Monday, 31 July 2017

(11) Err Dan Bless, Daun Bersuara Menyurat

Hai! Hari berganti amat cepat. Pagi sudah dimulai lagi. Berjalan di pasir pantai amat membahagiakan!

Apakah hari ini adalah hari libur? Karena manusia menyemut di sini!  Dan mereka menghalangi pandangku ke depan! Sesekali kutabrakan diri pada tubuh mereka. Beberapa dari mereka merasakan seperti terbentur, tapi beberapa yang lain tak merasakan apa pun.

"Bless, harusnya kamu ada di sini." Keluhku mendesah.

Ah sudahlah, tak perlu lagi bicara tentang Bless. Toh dia sudah memutuskan untuk menarik diri dari cerita bersamaku. Bukankah dia datang karena keinginannya sendiri, lalu pergi pun karena keputusannya? Jadi untuk apa ditangisi?

"Bless, kamu sedang apa?"

Err, tenanglah.

Kata hati datang berbisik. Ya, tenang sajalah. Seharusnya memang aku tidak terlalu membebani hari dengan segala macam rasa yang mengganggu senyum.

Kuambil sepucuk dahan kering untuk kugunakan sebagai pena di atas pasir. Menulis untuk Bless, walau tak akan pernah dibacanya. Hanya untuk menenangkan hati.

Bless,
meninggalkanku mungkin amat mudah bagimu, dan itu menyedihkan bagiku.

Err

Pasir yang bertulis hilang ditiup angin yang menderu. Alam tak sependapat denganku!

Berusaha menyusut air mata yang turun tanpa henti adalah pekerjaan berat untukku! Aku benci kesedihan.

Lalu angin berbisik,"Ada banyak tulisan dari lelaki tinggi besarmu."

Aku diam saja, enggan menjawab.

"Ada banyak tulisan untukmu. Bacalah."

Bless? Tulisan untukku dari Bless?

Angin pun beranjak dari hadapanku. Pergi dan berhembus entah ke mana.

Daun melambai, meliuk bagai menari. Sehelai daun jatuh di depan kaki. Disusul helai baru jatuh juga di hadapanku. Kemudian susul menyusul daun demi daun jatuh persis di depanku, hingga menumpuk! Menggunung!

Kuambil sehelai, ada tulisan rapi di sana. Huruf-huruf milik Bless!

Dear Err,
jangan berpikir aku meninggalkanmu. Tapi memang kuharus pergi untuk menuntaskan hal yang belum selesai. Aku belum bisa bercerita padamu tentang semua yang pernah kujalani dulu. Tidak ingin membebanimu dengan segala keributan yang bisa membuatmu 'gila'.

Kuhela napas panjang. Bergumulah segala rasa yang kupunya! Bagaimana cara menenangkan hati yang rusuh? Bless, biasanya kamu yang membantuku menangani segala riuh.

Bless, aku tidak tahu apa nama rasa yang sekarang kurasa. Sama sekali tidak pintar mencerna rasa yang berteriak dalam pikiran ini. Rasanya ingin menangis, tapi ini bukan sebuah kesedihan!

Kulanjutkan membaca daun.

Err, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Bantu aku untuk mengibaskan segala hal yang mengganggu pikiranku!

Bless! Aku tidak tahu kamu ada di mana, dan bagaimana harus membantumu!

Sebiji mata darimu masih terpasang dengan indah, dan kugunakan maksimal. Tapi terkadang agak menyulitkan karena aku masih harus membiasakan diri dengan mata yang tidak kosong.
Err,
jangan marah, ya? Aku hanya pergi sebentar. Bukan meninggalkanmu. Nanti aku pasti datang menemuimu. Kita sama-sama menikmati pantai, laut, pasir, mentari, dan angin.
Err,
di sini pun aku mengingatmu. Tidak melupakanmu sama sekali. Aku ingat semua tentangmu, Err.
Err,
plis jangan marah. 

Kutahan air mata  yang hendak jatuh. Menatap daun-daun yang belum kubaca dan masih menggunung malah membuat rasa dalam dada makin mengguncang!

"Aku harus bagaimana?"

Hendak berteriak, tapi yang keluar hanya ucap lirih nyaris tanpa suara.

Angin mendesir membelai rambut seleher, seakan berusaha menenangkan ricuhnya perasaan dalam hati.

"Aku butuh sebiji matamu dan serongga kosongmu!"

Air mata mulai membasahiku. Pasir dan daun pun basah oleh sedu sedan yang mulai tak bisa lagi ditahan.

"Bagaimana harus menyikapi ini semua? Bantu aku, Bless!"

Hening, tak ada jawaban dari siapa pun. Sementara itu dedaunan masih menunggu untuk dibaca. Sedangkan angin masih saja mengantar helai demi helai daun-daun baru yang ditulis oleh Bless! Kugali pasir menjadi lubang besar untuk meletakkan seluruh daun yang datang.

"Bless, aku mencintaimu, mengasihimu, dengan seluruh cinta dan kasih yang kumiliki! Berbatas kasih dan berbatas cinta. Berbatas pengertian yang teramat dalam."

Aku, Err. Hantu perempuan sebiji mata yang berbagi mata dengan Bless, hantu lelaki tinggi besar. Mungkin saat ini aku merasa ditinggalkan olehnya, tapi kutahu dia tak akan pernah pergi dariku.

Err,
tenanglah. Jangan menangis. Tersenyumlah, tertawalah seperti biasa. 
Err,
tenanglah.
Err,
Kumemelukmu dari belakang, agar kita bisa menatap ke depan bersama-sama, Err.

Tentu saja aku mengingatnya, Bless!

Ya, aku Err, hantu perempuan pecinta pantai, laut, pasir, mentari, angin. Laut lengkap dengan gemuruh ombaknya.

Aku pernah berada dalam kehidupan yang hidup sepertimu. Merelakan kepergian yang terkasih dan tetap menunggunya dengan rasa kasih, apakah pernah kamu jalani?

Tetaplah mengasihi, tapi jangan lupa komunikasikanlah dengan baik.

Aku, Err. Melihatmu dari sini, walau kamu tak bisa melihatku.



Nitaninit Kasapink









       








  

Sunday, 30 July 2017

(10) Err Dan Bless, Mengenangmu Dengan Rindu

Tidak melupakanku, kan? Aku, Err. Perempuan pecinta pantai, laut, pasir, sinar matahari, dan anginnya. Jangan melupakanku. Kurasa tak ada yang ingin menjadi yang terlupakan dan dilupakan. Karena aku tak ingin dilupakan, atau terlupakan.

Sendiri di sini mengenangmu adalah hal yang menyakitkan. Tak terbayang semua ini terjadi lagi padaku. Lagi! Berulang kali menghela napas panjang ternyata tak mengurangi rasa sakit yang terasa menyayat dalam dada. Lagi!

Lagi dan lagi kesakitan ini menyerang. Lagi dan lagi harus mengenang. Lagi dan lagi menyusut air mata.

Dalam hati bertanya, apakah kamu mengenangku seperti aku mengenangmu? Apakah kamu mengingatku seperti kumengingatmu? Rasanya tidak.

Dalam pikiran pun ada tanya, apakah kamu memikirkanku seperti kumemikirkanmu? Apakah dalam pikiranmu ada namaku seperti kusimpan sekali lagi namamu dalam otak yang sudah terisi penuh dengan namamu!

Terlupakan, dilupakan, terbuang, dibuang. Huh, menyakitkan. Kamu memilih itu untukku.

Dear, ini menyakitkan untukku. Tapi aku berusaha mengerti apa yang menjadi pilihanmu. Aku takkan pernah menghalangimu melangkah di jalan yang ingin kamu jalani. Tapi dear, apakah kamu mengerti apa yang kurasa?

Air laut berdebur dahsyat seiring dengan gemuruh rindu yang menghantam dinding logika.

"Aku benci rasa rindu!"

Ombak membesar berlari susul menyusul, lalu menghempas ke karang besar pinggir pantai.

"Aku membenci rindu! Bunuh saja seluruh rindu yang kupunya!"

Angin berteriak melebihi suaraku yang memecah udara.

"Aku benci rindu! Aku benci rindu! Aku benci rindu!"

 Aku, Err, yang memiliki banyak rindu tapi tak menyukai rindu.

Langit ikut menggelegar memekakkan telinga.

Aku, Err, tanpa kamu, bergelut dengan cerita yang tak kutahu kenapa terjadi dan sampai kapan akan berlanjut. Ini sekusut benang yang tak bisa terurai!

Aku, Err, perempuan sebiji mata kanan dan serongga mata kosong, tanpa teman, tanpa sahabat, tanpa siapa pun, karena Bless, lelaki tinggi besar yang selalu menemaniku pergi menemui masa lalunya. Aku menunggu di sini, dengan rasa yang sama. Kasih.

Aku merindukannya dengan segenap rindu yang selalu saja membuatku takut. Terkadang kuberharap tak pernah mengenalnya. Tapi jika memang dia tak pernah ada, mungkin aku pun hanya hantu perempuan biasa. Hantu perempuan yang tak pernah merasakan cinta dan rindu.

Bless, lelaki yang kukasihi entah ada di mana. Dia pergi membawa sejumlah kenang yang disimpannya sendiri.

Bless, kamu di mana? Apakah kamu juga merindukanku?

Segunung rasa bersalah timbul seketika. Jika saja aku tak pernah mencintainya, mungkin dia tak akan meninggalkanku! Sebuah kebodohan menyebabkan kesakitan yang tak pernah terbayangkan olehku. Ternyata cinta mencipta jarak antara aku dan Bless. Lalu kenapa cinta diciptakan jika hanya membuat luka makin menganga? Mengapa rindu bertumbuh dan berkembang, padahal hanya menjadi bibit kepiluan.

Aku, Err, yang tersenyum dalam tangis tak pernah berhenti.

Bless, kamu di mana? Akankah kamu kembali? Jika saja pelukanmu tak pernah ada untukku, mungkin hari yang kulalui hanya hari yag dingin dan beku. Tapi pelukanmu melukaiku. Aku rindu Bless lengkap dengan dinginnya pelukannya.

Aku pernah merasakan berada dalam dekapan erat yang menghangatkan. Ya, pernah! Aku tak berbohong! Semalam kurasakan dekap itu. Dalam mimpi. Hanya dalam mimpi, tapi mampu mengubah malamku menjadi indah luar biasa. Dan itu karena Bless.

