Friday, 23 May 2014

error,"Siapa memindahkan dan menyembunyikan kalung?"

"Bikin kalung, Ma?", tanya Ngka sebelum dia pamit pergi ke rumah sahabatnya.

"Yup", jawabku.

"Udah lama Ngka ga lihat Mama bikin kalung", katanya lagi.

"Ma, bagus", kata Esa tersenyum, dan kujawab dengan senyum juga. Pink ikut memperhatikan aku yang sedang merangkai kalung.

Akhirnya selesai sudah kalung pertama, lalu aku lanjutkan kalung ke-dua. Aku sama sekali tak beranjak dari dudukku. Sebuah kesibukan yang asyik, untukku. Selesai sudah 2 kalung, aku ingin mencobanya. Tapi...

"Sa, lihat ga kalung yang 1?", tanyaku pada Esa.

"Lah kan sama Mama", jawabnya.

"Ga ada. Tadi sesudah selesai dirangkai, ya Mama letakkan di sini", ujarku sambil menunjuk wadah tempat kalung yang sudah selesai.

"Memangnya ga ada?", tanya Esa.

"Ga ada. Mama kan ga kemana-mana. Mama dari tadi cuma duduk di sini, ga geser", jawabku.

"Pink, kamu ngumpetin kalung Mama? Jangan iseng", kata Esa.

Pink yang sedang asyik mengetik menjawab,"Gaaaaa".

Aku sibuk mencari kalung yang pertama selesai dirangkai, tapi tidak ketemu juga. Esa ikut sibuk mencari, tapi tidak juga menemukannya. Pink juga ikut-ikut melongok kolong kursi, tetap saja kalung itu tak ada. Aneh, karena aku tak bergeser dari tempatku duduk saat merangkai. Lumayan lama kami mencari kalung itu. Ufh, kok bisa ya menghilang?

Lelah mencari, aku beranjak ke ruang tengah, mau mengambil buku yang kuletakkan di atas mesin jahit kemarin. Dan...

"ESAAAA...! Ni kalungnya!", teriakku.

Esa kaget, dan tergopoh menuju ke arahku. Dilihatnya kalung yang kami cari ada di sana, ditutupi tas ransel! Berpandang-pandanganlah aku dan Esa. Merinding tubuhku. Hiiii.., siapa yang memindahkan dan menyembunyikan kalung ini? Lagi-lagi dunia lain ikut bermain... Haduh!

Dan saat Ngka pulang, aku tanyakan apakah dia mengambil dan menyembunyikan kalung karena iseng, Ngka menggeleng, dan menjawab,"Tadi Ngka berangkat tuh kalung kan belum selesai dirangkai".

Jadi, siapaaaaa??? Hiiii....!

***





















Friday, 16 May 2014

error bercerita,"Lelaki di ujung jalan"

Aku melihatnya tersenyum padaku. Lagi, dan lagi, senyum itu membuatku tertunduk. Mengapa dia selalu tersenyum padaku? Ah, lalu kutergesa berjalan setengah berlari. "Mbak", sapanya. Seperti biasa, dia menyapaku setiap kali bertemu. Ah, mengapa pula dia merasa harus menyapaku? Dan aku tak memperdulikan sapaannya itu. Aku terus saja setengah berlari, malah semakin cepat.

Aku melihatnya pertama kali bertahun silam. Lelaki itu selalu ada di ujung jalan itu. Dia selalu tersenyum, dan menyapaku. Tak pernah bosan dilakukannya itu padaku. Ramah? Ya mungkin ramah. Tapi aku tidak menyukai hal itu! Untuk apa pula dia ramah padaku, sedangkan pada yang lain, dia tidak menampakkan senyumnya, juga tidak menyapa. Usianya mungkin sekitar 40 tahun, wajah bersih tanpa kumis, tanpa cambang, juga tanpa jenggot. Rapi. Menggunakan pakaian layaknya orang akan berangkat kerja. Dia selalu ada di situ setiap aku berangkat kerja, dan ada di situ pula saat aku pulang kerja. Tak kusangkal, terkadang wajah klimisnya membayang di benakku. Bertanya-tanya dalam hati, siapa namanya, bekerja di mana, sudah beristrikah dia, atau siapakah kekasihnya, dan berapakah putranya jika dia sudah beristri. Ah, sudahlah, tak perlu dipikirkan tentang dia. Tapi tetap saja bayangnya melekat di benakku. Bayangkan saja, sudah bertahun-tahun dia melihatku, tersenyum, dan menyapaku setiap kali! Mengenal pun tidak! Ufh, untuk apa dia ada di ujung jalan itu, di tempat perhentian angkutan umum setiap kali. Pagi, siang, sore, mau pun malam, setiap aku melintas di sana, dia ada, dan tersenyum, dan tak lupa menyapaku dengan sebutan mbak.

Di kantor ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk kelengkapan tender, mengatur schedule psikotest dan interview untuk calon karyawan di perusahaan ini.

Tok tok tok! Hmm, ada tamu.

