Thursday, 17 August 2017

(22) Err Dan Bless, Bersamamu Dalam Hitam

Laut ini masih laut yang sama, dengan ombak  yang sama, hamparan butir pasir yang juga sama, hembusan angin yang sama, dan cahaya matahari yang memang sama. Semua sama seperti biasanya. Tidak ada yang berbeda.

Menikmati sinar matahari yang memanas di kulit pastilah menyenangkan sekali! Tapi tidak untukku. Matahari tidak bisa menyengatkan sinarnya padaku. Hai, betapa luar biasanya hidup di dunia ini! Di saat kamu berjemur ingin menggelapkan kulit, aku tak dapat disentuh oleh panasnya sedikit pun. Dan saat kamu berlindung dari sengatan matahari, aku memang tak dapat menggelap!

Gaun hitamku selalu berkibar seperti layar kapal dihembus angin. Rambut seleher diacak angin. Tapi biar saja, kubiarkan terlihat seperti sedang dipermainkan angin. Padahal mana mngkin angin menyentuh gaun dan rambutku? Dunia berbeda yang memberi perbedaan besar.

Ini gaun hitam yang amat kusuka! Tanpa renda, tapi membuatku merasa anggun. Ayah yang membelikan untukku.

"Kamu cantik dengan gaun hitam, Ell."

Itu yang diucap ayah padaku. Ell? Ya, itu panggilanku. Karena saat kecil kesulitan mengucap huruf 'r', maka namaku menjadi,"Ell." terkadang ayah memanggilku Err, dan terkadang Ell.

Banyak orang berpikir aku selalu mengenakan warna hitam karena kedukaanku ditinggal Su. Aku hanya tertawa saat mereka berkata itu padaku. Mereka salah! Aku menyukai hitam sejak aku kecil. Hitam menenggelamkanku dalam hening yang damai. Ya, warna hitam melindungiku dari tatapan orang. Aku terselamatkan dari pandangan siapa pun. Hitam menghilangkanku dari kehidupan ramai. Dalam warna kelam itu aku merasa didekap erat oleh ketenangan yang luar biasa menyejukkan. Hanya ada aku dan hening yang tenang dan damai. Tidak ada siapa pun lagi.

Kemudian aku mencintai malam. Karena dalam malam ada gelap yang memenjara. Dan gelap itu pun berwarna hitam! Hitam yang kucinta! Saat malam pun kumerasa tak ada kegaduhan yang sibuk. Semua dibungkus oleh tenang. Kalau pun ada kehebohan yang hiruk-pikuk, tetap saja malam mengemas dengan cantik. Riuh itu menjadi senyap karena tanpa tergesa diburu waktu.

Aku mencintai hitam, tapi sekitarku tak menyukainya.

"Warna berduka!"

"Warna berkabung!"

"Warna yang mati!"

Aku tak peduli apa kata orang tentang kecintaanku pada hitam. Tapi itu mempengaruhiku memilih baju. Ada banyak warna di lemariku. Padahal aku tak suka!

Su, lelaki itu pun tak menyukai hitam.

"Hitam? Kamu aneh!"

Senyumku mengembang mendengar celaannya. Apakah warna lain lebih terhormat dibanding warna kecintaanku? Kurasa tidak. Semua warna punya arti sendiri.

Hanya ada Bless yang mencintai hitam sepertiku, dan dia selalu mengenakan warna hitam.

"Hitam adalah warna kecintaanku," katanya satu hari padaku.

Hai, aku baru menyadari ternyata kami sepasang hantu yang berbaju hitam! Yey, sepasang hantu berbaju hitam! Sepasang tanpa raga yang berbaju hitam!

Jika kamu bertemu dengan kami, apakah kamu takut? Kami berdua berbaju hitam, dari dunia mati.

Tidak, tidak, kami tidak akan mengganggumu. Kami tidak akan pernah ingin berada dalam dunia hidupmu lagi. Penuh dengan permusuhan dan juga penuh dengan kepura-puraan.

Aku dan Bless berusaha saling mendukung agar kami bisa melepas amarah, benci, apalagi dendam yang mungkin pernah ada di masa lalu. Kami ingin tenang berada di sini.

"Eeeerrr!"

Suara Blessmenggetarkan pendengaranku!

"Sedang apa, Err?"

"Berpikir."

Bless tergelak.

"Memangnya kamu bisaberpikir? Bukankah kamu berkata bahwa kamu tak suka berpikir?"

Aku tertawa geli.

"Aku sedang berpikir tentang sepasang hantu berbaju hitam!"

"Hantu berbaju hitam? Sepasang?"

"Iya, sepasang hantu berbaju hitam."

Keningnya berkerut.

"Maksudmu?"

"Ada sepasang hantu berbaju hitam, Bless."

"Ya,di mana?"

"Kita, Bless! Kamu dan aku! Kita adalah sepasang hantu berbaju hitam! Lihat bajumu, celanamu, juga gaunku. Kita sepasang hantu berbaju hitam, bukan?"

Bless tergelak. Diraihnya jemariku, digenggamnya erat.

"Ya, ya, kita sepasang hantu berbaju hitam."

"Ya, kita sama-sama berbaju hitam."

"Karena kita mencintai hitam."

"Kamu hanya mencintai hitam?" Tanyaku.

"Ya,aku hanya mencintai hitam."

"Kamu tidak mencintaiku?" Tanyaku lagi.

Direngkuhnya aku dalam pelukannya.

"Masih butuh jawaban?"

"Iyaaaaa!"

Lalu kami tertawa bersama.

Hai, aku, Err. Dia, Bless. Kami sepasang tanpa raga yang berbagi kasih di dunia mati. Kami sepasang hantu berbaju hitam.

Kami berbaju hitam karena kami mencintai warna hitam. Bukan karena terpaksa, atau dipaksa oleh siapa pun. Kami memilih warna hitam karena keinginan kami sendiri. Tak peduli apakah kamu menyukai warna ini atau tidak. Juga kami tak akan pernah memaksamu menyukai warna ini, dan tak akan memusuhimu karena warnamu berbeda dengan kami.

Aku, Err. Dia, Bless. Kami mencintai hitam, dan memang pecinta hitam, selain tentu saja kami saling mencintai.

Aku mengenakan warna hitam bukan karena Bless. Bless mengenakan warna hitam juga bukan karena aku. Kami kebetulan mencintai warna yang sama, lalu mengekspresikan dengan menggunakannya dalam gerak kami.

Bagaimana denganmu? Apakah kamu memaksakan warna piihanmu pada yang lain? Apakah pecinta warna yang berbeda denganmu memaksakan warnanya untuk kamu kenakan?

Warna adalah pilihan. Setiap warna punya karakter sendiri, punya cerita sendiri. Karena kami pecinta hitam,maka kami hanya bisa menceritakan padamu tentang warna hitam dalam kebersamaan kami.

Warnamu adalah warnamu. Warnamu adalah pilihanmu. Seperti kami, warna ini adalah pilihan kami. Kamu boleh saja tak menyukai warna kami. Tak harus menyukai warna kami.

Masih bertengkar karena memilih warna yang berbeda? Masih saling memusuhi karena tak sama dalam warna?

Satu hari nanti kami akan datang padamu dalam warna hitam yang kami cintai. Sepasang hantu berbaju hitam akan menyambangimu di malam yang kelam. Hendak bertanya apakah kamu menyukai warna yang sama dengan kami atau tidak. Kalau kamu suka, berarti kita sama pecinta hitam. Kalau tidak suka, berarti kita berbeda. Tapi jangan takut, kami hanya ingin bertanya itu saja, tidak lebih dari itu.

Aku, err. Dia, Bless. Warna adalah warna, dan terserah padamu hendak memilih warna apa untuk mengisi hidupmu. Jangan biarkan siapa pun memaksakan warnanya bagimu, dan jangan memaksakan warnamu pada yang lain.

Kami sepasang hantu berbaju hitam melihatmu dari sini, dunia mati.


Nitaninit Kasapink





  

Wednesday, 16 August 2017

(21) Err Dan Bless, Aku Ada Karena Keberadaanmu

Dear Bless,
apakah kamu tahu bahwa aku mengasihimu setulus hati? Apakah kamu tahu aku mencintaimu sepenuh cinta yang kurasa? Apakah kamu tahu merindumu tanpa jeda adalah kegilaan yang memaksaku terus-menerus ingin bersamamu?

Semoga kamu tahu,
bahwa menjadi bagian dari detik milikmu adalah hal yang amat istimewa bagiku.
Bahwa berada dalam dekapanmu adalah keindahan luar biasa untukku.
Bahwa dalam genggamanmu aku merasa menjadi perempuan cantik.
Bahwa saat mendengar suaramu melambungkanku ke langit tanpa batas.
Bahwa melihatmu adalah magic untukku!
Bahwa denganmu aku bukan perempuan yang tersia-sia, apalagi disia-siakan.

Aku merasa ada karena keberadaanmu dalam gerakku.
Err


Kulipat secarik kertas sederhana berwarna hitam, lalu memasukannya ke dalam gunungan guguran bunga yang ada di taman pantai ini.

Perlahan bangkit bangun. Gaun hitamku berkibar terkena angin yang berhembus lembut. Rambutku pun dihela angin.

Pantai ini sepi.

Air laut tenang, tak ada ombak, hanya ada riak-riak kecil. Hamparan pasir ini menambah kenyamanan yang terasa.

Bless, lelaki besarku yang kukasihi sedang duduk di atas batu karang besar. Baju hitamnya terlihat amat pekat terkena sinar matahari. Celana panjang hitamnya pun amat kelam. Dibalut warna hitam, Bless tampak gagah di mataku.

Kubiarkan saja dia sendiri di sana.

Kupandang Bless dari belakang. Rasanya ingin berlari memeluknya dari belakang. Tapi tak kulakukan. Malah asyik memandangnya dari sini sambil duduk di di dedaunan yang menggunung di pasir.

Lalu kuteringat surat-surat yang dikirimkan olehnya di dedaunan.

Err, 
dedaunan bisa saja menguning lalu gugur ke bumi. Tapi tidak dengan aku. Aku tidak akan pernah menyerah dalam mencintaimu. Tak akan jatuh waktu mencintaimu. 
Bukankah kita bukan sedang jatuh cinta, Err? Kita sedang merasakan cinta yang melogika, dan mencintai dengan logika. 

Err,
seperti katamu, jatuh cinta itu menyakitkan! Jatuh adalah satu bentuk kecelakaan. Sedangkan kita merasakan cinta bukan karena kecelakaan! Tapi karena logika membantu kita agar bisa mencintai tanpa rasa sakit. Mencintai dengan rasa yang positif. 
Kita sedang mencintai dengan logika, melogikakan cinta. Kita sama-sama menyadari datangnya sang cinta. Cinta yang kita miliki bukan karena kecelakaan, bukan karena jatuh lalu cinta!

Aku percaya ketika cinta datang, dia menyebut namamu dan namaku di dalam rindunya,
Bless

Menurutku surat yang ditulisnya amat manis!

Lalu kutersenyum mengingat surat daun lainnya dari Bless wakt itu.

Err,
saat ombak berlari menuju pantai, dan ikan kecil masuk ke dalam celah karang, ada angin lembut menyapu pantai ini. Tapi tahukah kamu, sebentuk rindu melangkah bergegas menuju pintu kasih yang memang dibuka untuknya. Dan itu adalah aku, menuju ke arahmu!

Err,
dalam hening memang ada senyap. Tapi dalam suasana seperti apa pun, selalu saja ada hening yang memanggilmu dalam kasihku.

Di daun yang menguning ada sesurat penuh kasih darinya lagi.

Err,
ketika aku tak memiliki mata, kamu ada dalam penglihatanku. Dan saat sebiji matamu menjadi mataku, kamu ada dalam seluruh pandangku.

Err,
pernahkah kamu memanggil nama lain selain aku? Aku pernah memanggil nama lain yang bukan kamu. Tapi kutahu pasti bahwa hanya namamu yang akan selalu kupanggil, seperti kamu yang selalu memanggilku setiap waktu, tanpa jeda, dan tak akan jenuh. 