Aku, Err, hantu perempuan yang punya sejumlah rindu dan kasih, tapi tak pernah bisa memiliki. Entah kenapa, garis yag kumiliki hanya segaris angan dan ingin. Yang terkasih hanya ada dalam mimpi, yang tercinta cuma jadi impian. Kasihku hanya menjadi kasih. Sebuku cerita hidup yang tak akan pernah kulupa.

Tak ingin kuingat cerita lama. Hanya saja terkadang cerita itu kembali dan kembali lagi. Apalagi saat ini aku benar-benar sendiri. Tanpamu, Bless.

"Bleeess!"

Hanya gema suaraku sendiri yang terdengar.

"Bless!"

Tetap tak ada jawaban. Suaraku menggaung sendiri.

"Aku akan memelukmu dari belakang, hingga kita bisa bersama menatap ke depan."

Kalimat indah Bless yang kusimpan baik-baik dalam ingatan.

Aku percaya Bless sedang menjalani apa yang harus dia jalani saat ini. Sedang menyelesaikan perkara yag dihadapinya.

Bless dan kerinduan, adalah dua hal yang melekat erat dalam debarku.

Selamat menempuh jalanmu sendiri, Bless. Selalu ada ruang untukmu kembali.

Aku, Err. Pernahkah melepas yang terkasih pergi meninggalkanmu dengan legawa? Mengumpulkan seluruh daya untuk bisa tersenyum dan mengucap,"Aku mengerti keputusanmu."

Aku, Err. Pernah hidup dalam duniamu. Berharap punya kisah indah bersama terkasih. Tapi lebih memilih menjadi yang selalu tersenyum saat kisah indah itu menjauh. Bagaimana denganmu?

Bless, ada rindu untukmu dariku, Err.


Nitaninit Kasapink,








Wednesday, 26 July 2017

(9) Err Dan Bless, Sepasir Surat

Hai, masih ingat aku? Aku, Err, hantu pantai yang cantik, kata Bless. Syantik! Hanya Bless, si hantu lelaki tinggi besar yang mengatakan bahwa aku cantik, syantik! Tahukan kamu, ini membuatku menari-nari, melambung jauh melebihi awan! Hai, jangan beritahu Bless! Aku harus jaga image di depan dia! Sebagai hantu perempuan yang syantik, tentunya aku juga harus tampak elegant. Hahaha!

Seperti biasa, aku di sini bermain pasir, menyungkilnya dengan ujung kaki. Amat menyenangkan menghamburkan pasir hingga butirannya melayang tinggi melewati kepalaku! Lalu berlari bersama ombak yang datang. Mengecipakkan air dengan tangan. Ini kebiasaanku sejak kecil, saat masih berada di duniamu, dunia yang hidup.

Saat ini aku sendiri tanpa Bless, lelaki sebiji mata yang biasa berpasangan denganku dalam berbagi pandang. Bless pergi dan entah akan kembali atau tidak. Mungkin dia tak akan pernah lagi ada di sini. Bukan menghilang, tapi ada hal yang lebih indah dibanding bersamaku. Siapa pun boleh memilih hal apa yang terbaik baginya,  bukan? Dan aku juga tahu bahwa tak akan pernah bisa menjadi hal yang indah apalagi terindah baginya.

Aku akan tetap di sini, tak akan meninggalkanmu.

"Bless, kamu menghilang lagi dan lagi."

Diam menunduk mencoba menghitung pasir. Lalu berjongkok, mengusik pasir yang rapi diusap ombak.

Pelan-pelan menorehkan huruf demi huruf di pasir. Sepasir surat untuk Bless.

Dear Bless,
masih ingat aku? Aku, Err. Aku mungkin bukan lagi sebiji mata yang bisa memandang bersamamu. Tapi aku tetaplah Err yang merasakan kehadiranmu dalam rongga kosong mataku.
Bless,
ketika aku mencintai, aku membatasinya dengan cinta. Ketika aku mengasihi, kubatasi dengan kasih.
Bless,
Pagi ini ada sejumlah rindu yang harus dijaga tetap berada dalam batasan rindu, dan hanya akan menjadi rindu. Seperti cinta yang dibatasi cinta, dan kasih yang berbatas kasih.
Pagi ini ada logika yang tersenyum saat menyikapi seluruh rasa. Logika ini tersakiti oleh rasa yang mendesakku untuk berteriak tentang cinta, kasih, dan rindu! Dan seluruh rasa yang kumiliki pun tersakiti oleh logika yang berteriak agar kumenjauh darimu!

Bless, 
aku tahu kamu punya masa lalu yang disimpan erat oleh hatimu. Begitu erat dan menghangatkanmu setiap detik. Kutahu amat berharga kumpulan kenangan masa lalumu hingga tak sedikit pun dibagi pada siapa pun. 
Bless,
aku berbagi biji mata denganmu, bukan berarti kamu harus berada bersamaku. Berbagi pandang bukan berarti aku akan menghalangi arahmu. Aku hanya ingin kosongnya rongga matamu diisi dengan kasih. Mungkin tak banyak berarti bagimu, malah mungkin sama sekali tak ada harganya bagi kisahmu yang pasti penuh bintang cemerlang dan pelangi yang berpendar penuh warna. Aku hanya punya sebiji mata yang punya kasih sederhana.
Bless,
aku mengerti kisahmu sungguh luar biasa! Dan kumengagumimu yang lebih dari luar biasa!
Bless,

ini sebuah kebodohanku, menulis sepasir surat seluas pantai. Tapi aku hanya berusaha jujur tentangku. Walau kutahu kamu tak akan pernah membacanya, karena sedetik kemudian ombak menghapus seluruh huruf yang ditoreh dalam pasir.
Bless, 
jika satu saat nanti ada hal yang kamu rasa ingin berbagi denganku, kamu tahu di mana harus mencariku.  Aku, Err, mengasihimu dan mencintaimu dengan logika. 

Salam Penuh Kasih,
Err


Air mata menderas basahi pantai. 

Huruf-huruf dihapus oleh air mataku sendiri. Sedihku adalah milikku sendiri. Tapi alam tahu yang kurasakan. Ombak menggulung begitu dahsyat.

Aku, Err. Kehilangan kekasih berbagi pandang yang selama ini menjadi kebahagiaan.

Aku, Err. Hantu perempuan sebiji mata yang memandang melalui mata kananku, dan sedang berusaha memusnahkan seluruh kisah dengan rongga kosong di mata kiri.

Dulu saat kehidupan masih ada dalam kisahku, pernah ditikam hingga mati oleh kasih yang dalam. Dan saat ini aku mati untuk ke-dua kali oleh kasih yang kumiliki. Tapi setidaknya aku tak pernah menikam siapa pun, tak akan pernah membunuh karena kasih tertanam kuat.

Kamu, apakah kamu pernah menikam orang yang dikasihi dengan kasih hingga mati? Jaga kasihmu, jangan pernah membunuhnya karena kasih yang dimilikinya. 

Aku, Err. Hanya Err, hantu perempuan sebiji mata dan serongga mata kosong. 



Nitaninit Kasapink











Sunday, 23 July 2017

(8) Err Dan Bless, Menyambangi Masa Lalu

Kamu tahu siapa aku? Seorang perempuan tanpa limpahan kasih. Hidup dipenuhi dengan hadiah dusta-dusta.  Amarahku ditempa oleh gelora api yang tak pernah padam. Ini aku, perempuan yang menatapmu dengan air mata yang beku.

Namaku, Err.

Aku bagai cermin retak di  sudut rumah. Dipenuhi rumah sang laba-laba. Ada debu tebal melekat di sana. Itulah aku, Err.

 Mari masuk. Ini rumah kami, dulu. Penuh kenangan. Oh, pagar ini masih sama dengan yang dulu. Gemboknya masih gembok besar yang dulu tak bisa kubuka! Dulu aku melompatinya karena tak bisa membuka gembok besar baru di pagar ini. Yuk, kita lompat saja!

Mari masuk.

Oh, pintu ini masih digembok dari luar! Sama seperti bertahun yang lalu! Hanya sekarang sudah berkarat.Dengan kondisiku sekarang, sebenarnya bisa saja kutembus pintu tanpa kesulitan. Tapi aku ingin melihat keliling rumah ini.

Yuk ke garasi. Dulu pintunya rusak, aku yang mereparasinya sendiri.

Hei, bisa terbuka!

Masuk ke dalam rumah masa lalu membuat senyum manis menjadi agak tertahan. Tiga kamar tidur tertutup.

Semua masih sama seperti dulu. Pintu kamar itu ditutup dengan gembok menempel di pintu. Tak ada yang berubah!

Semua berada di tempat yang sama. Hanya debu dan sarang laba-laba menyebar ada di mana-mana.

Dulu aku sering becermin di sudut ruang itu. Menari-nari, tersenyum, juga belajar melihat ke arah belakang lewat cermin itu. Di sana bufet kayu jati warna cokelat tua yang panjang. Hey, itu dia, masih tergeletak hancur di antara kursi-kursi lipat yang juga dari kayu jati. Semua dibalut debu, dan berjaring laba-laba!

Berjalan ke ruang tamu yang kosong.

Kembali masuk ke dalam, masuk ke kamarku dahulu. Kosong. Dulu ada sebuah tempat tidur besar di sini. Terbayang banyak hal di sini. Lalu cepat kukeluar. Jangan berlama di sini. Jangan.

Dua kamar lainnya sama, kosong. Terdengar suara anak kecil menyebut mama. Ah, iitu hanya bayang ingatanku.

Masa laluku ada di sini. Ini masa lalu.

"Err."

"Bless."

Digenggamnya erat jemariku.

"Terima kasih, Bless. Sudah menemaniku masuk ke masa lalu."

"Belum semuanya, Err. Belum semuanya. Kita lanjut lagi nanti. Kita pulang ke pantai sekarang? Laut kita menunggu."

Dibimbingnya aku keluar dari rumah masa lalu.

"Besok kita ke sini lagi. Besok berceritalah tentang masa lalumu. Ada aku, hantu lelaki sebiji mata."

Kurapatkan diri padanya. Rasa nyaman itu mengalir deras menenangkan.

Dia, Bless. Aku, Err. Sepasang tanpa raga yang berbagi pandang lewat sebiji mata yang kami punya. Saat ini kami saling memeluk karena saling menguatkan.

Bagaimana denganmu? Apakah saling menguatkan dengan saling memeluk?



Nitaninit Kasapink






Saturday, 22 July 2017

(7) Err Dan Bless, Jangan Pergi!