"Bu, ada orang dari outsource mau bertemu. Ada di bawah. Ibu mau bertemu atau tidak?", tanya seorang security yang tadi mengetuk pintu ruanganku.

"Duh Bapak, kenapa ga telepon aja? Lebih mudah Bapak telepon, daripada harus naik ke sini", ujarku, karena ruanganku ada di lantai 1,5. Haha, lantai 1,5! Ya, karena ada di antara lantai 1 dan lantai 2.

"Tidak apa-apa, Bu", jawabnya.

"Tunggu aja ya Pak, saya juga masih dikejar dead line tender. Atau beritahu aja, telepon dulu kalau mau ke sini. Sebentar lagi saya ada meeting", jawabku.

Dia mengangguk, lalu keluar ruanganku. Aku meneruskan sibuk menyelesaikan pekerjaanku yang diburu dead line. Tapi lalu tiba-tiba berkelebat bayangan lelaki di ujung jalan itu lagi. Ah, siapakah dia?

Tak terasa jam dinding menunjukkan waktu off kantor. Horrreee, akhirnya aku bisa pulang dan menikmati berkumpul dengan anak-anakku! Tapi berarti aku bertemu lagi dengan lelaki itu. Ah sudahlah, biar saja.

"Mbak", suara sapa itu terdengar lagi.

"Ya, mari, saya mau pulang", jawabku. Setelah bertahun-tahun, akhirnya aku menjawab, dan tetap menunduk!

"Silakan", jawabnya.

Setiba di rumah, aku berkumpul dengan anak-anak, dan asyik bercanda dengan mereka.

"Mama masih bertemu dengan lelaki yang di ujung jalan?", tanya anakku.

"Ya, masih. Dan tadi Mama menjawabnya!", jawabku.

"Hah? Lalu?"

"Dia menjawab lagi!"

"Lalu?"

"Ya Mama terus menunduk, dan terus saja berjalan", ujarku.

Anak-anakku memang mengetahui tentang lelaki itu dari ceritaku. Malam makin larut, satu persatu anak-anakku tidur. Aku masih terbayang lelaki ujung jalan itu. Ah, lelaki itu...

Pagi hari berangkat kerja, hatiku dag dig dug karena terbayang akan bertemu dengannya lagi. Wajah klimis dan murah senyum, juga sapaan yang ramah. Ugh! Dan oops, itu dia! tersenyum dari kejauhan, melambaikan tangan padaku. Aku mempercepat langkah menuju arahnya sebelum dia menghilang.

"Mbak, waktuku sudah tiba. Terimakasih sudah mau menjadi temanku selama ini. Selamat tinggal", ucapnya.

"Siapa kamu sebenarnya? Aku tidak tahu namamu. Maafkan aku, aku bukan teman yang baik. Maafkan aku... Sekarang kemanakah kamu?", ucapku sambil terisak.

"Bu, ada apa? Ibu sakit?", seorang ibu memegang bahuku. beberapa orang berdiri di dekatku. Ada yang menyorongkan sebotol minuman untukku. Ah, mereka tidak tahu rasa yang kupendam selama ini, bertahun-tahun tentang lelaki itu.

"Istirahat dulu, Bu", ujar si ibu tadi.

Lelaki itu menghilang sudah! Lelaki yang bertahun-tahun tersenyum dan menyapaku, hilang! Ucapan selamat tinggalnya membuatku merasa bersalah. Seharusnya sejak duu aku menjawab sapaannya, mau menjadi temannya. Aku malah menunduk, dan baru kemarin menjawab sapaannya. Itu pun sambil menunduk!

"Ibu, lebih baik ibu pulang saja. Istirahat", uajr ibu itu lagi.

"Ya, saya mau pulang saja. Terimakasih", jawabku.

Mereka pasti mengira aku sakit! Orang-orang itu mengira aku sakit! Lelaki itu pasti tahu rasa yang aku miiki selama ini. Alasanku menunduk saat melihatnya, dia juga pasti tahu. Lelaki dengan wajah klimis dan baju rapi hendak berangkat kerja, dengan lumuran darah di baju, dan darah yang menetes dari kepalanya, juga tangannya yang hampir putus setiap... Itu yang membuatku selalu menunduk. Tak ada yang menghiraukannya, karena cuma aku yang melihatnya, selama bertahun-tahun...
***

Wednesday, 14 May 2014

error bercerita,"Luka Cakar"

Aku melihat wajah dan tangannya penuh dengan bekas luka. Wajah tenang itu terlihat lelah. Aku menghapus peluh yang mulai turun dari rambut pendeknya menuju tengkuk. Dia sahabatku, lama tak bertemu, baru sebulan ini kami sering bertemu, dan aku selalu mendengarkan cerita hidupnya.

"Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja", ujarnya.

Aku tersenyum, dan tetap menghapus peluh yang terus menerus hadir basahi seluruh kepalanya, juga wajahnya.

"Aku tidak apa-apa. Jangan khawatirkan aku", ujarnya lagi.

Aku masih memandangnya dengan senyum yang tak lepas dari bibirku. Bagaimana mungkin aku tak mengkhawatirkan keadaannya setelah melihat sendiri bekas luka yang hampir penuhi tangan dan wajahnya.