Kita selalu saling memanggil dalam setiap gerak., dengan seluruh kasih.

Bless, lelaki tanpa raga yang duduk di batu karang, melempar batu kecil ke laut. Airnya melompat seperti lumba-lumba cantik.

Bless, dia lelakiku yang lembut. Lelakiku yang pernah punya masa lalu dengan yang lain. Tapi dia adalah Bless, lelakiku di hari ini! Aku hanya ingin mencintainya dengan logika. Bukan dengan kecemburuan yang liar berlari, atau dengan keegoisan yang bisa menghanguskan kasih yang ada.

Bagaimana denganmu? Masih saling memusuhi?

Aku, Err. Dia, Bless. Kami sepasang tanpa raga. Kami hantu yang tak lagi hidup sepertimu. Kami ada di dunia mati yang amat berbeda dengan duniamu. Tapi kami menemukan cinta dan kasih malah setelah berada di sini, dalam mati.

Aku, Err. Dia, Bless. Tersenyum memandangmu dari sini.

Jika ada aliran angin dingin menerpamu, itu berarti kami ada di dekatmu. 

Ya, kami, Err dan Bless.


Nitaninit Kasapink






Tuesday, 15 August 2017

(20) Err Dan Bless, Masa Lalu Sudah Usai

Aku baru menyadari bahwa apa yang sedang terjadi adalah sebuah mimpi kosong yang kamu beri untukku. Semua pernyataan dan pertanyaanmu tentang aku dan tentang  rasa yang kumiliki terhadapmu hanyalah sebuah kisah kasih yang kosong.

Aku baru menyadari bahwa semua yang terjadi dulu hanya sebuah guyon halus yang menerbangkanku jauh tinggi ke atas awan! Aku cuma secelah sempit tentang kasih yang ada.

Kung!

"Err, ada apa?"

Lelaki besar yag selalu mendampingiku di dunia mati menyentuh bahuku perlahan, membuat lamunanku pecah seketika.

"Tidak ada apa-apa, Bless."

"Lalu kenapa kamu seperti hanyut dalam sebuah kenangan? Berapa banyak kenangan yang kamu punya?"

Aku tersenyum padanya.

Bless, andai kamu tahu apa yang ada dalam kenanganku.

"Ceritakan padaku."

"Tidak, ini hanya untuk kukenang sendiri. Tidak untukmu."

Wajahnya berubah menjadi sendu.

"Oh, ada rahasia yang kamu simpan, ternyata."

Bless, kamu tidak tahu aku sedang berusaha melepas seluruh kenang agar bisa melangkah dengan tenang di dunia ini.

"Jangan ceritakan padaku."

Bless, kalau saja kamu tahu yang sedang aku rasakan, tanpa harus kuceritakan padamu.

"Aku bukan hantu yang pandai meramal tentang hantu lainnya, Err. Aku hanya tahu jika diberitahu."

"Ya, Bless. Aku tahu itu."

"Jadi kamu menceritakan atau tidak?"

"Ya."

"Apa?"

"Aku mau bercerita."

"Mulailah. Aku menyimak. Tentang siapa? Kung?"

Aku beringsut mendekat pada Bless. Menyandarkan kepala di bahu kanannya.

"Ya, Kung. Aku masih memiliki kisah yang belum berhenti dengannya."

"Maksudmu?"

"Bless my dear, bukankah kita sudah seharusnya menuntaskan apa yang terjadi agar jalan ini menjadi ringan?"

Diraihnya kepalaku, dielusnya lembut.

"Kung mempermainkan cintamu, hantu perempuan."

Aku makin masuk dalam elusannya.

"Dia mencintaiku!"

Dikecupnya rambutku.

"Tapi kalian tidak dalam ikatan apa pun, bukan?"

"Aku mencintainya, Bless!"

"Iya, hantu perempuan. Aku tahu."

"Tapi dia tak ingin bersamaku."

Melemah suaraku.

"Dia memilih perempuan lain!"

"Bukan kamu?"

"Bukan. Tapi dia berkata mencintaiku."

Bless memelukku bahuku erat.

"Bagaimana mungkin dia tak ingin bersamamu? Bukankah dia mencintaimu?"

"Ada sesuatu yang tak bisa kuceritakan padamu."

Bless diam. Kakinya menyungkil pasir kuat-kuat hingga pasir beterbangan bagai terkena badai.

"Aku bertemu dengannya dulu sekali."

Berhenti sejenak, lalu melekatkan kepala di bahu Bless.

"Bertahun kemudian aku bertemu dengannya. Lelaki besar dengan senyum yang nyaris hilang. Penuh kegelisahan."

Bless menarikku lebih dekat.

"Untuk apa kamu menemuinya, Err?"

"Tidak sengaja!"

"Tidak sengaja?"

"Ya. Hingga akhirnya dia sering sharing denganku."

"Kenapa denganmu?"

"Karena dia percaya aku adalah orang yang tepat."

Bless mengelus bahuku lembut.

"Dear, ulanglah sekali lagi kalimatmu."

Aku langsung menoleh ke arah Bless. Aneh! Mengapa aku harus mengulang kalimatku tadi?

"Ulanglah sekali lagi, dear."

"Karena dia percaya aku adalah orang yang tepat."

"Yes! Poinnya ada di situ! Dia percaya padamu karena kamu adalah orang yang tepat! Orang, Err. Orang! Dan sekarang kamu sudah bukan seperti dulu lagi, bukan? Kamu sudah bukan orang, Err!"

Terkejut aku mendengar ucapannya. Ya, aku hantu perempuan! Kung mencintaiku saat masih ada di masa lalu, bukan di saat ini! Lagi pula bukankah dulu pun dia bersama yang lain?

"Lalu?" Tanyaku pada Bless.

"Kisahmu sudah usai bersamanya. Ya kan? Sudah tuntas sejak kamu ada di dunia mati ini, Err."

"Begitukah menurutmu?"

"Ya, Err. Ya."

"Lalu aku harus bagaimana?"

"Menutup kisahmu dengannya."

"Caranya?"

"Dasar perempuan. Caranya cintai kisahmu saat ini. Masa lalumu ada di masa lalu. Hadapi dan jalani yang ada di saat ini. Mengerti maksudku?"

Dengan lembut diusapnya bahuku perlahan.

"Bless! Kamu jenius!"

Bless tertawa terbahak-bahak.

"Perempuan! Baru sekarang kamu menyadari kejeniusanku?"

Kukecup pipinya.

"Astaga, selama ini aku masih saja berpikir bahwa kisahku belum tuntas dengannya!"

"Err, kalau belum tuntas, bagaimana caramu menuntaskannya? Bisakah?"

Aku tertawa terbahak-bahak. Ya, tak akan bisa!

"Bless, kamu jenius! Luar biasa!"

"Masih merasa kisahmu belum tuntas?"

"Tuntas! Uh, belum pernah aku merasa selega ini, Bless."

"Sini, sini, peluk hantu lelaki ini."

"Terima kasih, Bless. Caramu memandang kisahku memang berbeda dengan caraku. Tapi justru itu yang kubutuhkan. Kita saling berbagi cara memandang, Bless."

Senyumnya pun melebar.

Bless, love you!

Dan laut pun tenang. Angin semilir menyapa. Ombak kecil riang menghampiriku. Pasir yang jadi alas duduk ini pun menjadi amat lembut.

Hai, aku, Err. Dia, Bless. Kami sepasang tanpa raga, sepasang hantu yang saling berbagi kasih, berbagi pandang. Sebiji mataku jadi mata kirinya, dengan cara itu kami berbagi pandang.

Jangan pertanyakan kami ada atau tidak. Yang pasti kami melihatmu dengan masing-masing sebiji mata yang kami punya.

Aku, Err. Dia, Bless. Berusaha melepaskan masa lalu yang pernah jadi kehidupan kami. Sekarang kami ada di dunia mati, yang jelas berbeda dengan masa lalu.

Bagaimana denganmu? Masih hidup dalam masa lalu? Masih belum bisa melepaskan masa lalu? Atau sudah bisa menghadapi dan menjalani hari ini tanpa bayagan masa lalu?



Nitaninit Kasapink












Sunday, 13 August 2017

(19) Err Dan Bless, Panggil Namaku

Pernahkah kamu bosan memandang laut? Pernahkah kamu jenuh berada di pinggir laut? Pernahkah kamu membenci laut?

Aku mencintai laut! Aku cinta pantai! Semua hal yang berhubungan dengan pantai, laut, tak pernah membuatku jadi jenuh, bosan, apalagi membenci. Tidak akan pernah!

Kenapa? Ah, laut, pantai, pasir, angin, sengatan matahari, beserta anginnya, membawa kedamaian untukku.

Dan aku ada di sini di pantai, menatap laut yang tenang.

Bless? Dia ada di sisiku. Duduk menatap laut juga.

"Bless, sedang berpikir tentang apa?"

"Tentangmu."

"Tentangku? Tentang apa?"

"Apakah kamu menyayangiku?" Tanya Bless.

Terkejut mendengar pertanyaan yang tiba-tiba seperti itu, alisku berkerut, mata pun menyipit. Lalu beringsut berpindah duduk ke hadapannya.

"Err, aku bertanya sungguh-sungguh. Apakah kamu menyayangiku?"

Wajahnya terlihat serius, tanpa senyum.

"Ya!"

"Jangan berteriak. Aku mendengarmu, Err."

Bersungut-sungut dia menjawab, tapi kemudian tersenyum.

"Bless, kamu tidak mendengarku. Aku menyayangimu, mencintaimu, mengasihimu. Dari sikapku, perkataanku padamu, semua jelas menyatakan bahwa aku menyayangi, mencintai, mengasihi. Tapi masih juga kamu bertanya tentang itu."

Senyumku melebar.

Bless tertawa.

"Apakah kamu bosan bersamaku di sini?"

"Pertanyaan macam itu?"

"Aku bertanya, jawablah. Ayo, jawablah."

Rengekan lelaki tinggi besar yang dewasa!

"Aku bahagia bersamamu di sini. Tak akan pernah bosan. Kamu melengkapiku."

Matanya berbinar.

"Panggil namaku, Err."

Sebuah permintaan yang sederhana dari lelaki penuh kasih.

"Bless, Bless, Bless."

"Terima kasih, Err."

Kupeluk dia penuh kasih.

"Ada apa, Bless?"

"Aku rindu namaku disebut."

"Bless, Bless, Bless."

Sebiji matanya penuh dengan bintang-bintang kecil bersinar.

Diraihnya tanganku, digenggam erat.

"Kamu perempuan terbaik yang kumiliki."

Senyumku melebar.

Bless, ucapanmu membuatku melambung tinggi!

"Panggil lagi namaku."

Pinta orang terkasihku.

"Bless. Bless. Bleeeeess! I love you!"

Bless tertawa mendengar teriakanku.

"I love you, too, Err."

"Tidak, tidak! Aku tidak mau hanya too! Aku mau three, four, five, six, seven, eight, nine, ten, infinity! Too sama kan dengan 2?"

Bless tertawa.

"Ya, I love you, infinity!"

Aku bertepuk tangan mendengar ucapannya.

"Bless, Bless, Bless, I love you infinty!"

Diraihnya aku dalam pelukan dingin. Lebih dingin dari es!

"Yuk kita jalan-jalan keliling pantai," ajaknya.

Kami pun bangkit, lalu bergandengan tangan berkeliling pantai.

"Aku bahagia digandeng olehmu."

Bless menoleh, tersenyum.

"Aku bahagia melihat senyummu."

Bless masih tersenyum.

"Aku bahagia selalu bersamamu."

Bless menghentikan langkah.

"Err, kamu serius?"

Aku tertawa lalu menjawab,"Jangan sembarangan berkata bahwa aku serius!"

Matanya menyipit. Ada kecewa di sana.

"Aku duarius, tigarius, empatrius, infinity rius!"

Kami tertawa bersama keras sekali!

"Aku ingin bercerita sesuatu padamu, Err."

"Apa? Cerita saja."

"Aku mencintai perempuan."