Hai, aku, Err. Sedang apa kamu di sini? Sepertikukah, menunggu senja datang sambil memandang ombak kecil yang berlari menerjang karang.

Apakah kamu mencintai laut sepertiku? Laut yang tenang, dan laut yang marah. Ombak yang kecil, ombak yang besar. Ikan yang berenang riang, dan ikan yang sembunyi dalam celah batu.

Pernahkah kamu melihat hantu di pinggir pantai sedang mengheningkan diri di batu sambil mengecipakkan air laut? Pernahkah kamu menjadi hantu? Ah, tidak, tidak, ini pertanyaan terkonyol yang pernah kulontarkan padamu.

Sedang apa kamu di sini? Memerhatikan awan berarak, menantang terik matahari, dan menghadang angin, sepertiku?

Aku ada di sini karena inginku sendiri. Pergi dari keriuhan yang hingar bingar. Menemui keheningan yang sepi, tapi bukan kesepian yang hening. Aku menyatu dalam hening sunyi tanpa nada, dan itu membuatku tahu bahwa sahabat terbaik untukku adalah hening.

Biasanya aku ada di sini bersama Bless. Sudah pernah berkenalan dengan Bless? Lelaki tinggi besar dengan sebiji mata kiri, dan serongga kanan mata kosong. Hantu lelaki yang berbagi pandang denganku. Tapi Bless menghilang! Meninggalkan jejak yang dalam. Jejak kaki berukuran 45 ada dalam kenang. Sedangkan sosoknya, entah ada di mana.

Bersama Bless, kunikmati hening. Berdua masuk dalam hening yang tanpa suara, tanpa kata-kata. Genggaman dan dekapnya lebih dari cukup untuk menguras seluruh cerita yang bergumul dalam hati.

Hening berdua dengannya mendamaikan seluruh lara. Mengobati semua luka yang menganga.

"Bless."

Tak ada yang menjawab. Suaraku dibawa angin yang halus menerpa.

"Bless, kamu ada di mana?"

Tak ada Bless di sini. Hanya ada aku sendiri.

"Bless."

Tak ada siapa-siapa.

"Kenapa kamu pergi meninggalkanku, Bless?"

Sama seperti tadi, tak ada yang menjawab.

"Bleeeeeess! Kamu jahaaaaat!"

Suaraku bergema di dalam karang.

Kesedihan ini tak dapat lagi ditahan. Meraung dalam gelap.

"Jangan pergi, Bless. Jangan pergi!"

Raungan ini menjadi semakin keras.

Air mata menitik, lalu menderas dari sebiji mata kananku.

"Bleeess, aku tak butuh mata yang menangis. Aku butuh sebiji mata yang memandang bersamamu."

Kuambil bii mataku, menimangnya, mengelus, lalu melemparkan sejauh mungkin ke ujung batas laut!

"Aku tidak butuh sebiji mata menangis, Bless!"

Tangisku menggelegar. Ombak pun membesar. Angin bertiup seakan siap menerbangkan siapa pun yang menghadang!

Raunganku menyayat, mengiris telinga yang mendengar! Membangkitkan rasa takut yang berada di pantai. Semua berlomba menyingkir!

Aku tidak bisa menahan gemetar dalam hati. Ini kesedihan terdalam yang kumiliki. Ini kehilangan yang menyakitkan!

Teringat masa lalu yang memenjarakanku dalam kepedihan pahit. Lelaki di masa lalu yang pergi dan tak pernah berkabar lagi.

"Bless, kumohon jangan biarkan aku jatuh cinta padamu jika akhirnya hanya mengiris dan menyakitkan kisahku."

Merintih sambil melempar pasir ke atas langit. Berhamburan butirnya masuk dalam rongga mata kosong hingga penuh!

"Aku perempuan bermata pasir, Bless!Penuh butiran kasar! Aku perempuan bermata kosong! Aku adalah kamu yang dulu, Bless!"

Jatuh lunglai tergeletak di pasir basah. Aku tak peduli. Kepala terkubur pasir. Kepiting kecil berjalan miring melintasi rambutku.

Gelap, kegelapan, kosong merongga. Aku tak tahu harus berbuat apa.

"Pantai, laut, pasir, maafkan aku. Tak lagi bisa memandangmu seperti dulu. Tapi kenang ingatan pemandanganmu, tercatat rapi."

Sepi. Tak terdengar suara apa pun. Ombak juga berbisik takut-takut.

"Bless, aku sedih tanpamu."

"Aku juga, Err. Aku sedih tanpamu."

"Bless?"

"Ya, Err. Aku, Bless."

"Bless, jangan tinggalkan aku. Berjanjilah untuk tidak pernah tinggalkan aku."

"Aku tidak meninggalkanmu, Err. Aku hanya pergi sebentar untuk menggali ingatan tentang masa lalu. Bukankah kamu sering kali bertanya tentang masa laluku?"

"Bless, jangan pergi. Jangan pergi."

"Tidak, Err Aku di sini. Mana sebiji matamu?"

Kurasakan dua tangan memegang wajahku.

"Mana sebiji matamu, Err?"

Aku hanya diam tak bisa menjawab.

"Err, mana sebiji matamu, Err? Siapa menyakitimu? Err?"

Suaranya mulai terdengar panik. Aku terisak tanpa air mata.

"Bless. Bless, maafkan aku."

"Ufh, kamu membuangnya?"

Aku tetap diam, tapi memeluknya lebih erat dari sebelumnya. Isakku lebih keras.

"Karena aku?" Tanyanya sambil memeluk erat.

Isakku lebih kuat lagi.

"Kamu buang ke mana?"

"Laut."

"Yakin kamu buang ke sana?"

Kuanggukkan kepalaku kuat-kuat.

"Tunggu di sini." Ujar Bless.

Dilepaskannya pelukannya. Lalu kurasakan sesuatu dimasukkan dalam rongga kosong mata.

"Bless! Sebiji mataku!"

Dijawilnya pipiku, kemudian dia berkata,"Aku melihatmu dari belakang. Saat sebiji mata dilempar, kutangkap."

"Oh ya?"

"Ya. Dasar perempuan. Jangan mengambil keputusan saat sedang emosi."

Selalu dan selalu, masuk dalam pelukannya adalah tempat terdamai yang kutemukan.

Bless, lelaki tanpa raga yang memiliki sebiji mata, hantu pantai, hantu laut, entahlah apa lagi sebutannya, dia adalah lelaki yang kukasihi. Dia pun mengasihiku.

Bagaimana denganmu? Saling mengasihikah dengan kekasihmu?

Aku, Err, dan dia, Bless. Kami sepasang tanpa raga yang berusaha saling melengkapi. Sekarang kami ada di dunia berbeda, tapi pernah sama seperti kalian, hidup di dunia yang hidup. Jangan terlambat seperti kami. Karena belum tentu sesudah berada di dunia kami, kalian bisa merasakan hal yang sama seperti kami.

Aku, Err. Dia, Bless.


Nitaninit Kasapink
















   





(6) Err Dan Bless, Ada Cinta Dalam Bajaj

"Kita keliling kota!"

"Horee! Aku mau, aku mau!"

"Naik apa?"

"Bajaj! Bajaj yang berwarna biru!"

"Hei, ide bagus, Err! Yuk, aku sudah lama tidak naik bajaj."

Bless menghentikan sebuah bajaj yang hendak melintas. Ah Bless, bersamamu selalu ada kejutan indah!

"Sudah lama sekali aku tidak merasakan naik bajaj!"

Ah, Bless. Aku juga sama, sudah lama tidak naik  bajaj.

"Terima kasih, Bless. Hari yang indah!"

Duduk di dalam bajaj tanpa suara, menyandar santai.

"Bless, kita ke mana?"

"Keliling ke mana pun kita mau. Jangan berhenti sebelum waktunya."

"Sampai kapan?"

"Sampai pada waktuya harus berhenti."

"Kapan?"

"Err, sepertinya aku mengenal seseorang sepertimu di masa lalu. Tapi aku tak bisa mengingatnya. Aku hanya merasa kamu seperti dia. Selalu penuh dengan cerita. Kurasa jika kamu bertemu dengannya, pasti suasana menjadi amat ramai!"

"Siapa?"

"Kamu memaksaku mengingat hal yang tak kuingat?"

Aku tertawa. Bless, kamu selalu menyenangkan untukku.

"Bless, cinta itu penuh logika atau tanpa logika?"

"Perempuan selalu penuh emosi. Hahaha!"

"Nooop!" Teriakku.

"Ya, perempuan selalu mau menang sendiri. Perempuan selalu merasa menjadi yang paling benar. Perempuan itu, ah tapi kamu tidak seperti perempuan yang lain."

Aku tertawa terbahak-bahak.

"Aku perempuan, Bless! Atau aku sebenarnya bukan perempuan?"

"Kamu perempuan berlogika, mungkin."

Mataku memandang lurus ke depan. Berusaha melebur dengan perjalanan. Juga karena tak berani menatapnya.

"I love bajaj!"

Aku menoleh padanya, Bless, lelaki sebiji mata kiri.

"I love bajaj, Err! Bagaimana denganmu?"

Aku tertawa tanpa menjawab.

"I love bajaj!"

"Hai, jangan berteriak! Kamu pikir sopir bajaj ini suka mendengar teriakanmu?"

"Hahaha! Coba saja kamu tanya padanya, apakah aku boleh tertawa, berteriak, ataukah aku harus berbisik di telingamu?"

O ow! No!

"Berteriak sajalah. Bebas berteriak. Ini dunia yang peuh dengan teriakan!"

"I love bajaj, Err! I love bajaj!"

Huh, malah mencintai bajaj, bukan mencintaiku!

"Bajaj punya kenangan sendiri untukku."

"Oh ya? Ceritakan padaku, Bless."

"Keliling kota berdua naik bajaj. Mengobrol tanpa henti."

"Dengan siapa, Bless? Kamu sudah bisa mengingat masa lalumu?" Tanyaku hati-hati.

"Hahahaha. Akan jadi masa lalu, tepatnya!"

Aku melihatnya dengan wajah bingung.

"Maksudmu?"

"Err, bukankah kita sedang keliling kota berdua naik bajaj? Dan kita mengobrol tanpa henti! Ya, atau tidak?"

Tawanya dan  tawaku mengisi ruang. Tak peduli bagaimana sang sopir menilai kami.

"Sini, Err. Aku bisikkan sesuatu."

Dia lambaikan tangannya, mengisyaratkan agar aku mendekat.

"Yes, Bless." Sambil beringsut mendekat.