"Cinta? Apakah kamu tahu tentang cinta? Dia selalu menyebutkan cinta padamu, tapi dia melakukan ini padamu? Percayakah kamu bahwa cinta itu saling menyayangi, saling mengerti, saling memotivasi, saling menguatkan? Apakah bekas luka di tubuhmu ini adalah tanda cintanya padamu?", tanyaku beruntun dan bertubi-tubi padanya. "Ini kekerasan, bukan cinta. Ini sadis, bukan sayang. Percayakah kamu bahwa menjaga diri dengan baik, melindungi diri dengan baik, itu juga sebuah perintah Sang Pencipta?", lanjutku.

Lelaki di sebelahku tak menjawab, hanya diam, dan asyik menikmati semangkok pangsit. Aku memandangnya lekat, memegang punggung tangannya yang penuh bekas luka. Sunguh tak rela melihatnya seperti ini.

"Ini tak seberapa dibanding yang ada di tubuhku", katanya lagi.

Aku terkesiap mendengar penuturannya. Belum seberapa? Sedangkan yang kulihat di tangannya saja sudah membuatku ingin menangis!

"Dia selalu seperti itu, mencakarku, dan masih banyak lagi yang dilakukannya padaku. Belum lagi dengan ucapan-ucapannya yang aku tak mengerti apa maksudnya. Aku tidak tinggal diam, tapi aku berusaha menahan dan menghindar dari cakarannya", dia bercerita padaku.

Aku diam menyimak ceritanya, dan masih tetap memandangnya lekat.

"Pertama melihatnya, aku merasa menyayangnya. Tapi dia tak pernah menyayangiku. Jika ada rasa sayang, tak mungkin dia melakukan ini padaku", katanya.

"Apa rencanamu selanjutnya?"

"Dia tidak pernah tau bahwa aku sudah tak tahan akan perlakuannya padaku".

"Lalu?", tanyaku padanya.

Dia tak mengucap sepatah kata pun, sambil memandangku dengan senyum. Tapi ada garis wajah yang mengeras, yang tak bisa dia sembunyikan dariku.

"Aku berdoa untukmu selalu, untuk kebahagiaanmu, untuk sehatmu, untuk seluruh hidupmu. Jaga dirimu baik-baik, dan aku akan tetap mencintaimu", aku memandangnya dan mengatakan isi hatiku padanya dalam hati... Dia tak pernah tau, bahwa aku mencintainya tulus, dan tak ingin dia terluka. Aku cuma bisa mendoakannya agar dia selalu baik-baik saja, dan semua permasalahannya bisa selesai dengan baik.

"Aku mencintaimu", suaranya mengejutkanku.

Aku tersenyum. Dia bangkit dari duduk, menggandeng tanganku, lalu membayar semangkuk pangsit kuah yang baru saja dihabiskannya.

"Besok akan kukembalikan pada orangtuanya", dia berkata padaku sambil tetap memegang erat tanganku.

"Lalu bagaimana selanjutnya?", tanyaku.

"Mbakku itu seorang yang baik, pasti dia mau menerima kemballi anak kucing yang sudah kuadopsi sebulan ini darinya. Dan oh ya, maukah kamu menikah denganku? Dan berjanji bahwa kita tidak akan memelihara binatang apa pun di rumah, apalagi seekor kucing seperti si miaw yang hendak kukembalikan pada mbakku", katanya sambil tersenyum.

Aku terkejut. Ternyata yang selalu dia ceritakan padaku adalah seekor kucing peliharaannya! Aku memeluknya erat, dan berkata,"Jangan pernah ada yang mencakarmu lagi, aku tak mau kamu terluka, dan sibuk membersihkan kotoran-kotorannya yang tersebar di rumah. Cuma ada kita, keluarga kita, tanpa kucing lagi..."

***






Tuesday, 13 May 2014

error bercerita,"Tragedi Err dan San"

"Aku tidak akan pernah membuat kebahagiaanmu berkeping. Aku telah berjanji pada Tuhan, aku tidak akan pernah menyakitimu. Tapi jika ternyata cinta dan perhatianku padamu ini menyakitimu, aku berjanji, aku tidak akan pernah mengungkapkan cinta ini lagi. Aku berhenti dari hubungan ini", ujarku pada San. Aku berusaha menahan airmata agar tak luruh.

San diam memandangku, lalu menjawab dengan gaya terlihat acuh tak acuh,"Terserah apa pun katamu. Aku bisa hidup sendiri. Tanpa siapa pun, aku bisa".

Dalam hati aku mengeluh, mengapa tak ada rasa ingin mempertahankan hubungan yang telah dijalin beberapa lama ini. Rasanya ingin berteriak, mengapa tidak berusaha introspeksi tentang hubungan ini. Mengapa hanya mengedepankan keras hati tanpa ingin memperbaiki, tanpa melihat lagi dengan baik apa yang terjadi sebenarnya di antara aku dan dia.

