Tuesday, 19 August 2014

error: Cerita, cerita, cerita tentang razia motor

Sekarang gue kalau berangkat ke tempat kerja, gue berangkat lebih pagi. Ga pagi-pagi banget sih.., tapi ga sesiang biasanya. Bagi kantor tempat gue bekerja, kedatangan gue yang pagi-pagi ini adalah anugerah, walau manajemen ga tahu apa alasan gue berangkat lebih pagi dari sebelumnya.

Nah sekarang gue mau cerita kenapa gue berangkat lebih pagi akhir-akhir ini. Kalau kenapa gue berangkat selalu siang ke kantor, ga perlu gue ceritakan di sini yaaaa.. :D

Sebelumnya, perjalanan dari Bekasi ke kantor tuh tanpa gangguan apa pun di perjalanan. Gangguan? What? Diganggu apa sih si cewek ini? Hah? Ceweeek?? Hahaha, oke, kembali ke jalur cerita yah... Gue memang cewek. Oops, ya memang gue cewek, halaah, malah nambah melenceng dari cerita. Gini, gangguan yang dimaksud tuh adanya razia untuk pengendara motor yang melintas. Oke, oke, biasa aja sih tentang razia-razia itu. Toh semua surat-surat yang menyangkut motor dan SIM C sih lengkap. Cuma akhirnya gue kasih label itu sebagai gangguan karena perjalanan gue jadi terhambat. Waah, ga mau ikut tertib lalulintas ya? Ga mau ditertibkan ya? Bukaaan, bukan! Weh, dengan gaya sok tegas, gue menjawab bahwa gue merasa terganggu dengan razia-razia itu bukan karena gue ga mau ikut penertiban lalulintas untuk pengendara motor, tapi ada sedikit 'iri' pada pengendara mobil. Hah?? Iri? Ngiri karena mereka memiliki mobil sementara diri sendiri ga memiliki mobil, gitu? Waaah, bukaaan!! Bukan itu juga. Tapi iri karena kok hampir setiap hari pengenadara motor dirazia oleh petugas, berkenaan dengan surat-surat STNK dan SIM, kecuali kalau memang jelas terlihat ga menggunakan helm dan ga menyalakan lampu depan loh ya, itu sih jelas banget boleh deh dirazia. Tapi ga tuh, kalau pas ada yang ga menggunakan helm, ya ga ada razia. Mbok ya, yang dirazia tuh mereka yang jelas ga patuh, ga tertib lalulintas.

Ngomong-ngomong tentang tertib berkendara berlalulintas, bukan hanya pengendara motor saja kan yang wajib tertib berkendara berlalulintas? Itu looh, yang bermobil itu memangnya sudah benar-benar tertibkah? Surat-surat mereka sudah benar-benar lengkapkah? Gue sering membaca berita tentang kecelakaan mobil. Ada yang di bawah pengaruh alkohol, ada yang ga memiliki SIM.

Gue ingat tentang masa lalu..., cieee cieeee masa laluuuuuu... Eeeeh, ini beneran masa lalu, masa kecil gue...
Gue 2 bersaudara, dan ehm.., gue anak bungsu dan paling cantik. Kedip-kediiip, kediiip..! Ya iyalah gue paling cantik, karena kakak gue laki-laki :D . Nah, masa lalu yang berhubungan ini tuh ya tentang kakak gue satu-satunya ituuuu... Puluhan tahun yang lalu, saat kakak gue kelas 5 SD, usia kira-kira 11 tahun, kakak gue sudah biasa mengendarai mobil sendiri. Seringkali ada petugas melihat sopir yang mengendarai itu masih kecil, duduk pun diganjal. Tapi petugas cuek saja, malah tersenyum, bahkan tertawa ke kakak gue juga ke gue yang duduk di samping kakak gue. Waktu pun berlalu, kakak gue SMP kelas 2, kira-kira usia 14 tahun, kakak gue mengantongi SIM A! Itu cerita masa lalu yang gue mau ceritakan.

