Wednesday, 30 December 2015

Wish List

Yes, wish list 2015 sudah dicoret semua, yang berarti sudah terpenuhi. GUSTI memang Baik banget, semua kebutuhan dipenuhiNYA. Lalu gue mulai ambil pulpen, tulis wish list untuk 2016.

Satu, dua, tiga, dan ini, dan itu, lalu ini, lalu itu, week! Ternyata panjaaang banget yang ingin dicapai! Itu yang ditulis, dan pastinya ada banyak yang ga tertulis, tapi diucap oleh hati. Eh, itu kan gue, mungkin orang lain ga sebanyak gue ya permintaannya, terlintas di otak ini.

"Duh, GUSTI, ampuni aku ya, begitu banyak permintaan, permohonanku, dan GUSTI penuhi semua. Padahal aku masih saja bandel, suka mengecewakanMU." Dalam hati berbisik.

Wish list yang panjang gue pandangi. Sebegitu panjangnya keinginan diri, tapi kenapa masih begitu pendek ketaatan padaNYA? Airmata jadi meleleh, hati mulai merasa ga enak banget ke GUSTI.

"Duh, GUSTI, malu jadinya. Tahun 2016, tetap sertai aku dan tiga anakku, ya? Dan jangan biarkan kami melangkah keluar dari CintaMU." Airmata masih menderas, sambil memandangi Ngka, Esa, dan Pink, yang saat itu tidur nyenyak.

Wish list, ya, wish list, mengingatkan gue bahwa apa yang gue capai bukan karena kekuatan gue sebagai manusia, tapi karena ada Tangan GUSTI yang selalu ada untuk kami.

"Makasih ya GUSTI."


Salam Penuh Senyum,
Nitaninit Kasapink






Saturday, 26 December 2015

Kerinduan Error

Seorang sahabat yang bertahun menjadi warna hidup, menghilang, dan mungkin ga akan kembali. Menyedihkan? Yup! Memang sedih! Seorang sahabat yang amat berarti untuk gue, menghilang. Sahabat yang memberi nama Error untuk gue!

Sesedih itukah? Ya, sesedih ini. Lagu-lagu Iwan Fals berdendang, juga lagu-lagu Naff. Itu potongan kenangan yang melempar ke masa lalu. Dan juga sekeping batu, yang diberikan untuk gue.



"Gue kangen cerita konyol yang selalu ada."

Salam,
Error




Terperangkap Gelap

"Aku ga mau lihat kamu dalam hidupku!"

Tapi dia tetap saja tersenyum manis padaku. Manis? Hmm, bisa jadi itu memang termanis yang dia miliki! Lebih tepat disebut senyum aneh sebenarnya.

"Pergilah. Aku ga mau da kamu di hari-hariku."

Senyumnya semakin manis! Ah, kenapa juga aku menyebutnya manis, padahal jelas kutahu bukan manis!

"Dengarkan aku, sebentar. Jangan berteriak. Suara dalam hatimu sudah bisa kudengar. Jangan mengusirku." Suaranya memohon, tapi seperti menghipnotis.

"Aku sudah tahu. Sejak dulu kumendengarkanmu, dan itu membuatku aneh!"

"Dengarkan aku."

"Ya."

"Biarkan kubersamamu. Aku tak kan mengganggumu. Lupakanlah yang sudah berlalu. Maafkan aku. Biarkan aku bersamamu. Aku menjagamu, aku berjanji."

"Menjaga? Aku tak butuh penjagaanmu."

"Aku butuh teman, sahabat."

"Bukan aku."

"Hanya kamu. Tak ada seorang pun mau menjadi sahabatku!" Mukanya memerah, terlihat sedang memendam amarah yang amat dalam.

"Aku juga tak mau."

"Kamu mau!"

"Tidak!"

"Cuma kamu yang mau melihat keberadaanku tanpa sorot mata takut."

"Lalu kamu pikir, aku mau berteman, bersahabat? Kamu salah!"

"Tolonglah aku. Aku bosan sendirian."

"Ada banyak temanmu."

"Mereka? Mereka siapa?"

"Mereka yang terus menerus berteriak, tertawa, dan berlagak seperti penguasa!"