Antara aku dan San sudah lama berhubungan sebagai seorang teman, lalu menjadi sahabat.Setelah lama bersahabat, akhirnya cinta itu datang. Hhh, cinta! Apakah benar memang cinta yang ada di hatimu, San? Aku lirih berkata dalam hati.

"Aku bosan dengan hubungan yang selalu begini! Kamu tidak pernah mau mengerti! Jika kamu mau dan bisa mengerti tentangku, pasti kamu tidak akan bicara seperti ini!".

"Jika aku memang tidak mengerti tentangmu, maafkan aku. Tapi apakah menurutmu, kamu mengerti tentangku?"

Wajahnya terlihat tegang, dan menunjukkan ketidak acuhan yang besar. Sedangkan aku menahan airmata, dan menahan amarah yang selama ini kurasa.

Aku masih ingat bagaimana dia dulu selalu menghubungiku. Telepon, sms, BBM, setiap hari selalu ada, dan itu setiap jam selalu ada. Lalu makin lama semakin berkurang, dan mulai menghilang. Pertemuan pun semakin jarang. Datang ke rumah? Oh no, itu tak lagi dilakukannya. Dan saat aku memprotes itu semua, dia malah hanya menyalahkanku. Unfair! Sewaktu kutanya mengapa dia tak menghubungiku, jawabannya hanya kalimat datar yang singkat,"Tidak apa-apa". Sms dariku, pesan di BBM dariku, semua hanya lewat tanpa ada balasan. Inikah cinta? Cinta yang digaungkan olehnya, bahwa dia mencnintaiku amat sangat. Tapi dengan realita yang amat menyakitkan. Pernah kukatakan padanya agar jangan memberi harapan padaku jika sebenarnya tak ada harapan untukku darinya. Tapi itu tak ada jawaban darinya.

"Aku lelah! Aku harus menyelesaikan masalah yang banyak!! Bukan cuma tentangmu!", ujarnya setengah berteriak.

"Hingga melupakanku", kataku.

"Ya, aku memang melupakanmu", jawabnya dingin, dan itu seakan menghujam jantungku!

"Seperti ucapanmu yang sejak dulu sering kamu ucap bahwa kamu bisa hidup sendiri, kamu bisa tanpa siapa-siapa, dan kurasa aku memang mengganggu hidupmu, sevarang aku tak lagi avan menghubungimu. Biarlah semua berjalan tanpa ada ucapan cinta dan rindu. Cinta dan rindu milikku, itu adalah milikku, takkan kuberikan padamu. Biar saja semua jadi milikku sendiri", ucapku.

"Tadi aku sudah mengatakan padamu, terserah! Aku tak perduli".

Aku menahan sakit dalam hati yang amat sangat. Begitu tidak berharganya hubungan yang sudah dijalin selama ini baginya. Lalu untuk apa dipertahankan? Aku berteriak dalam hati...

Suasana menjadi hening, tak ada suara, dan kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Lalu tiba-tiba kepalaku pusing, dan oh, darah mengalir dari kepala, dan ada hantaman keras lagi di daerah itu. Aku limbung...

"Tak ada yang boleh memilikimu selain aku!", suara berat masuk telingaku... Dan semua menghilang...

Ufh, tanganku terikat. Gelap sekali, mataku harus beradaptasi. Lamat-lamat bisa kulihat seseorang di sana. Oh, San!! Bagaimana keadaannya?

"Err, Err... Bangun, Err...!", suara San terdengar.

"Ya, bagaimana keadaanmu?"

"Sama sepertimu. Terluka".

"Haaaii, sudah tersadar semua yaaa...? Baguuus...! Pasangan yang sejati berada di sini, dalam gudang gelap. Err, bagaimana, apakah masih pusing?", suara berat itu lagi yang berkata. Lalu kaki yang diseret terdengar mendekatiku.

"Toy!!", aku berteriak karena mengenali siapa sebenarnya orang yang yang bersuara berat itu.

"Ya, sayang, ini aku, Toy. Jika saja kamu mencintai aku, dan tidak malah mencintai dia, tak kan terjadi kejadian ini", suara Toy yang berat melemah.

"Aku tidak mencintai dia! Ambillah dia untukmu!!", teriak San pada Toy.

"WHAT???", aku berteriak mendengar itu.

Toy pun mendekat ke San, dan berkata,"Jangan pernah menyakiti orang yang kucintai. Dia mencintaimu, dan tak perduli pada siapa pun karenamu. Jangan pernah sakiti Err..."

Aku mulai menangis...

Toy mulai terlihat gusar. Dia berteriak pada San,"JANGAN SIA-SIAKAN CINTANYA PADAMU!!"

Suara San terdengar lantang di telingaku,"Err cuma persinggahan lelahku. Ambillah jika kamu mau, Toy".

Aku makin terisak...

Toy makin gusar, dan mendekati San. Dan oops, San memukul Toy dengan menggunakan kayu yang ada di, dekatnya. Toy mundur, San bangkit berdiri. Tali yang mengikat tangannya lepaslah sudah. Pergumulan lumayan seimbang antara San dan Toy. Tapi San tetap lebih kuat dibanding Toy. Toy pun rubuh. San mendekatikatiku, membuka ikatan tanganku, memelukku, dan berkata,"Maafkan aku, aku mencintaimu lebih dari yang kamu tahu, Err. Maafkan aku. Jangan pernah pergi dariku". Aku hanya terisak dalam pelukan San. 

