, tenang. Ada aku."
Ya GUSTI, dia memang ga membuka matanya, tapi dia menjawab dengan suara menggeram,"Hmm."
"Pa, kalau berdoa bagimu sulit, kita nyanyi aja, yuk."
"Hmm."
Lalu gue mulai bernyanyi.
Kemudian gue naik ke atas tempat tidurnya, duduk di sisi kirinya.
Terus saja bernyanyi.
"Pulang. Mas Henk minta pulang."
Gue turun dari tempat tidur, keluar ruangannya, menelepon ke rumah, mama yang menerima telepon.
"Ma, Mas Henk koma. Ini mau Nit bawa pulang. Kondisinya sudah low batt. Ga boloeh ada yang nangis nanti."
Di luar ruangan ada 2 orang teman kerjanya datang. Gue ga menyapa mereka karena pikiran gue hanya tertuju pada kondisinya.
Tiba-tiba ada yang menelepon gue. Sahabat gue yang tadi gue minta tolong untuk menjemput Ngka, Esa dan Pink.
"Nit, ini ada Ngka. Ini udah di gerbang, ga boleh masuk."
Gue berlari menuju gerbang yang lumayan jauh, tanpa alas kaki. Anak gue harus segera masuk dan melihat papanya!
Di gerbang ada Ngka dan sahabat gue. Gue mendekati penjaga gerbang.
"Ini anakku. Papanya kanker dan hampir meninggal. Dia harus masuk."
Ngka masuk. Kami berdua lari menuju ruangan.
"Ayo, Ka, ayo cepetan. Ayo, Ka, ayo!"
Ngka berlari secepat mungkin sambil tertawa. Dia ga tahu kondisi papanya.
Duh, udah ya. Nanti lagi aja dilanjutin.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit kasapink, 25 Oktober 2017, Petro: -





Nitaninit Kasapink https://www.facebook.com/nitaninit.kasapink/posts/1457964114288885
26 Oktober · 
Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (48)
: pulang


Pelan-pelan gue berusaha mengosongkan diri dari seluruh cerita masa lalu. Benar-benar pelan-pelan, karena niat di hati bukan untuk mengoyak hari dengan luka lama. Tapi gue ingin bisa melegakan hati, melapangkan jiwa, membesarkan syukur.
Dia bukan seorang yang jahat, hanya saja lupa bahwa kasih adalah damai dan lembut.
Ngka berlari sambil tertawa-tawa, menoleh sebentar-sebentar ke gue yang berlari tanpa alas kaki di sisinya.
"Ayo, Ka, lari yang kencang. Ayo, Ka, jangan terlambat."
Ngka masih belum tahu kondisi papanya yang koma.
Setiba di ruangan, gue menggandeng Ngka ke sisi tempat tidur papanya. Gue letakkan tangan Ngka di tanga sang papa, memintanya menggenggam.
"Pa, Ngka ada di sini." Bisik gue.
Ga ada reaksi. Dia sudah ga bisa menjawab dengan geramannya lagi.
Gue menoleh ke Ngka yang ternyata sedang menahan air mata.
Diputuskan untuk pulang saja.
Ambulance sudah menunggu. Dua orang perawat pun akan ikut mengantar.
"Ka, kamu sama Mama, kita di ambulance menemani papa."
Ngka mengangguk.
"Papa, kita pulang, ya? Katanya kamu pengen pulang ke rumah, kan? Kita pulang sekarang. Aku sama Ngka bareng kamu, kok."
Dia pun dipindah dari tempat tidurnya ke bed yang akan dibawa ambulance. Didorong menuju ambulance. Gue ga berhenti bernyanyi di sisinya, Ngka berjalan di sisi papanya juga.
Gerbang! Bed-nya masuk ke dalam ambulance. Gue, Ngka, dan dua perawat ada di sisinya.
Ternyata dua temannya ikut dalam ambulance, dan duduk di depan.
"Sabar ya, Pa, sudah keluar rumah sakit. Aku janji, kamu ga akan merasakan sakit lagi. Aku janji, Pa. Aku janji."
"Sabar ya, Pa, kita udah di bunderan Elisabeth."
"Sabar ya, Pa, udah nyampe di Karyadi."
Gue terus menerus memberitahunya perjalanan menuju rumah sudah sampai di mana. Dan gue ga berhenti menyanyi untuknya.
"Sabar Pa, udah nyampe di Tugu Muda."
"Sabar Pa, udah nyampe di Hasanudin."
Kemudian terdengar temannya berkata ke gue,"Bu, kita belok ke mana?"
"Nanti aku kasih tahu. Kamu ga tahu kalau aku lagi nyanyi?"
Hingga akhirnya gue memberitahu harus belok ke kiri, selanjutnya mulai masuk ke perumahan tempat kami tinggal.
"Sabar Pa, udah masuk Tanah Mas."
"Sabar Pa, udah sampai di depan rumah."
Gue lihat mama, bap, Esa, Pink, ada di depan pintu pagar, menunggu tapi tanpa air mata.
"Terima kasih, Ma, ga menangis," bisik gue ke mama.
"Sabar Pa, udah nyampe rumah."
"Pa, udah sampai kamar."
"Pa, sekarang kamu udah di tempat tidurmu."
Di tempat tidur itu dia tetap diam, ga menjawab, ga juga membuka matanya. Diam. Lelaki yang gue cintai, diam tanpa suara.
Ga lama kemudian gue melihat jakunnya membesar, seperti tercekat di atas. Lalu jakunnya turun. Napasnya mulai tercekat.
Gue membisikkan kalimat di telinganya.
"Pa, aku janji, ngerawat anak-anak bener, janji, bener ngerawat anak-anak."
Lalu ga lama kemudian gue melihat dia menghembuskan napas lega.
"Sudah ga ada," kata gue.
Dua perawat maju mengecek nadi.
"Masih ada, tapi lemah. Oh, sudah ga ada."
Ya GUSTI, sudah GUSTI panggil kembali dia.
Tiga anak yang duduk di ujung tempat tidur menangis.
Udah dulu, ya? Gue ga tahan untuk meneruskannya sekarang. Harus menenangkan diri dulu.
Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 26 Oktober 2017, Petro: mendung.





Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (49)

: cerita yang masuk peti es gue

Gue ingin menyeritakan ini hingga kosong tanpa meninggalkan kerak walau hanya setitik. Gue berniat menjadi seorang yang 'baru', menjadi manusia yang baru, yang kosong, hingga bisa menampung banyak kejadian hidup dengan rasa syukur yang berlimpah.
28 September 2007, Jumat pagi, kepergiannya punya cerita sendiri.
"Papa sudah meninggal." Kata gue kepada tiga nyawa kecil, Ngka (11 tahun), Esa (8 tahun), Pink (6 tahun).
Tiga nyawa kecil terkasih serentak menangis tanpa bergerak pindah mendekati papa mereka yang sudah tiada.
"Mama ga bohong, kan? Pintu surga papa sudah datang."
Tiga nyawa kecil serentak berhenti menangis.
"Iya, Mama ga bohong," kata Ngka.
Pintu surga, itu yang selalu gue ceritakan pada mereka bertiga saat kondisi papa mereka semakin memburuk.
Pintu surga. Waktu itu sedang booming lagu dari sebuah band tentang pintu surga, yang di video klipnya terlihat pintu di langit. Gue katakan, itu pintu surga. Pintu surga seperti pintu Kemana Saja milik Dora Emon.
"Waktu papa membuka pintu, papa sudah sampai di surga. Tapi papa ga bisa kembali ke rumah. Karena waktu mau kembali, pintunya ga ada, sudah dipakai orang lain."
Setiap kali gue selalu mengatakan itu pada mereka. Jadi sewaktu papa mereka meninggal, mereka tahu bahwa papa mereka ga akan bisa kembali.
Gue juga selalu mengatakan,"Ga boleh menangis kalau pintu surga papa udah datang. Kasihan papa, nanti kepeleset air mata, ga bisa masuk ke surga."
Karenanya saat gue mengatakan,"Mama ga bohong, kan? Pintu surga papa sudah datang," mereka langsung menghentikan tangis.
Gue lupa siapa yang memberikan kain batik untuk menutup jenazahnya saat itu. Ada beberapa orang di dalam kamar, gue juga ga ingat siapa aja. Tapi yang jelas ada mama di sana, dan ga menangis juga.
"Iya, Ma, Mas Henk udah ga ada."
Duh, udah dulu, ya? Nanti gue lanjutkan lagi.
Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 26 Oktober 2017, Petro: Masih di sini karena Ngka masih ada kerjaan.



27 Oktober · 

Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (50)

: sepuluh tahun yang lalu

Mengembara ke masa lalu bukan hal mudah untuk gue. Menyeritakan ini pun bukan karena minta perhatian atau pun minta dikasihani. NOP! Gue memutuskan untuk membuka cerita masa lalu karena gue rasa akan menjadi obat terbaik untuk gue dalam proses menjadi legawa. Terserah sih mau diterima sebagai apa kek ini cerita, gue ga peduli. Toh gue tahu kok niat gue sebenarnya. Mengosongkan diri.
Mengingat cerita masa lalu bukan hal ringan. Setidaknya ini yang gue rasakan.
Ah sudahlah, gue berusaha meyakinkan diri sejak awal untuk mejadi manusia baru yang lebih bisa bersyukur.
Teman, tetangga, juga saudara, mulai berdatangan. Gue tetap di kamar di sisi jenazah.
(Blank)
Lalu ada orang yang akan memandikannya. Gue ke depan rumah, mencari tiga nyawa kecil, agar mereka ikut berada di sana saat papa mereka dimandikan. Gue ga mau ada hal terlewat.
Peti pun datang. Rencananya peti akan diletakkan di ruang tamu. Peti ini bukan peti yang besar, tapi peti yang biasa dengan ukuran biasa. Tapi ternyata peti ga bisa masuk ke ruang tamu. Lewat depan, lewat samping, tetap saja peti ga bisa masuk! Akhirnya peti diletakkan di garasi. Padahal menurut perhitungan, seharusnya bisa masuk ke dalam ruang tamu. Sudah dicoba berulang-ulang, tetap ga bisa.
Maafkan aku, ya, Pa. Kamu berada di garasi, bukan di dalam rumah.
Gue duduk di sisi petinya, enggan meninggalkan. Dalam pikiran gue, kasihan dia sendirian.
Teman, sahabat, tetangga, datang. Memeluk, menyalami, menangis. Sedangkan gue sama sekali ga menangis. Ga bisa menangis.
Malam mulai merambat.
"Ka, Sa, Pink, tidur sekarang. Besok kita melihat papa terakhir. Besok pagi peti papa ditutup. Tidur sekarang supaya besok ga cape."
Gue mendampingi mereka bertiga tidur, dan ternyata gue ketiduran!
Tengah malam, ada keributan kecil, gue dibangunkan oleh mama.
Sudah dulu, ya. Nanti pasti gue lanjutkan. Lelah menyeritakan ini.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 27 Oktober 2017, Petro: ngantuk.




27 Oktober · 

Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (51)

: dia dan peti, peti dan dia

Mengingat hal seperti ini tuh ternyata ga nyaman. Tapi gue berniat untuk bisa legawa, jadi gue harus mengosongkan seluruh cerita.
Tengah malam di Jumat itu, mama membangunkan gue yang tidur di karpet ruang tamu bersama tiga nyawa kecil.
"Nit, bangun."
Gue pun bangun.
"Petinya Henk mau ditutup sekarang, katanya."
Gue langsung berlari ke garasi!
(Gue ga tahu seharusnya ini diceritakan atau ga, karena ini ada kaitannya dengan keluarga, bukan hanya tentang gue, tiga nyawa kecil, dan dia.)
Di sana sudah ada keluarganya, juga bapak dan mama.
Seorang terdekatnya berjalan melewati gue sambil berkata seperti setengah ngedumel,"Darahnya keluar terus dari mulutnya! Cape ngelapin."
Gue terkejut. Kondisinya terakhir waktu gue duduk di sisi petinya, belum ada pendarahan.
Beberapa orang terdekatnya bicara,"Kalau ga ditutup, bisa bau!"
Menurut gue, dalam situasi duka, ga sepantasnya sih berkata seperti itu, apalagi mereka adalah orang terdekatnya. Dan diucap ke gue, istrinya.
"Ga ada seorang pun yang boleh menutup peti, kalau gue ga bilang tutup!"
Mama menyenggol tangan gue,"Nit, itu kan (...)nya."
Gue ga peduli akan hal itu.
Mereka pun kaget mendengar gue berkata dengan nada keras. Selama perkawinan gue dan dia, ga ada seorang pun pernah mendengar gue berkata dengan nada keras, apalagi dengan nada membentak.
Gue tergesa ke sisi kepalanya, menengok ke wajahnya. Dari mulutnya keluar sedikit busa dan bercampur kepingan darah hitam. Gue mengambil saputangan, mengelapnya perlahan.
Maaf, udah dulu, ya.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 27 Oktober 2017, Petro: rasanya gue terbang entah kemana!