"Lupakan mereka. Aku membutuhkanmu sebagai sahabat. Dengarkan ceritaku."

Akhirnya kumengalah, mendengar cerita yang menyedihkan, menyeramkan. Tawanya, tangisnya, menggema di telingaku. 

"Err, bangunlah, sadarlah, Err."

Mama! Itu suara mama! Tapi di manakah mama? Kusapu sekeliling, tak kutemukan mama. Hanya makhluk-makhluk dalam gelap yang berkeliaran.

"Err, sadarlah Err. Sudah 3 hari kamu tidur. Bangun, Err. Bangun, sadar!" Mama dan cemas suaranya masuk ke gendang telingaku. 

Kupandang sosok gelap di hadapan. Senyumnya kian lebar, asyik bercerita dengn suaranya yang menggelegar.

"Tetaplah di sini, jangan pergi. Hanya kamu teman dan sahabatku." Katanya.

Aku berusaha keluar dari gelap, tapi tak bisa, dan tetap di sini bersamanya, mendengarkan ceritanya yang menyayat sekaligus menyeramkan. Sedangkan di dunia luar sana, masih tetp kudengar suara mama berusaha membangunkanku.

"Bangun, Err. Sebulan sudah kamu tidur..."



*Nitaninit Kasapink, 26 Desember 2015 

   

Tuesday, 22 December 2015

SEBUAH BUKU PENUH PUISI: TANAH SILAM, KARYA FENDI KACHONK

Berjanji pada si Bung FENDI KACHONK untuk menulis, mengomentari buku kumpulan puisinya yang berjudul TANAH SILAM, jadi tertunda lama. Karena buku ini menarik, hingga lumayan lama juga pindah dari tangan ke tangan.

Buku yang berisi 83 puisi karya Bung Fendi (aku menyebutnya Bung. Jangan tanya kenapa, tapi rasanya kok klik aja memanggilnya Bung.) membuatku bersuara. Yup, bersuara dalam arti sebenarnya, karena kubaca puisi-puisinya dengan suara yang jelas bisa didengarkan oleh orang lain. Aku suka puisi-puisi si Bung, dan dengan suka cita mengatakan,"Hey Bung, aku salah satu penggemar puisimu!" Semoga aku ga salah dalam mencerna puisi-puisi indahmu, Bung.



Puisi ke-45, yang berjudul PEREMPUAN KECIL, mengajak untuk menikmati hidup. Hidup bukan hanya melulu tentang nikmat tanpa luka, karena luka pun adalah bagian hidup yang harus dinikmati. Tuhan selalu ada, dan menyertai.

Puisi ke-54, NYANYIAN PEREMPUANKU, melangitkanku sebagai seorang perempuan. Perempuan sebagai sosok ibu yang penuh kasih, mencintai anak-anak tanpa berharap dicintai kembali. Juga sebagai istri. Perempuan yang mampu menanam cemburu pada suami, karena kasih pada anak yang tak berbatas. Duh, ternyata cinta seorang perempuan bernama ibu bisa membuat lelaki bernama bapak menyimpan cemburu.

Puisi ke-3, INGIN PULANG, lagi-lagi menyangkut ibu. Seorang anank yang ingin kembali ke masa-masa bersama sang ibu yang selalu menentramkan dengan kidung-kidungnya, menyelimuti dengan kasih. Anak yang rindu karena doa-doa sang ibu melekat dalam jiwa, dan belaian lembutnya. Mengingatkanku akan mama. Bung, tadi aku membaca puisi ini di rumah, dan merekamnya dengan cara sederhana.

Masih ada 80 puisi lagi di dalam buku kumpulan puisi TANAH SILAM karya FENDI KACHONK, dan buktikan aja sendiri, semua puisinya bisa membuat bersuara.

Salam Puisi,
Nitaninit Kasapink


Monday, 21 December 2015

Malam Melo

Malam ini gue ga bisa tidur. Mata terus aja on, ga bisa dan ga ingin menutup. Besok Pink, ulang tahun ke-15. Putri kecil sudah remaja! Dan ini ulang tahun yang ke-9 tanpa Henk, papa mereka. Yup, Henk meninggal 3 bulan sebelum ulang tahun Pink yang ke-7 tahun. Bukan menginginkan Henk kembali ada di sini merayakan bersama.