"Bless, ya aku tahu. Kamu kan lelaki! Pantasnya mencintai perempuan."

Bless tertawa pelan. igandengnya aku erat.

"Hmm, kamu mencintaiku, Bless?"

Tanyaku tak dijawabnya. Bless tetap menggandeng erat. Matanya menatap ke depan.

Aku tak ingin mengganggunya. Biar sajalah dia berada dalam pikirannya sendiri.

"Err, jika satu saat biji mataku tumbuh dengan sendirinya, apakah aku bisa melihat sepertimu?"

Aku diam. Sebuah pertanyaan aneh, menurutku.

"Err, jawablah."

Kuajak Bless menghentikan langkah. Duduk bersisian di atas pasir yang hangat.

"Jika biji matamu tumbuh lagi, Bless. Kuharap kamu bisa melihat dengan baik. Mungkin berbeda dengan caraku melihat, tapi kurasa kamu punya cara sendiri untuk menikmati sebuah keindahan dari pandangmu."

Setitik air mata hendak turun, kutahan. Jangan menangis, Err Jangan.

"Jika biji matamu tumbuh kembali, kamu bisa melihat segala sesuatu menurut caramu. Bukan lagi sebagai aku. Mungkin cara kita akan amat berbeda, malah mungkin bertentangan. Tapi kuharap saat itu aku tetap mengenalmu sebagai Bless, lelaki tinggi besarku yang memiliki kasih yang luas. Kuharap saat itu kamu mengenalku sebagai Err, hantu pengganggu jalan kisahmu.""

Kugenggam erat jemari tangannya. Sungguh kutakut kehilangannya. Tapi jika memang satu saat itu terjadi, aku ingin bisa kuat menghadapinya tanpa menangis.

Menumbuhkan biji mata baru baginya adalah sebuah keinginanku. Walau kutahu itu bisa membuatnya menghilang dari kisahku.

"Kuserahkan matamu kembali, Err."

Terkejut kumendengarnya.

"Ya,nanti jika matamu sudah bertumbuh, Bless. Kamu boleh mengembalikan padaku, atau juga boleh membuangnya."

Apa yang harus kulakukan saat ini? Menangis atau tersenyum?

"Err, panggil namaku."

"Bless, Bless, Bless."

Air mataku turun perlahan. Bless tak tahu apa yang kurasakan saat ini. Sungguh aku takut kehilangan dirinya!

"Bless."

"Ya."

"Aku takut kehilangan kamu."

"Hei! Aku ada di sini, Err!"

Genggamanku makin erat.

"Beberapa kali kamu menghilang, Bless. Kurasa satu waktu nanti kamu akan meninggalkanku selamanya. Apalagi setelah matamu bertumbuh."

Ganti genggamannya yang dipererat.

Tidak menutup kemungkinan Bless akan pergi meninggalkanku. Semua bisa saja terjadi. Bless punya masa lalu yang melekat di kisahnya, dan aku tak pernah tahu seperti apa kisahnya.

Menikmati hari ini bersamanya adalah hal terindah dalam kisahku.

"Bless, Bless, Bless."

"Err, Err, Err."

Saling memanggil, kurasa cukuplah membahagiakan saat ini. Entah esok.

Aku, Err. Dia, Bless. Kami sepasang hantu yang ada dalam kasih berbagi. Berbagi hal yang sederhana, namun membahagiakan. Bukankah bahagia bukan sebuah hal  yang mewah?

Aku, Err. Dia, Bless. Jangan pertanyakan kami ada atau tidak. Tapi jika kamu mendengar sebuah suara bedengung, berarti kami sedang saling memanggil.

Kamu yang ada di dunia hidup, apakah kamu pun seperti kami? Saling memanggil dengan penuh kasih.


Nitaninit Kasapink













Thursday, 10 August 2017

(18) Err Dan Bless, Semua Sesuai Prasangkamu Saja

Bless berjalan sendiri di pantai. Kakinya menendang pelan pasir di setiap kakinya melangkah. Butirannya beterbangan.

Sedangkan aku asyik duduk di atas pasir hangat sinar matahari.

Angin lembut bertiup. Daun-daun bergoyang pelan. Jajaran pohon meneduhi pantai. Melindungi siapa pun dari sengatan matahari.

Beberapa orang terlihat asyik duduk bercengkrama.

Pantai ini sepi, tidak hiruk pikuk.

Air laut tenang mengalir menuju batas pantai, lalu kembali menuju laut. begitu terus menerus, tak berhenti. Suaranya tidak memekakkan, tapi bagiku malah menenangkan.

Terlihat beberapa orang sedang menyusuri susunan batu yang disusun rapi. Senyum mereka jelas mengembang.

Apakah kamu tahu? Aku amat suka melihat siapa pun tersenyum! Bagiku, senyum adalah wujud syukur karena telah diberi segala bahagia dalam seluruh kejadian yang hadir.

Dan saat ini aku sedang menikmati setiap senyum yang ada. Bahagianya! Indahnya!

Tapi saat kumemutar pandang, seorang perempuan sedang duduk di dalam gelombang ombak. Menunduk. Rambut panjangnya berkibar ditiup angin!

Hei! Gelombang menembus tubuhnya!

Sosoknya terlihat pucat. Oh bukan, seluruh tubuhnya abu-abu!

Aku belum pernah melihatnya di sekitar sini!

Setengah berlari kumendekatinya.

Melewati air laut yang berlari menerjang.

Mendekati, menepuk halus pundaknya yang jatuh bagai tak bertulang.

"Hai. Aku, Err. Kamu siapa? Kenapa bersedih?"

Wajahnya masih menunduk, isaknya terdengar pelan.

Pelahan kepalanya bergerak menoleh ke arahku. Rambutnya yang tergerai makin berkibar.

"Aku...."

Suaranya bergetar.

Oh! Matanya! Kosong! Seperti Bless dulu! Tapi wajahnya menyeramkan. Penuh dengan darah!

Tidak! Walau pun aku juga hantu, tetap saja itu mengejutkanku!

"Apa yang terjadi?"

Air mata yang mengalir adalah darah berwarna hitam. Luka lama yang telah lama dirasakan!

"Aku, Err. Siapa namamu?"

 "Aku, Ell."

Wajahnya kemudian menunduk lagi.

"Kenapa kamu ada di sini?" Tanyaku.

"Bukan maksudku ke sini. Tapi ini pantai yang dulu ada dalam masa laluku!"

Wajahnya menegang. Darah hitam makin banyak mengalir dari matanya yang kosong!

Tidak, jangan, berhentilah, jangan seperti ini.

Tiba-tiba dia menghilang!

Ganti aku menangis, duduk dalam gelombang ombak yang semakin menggemuruh!

"Err! Sedang apa kamu di sini? Bangunlah. Sini, sini, aku peluk. Sini, Err."

Suara yang menenangkanku. Bless!

Aku bangun, memeluknya erat!

"Bless, tadi ada perempuan abu-abu, berambut panjang. Matanya kosong sepertimu! Darah hitam mengalir dari rongga mata yang kosong. Lalu dia menghilang. Namanya Ell. Aku merasa mengenalnya, Bless."

Bless memeluk erat, lebih erat dari sebelumnya.

"Err, sewaktu kita menyambangi rumah masa lalumu, aku melihat guratan kasar di tembok kamarmu. Tertulis, Ell. Apakah ini ada hubungannya dengan perempuan abu-abu itu?"

Tercekat aku mendengar penuturan Bless.

Ell, Ell, Ell?

Telunjukku mengetuk-ngetuk kening.

Ell, Ell, Ell.

Siapa Ell? Tapi rasanya aku mengenal nama itu.

Bless masih memelukku.

"Err, apakah tak ada hubungannya antara nama Err dan Ell? Bukankah itu serupa?"

Ell!

Astaga, Ell adalah sebutanku di masa lalu! Karena cadel, aku menyebut namaku, Ell. Dan sering kali kedua orang tuaku memanggilku, Ell.

Perlahan kuberbisik lirih di telinga Bless,"Apakah dia adalah aku di masa lalu, Bless?"

Dibelainya kepalaku. Dikecupnya rambutku. Sedangkan dengan satu tangan dia memelukku lebih erat lagi.

Ya, segala sesuatu yang terjadi menjadi sesuai dengan prasangka kita sendiri.

Ketika kumengira bahwa perempuan berwarna abu-abu berambut panjang adalah hantu sepertiku, jadilah dia hantu.

Dan saat aku berpikir bahwa dia adalah aku di masa lalu, bahwa dia adalah aku yang merasa tersiksa dengan keadaan yang terjadi di masa itu, hingga kehilangan seluruh warna hidup, berubahlah seluruh warnaku menjadi abu-abu! Dan mata kosong itu adalah milikku dulu. Yang tak pernah bisa melihat kebahagiaan. Darah hitam yang mengalir menjadi penguatan tentang luka yang dirasakan. Luka-luka yang tak pernah terpikir akan terus menerus dibawa, dan tanpa pernah berubah menjadi sembuh dan normal, . Menghitam karena dendam!

Semakin erat kumemeluk Bless.

"Jangan tinggalkan aku. Bantu aku menyembuhkan luka-lukaku. Bantu aku, Bless."

Air mata mengalir dan terus mengalir.

Air laut menjadi pasang. Langit gelap makin kelam. Guntur yang menggelegar membuat tubuhku gemetar.

"Peluk aku, Bless. Jangan lepas pelukanmu."

Lalu kulanjutkan,"Bless, aku pun bermata kosong sepertimu, di masa lalu. Berarti kamu bisa menumbuhkan biji matamu sendiri! Kita sama-sama berusaha, Bless. Kita saling mendukung."

Bless tak berkata apa pun. Tapi aku tahu dia memiliki jawaban terhangat yang penuh dengan kasih.

Aku, Err. Dia, Bless. Kami sepasang tanpa raga yang berbagi biji mata, berbagi pandang, berbagi kasih.

Aku, Err. Dia, Bless. Sepasang hantu yang berusaha menuntaskan kisah masa lalu, hingga tak lagi menjadi luka, apalagi mendendam. Masa kami sudah habis di dunia hidup. Sekarang kami ada di dunia mati. Dan sekaranglah masanya kami untuk menjalani hidup di dunia mati tanpa kesakitan yang memerih.

Hai, kamu. Kamu ada di dunia hidup. Jangan pernah lukai hati dan jiwa siapa pun. Karena itu amat mematikan, bahkan di saat sudah mati sekali pun.

Tebar kasihmu untuk siapa pun.

Bukankah kasih adalah hal yang membahagiakan?

Aku, Err. Dia, Bless.
Kami bahagia ada di dunia mati.

Jangan pertanyakan kami ada atau tidak. Tapi kami melihatmu dari sini.


Nitaninit Kasapink







                                          





   

Wednesday, 9 August 2017

(17) Err Dan Bless, Apakah Cinta Itu Ada?

Laut masih sama seperti kemarin dan kemarinnya lagi. Masih belum berwarna biru, masih berombak liar, dan juga masih menyimpan ikan yang berenang keluar masuk bebatuan di pantai.

Langit jernih biru dengan awan putih berarak seperti arum manis, gulali. Matahari bersinar cerah!

Angin bertiup sepoi-sepoi memainkan rambut seleher, mengibarkan daun-daun nyiur yang lemah gemulai.

Aku seperti biasa ada di sini, duduk santai di hamparan butiran pasir pantai. Jari kaki masuk ke dalam pasir. Hangat bermandi sinar matahari. Bless duduk di sisiku, dengan posisi duduk yang sama. Dia pun memainkan pasir dengan jari kaki dan jari tangannya.

Aku, Err, perempuan syantik tanpa raga, karena ragaku sudah ditanam dalam bumi. Duniaku adalah dunia mati. Begitu juga Bless. Kami hidup dan berbagi kasih dalam dunia mati, tidak berada dalam dunia bercahaya kehidupan sepertimu. Tapi di sini malah kami mempunyai kematian yang lebih hidup dibanding hidupmu yang saling mematikan .