"Mungkin pak sopirnya berpikir, kita ini suami istri yang cerewet!"

"Bless, berbisik itu bicara dengan volume rendah, bukan berteriak."

"Kalau aku tidak berteriak, nanti kamu tidak mendengar."

"Pendengaranku masih oke." Jawabku agak ketus.

"Wah hebat, sudah bisa ngambek."

Tawanya membahana.

"Aku tidak ngambek, Bless."

"Oh bukan ngambek."

"Yup, bukan. Aku masih dalam tahap belajar ngambek. Satu saat nanti aku pasti akan ngambek."

"Jangan. Tidak boleh. Kamu tidak boleh ngambek. Oh boleh, boleh, tapi hanya setahun sekali."

"Setahun sekali? Ok, berarti aku akan ngambek sekarang, karena hanya diperbolehkan ngambek setahun sekali ," ujarku.

Bajaj membawa kami berkeliling. Entah ke mana, tanpa tujuan. Hanya ingin mengisi waktu bersama.

"Bless, I love you. Tapi bukan berarti aku harus memilikimu, loh. Cinta bagiku adalah anugerah. Bisa mencintaimu adalah anugerah. Kamu mencintaiku atau tidak, itu bukan urusanku."

Tak ada jawaban sama sekali. Hanya suara ramai jalan raya yang terdengar.

"Bless, Yes I love you, tapi aku tahu kamu masiih punya tugas untuk kamu selesaikan. Ada hal yang menjadi prioritasmu untuk dikerjakan, dan itu  bukan aku. It's ok for me. Kan aku mencintaimu karena cinta, bukan karena ingin menguasaimu, bukan karena ingin memilikimu. Hanya menikmati perasaan cinta yang ada di hati."

Hening. Kubuang tatapanku ke arah jalan di depan. Tidak menoleh ke arahnya sedikit pun. Aku takut terperangkap dalam rasa ingin memiliki jika melihat tatapannya. Mata yang menatap bisu. Mata yang memandang dalam-dalam, tapi sinarnya suram.

Ya, dia Bless, lelaki yang kucintai selama ini. Senyum segaris tipis yang terkadang aku malah ragu menyebutnya sebagai senyum. Datar, ya datar. Garis keras di wajahnya amat datar. Tidak terlihat ada lonjakan emosi sepertiku. Hahaha, jelas saja berbeda. Perempuan dan lelaki, perbedaan yang jelas sekali.

"Err, boleh pegang tanganmu?"

Terdengar sayup-sayup lagu You and I dari Scorpions, di telinga Entah hanya halusinasiku atau bukan.

You and I just have a dream.

To find our love a place, where we can hide away.

You and I were just made.

To love each other now, forever and a day.

"Err...."

Mataku basah mendengar lagu yang memanja di telinga dan mengusap hati.

"Err, boleh kugenggam tanganmu?"

You and I just have a dream, to find our love a place, where we can hide away.  Kalimat yang membuatku banjir air mata. Ya, just a dream for me.

"Err, Err..."

"Oh ya, kenapa, Bless?"

"Melamun?"

"Aku?"

"Ya iya, siapa lagi? Sopir bajaj melamun? Sudah tabrakan dari tadi kita kalau dia melamun." Jawab Bless sambil tertawa.

Aku suka tawanya. Aku suka garis yang ada di wajahnya saat dia tertawa. Ada cahaya kecil di sana, di ujung bibirnya.

"Err!"

"Yes!"

"Boleh kugenggam tanganmu?"

Kuulurkan tanganku, masuk dalam genggamannya. Entah apa yang dia rasakan saat ini. Menggenggam telapak tanganku yang kasar. Sedangkan aku harus meredakan debur yang kurasa dalam dada. Ini mengalahkan debur ombak!

"Aku mencintaimu dengan logika, Bless. Aku ingin kamu bahagia. Saat kamu bahagia, aku tahu aku pun bahagia. Aku mencintaimu bukan untuk memilikimu. Bukan memintamu untuk selalu ada di sisiku. Tapi aku ada untukmu."

"Jangan meninggalkan aku, ya?"

"Aku ada. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji."

It's all written down in your lifelines.

It's written down inside your heart.

Lagi-lagi potongan lagu itu masuk dalam telinga.

Sopir bajaj jadi saksi cinta penumpang yang dibawa tanpa arah tujuan pasti.

"Bless, lain kali kita keliling kota naik becak, ya?"

"Bu, Pak, jangan naik becak kalau mau keliling kota. Kasihan bapak becaknya. Ini aja bensin saya sampai habis." Celetuk si sopir.

Bless terbahak-bahak juga aku.

Ada cinta dalam bajaj!

"Err, kamu sedang apa?"

"Bless!"

Debur ombak bergemuruh. Pantai ini, laut ini, pasir ini, agin ini, langit ini, bebatuan ini, karang ini. Hei, aku di pantai tempatku biasa berada!

"Kebiasaan buruk. Melamun." Ujar Bless mengusap rambut seleherku.

Kutatap matanya. Ya, Bless dengan sebiji mata kiri! Sedangkan dalam lamunanku, Bless dengan dua mata. Tapi aku mencintainya. Seperti apa pun dia, aku mencintai Bless yang berbagi pandang denganku.

Sambil masuk dalam pelukannya, aku berbisik,"Bless, aku mau naik Bajaj."

Aku, Err. Dia, Bless. Kami bersama dalam kisah hari ini. Dan kami selalu ada di hari ini. Bagaimana denganmu dan kekasihmu?



Nitaninit Kasapink


































































































































































Wednesday, 19 July 2017

(5) Err Dan Bless, Kami Saling Mengisi

Hai, namaku, Err. Aku di sini karena aku mencintai pantai, laut! Aku cinta pantai yang berpasir, karang, bebatuan, dan suara ombak laut tanpa henti, juga angin yang berhembus menyejukkan.

Aku, Err, perempuan yang biasa sendiri, dan amat suka menyendiri. Punya masa lalu yang panjang. Tak akan cukup setahun bercerita tentang semua, karena amat panjang! Juga perlu mengguatkan hati untuk menceritakannya.

Ya, aku, Err, lebih menyukai hening dibanding riuh hiruk pikuk manusia. Lebih memercayai bercerita pada hening yang damai. Karena itu aku lebih banyak diam saat menghadapi kejadian. Hanya mataku saja yang menatap dalam saat aku berhadapan dengan orang lain. Ya, itu dulu,  di masa lalu.

Err, namaku Err. Hanya Err, tanpa tambahan nama lain. Nama yang sederhana dan mudah diingat, bukan? Err.

Panggil aku, Err. Perempuan bermata cerewet, karena mataku lebih banyak berkata-kata dibanding mulut. Aku membaca sosok orang yang ada di hadapan, dengan mataku. Membaca hati dan pikiran. Semua tanpa suara, tanpa kata-kata.

Tak akan sulit menemukanku di sini, karena di antara banyak sosok yang bisa kamu temui di sini, yang menikmati pemandangan seperti di masa lalu, hanya aku. Ya, berada di sini memang untuk menikmati sepenuh hati.

"Err," suara yang lembut memanggilku.

"Bless," sedang apa di sini?

"Aku? Mencarimu tentu saja. Kupikir kamu ada di sebelah sana, ternyata sembunyi di dalam lubang karang ini."

Bless mengambil posisi duduk di sisiku. Kakinya sama sepertiku, melipat lutut agar bisa menumpu tangan. Disenggolnya tubuhku pelan, lalu tersenyum menggoda.

Dia, Bless. Lelaki yang penuh kasih. Bersamanya menimbulkan rasa nyaman dan aman. Selalu membuatku merasa seperti seorang putri cantik! Bless luar biasa, bukan?

Panggil dia dengan sebutan Bless. Namanya memang Bless. Dan kurasa itu sesuai dengan sosoknya yang pastinya merupakan anugerah untuk siapa pun.

Jangan tanya padaku nama lengkapnya. Bless, hanya Bless. Itu yang kutahu. Dia pun menyebutkan namanya Bless. Mungkin memang namanya sama sepertiku, hanya terdiri dari 1 suku kata. Mudah diingat. Atau mungkin saja namanya amat panjang, tapi dia lebih menyukai nama yang singkat, Bless.

Bless, lelaki tinggi besar. Aku hanya sebahunya. Lumayan lelah saat bicara padanya, atau jika ingin menatap matanya.
 karena harus menengadahkan kepala.

Dia lelaki bermata kosong saat bertemu dengannya pertama kali. Kosong, benar-benar kosong! Ada banyak cerita dalam rongga kosong yang gelap itu, kurasa. Tapi dia tak ingat apa pun, atau mungkin enggan bercerita mengenai masa lalunya? Entahlah. Kurasa itu adalah haknya untuk memilih bercerita atau diam.

"Err," dia memanggilku.

"Yes, Bless."

"Aku cuma ingin memanggil namamu."

"Ya, aku juga senang memanggil. Tapi takut kamu menolak."

"Hei, kenapa kamu pikir aku akan menolak?"

"Entahlah, Bless. Begitu banyak penolakan terjadi dulu."

Menerawang memandang laut yang jauh di sana.

"Hus, jangan suka melamun. Nanti kesambet, loh!"

"Hahaha, iya, Bless. Bisa kesambet hantu mata kosong, ya?"

"Hai, aku sudah punya sebiji mata! Lihat nih, lihat!"

Dipamerkannya mata sebelah kiri. Ya, mata itu ada di sana, tak lagi kosong seperti rongga di kanannya.

"Iyaaa, iyaaa! Tapi mana bisa aku kesambet? Hantu mana pun ga akan bisa bikin aku kesurupan, Bless!"

Tawa kami menggema di dalam karang.

"Err."

"Bless."

"Err, aku sayang kamu. Entah kamu tahu atau tidak."

"Aku tahu, kok."

"Oh ya? Dari mana?"

"Dari caramu memperlakukanku. Aku merasa menjadi istimewa saat bersamamu!"

"Oh ya? Padahalaku biasa-biasa saja bersikap padamu."

"Maksudmu? Bless, maksudmu?"

Bless berlari menjauh sambil tertawa-tawa. Huh, dasar hantu iseng!

Lalu asyik saling mengejar seperti saat kecil. Menyenangkan sekali! Ceria setiap bersama dengannya.

"Bless."

Aku duduk di antara karang. Bless ikut duduk, tapi di hadapanku.

"Jangan di depanku!"

"Kenapa?"

Kamu menghalangi pandang."

Dia berdiri lalu berjalan ke arahku, kemudian duduk di belakangku.