Lalu apakah sekarang tertib lalulintas dan tertib berkendara untuk pengendara mobil sudah bagus dibanding dulu? Apakah pengendara mobil ga perlu dirazia untuk kelengkapan surat-suratnya dan apakah mereka tertib? Dan apakah memang cukup 'hanya' memiliki kelengkapan surat-surat saja? Masih teringat pengendara mobil yang masih di bawah umur, yang tentunya belum memiliki SIM, lalu menabrak, dan menewaskan beberapa orang, juga masih ingat juga pengendara mobil yang menabrak karena dia di bawah pengaruh alkohol. Sopir-sopir angkutan umum juga, apakah mereka sudah tertib berkendara, dan sudah tertib berlalulintas? Jawabannya, hmmm.., ya silakan jawab sendiri saja deh... Eh, gue punya pengalaman istimewa loh sewaktu dirazia petugas saat perjalanan ke kantor. Istimewanya gimana? Ya lain waktu deh gue cerita lagi tentang perlakuan istimewa yang ga akan terlupakan seumur hidup gue... Penasaran? Hehehe, nantikan saja di cerita yang akan datang...! Jreng jreng jreeeeng... (norak banget gue :D)

Kembali lagi ke razia pengendara motor, hmm.., kenapa ya hampir setiap hari ada razia dari petugas? Apakah memang hanya pengendara motor saja yang harus tertib berkendara dan berlalulintas? Lagi-lagi gue cuma bisa nyengir, tapi tetap manis :D. Jadi, sudah tahu kan kenapa gue sekarang berangkat ke tempat kerja lebih pagi dibanding sebelumnya? Bukan karena gue karyawan teladan, tapi karena menghindari razia pengendara motor yang hampir setiap hari ada di saat mulai agak siang...

Salam senyum,
error



















error: malam yang aku cinta memang selalu kelam

aku mencintai malam karena malam begitu sempurna menyimpan rahasia, menutup kelam dengan hitam yang dia punya
air sungai yang pekat menghampar, dipeluknya erat dalam gelap tanpa suara
aku melihatmu duduk di tanah tanpa kawan, entah sedang berpikir tentang apa
jangankan bisa mengetahui khayalanmu, sedangkan bayanganmu saja tak nampak karena malam tanpa rembulan membungkusmu rapi
aku selalu mencintai malam yang selalu gelap, walau terkadang ada titik pendar cahaya berkerlip
hitung, hitung ada berapa cahaya lampu mengedip!
sejalan aku menghitung, sepenyesalan aku terdiam
aku mencintai malam karena gelapnya menutup tabir hidupku
jadi untuk apa menghitung cahaya-cahaya kecil?
aku mencintai malam lengkap dengan misteri kelamnya yang menenangkan kisah-kisah hari yang riuh hiruk pikuk teriakan caci
jangan suruh aku menghitung pendaran lampu genitmu
aku hanya ingin duduk di seberangmu, beralas tanah, sama sepertimu tanpa teman, dan tanpa seorang pun bisa menebak apa yang sedang kupikirkan
aku mencintai malam, jauh lebih dalam dibanding waktu yang telah silam

# error, 18 Agustus 2014, hi: istirahat sebelum sibuk mengedit lagi...


error: Anakku Lanang

"Mak aku makan ya? Lapar".

"Ya, sebentar, Mak sedang menghangatkan soto ayam kesukaanmu, cinta", ujarku pada anakku. Panci berisi soto masih berada di atas kompor, belum panas.

Pagi-pagi seperti biasanya ada kesibukan yang rutin di dapur rumah ini. Memasak, atau bisa jadi hanya menghangatkan masakan saja untuk seluruh anggota keluarga ini. Tiga anakku, dan ibuku. Aku sendiri hanya larut dalam kesibukan, tapi enggan untuk sarapan.

"Mak, aku pergi dulu sebentar. Lumayan aku jadi bisa mendapat selembar uang jajan untuk di sekolah nanti, Mak".

"Hati-hati, jangan ngebut".

"Tenang saja, Mak. Aku berhati-hati kok. Pesan Mak selalu aku ingat", ujarnya sambil tertawa.

Ah, anakku yang satu ini memang selalu berkata begitu. Padahal setiap kali pula aku tahu bagaimana ngebutnya dia mengendarai motor. Anakku yang lain sering berkata padaku,"Mak, nasehati dia, Mak. Selalu saja dia ngebut mengendarai motornya". Biasanya aku cuma tersenyum menanggapinya.

Lima belas menit berlalu, anakku datang dengan senyumnya yang khas. Diambilnya nasi, dimasukkan dalam piring, lalu disiramkannya soto. Lahap anakku makan.