30 Oktober · 

Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (52)

: peti itu ditutup

Dua hari tanpa mengingat sama sekali, tapi menunda penyelesaian proses, malah akan semakin lama proses ini selesai. Proses melegawakan hati, meringankan hati.
Malam itu gue berlari menuju ruang tamu, membangunkan tiga nyawa kecil, Ngka, Esa, Pink.
"Bangun, bangun. Peti papa mau ditutup."
Mereka langsung bangun.
Gue gandeng mereka ke garasi, tempat petinya berada.
Peti itu terlalu tinggi untuk Pink. Jadi gue gendong supaya bisa melihat papanya dengan jelas.
"Salim papa. Cium papa. Ini untuk terakhir. Sehabis ini peti papa ditutup."
Mereka salim, lalu mencium kedua pipinya.
"Lihat papa, lihat muka papa. Ingat muka papa. Sehabis ini kita ga akan bisa melihatnya lagi."
Kami berempat memandang untuk beberapa saat, tapi ga terlalu lama, karena memandangnya dalam kondisi yang ga bagus.
"Sekarang boleh tutup petinya."
Gue ga ingat siapa yang mengangkat tutup petinya, lalu menutup. Pastinya ada banyak orang di sana, tapi gue ga ingat, atau mungkin karena dulu pun ga peduli suasana di sana banyak orang atau ga.
Setelah peti ditutup, gue berkata ke Ngka, Esa, Pink, agar segera tidur, karena besok papa akan dimakamkan.
Tiga nyawa kecil tidur, gue kembali duduk di sebelah peti. Berulang gue menepuk peti sambil berkata,"Aku ga apa-apa, Pa. Aku bisa hadapi ini. Ga usah khawatir, aku jaga anak-anak bener, juga bener jaga anak-anak. Aku ga apa-apa, aku baik-baik aja."
Gue lakukan setiap kali, berulang, juga mengucap berulang. Semua itu untuk menguatkan diri gue sendiri. Cuma gue yang bisa menguatkan diri, bukan siapa pun. Gue harus bisa menguatkan hati, untuk menguatkan anak-anak.
Malam makin larut. Gue tetap duduk di sisi peti hingga pagi menjelang.
Sudah dulu, ya. Ga kuat menuliskan ini. Nanti gue lanjutkan lagi.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 30 Oktober 2017, Petro: Ya GUSTI, proses melegawa ini memang luar biasa: ayo Nit, tegakkan kepala!
                                   


Nitaninit Kasapink  https://www.facebook.com/nitaninit.kasapink/posts/1462243547194275
31 Oktober · 

Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (53)

: Sabtu pagi, 29 September 2007

Setiap kali hendak menulis tentang cerita masa lalu ini, seluruh badan tetiba mendingin. Gue harus menuliskannya!
Untukmu, jangan mau menerima perlakuan kekerasan dari siapa pun. Baik kekerasan verbal, fisik, mau pun finansial.
Untukmu, jangan jadi pelaku kekerasan pada siapa pun. Baik kekerasan verbal, fisik, mau pun finansial.
Untukmu yang mengetahui adanya kekerasan verbal, fisik, mau pun finansial, terjadi dalam lingkungan sekitarmu, cobalah untuk membantu korban. Setidaknya jangan pernah menyalahkan mereka sebagai orang yang ga bersyukur dalam perkawinan saat mereka bercerita. Bantu mereka, paling ga secara psikis. Kalau memungkinkan, bantu mereka keluar dari lingkaran kekerasan.
Efek menjadi korban KDRT sungguh ga menyenangkan. Gue seorang yang optimis dalam hadapi hidup pun pernah berniat bunuh diri karena kekerasan yang diterima. Juga gue berusaha keras untuk bisa membangkitkan rasa percaya diri, berusaha agar bisa tetap berpikiran positif, karena ada tiga anak dalam pelukan. Gue ga mau kekerasan yang ada membentuk anak-anak menjadi pribadi yang sama seperti pelaku kekerasan, yang notabene adalah papa mereka.
Gue mau memulai cerita. Baru saja teringat kejadian malam itu, Jumat, 28 September 2007.
Saat peti belum ditutup, banyak tetangga dan sahabat datang ke rumah. Mereka memeluk gue, menangis. Gue sama sekali ga punya air mata. Pelukan hangat mereka dan hangatnya tetesan air mata yang basahi pundak, gue jawab dengan,"Tabah ya, Henk sudah meninggal. Dia sudah ga sakit lagi." Setiap orang yang datang memeluk dan menangis, gue selalu mengatakan itu.
Oh ya, waktu dia menghembuskan napas terakhir pun gue mengatakan,"Ya kan, Pa, sekarang kamu ga merasakan sakit lagi."
Pagi-pagi, 29 September 2007, tiga nyawa kecil, Ngka, Esa, Pink, bangun, lalu bergegas mandi.
"Papa dimakamkan hari ini."
Gue lupa ada kesibukan apa di rumah. Blank.
Lalu datang para pendoa, sahabat, saudara.
Beberapa gue lihat menghapus air mata.
Gue tetap tanpa air mata.
"Kita gantian, Pa. Estafet. Sekarang ini bagianku."
Itu kalimat yang juga berulang gue ucap di sisi petinya.
Peti mulai diangkat. Dengan adat yang berlaku, kami berempat berjalan di bawah peti yang diangkat. Ngka, Esa, Pink, tertawa geli. Gue? Biasa-biasa aja, dan tetap tanpa air mata.
Peti masuk ke ambulance. Gue duduk di sana. Lupa bersama siapa gue di dalam sana.
Tiba di pemakaman, doa pun mengalir.
Ngka, Esa, Pink, ada bersama gue, di sisi makam. Gue ga mau mereka kehilangan satu bagian kecil pun dari seluruh prosesi.
Panas, lelah, lapar. Ngka, Esa, Pink, terlihat amat tenang melihat papa mereka dimakamkan. Kami berempat tanpa air mata.
Beberapa orang berbisik dan gue sempat mendengar,"Istrinya ga punya hati. Istrinya sadis banget, ga nangis."
Gue tertawa kecil. Ya, gue memang ga punya hati, gue cuma punya kasih. Apakah harus menangis sedih karena kehilangannya? Nop. Jujur, gue bahagia. Ya, gue ga punya hati. Gue bahagia bisa menjadi seorang ibu bagi Ngka, Esa, Pink.
Nanti gue lanjut lagi.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 29 Oktober 2017, Petro: Cepu maning