Toy yang mulai sadarkan diri, bangkit, dan menubruk San. Pelukan kami terlepas. Aku terhuyung-huyung, dan terjatuh. Sebuah benda yang  tajam yang berada di lantai menusukku dari belakang. San berlari mendekatiku, menangis memelukku, dan berkata tentang cintanya padaku, tentang harapannya hidup bersamaku. Tapi kemudian San pun rubuh di atas tubuhku, entah apa yang dilakukan Toy pada San, tapi darahnya membasahi tubuhku... Aku memeluknya dengan seluruh kekuatan yang masih tersisa. "San! Aku mencintaimu...", itu ucapan terakhir yang kuucap... Dan semua menjadi samar, lalu menghitam... 

***





























Monday, 12 May 2014

error bercerita,"Misteri Dua Lukisan Wanita"

Lukisan itu ada di belakang rumah. Seperti gambar-gambar manga Jepang. Ada 2 lukisan, dan dua-duanya lukisan seorang perempuan dengan mata besar, rambut ikal bagus. Lukisan yang bagus, dan itu sudah ada sejak aku masih di Taman kanak-kanak, dulu ada di kamarku. Tapi sekarang aku harus memusnahkan lukisan itu. ke dua lukisan itu akan kubuang jauh! Ya, akan kubuang!

Awalnya aku menyukai lukisan itu. Serasa mempunyai teman. Dulu aku suka mengajaknya bicara. Tapi sekarang, aku takut...

"Lukisan itu, yang ada di belakang itu, itu milik siapa?", tanya seorang teman.

"Milikku sejak kecil", jawabku.

"Siapa dia?"

"Mana kutahu"

"Menyeramkan"

Dan cuma sampai di situ percakapan kami mengenai lukisan itu. Aku heran mengapa temanku itu takut pada lukisan cantik. Hingga satu saat, aku mendengar suara memanggilku,"Errrr". Lembut dan riang. Suara yang tak aneh sebenarnya karena aku sering mendengar, tapi aku tak pernah perdulikan. Hmm, sejak kecil memang sering mendengar suara ini, tapi aku takpernah perduli. Mau tau kenapa? Itu bukan suara mama, bukan suara papa, bukan pula suara temanku. Aku tak mengenal suara siapa itu. Jadi aku bersikap tak perduli. Tapi pada malam itu aku benar-benar merasa takut.

"Errrrr..., Errrr... Ini aku, teman kecilmu..."

Merinding seluruh tubuhku. Suara itu...

"Errrr... Errr... Ini aku aku, teman kecilmu... Jangan menolak kehadiranku dalam hidupmu, Errr...", suara itu terdengar lagi.

Aku benar-benar merasa takut! Tapi sungguh, kakiku terasa berat, tak bisa melangkah. Dan kepalaku serasa otomatis menengok ke belakang. Oh! Dua orang wanita cantik berdiri di belakangku! Rasanya aku mengenalnya... Lukisan itu! Lukisan itu! Dua lukisan wanita cantik itu kosong, hanya kanvas putih yang terlihat. Aku gemetar. Dua wanita itu tersenyum, dan mengulurkan 2 tangan mereka padaku seperti hendak memelukku. Tidak! Aku mundur perlahan, kakiku berat, amat beraaat...!

"Siapa kamu?", tanyaku setelah mengumpulkan energi sebanyak-banyaknya.

"Aku, Ni", ujar wanita dengan rambut keriting.

"Aku, Ta", ujar wanita dengan rambbut ebih panjang.

"Lupakah kamu? Dulu kita bersahabat", ujar Ni.

Aku menggelengkan kepala kuat-kuta. Tidak! Aku tidak pernah berteman dengan mereka!

"Dulu kita bermain di kamar bersama. Main boneka bersama", ujar mereka berdua hampir bersamaan.

Aku memegang kepalaku yang terasa berputar. Pusing rasanya.

"Errrr... Errrr...", suara itu memanggilku lagi...

Lalu aku berteriak,"TIDAAAAk...!!!"

"Ada apa, Err?", suara Mama mengejutkanku.

Aku membuka mata, dan kulihat aku dikelilingi oleh Mama, Papa, dan kakakku. Ada apakah? Mengapa mereka mengelilingiku? Lalu saat aku hendak menjawab, mereka menghilang! Argh! Ada apakah ini? Aku mengumpullkan segenap tenaga, lalu berlari secepat kilat menuju luar.

Sejak saat itu aku tak lagi menyukai lukisan wanita cantik yang ada di belakang rumah. Mengerikan! Aku harus membuangnya, ya harus!

Satu hari aku hendak membuang lukisan itu ke sebuah pembuangan sampah, dan ternyata lukisan itu kembali ke rumah, dan terpasang di dinding seperti sediakala!