"Mak, aku berangkat", lalu diciumnya punggung tangan kananku, sambil tetap tersenyum. Aku membalas mencium punggung tangannya, sebagai tanda aku pun menghormatinya, juga mencintainya. Semakin lama semakin mengecil bayang anakku di ujung jalan, lalu menghilang. Menuju sekolah dengan senyum yang memang selalu ada di bibirnya.

Anakku lanang, anakku yang baik. Tak mengeluh walau pun hanya bisa sarapan dengan nasi dan kuah soto tanpa isi, dan masih tetap tersenyum walau harus mengojek untuk seorang teman di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, agar bisa memiliki uang saku, dan berusaha tak membebaniku. Anakku lanang, semoga senyummu selalu hiasi hatimu dalam seluruh perjalanan hidupmu...

Tak terasa pagi beranjak garang dengan sinarnya. Ada kesibukan lain yang menanti diselesaikan olehku...


Salam Senyum,
error





Wednesday, 13 August 2014

error: perempuan bungsu dan emak

"Mak, aku datang".

"Siapa kamu?".

"Aku anak perempuan bungsumu, Mak".

"Anakku cuma 1, dan dia seorang lelaki tampan".

"Mak, aku perempuan bungsumu".

"Anakku cuma 1, dan dia lelaki gagah".

"Mak, aku perempuan tunggalmu".

"Anakku cuma 1, dan dia bukan seorang perempuan".

"Mak, aku datang tanpa pernah pergi, aku ada tanpa pernah menghilang, aku di sini dan tak akan pernah meninggalkan".

"Anakku lelaki, dia pergi dan datang, dia pergi, dan pergi, lalu datang, dan pergi lagi, datang lagi".

"Aku perempuanmu, Mak, tak pernah ingin membuatmu menangis".

"Anakku lelaki dalam airmataku, dan membanjiriku dengan airmatanya".

"Mak, aku perempuan bungsumu, yang ingin selalu mendekap dan ada dalam dekapmu".

"Anakku lelaki, cuma 1, dan tak hendak mendekap, apalagi didekap".

"Mak, aku rindu".


"Anakku lelaki tanpa kerinduan, dan anakku lelaki, cuma 1".

Perempuan bungsu diam, mendekap rindunya sendiri, menghapus airmatanya sendiri...
Emak tertawa dalam ruang berdinding empat, bersama anak lelakinya yang cuma 1...
Perempuan bungsu terkapar di bawah impian tentang lembut kasih emaknya
Perempuan bungsu, perempuan bungsu, jangan benci emakmu, emak pasti tahu tentang kerinduanmu, emak tahu pedihmu dan ingin memelukmu, tapi emak punya anak lelaki cuma 1, dan memang selalu cuma 1
Perempuan bungsu, perempuan bungsu, simpanlah rindumu, emak pasti memetik rindumu, dan mendekapmu
 saat anak lelaki cuma 1 melepas seluruh isi saku emakdan memindahkan dalam pundi-pundinya sendiri
Perempuan bungsu, perempuan bungsu, jangan jadi tangis, emak tetap emak, walau anak lelakinya yang cuma 1 yang selalu ada dalam hati sang emak


# error, 13agust14, hi: emak

Tuesday, 12 August 2014

error: Mak, aku lapar

Mak, aku lapar senyummu
Mak, aku lapar tawamu
Mak, aku lapar kasihmu
Mak, aku lapar cintamu
Mak, aku lapar menyandar di pangkuanmu
Mak, aku lapar isi waktu bersamamu
Mak, ah, Mak...

# error, 12ags14, hi: emak, aku lapar emak

error: airmata untuk Emak

airmataku akan menjadi samudera jika saja seluruh tetesannya bisa membahagiakanmu, Mak...
aku akan menangis untukmu tanpa jeda, jika itu bisa membawamu ke kebahagiaan tanpa batas, Mak...
airmata ini untukmu, Mak...

# error, 12ags14, hi: emak

error: aku memanggilmu,"Mak!"

aku memanggilmu,"Mak!", tapi suaraku ditelan dengungan lebah yang selalu menyengat
aku memanggilmu,"Mak!", tapi kau tepis suaraku dengan nyanyian tipu manis merayu
aku memanggilmu,"Mak!", tapi tanganmu menebas seluruh rinduku
aku memanggilmu,"Mak!", tapi kau tak lagi mendengarnya, karena suaraku ditelan oleh cintaku sendiri padamu,"Mak!"

