Skip to main content

(11) Err Dan Bless, Daun Bersuara Menyurat

Hai! Hari berganti amat cepat. Pagi sudah dimulai lagi. Berjalan di pasir pantai amat membahagiakan!

Apakah hari ini adalah hari libur? Karena manusia menyemut di sini!  Dan mereka menghalangi pandangku ke depan! Sesekali kutabrakan diri pada tubuh mereka. Beberapa dari mereka merasakan seperti terbentur, tapi beberapa yang lain tak merasakan apa pun.

"Bless, harusnya kamu ada di sini." Keluhku mendesah.

Ah sudahlah, tak perlu lagi bicara tentang Bless. Toh dia sudah memutuskan untuk menarik diri dari cerita bersamaku. Bukankah dia datang karena keinginannya sendiri, lalu pergi pun karena keputusannya? Jadi untuk apa ditangisi?

"Bless, kamu sedang apa?"

Err, tenanglah.

Kata hati datang berbisik. Ya, tenang sajalah. Seharusnya memang aku tidak terlalu membebani hari dengan segala macam rasa yang mengganggu senyum.

Kuambil sepucuk dahan kering untuk kugunakan sebagai pena di atas pasir. Menulis untuk Bless, walau tak akan pernah dibacanya. Hanya untuk menenangkan hati.

Bless,
meninggalkanku mungkin amat mudah bagimu, dan itu menyedihkan bagiku.

Err

Pasir yang bertulis hilang ditiup angin yang menderu. Alam tak sependapat denganku!

Berusaha menyusut air mata yang turun tanpa henti adalah pekerjaan berat untukku! Aku benci kesedihan.

Lalu angin berbisik,"Ada banyak tulisan dari lelaki tinggi besarmu."

Aku diam saja, enggan menjawab.

"Ada banyak tulisan untukmu. Bacalah."

Bless? Tulisan untukku dari Bless?

Angin pun beranjak dari hadapanku. Pergi dan berhembus entah ke mana.

Daun melambai, meliuk bagai menari. Sehelai daun jatuh di depan kaki. Disusul helai baru jatuh juga di hadapanku. Kemudian susul menyusul daun demi daun jatuh persis di depanku, hingga menumpuk! Menggunung!

Kuambil sehelai, ada tulisan rapi di sana. Huruf-huruf milik Bless!

Dear Err,
jangan berpikir aku meninggalkanmu. Tapi memang kuharus pergi untuk menuntaskan hal yang belum selesai. Aku belum bisa bercerita padamu tentang semua yang pernah kujalani dulu. Tidak ingin membebanimu dengan segala keributan yang bisa membuatmu 'gila'.

Kuhela napas panjang. Bergumulah segala rasa yang kupunya! Bagaimana cara menenangkan hati yang rusuh? Bless, biasanya kamu yang membantuku menangani segala riuh.

Bless, aku tidak tahu apa nama rasa yang sekarang kurasa. Sama sekali tidak pintar mencerna rasa yang berteriak dalam pikiran ini. Rasanya ingin menangis, tapi ini bukan sebuah kesedihan!

Kulanjutkan membaca daun.

Err, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Bantu aku untuk mengibaskan segala hal yang mengganggu pikiranku!

Bless! Aku tidak tahu kamu ada di mana, dan bagaimana harus membantumu!

Sebiji mata darimu masih terpasang dengan indah, dan kugunakan maksimal. Tapi terkadang agak menyulitkan karena aku masih harus membiasakan diri dengan mata yang tidak kosong.
Err,
jangan marah, ya? Aku hanya pergi sebentar. Bukan meninggalkanmu. Nanti aku pasti datang menemuimu. Kita sama-sama menikmati pantai, laut, pasir, mentari, dan angin.
Err,
di sini pun aku mengingatmu. Tidak melupakanmu sama sekali. Aku ingat semua tentangmu, Err.
Err,
plis jangan marah. 

Kutahan air mata  yang hendak jatuh. Menatap daun-daun yang belum kubaca dan masih menggunung malah membuat rasa dalam dada makin mengguncang!

"Aku harus bagaimana?"

Hendak berteriak, tapi yang keluar hanya ucap lirih nyaris tanpa suara.

Angin mendesir membelai rambut seleher, seakan berusaha menenangkan ricuhnya perasaan dalam hati.

"Aku butuh sebiji matamu dan serongga kosongmu!"

Air mata mulai membasahiku. Pasir dan daun pun basah oleh sedu sedan yang mulai tak bisa lagi ditahan.

"Bagaimana harus menyikapi ini semua? Bantu aku, Bless!"

Hening, tak ada jawaban dari siapa pun. Sementara itu dedaunan masih menunggu untuk dibaca. Sedangkan angin masih saja mengantar helai demi helai daun-daun baru yang ditulis oleh Bless! Kugali pasir menjadi lubang besar untuk meletakkan seluruh daun yang datang.

"Bless, aku mencintaimu, mengasihimu, dengan seluruh cinta dan kasih yang kumiliki! Berbatas kasih dan berbatas cinta. Berbatas pengertian yang teramat dalam."