31 Oktober · 

Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (54)

: berbeda tapi kami tetap sama

Harus menyelesaikan hingga selesai. Ini proses menuju ringan hati, legawa hati. Gue harus legawa yang benar-benar legawa. Mengubah seluruh yang ada menjadi senyum manis.
Di makam, gue mengambil 4 kuntum bunga.
"Aku minta 4 kuntum ya, Pa? Satu untuk aku, satu untuk Ngka, satu untuk Esa, satu untuk Pink. Kamu ga bisa menolak permintaanku, kamu ga bisa lagi marahin aku."
Mungkin rasanya gila ya kalau mendengar perkataan kayak gini saat di pemakaman, dan seorang istri mengucap seperti ini. Tapi ini yang gue ucapkan. Sebenernya sih gue hanya ingin menekankan ke diri sendiri bahwa sekarang keadaan sudah berbeda. Dia sudah ga ada selamanya, tapi kami berempat, gue dan anak-anak, tetaplah sama.
Pulang, setiba di rumah terasa panas, karena siang itu memanglah panas, terik. Gue melihat tiga nyawa kecil lapar. Di ruang tamu berkumpul orang-orang terdekatnya sedang makan-makan, ngobrol, bernyanyi, layaknya reuni. Malah memanggil tukang jajanan yang lewat. Sedangkan tiga nyawa kecil, mama, bap, gue, ada di ruang tengah, diam. Ga ada yang mengajak kami bergabung. Kami diam.
Ruang tamu sepi. Gue mengintip, ga ada tersisa makanan sedikit pun.
Gue mengganti baju hitam dengan kaos yukensi dan celana pendek.
"Kita makan."
Menggandeng Ngka, Esa, Pink.
"Nit, Mama bawain makan, ya?"
"Pasti."
Yup, waktu itu sedang bulan puasa.
"Mama, kita mau kemana?"
"Makan. Memangnya anak yatim ga boleh makan? Makanlah sepuasmu."
"Mama punya uang?"
"Mama punya uang banyak, banyak banget!"
Rasanya miris banget saat itu. Menyesakkan. Ealah, gue jadi mau nangis.
Udah dulu aja, ya? Ga tahan.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 31 Oktober 2017, Petro: GUSTI, paringono kiat. Aku cuma ingin melegawa saja.




Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (55)

: Bakar aja

Menahan air mata kok ternyata sulit. Jari gue gemetar hendak mengetik. Tapi niat gue adalah melegawa. Jadi gue harus bisa menuntaskan seluruh kejadian yang pernah terjadi. Menuntaskan kenangan yang ternyata masih bisa membuat gue menangis! Padahal sebelumnya gue bisa tertawa saat bercerita tentang semua kejadian masa lalu.
Gue janda dengan tiga anak yatim, Ngka, Esa, Pink. Gue janda dengan hak penuh atas mengasihi, menyayangi, melindungi, menafkahi, mengasuh, mereka. Ini gue, janda yang bahagia.
Ketika keluar dari rumah dengan menggandeng tiga anak, orang-orang terdekatnya sedang asyik jajan dan mengobrol ketawa-ketiwi di luar, di bawah tenda yang masih terpasang. *Gue sempat phobi beberapa tahun melihat tenda yang terpasang di depan rumah orang setelah kejadian itu.
"Nit, bajunya Mas Henk, semuanya dibakar."
Gue ga tahu maksudnya apa, tapi gue malas berpanjang lebar bicara. ANAK GUE BUTUH MAKAN! BUKAN BUTUH OMONGAN YANG GA MUTU! Kalimat itu yang rasanya ingin gue teriakkan pada orang tersebut. Tapi ga, gue ga mengucap itu. Gue sedang mengasuh tiga anak terkasih, gue bukan ibu yang rela memberi contoh untuk menjadi 'orang yang ga banget' seperti itu.
"Udah tahu."
"Ya syukur deh kalau udah tahu."
Gue melangkah menggandeng anak-anak gue, pergi, gue harus pergi dari sini!
Udah dulu, gue ga tahan nyeritainnya.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 31 Oktober 2017, Petro: masa lalu ternyata berefek besar! Be happy, Nit!



31 Oktober · 

Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (56)

: makan, makan

Yup, memang harus tuntas supaya bisa lebih bersyukur. Mengosongkan diri agar bisa menerima seluruh kejadian hidup dengan lapang.
Berhenti karena ternyata masa lalu masih ada menyisakan tangis. Dan gue harus bisa melepaskan semuanya. Gue percaya bahwa gue bisa. Karena takdir gue adalah menjadi orang yang berbahagia dalam setiap kejadian hidup. Bahagia saja.
Kami menuju rumah makan yang masih berlokasi di perumahan yang sama.
"Mau makan apa?"
"Boleh pesen apa, Ma?"
"Apa pun. Kamu boleh makan apa pun. Kamu boleh makan sebanyak yang kamu bisa habiskan."
Masih teringat wajah Ngka, Esa, Pink, yang polos, melongo.
Rasanya mau menjerit saat itu, tapi ya seperti biasa, gue ga menjerit. Bukankah lebih asyik tersenyum melihat mereka makan, menikmati makanan yang mereka mau? So, itu yang aku lakukan.
Gue lupa menu apa yang mereka pesan, tapi yang gue ingat adalah wajah lega Ngka, Esa, Pink. Entah lega karena apa, tapi gue melihat senyum yang lebih indah dari sebelumnya.
Sebelum pulang, gue memesan untuk mama dan bap.
Sampai di rumah, sepi. Ga ada orang lain selain mama, bap.
Mama membuka lemari rak piring di dapur, lalu bertanya keheranan.
"Nit, piring, sendok, garpu, gelas, kemana? Kok kosong, ga ada semua."
DUER!
Ufh, gue harus menghentikan cerita ini. Nanti dilanjut lagi aja. Nyesek, euy. Menenangkan diri sejenak. Lagi pula harus segera pulang, Esa mau ke dokter.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 31 Oktober 2017, Petro: I'm a happy mom, I swear.