Aku perempuan yang tak bisa feminin, tapi tetap syantik! Syantik, itu kata yang kudapat dari Bless, si lelaki tinggi besar dengan ukuran sepatu 45. Menurutnya, aku perempuan cantik, karena itu disebutnya aku, syantik! Lalala, indahnya menjadi aku!

"Err, kenapa diam?"

"Aku sedang menikmati hening bersamamu."

Kami bicara tanpa saling menoleh.

"Err, cerita lagi, Err."

"Cerita apa?"

"Hmm, pernahkah kamu mencintai seseorang saat belum masuk ke dunia sekarang ini?"

"Pernah!"

"Ceritakan padaku. Aku mau dengar ceritamu tentang cinta."

Bless memandangku. Aku tersenyum padanya.

"Cinta? Cerita tentang cinta? Hmm...."

"Keberatan?"

"Tidak."

"Ayolah ceritakan padaku."

"Aku pernah mencintai Su. Dia suamiku, dulu. Lalu setelah Su pergi meninggalkanku, bertahun kemudian, aku mencintai Kung, seorang lelaki tinggi besar sepertimu, Bless. Amat mirip denganmu. Namanya Kung."

"Kung? Hanya Kung?"

Bless pindah dari posisinya yang duduk di sisiku jadi berada di hadapanku.

Kupandang Bless lekat-lekat. Bless tersenyum kecil padaku.

"Ya, Kung. Namanya Kung. Dia amat baik. Aku mencintainya. Lelaki ramah yang penuh kasih! Tapi aku tak tahu apakah dia mencintaiku atau tidak."

"Oh ya? Bagaimana mungkin kamu tidak tahu, Err? Apakah dia tidak mengatakan padamu bahwa dia mencintaimu?"

Sebiji matanya melotot ke arahku.

Bless, kamu amat mirip dengannya!

"Kami saling berkabar, tukar cerita. Dan seringkali aku merindukannya. Menurutnya, dia pun merindukanku."

Bless tersenyum lebar.

"Kamu mecintainya sepenuh hati?"

"Ya! Dia lelaki besar dengan senyum kecil."

Kami tertawa bersama.

"Sepertiku?" Tanyanya.

"Ya. Sepertimu. Lelaki besar dengan senyum kecil."

Tangannya menopang kepala. Badannya condong ke arahku. Matanya penuh rasa ingin tahu.

"Ada di mana dia sekarang? Di dunia hidupkah?"

"Ya."

"Mau ke sana melihatnya? Kamu merindukannya?"

"Saat aku ada dalam dunia yang sama dengannya, dalam dunia hidup, ya jelas aku merindukannya, Bless."

"Bagaimana dengan sekarang?"

Mata dan senyumnya menggodaku. Kumonyongkan bibirku.

"Jawab, Err."

"Aku ada di dunia mati, Bless!"

Kami tertawa terbahak-bahak.

Disentuhnya tanganku lembut.

"Katamu, kamu tidak tahu dia mencintaimu atau tidak. Bagaimana mungkin kamu tidak tahu?"

Tersenyum memandang lelaki di hadapanku.

"Iya, dia mencintaiku. Dia mencintaiku. Puaaaaas?"

Bless menggenggam tanganku erat.

"Dan sekarang kamu mencintai siapa?"

Kuhembuskan napas keras-keras ke wajahnya.

"Mencintaimu!"

Digenggamnya tanganku lebih erat lagi.

"Bagaimana dengan Kung?"

Mataku melotot!

"Bless, apakah kamu mencemburui Kung?"

"Ya," jawabnya.

"Bagaimana mungkin kamu cemburu padanya?"

Mulutku semakin monyong ditambah menggembungkan pipi.

"Karena aku mencintaimu."

Sebiji matanya tenang menatapku. Tangannya tetap erat menggenggam tanganku.

"Kung punya seorang kekasih yang cantik. Dia masih bersamanya."

Bless membelalakkan sebiji matanya!

"Apaaaa?"

"Sudahlah, Bless. Jangan banyak bertanya."

"Err, kamu sedang bercerita tentang Kung. Jadi wajar saja kan aku bereaksi atas ceritamu itu."

Kulepas genggamannya. Masuk dalam pelukannya. Menangis tanpa bersuara. Hanya air mata mengalir.

"Err, kamu menangis?"

Aku diam.

"Maafkan aku. Jangan menangis."

Semakin erat kupeluk Bless.

"Lalu apa yang terjadi?"

"Dia tetap mencintaiku. Tapi tak bisa meninggalkan kekasihnya. Aku mencintainya, tapi tak ingin memisahkan mereka. Cintaku adalah cinta yang mengasihi, Bless. Bukan cinta yang harus memiliki, walau sejujurnya aku  ingin selalu bersama."

"Dia menyakitimu!"

"Tidak. Aku tak merasa disakiti."

Dilepasnya pelukanku, lalu dipegangnya wajahku.

"Kamu baik-baik saja?"

"Ya. Ada kamu dalam duniaku. Jika dulu kamu ada di dunia hidupku, pastilah sangat membahagiakan."

Air mataku masih terus mengalir.

"Bless, apakah cinta itu ada?"

Bless meraihku masuk dalam dekapannya yang menyejukkan.

"Ada, Err. Buktinya kamu mencintai Su, walau pun Su memperlakukanmu dengan tidak baik. Lalu kamu mencintai Kung. Dan sekarang kamu mencintaiku, lelaki tinggi besarmu di dunia mati."

"Bless, kamu mencintaiku?"

"Ya! Dan aku juga tahu, Kung mencintaimu. Hanya saja waktu mempertemukan kalian di saat yang tidak tepat."

Aku enggan menjawabnya. Berada dalam dekapan Bless sungguh melegakan hati. Bless, kekasih di dunia mati.

"Jika kamu masih ada di dunia hidup dan dia memilihmu, apakah kamu akan bersamanya, Err?"

Aku terisak, mengangguk pelan.

Bless, andai saja kamu tahu, Kung dan kamu adalah sosok berbeda tapi sama. Banyak kemiripan antara kalian. Hanya saja Kung ada di dunia hidup, dan kamu ada di dunia mati. Tapi aku mencintai kalian berdua. Aku tak bisa memiliki Kung. Tapi aku memiliki Bless dalam seluruh kisahku, dalam seluruh detikku.

Aku, Err. Dia, Bless. Kami sepasang tanpa raga, sepasang hantu. Kami saling mengasihi, mencintai. Kami punya masa lalu yang tak mungkin bisa dihapus. Tapi kami tak mempermasalahkan masa lalu yang pernah dilalui. Masa lalu adalah cermin untuk kami, agar bisa menjalani hari ini dengan lebih baik.

Kamu yang ada di dunia hidup, bisakah aku meminta tolong padamu? Sampaikan salam kasihku untuk Kung, lelaki tinggi besar dengan sepatu ukuran 45, yang mencintaiku tapi tak bisa meninggalkan kekasih cantiknya. Kuharap dia tahu, aku tetap mencintainya seperti aku mencintai Bless. Hanya saja aku sekarang ada di dunia mati. Seandainya aku ada di dunia hidup sepertimu dan sepertinya, pastilah duniaku tetap berisikan nama Kung. Hanya Kung.

Tiba-tiba Bless mendekapku dari belakang!

"Hai, salam dariku juga, ya!"

Oh, sampaikan pada Kung, salam itu dari aku dan Bless.


Nitaninit Kasapink
















Monday, 7 August 2017

(16) Err Dan Bless, Jangan Tepis Pelukanku

"Kenapa air laut rasanya asin, Bless?"

"Karena yang manis itu teh botol." Jawab Bless.

Aku terperangah mendengar ucapannya. Bless! Dia adalah lelaki tinggi besar yang selalu memeriahkan hariku.

"Karena yang manis tuh akuuu!" Ujarku sambil tertawa.

Dia tertawa keras. Suaranya menggetarkan daun-daun yang ada di pepohonan, lalu sebagian berguguran.

"Bless! Suaramu menyakiti dedaunan!"

"O ow! Maaf, daun-daun. Maaf, pohon-pohon," Bless berkata dengan suara terdengar seperti menyesali.

 "Tidak boleh diulangi. Tidak boleh nakal. Ingat ya, tidak boleh nakal."

"Tidak boleh nakal! Aku kenal dengan kalimat itu," ucapnya sambil tertawa yang ditahan. Mungkin dia takut daun-daun berguguran lagi.

"Hahaha, ya jelas. Itu kalimat petuahmu untukku. Petuahmu. Ingat? Pe-tu-ah! Hahaha!"

"Petuah. Aku jadi tetiba merasa tua seketika!"

"Hei Bless. Kamu pikir berapa usiamu? Sepuluh tahun?"

"Err! Aku sweet seventeen!"

Tawa kami membahana. Dedaunan berguguran banyak sekali. Angin berhembus kencang.

"Err! Suara tawamu! Hampir saja bumi ini dilanda gempa karenanya!" Celetuk Bless.

Lagi-lagi tawa kami menggema. Biarkan saja dedaunan jatuh ke bumi, biarkan saja angin berhembus menerbangkan apa pun yang ada. Kami tertawa lepas tanpa beban.

Laut yang ada di hadapan kami menghidangkan ombak yang berlarian. Besar, membesar, makin besar. Indah sekali pecahan airnya di batu karang. Bukan hanya sekali, tapi terus berulang-ulang. Seakan-akan mereka sedang berlomba siapa yang paling besar dan siapa yang paling menakjubkan deburannya.

Langit membiru. Awan putih menggoda untuk ikut bersama mereka berada di atas sana.

"Bless, pernahkah kamu ke atas awan?" Tanyaku.

"Belum pernah."

"Sewaktu kecil aku memimpikan berbaring dalam awan. Berlari di antara bintang. Juga memetik kilat yang menakutkan itu! Lalu memeras awan hingga hujan turun! Impian yang konyol, ya? Oh ya, aku selalu berlari menuju ujung pelangi saat kulihat lengkungan indahnya di langit, dulu. Melompat karena ingin segera tiba di atas langit, memanjat pohon hingga puncak karena ingin mencapai awan!"

Bless mendengarkanku. Seperti biasa dia memperhatikanku. Dan seperti biasa, aku bercerita tanpa henti. Masuk dalam masa kecil sungguh membahagiakan. Tetiba terbayang semua apa yang kulakukan saat kecil, dan semua yang kuinginkan juga seluruh khayalan!

"Apa lagi?" Tanya Bless.

"Aku ingin bertanya pada langit, apakah dia merasa terganggu dengan kehadiranku saat berada di sana? Karena saat aku berada di langit, aku bernyanyi keras-keras!"

Bless tersenyum. Digandengnya tanganku dengan erat.

Aku suka caranya memperhatikanku. Aku suka caranya menggenggam erat jemariku. Aku suka cara dia menatap mataku. Aku suka caranya mendengarkan seluruh cerita konyolku. Aku suka semua yang dilakukannya untukku.

"Apa lagi mimpimu?"

"Banyak!"

"Apa? Ceritakan padaku."

"Aku ingin berpelukan di dalam lebatnya hujan! Aku ingin dipeluk dalam kegelapan yang pekat! Aku ingin berada dalam kenyamanan saat aku berada dalam situasi yang aku tak tahu bagaimana harus bersikap."

"Itu mimpimu?"

"Ya. Itu mimpi saat kumenua."

"Bukankah dia, sang terkasih memelukmu?"

"Tidak. Pelukku selalu ditepisnya."

"Oh, maafkan pertanyaanku."

"Bless, it's ok. Tak apa. Toh saat ini aku bahagia. Jauh lebih bahagia dibanding saat kuberada di dunia hidup! Kenapa kamu tak ada saat kumasih bernapas, Bless? Dimanakah kamu saat itu? Andai saja aku menemukanmu dulu, pasti hidupku tak sesakit itu."

Tanganku digenggam erat-erat. Bless tak menjawab.

"Dulu aku membangun bahagiaku, mencipta bahagiaku sendiri. Makiannya memenuhi seluruh detikku dan hampir saja membuatku gila." Lirih suaraku menceritakan masa lalu yang tak bisa disebut indah.

"Err."