Setiap salah satu dari Ngka, Esa, Pink, berulang tahun, setiap kali itu juga gue penuh dengan airmata. Lebay banget, ya? Ya, gue selalu melo saat menjelang ulang tahun mereka. Ada rasa bersalah karena hingga saat ini belum juga bisa memberikan hal-hal indah untuk anak-anak, untuk Ngka, Esa, dan Pink. Hanya bisa memberi senyum, dan mencintai dengan segenap kasih yang ada.

Malam ini jadi malam full melo untuk gue. Sejak tadi lagu-lagu Iwan Fals ada di telinga. Berusaha menepis segala melo, gundah, galau, yang masuk dan merajai hati. Tapi tetap aja gue berairmata. Tangan gue sibuk mengusap mata karena ga ingin menyaingi hujan yang deras.

Doa mengalir untuk Pink. Sehat, dan bahagia selalu, Nduknya mama. Maaf, tanpa kado. Tapi cinta ini selalu ada untukmu.


Salam Penuh Kasih,
Mama

Thursday, 17 December 2015

Aku Menemukan Mama Kembali

Mama dan aku

Ga terbayang sama sekali kakak kandungku menyembunyikan keberadaan mama dariku dan anak-anakku, berusaha memutus hubungan mama dengan kami, tanpa alasan. Berbulan mencari, hingga akhirnya bisa menemukan mama, pada hari ke-2 Idul Fitri yang lalu, 15 Juli 2015. 

Mama ada di kamar, di tempat tidur, karena lumpuh sejak Februari 2011, akibat stroke.

"Kenapa Nit ga dikasih tahu alamat baru ini?"

"Mama ga tahu," sambil menggeleng lemah mama menjawab.

"Nit telepon, ga diangkat sama Mas. Nit sms juga ga dijawab."

"Mama berdoa setiap hari supaya Mama bisa ketemu Ninit."

Itu sepenggal percakapan dengan mama.

Sebelum pulang, kuucap,"Nit sayang Mama." Lalu kami kembali berpelukan.

Aku percaya kasih Tuhan yang mempertemukan kami kembali.
























Thursday, 10 December 2015

Hantu Happy

"Kamu iseng banget sih, pensil dimasukkin ke binder clip gini," kataku pada Ngka, anak sulung yang sejak beberapa bulan lalu ikutan kerja di kantor.

"Ga, bukan Ngka." Jawabnya dengan muka serius sedikit manyun.

"Siapa dong?"

"Ga tau."

Aku memandang pensil yang seperti meriam di atas meja.


Mengingat-ingat kemarin sebelum pulang kerja, sebelum menutup pintu ruangan. Rasanya ga ada yang aneh. Kami pulang terakhir. Dan pensil ada di laci meja. Dan tiba di ruangan pun kami yang pertama kali. Aku yang membuka pintu dengan kunci. Jadi, bagaimana bisa pensil ada di atas meja dengan posisi seperti ini? 

"Mbak, kemarin kembali lagi ke sini?" Tanyaku pada teman satu ruangan.

"Ga. Mulih langsung. Cape banget kemarin."

"Iya, kemarin memang melelahkan banget. Banyak kerjaan," 

"Kenapa, Mbak?" Tanyanya.

"Ga apa-apa. Nanya aja."

Kembali kupandang lagi pensil di atas meja. 

Kriiing! Telepon di atas meja berdering. Ok, kerja, kerja. Data yang dibutuhkan untuk tender harus cepat dikirim. 

Pensil masih tetap di atas meja, ga disentuh, ga tersentuh, ga digubris lagi. Pensil terlupakan, dilupakan. Hingga akhirnya sebelum pulang, pensil bergerak sendiri, lalu terasa ada yang menyentuh jemariku. 

"Kenapa?"

"Apa, Ma?"

"Nyenggol-nyenggol."

"Ga nyenggol."

"Tadi."

"Ga. Pengen banget disenggol."

"Yeee!"

"Lah Ngka ga nyenggol."

"Ya wis."

"Ngka ke toilet, ya?"

"Sana gih."

