Skip to main content

(3) Cerita Panjang: Lorong Panjang

"Err, tidur siang."

Kenapa harus tidur siang? Apakah mama tidak  tahu aku benci tidur siang? Setiap hari harus tidur siang padahal berarti bertemu dengan makhluk-makhluk aneh itu lagi! Tapi bagaimana bisa kutentang jam tidur siang ini?

Segera masuk kamar menenteng komik untuk dibaca.

"Err, komiknya jangan dibawa ke kamar. Tidur, bukan membaca!"

Mama! Betapa hebatnya mama dan semua orang yang berani menghadapi makhluk-makhluk aneh itu saat tidur! Aku takut! Terbayang gelap dan lembabnya berada di sana.

"Tidur, Err. Kamu harus istirahat."

Mama! Bagaimana aku bisa beristirahat kalau selalu bertemu dengan mereka semua itu?

Tapi lagi-lagi karena tak mungkin menentang permintaan mama. Berusaha mulai memejamkan mata. Memeluk guling erat, cemas menyergap.

Wuuz, terjerembab masuk ke dalam pusaran gelap! Mama, tolong! Ini menyiksaku! Semakin berputar cepat, dan makin gelap. Jantung berdegup keras! Aku takut. Tolong!

Lalu putaran pusaran melambat, cahaya kecil ungu berkelip di sana-sini. Duh, sudahlah, berhenti, jangan diteruskan. Aku tak mau masuk ke sana lagi!

Tiba-tiba semua berhenti. Aku sudah berada di sini, sebuah tempat gelap tanpa cahaya, tanpa kehidupan yang sebenarnya. Gemetar dalam hati, tapi melangkah layaknya seorang pemberani. Masuk ke dalam lorong yang panjang.

Suara menggumam terdengar jelas di telinga. Ingin menutup mata, tapi tak bisa. Aku takut!

Sebuah mata besar dengan warna merah memandang tanpa berkedip. Entah mata siapa. Hanya ada sebuah mata tanpa ada kepala dan organ lainnya.

Tangan panjang menjulur ke arahku! Hah! Jangan coba-coba menyentuhku!

Tubuh mendingin.

Mengapa tak ada seorang pun kukenal ada di sini? Apakah mereka melewati jalan yang berbeda? Kemudian kuputuskan untuk mengambil jalan yang berbeda dengan semalam. Ya, semalam pun aku berada di sini.

Belok ke kanan. Jalan masih sama kecilnya, dan sama bukan beraspal. Tanah, semua jalan tanah. Ternyata tetap tak kutemui siapa pun disini! Sama saja, hanya makhluk aneh!

Rambut panjang mengikuti di sisi kanan. Mama! Rambut siapa?

Gelap! Tempat ini amat gelap! Keluarkan aku dari sini! Lalu suara menggeram terdengar amat keras, malah menggetarkan dinding batu di sini!

Yang melegakanku hanya satu, tak ada sesosok makhluk pun bisa menjamahku, tak bisa menyentuh. Mereka berada di luar jalan. Aku pun tak berani berjalan keluar dari jalan yang sudah ada. Apalagi karena memang tak terlihat apa pun, selain jalan yang amat panjang ini dan makhluk-makhluk ini!

Terang! Aku berlari menuju cahaya! Mama! Mengapa ada banyak makam di sini? Mengapa tak ada siapa pun di sini? Semalam aku melewati jalan yang berbeda, tapi kenapa tetap saja bertemu dengan pemakaman yang luas?

Tiba-tiba aku ditarik ke atas! Kamarku! Tapi siapa yang tidur di sana? Aku? Itu aku? Lalu siapa aku yang sekarang?

Melangkah mendekati aku yang sedang tidur memeluk guling. Ya benar, itu aku! Cermin! Aku mau becermin. Tak ada bayanganku di sana. Ketakutan mulai menyergap. Takut, amat takut! Melebihi ketakutan saat melihat semua makhluk aneh di bawah sana. Melihat diri sendiri sedang tidur padahal aku sedang berdiri di sini, sungguh amat menakutkan.

Kudekati tubuhku yang sedang tidur. Mencoba menyentuh, tapi ternyata tak bisa. Seperti memagang sesuatu yang kosong. Otakku mulai dipenuhi pemikiran aneh. Apakah aku sudah mati?

Lalu tanpa bisa kukendalikan, lagi-lagi aku merasa ditarik keras dan cepat! Argh!

"Err, bangun."

Suara mama membangunkanku.

"Mama! Err senang melihat Mama!"

Mama hanya tertawa.

Sejak saat itu aku tidak takut lagi. Karena aku percaya pasti bisa kembali lagi ke dunia ini. Aku belum mati. Lagipula kenapa juga takut, bukankah semua orang pun mengalami hal yang sama seperti ini? Masuk ke dalam bumi yang gelap saat harus tidur.