# error, 12 ags 14, hi: emak!

error,"Emak"

Emak pergi tak menoleh pada anaknya yang luka. Anak menangis tanpa suara, tanpa airmata. Berharap Emak menoleh walau hanya sepersejuta detik.


Emak pergi menoreh tangis sayatan hati anaknya, melangkah menjauh. Anak diam, tak berkata apa pun, tak tahu mengapa emak berlalu, gandeng anaknya yang lain, tanpa menoleh padanya.


Emak tetaplah Emak. Emak tak pernah tahu, Emak tetap di hati...


Emak, kapan kembali?


# error, 12 agustus 2014, hi

Sunday, 3 August 2014

error bercerita,"Ayam goreng jatuh dari langit".

Beras tak lagi bersisa, tempat nasi kosong. Tiga anak yang masih kecil harus makan.

"Berasnya habis", ujar Esa.

"Nasinya juga habis", ujar Ngka.

"Mama, ga usah makan juga ga apa-apa kok", ujar Pink.

Aku tersenyum mendengar 3 nyawa kecil berkata tentang keadaan hari ini. Aku tersenyum, lalu menjawab,"Habis? Beli lagi. Hari ini kita makan, ga ada yang ga makan".

"Mamaaaa, Esa nemu uang di kolong tempat tidur, cepek!", Esa berteriak, lalu menyerahkan uang dari tangannya untukku sambil tertawa riang. Disambut tawa dan sorak Ngka juga Pink. Aku pun ikut tertawa. Lalu yang terjadi sesudah itu adalah semua anak mencari uang dari seluruh sudut rumah.

"Mama, yuk dihitung sudah ada berapa sekarang", Ngka, Esa, dan Pink, hampir serempak berseru padaku.

"Horeee, bisa beli beras! Esa beli ya Ma, Esa ke warung dulu", kata Esa padaku.

Esa berangkat ke warung untuk membeli beras 1 liter. Uang yang ada memang hanya cukup untuk membeli beras 1 liter, dan beras termurah. Esa tahu mana warung yang menjual barang dagangan lebih murah dibanding yang lain. Setelah Esa pulang dari warung, aku langsung memasak nasi.

"Nasinya matang, Mama", Pink memeberitahuku.

"Yuk makan", kataku pada 3 nyawa kecilku.

Piring kusiapkan, Ngka, Esa, Pink, duduk di karpet, tenang menungguku.

"Ngka", panggilku. Ngka pun datang, dan mengambil piring berisi nasi, lalu duduk kembali dengan tenang.

"Esa", panggilku, dan Esa berlari menuju ke arahku sambil tertawa, mengambil piring berisi nasi, duduk di sebelah Ngka.

"Pink", dan Pink dengan wajah ceria mendekatiku, mengambil piringnya yang berisi nasi, lalu berkata,"Mama juga harus makan". Menungguku mengambil nasi untukku, lalu bersama denganku, Pink kembali duduk di karpet.

Semua tertawa, menunggu makan bersama. Lauk? Jangan tanya apa lauk yang aku hidangkan untuk kami saat itu. Cuma ada garam, tapi itu cukup bagi kami. Memiliki nasi rasanya sudah lebih dari cukup, bersyukur bisa makan hari ini. Bukankah sudah seharusnya mensyukuri apa pun yang ada? Bukan harus mengada-ada, tapi syukuri yang ada. Makan hari itu bermenu garam. Tapi keceriaan yang ada, tak pernah habis.

"Eh, enak nih kalau kita gangguin tukang ayam goreng", ujarku. "Naik motor, gangguin aja. Terus tukangnya jengkel, kita dilempar ayam!"

"Asyiiik!!!", tiga nyawa kecil hampir berbarengan bersorak, sambil terus makan nasi garam dengan lahap.

"Ma, gangguin tukang gorengan! Nanti dilempar tahu!", seru Esa.

"Ma, dilempar tempe!", seru Ngka.

"Ma, dilempar bakwan", seru Pink.

Hahaha, kami tertawa bersama.

"Jangan gangguin tukang baso! Nanti disiram kuah panas!", ujarku, lalu tawa makin meriah.