Ruangan terasa dingin. Teh tawar dalam gelas besar di atas meja pun sudah tak hangat lagi, padahal belum lama dibuat. Tak lama kemudian, Ngka masuk kembali ke ruangan.

"Ma, kok ga terasa udah jam segini sih?" 

Kutengok jam dinding di dinding depan. 

"Weh, makan siang. Yuk."

Tiba-tiba pensil di atas meja bergerak sendiri, lalu meluncur jatuh!

"Ambil, Ka. Jatuh tuh pensil."

"Kok bisa jatuh?"

"Ga tau."

Ngka mengambilnya, lalu meletakkan di meja. Saat diletakkan itulah aku melihat sepasang tangan sedang melambai ke arahku.

"Ka!"

"Kenapa sih Ma? Alay teriak-teriak." Ngka menggerutu mendengar teriakan tertahanku.

"Tangan melambai-lambai!"

"Ya elaaah, Ngka udah lihat dari tadi itu, Mamaaa. Udah, biarin aja, dia lagi happy kali." Santai Ngka menjawab.

Hmm, benar kata Ngka, biarkan saja! Tapi rasanya ingin bertanya pada si tangan yang melambai,"Kamukah yang memasukkan pensil ke binder clip?" 

Hihi, cuma jadi sebuah keinginan. Ga akan menanyakan pada si tangan. Biar saja, seperti kata Ngka, biarkan saja dia melambai, mungkin sedang happy.


-Nitaninit Kasapink (Error)-







Tuesday, 8 December 2015

Desember Melo

Desember 2015 ini membuat gue menghitung hari. Pink berusia 15 tahun di tanggal 22 Desember nanti. Putri kecil menjadi remaja.

Di bulan Desember ini gue juga menghitung hari. Desember ke Januari 2016. Hitungan panjang tapi sebenarnya amat pendek untuk dihitung oleh kami. Penghujung Januari 2016 nanti, Ngka, Esa, Pink, dn gue, akan pergi ke Semarang, nyekar makam almarhum papa mereka, almarhum Henk, suami gue. 

Desember berhasil membuat gue melo! Melo, ya, bukan melon. Kenapa juga jadi melo, gitu ya, cuma karena Pink akan berulang tahun, dan karena Januari akan berangkat nyekar?

Kondisi kesehatan Pink selalu naik dan turun. Belum stabil. Hey, no, no, no, no, gue ga menyesali yang terjadi. Autoimun yang ada di tubuh Pink, bukan sebuah kondisi yang harus disesali. Gue jadi melo karena tau semangatnya besar, jauh lebih besar dibanding tubuhnya yang langsing, malah cenderung amat kurus untuk remaja seusianya.

22 Desember 2015 masih 14 hari lagi. Banyak doa dan harapan gue ucap pada GUSTI tentang Pink. Kebahagiaan, kesehatan, dan segala hal terbaik untuknya dari GUSTI.

Penghujung Januari 2016 masih 52 hari lagi. Sehat, sehat, sehat, bahagia, terbaik dari GUSTI untuk Pink.

Desember berhasil memelokan hati gue.

Semangat sehatmu, menyehatkanmu, Nduk, amin.


-Nitaninit Kasapink-

Friday, 4 December 2015

SABAR SESABAR DEODORANT

"Ma, kita diklaksonin terus sama motor. Yang mana sih Ma, yang nglaksonin terus tuh?"

"Itu deh kayaknya."

"Ugh! Kalau Ngka digituin, Ngka klaksonin balik tuh! Enak aja dia klakson kayak gitu!"

"Ga perlu."

"Ih Mama, kalau Ngka sih gitu! Gantian Ngka kakson!"

"Ga, ah. Mama sih pengen jadi orang yang sabar kayak Rex*na. Sabar setiap saat."

"Mamaaa, salah! Bukan sabar setiap saat! Tapi setia setiap saat!"

"Ga. Mama maunya sabar setiap saat."

"Kok bisa? Terserah dah!"

"Iya, sabar, Ka. Deodorant itu sabar banget. Tiap saat mampir di ketiak, tapi ga protes. Malah bikin wangi. Sabar banget, kan? Wanginya setiap saat pula! Tuh, sabar banget, kan?"

Dan Ngka pun tertawa.