1 November · 

Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (57)

: misteri

Pagi ini gue tenang, lalu memutuskan melanjutkan cerita masa lalu.
Dear kamu, gue bercerita ini semua bukan untuk membuka aib siapa pun, tapi ingin mengosongkan diri, agar bisa memaafkan, mengampuni, utuh, seluruh, tanpa ada yang tersisa. Bagaimana bisa gue dimaafkan jika gue ga bisa memaafkan orang lain? Bagaimana bisa mensyukuri segala nikmat GUSTI, jika masih ada yang mengganjal tentang kejadian hidup yang dilalui?
Bertahun-tahun gue berusaha mengosongkan diri. Rasanya sudah bisa legawa, tapi ternyata saat gue memutuskan untuk legawa seluruh rentetan kejadian ini, BOOM! Gue masih menyisakan kesakitan di masa lalu.
Gue ingin melepas semua ini, karena gue ingin legawa utuh.
Saat mama berkata bahwa piring, sendok, garpu, gelas, ga ada di lemari rak piring, gue kaget banget! Langusng melangkah ke lemari rak piring, dan o ow, memang kosong!
"Kok ga ada?"
"Makanya Mama nanya, kok ga ada?"
"Lah, kok?"
Oh iya, makan-makannya orang terdekat itu pesan ke catering, yang katanya sih masih kerabat orang terdekat. Sewaktu beberes ini dan itu, gue ge memerhatikan. Bukan lagi mau berburuk sangka, tapi iya kali terbawa. Tapi ya sudahlah, kami ga perlu peralatan lama.
Saat itu gue jengkel banget.
"Memangnya kalau janda, anak yatim, ga boleh ya makan pakai piring, sendok, garpu, dan ga boleh minum pakai gelas?"
Itu yang gue ucap.
"Mama, sendok, garpu, piring, gelas, dibawa papa ke surga, untuk makan di sana. Dimasukkin papa ke peti waktu ga ada yang lihat." Kata Ngka dengan muka lugu.
Gue tertawa,"Ya, kali ya, cintanya mama."
Kejengkelan hanya jadi jengkel kalau diterima sebagai kejengkelan, dan ga mengubah keadaan. Gue bergegas ke warung membeli kertas coklat yang biasa untuk bungkus nasi tuh loh. Itu piring sementara kami.
"Beli piring, sendok, garpu, gelas, yuk."
Ngka, Esa, Pink, mengiyakan.
Tapi lalu DUERR!
Motor gue juga ga ada.
Nanti aja gue lanjutkan lagi. Ini benar-benar harus menenangkan diri.
Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 01 November 2017, Petro: kemon kita ngopi saja!



1 November · 

Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (58)

: janda dan anak yatim juga punya kehidupan

Setiap akan memulai cerita, gue harus santai, menenangkan diri, terlebih dulu. Karena gue ga ingin malah menambah berat langkah menuju legawa yang utuh.
Jadi, sepuluh tahun yang lalu itu sesudah gue lihat motor pun ga ada, gue langsung menelepon ke orang terdekatnya.
"Hallo, ini Tante Ninit."
"Iya."
"Motor Tante ada di situ?"
Agak lama baru ada jawaban,"Iya."
"Siapa yang bawa ke sana?"
"Oom *tiiit, kena sensor*"
"Mana Om *tiiit, kena sensor lagi*."
"Ga tahu, Tante."
"Bilang ke dia, suruh kembaliin motor Tante. Tante mau pake. Kembaliin sekarang juga."
"Ya, Tante."
Rasanya tuh geregetan yang luar biasa! Dia pikir kalau janda ga perlu ke mana-mana kali, ya? Ealah tong, janda malah sibuk, karena harus ini dan itu sendirian.
Lalu gue menelepon sahabat Luhur, mengadu, kemudian mengatakan gue akan ke tempat sahabat Luhur.
Gue berjalan kaki ke sana, lumayan jauh juga. Tapi kan memang ga ada angkot untuk menuju ke sana, karena masih dalam perumahan yang sama.
Sampai di sana, gue mengadu, menangis, juga marah. Seluruh emosi pun tumpah.
"Bener kata Ngka, peralatan makan memang dibawa papanya untuk makan di sana. Trus sekarang kamu dan anak-anak makannya gimana?"
"Aku beli kertas coklat untuk piring. Ga pake sendok garpu, minum pake aqua gelas."
"Syukurlah. Kapan mau beli peralatan makan?"
"Kalau motor udah kembali."
Setelah selesai menumpahkan segala emosi, gue pulang membawa hati yang lebih ringan.
Dan si motor ga kembali di hari itu. Rasanya tuh di hati semrawut banget. Besoknya Minggu malam, motor kembali. Gue pas ga di rumah.
Setelah motor kembali, baru deh beli piring, gelas, sendok, garpu.
Ya GUSTI, ini hidup kami yang baru. Benar-benar baru.
Berhenti dulu, ya. Masih ada cerita selanjutnya tentang orang-orang warung dan tetangga yang menagih ini dan itu, dan ya sudahlah. Gue harus menenangkan diri sejenak kayaknya.
Woosah, woosah.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 01 November 2017, Petro: It's over.



1 November · 

Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (59)