Aku memandang mereka, nyawa-nyawa kecil, kekasih jiwa tercinta, yang selalu penuh senyum dan tawa, tak pernah mengeluh sedikit pun. Mereka selalu mau mengerti kondisi yang kami jalani. Lalu aku mengangkat tangan kananku ke atas, sambil berkata lirih,"GUSTI, mau dong ayam goreng". Ngka, Esa, Pink, mengangkat kepala mereka, memandang tanganku yang kuangkat ke atas. Lalu terkejut saat kujatuhkan tanganku ke karpet,"Ini dia ayam gorengnyaaaaa". Hahaha, kami tertawa terbahak-bahak.

Hari itu nasi pun habis, aku bahagia sekaligus sedikit bingung, bagaimana sesudah hari ini, mau makan apa? Tapi lalu khawatirku kuhapus, aku percaya GUSTI tak pernah meninggalkan kami. Buktinya, bertahun telah berlalu, dan kami baik-baik saja karena GUSTI selalu ada mendampingi...


Salam Senyum,
error











Saturday, 2 August 2014

error,"Bap dan gue".

Ga tahu kenapa, tiba-tiba gue teringat tentang masa lalu, saat gue pertama kali pindah ke sebuah kota yang panas, dan berbahasa daerah yang gue ga bisa. Sama sekali ga bisa, cuma bisa kata-kata umum, seperti ora, sopo, piye, iso. Ya, gue pindah ke Semarang, ibukota Jawa Tengah, karena Bapak pindah tugas ke sana. Awalnya sih hanya Bapak yang pindah, dan setiap Sabtu, Bapak pulang ke Jakarta, lalu kembali ke Semarang di hari Minggu. Semua baik-baik-baik saja. What? Baik-baik saja? Ga! Gue sakit setiap kali Bapak ada di Semarang, dan sehat kalau Bapak pulang ke Jakarta. Menurut Mbah gue, gue sakit kangen Bapak. Jadi setiap hari kalau tidur, gue kenakan kaos Bapak yang belum dicuci. Dan ajaib, gue sehat. Ya, gue kangen Bapak...

Desember 1986, gue terima raport SMA kelas 1, semester 1, lalu cabut, pindah ke Semarang, menyusul Bapak. Gue dan Mama, pindah ke Semarang, sedangkan kakak gue yang kelas 3 SMA, tetap tinggal di Jakarta.

Barang-barang masuk truk besar, gue ga naik truk loh ya, gue, Mama, Bapak, dan kakak gue, naik bus Dwijaya. Tiba di semarang pukul 3.00 pagi! Turun di Milo, dilanjut naik beca. Brr, gila dinginnya masih bisa gue bayangin. Naik beca pertama kali di Semarang bikin gue kaget. Nyantai aja bersandar, lalu... NGUEEENG!! PUSING! Ternyata beca Semarang berbeda dengan beca Jakarta. Beca Jakarta kan modelnya datar ya, dari depan sampai belakang, ya datar, sejajar. Beca Semarang beda, bagian depan leb ih tinggi dibanding belakang, kalau penumpang mau naik, becaknya di'tumplekkin', duh apa ya bahasa Indonesianya tumplek? Dijungkirin gitu ke depan, gitu maksudnya, supaya penumpang mudah untuk naik. Daaan saat penumpang sudah naik, beca kembali ke posisi semula, duh, kembali 'jomplang' ke belakang. Lagi-lagi gue ga tau bahasa Indonesianya jomplang apa ya? Posisi kaki lebih tinggi, dibanding badan. Miriiiiing gituuu...! Hiks, seketika gue mual... Tapi cuma mual aja, ga sampai muntah.

Akhirnya sampai juga di rumah yang dimaksud, di daerah pedurungan Semarang Timur. Sepi, karena perumahan baru. Tapi ga masalah, enak sih sepi, jadi gue bisa nulis, bisa santai nikmatin lagu.

Ada satu masalah yang mengganjal sewaktu gue pindah, yaitu sekolah. Alamak, Bap belum mendaftarkan gue ke sekolah mana pun! Ya Baaaaap..., hihihi, ada senangnya juga sih, berarti ada sebentar waktu bebas tugas sekolah :D . Satu hari Bap pulang kerja membawa berita,"Bap sudah mendaftarkan Ninit di SMA sekian. Mendaftar di mana-mana susah, karena pertengahan semester, kelas 1 pula. Semua penuh".