Ngka, anak sulung gue, sudah bisa berperan sebagai pelindung emak. Di usia  akhir belasan, emosinya terkadang meletup-letup. Gue berusaha meredam, menenangkan, dengan cara obrolan santai. Karena menurut gue sih malah lebih efektif lewat obrolan santai dibanding 'manteng' serius. Ngka menerima santai, dan ga merasa dinasehati. Padahal emaknya ini sedang memenuhi dengan petuah-petuah yang dikemas santai.

Apakah langsung 'Abrakadabra' Ngka berubah? Ya ga. Tetap saja gue memberitahu berulang kali. Tapi setidaknya  itu akan menempel, nyangkut, dan  bisa membuatnya jadi deodoran. Eh, sabar kayak deodorant.

Sebuah harapan seorang emak untuk anak lelakinya yang beranjak jadi dewasa.


Salam Senyum,
Nitaninit Kasapink (Error)





Di Gedung Yang Sama

Kalian terlalu sopan. Memperkenalkan diri dengan gaya yang unik waktu pertama kali menginjak gedung ini! Senyum manis, panggilan lirih, tawa menggelegar, mengajak bermain, dan ada pula yang hanya diam tanpa suara, tanpa senyum, hanya ujung matanya saja yang setia mengikuti.

"Selamat datang!"

Ya, terimakasih.

"Untuk apa ke sini?"

Bukan urusanmu, bukan?

"Sedang apa di sini?"

Terlalu banyak bicara.

"Mari main bersama kami!"

Hah, aneh jika kubermain bersamamu!

"Hahhahaha! Anak ingusan ke sini!"

Hah! Anak ingusan! Aku sudah tidak muda lagi! Dasar tua renta!

"Jangan ke sini! Ini tempatku!"

What? Arogansi? Aku tak takut!

"Kemarilah. Aku butuh bantuanmu."

Tidak, aku tak bisa membantumu.

"Aku ingin bicara panjang lebar."

Cukup, bicara saja pada teman-temanmu yang ain.

"Haiiii, di sini enak, asyiik! Bisa melihat pemandangan dari atas!"

Tak perlu. Menyenangkan tetap di tempatku.

"Mana senyummu? Lihat senyumku! Hiiii!"

Tak perlu beramah tamah, bukan? Lagipula senyummu aneh!

"Maukah bersalaman denganku?"

Tidak. Aku tak ingin menyentuh siapa pun di sini!

"Kutemani berkeliling, agar kamu lebih mengenal tempat ini."

Aku tak ingin berkeliling.

"Jangan angkuh!"

Jangan sok akrab.

"Mukamu pucat!"

Kalian lebih pucat.

"Kujaga kamu."

Cukup untuk tidak menggangguku.

"Ini gelasmu?"

Aku bisa mengambilnya sendiri, jangan sentuh.

"Mau kemana?"

Bukan urusanmu.

"Heei, sst, ini aku."

Sudah melihatmu sejak tadi.

"Ruangan ini menyenangkan, sunyi, dan dingin."

Akan kupenuhi dengan nyanyian, doa.

"Hihihi, dasar manusia!"

Dasar setan!

Hampir dua tahun, dan hingga saat ini pun masih saja kalian berperilaku sama.

Sudah hampir dua tahun! Hey, kita ada di gedung yang sama, tapi dunia kita berbeda! Mengertikah kalian?



-Nitaninit Kasapink (Error)-

Thursday, 3 December 2015

Siapa Si Cewek Baju Putih Bebercak Kemerahan?

"Siapa minum kopiku?"

"Ga tau!"

"Plis deh ya, tadi masih setengah gelas."

"Lupa kali, tadi udah dihabiskan, kali." Jawab Ge santai. Rambutnya yang panjang terurai menari dihembus angin dari jendela.

"Ga, gue ga lupa. Tadi kan pas listrik mati, gue kan turun ke lantai 1. Lo minum kopi gue?"

"Ya elaaaah, Err! Kopi banyak, bisa minta tolong sama Mbak Sa untuk bikinin. Minum kopi lo, bisa ketularan manyun dong gue!" Ge berteriak lalu terbahak-bahak, hingga bakwan dalam mulutnya muncrat.

"Jorok, lo! Bersihkan tuh bakwan di meja! Trus siapa dong yang minum kopi gue, Ge?"

