Skip to main content

(2) Cerita Panjang: Err.

Selamat pagi, dunia! Aku pecinta malam, tapi hal yang paling membahagiakanku adalah saat meninggalkan malam yang kelam!

Setiap pagi badan terasa amat letih karena sang malam memaksa pergi menuju dunia kelam tanpa bisa menolak. Malam adalah hal yang menyenangkan karena tidak mengusikku agar bergerak cepat, tidak membuatku tergesa-gesa. Tapi malam juga sekaligus menjadi waktu yang menakutkan bagiku. Malam yang memaksa untuk tidur. Padahal setiap aku mulai terlelap, jiwa disedot kuat hingga tenggelam ke kerak bumi terdalam! Bertemu dengan para makhluk aneh yang tak terlihat olehmu dan orang-orang lain. Mereka makhluk tanpa raga.

"Err! Mandi!"

Mama berteriak memanggil dan menyuruhku segera mandi. Pagi! Waktu yang kubenci dan sekaligus kutunggu.

"Iya, Ma! Otewe kamar mandi!"

"Jangan berteriak ke orang tua!"

"Kalau aku berbisik, Mama tidak mendengarku!"

Berlari menuju kamar mandi. Di sudut dapur kulihat wanita menunduk dengan rambut tergerai menutup wajah.

Peduli setan! Dasar setan! Benar-benar setan! Rutukku dalam hati.

Tak perlu berlama-lama di kamar mandi. Cukuplah beberapa gayung membasahi badan, selesai.

"Err! Cepat!"

"Ya, Ma!"

"Jangan berteriak pada Mamamu!"

"Ini berbisik, Ma!"

Hai, ya, aku Err. Anak bungsu dari dua bersaudara. Bukan seorang yang pandai bergaul, walau memiliki banyak teman. Seorang pendiam, walau bisa saja di satu saat berubah menjadi seorang yang amat cerewet!

"Err! Jangan melamun!"

Itu mamaku. Seorang single mom. Mama berpisah dari papa beberapa tahun yang lalu. Tapi kemudian papa meninggal karena kecelakaan.

"Ayo, berangkat! Sarapan di kantin saja. Mama bisa terlambat tiba di kantor gegara menunggumu."

"Ok, asal uangnya memadai," jawabku santai sambil mengambil sebuah jeruk dari atas meja.

Perjalanan dari rumah ke sekolah tidak memakan banyak waktu. Hanya 10 menit. Tapi mama selalu mengantarku.

"Err, nanti Mama pulang malam. Lembur."

"Oke aja, asal uangnya memadai."

"Kamu tuh ya, menghitung uang terus."

Tidak terasa sudah tiba di depan sekolah.

Lagi-lagi kulihat lelaki besar itu. Ya, lelaki tanpa raga memang selalu ada di sana.  Tiba-tiba seorang siswa masuk ke halaman sekolah, menembusnya. Ufh, ini hal yang biasa terjadi, tapi selalu saja mengejutkan.

Tidak ada yang tahu mengenai kemampuanku ini. Mama juga tidak. Aku tak mau dianggap orang yang aneh.

"Err, belajar yang sungguh-sungguh, jangan melamun terus."

"Siaplah, Bu Ketua."

"Ketua?"

"Loh, Mama memang tua, kan?"

Mama tertawa.

"Bye, Ma. Take care!"

Sekolah ini termasuk tempat yang tak kusukai. Mau tahu kenapa? Di sini terlalu banyak hal 'aneh'! Seperti di depan pintu kelas yang ada di ujung sana itu, ada sesosok anak kecil menangis. Setiap hari kulihat dia menangis kebingungan. Dan di tangga sebelah sana, ada perempuan berambut panjang memandangku tanpa berkedip. Kalau bukan karena harus bersekolah, malas rasanya datang ke sini.
Duduk di kursi tempatku pun, ada sosok perempuan sebaya yang ikut duduk, tapi di lantai.

Sekolah, yang kutunggu adalah bel tanda pulang! Walau di rumah pun ada beberapa sosok tanpa raga terlihat, setidaknya aku lebih punya keberanian karena itu rumahku!

Ok, bel tanda mulai pelajaran sudah terdengar. Aku harus belajar. Harus berkonsentrasi memandang ke depan, ke arah guru. Dan berusaha tidak melihat sebuah mata besar muncul di papan tulis.

Ini yang kujalani setiap hari. Nanti akan kuceritakan lagi.