: dimulai hidup baru yang mencengangkan

Gue berusaha ga terburu-buru bercerita. Pelan-pelan. Karena memang butuh ketenangan dalam diri waktu bercerita. Tapi ini aja mulai mendingin lagi badan gue waktu mulai mau bercerita. Ya, gue harus melepas seluruh kerak masa lalu.
Motor sudah kembali. Peralatan makan sudah dibeli.
"Nit, kemarin *tiiit, sorry harus disensor!* nanya Mama gini, dapet berapa uang dari orang-orang yang dateng? Mama bilang, saya ga ngurusin itu. Saya konsen anak cucu saya. Trus katanya, ditulisin si ini ngasih segini, si itu ngasih segitu. Gitu katanya. Trus katanya, jangan lupa dicatet."
Gue tertawa. Halah! Kalau mau, ambil aja. Gue ga butuh semua itu. Gue butuh tenang dengan anak-anak.
Kemudian datang tetangga yang punya warung.
"Ni', ini kemarin *tiiit sensor* ambil ini, itu, inu, iti, nganu nganu nganu."
Gue menerima sehelai kertas panjaaaang yang isinya tagihan  :D
Bayar.
Datang lagi dari yang sebelah sanaaaaa, dengan kertas panjang pula  :D
Bayar.
Datang lagi.
"Mbak, kemarin *tiiiit, sensor* pinjem baskom punya saya."
Gedubrak! Baskom yang mana? Ga ada baskom di sini! Lalu gue membeli baskom untuknya.
"Sebenernya bukan masalah baskomnya, Mbak. Tapi itu peninggalan ibu saya."
Datang lagi sahabat kerabatnya yang rumahnya berjarak beberapa rumah.
"Mbak, helmku dipinjem *tiiit, lagi-lagi sensor* kemarin."
Gue kelabakan. Ga ada helm lain, kecuali helm gue. Jadi gue beli helm untuk menggantinya.
Keesokan harinya gue mengantar anak-anak sekolah. Hp berbunyi, dari mama.
"Nit, pulang deh. Ada yang nagih ambulans."
Esoknya lagi.
"Nit, orang tenda dateng."
Udah dulu, ya. Nanti gue mau cerita tentang nisan yang salah.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 01 November 2017, Petro: love you, GUSTI  :* , amin.



Nitaninit Kasapink https://www.facebook.com/nitaninit.kasapink/posts/1464264876992142

Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (60)

: saya siapa, ya?

Kemonlah gue mau cerita lagi.
Waktu suami akan pulang dari rumah sakit menggunakan ambulance dan 2 perawat, juga ambulance yang keren, bukan ambulance biasa, itu tanpa sepengetahuan gue.
Penulisan nama suami pada nisan, gue pun ga diberitahu. Semua tanpa sepengetahuan gue.
Ok, jadi saat dimakamkan, gue terkejut!
Eh, lo ngomong napah kalau ga tahu nama suami gue!
Itu teriakan yang ada di dalam otak, di dasar hati. Iya, namanya salah. Penulisan namanya salah! Bukankah dia bisa bertanya ke gue, istri almarhum, nama suami gue tuh siapa, penulisannya gimana. Ga ngasal sembarangan kayak gitu. Geregetan pakai banget. Tapi itu sedang di pemakaman. Gue diam saja. Lagipula kayaknya sih percuma juga ngomong ke mereka.
Siapa gue?
Gue istri dari Bonifasius Hencky Yulianto, yang meninggal pada 28 September 2007.
Mungkin mereka lupa.
Jadi mereka memutuskan menunjuk seorang dari mereka untuk menuliskan nama suami gue.
Mau diapa-apain, itu suami gue. Gue berusaha keras memberi yang terbaik. Trus pas meninggal, sembarangan gitu?
Ya GUSTI, bersyukur sekali gue seorang yang lebih banyak mengamati dibanding berteriak memprotes ini dan itu.
Kemudian waktu gue ditelepon mama karena ada orang yang datang dari yayasan terkait ambulance, gue berkata pada orang tersebut,"Nama suamiku salah di nisan. Kok bisa gitu? Ga ada konfirmasi ke aku, kalau memang ga tahu nama suamiku."
"Maaf, Bu. Waktu itu bapak *tiiit! Sensor berulang* yang menulis di kertas, nama suami ibu."
Great! Ternyata si bapak *tiiit! Sensor deui* udah jadi istri dari suami gue, hingga dia ambil alih itu.
"Ini biayanya, Bu."
"Waktu itu siapa yang pesan?"
"Bapak *tiiit! Sensor maning, sensor maning!*. Dia yang minta seperti itu. Dia tulis namanya, alamatnya ke sini untuk penagihan."
Ok, mas *tiiit! Mungkin harusnya ga perlu gue sensor   *, anda berhasil jadi istri dari suami gue 
Di tahun 2007, gue harus membayar nyaris Rp. 6.000.000,- (Enam juta Rupiah Saja, Cintaaa) . Gue yang ibu rumah tangga karena dilarang bekerja, dilarang usaha apa pun, dan ga dinafkahi dengan baik, harus membayar sebesar itu. Duite sopo, dul? Mama mengeluarkan uang yang 'hasil' dari 'pendapatan' meninggalnya suami gue.
"Sebentar ya, Mas. Aku harus hitung dulu."
Mas itu menangis.
"Maafkan saya, Bu. Saya ga tahu. Bapak itu minta yang terbaik."
Gue tersenyum.
Bersyukur uangnya cukup.
Mas itu pulang sambil terus menerus mengusap air matanya.
"Maafkan saya, ya Bu."
Gue menyalaminya sambil menepuk tangannya,"Ga apa-apa, Mas."
Setelah orang tersebut pergi, mama berkata,"Tadi si mas itu sampai kaget waktu mama bilang, saya ibu istrinya. Dia pikir, ini rumah si mas *tiiit!*"
Gue tertawa.
Lalu gue menelepon persewaan tenda,"Copot tenda itu sekarang juga. Aku ga mau ada suasana berkabung di sini. Sekarang juga kutunggu."
Bon itu ditempel di tembok.
Pembayaran? GUSTI bersama kami. Uangnya cukup.
Masih bicara tentang uang dan apalah-apalah itu, pokoknya materi, waktu mama sudah pulang, mama menelepon gue.
"Nit, Mama ditelepon sama mbak *tiiit!*. Dia nanya gini, Ninit dapat warisan apa dari Hencky?"
"Kalau dia nanya lagi, jawab aja, dapat warisan tiga anak yatim."
Ok, gue harus berhenti. Kayaknya emosi gue kok agak naik, ya.
Salam penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 02 November 2017, Petro: hari ini luar biasa, dengan kejadian yang luar biasa, dan dengan kasihMU yang Luar Biasa. Thank's GUSTI.



2 November · 

Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (61)

: berita dari mama

Gue harus menyelesaikan pengosongan diri hingga tuntas.
Mama menelepon.
"Nit, Mbak *tiit* datang ke rumah. *dia yang rumahnya dekat dengan rumah tempat gue dan anak-anak mengontrak sekarang* Dia bilang, Ninit udah kayak orang gila. Ga pernah mandi, acak-acakkan."
Gue tertawa.
"Mama, dia ketemu sama Ninit, kapan? Kan malah Mama yang lebih terakhir lihat Ninit. Masa iya Ninit jadi gila gegara ditinggal mati?"
Lain waktu, mama menelepon lagi sambil menangis.
"Ninit, mbak *tiiit!!!* datang lagi tadi, dia bilang, Ibu ga usah mikirin Ninit lagi, sekarang. Ninit udah jadi simpenan orang. Sebulan tuh dia dapat 5 juta."
Whaaat!
"Mama, kalau Mama percaya sama Ninit, tutup teleponnya sekarang. Kalau Mama percaya sama dia, silakan aja nangis terus di telepon."
Telepon pun ditutup.
Udah dulu, ya. Gue lelah.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 02 November 2017, Petro: GUSTI tahu segalanya.