"Bless! Aku tak bisa melihatmu!"

"Err, aku di belakangmu agar tak menghalangi pandangmu. Kita sama-sama memandang ke depan."

Direngkuhnya aku erat dari belakang.

Bless selalu punya cara unik dalam menyampaikan sesuatu.

"Err, kalau aku menghilang 10 hari, atau seminggu, bagaimana?"

"Tidak! Jangan!"

Hening. Kami masuk dalam diam, dalam hening masing-masing. Tapi erat dekapannya menentramkan, aku tidak sendiri.

Panjangnya cerita masa lalu, tak ada satu kisah pun seperti sekarang. Ini amat membahagiakan. 

"Bless, kamu tahu bagaimana caraku mencintai?"

"Tidak. Perempuan itu sulit ditebak."

"Hahaha! Aku aja tak pernah bisa mengerti tentang perempuan. Padahal aku perempuan."

Tak ada sahutan.

"Bless, aku mencintai dengan logika. Menurutku, mencintai seseorang dengan baik bukan berarti harus memilikinya."

Sepi.

"Aku berusaha mengerti tentangnya. Bahagia saat dia merasa bahagia."

Senyap.

"Bless."

"Ya. Aku mendengarkan."

"Aku mencintai tanpa berharap dicintai. Bodoh, ya?"

Hening.

"Bless."

Tetap tak berjawab.

"Bless."

"Err."

"Ceritalah tentangmu."

"Aku?"

"Yup!"

Tarikan napas panjang jelas sekali terlihat dan terdengar. Hembusannya pun amat keras. Bless, ada apa denganmu?

"Aku, Bless. Namaku Bless. Nama panjangku, Bleeeeeeeeeeeeeeesssss!"

Aku yang sedang serius mendengarkan, jadi tersentak.

"Bless! Uuuh!"

Kupukul pelan lengannya.

Bless tertawa terbahak-bahak.

"Err, sudahlah. Kita ada di hari ini. Tidak perlu mengingat masa lalu."

"Aku cuma ingin tahu sedikit tentangmu." Pungkasku ketus sambil cemberut.

"Bless. Namaku hanya 1 kata. Masih kurang sedikit?"

Huh!

Bless memang selalu mengingatkanku untuk selalu berpikir tentang hari ini, hari ini, dan hari ini saja. Setiap hari adalah hari ini. Sedangkan aku berpikir tentang masa lalu karena ada hal yang tak dapat kuraih dulu.

Bless mengajarkanku bagaimana menyikapi kejadian yang ada. Tenang, Err, tenang. Jika ingin punya masa lalu yang indah, maksimal saja di hari ini. Kalau masa lalu ada yang tidak indah, maksimal saja hari ini agar tidak buruk seperti yang lalu.

Bless si mata kosong, Bless yang sekarang sebiji mata satu, menjadi penyeimbangku, dan aku menjadi penyeimbangnya. Aku memberinya rasa yang mungkin kosong di masa lalunya. Bless memberiku pemikiran logika yang terkadang kuabaikan. Seperti katanya selalu padaku, perempuan!

Bless dan aku, sama sebiji mata satu, dan sama memiliki seruang rongga kosong dalam mata kosong. Kami sama-sama saling mengisi.

Aku, Err, dan dia, Bless. Kami sekarang memang berada di dunia berbeda, tapi dulu pun kami hidup seperti kalian, dan itu masa lalu bagi kami.

Dan kamu, please saling mengisi dengan pasanganmu. Saling menguatkan, saling mengingatkan. Jangan terlambat seperti kami.


Nitaninit Kasapink




















Sunday, 16 July 2017

(4) Err Dan Bless, Tetap Bersama

Setiap waktu aku ada di sini, di tepi pantai, memandang laut, bermain pasir. Tak pernah merasa bosan berada di sini. Bersama debur ombak yang terkadang menggelegar saat gulungannya besar, mengikuti angin yang menggoyang dedaunan, juga menghitung jumlah pasir di sekelilingku. Semuanya terasa indah dan luar biasa!

Mengenang masa lalu adalah bagian kegiatanku setiap waktu. Karenadi masa lalulah aku hidup, di waktu itulah aku  merasakan sentuhan yang hangat. Tidak di masa sekarang, terasa dingin walau dalam dekapan sekali pun.

Berbaring di atas pasir tanpa alas, dengan berbantal dua tangan, memandang langit biru,sambil menikmati bisikan angin di telinga, sungguh membuatku semakin merasa damai. Lalu kupejamkan mata, mencoba merasakan keindahan lain yang bisa terasa saat tak menatap langit.

"Err."

Suara halus membelai telinga.

"Err."

Suara yang memberi ketenangan.

"Err."

Suara lembut yang penuh kasih.

"Err."

Suara yang mengajakku lebih mengenal tentang kasih.

"Errrrrrr!"

"Whaat!"

"Hahaha, sedang apa kamu di sini?"

"Huh, Bless! Nakal! Huh!"

Kupalingkan wajahku darinya. Menghindar dari degup jantung bahagia karena melihatnya ada di sii bersamaku.

"Kamu marah? Maaf, Err. Tadi kamu kupanggil pelan, tapi kamu diam saja. Jadi kupikir lebih baik kuteriakkan saja namamu, agar kamu mendengar." Terdengar lembut tapi ada tawa tertahan di sana.

"Aku marah." Ujarku.

"Wah, bagus dong! Kemajuan. Ngambek?"

"Bukan. Marah."

"Itu ngambek namanya, Err."

"Bukaaaaan, Bless. Bukan ngambeeeek!"

"Oh, bukan ya? Baiklah, itu bukan ngambek. Ya kan, Err? Bukan ngambek, kan ya? Kamu bukan sedang ngambek, kan? Ya kan? Ya kan, ya?"

"Oh, kamu meledek ya? Meledek aku, gitu? Iya? Oke, oke. Oke kalau gitu," kuangguk-anggukan kepala saat berbicara pada Bless.

Wajah Bless terlihat sedikit cemas. Mungkin dia berpikir aku sungguh-sungguh marah padanya.

"Sekali lagi, ya Bless. Aku tidak marah. Oke? Aku bukan ngambek. Oke? Aku kangen, titik!"

"Hah? Kangen?"

Mulutnya terbuka saat mengucap itu. Sebelah biji matanya melotot besar. Rongga kosong di sebelah matanya tetaplah gelap. Tapi aku mencintainya. Ups, what? Mencintainya? No no no, ini tak boleh terjadi.

"Err, kamu kenapa sih?"

Digandengnya tanganku, dibimbingnya berjalan menapaki pasir yang basah.

"Ceritakan padaku, kangen pada siapa? Pada masa lalumu lagi? Pada dia si lelaki sombong itu?" Suaranya bersungut-sungut saat mengatakan tentang si lelaki sombong.

"Bless."

"Ya, Err. Ceritalah padaku. Aku ada di sini bersamamu. Kamu boleh bercerita apa pun juga."

"Lelaki tetalah lelaki. Huh! Walau hantu, tetap saja kamu lelaki."

"Heeei, ya iyalah aku lelaki. Sejak masih hidup sampai sekarang sudah menjadi hantu, aku tetap lelaki. Masasih setelah jadi hantu, aku berubah menjadi perempuan?"

Tawanya membahana.

"Kamu menertawaiku!"

"Loh, loh? Ada apa sih, Err?"

Aku masuk dalam hening. Enggan bercerita apa pun pada Bless. Aku ingin enikmati hening berdua dengannya. Hanya ingin hening tanpa cerita. Menikmati waktu yang ada tanpa suara diucap. Hanya ada genggaman tangan, dekapan erat. Aku hanya ingin merasakan ini.

"Err, kamu kenapa?Jangan bikin aku cemas, deh."

Tangannya semakin erat menggenggam.

"Hush, hantu, diam."

Bless tertawa mendengar ucapanku.

"Kita sama-sama hantu sebiji mata, Err. Kita sama-sama hantu serongga mata kosong. Kita sama-sama saling membutuhkan untuk bisa melihat dengan jelas."

Kueratkan lagi genggaman tanganku.

"Err, jangan diam. Diammu membuatku cemas."

Kugeser posisiku agar lebih dekat padanya. Menyusuri pasir pantai berdua sambil saling menggenggam erat tangan, adalah anganku di masa lalu.

"Oke, kamu hanya ingin diam, Err? Aku juga ingin diam, sama sepertimu. Kita sama-sama menikmati hening, ya?"

Bless, kamu tahu yang kumau.

Pantai adalah saksi bahagiaku. Laut adalah mata perjalanan ini. Pasir menjadi sahabat yang tak bisa dihitung saat suka citaku melonjak karena Bless.

"Bless."

Tak ada jawaban.

"Bless."

Tak ada jawaban juga. Kugoyangkan tangan hingga genggaman kami pun terguncang. Tapi tetap tak ada jawaban.

"Bleeeeess."

Hanya ada sepi.

"Bless, berhenti. Aku mau bicara."

Bless menghentikan langkahnya, memandangku sambil tersenyum.

"Aku mau bicara. Kamu ga menjawab saat kupanggil."

"Looh, bicaralah. Yuk kita duduk di sini. Aku diam mendengarkanmu, menyimak sambil memandangmu."

"Hantu lelaki yang gombal," ujarku sambil tertawa lirih.

Bless tertawa. Aku suka caranya tertawa. Matanya hidup, walau sebelah rongga matanya kosong dan gelap. Aku suka caranya tertawa, ada irama menenangkan, dan ada selengkung garis yang manis di bibirnya.

Bless, lelaki tinggi besar yang lembut. Penuh kasih, penuh pengertian. Lelaki yang kutemui saat dua matanya kosong. Dua mata tanpa sinar, gelap, kelam.

"Katamu mau bicara, tapi malah asyik bicara sendiri dalam hati."

Kusandarkan kepala di bahunya.

"Perempuan. Bicara  pada hati sendiri Kamu pikir aku nih dukun ya, Err?"

"Dukun? Maksudmu?"

Kepalaku tetap masih bersandar di bahunya. Rasa nyaman mengalir di hati.

"Err, aku kan tidak bisa tahu apa yang ada dalam hatimu, kalau kamu tidak memberitahu."

Aku diam.

"Bicaralah. Aku ada di sini, kan? Dulu mungkin kamu tidak pernah membicarakan apa yang kamu rasa. Tapi kan itu dulu. Dulu, loh Err. Sekarang kamu harus bicarakan itu padaku. Kan ada aku. Bless, hantu lelaki sebiji mata."