Sssshh, jangan menyolek-nyolek tanganku! Sesosok anak kecil tersenyum lebar, menampakkan giginya yang ompong berdarah.

O my God!


Nitaninit Kasapink








Comments

  1. Kyknya ini bakal lbh serem dr err dan bless :D. Dulu aku prnh penasaran apa rasanya kalo bisa melihat makhluk2 halus.. Tp dipikir2 ,kalo utkku, sebaiknya memang jgn bisa melihat, drpd pingsan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ini lebih serem dari Err Dan Bless.
      Eh, enakan ga bisa lihat makhluk halus, loh. Ga menyenangkan sama sekali melihat yang kayak gitu.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Prediksi Jitu, Nomor Jitu, Akibatnya juga Jitu

Sebenarnya ini sebuah cerita dari pengalaman seorang teman beberapa tahun yang lalu. Judi, ya mengenai judi. Temanku itu bukan seorang kaya harta, tapi juga bukan seorang yang berkekurangan menurutku, karena tetap saja masih ada orang yang jauh lebih berkekurangan dibanding dia. Empat orang anaknya bersekolah di sekolah swasta yang lumayan bergengsi di kota kami dulu. Tapi temanku itu tetap saja merasa 'miskin'. Selalu mengeluh,"Aku ga punya uang, penghasilan papanya anak-anak cuma berapa. Ga cukup untuk ini dan itu." Hampir setiap hari aku mendengar keluhannya, dan aku cuma tersenyum mendengarnya. Pernah aku menjawab,"Banyak yang jauh berkekurangan dibanding kamu". Dan itu mengundang airmatanya turun. Perumahan tempat kami tinggal memang terkenal 'langganan banjir', jadi pemilik rumah di sana berlomba-lomba menaikkan rumah posisi rumah lebih tinggi dari jalan, dan temanku berkeinginan meninggikan posisi rumahnya yang juga termasuk 'langganan ba...

error tentang,"Ga dibantu malah terbantu"

Ingat banget kejadian di bulan September 2007, itu barusan aja suami alias papa dari Ngka, Esa, Pink meninggal. Ga enak mendengarnya, cenderung menyebalkan, tapi justru ini yang membuat gue jadi punya semangat besar untuk bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk Ngka, Esa, Pink. Suami, Henk, meninggal di usia 39 tahun. Tepat seminggu sebelum ulang tahun gue yang ke 36 tahun. Ngka usia 11 tahun, Esa 8 tahun, Pink menjelang 7 tahun. Gue ibu rumah tangga, yang ga berpenghasilan. Gue ibu rumah tangga murni. Waktu itu diadakan acara selametan meninggalnya Henk. Hampir seluruh keluarga berkumpul di rumah kami. Berdoa untuk Henk. Sewaktu orang-orang sudah mulai berkumpul, ada seorang saudara dari Henk berkata begini,"Membantu satu kali itu ga apa-apa ya Nit. Tapi kalau membantu seterusnya ya ga lah". Diucap di depan semua orang yang akan berdoa. Gue kaget, terus terang kaget mendengar ini. Tapi gue bisa menetralisir hati, dan menjawab,"Oh, jangan dibantu, mas. Ga perl...

error bercerita tentang "SIM dan Aku"

Oktober 2007 pertama kali aku mengurus pembuatan SIM. Sebelumnya pergi kemanapun tanpa SIM. Almarhum suami tanpa alasan apapun tidak memberi ijin membuat SIM untukku, tapi dia selalu menyuruhku pergi ke sana dan ke sini lewat jalur jalan raya yang jelas-jellas harus memiliki SIM. Sesudah suami meninggal, aku langsung mengurus pembuatan SIM lewat calo. Cukup dengan foto copy kTP dan uang yang disepakati. Tidak ada test ini dan itu. Hanya foto saja yang tidak bisa diwakikan. Ya iyalah, masa foto SIM-ku itu foto wajah bapak berkumis! Hanya sebentar prosesnya, dan tralalalala, SIM sudah di tangan. Kemanapun pergi aku selalu membawa SIM di dompet, tapi tidak pernah tahu sampai  kapan masa berlakunya. Bulan April 2013 kemarin aku baru tahu ternyata masa berlakunya sudah habis. SIM-ku kadaluwarsa! Haduh, kalau SIM ini makanan, pasti sudah berbau, dan aku keracunan! Untung sekali SIM bukan makanan.   Lalu aku putus kan  membuat SIM baru, b ukan perpanjangan,  karena S...