Nitaninit Kasapink https://www.facebook.com/nitaninit.kasapink/posts/1465092713576025

Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (62)

: saya ibu rumah tangga

Berusaha mengumpulkan energi untuk menyeritakan masa lalu. Gue bukan berniat membuka keburukan siapa pun. Masa lalu adalah sejarah yang ga akan bisa dihapus.
Gue berusaha mengingat, mnyeritakan, melepas, agar bisa mengubah semua hal menjadi keindahan yang akhirnya menjadikan gue ringan melangkah, legawa, lapang dada, lapang hati, lapang jiwa.
Bantu aku agar bisa mengubah, bisa menerima, segala sesuatu yang terjadi, menjadi hal yang indah dan bahagia, amin.
Kembali ke masa lalu.
Dulu gue bekerja sebagai seorang guru play group dan TK. Kemudian dia menyuruh gue untuk keluar dari kerja, karena dia sudah memiliki pekerjaan yang menurutnya sudah memadai.
Bertahun kemudian dia menyuruh gue kembali bekerja. Lalu disuruh keluar karena menurutnya di sana gue ga bisa berkembang.
Setelah itu gue disuruh bekerja lagi. Gue apply cv, diterima, ternyata gaji gue hampir dua kali lipat gajinya. Dia marah.
Akhirnya gue bekerja di tempat lain lagi dengan pertimbangan gaji gue lebih sedikit dibanding gajinya.
Saat gue ga bekerja, dia selalu membicarakan teman-teman wanitanya yang sekantor dengannya. Cantik, pintar, hebat. Selalu dibanggakannya teman-teman wanitanya. Gue sih ga peduli.
Waktu gue bekerja di tempat terakhir dulu, dia berpesan dengan keras,"Jangan sekali-kali cerita tentang pekerjaan kantormu di rumah. Jangan sekali-kali cerita tentang teman kerja."
Tapi dia sih tetap suka menyanjung teman wanita yang pandai dan cantik.
"Kalau kamu, jelek dan bodoh."
Gue sih ketawa aja. Biar saja menurutnya gue tuh jelek dan bodoh, gue tetap percaya bahwa gue cantik dan pandai, gue percaya GUSTI ga pernah menyiptakan manusia jelek dan bodoh.
Terakhir gue bekerja di tahun 1997. Dan ga pernah bekerja lagi, juga dilarang usaha apa pun yang menghasilkan uang.
"Malu-maluin!"
Tapi gue tetap menjalankan usaha, tanpa setahu dia. Semua barang dagangan disimpan di rumah mama, di dalam kamar mama. Bertumpuk stock sepatu, sandal, baju, alat kesehatan, dan lain-lain. Mama dan bap, tahu bahwa dia melarang gue menjalankan usaha apa pun. Tapi mama dan bap mendukung usaha gue. Uangnya gue gunakan untuk Ngka, Esa, Pink.
Dia melarang gue bekerja, melarang usaha apap pun, tapi juga ga memberi nafkah yang seharusnya dilakukan. No, no, no, kami ga meminta uang yang banyak, juga bukan orang yang neko-neko! Sebagai seorang suami dan ayah yang baik saja, sebagai suami dan ayah yang memerhatikan makan keluarga sajalah. Bertanggung jawablah sebagai kepala keluarga. Karenanya gue berdagang segala macam. Ngka, Esa, Pink, selalu ikut serta waktu gue ke sana kemari.
Dia pernah marah besar waktu tahu bahwa gue berdagang.
"Kamu malu-maluin aku!"
Gue diam, ga menjawab, tapi tetap meneruskan semuanya itu dengan dukungan semangat dari mama dan bap. Tapi saat kami pindah ke luar kota, jauh dari mama dan bap, usaha pun berhenti, karena ga ada lagi tempat persembunyian stock.
Kekerasan finansial berlangsung selama 16 tahun.
Jadi saat dia meninggal, gue seorang ibu rumah tangga tanpa penghasilan serupiah pun. Tapi gue percaya, GUSTI bersama kami, beserta kami, mendampingi kami, memelihara hidup kami dengan baik. Ga ada kekhawatiran sama sekali tentang uang. GUSTI tahu yang terbaik, dan bpasti memberi yang terbaik.
Saat tiga hari meninggalnya, diadakan acara doa di rumah, mengundang orang sekitar. Si bapak *tiiit* yang gue panggil sebagai mas *tiit!*, mengucap begini di depan semua orang.
"Nit, kalau membantu cuma sekali, dua kali, sih ga apa-apa. Tapi kalau terus-terusan? Ya ga bisa!"
Gue spontan menjawab tegas,"Ga usah, Mas. Ga usah membantu. Aku bisa, kok. Ga usah membantu kami."
Alangkah luar biasanya rasa yang ada dalam hati. Bersyukur sekali memiliki GUSTI yang luar biasa. DihadirkanNYA orang seperti dia yang memotivasi gue untuk bisa mandiri. DimunculkanNYA mereka yang membangkitkan semangat untuk bergerak penuh semangat.
Sudah dulu, ya? Gue mau menikmati jam kerja sambil browsing sana dan sini.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 03 November 2017, Petro: menjauh dari timbangan!