Dari cermin yang menempel di dinding kulihat sepotong tangan melambai padaku.


Nitaninit Kasapink




Comments

  1. Ga kebayang kalo tiap kali tidur hrs ngalamin begitu.. Kayak mimpi buruk kalo buatku.. Tp mungkin kalo tiap hari seperti itu, jd biasa kali yaa :D. Jd inget cerita yg pernah kubaca dulu, ttg seseorang yg kalo tidur pasti bermimpi aneh. Semcam petualangan yg seolah nyata buat dia. Dan tiap kebangun bdnnya bukan seger, tp selalu capek luar biasa krn habis mengalami petualangan tadi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Err setiap bangun tidur juga cape luar biasa. Nanti di episode lanjutan akan diceritakan tentang itu juga.

      Hal yang jadji biasa, tapi tetap aja luar biasa setiap kali mengalami :D

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Prediksi Jitu, Nomor Jitu, Akibatnya juga Jitu

Sebenarnya ini sebuah cerita dari pengalaman seorang teman beberapa tahun yang lalu. Judi, ya mengenai judi. Temanku itu bukan seorang kaya harta, tapi juga bukan seorang yang berkekurangan menurutku, karena tetap saja masih ada orang yang jauh lebih berkekurangan dibanding dia. Empat orang anaknya bersekolah di sekolah swasta yang lumayan bergengsi di kota kami dulu. Tapi temanku itu tetap saja merasa 'miskin'. Selalu mengeluh,"Aku ga punya uang, penghasilan papanya anak-anak cuma berapa. Ga cukup untuk ini dan itu." Hampir setiap hari aku mendengar keluhannya, dan aku cuma tersenyum mendengarnya. Pernah aku menjawab,"Banyak yang jauh berkekurangan dibanding kamu". Dan itu mengundang airmatanya turun. Perumahan tempat kami tinggal memang terkenal 'langganan banjir', jadi pemilik rumah di sana berlomba-lomba menaikkan rumah posisi rumah lebih tinggi dari jalan, dan temanku berkeinginan meninggikan posisi rumahnya yang juga termasuk 'langganan ba...

...Filosofi Tembok dari Seorang di Sisi Hidup...

Sisi Hidup pernah berbincang dalam tulisan dengan gw. Berbicara tentang tembok. Gw begitu terpana dengan filosofi temboknya. Begitu baiknya tembok. 'Tembok tetap diam saat orang bersandar padanya. Dia pasrah akan takdirnya. Apapun yang dilakukan orang atau siapapun, tembok hanya diam. Tak bergerak, tak menolak. Cuma diam. Tembok ada untuk bersandar. Gw mau jadi tembok' Itu yang diucapnya Gw ga habis pikir tentang fiosofi tembok yang bener-bener bisa pasrah diam saat orang berbuat apapun padanya. karena gw adalah orang yg bergerak terus. Tapi sungguh, takjub gw akan pemikiran tembok yang bener-bener berbeda ama pemikiran gw yang selalu bergerak. Tembok yang diam saat siapapun berbuat apapun padanya bener-bener menggelitik gw. Gw sempet protes, karena menurut gw, masa cuma untuk bersandar ajah?? Masa ga berbuat apa-apa?? Dan jawabannya mengejutkan gw... 'Gw memang ga pengen apa-apa lagi. Gw cuma mau diam' Gw terpana, takjub... Gw tau siapa yang bicara tentang tembok. Ora...

error bercerita tentang "SIM dan Aku"

Oktober 2007 pertama kali aku mengurus pembuatan SIM. Sebelumnya pergi kemanapun tanpa SIM. Almarhum suami tanpa alasan apapun tidak memberi ijin membuat SIM untukku, tapi dia selalu menyuruhku pergi ke sana dan ke sini lewat jalur jalan raya yang jelas-jellas harus memiliki SIM. Sesudah suami meninggal, aku langsung mengurus pembuatan SIM lewat calo. Cukup dengan foto copy kTP dan uang yang disepakati. Tidak ada test ini dan itu. Hanya foto saja yang tidak bisa diwakikan. Ya iyalah, masa foto SIM-ku itu foto wajah bapak berkumis! Hanya sebentar prosesnya, dan tralalalala, SIM sudah di tangan. Kemanapun pergi aku selalu membawa SIM di dompet, tapi tidak pernah tahu sampai  kapan masa berlakunya. Bulan April 2013 kemarin aku baru tahu ternyata masa berlakunya sudah habis. SIM-ku kadaluwarsa! Haduh, kalau SIM ini makanan, pasti sudah berbau, dan aku keracunan! Untung sekali SIM bukan makanan.   Lalu aku putus kan  membuat SIM baru, b ukan perpanjangan,  karena S...