Masih berada dalam hening. Masuk dalam hening yang mendamaikan. Apalagi aku tahu sekarang heningku tidak sendiri, ada Bless bersamaku dalam hening. Hantu lelaki dengan sebiji mata.

"Err, kamu merasa kangen, rindu? Pada siapa? Bukankah kamu ada di masa sekarang, di hari ini, bukan di masa lalu? Masa lalu cuma sebuah kenangan, tapi bukan untuk dikenang terus menerus. Come on, babe, kita ada di masa sekarang. Kamu, aku, dan yang lain yang berada di setiap jengkal pantai ini, ada di masa sekarang. Kita sama-sama punya masa lalu. Aku juga punya masa lalu, walau sampai sekarang tak dapat mengingat sedikit pun."

Bless yang kosong tentang masa lalunya. Indahnya tak mengingat masa lalu. Memulai segala sesuatu di hari ini.

"Hiiih, menyebalkan kamu ini. Perempuan. Selalu saja hidup dalam pikirannya sendiri."

Suaranya memaksaku makin masuk dalam hening yang amat damai.

"Err, pernahkah kamu merindukan aku?"

Kupeluk lengannya dengan dua tangan. Beringsut semakin mendekatkan diri padanya. Kepalaku makin tenggelam dalam bahunya yang berupa bayang-bayang.

"Jangan pergi."

"Apa, Err?"

"Jangan pergi. Aku takut kehilanganmu. Jangan pergi. Di masa lalu aku banyak kehillangan. Banyak yang pergi dariku. Banyak yang menolak kehadiranku. Jangan pergi, Bless. Tetaplah di sini. Aku merasa nyaman bersamamu. Aku belum pernah merasa senyaman ini."

Tiba-tiba Bless melepaskanku. Berdiri tanpa mengibas pasir. Berjalan menjauh tanpa menoleh.

"Bless!"

Bless diam, terus saja berjalan.

Pagi ini aku kehilangan Bless, seperti masa lalu, kehilangan orang-orang  terkasih. Diam sendiri di sini. Di pantai tanpa siapa-siapa. Tanpa Bless.

Bless, apa yang harus kulakukan sekarang?

Pernahkah kamu merasakan apa yang kurasakan saat ini? Ditinggalkan saat merasa nyaman. Menghilang saat terasa mencinta.

"Hai, Err."

Tersentak, lalu menoleh ke belakang!

"Bless!"

Kupeluk dia erat. Masuk dalam pelukannya yang dingin, tapi menghangatkan ceritaku.

"Jangan pernah pergi. Tetaplah bersamaku. Aku ada di sini, bukan berada dalam masa lalu. Aku merindukanmu selalu, bukan rindu masa laluku. Bless, janji ya, jangan pergi."

Semakin erat pelukanku.

"Err, cup cup, jangan menangis. Kita ada di hari ini, bukan di hari yang sudah lalu. Hari kemarin sudah dijalani. Cup cup, tenanglah. Aku ada di sini, berjanji tetap ada di sini. Bukankah kita ada untuk berbagi pandang? Hai ingatlah Err, sebiji matamu ada padaku. Dan serongga mata kosong pun jadi milikmu. Tak akan pernah kumeninggalkanmu."

Hai, pernahkah kamu mengalami seperti kami? Berbagi mata untuk berbagi pandang. Satu saat nanti jika hidup sudah selesai dijalani, dan masuk dalam dunia kami, mungkin kamu akan mengerti. Tetaplah berbagi kasih, tetaplah menggenggam kasih, tetaplah mendekap kasih. Hangat dan mendamaikan.

Pelukan ini memang dingin, tapi ini terhangat yang kumiliki setelah menjalani hidup yang dingin saat seharusnya merasakan hangat.

Aku, Err, dan dia Bless. Kami sama-sama sebiji mata, dan serongga mata kosong. Tapi bisa melihat segala sesuatu bersama, berbagi pandang. Juga melihatmu melalui sebiji mata dan rongga mata kosong milik kami.

Nitaninit Kasapink



Friday, 14 July 2017

(3) Err Dan Bless, Pelukan Dingin Yang Hangat

Ufh, ramai sekali pantai di sini saat hari liburan. Anak-anak asyik berenang di pantai dengan ban renang yang beraneka bentuk dan warna. Jadi bagai pelangi yang jatuh berpencar di air laut. Orang dewasa asyik mendampingi anak-anak yang bermain pasir dan berenang.

Beberapa anak jongkok bersama membuat istana dari pasir. Tawa mereka riuh rendah. Di pasir tampak jejak-jejak kaki tercetak.

Hampir di semua tingkatan umur, laki-laki, perempuan, semua ada di sini. Tumpah ruah, menyemut! Dasar manusia!

Memandang aktifitas mereka yang terlihat suka ria, jadi teringat kenangan masa lalu saat masih bersama dengan orang-orang yang kukasihi.

"Err, jangan masuk ke tengah laut!" Teriak mama saat aku berlari menuju pantai.

Aku bermain air laut, mengejar ombak kecil, menyusuri garis pantai, mencari rumah kerang kosong, bermain pasir, duduk menyelonjorkan telanjang kakiku yang kecil, menyiram rambut dengan pasir layaknya sedang keramas, juga berpura-pura menjadi seekor ikan kecil yang berenang masuk ke dalam celah karang. Berlari menikmati sinar matahari yang menghanguskan kulit. 

Bercelana pendek, kaos tanpa lengan, asyik menikmati kesendirian yang ramai dalam jiwa. Ya, sendiri, tanpa kawan. Selalu menikmati kesendirian yang ada. Terkadang ada beberapa anak sebaya bergabung. Tapi aku lebih menyukai kesendirian. Mengherankan karena mereka menikmati keceriaan bersamaku, sedangkan aku menikmati kesendirian walau ada banyak tawa bersama mereka.

Aneh? Ya, aku memang anak kecil yang aneh.

Pantai adalah keindahan semesta yang luar biasa bagiku. Air berlimpah! Tidak perlu sebuah ember atau bak untuk menampungnya! Padahal airnya sungguh banyak! 

Pantai menawarkan ketenangan, kenyamanan. Menjanjikan ketenangan, suka cita dan kebahagiaan. Ada keheningan yang siap sedia mendekap, menjauhkan dari segala duka dan mengubah tangis menjadi senandung sunyi tapi menghanyutkan.

"Err, jangan makan es krim! Bajumu penuh noda nanti!"

Teriakan mama selalu itu-itu saja saat sedang menikmati indahnya laut! Bagaimana mungkin aku melepaskan es krim, sedangkan penjual itu selalu mengikutiku? Bagaimana mungkin kuhempaskan es krim dari genggaman sedangkan papa membelikanku? Seperti biasa, sepulang dari pantai, laut, dan kebahagiaan sehari itu, direnggut oleh omelan mama karena noda di bajuku. Dan seperti biasa, aku cuma diam memandang, tanpa suara. Bukankah lebih baik diam daripada bersuara? Nikmati saja hening yang kucipta sendiri.

"Laut? Kamu menyukai laut? Bodohnya!"

Suara kebodohan itu berusaha membodohiku. Hai, apa yang ada di pikirannya tentang laut? Hanya air? Tapi aku hanya memandangnya dengan dua mata tanpa berkedip. Tapi membiarkan lelaki yang menjadi orang terkasih menertawaiku.

"Angin pantainya membelai indah sekali! Kami menikmati pantai, pasir, laut, juga sinar matahari yang memanggang!"

Sebuah kemenangan bersorak di dalam hati. Hai, bukankah kamu tak menyukai laut, pantai, dan segala isinya? Bukankah menurutmu menyukai laut adalah kebodohan?

Aku memandangnya dalam-dalam. Disambanginya laut tanpa aku. Lelaki itu berusaha membuatku cemburu pada keberuntungannya bisa menikmati laut, padahal dia membencinya! 

Laut mengajakku bersuara tanpa kata. Menyihirku menjadi bidadari tercantik tanpa tanding! 

"Err, kamu melamun?"

Suara itu terdengar amat nyata! 

"Err, Err, Err!"

"Bless! Kamu!"

"Ya, kamu pikir siapa? Masa lalumu memanggilmu demikian dekatnya?"

Aku tertawa terbahak-bahak. Aneh juga bagaimana dia bisa tahu apa yang ada di pikiranku?

"Karena aku mengenalmu."

What? Dia menjawab tanya yang kuucap dalam hati? Hantu macam apa Bless ini?

"Err, Err, kamu pikir aku hantu macam apa? Aku hantu lelaki sebiji mata, Err!"

Aku terpana mendengar penjelasannya.

"Err, Err, sadar, Err. Jangan menakutiku dengan rongga mata kosongmu yang gelap!"

"Huh! Hantu aneh!" Seruku sambil meninju perlahan lengannya.

Bless menatapku. Aku pura-pura mengalihkan pandangan ke laut lepas. Melepaskan diri dari pandang lekatnya.

"Err. Kamu memandang apa, sih?"

Aku diam. Lebih baik tidak menjawab, daripada harus menatapnya lagi. 

"Kamu tidak suka ya ditemani aku?"

Aku diam. Duduk memeluk lutut, memandang ombak yang berdebur.

"Ya sudah, aku pergi saja kalau begitu. Aku kan tidak mau mengganggumu."

Bless berdiri perlahan. Aku masih diam.

"Err, kamu kenapa, sih?"

"Aku cuma sedang menikmati hening. Kamu berisik."

"Hahahaha! Bukankah kamu jauh lebih berisik dibanding aku? Hei, sadar, Err, sadar!"

Diguncangnya bahuku pelan.

"Bless, duduk sini. Aku ingin bercerita sesuatu."

Masih juga kumenatap laut.

"Bless, menurutmu apakah mereka merindukanku?"

"Siapa, Err?"

"Mereka."

"Iya, mereka. Siapa?"

"Mereka ya mereka."

"Perempuan! Maksudmu masa lalumu?"

"Ya."

"Ada apa dengan masa lalumu? Kamu merindukan masa lalumu?"

Aku menggeleng lemah. Rindu adalah rasa yang kuhindari. Tak ingin merasakan rindu bergelayut lalu akhirnya jatuh terkapar! Masa lalu! Rindu itu....

"Err," panggilnya.

"Aku pernah merindukan mereka semua, saat aku masih bersama mereka, Bless. Tapi aku salah. Rindu yang kumiliki tentang mereka, untuk mereka, cuma jadi sampah dalam hidup mereka. Aku cuma sampah, Bless."