"Bless. kenapa kamu tak ada sejak dulu?"

Direngkuhnya aku dalam pelukan dinginnya. Bless, kamu selalu menenangkanku. Maafkan aku dan masa laluku. Amat membekas dalam ingatan. Amat meluka dalam kenang.

"Sekarang ada aku. Kalau dulu kita bersama, mungkin saat ini kita tak bisa bertemu, Err."

Air mataku membasahinya, juga mengalir membasahi seluruh pantai berpasir. Lukaku begitu dalam dan menyakitkan. Padahal aku sudah berusaha menerima segala yang terjadi. Tapi ternyata masih ada luka tertinggal.

"Err, ada aku. Saat ini ada aku. Aku memelukmu dan tak akan pernah menepismu. Aku akan tetap di sini. Tak meninggalkanmu. Ada aku. Seperti kamu ada untukku."

Dibelainya punggungku lembut. Lembut sekali. Dan sungguh menenangkan.

"Jangan pergi dariku, Bless. Jangan pergi. Aku bisa saja sendirian tanpa siapa pun. Aku bisa saja menjalani segala sesuatu tanpa siapa pun bersamaku. Tapi bersamamu amat menenangkanku."

"Ya, ya, aku tidak meninggalkanmu. Ayo ceritakan lagi padaku tentang mimpi-mimpimu. Cerita padaku tentang angan dan inginmu, tentang semua kisah hidupmu dahulu. Kita urai bersama. Kita rasa bersama. Juga kita melegakan hati bersama. Setuju?"

"Yes! Kita saling menyembuhkan, ya?"

Pelukannya makin erat membawaku dalam hening yang damai.

Bless, lelaki tinggi besar dengan ukuran sepatu 45 adalah hantu sebiji mata kiri dan serongga mata kosong. Dia lelaki yang berbagi pandang denganku, penuh kasih. Dia bukan lelaki sempurna. Tapi justru menjadi amat sempurna karena penuh kasih dan sanggup berbagi denganku.

Bless, menjadi penyempurnaku, penyeimbangku. Yang membasuh seluruh luka dalam kenang masa lalu. Aku pun menjadi penenang baginya. Kasih yang kami miliki adalah kasih yang tulus. Berada di sini menyadarkan bahwa hidup adalah anugerah terindah, dan semestinya diisi dengan hal yang selalu indah. Bukan dengan kemarahan, apalagi kebencian dan dendam. Hidup diisi dengan saling mengasihi dalam seluruh sisi kehidupan.

Kami sepasang hantu melihatmu dari sini.

Ingin bertanya padamu, apakah kamu tulus berbagi kasih, atau masih sibuk menepis peluk erat yang mengasihimu?

Aku, Err. Dia, Bless. Kami hantu yang berada di pantai ini. Sejak pagi hingga pagi, kami ada di sini. Terkadang kami meninggalkan tempat ini untuk sejenak melepas kejenuhan, tapi lalu kembali ke sini lagi. Karena di sini ada kasih yang tak ingin kami tinggalkan. Jangan bertanya apakah kami ada atau tak ada. Dengar saja kisah kami dari angin yang mengembara.


Nitaninit Kasapink

















Sunday, 6 August 2017

(15) Err Dan Bless, Ketika Diperbolehkan Memilih

Suara ombak yang pecah di karang amat menenangkan. Mungkin ada sebagian yang takut pada gemuruhnya, tapi untukku ini amat menenangkan dan,menyenangkan!

"Bless, kamu suka gemuruh ombak?" Tanyaku.

"Hm, hm. Aku suka. Tapi sebenarnya aku lebih suka yang tenang dibanding suara debur berdebur."

"Hah? Lalu kenapa kamu memilih berada di sini?"

"Karena aku suka di deru ombak ada hening milikmu."

Aku terpana mendengar jawabannya yang di luar dugaanku.

"Hai hai, jangan bengong begitu! Yuk sesekali kita pergi dari sini."

"Kemana?"

"Sudahlah, ikut saja."

Digandengnya aku.

Hai, aku mengenal tempat ini!

"Bless, serius berada di sini?"

"Iya. Kenapa?"

"Kita di sini?"

"Apakah tidak boleh?" Tanyanya sambil tersenyum tipis.

"Boleeeh!" Teriakku hingga  membuat pintu di depanku menutup.

"Hei, kamu harus menahan diri, Err."

Lalu dilanjjutkan dengan,"Kamu mau menonton film yang mana?"

Aku memandang wajahnya, menatap matanya. Hm, aku tak terbiasa memilih, Bless. Aku biasa ikut dengan yang sudah dipilihkan. Tepatnya hanya ikut ketika diperbolehkan ikut.

"Kamu mau menonton film apa?" Tanya Bless sekali lagi.

Aku menatapnya tanpa tahu harus menjawab apa.

"Hei, menonton apa?"

"Aku tidak tahu. Terserah kamu."

"Aku terserah kamu saja, Err. Pilihlah mau menonton apa."

Amazing! Saat kuberada di dunia hidup yang enuh dengan film-film yang bisa ditonton, aku tak datang ke sini. Apalagi diberi kebebasan memilih hendak menonton apa.


"Apa?"

"Aku tidak tahu." Suaraku mulai terdengar resah karena tak tahu harus bagaimana menyikapinya.

"Terserah kamu. Aku menonton apa pun yang jadi pilihanmu."

Perlahan aku beranjak dari tempat duduk. Melihat poster film yang dipajang. Bless sabar menunggu pilihanku.

"Sebentar lagi film dimulai, loh."

Duh! Film apa, film mana?

"Bless, Bless, ini saja! Aku mendengar orang-orang di pantai membicarakan film ini. Menurut mereka, film ini bagus."

Aku menunjuk sebuah poster.

Bless menggandengku menuju studio yang menyetel film itu.

"Bless, kita tidak membeli tiket?"

Bless tertawa menatapku. Terus saja menggandengku.

"Err, kita sepasang hantu sebiji mata dan serongga mata kosong.Tidak wajib membeli tiket. Kita bebeas mennton di mana pun ita mau."

Hahaha, tawa kami menyatu di ruangan gelap. Aku lupa, aku Err, hantu perempuan yang syantik!

Wow, begitu banyak  kursi kosong di sini! Di antara kursi berpenghuni penonton, kami duduk dengan tenang. Tidak terpikirkan saat masih ada di dunia hidup sepertimu, bahwa ada sosok tanpa raga ikut menonton. Hmm, mungkin kamu ada di sebelah kami saat menonton film.

Cerita yang bagus, luar biasa! Tema yang bagus, sudut-sudut gambar yang bagus, warna-warni yang ada dalam film pun bagus, penokohan bagus, dan ditambah menonton dengan yang bagus juga! Aku bahagia!

Kulirik Bless yang duduk di samping kanan. Wajahnya tenang walau terlihat ada gurat lelah di sana. Lelaki besar dengan sabar yang besar.

"Bagus ya, Bless?"

"Iya. Bagus."

Melegakan mendengar bahwa film yang kami tonton dianggap bagus olehnya. Aku khawatir pilihanku hanya akan jadi hal membosankan untuknya.

"Aku suka filmnya. Bagus. Warna-warna yang diambil, pasti sudah dipikir matang. Film ini memanjakan mata," Kataku.

Bless tersenyum. Ujung senyumnya ada di mataku, melengkung indah. Tidak lebar, tapi cukuplah hinga bisa disebut sebagai senyum.

Mencuri pandang padanya membuatku ingin bersandar di bahunya. Tapi tidak kulakukan. Lebih menyenangkan tetap menahan diri agar bisa menatapnya dalam-dalam dengan sudut mataku.

Ini pertama kali kumendapat kehormatan memilih sesuatu sesuai kehendakku. Rasanya luar biasa! Apalagi dia pun menikmati pilihanku. Tidak sedang ingin membandingkan dengan apa yang terjadi saat dulu berada di dunia hidup yang penuh cerita. Tapi yang kualami dan kurasakan saat ini memang amat berbeda. Hei, kenapa sesudah menjadi hantu, aku baru merasakan semua ini? Aneh, tapi ini luar biasa!

Kupandang lagi Bless diam-diam. Ada nyaman mengalir dalam kinerja pikiran dan rasaku. Lelaki ini adalah kasih yang besar dalam gerakku.

"Err."

"Bless, kenapa?"

"Kamu menatapku sejak tadi."

"Hmm. tidak."

"Kamu suka filmnya?"

"Ya, jelas aku suka, Bless."

"Oh ya? Lalu kenapa menatapku terus?"

"Aku tidak menatapmu terus," ujarku.

"Baiklah, tapi apa kamu menyadari bahwa ruangan ini sudah kosong? Film sudah selesai sejak tadi, Err."

Senyum lebar terpampang indah di wajahnya.

Aku menebar pandang ke seluruh sudut ruangan. Kosong!

Bless memelukku erat, seraya berkata,"Aku baru tahu bahwa aku lebih menarik dibanding siapa pun dan apa pun di matamu. Kutahu sejak tadi ada aku di sebiji matamu."

Aku diam tak bicara apa pun. Ternyata hantu seperti aku pun bisa seperti ini. terpana pada cinta yang hadir dalam kisah dunia yang mati.

Aku, Err. Dia, Bless. Kami sepasang hantu sebiji mata dan serongga kosong mata. Apakah kamu yang berada dalam dunia hidup merasakan kisah kasih seperti kami yang berada dalam dunia mati?

Sebuah kesempatan memilih yang diberikan untukku dari Bless, yang terlihat sepele, ternyata bisa membuatku semakin mencintainya. Itu luar biasa bagiku. Hal yang tak kudapatkan saat masih ada di dunia hidup. Bagaimana denganmu? Apakah kamu seperti Bless, atau seperti orang yang dulu ada di masa laluku?

Aku, Err. Dia, Bless. Sepasang hantu yang berbagi pandang lewat sebiji mata. Berbagi kasih dalam memandang. Jangan pertanyakan kami ada atau tidak. Tapi kami ada di sudut ruang, memandangmu dengan sebiji mata kami.



Nitaninit Kasapink





Friday, 4 August 2017

(14) Err Dan Bless, Mimpi Yang Dibunuh

"Err, pernah ke sana?" Tanya Bless sambil menunjuk ujung garis pandang laut.

Aku menggeleng.

"Mau ke sana?"

Aku menggeleng.

"Lehermu patah?"

Antara mata berkerut mendengar pertanyaan anehnya.

"Maksudmu, Bless?"

"Hahaha! Itu loh, kepala mengeleng-geleng terus seperti akan terlepas dari leher! Hahaha!" Katanya tergelak.

Kedua alis terangkat, mulut menganga. Sesaat kemudian barulah kumenyadari kalimat candaannya. Menyendok segenggam pasir lalu kuterbangkan ke arahnya. Butiran pasir melayang, menari menembus bayang tanpa raga. Dan kulihat ada sinar di sebiji mata miliknya!

"Aku lelah, Bless."

"O ow, hantu Err pun bisa merasa lelah! Mana, mana, biar kuseka keringatmu!"

"Bleeess! Aku hantu yang tanpa keringat!"

Kami tergelak bersama.

"Bless, you're amazing for me."

"Hei, hei, aku hantu lokal, bukan hantu bule!"

Lagi-lagi gelak kami memenuhi pantai.

"Ayo menembus laut!"

"Emoh. Aku cuma ingin duduk di sini saja. Enak di sini duduk bersantai lebur dengan malam."

Bless menuruti keinginanku. Duduk memandang laut.

Bless adalah lelaki yang baik. Sungguh baik. Sopan, tidak memaksakan kehendak, dan selalu punya banyak tawa. Lelaki baik yang punya banyak kisah masa lalu tapi disimpannya erat. Lelaki yang memiliki sebiji mata dan serongga mata kosong.

Dia masih duduk menatap laut dalam-dalam. Sesekali kucuri pandang.

"Ceritakan tentang sesuatu, Err."

"Tentang apa?"

"Apa pun. Cerita sesuatu."

"Kancil mencuri timun?"

"Apa pun, Err, apa pun. Aku ingin mendengar ceritamu tentang apa pun."