Aku, Err. Hantu perempuan sebiji mata yang berbagi mata dengan Bless, hantu lelaki tinggi besar. Mungkin saat ini aku merasa ditinggalkan olehnya, tapi kutahu dia tak akan pernah pergi dariku.

Err,
tenanglah. Jangan menangis. Tersenyumlah, tertawalah seperti biasa. 
Err,
tenanglah.
Err,
Kumemelukmu dari belakang, agar kita bisa menatap ke depan bersama-sama, Err.

Tentu saja aku mengingatnya, Bless!

Ya, aku Err, hantu perempuan pecinta pantai, laut, pasir, mentari, angin. Laut lengkap dengan gemuruh ombaknya.

Aku pernah berada dalam kehidupan yang hidup sepertimu. Merelakan kepergian yang terkasih dan tetap menunggunya dengan rasa kasih, apakah pernah kamu jalani?

Tetaplah mengasihi, tapi jangan lupa komunikasikanlah dengan baik.

Aku, Err. Melihatmu dari sini, walau kamu tak bisa melihatku.



Nitaninit Kasapink









       








  

Comments

  1. Tokoh2nya ga biasa, tp ntah kenapa aku suka dan malah ga ngerasa ngeri ama hantu2 ini :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Mbak Fanny.
      Err dan Bless memang bukan hantu yang menakutkan. Mereka hantu yang ingin saling mengasihi :D

      Terima kasih, Mbak :D

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Prediksi Jitu, Nomor Jitu, Akibatnya juga Jitu

Sebenarnya ini sebuah cerita dari pengalaman seorang teman beberapa tahun yang lalu. Judi, ya mengenai judi. Temanku itu bukan seorang kaya harta, tapi juga bukan seorang yang berkekurangan menurutku, karena tetap saja masih ada orang yang jauh lebih berkekurangan dibanding dia. Empat orang anaknya bersekolah di sekolah swasta yang lumayan bergengsi di kota kami dulu. Tapi temanku itu tetap saja merasa 'miskin'. Selalu mengeluh,"Aku ga punya uang, penghasilan papanya anak-anak cuma berapa. Ga cukup untuk ini dan itu." Hampir setiap hari aku mendengar keluhannya, dan aku cuma tersenyum mendengarnya. Pernah aku menjawab,"Banyak yang jauh berkekurangan dibanding kamu". Dan itu mengundang airmatanya turun. Perumahan tempat kami tinggal memang terkenal 'langganan banjir', jadi pemilik rumah di sana berlomba-lomba menaikkan rumah posisi rumah lebih tinggi dari jalan, dan temanku berkeinginan meninggikan posisi rumahnya yang juga termasuk 'langganan ba...

error tentang,"Ga dibantu malah terbantu"

Ingat banget kejadian di bulan September 2007, itu barusan aja suami alias papa dari Ngka, Esa, Pink meninggal. Ga enak mendengarnya, cenderung menyebalkan, tapi justru ini yang membuat gue jadi punya semangat besar untuk bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk Ngka, Esa, Pink. Suami, Henk, meninggal di usia 39 tahun. Tepat seminggu sebelum ulang tahun gue yang ke 36 tahun. Ngka usia 11 tahun, Esa 8 tahun, Pink menjelang 7 tahun. Gue ibu rumah tangga, yang ga berpenghasilan. Gue ibu rumah tangga murni. Waktu itu diadakan acara selametan meninggalnya Henk. Hampir seluruh keluarga berkumpul di rumah kami. Berdoa untuk Henk. Sewaktu orang-orang sudah mulai berkumpul, ada seorang saudara dari Henk berkata begini,"Membantu satu kali itu ga apa-apa ya Nit. Tapi kalau membantu seterusnya ya ga lah". Diucap di depan semua orang yang akan berdoa. Gue kaget, terus terang kaget mendengar ini. Tapi gue bisa menetralisir hati, dan menjawab,"Oh, jangan dibantu, mas. Ga perl...

(2) Cerita Panjang: Err.

Selamat pagi, dunia! Aku pecinta malam, tapi hal yang paling membahagiakanku adalah saat meninggalkan malam yang kelam! Setiap pagi badan terasa amat letih karena sang malam memaksa pergi menuju dunia kelam tanpa bisa menolak. Malam adalah hal yang menyenangkan karena tidak mengusikku agar bergerak cepat, tidak membuatku tergesa-gesa. Tapi malam juga sekaligus menjadi waktu yang menakutkan bagiku. Malam yang memaksa untuk tidur. Padahal setiap aku mulai terlelap, jiwa disedot kuat hingga tenggelam ke kerak bumi terdalam! Bertemu dengan para makhluk aneh yang tak terlihat olehmu dan orang-orang lain. Mereka makhluk tanpa raga. "Err! Mandi!" Mama berteriak memanggil dan menyuruhku segera mandi. Pagi! Waktu yang kubenci dan sekaligus kutunggu. "Iya, Ma! Otewe kamar mandi!" "Jangan berteriak ke orang tua!" "Kalau aku berbisik, Mama tidak mendengarku!" Berlari menuju kamar mandi. Di sudut dapur kulihat wanita menunduk dengan rambut terg...