Sekarang aku akan membakar lukisan tersebut! Dengan geram kubawa lukisan itu ke luar rumah. Bensin kutumpahkan ke atas kanvas lukisan. Harus musnah, harus musnah! Dengan cepat kukeluarkan korek api dari saku celanaku. Jress!!!

"AAAAAARRRGGHHH...!!!"

Lalu kulihat Mama, Papa, kakakku, dan bibi di rumah keluar, dan berteriak,"EEERRRR...!!! APA YANG kAU LAkUkAN?/ ERRR!!! ERRRRR...!!!". Terasa air membasahi tubuhku, tapi tetap panas terasa membakar tubuh. Dan dua wanita cantik itu tertawa mengajakku bernyanyi bersama, dan berkata,"Errr..., Errrr..., akhirnya kamu bisa tinggal bersama kami...". Sebelum aku merasa tak berdaya lagi, kulihat 2 lukisan itu masih tetap ada, dan utuh tanpa api membakarnya sedikit pun, sedangkan tubuhku terbakar dan hangus...

***









error bercerita,"Hai, aku Err... Jangan takut"

Hai, namaku Err. Aku baru pindah ke sini. Di sini dingin, tidak seperti tempat tinggalku sebelumnya. Di sini ramai, tapi suasananya terasa sepi. Jauh berbeda dengan tempat tinggalku dulu.

"Owh hai, kun...!!", seruku pada seorang teman yang tinggal di seberangku. Tapi seperti biasa, dia cuma tertawa mengikik. Teman yang aneh.

"Gen!! Mau kemana?", aku berseru ramah pada seorang teman yang lewat, tapi dia cuek saja, sama sekali tidak memperdulikanku.

Tempat ini aneh, tapi aku berusaha beradaptasi dengan suasana yang ada. Di sini, suasana malam pun berbeda. Banyak anak kecil berkeliaran, berlari-lari, bermain. Orangtua macam apa yang mengijinkan anaknya masih bermain di malam hari? Seharusnya mereka beristirahat, tenang di rumah, berada di tempat yang hangat, bukan malah bermain di luar rumah, berlari-lari, dan berteriak-teriak. Dan masih banyak lagi mereka yang riwa-riwi di luar rumah. Tertawa-tawa, dan ada juga yang hanya diam di luar rumah. Gelap, keadaan gelap, tapi tetap tak berpengaruh di sini. Aku beradaptasi...

"Hai, kamu siapa?", suara lembut menyapaku.

"Mbah? Mbah tinggal di mana?", tanyaku.

"Di sana, tapi di rumah sedang sibuk ada pengajian. Mbah keluar saja. Nanti kalau sudah selesai, Mbah masuk lagi", jawabnya.

Berbincang dengan mbah yang tak kuketahui namanya, ternyata amat menyenangkan. Teman pertamaku! Mbah yang baik. Dia bercerita tentang anak-anaknya yang sibuk, dan tak sempat bertandang ke rumahnya, hingga si Mbah digusur, dan sekarang berada di tempat ini.

Tempat yang aneh, baru seminggu aku ada di sini, sejak aku jatuh dari jembatan layang setelah bapak tiriku memperkosaku... Tempat yang aneh... Dan kulihat kun berada di sana, di seberang pohon tempat tinggalku, di puncak tertinggi pohon mangga sambil tertawa, "Hihihihihi....!", dan aku hanya diam...

Hai, jangan takuuuut, aku cuma Err, yang diam, tak dapat kau sentuh...

****










error bercerita,"In"

"kamu?"

"Ya, mbak"

"Aku akan melapor ke polisi, In"

"Ya, aku juga akan melaporkan pada polisi, mbak"

Aku mengeluarkan ponsel dari kantong jeans kumalku, tapi ufh, mengapa di waktu seperti ini sinyal yang biasanya bagus, malah mendadak jelek. Aku mencoba dan mencoba terus.

"Dia kakakku, mbak. Namanya Mata. Tapi matanya tidak cukup awas terhadap kehidupan. Mata hanya menilhat harta benda, bukan melihat pada keindahan anugerah. Dulu sekali kehidupan kami amat bagus. Rumah kami amatlah besar, dengan halaman yang besar. Mobil berjejer di carport dan ada yang di halaman. Sopir pun selalu siap sedia mengantar jemput kami. Sama sekali tidak berkekurangan. Semua aman, tentram, dan damai", In bercerita sambil matanya menerawang kosong, sedangkan aku masih sibuk mencoba menelepon. Argh, kemana sinyal yang menurut iklan selalu bagus? Pengiklan memang selalu saja pandai menarik konsumen untuk mempercayainya.