Menunduk dalam-dalam, menundukkan kepala ke lutut yang ditekuk. Air mata mulai menetes.

"Kamu tahu, Bless, aku bukan siapa-siapa bagi mereka. Aku bukan hal penting. Cuma figuran yang lewat dan kena edit, habis!"

Bless diam, duduk di sisiku dengan posisi duduk yang sama.

"Aku tak ingin kembali ke masa lalu, Bless. Tak ingin mengingatnya. Tapi masa lalu tak pernah bisa dihapus."

Dilingkarkan lengannya ke bahuku.

"Sssh, jangan menangis."

"Bless, aku takut rasa rindu."

"Rindu pada siapa? Kamu rindu aku, Err?" Disenggolnya aku perlahan sambil tertawa lirih.

"Bukan," pungkasku.

"Sudahlah, tidak perlu berbohong, Err."

"Iiih, bukan."

"Iya."

"Bukan," aku menjawab dengan ketus.

"Oh, bukan aku. Kamu tidak pernah rindu aku, Err?"

Aku diam. Ombak, bantu aku! Jangan berdebur seirama jantungku! Angin, bantu aku! Jangan membelai rasa yang kumiliki!

"Err, siapa sih yang kamu rindu? Sombong banget ih, yang punya rindu. Ecieee, rinduuu."

"Huh, berisik."

"Err, aku mau cerita."

"Ya, ceritalah."

"Rasanya aku pernah punya rasa rindu di masa lalu. Tapi entah pada siapa. Waktu kamu bercerita tentang rindu, tiba-tiba aku merasa pernah mengenal rasa itu, pernah merasakannya di masa lalu. Tapi tidak bisa mengingat apa pun."

"Ah, kamu rindu aku, Bless!"

"Ya, iya, aku rindu kamu saja, Err."

"Bless, dulu aku mencintai mereka. Aku bergerak untuk mereka, berusaha apa pun untuk mereka juga."

"Cinta aku?"

"Bless, aku hidup untuk mereka dan untuk mereka."

"Sekarang untuk aku?" Matanya menatapku.

"Bless, kamu mendengarkanku atau tidak, sih?"

"Iya, iya. Teruskan saja ceritamu. Aku kan hanya bertanya, dan tidak kamu jawab."

"Bless, apakah kamu tahu, aku tak pernah mau bergantung pada siapa pun. Segala sesuatu kutangani sendiri. Itu karena kumencintai mereka."

"Tapi kan kamu tidak mencintaiku. Aku cemburu pada masa lalumu. Kenapa kamu tidak hidup di masa laluku saja, Err?"

"Aku ingin memeluk mereka, Bless. Aku pun ingin dipeluk oleh mereka. Tapi tidak pernah terjadi. Mereka tidak ingin bersamaku."

"Aku saja yang memelukmu."

Direngkuhnya aku dalam peluknya yang amat dingin. Meletakkan kepala di bahunya, seperti mimpi yang terwujud indah!

"Jangan menangis, Err. Ada aku di sini. Kamu boleh bercerita apa saja yang kamu mau padaku, boleh memelukku kapan pun kamu mau, boleh menyubitku, boleh melakukan apa pun terserah kamu. Aku ada di sini untukmu."

Pernahkah kamu mendengar pernyataan seperti ini dari orang terkasih padamu? Atau pernahkah kamu mengucapkan ini pada orang terkasihmu? Pernyataan tulus, bukan omong kosong yang cuma sekadar lip service.

Ini kisah kami. Aku, Err. Dan dia, Bless. Tanpa raga tapi berusaha mengasihi dan mengimplementasikannya dengan baik. Jujur pada rasa yang dimiliki.

Jangan bertanya apakah benar kami ada atau tidak. Tapi tanya saja pada hatimu, adakah kejujuran dan ketulusan pada orang terkasih? Selama jantungmu masih berdetak, dan ragamu masih hangat. Tidak seperti kami yang berada di dunia berbeda denganmu.

Sebelum terlambat, peluklah kasihmu erat-erat, seperti Bless memelukku saat ini. Pelukan dingin tapi menghangatkan jalan ceritaku di dunia yang berbeda denganmu.


Nitaninit Kasapink












(2) Err Dan Bless, Kasih Di Dunia Berbeda

Suara ombak yang pecah di karang menemaniku, dan membuatku makin masuk ke dalam hening yang menenangkan. Helaian rambut beterbangan, diajak menari oleh angin yang mendesir lembut. Sengatan matahari yang sebelumnya berkuasa melegamkan, tak lagi terasa. Tapi kutahu sinarnya menyilaukan mata orang-orang yang berusaha menatap jauh ke depan, lepas menuju batas pandang laut.

Aku, Err, menjalani waktu di sini, tanpa siapa-siapa. Hanya aku. Masa lalu yang penuh warna, dulu pernah dijalani. Ya, aku hidup di dalam jutaan warna yang sebelumnya tidak kukenal. Hidup bersama seorang lelaki terkasih yang penuh amarah dan kebencian.

Memandang garis laut yang ada di seberang, mengundangku untuk hanyut dalam kisah lama yang dikubur dalam-dalam. Kisah yang tak pernah terlupakan, tapi enggan sekali untuk mengingatnya.

"Bodoh! Kamu memang bodoh!"

Seorang wanita diam di hadapan lelaki yang bersungut-sungut.

Itu aku, Err.! Wanita bodoh yang kerap dimaki. Lelaki itu adalah pasangan yang kukasihi bertahun lamanya. Dan hanya melihatku sebagai wanita bodoh.

"Norak, kampungan! Kenapa  sih kamu ga bisa cantik seperti teman-temanku di kantor?"

Ya, itu aku, Err! Wanita kampungan, norak, yang tak pernah bisa cantik menawan, apalagi di matanya, mata lelaki yang kukasihi. Seumur hidupnya tak pernah melihatku cantik.

"Makan?"

"Aku ga suka masakanmu."

Ya, memang itu aku, Err! Wanita yang tak bisa memasak lezat untuk lelaki yang dikasihinya. Dimuntahkannya semua yang pernah masuk dalam tubuhnya.

"Jangan tidur di sini. Kamu cuma membuat tempat tidur ini sempit!"

Err! Aku, Err, wanita yang memenuhi tempat tidur lelaki yang dihormati. Wanita yang tak pernah punya tempat sedikit pun dalam hidup lelaki yang dikasihi.

Gelombang air laut yang memecah di karang makin menenggelamkanku dalam cerita yang karam. Angin membuka kenangan yang dingin. Ya, kenangan yang dipeti eskan selama hidup.

Aku, Err, wanita yang semasa hidup, belajar mengenal warna satu persatu. Pelan-pelan, diam-diam, tanpa suara, tanpa kata-kata, tanpa cerita. Belajar mengerti makna semua warna yang datang.

Terkadang air mata menitik saat warna menikam mati jantungku. Kadang air mata mengalir deras membasahi seluruh hari tanpa bisa ditahan. Warna itu makin lama semakin kumengerti. Warna yang amat menakutkan! Karena menyeretku melebur dalam caci maki yang penuh kobaran permusuhan. Dan aku cuma diam. Hanya saja jiwaku bersijingkat masuk dalam hening yang bening menenangkan. Selalu begitu. Hidup diisi jutaan warna kelam dan warna penuh kebingungan. Semuanya bercampur aduk di waktu yang berjalan lambat. Dari detik ke detik, lalu ke menit, kemudian terus, dan terus, dan terus. Hingga bertahun lamanya. Kisah mengerak dalam peti es. Kisahku mati sebelum hidup berhenti.

Tapi kubukan wanita yang larut dalam sedih. Akhirnya kupilih menikmati hidupku dengan tawa. Biarkan saja warna-warna masuk dalam kehidupan. Bukankah bagus mengenal dan memahami maknanya dari jalan hidup yang dihadapi? Hidup dimulai di hari ini. Selalu hari ini.

Ya, itu aku, Err. Wanita yang berusaha berjalan sendiri. Hingga....

"Err!"

Teriakan yang kukenal!

"Bless!"

Aku tertawa melihatnya berlari tergesa.

Bless, dia lelaki yang selalu bersamaku di sini. Bukan, dia bukan dari masa lalu. Dia lelaki pemilik sebiji mata, yang berbagi pandang denganku. Dia melihat dari sisi kiri biji mata, dan sisi kanan rongga kosongnya. Sedangkan kumemandang dari sisi kanan biji mata, dan melihat dari sisi kiri rongga kosong. Ya, Bless memiliki sebiji mata kiri, dan aku memiliki sebiji mata kanan.

Kami melihat dari dua sisi yang berbeda. Dan saling mengisi rongga kosong di mata yang kami punya. Bless dan aku, dua pemilik sebiji mata. Satu saat nanti aku akan ceritakan padamu bagaimana kami berbagi pandang.

"Kamu sedang apa tadi, Err?"

"Aku? Hihi, sedang mengingatmu!"

Tawanya membahana. Pantai yang sepi menjadi riuh karena gelaknya.

"Pembohong! Sejak kapan kamu memikirkanku?"

"Hahaha, sejak angin membasahi laut."

"Sejak kapan angin membasahi laut?"

Aku tertawa, tapi tidak menjawab. Mataku menatap laut dalam-dalam.

Hening.

"Bless," panggilku. Tapi tak berjawab.

Kulihat matanya menatap jauh ke depan, seperti aku tadi. Mungkin dia pun sedang menelanjangi masa lalunya sendiri.

Kusentuh ujung jarinya yang dingin, malah amat dingin.

"Bless."

Tetap tak bergerak sedikit pun. Sebiji matanya nanar. Sedangkan rongga kosong sebelah matanya amatlah gelap.

"Bless. Kamu sedang menyelam dalam kisahmu?"

"Ya, Er? Kamu memanggilku?"

"Ah, Bless, kamu melamun."

"Tidak. Aku hanya sedang berusaha mengingat seluruh kisah yang kupunya di masa lalu."

"Lalu? Kamu sudah mengingatnya?" Tanyaku hati-hati.

"Uuh, tidak. Hilang semua seperti mata kosongku." Jawabnya sambil tertawa.

Aku membelai bahunya perlahan.

"Err, aku rasa lebih baik seperti ini saja. Cukup begini saja."

"Maksudmu, Bless?"

"Ya, lebih baik aku tak mengingat masa laluku. Biar saja kosong, seperti mata kosongku. Bukankah aku sudah memiliki sebii mata darimu? Aku ada di hari ini, untuk hari ini."