"Tentang mimpiku, mau mendengarkah?"

"Ceritalah. Aku mendengarkan," dia berkata sambil menutup matanya.

"Ok, aku akan ceritakan padamu tentang mimpi yang pernah datang dalam hidupku dulu."

Kurebahkan tubuh di atas pasir berbantal tangan. Ternyata dia pun mengambil posisi sama sepertiku. Bedanya mataku menerawang jauh ke langit malam yang tanpa batas dan tanpa bintang, sedangkan dia menutup segala pandang.

"Pernah sesosok terkasih membunuhku, membunuh pikiranku, juga rindu yang kumiliki."

"Err, kamu dibunuh? Mana, mana, siapa yang membunuhmu? Biar kudatangi dia!" Suaranya meninggi, matanya menatapku.

"Nop, dia bukan membunuh membuang nyawaku, Bless. Tapi dia membunuhku setiap kali. Membunuhku, pribadiku, seluruh hidupku."

Tatapannya menyiratkan luka ada dalam hati. Bless, apakah kamu mengasihaniku? Plis, jangan mengasihaniku.

"Lanjutkan, Err."

"Kami tidak setiap hari bertemu. Dan kembang rindu selalu tumbuh saat dia tak ada. Tapi lalu gugur ketika dia berada di rumah. Hancur, bukan hanya gugur."

Kuhela napas panjang untuk meringankan beban sesak dalam dada. Mengatur rangkaian kalimat agar tak berisi kalimat negatif. Aku tak ingin  menghujatmu, Su, desah hati.

Mata masih saja memandang kelamnya langit. Mungkin akan turun hujan. Aku tak takut kedinginan karena duniaku yang sekarang lebih dingin dari air hujan! Aku tak takut gelegar halilintar, karena dulu dalam hidupku sudah diisi dengan jutaan gelegar amarahmu, Su.

Lagi-lagi kuhela napas panjang.

"Kalau berat bagimu, jangan lanjutkan. Ganti tema saja, Err."

Kepalaku dielusnya pelan. Amat pelan, seakan takut menyakitiku.

"Tidak apa-apa. Mungkin memang akan menjadi lebih baik untukku jika mengosongkan seluruh perjalananku dulu dari pikiran dan kenangku, Bless. Aku baik-baik saja walau sebenarnya sangat tidak baik-baik saja."

Bless memandangku penuh rasa ingin tahu.

"Aku mencintainya dengan seluruh cinta yang kumiliki. Tapi cintaku hanya bagai sampah dalam hidupnya. Hanya untuk dicampakkan, tak berharga sama sekali."

Kembali  mengatur kalimat agar tak bernada menyalahkanmu, walau sungguh sulit. Tapi bukankah tak ada seorang pun yang sungguh-sungguh salah?

"Dia momok menakutkan, karena setiap kali dia membunuh hatiku. Padahal aku mencintainya dengan setulus hati."

"Kamu menangis, Err?"

"Tidak. Hanya sedikit sesak."

"Ingin melanjutkan, atau hendak berhenti bercerita?"

"Hingga satu hari dia pergi dan tak pernah kembali lagi. Tapi selalu hadir dalam mimpi! Kamu tahu rasanya dihantui setiap waktu?"

"Hahaha, kamu bertanya pada hantu, Err!" Bless terbahak-bahak. Tapi lalu segera mengucap,"Maaf."

"Hahaha, tidak apa-apa. Aku lupa sedang berkencan dengan hantu lelaki."

"Lanjutkan?" Tanyanya.

"Aku tersiksa dengan mimpi-mimpi yang berbeda dengan kenyataan! Dalam mimpi setelah dia pergi, pasti dia begitu baik. Diajaknya aku pergi, dan dia amat mencintaiku. Hanya dalam mimpi. Dan kutahu, itu bukan sosok yang sesungguhnya! Aku tak suka dusta walau dalam mimpi!"

Bless diam. Diraihnya tanganku, digenggamnya erat. Dingin, lebih dingin dari es.

"Aku tidak ingin ditipu oleh mimpi, Bless. Aku tersiksa oleh segala kebohongan dalam mimpi-mimpi yang seakan-akan dia memang mencintaiku dulu. Tidak! Kenyataan adalah kejujuran."

Mulai tersendat saat bercerita.

"Kamu tahu, setiap malam kuberdoa untuk menggenapi kebahagiaannya."

Hening. Aku diam. Bless menghela napas panjang.

Angin meniup pepohonan hingga merunduk ke bawah. Beberapa daun jatuh ke pasir, lalu terbang ke arah kami.

"Satu malam aku bermimpi lagi tentangnya. Tapi dengan membawa kejujuran kenyataan, dan aku hadir sebagai diriku yang tegas menolak kehadirannya."

Bless mendekat padaku.

"Di mimpi itu, aku ada di sebuah ruangan penuh orang-orang yang aku kenal. Lalu tetiba dia muncul di hadapanku. Memaki, membentak, seperti kenyataan setiap hari yang kami jalani." Suaraku melemah.

Lalu melanjutkan lagi,"Kamu tahu, aku berjalan ke arah pintu! Berkata tenang padanya, aku yang keluar, atau kamu yang keluar. Blesss, kamu tahu bagaimana tanggapannya? Dia terkejut! Tapi kemudian menjawab bahwa dia yang akan keluar! Dia keluar ruangan, kemudian pintu kututup. Aku menangis sejadi-jadinya dalam mimpi! Jongkok menangis karena merasa lega! Dia keluar dari hidupku! Dia keluar!"

Senyumku mengembang saat melihat Bless mengangkat alis tebalnya. Bless, kamu tidak tahu bahwa betapa ingin kumengecup matamu!

"Oh ya? Wow!"

"Ya. Setelah kejadian mimpi itu, aku tak pernah lagi dihantui mimpi-mimpi tentangnya. Selesai. Aku bahagia."

Bless meraihku, memeluk erat tanpa berkata apa pun. Bless, tahukah kamu, kamu selalu menguatkanku dengan hangatnya sikapmu.

Ya, banyak yang terjadi dalam masa laluku. Dan dulu aku tak pernah membayangkan hal seperti ini bisa ada dalam kehidupanku, kehidupan dunia mati. Tak terbayangkan bisa merasakan hangatnya kasih di dunia mati, waktu kumasih ada dalam dunia hidup sepertimu.

Kamu yang menghadapi dan menjalani hidup dalam dunia cahaya kehidupan, hangatkan kekasihmu, orang terkasihmu, dengan hati yang penuh kasih. Jangan bunuh dia dengan amarah.

Aku, Err. Dia, Bless. Kami ada di dunia mati. Pernah berada dalam dunia hidup sepertimu. Jangan sia-siakan kasih yang ada dalam kehidupanmu. Karena belum tentu saat kamu datang di dunia mati seperti kami, kamu bisa memiliki kasih seperti yang kami jalani saat ini.

Aku, Err. Dia, Bless. Jangan pertanyakan kami sungguh ada atau tidak. Tapi yang jelas kami ada bercerita padamu dari sini, dunia mati.


Nitaninit Kasapink


























Wednesday, 2 August 2017

(13) Err Dan Bless, Berdua Menguatkan

Aku berlari kencang mengejar Bless yang ada di depan!

"Bleeeeess!"

Huh, langkah kakinya panjang sekali!

"Bleeeess!"

Huh, langkahnya terlalu cepat untuk kuikuti!

"Bleeeeess!"

Huh, ya sudahlah, lelah berlari mengikuti langkahnya. Aku berhenti saja sampai di sini. Huh!

Duduk di pasir basah membiarkan dingin semakin merasuk dalam dinginnya diri ini, malah membuat nyaman. Menekuk kaki, menyangga tubuh pada dua tangan yang ke belakang, menengadahkan kepala hingga seluruh otot leher dan tengkuk terasa ditarik, mengatupkan mata, kuheningkan diri.

Jemari menelisik ke dalam pasir. Butiran kasarnya membawa kenang dalam pikiran.

"Err!"

Kudiam. Teriakan itu tak lagi membuatku takut. Bentakan hanya jadi angin kosong.

"Err!"

Berhentilah memanggilku dengan suara usangmu.

"Err! Tuli!"

Ya, aku memang tuli pada bentakan dan makian, tentu saja. Tapi jika kamu memanggilku dengan lembut, pasti aku mendengarmu.

"Err! Jawab!"

Hmm, aku tak perlu suara indah yang merdu. Cukup suara yang membawa damai, maka aku pasti menjawabmu dengan damai juga.

"Err!"

Aku tetap diam. Menyibukkan diri dalam pikiran sendiri. Cukup, cukup, cukup, cukup sudah semua ini.

"Err!"

Kuangkat kepala, menatap dengan binar mata penuh sepi. Bintang-bintang yang bertebaran memang ada di mata ini, tapi bukan untukmu.

"Jangan melihatku seperti itu!"

Lalu apa yang kamu harapkan dari seorang Err?

"Sebuah kesalahan besar berada di sini bersamamu, hidup bersamamu!"

Ragaku kosong, jiwaku melayang menembus langit tanpa batas.

Ditinggalkannya aku dalam kekosongan. Senyum dalam jiwa menari dalam damai yang kudapat dalam hening sendiri.

Aku bagai asap yang meninggi tanpa halangan mencapai atap langit yang tertinggi! Rambut seleher ditiup angin yang entah datang dari mana. Jangan ajak aku untuk kembali menjejak bumi! Jangan ajak kukembali pada raga yang mendingin tanpa kasih. Biarkan saja kunikmati semua ini tanpa harus mengingat apa pun.

Jangan, jangan bawa aku dalam kesakitan yang perih. Sudah, sudah cukup semua ini. Jangan, jangan bawa aku dalam kegelapan yang membekap. Biarkan aku dalam heningku sendiri. Jangan seret aku ke kehidupan yang penuh suara menggelegar!

Air mata luruh dari rongga kosong mata kiri.

"Jangan, jangan bawa aku pada kesakitan yang membunuhku berulang-ulang. Jangan beri aku rasa yang membuatku hidup tapi tak berada dalam kehidupan. Jangan. Kumohon, jangan," lirih kumerintih.

Debur ombak tak terdengar. Semua senyap. Aku berada di dunia kosong dan gelap.

Air mata dari rongga kosong mata kiriku mengguyur seluruh tubuh tanpa berhenti. Isak mulai mengguncang.

"Err."

No! Suara itu datang lagi!

"Err."

Pergi! Pergilah dari sini! Aku benci namaku disebut!

"Err."

Isak semakin keras. Kututup wajah dengan dua tangan. Menggeleng kuat!

Tidak! Jangan hadir di sini lagi! Pergi! Pergi! Pergilah!

Terasa sebuah pelukan dingin dari belakang.

Pelukan dari belakang!

Segera kubuka mata, membuang tangan yang menutup wajah. Menghapus air mata yang basahi seluruh pantai.

"Bless. Kamukah ini?"

"Err."

"Kamu meninggalkanku tadi," ujarku sambil cemberut.

"Hahaha! Tadi aku mencari jejak ombak yang besar. Bukankah amat indah jika satu saat nanti kita berdua berada di sana, Err. Menghadapi ombak besar sambil berpegangan tangan. Err, kamu ngambek? Err, kamu sudah bisa ngambek? Hahaha!"

"Huh! Bless!"

Kulepaskan pelukannya. Lalu berbalik memandang sebiji mata kirinya dan serongga kosong mata kanannya. Lelaki besar yang kukasihi dalam batasan kasih.

"Aku suka menyebut namamu. Seperti kamu menyebut namaku," Ucapnya serius.

"Bless. Tadi aku...."

"Sudahlah, aku sudah tahu. Jangan kembali pada masa lalu, Err."

Suaranya menenangkan gemuruh yang ada di dalam kenang. Mendamaikan kericuhan yang berusaha menyekik setiap kali.

"Err, gunakan sebiji mata kita bersama. Buang rongga kosong mata kita. Err, kita ada di sini, bukan di masa lalu."

Suaranya amat tenang masuk ke telinga.

"Ya, Bless. Ya."