Hari Minggu, gue diajak Bap melihat sekolah yang dimaksud. Dan baru sekali itu gue menolak Bap,"Ninit ga mau sekolah di sini. Sekolahnya jelek. Bagus sekolah lama Nit. Nit ga mau sekolahnya di sini". Ufh Bap, maafin Ninit ya, pasti saat itu Bap bingung gegara Nit menolak. Hiks, padahal gue ga pernah menolak apa pun yang disodorkan oleh orangtua, baru itu gue langsung menolak.

Tetiba gue teringat tentang kisah ini, mungkin karena ini tahun ajaran baru, dan gue kangen Bap, dan ga akan pernah lagi ketemu Bap, karena Bap sudah meninggal 9 Januari 2014 lalu. Ada banyak hal mengingatkan gue ke Bap, ada banyak cerita...

Salam senyum,
error


Friday, 1 August 2014

error,"GUSTI, hening, dan senyum"

GUSTI,
dalam senyum yang terpatri di hati,
kuucap
selamat pagi...

tanpa jalinan kata bersuara

GUSTI,
ada cerita dari sudut malam
kuyakin sudah tertulis di bukuMU
semoga
tak tersurat tentang dendam
juga
tak berteriak amarah
dan
jangan berurai airmata lelah

GUSTI,
udara damai rengkuh letupan bisu perang!
hening...
hening...
hening, ya GUSTI...

luka yang terserak
beringsut mengobati sendiri

bom waktu melaju musnahkan seluruh dengus benci
tiba-tiba
diam
berhenti
lalu
mati
sendiri

GUSTI,
hening guyur kobaran muak
hening mendekap gelegak kepalan tinju

GUSTI,
cerita di sudut malam tak pernah habis dibaca
tapi ditutup oleh waktu yang bijak berjalan
"Hei, teruslah hadapi aku, teruslah jalani, dan nikmati aku..! Jangan pernah melelah lemah, mati musnah senyum! Hei, cerita adalah cerita, menjadi kenangan sesudahnya... Ayo, longgarkan pikirmu! Hidup bukan untuk kau pikir! Hadapi aku! Jalani saja bersamaku! Nikmati yang ada! Bukan porsimu untuk berpikir! Biar GUSTI yang memutuskan yang terbaik untukmu...".

GUSTI,
cerita di sudut malam mengerling,
mengajakku bermain pisau
angkat kepalan otot
tapi
hening dalam waktu
tersenyum
lalu
senyum bersuara lirih,
"Ampuni, maafkan, sudahlah..."

GUSTI,
pagi ini oksigen bercerita padaku
ada salam dariMU...
ah
GUSTI,
selamat pagi...

tetap dalam jalinan kata tak bersuara

dan senyum mengamini damai...

# error, 26 Juli 2014, ruang tamu hi: damai itu cinta

error,"dan mati"

airmatamu
membunuhku
lagi
dan
lagi

matinya seorang aku
bukan cerita baru
ini cuma kisah basi
jilid baru sesudah hancurnya edisi lama!
tapi naskah ada di alur yang sama
aku harus mati

airmatamu membunuhku
cincang organ hidupku
tanpa sisa

tak akan kuhapus airmatamu
biar saja mengalir
hidupmu dari dukamu
hidupku
matiku
dalam bahagiaku
yang tak pernah surut

# error, 26 Juli 14

GUSTI, ada cerita di sarapan Lebaran...

nada senyum pagi ini...
melarutkan cemas, masuk dalam tenangnya cinta...
selagu tawa jadi tembang sukacita
berbaur dengan sepiring sarapan Lebaran
cintaku berkata,"Mamaaaa, Pink pelit ga mau berbagiii..!!".
sebuah protes kukira berteriak...
di pagi damai ada protes sumbang bersuara
tapi ternyata protes berbalas nada lirih putus asa...
"Mamaaaa, masa Pink mesti berbagi sama laler siiih??".
ah,
damai ini ternyata tetaplah damai...
sepiring sarapan Lebaran
jadi cerita tentang cinta, sukacita, dan kasih...
GUSTI,
senyum ini tak pernah lenyap...
pasti karenaMU...

# error, 28 Juli 2014, hi: kamar bareng kasapink...

error,"sshh, ada lagi yang jatuh, sebuah rindu"


kalau kamu tahu tentang rindu yang berjatuhan, berserak, terinjak, mati, apakah kamu masih akan tetap berkeras tak perduli pada rindu yang membentang hingga memenuhi batas langit?

sebuah rindu jatuh lagi, terkapar, ah, jatuh lagi...