6 November · 

Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (63)

: saya cuma bisa tersenyum

Mau meneruskan cerita.
Jadi saat *tiit* ketahuan hamil, usia Pink baru saja hitungan hari. Dan *tiiit* melahirkan di bulan Maret 2001.
Waktu gue tahu dia hamil, popok, baju bayi, kain, gue berikan padanya, karena berpikir lebih baik anak gue ga pakai popok dan baju bayi. Lebih memilih celana dan kaos saja.
Kemudian *tiiit* pindah ke rumah orang terdekat suami yang biasa gue sensor namanya, si mbak *tiiit*. Masih satu perumahan.
Pacar *tiit* datang ke rumah, ngamuk ke gue.
"Ga usah menganggap aku dan *tiiit* sebagai adik!"
Sambil telunjuknya menempel di kening gue.
"Kalau kamu ga mau dianggap adik, ya bilang dong dari dulu. Jadi aku tahu gimana harus bersikap."
Gue sambil menggendong Esa, Pink, sedangkan Ngka ada di sebelah gue.
Aneh? Ga tahu, deh. Cuma saat itu sih gue tersenyum aja.
Bagaimana kabar mereka berdua? Bertahun kemudian, mereka menikah. Sebelum menikah, *tiit* dianggap sebagai perempuan baik, pintar, dan terdzolimi (?).
Sedangkan gue dan tiga kekasih, dianggap sebagai musuh   .
Komentar mama dan bap.
"Kok keluarganya aneh, Nit? Kamu ga marah? Harusnya kamu marah!"
"Ngapain marah? Biar aja, yang punya marah kan mereka. Nit ga pengen punya marah."

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 06 November 2017, Petro: love you, Ngka, Esa, Pink.



7 November · 

Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (64)

: anak-anakku bahagia, kami bahagia

Rasanya gue sudah menguat untuk bercerita ini dan itu. Sudah mulai melegawa dengan indahnya.
Gue mau bercerita tentang kebahagiaan yang mungkin ada di waktu yang aneh.
Setelah dia, suami, papa Ngka, Esa, Pink, meninggal, gue mengajak mereka pergi keliling kota. Satu persatu guea ajak naik motor.
Hari pertama pergi, gue ajak Ngka.
"Enak ya, Ma?"
"Enak apa?"
"Enak papa meninggal."
"Kenapa?"
"Kita jadi bisa jalan-jalan."
Hari ke-dua, mengajak Esa.
"Ma, enak, ya, Ma?"
"Enak kenapa?"
"Enak papa meninggal. Kita jalan-jalan gini. Ada papa ga pernah jalan-jalan."
Hari ke-tiga, Pink gue ajak.
"Ma, enak ya, papa meninggal."
"Kenapa?"
"Jadi bisa jajan."
Miris mendengarnya, tapi bahagia karena mereka merasakan kebahagiaan. Mungkin mereka merasa lega karena sudah lepas dari ketakutan, kekhawatiran, dan lepas dari suara bentakan.
Sedangkan gue, seminggu sesudah dia meninggal, ulang tahun ke 36. Menengadahkan kepala, berbisik,"Terima kasih GUSTI. Ini hadiah ulang tahunkukah?"
Bahagia ada di setiap waktu. Kebahagiaan kami berbeda waktu dengan orang lain, juga bisa jadi berbeda dengan waktumu. Tapi selalu tepat di waktuNYA.
Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 07 November 2017, Petro: mencintai hari ini setiap hari.




Cerita Seorang Single Mom Karena Kematian (65)

: seorang dia dalam memori

Semakin lama gue semakin bisa meringan. Langkah yang ada semakin terasa tanpa beban. Kerak-kerak semakin terkikis. Proses melegawa ini membuat gue makin menyadari bahwa kasih GUSTI ga pernah menghilang dari kami. Apakah kamu tahu, rasanya ingin menangis, memeluk ketiga kekasih sambil mengucapkan kata maaf karena pernah mengajak mereka melalui hidup penuh cerita, sekaligus berterima kasih karena sudah setia dan bijak menyikapi semua yang terjadi.
Setelah dia meninggal, gue berusaha keras membesarkan hal yang indah, dan mengikis hal yang menyakitkan.
"Papa itu baik, pekerja keras."
Itu selalu gue katakan pada Ngka, Esa, Pink, sejak mereka masih kecil.
Setiap gue membelikan sesuatu untuk mereka, gue selalu mengucapkan,"Bilang terima kasih sama papa, udah beli ini, itu."
Lalu tiga kekasih mengucapkan,"Makasih ya, Papa."
Seakan-akan papa mereka masih ada bersama. Padahal saat masih ada, papa mereka pun ga pernah mau berkumpul bersama kami.
Setiap akan pergi, gue mengucap,"Pamit sama papa."
"Pergi dulu, ya Pa. Jaga rumah, ya. Dag Papa."
Selalu dan selalu. Karena gue ingin menanamkan kenangan indah tentang kebersamaan antara kami dengannya di memori anak-anak, di jiwa Ngka, Esa, Pink.
Gue ga ingin membicarakan hal-hal yang buruk. Gue ingin mereka bahagia.
Hingga akhirnya Ngka sudah besar, dia mengatakan,"Udahlah, Ma, kita sudah tahu kok seperti apa yang sebenarnya terjadi."
Gue memandang tiga kekasih, ada kasih di mata mereka. Bersyukur sekali memiliki mereka, kekasih-kekasih jiwa yang selalu menghangatkan jiwa.
"Ingin nyekar ke makam papa."
Rasanya langit air mata ini hendak runtuh! Ya GUSTI, betapa tiga kekasih amat mengasihi papa mereka. Walau mereka menyadari bahwa perlakuan dan penyikapan papa mereka dulu ga terbayangkan sama sekali, lupa mengasihi.
"Seperti apa pun papa, dia adalah papamu. Sayangi papa. Dengan siapa pun nanti mama menikah lagi, papamu tetaplah Hencky. Ga boleh melupakan papa. Tanpa papa, ga ada kamu."
Dan hingga sekarang mereka pun tetap menghormati papa mereka.
Ini gue, seorang single mom dengan tiga kekasih jiwa, yang menjadi single mom karena kematian. Ada banyak cerita dalam perjalanan hidup kami, tapi bukankah bahagia selalu ada? Kami percaya bahagia adalah takdir kami.
Sekali lagi, plis jangan menjadi pelaku tindak kekerasan, baik verbal, fisik, mau pun finansial. Juga jangan mau jadi korban.
Kami pernah mengalami kekerasan dalam rumah kami sendiri.
Pernah dikorbankan? Jangan mengorbankan orang lain.
Pernah dibentak? Jangan membentak.
Pernah dimaki? Jangan memaki.
Pernah dimusuhi? Jangan memusuhi.
Pernah disepelekan? Jangan menyepelekan.
Pernah dijahati? Jangan menjahati.
Pernah diusir? Jangan mengusir.
Pernah?

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink, 07 November 2017, Petro: waktunya tersenyum. Legawa itu indah sekali.