"Kita ada di sini, hari ini, anak cengeng!"

Haaai, dia bicara sambil tertawa meledek!

"Bangun, berdiri, berlarilah sekencang kamu bisa. Aku akan menyusulmu, sebagai pengganti tadi kamu berusaha menyusulku." Katanya sambil mengurai seujung senyum.

Bergegas aku bangkit, lalu berlari sambil tertawa.

"Bleeess! Kamu tidak akan bisa menyusul akuuu!"

Ini dunia kami. Err dan Bless. Aku, Err. Dia, Bless. Dulu kami pernah berada di duniamu, dunia hidup dalam kehidupan. Sekarang kami sepasang hantu.

Kami saling menguatkan, saling berbagi pandang.

Bagaimana denganmu? Apakah kamu yang berada dalam kehidupan yang hidup pun saling menguatkan seperti kami? Atau malah saling meninggalkan?

Aku, Err. Dia, Bless. Kami melihatmu dengan sebiji mata yang masing-masing kami miliki. Bisakah kamu melihat kami?



Nitaninit Kasapink









                                                                                                                         

Tuesday, 1 August 2017

(12) Err Dan Bless, Tawa Hari Ini

"Err!"

Aku seperti merasa mendengar suara Bless memanggil. Tapi kutak melihatnya!

"Err!"

"Bless? Kamukah itu?"

Tetap tak kulihat Bless!

"Bless, kamu di mana? Keluarlah, jangan sembunyi!"

Suara angin mendesau menjawab teriakanku.

Lagi dan lagi aku sendiri bermain pasir di sini. Angin mengajakku bercanda. Diangkatnya sekuntum bunga dan diletakan di atas rambutku, yang kemudian terjatuh menghempas bumi.

"Err!"

Huh, aneh saja, sudah menjadi hantu, masih saja berhalusinasi! Rutukku dalam hati.

"Err!"

Menjengkelkan sekali berhalusinasi di saat langit kelam begini.

"Err!"

Bless! Kenapa kamu  menjengkelkanku? Pergi ya pergilah jangan menggangguku dalam halusinasi.

Tetiba kumerasa ada yang memeluk dari belakang. Pelukan yang dingin, leih dingin dari es.

"Bless!"

"Err."

Tawa dan tangis bercampur jadi satu! Lelaki besarku kembali!

"Bless, kamu kembali."

"Ya. Aku sudah katakan padamu, aku pasti kembali. Hmm, pasti kamu tidak percaya."

Lelakiku kembali dengan membawa setangkup hati yang siap kuisi dengan sepenuh kerinduan.

Bless menggandeng tanganku, lalu kami duduk di atas karang besar di pingggir laut. Ombak menabrak keras karang, tapi sama sekali tak mengganggu.

"Kapan kamu kembali?"

Garis senyumnya tampak lelah di mataku.

"Bless, kapan kamu kembali?"

Matanya menyipit, memandangku seperti baru pertama kali melihat.

"Bleeess, ayolah jawab. Kapan kamu kembali?"

Senyumnya mengerucut. Lelaki ini sungguh mengganggu perasaanku!

"Bless, jawab."

Senyumnya mengembang sedikit. Kusandarkan kepala ke lengannya. Damai mengalir di seluruh rasaku.

"Bless."

"Err."

"Jawab."

"Ya."

"Apa?"

"Ya."

"Hei, jawab pertanyaanku, Bless."

"Yang mana?" Tanyanya sambil tetap duduk tenang.

"Yang tadi."

"Lupa."

Tawaku pecah. Bless! Beberapa lama aku lupa bagaimana cara tertawa! Tapi saat dia muncul, tawa ini bergema.

"Apa pertanyaanmu?"

"Hmm, aku tak pernah bertanya apa pun padamu," jawabku sambil tetap menyandarkan kepala di lengan dinginnya.

"Hmm. Ya, jangan bertanya apa-apa. Aku sudah di sini. Ya kan?"

"Ya."

"Bagaimana kabarmu?"

"Not well."

"Hei, kenapa?"

"Entahlah. Ada lelaki tinggi besar dengan ukuran sepatu 45 yang pergi meninggalkanku, dan membuatku menjadi kehilangan senyum." Ujarku ringan.

"Siapa lelaki itu? Beritahu aku. Biar kucubit dia!"

"Bleeess! Huh, sudahlah."

Tawanya menyejukkanku. Sebiji matanya penuh cahaya! Serongga kosongnya gelap, tapi di ujung bibirnya kulihat ada garis melengkung yang amat lembut.

"Sudah kamu baca semua suratku yang ditulis di seluruh daun sepantai ini?" Tanyanya dengan nada yang amat menenangkan.

"Sudah sebagian."

"Hah? Sebagian?"

"Hei, kamu pikir aku tidak lelah membaca tumpukan daun yang menggunung?"

Tawanya lagi-lagi menembus gelap. Dan aku suka!

"Hmm, mana daun-daun itu?"

"Kukubur dalam pasir. Bersama rindu, juga cinta dan kasih."

"Sejak kapan kamu menjadi penyair, Err?"

Aku tergelak.

"Sejak lelaki itu meninggalkanku, Bless! Aku belajar memahami diri sendiri."

"Katakan padaku, siapa lelaki itu?"

Kuangkat kepala, lalu beranjak dari sisinya. Berlari bersama angin.

"Namanya Bless! Namanya Bless! Namanya Bless! Ya, namanya Bleeeess!"

Berlari mundur sambil menendang pasir ke arahnya. Bless tertawa. Garis senyumnya merebak.

Dunia kami memang  berbeda denganmu. Tapi jangan lupa, kami pernah hidup di kehidupan sepertimu.

Aku, Err. Dia, Bless. Kami sepasang hantu yang berbagi biji mata.

Aku, Err. Hantu perempuan cantik yang mencintai Bless sepenuh kasih tanpa peduli apakah dia mencintaiku atau tidak. Yang kutahu kasihnya tak menghilang dariku.

Dia, Bless. Lelaki yang dulu bermata kosong. Dia memiliki masa lalu yang dipendamnya sendiri. Satu waktu dia akan bercerita padaku tentang semuanya. Mungkin juga akan menceritakannya padamu. Tapi kalau pun dia hendak menyimpannya sendiri, tak mejadi masalah bagiku. Bukankah siapa pun pasti punya masa lalu? Tapi yang terpenting adalah hari ini.

Kamu yang berada di dunia hidup, apakah kamu pun merasakan hal yang sama sepertiku? Memiliki masa lalu, tapi berpijak pada hari ini.

Aku, Err. Dia, Bless. Sepasang hantu yang melihatmu diam-diam dari sudut ruang mata yang kosong dan ruang mata yang  bercahaya. Mungkin kamu tak melihat kami, tapi kami melihatmu dengan jelas.


Nitaninit Kasapink,




Monday, 31 July 2017

(11) Err Dan Bless, Daun Bersuara Menyurat

Hai! Hari berganti amat cepat. Pagi sudah dimulai lagi. Berjalan di pasir pantai amat membahagiakan!

Apakah hari ini adalah hari libur? Karena manusia menyemut di sini!  Dan mereka menghalangi pandangku ke depan! Sesekali kutabrakan diri pada tubuh mereka. Beberapa dari mereka merasakan seperti terbentur, tapi beberapa yang lain tak merasakan apa pun.

"Bless, harusnya kamu ada di sini." Keluhku mendesah.

Ah sudahlah, tak perlu lagi bicara tentang Bless. Toh dia sudah memutuskan untuk menarik diri dari cerita bersamaku. Bukankah dia datang karena keinginannya sendiri, lalu pergi pun karena keputusannya? Jadi untuk apa ditangisi?

"Bless, kamu sedang apa?"

Err, tenanglah.

Kata hati datang berbisik. Ya, tenang sajalah. Seharusnya memang aku tidak terlalu membebani hari dengan segala macam rasa yang mengganggu senyum.

Kuambil sepucuk dahan kering untuk kugunakan sebagai pena di atas pasir. Menulis untuk Bless, walau tak akan pernah dibacanya. Hanya untuk menenangkan hati.

Bless,
meninggalkanku mungkin amat mudah bagimu, dan itu menyedihkan bagiku.

Err

Pasir yang bertulis hilang ditiup angin yang menderu. Alam tak sependapat denganku!

Berusaha menyusut air mata yang turun tanpa henti adalah pekerjaan berat untukku! Aku benci kesedihan.

Lalu angin berbisik,"Ada banyak tulisan dari lelaki tinggi besarmu."

Aku diam saja, enggan menjawab.

"Ada banyak tulisan untukmu. Bacalah."

Bless? Tulisan untukku dari Bless?

Angin pun beranjak dari hadapanku. Pergi dan berhembus entah ke mana.

Daun melambai, meliuk bagai menari. Sehelai daun jatuh di depan kaki. Disusul helai baru jatuh juga di hadapanku. Kemudian susul menyusul daun demi daun jatuh persis di depanku, hingga menumpuk! Menggunung!

Kuambil sehelai, ada tulisan rapi di sana. Huruf-huruf milik Bless!

Dear Err,
jangan berpikir aku meninggalkanmu. Tapi memang kuharus pergi untuk menuntaskan hal yang belum selesai. Aku belum bisa bercerita padamu tentang semua yang pernah kujalani dulu. Tidak ingin membebanimu dengan segala keributan yang bisa membuatmu 'gila'.

Kuhela napas panjang. Bergumulah segala rasa yang kupunya! Bagaimana cara menenangkan hati yang rusuh? Bless, biasanya kamu yang membantuku menangani segala riuh.

Bless, aku tidak tahu apa nama rasa yang sekarang kurasa. Sama sekali tidak pintar mencerna rasa yang berteriak dalam pikiran ini. Rasanya ingin menangis, tapi ini bukan sebuah kesedihan!

Kulanjutkan membaca daun.

Err, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Bantu aku untuk mengibaskan segala hal yang mengganggu pikiranku!

Bless! Aku tidak tahu kamu ada di mana, dan bagaimana harus membantumu!

Sebiji mata darimu masih terpasang dengan indah, dan kugunakan maksimal. Tapi terkadang agak menyulitkan karena aku masih harus membiasakan diri dengan mata yang tidak kosong.
Err,
jangan marah, ya? Aku hanya pergi sebentar. Bukan meninggalkanmu. Nanti aku pasti datang menemuimu. Kita sama-sama menikmati pantai, laut, pasir, mentari, dan angin.
Err,
di sini pun aku mengingatmu. Tidak melupakanmu sama sekali. Aku ingat semua tentangmu, Err.
Err,
plis jangan marah. 

Kutahan air mata  yang hendak jatuh. Menatap daun-daun yang belum kubaca dan masih menggunung malah membuat rasa dalam dada makin mengguncang!

"Aku harus bagaimana?"

Hendak berteriak, tapi yang keluar hanya ucap lirih nyaris tanpa suara.

Angin mendesir membelai rambut seleher, seakan berusaha menenangkan ricuhnya perasaan dalam hati.

"Aku butuh sebiji matamu dan serongga kosongmu!"

Air mata mulai membasahiku. Pasir dan daun pun basah oleh sedu sedan yang mulai tak bisa lagi ditahan.

"Bagaimana harus menyikapi ini semua? Bantu aku, Bless!"

Hening, tak ada jawaban dari siapa pun. Sementara itu dedaunan masih menunggu untuk dibaca. Sedangkan angin masih saja mengantar helai demi helai daun-daun baru yang ditulis oleh Bless! Kugali pasir menjadi lubang besar untuk meletakkan seluruh daun yang datang.

"Bless, aku mencintaimu, mengasihimu, dengan seluruh cinta dan kasih yang kumiliki! Berbatas kasih dan berbatas cinta. Berbatas pengertian yang teramat dalam."

Aku, Err. Hantu perempuan sebiji mata yang berbagi mata dengan Bless, hantu lelaki tinggi besar. Mungkin saat ini aku merasa ditinggalkan olehnya, tapi kutahu dia tak akan pernah pergi dariku.