"Dia satu-satunya saudaraku. Hanya dia, karena kami dua bersaudara. Dulu kami dimanja. Mata, mama amat menyayanginya. Mama amat memanja Mata. Tapi ternyata cara pengasuhan seperti itu tidak membuat Mata jadi seorang lelaki yang tegar. Mata jadi seorang lelaki yang amat manja. Apa pun yang dimintanya, mama pasti membelikan. Seringkali Mata mendapat barang-barang bagus dari mama, dan banyak uang. Rekeningnya di bank ratusan juta, mbak. Aku tidak, mbak. Tapi aku tidak perduli akan hal itu. Aku dimanja dengan banyak buku, aku dimanja dengan penuhnya jadwal les. Gaya hidupku dan gaya hidup Mata amat berbeda. Mata hanya sibuk pergi ke sana dan ke sini, menghamburkan uang yang ada. Aku sibuk berkutat dengan buku-buku bagus yang kubeli, dan dibelikan oleh papa. Rumah kami dulu amat besar, dan kamarku adalah kamar terbesar. Penuh dengan buku di rak-rak yang besar, poster-poster orang hebat yang menjadi idolaku. Dalam lemari, penuh dengan boneka yang selalu dibelikan, tanpa pernah kuminta. Aku menikmati itu semua dengan kebahagiaan yang amat sangat. Teman-temanku banyak yang iri melihat kamarku. Berbeda sekali bukan, gaya hidupku dan gaya hidupnya? Banyak teman-teman Mata yang iri padanya, tapi mereka iri karena Mata mempunyai banyak uang. Gadis-gadis berebut ingin menjadi kekasihnya. Mata bagai mesin ATM. Semua temannya tunduk padanya, dan semua karena uang", lanjut In, dan matanya masih kosong, sama seperti sinyal di ponselku, kosong.

"Aku keluar dulu, In", kataku pada In.

"Tidak. Dengar dulu ceritaku. Simak baik-baik. Aku butuh seorang sahabat yang mau mendengarkan kisah hidupku. Jangan pergi", jawabnya padaku.

Aku menurut, tapi tetap berdiri. Aku mendengarkan ceritanya dengan agak gelisah.

"Hingga akhirnya papa bangkrut. Rumah kami dijual, dan kami tinggal di rumah yang lebih kecil di luar kota. Mobil-mobil juga turut dijual. Tak ada lagi rumah besar dan mobil yang banyak. Tak ada lagi pembantu yang melayani kami di rumah, dan tak ada sopir. Pembantu tak dibutuhkan lagi. Rumah kami kecil. Sebelumnya aku tak pernah bertemu Mata, walau pun sama-sama ada di rumah. Rumah itu amat besar. Sedangkan sewaktu pindah, aku jarang bertemu Mata, karena Mata jarang di rumah. Meski pun keadaan keuangan sudah berubah, Mata tetaplah Mata. Tidak berubah. Dia tetap meminta uang pada mama dan papa. Uang dalam jumlah yang banyak! Papa cuma diam, mama menangis. Mata sering marah-marah pada mama dan papa. Tapi dia tidak pernah marah padaku, karena kami memang sejak lama tidak pernah bertegur sapa. Mungkin menurutnya, aku tidak pernah ada dalam hidupnya, mbak. Aku sering melihat mama menangis, dan berkata bahwa mama dan papa memang orangtua yang tidak berguna, karena tidak bisa memenuhi permintaan anak. Papa cuma diam, tidak berkata sepatah kata pun. Aku bukan seorang yang banyak bicara. Ternyata keadaan ekonomi semakin memburuk. Rumah kami terakhir, ini rumah terakhir kami. Rumah yang sempit, bocor, banjir, dan langit-langitnya jebol di sana-sini. Bukan hal yang buruk untukku. Semua ini kuhadapi dan kujalani dengan senyum. Aku bekerja sebagai penulis lepas. Uangku untuk membantu perekonomian keluarga ini. Lalu mama stroke, lumpuh. Papa kanker, dan akhirnya papa meninggal setelah melalui sejumlah cara medis. Mama masih berduka, tapi Mata tidak perduli. Mata datang meminta uang pada mama. Mama menangis, Mata marah-marah, dan aku diam. Airmata mama semakin deras mengalir, dan Mata semakin keras membentak mama. Aku tetap diam, karena aku memang pendiam. Lebih baik bertindak dibanding hanya bicara. Untuk apa bicara banyak pada orang dungu seperti Mata? Aku berkata pada mama, satu saat nanti aku akan habisi Mata. Mama hanya memandangku. Tadi Mata datang, dan marah-marah lagi, membentak mama yang tidak berdaya. Aku ambil pisau yang memang sudah kusiapkan lama. Saat Mata sedang membentak mama, kuarahkan pisauku ke perutnya, lalu kutusuk berulangkali hingga Mata ambruk ke lantai. Mama menangis, lalu kuberikan minum yang sudah kuberi racun. Aku tak mau jika aku dipenjara, mama yang lumpuh tak ada yang menjaga. Tak lama kemudian mama pun berpulang menyusul Mata, putra kesayangannya. Dan aku diam di sini. Lalu mbak datang, karena hendak memberi makanan pada k
ami seperti biasanya. Mbak amat baik pada kami. Aku hendak melapor pada polisi, mbak. Tapi ternyata aku merasa ini tidak adil jika aku dipenjara. Mata yang seharusnya dihukum, bukan aku...", suaranya makin lirih terdengar. Lalu kulihat dia bangkit dari kursi, menendang tubuh Mata yang kaku dan berlumuran darah, lalu berjalan ke arah kamar, mengintip mamanya yang juga kaku dengan mulut berbusa, kemudian menuju meja dekatku, mengambil gelas yang ada di sana, lalu minum. Aku memperhatikannya dengan seksama. Lalu kulihat dengan cepat diambilnya pisau yang ada di meja, diirisnya nadi pergelangan tangannya. In!