# error, 28 Juli 14, hi: kamar, ngantuk

error,"Pisang!"

Pisang! 

dan
Pink wajib makan pisang untuk pulihnya otot-ototnya disamping meminum obat dokter
dan
setiap hari ada pisang untuk Pink makan
dan
Pink mulai berjalan walau tertatih
dan
pisang tertawa
melambai ke arahku
yang mual karena harumnya
dan
aku pun tertawa pada pisang
"Heh pisang, gue beli untuk anak gue ya, untuk kesehatan Pink..."
dan
"Makasih, otot-otot Pink berangsur pulih"

# error, 28 Juli 14, hi

error,"Silakan datang dan pergi"

satu orang datang, satu orang pergi, lalu datang yang lain, dan pergi lagi
satu orang tertawa, lalu senyap, satu lagi tertawa, dan senyap lagi

ada yang tetap tinggal
senyum 
tergambar, menancap, dan tetap ada

yang datang, silakan saja datang
yang pergi, biar saja tak kembali

tetap tinggal
senyum
isi dan penuhi hati
tetap ada
kunci rapat, jangan pernah pergi

# error, 29 Juli 14, hi 

error,"senyum Pink"

senyum 
:Pink

asyik bermain huruf di keyboard laptop, tak perduli keyboard diam dan dingin
terus saja larut di dalam dunianya sendiri
penuh senyum

jari terus bermain lincah, dan senyum terus menggambar di hati, tak gundah, tak ragu
senyum saja, jangan berpikir
senyum saja, jangan terkontaminasi

duduk senyum dengan jari tersenyum, keyboard pun mungkin ikut tersenyum, tertular senyum

# error, 29 Juli 14, hi: Pink

error,"orang yang datang bukan yang kuharap datang"

orang yang kutunggu tak datang juga, padahal kutak berharap oleh-oleh darinya
orang yang kuharap datang tak juga datang, padahal oleh-oleh tak kuharap darinya

orang yang membawa oleh-oleh bukan orang yang kuharap datang
orang yang kuharap datang, tak juga datang
orang yang kuharap datang tanpa oleh-oleh, tetap tak datang

dan
mungkin memang tak akan pernah datang...

# error, 29 Juli 14, kamar, hi: untuk orang yang tak akan pernah datang, padahal kuharap datang

error,"Menjelang mimpi"

baiklah aku tidur, dengan membawa kenangan jadi mimpi
jangan bangunkan aku pagi nanti, tidur selewat waktu tak cukup untuk jabarkan kisah penggalan rindu
baiknya kau ambil bantal, tonton mimpi bersamaku
jangan berisik!

# error, 29 Juli 14, hi: zzz

error,"hore aku mengantuk!"

hore aku mengantuk!
jangan cerita padaku saat kubermimpi
hore aku mengantuk!
kecilkan suaramu, kulebarkan layar mimpiku 



# error, 29 Juli 14, hi: mimpi yuk 

error,"tentang"

bahasa rindumu membungkam miliaran bintang yang berbisik,"Temui aku di ujung hari, bersama bulan dalam pekatnya malam".
nada cintamu membekap warna pelangi yang meluncur bersama serangga yang mendesah,"Temani aku terbang bersayap dengan percikan kembang api dalam hati".
dan aku menggenggam impian yang berlayar bersama impimu...

# error, 30 Juli 14, hi: kangen n kantuk

aku berkeliling mencarimu sambil tak henti berdoa agar bisa bertemu denganmu!
bukan!
bukan karena rindu!
tapi justru karena cinta...
bukan!
bukan cinta kepadamu!
tapi cinta kepada sang cinta tercinta, cinta kepada semanis yang terlebih manis dari yang termanis...

(mencari pisang kepok kuning untuk pink, ternyata greget)

# error, 300714, hi


error,"nduk, ayo sehat, ayo ayo"

nduk ayo sehat
makan yang banyak, makanan sehat, minum air putih, minum obat, makan pisang, ayo ayo
jangan enggan jadi sehat
nduk ayo sehat
besok senin ke dokter lagi, kontrol kesehatan lagi, ayo ayo
nduk ayo sehat
berdoa, bersyukur, memohon, tersenyum, ayo ayo
nduk ayo sehat
ayo nduk ayo
semangat nduk, ayo ayo
ayo nduk...

# error, 31 Juli 14, hi: Pink