Err,
tenanglah. Jangan menangis. Tersenyumlah, tertawalah seperti biasa. 
Err,
tenanglah.
Err,
Kumemelukmu dari belakang, agar kita bisa menatap ke depan bersama-sama, Err.

Tentu saja aku mengingatnya, Bless!

Ya, aku Err, hantu perempuan pecinta pantai, laut, pasir, mentari, angin. Laut lengkap dengan gemuruh ombaknya.

Aku pernah berada dalam kehidupan yang hidup sepertimu. Merelakan kepergian yang terkasih dan tetap menunggunya dengan rasa kasih, apakah pernah kamu jalani?

Tetaplah mengasihi, tapi jangan lupa komunikasikanlah dengan baik.

Aku, Err. Melihatmu dari sini, walau kamu tak bisa melihatku.



Nitaninit Kasapink









       








  

Sunday, 30 July 2017

(10) Err Dan Bless, Mengenangmu Dengan Rindu

Tidak melupakanku, kan? Aku, Err. Perempuan pecinta pantai, laut, pasir, sinar matahari, dan anginnya. Jangan melupakanku. Kurasa tak ada yang ingin menjadi yang terlupakan dan dilupakan. Karena aku tak ingin dilupakan, atau terlupakan.

Sendiri di sini mengenangmu adalah hal yang menyakitkan. Tak terbayang semua ini terjadi lagi padaku. Lagi! Berulang kali menghela napas panjang ternyata tak mengurangi rasa sakit yang terasa menyayat dalam dada. Lagi!

Lagi dan lagi kesakitan ini menyerang. Lagi dan lagi harus mengenang. Lagi dan lagi menyusut air mata.

Dalam hati bertanya, apakah kamu mengenangku seperti aku mengenangmu? Apakah kamu mengingatku seperti kumengingatmu? Rasanya tidak.

Dalam pikiran pun ada tanya, apakah kamu memikirkanku seperti kumemikirkanmu? Apakah dalam pikiranmu ada namaku seperti kusimpan sekali lagi namamu dalam otak yang sudah terisi penuh dengan namamu!

Terlupakan, dilupakan, terbuang, dibuang. Huh, menyakitkan. Kamu memilih itu untukku.

Dear, ini menyakitkan untukku. Tapi aku berusaha mengerti apa yang menjadi pilihanmu. Aku takkan pernah menghalangimu melangkah di jalan yang ingin kamu jalani. Tapi dear, apakah kamu mengerti apa yang kurasa?

Air laut berdebur dahsyat seiring dengan gemuruh rindu yang menghantam dinding logika.

"Aku benci rasa rindu!"

Ombak membesar berlari susul menyusul, lalu menghempas ke karang besar pinggir pantai.

"Aku membenci rindu! Bunuh saja seluruh rindu yang kupunya!"

Angin berteriak melebihi suaraku yang memecah udara.

"Aku benci rindu! Aku benci rindu! Aku benci rindu!"

 Aku, Err, yang memiliki banyak rindu tapi tak menyukai rindu.

Langit ikut menggelegar memekakkan telinga.

Aku, Err, tanpa kamu, bergelut dengan cerita yang tak kutahu kenapa terjadi dan sampai kapan akan berlanjut. Ini sekusut benang yang tak bisa terurai!

Aku, Err, perempuan sebiji mata kanan dan serongga mata kosong, tanpa teman, tanpa sahabat, tanpa siapa pun, karena Bless, lelaki tinggi besar yang selalu menemaniku pergi menemui masa lalunya. Aku menunggu di sini, dengan rasa yang sama. Kasih.

Aku merindukannya dengan segenap rindu yang selalu saja membuatku takut. Terkadang kuberharap tak pernah mengenalnya. Tapi jika memang dia tak pernah ada, mungkin aku pun hanya hantu perempuan biasa. Hantu perempuan yang tak pernah merasakan cinta dan rindu.

Bless, lelaki yang kukasihi entah ada di mana. Dia pergi membawa sejumlah kenang yang disimpannya sendiri.

Bless, kamu di mana? Apakah kamu juga merindukanku?

Segunung rasa bersalah timbul seketika. Jika saja aku tak pernah mencintainya, mungkin dia tak akan meninggalkanku! Sebuah kebodohan menyebabkan kesakitan yang tak pernah terbayangkan olehku. Ternyata cinta mencipta jarak antara aku dan Bless. Lalu kenapa cinta diciptakan jika hanya membuat luka makin menganga? Mengapa rindu bertumbuh dan berkembang, padahal hanya menjadi bibit kepiluan.

Aku, Err, yang tersenyum dalam tangis tak pernah berhenti.

Bless, kamu di mana? Akankah kamu kembali? Jika saja pelukanmu tak pernah ada untukku, mungkin hari yang kulalui hanya hari yag dingin dan beku. Tapi pelukanmu melukaiku. Aku rindu Bless lengkap dengan dinginnya pelukannya.

Aku pernah merasakan berada dalam dekapan erat yang menghangatkan. Ya, pernah! Aku tak berbohong! Semalam kurasakan dekap itu. Dalam mimpi. Hanya dalam mimpi, tapi mampu mengubah malamku menjadi indah luar biasa. Dan itu karena Bless.

Aku, Err, hantu perempuan yang punya sejumlah rindu dan kasih, tapi tak pernah bisa memiliki. Entah kenapa, garis yag kumiliki hanya segaris angan dan ingin. Yang terkasih hanya ada dalam mimpi, yang tercinta cuma jadi impian. Kasihku hanya menjadi kasih. Sebuku cerita hidup yang tak akan pernah kulupa.

Tak ingin kuingat cerita lama. Hanya saja terkadang cerita itu kembali dan kembali lagi. Apalagi saat ini aku benar-benar sendiri. Tanpamu, Bless.

"Bleeess!"

Hanya gema suaraku sendiri yang terdengar.

"Bless!"

Tetap tak ada jawaban. Suaraku menggaung sendiri.

"Aku akan memelukmu dari belakang, hingga kita bisa bersama menatap ke depan."

Kalimat indah Bless yang kusimpan baik-baik dalam ingatan.

Aku percaya Bless sedang menjalani apa yang harus dia jalani saat ini. Sedang menyelesaikan perkara yag dihadapinya.

Bless dan kerinduan, adalah dua hal yang melekat erat dalam debarku.

Selamat menempuh jalanmu sendiri, Bless. Selalu ada ruang untukmu kembali.

Aku, Err. Pernahkah melepas yang terkasih pergi meninggalkanmu dengan legawa? Mengumpulkan seluruh daya untuk bisa tersenyum dan mengucap,"Aku mengerti keputusanmu."

Aku, Err. Pernah hidup dalam duniamu. Berharap punya kisah indah bersama terkasih. Tapi lebih memilih menjadi yang selalu tersenyum saat kisah indah itu menjauh. Bagaimana denganmu?

Bless, ada rindu untukmu dariku, Err.


Nitaninit Kasapink,








Wednesday, 26 July 2017

(9) Err Dan Bless, Sepasir Surat

Hai, masih ingat aku? Aku, Err, hantu pantai yang cantik, kata Bless. Syantik! Hanya Bless, si hantu lelaki tinggi besar yang mengatakan bahwa aku cantik, syantik! Tahukan kamu, ini membuatku menari-nari, melambung jauh melebihi awan! Hai, jangan beritahu Bless! Aku harus jaga image di depan dia! Sebagai hantu perempuan yang syantik, tentunya aku juga harus tampak elegant. Hahaha!

Seperti biasa, aku di sini bermain pasir, menyungkilnya dengan ujung kaki. Amat menyenangkan menghamburkan pasir hingga butirannya melayang tinggi melewati kepalaku! Lalu berlari bersama ombak yang datang. Mengecipakkan air dengan tangan. Ini kebiasaanku sejak kecil, saat masih berada di duniamu, dunia yang hidup.

Saat ini aku sendiri tanpa Bless, lelaki sebiji mata yang biasa berpasangan denganku dalam berbagi pandang. Bless pergi dan entah akan kembali atau tidak. Mungkin dia tak akan pernah lagi ada di sini. Bukan menghilang, tapi ada hal yang lebih indah dibanding bersamaku. Siapa pun boleh memilih hal apa yang terbaik baginya,  bukan? Dan aku juga tahu bahwa tak akan pernah bisa menjadi hal yang indah apalagi terindah baginya.

Aku akan tetap di sini, tak akan meninggalkanmu.

"Bless, kamu menghilang lagi dan lagi."

Diam menunduk mencoba menghitung pasir. Lalu berjongkok, mengusik pasir yang rapi diusap ombak.

Pelan-pelan menorehkan huruf demi huruf di pasir. Sepasir surat untuk Bless.

Dear Bless,
masih ingat aku? Aku, Err. Aku mungkin bukan lagi sebiji mata yang bisa memandang bersamamu. Tapi aku tetaplah Err yang merasakan kehadiranmu dalam rongga kosong mataku.
Bless,
ketika aku mencintai, aku membatasinya dengan cinta. Ketika aku mengasihi, kubatasi dengan kasih.
Bless,
Pagi ini ada sejumlah rindu yang harus dijaga tetap berada dalam batasan rindu, dan hanya akan menjadi rindu. Seperti cinta yang dibatasi cinta, dan kasih yang berbatas kasih.
Pagi ini ada logika yang tersenyum saat menyikapi seluruh rasa. Logika ini tersakiti oleh rasa yang mendesakku untuk berteriak tentang cinta, kasih, dan rindu! Dan seluruh rasa yang kumiliki pun tersakiti oleh logika yang berteriak agar kumenjauh darimu!

Bless, 
aku tahu kamu punya masa lalu yang disimpan erat oleh hatimu. Begitu erat dan menghangatkanmu setiap detik. Kutahu amat berharga kumpulan kenangan masa lalumu hingga tak sedikit pun dibagi pada siapa pun. 
Bless,
aku berbagi biji mata denganmu, bukan berarti kamu harus berada bersamaku. Berbagi pandang bukan berarti aku akan menghalangi arahmu. Aku hanya ingin kosongnya rongga matamu diisi dengan kasih. Mungkin tak banyak berarti bagimu, malah mungkin sama sekali tak ada harganya bagi kisahmu yang pasti penuh bintang cemerlang dan pelangi yang berpendar penuh warna. Aku hanya punya sebiji mata yang punya kasih sederhana.
Bless,
aku mengerti kisahmu sungguh luar biasa! Dan kumengagumimu yang lebih dari luar biasa!
Bless,

ini sebuah kebodohanku, menulis sepasir surat seluas pantai. Tapi aku hanya berusaha jujur tentangku. Walau kutahu kamu tak akan pernah membacanya, karena sedetik kemudian ombak menghapus seluruh huruf yang ditoreh dalam pasir.
Bless, 
jika satu saat nanti ada hal yang kamu rasa ingin berbagi denganku, kamu tahu di mana harus mencariku.  Aku, Err, mengasihimu dan mencintaimu dengan logika. 

Salam Penuh Kasih,
Err


Air mata menderas basahi pantai. 

Huruf-huruf dihapus oleh air mataku sendiri. Sedihku adalah milikku sendiri. Tapi alam tahu yang kurasakan. Ombak menggulung begitu dahsyat.

Aku, Err. Kehilangan kekasih berbagi pandang yang selama ini menjadi kebahagiaan.

Aku, Err. Hantu perempuan sebiji mata yang memandang melalui mata kananku, dan sedang berusaha memusnahkan seluruh kisah dengan rongga kosong di mata kiri.

Dulu saat kehidupan masih ada dalam kisahku, pernah ditikam hingga mati oleh kasih yang dalam. Dan saat ini aku mati untuk ke-dua kali oleh kasih yang kumiliki. Tapi setidaknya aku tak pernah menikam siapa pun, tak akan pernah membunuh karena kasih tertanam kuat.

Kamu, apakah kamu pernah menikam orang yang dikasihi dengan kasih hingga mati? Jaga kasihmu, jangan pernah membunuhnya karena kasih yang dimilikinya. 

Aku, Err. Hanya Err, hantu perempuan sebiji mata dan serongga mata kosong. 



Nitaninit Kasapink