"Jangan marah padaku, mbak. Jangan sedih. Ini jalanku, tadi pun aku sudah meminum air berisi racun. Tolong mbak, lapor polisi. Jasad mama harus segera dikebumikan...", ujarnya sambil menangis, lalu melemah, dan In tak ada lagi...

In seorang gadis muda yang baik. Aku mengenalnya setahun lalu. Dia pekerja keras. Sejak pagi hingga malam, dia bekerja untuk keluarga. Pendiam, dan selalu tersenyum. In, gadis cantik yang baik. Tapi ini jalan yang dipilihnya. Membunuh karena cintanya pada orangtuanya. In yang baik memberontak, dan ini pemberontakkannya. In, ah... Dan sinyal ponsel pun penuh, saatnya melapor pada polisi...

****









Tuesday, 6 May 2014

error,"di manakah kamu?"

mencoba menghitung bintang
mencarimu di antara butiran kenang
yang ada 

hanya 
udara yang hening

di manakah kamu?

dan

saat menengok hati
ada sebaris nama
ya,
namamu...

tapi

di manakah kamu?

dan

bintang-bintang pun lenyap
ditelan air hujan
yang turun

dan

bintang-bintang pun musnah
digempur
sang guntur

dan

aku masih bertanya

di manakah kamu??

-error dalam diam-



















error,"GUSTI, jangan pergi"

GUSTI,
aku datang lagi
dalam suara yang hening
cuma telingaMU yang mendengar
teriakan yang sepi

GUSTI,
lenguhan lelah
rintihan semangat
menari di sudut senyum
dan cuma mataMU yang melihat
ada tangis di tawa

dan

GUSTI,
ijinkan kupejam mata sejenak ya...
tapi
kumohon
jangan pergi...
tetaplah di sini...

-error-

Friday, 2 May 2014

error,"GUSTI, selamat pagi..."

GUSTI, 
selamat pagi...
ooops, aku harus membuka pintu dulu...
bersediakah menanti, GUSTI?

GUSTI,
udara ini segar!
masuk dalam tubuhku dan menyegarkanku
betapa HEBATNYA GUSTI...
dan gratis pula...!
MAkASIH ya GUSTI...

GUSTI,
malam tadi tidurku nyenyak
nyenyamuk yang bersuara layaknya sirine,
ditelan malam,
dan hening...
betapa HEBATNYA GUSTI...
sanggup menghentikan nyamuk yang usil menjarah...
MAkASIH ya GUSTI...

GUSTI,
aku terlalu cengeng hadapi dah jalani hidup, ya?
padahal bahagiaMU selalu ada
di setiap denyut nadi
di detak jantung
di helaan nafas
ah,
ampuni aku ya...
masih saja terkadang mengalir airmata
dan duduk terpaku
tak bergerak
padahal
sang waktu menunjukkan banyaknya anugerahMU

GUSTI,
aku mau masak dulu
masih tetap menemaniku kan?
jangan pergi ya
ada banyak cerita
seperti biasa untukMU...

dan dalam hati
ada suara
"amin"

-error, pagi hari sebelum masak untuk kasapink-









Thursday, 1 May 2014

error,"GUSTI, amin..."

dan saat ini, GUSTI
aku duduk di atas kasur tipis
tanpa kopi pahit
tapi ada senyum tipis
di garis wajah yang dipahat takdir

GUSTI,
tadi aku berpacu dengan asap knalpot
menuju riuh rendah suara
airmata tangis
dan sepi
akan senyuman
pedagang mainan ada di luar
minuman ada digelar
dan aku duduk tenang bersamanya
berdua,
berbincang,
berbagi senyum,
yang sering dilupakan banyak orang di tempat ini

GUSTI,
tadi dalam tasku berjejal banyak benda kecil
berwarna-warni
yang jadi miliknya
dan wajib untuknya

ah,
ini arah menuju menjadi baik
semoga, doaku tadi dalam hati
GUSTI mendengarkah tadi?

GUSTI,
di rumah
satu per satu
benda mungil berwarna-warni
masuk menyatu dalam aliran darah,
dan aku melihat dia tetap tersenyum
walau ada lelah di sudut matanya

ah,
lelah itu pasti dilahap oleh bahagia
itu doaku juga tadi
GUSTI, mendengarnya juga kan?

GUSTI,
tanpa kopi
tanpa teman
aku tersenyum
karena
kasihMU selalu mendekap
dan terlihat nyata
dari tidurnya yang lelap

GUSTI,
selagi tiga nyawa kecilku tenang dalam mimpi
aku mau berdoa lagi
tetaplah ada di sini
dengar doaku,
jangan pergi...

"sehat pulih ya cintanya mama..."

GUSTI,
dan kudengar malaikat serempak menjawab,
"Amin..."

-error, duduk diam-