Kugenggam tangan esnya yang tak pernah hangat. Yup, tangannya sedingin es, malah lebih dari es! Tapi menghangatkan hari  yang kupunya. Lebih hangat dari sinar matahari yang kurasakan, dulu.

"Bless, kalau mata kosongmu diisi sebiji mata oleh yang lain, bagaimana?"

"Err! Kita berbagi mata, berbagi pandang. Berbagi ruang kosong. Berbagi segala hal yang kita punya. Teganya kamu berkata begitu." Kata Bless kesal.

"Hahaha! Biar nanti wajahmu kuseterika, Bless! Kusut kali wajah kau itu!"

Tawa kami pun lebur jadi satu.

"Bless, bagaimana menurutmu tentang laut yang ada di depan kita?"

"Penuh misteri."

"Seperti masa lalumu?"

"Bukan, tapi seperti sebiji mata yang kuterima darimu."

"Kok misteri sih mata dariku?"

"Ya misteri, karena aku tak tahu kenapa kamu merelakan sebiji mata untukku?"

"Karena aku ingin berbagi pandang denganmu."

"Berarti kamu adalah misteri seperti laut yang ada di depan kita."

"Huh, aneh. Kamu aneh, Bless. Kamu teraneh sedunia kita ini."

Bless tertawa.

"Ya, aku memang aneh di dunia kita, dan lebih aneh lagi di dunia yang bukan milik kita."

Tawa kami mengisi pantai yang sebelumnya hanya diisi oleh suara ombak dan angin. Aku bahagia bersamanya. Tapi aku tak tahu apa yang dirasakan olehnya tentangku.

Malam melarut, air laut pasang. Kami diam satu sama lain, tapi saling menggenggam dingin.

"Tahukah kamu, ketika sebuah kasih ditempatkan di singgasana sebuah kisah, hancurlah segala duka yang pernah singgah." Ujarnya sambil memelukku.

Aku diam dalam pelukan kasihnya yang dingin. Kurasa dia pun merasakan hal yang sama, dingin mengalir di dalam pelukku.

Jangan bertanya padaku, kenapa ada kasih di saat seluruh kisah hidup sudah selesai. Tapi coba tanya pada hatimu, apakah di dalam hidupmu yang masih berjalan, masih tersimpan kasih?

Jangan bertanya pada kami, mengapa kasih tumbuh saat hidup sudah selesai dilewati. Bukankah kisah ini hampir sama dengan kisahmu? Hanya bedanya kami sudah lenyap dari pandangmu, sedangkan kami melihatmu dan terus memandangmu dengan sebiji mata yang masing-masing kami miliki, dan menerobos kisahmu dengan serongga mata kosong yang ada pada kami.

Aku, Err. Dia, Bless. Tanpa raga, tapi punya kasih yang menetap bersama kami. Suatu hari nanti kamu akan tahu bagaimana ini bisa terjadi. Nanti, saat kisah hidupmu habis dan berlanjut di sini, di dunia yang berbeda denganmu.

Selamat menikmati hari ini bersama kasih dari kami, Err dan Bless.


Nitaninit Kasapink








Monday, 10 July 2017

(1) Err Dan Bless, Lelaki Bermata Kosong Itu Bernama Bless

Beberapa tahun yang lalu, di sini, di tempat ini, aku bertemu dengannya. Lelaki tinggi besar yang ramah. Siapa pun bisa terkecoh jika menilainya dari sosok yang terlihat. Beberapa anak kecil, bahkan orang tua, berlari saat melihatnya sedang berdiri memandang laut dengan mata kosong. Dia Bless, yang selalu ada bersamaku, berbagi pandang.  

"Hai, Bless." Diulurkannya tangan untuk menyalami.

Bless?

"Hai, aku Bless." Diulanginya sekali lagi.

"Oh ya, Err."

Menyalami tangan besar yang kokoh, tenggelam dalam telapak tangan yang erat menggenggam, seharusnya terasa nyaman sekaligus hangat. Tapi tangannya dingin sedingin es.

"Err? Apakah kita pernah bertemu?"

Matanya seakan menyelidik.

"Entahlah. Mungkin. Aku sulit untuk mengingat sesuatu di masa lalu."

"Hahaha, berarti kita sama. Ingatanku hanya bertahan sebentar."

Bless. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Bless. Tapi biarlah, yang kuhadapi adalah Bless di hari ini.

"Err."

"Ya."

"Sudah lama di sini?"

"Baru beberapa tahun aku ada di sini."

"Kamu memilih berada di sini?"

"Tidak. Tapi aku menyukai debur ombak, desir angin, pasir pantai. Dulu aku menghadang sengatan matahari yang melegamkan kulit. Berjalan membiarkan pasir mengelus telapak kaki."

"Lalu kamu memutuskan berada di sini?"

Aku mengangguk.

"Kamu baru di sini? Aku belum pernah melihatmu."

Bless diam. Mata kosongnya menatap laut yang menghampar. Aku tak ingin mengganggu. Biarkan saja dia dalam hening yag diciptanya sendiri. Lalu sama-sama diam menikmati hening yang kami miliki. Ombak berlari kecil saling kejar. Angin membelai rambut yang hanya sebatas leher. Matahari menyengat, tapi tak lagi bisa melegamkan. Hai, mana mungkin sinar matahari bisa menghitamkan kami?

"Pantai, sawah, gunung, punya daya panggil yang kuat." Tiba-tiba suaranya memecah sunyi.

"Ya, tapi aku lebih memilih pantai, danau, hujan. Air, aku menyukai air. Mungkin aku jelmaan putri duyung," terkekeh menimpali.

"Haah, mermaid! Mermaid in love!"

Itu pertemuan pertamaku dengan Bless, saat matahari bersinar terik. Setelah itu kami sering bertemu. Berbincang dengannya amat menyenangkan. Lebih tepatnya bukan berbincang, karena aku lebih banyak bicara. Dengan sabar didengarkannya kecerewetanku saat bercerita ini dan itu. Suaranya jauh lebih lembut dibanding suaraku yang terkadang memekik parau.

Hingga di satu saat Bless bertanya padaku.

"Err, seperti apa laut yang ada di depan kita?"

"Luas! Dan hanya air. Penuh dengan air!"

"Eeeeerr, ya jelas penuh air! Laut!"

Kami terbahak bersama.

"Adakah karang besar?"

"Ya. Karang besar dan bebatuan berjajar di pinggir pantai. Ayo kita ke sana!"

Kugandeng tangannya. Pasir-pasir yang dulu melekat di kaki saat berjalan tanpa sendal, sekarang tak melekat lagi. Pasir-pasir adalah bagian kenangan masa lalu. Bless menggenggam erat tanganku.

"Bless! Karang! Ayo naik!"

Tawanya terdengar riang. Dielusnya karang yang kini ada di hadapannya.

"Oh! Karang ini tajam, Err!"

"Bless, yang lembut itu kamu. Karang ya tajam."

Lagi-lagi kami tertawa. Suara menggema saat kami berteriak di dalam karang yang besar.

"Karang tak bisakah menjadi lembut?"

"Entah, Err. Aku juga tidak tahu. Mungkin karang memang sejatinya keras dan kasar. Karang bisa hancur, tapi tidak melembut."

Aku diam. Lagi-lagi tercipta hening di antara kami.

Matahari mulai menyurut, tak lagi menyorot garang. Tapi kami tetap hening.

"Sudah malam, Err."

"Ya. Biar saja. Malam tak akan pernah bisa menakutiku. Malam tak mengubahku jadi pengecut seperti dulu. Hahaha, dulu aku takut kegelapan, takut malam. Sekarang? Aku adalah gelap, dan aku adalah malam."

Bless menoleh ke arahku. Matanya menatap kosong. Kugenggam erat-erat tangannya seakan takut kehilangan sosok yang selalu ada menemani.

"Boleh aku memegang tanganmu, Bless?"

Tak ada jawaban. Hanya saja tanganku terasa digenggam amat kuat.

Malam makin menggelap. Laut terlihat menghitam. Angin deras menerpa.

Aku melihat Bless. Lelaki dengan mata kosong yang sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Siapakah Bless? Dari mana dia berasal? Entah, aku tak pernah ingin bertanya tentangnya Biar saja dia sendiri yang bercerita tentangnya dan masa lalu. Yang kutahu Bless hari ini. Ya, Bless yang ada di hari ini. Siapa pun dia di masa lalu, biarkan saja. Bukankah semua punya masa lalu? Sebagaimana juga aku.

"Ceritakan padaku tentang laut dan seluruh isinya yang bisa kamu lihat, Err. Ceritakan padaku tentang karang yang banyak berada di sana. Ceritakan juga tentang bebatuan berjajar yang kita lewati."

Bless! Aku bukan pencerita yang baik. Bagaimana caraku menceritakan tentang laut yang tak bisa kuduga dalamnya? Bagaimana cara menerjemahkan bentuk karang yang dulu sering menyayatku? Juga bagaimana merumuskan bebatuan yang kita lewati bersama saat perjalanan?

Bless! Tangisku perlahan turun.

"Jangan menangis."

"Bagaimana kubisa menceritakan padamu tentang itu semua, Bless?"

"Ceritakan padaku. Ayo, ceritakan tentang semuanya."

Perlahan kuusap lembut mata kosongnya.

"Bless, kamu bisa melihatnya sendiri."

"Tidak, Err. Aku butuh kamu sebagai penglihatanku."

Kuusap matanya sekali  lagi dengan penuh kasih. Blessku yang selalu ingin tahu seperti apakah laut, karang, batu, dan semuanya.

Perlahan kuambil satu dari sepasang mataku. Kumasukkan ke dalam rongga matanya yang kosong.

"Bless, kita bisa melihat laut bersama. Kita bisa melihat karang dan melihat bebatuan. Tidak hanya itu. Kita juga bisa melihat apa pun yang kita mau. Kita bisa melihat bersama, Bless."

Bless, lelaki dengan mata kosong, yang memang kosong, sekarang menatap laut bersamaku. Sebiji mata ada di mata kirinya, dan sebiji mata ada di mata kananku. Cukuplah kami masing-masing melihat dengan sebiji mata.

"Bless, menyenangkan sekali bisa bersamamu memandang semua yang ada!"

Aku Err dan dia Bless, sosok tanpa raga yang selalu bersama di pantai ini. Jangan tanya tentang masa lalu kami saat masih menjalani hidup. Kami ada di sini, itu saja.

Maukah kamu berbagi mata dengan terkasihmu?



Nitaninit Kasapink