"Gue ga tau. Dari tadi ga ada orang selain gue deh Err."

"Ufh, pasti dia lagi," keluhku pelan.

"Heh, siapa? Lo jangan nakut-nakutin gue, dong! Dia siapa? Temen setan lo?"

Ge berlari ke mejaku, dan matanya melotot karena takut.

"Err, jangan gitu, dong. Gue takuuuut!"

"Laaah, gue ga bilang setan yang minum, Geeee!"

"Tapi kan dari tadi cuma ada gue, Err! Gue ga utak-atik gelas lo. Emang sih gue suka asal aja minum, tapi sumpaaah, kali ini gue ga minum!"

"Ya udah, gue lupa kali, ya? Dah ah, gue mau ke depan aja. Gerah banget di sini, AC masih mati."

"Eeeeerrr, jangan tinggal gue!"

"Ya hayuk!"

"Kaki gue lemas, Err. Kagak bisa jalan. Gimana nih? Gue kebelet pipiiiis!" Ge dengan gaya centil, alay, tapi lemah tak berdaya, duduk seperti tak bertulang.

Aku mendekatinya, membantu berdiri, lalu memapah keluar ruangan.

"Err, lo ga takut setiap kali lo ngerti dan lihat setan-setan usil, jelek, menakutkan?"

"Ge, lo jangan ngomong sembarangan. Ntar setannya ngambek ke lo, rasain aja!"

"Eh ga, ga! Just a joke, ya setaaaan, just a joke!"

"Ge, lo berat banget! Turun tangga gini sambil memapah lo, bisa jatuh nih!" Sambil tetap memapahnya, aku memprotes.

"Hihihi, sorry, gue udah kuat, kok. Cuma enak aja dipapah gini."

Langsung melepas Ge yang ngelendot manja,"Enak aje lo. Lo kate gue pacar lo? Ngelendot manja bener!"

Ge terbahak-bahak.

Di depan kantor masih ramai karyawan bersantai gegara listrik mati. Aku dan Ge mengambil tempat di pojok dekat gudang.

"Err, gue mau nanya nih."

"Nanya aja, belum tentu gue jawab."

"Err, sejak kapan lo lihat setan?"

"Sejak kecil."

"Setan tuh kayak apa?"

"Kayak lo."

"Sumpe lo, setannya cantik kayak gue?"

Tawa kami merusak acara karyawan lain yang sedang asyik bersantai. Beberapa dari mereka melihat kami dengan mata terlihat ga suka.

"Err, setan tuh gimana?"

"Ya ga gimana-gimana, Ge. Biasa aja. Cuma ada yang serem."

Ge sibuk bertanya tentang setan, setan, dan setan! Dia ga tau, di belakangnya ada sesosok perempuan berbaju putih bebercak kemerahan, yang mungkin bercak darah, memandang ke arahnya. Aku bergidik. Siapa bilang aku ga takut setan? Tetap aja setan menakutkan!

"Ge, udah on lagi tuh listrik. Gue ke ruangan, ah."

"Ya udah Err, gue juga ke ruangan. Tapi ogah ke ruangan lo. Serem bangeeet!"

Ge bergegas menuju ruangan. Aku terkesiap melihat sosok perempuan yang tadi memandanginya mengikuti dari belakang.

"Ge!"

Ge tetap melangkah cepat.

***

Setiba di ruangan, terasa panas karena ac baru saja on. Gelas kopi masih ada di atas meja. Tiba-tiba sreeet, kertas di meja bergerak! 

"Hush, jangan ganggu." Ucapku.

Kertas berhenti, malah ada angin pelan menghembus ke kepala.

"Ga takut."

Telepon berdering.

"Err, ruangan gue kok jadi serem? Tadi pintu rak buku bergeser sendiri!" Ge menelepon.

"Berdoa, Ge."

"Lo tahu ga siapa yang ganggu?"

"Tadi sih ada yang ngikutin lo. Cewek baju putih kemerahan gitu."

Bruk! Telepon dibanting.

"Eeeerr!"

Ge berlari terengah-engah masuk ruangan.

"Apa?"

"Gue takut. Lo sih cerita setan."

"Lo nanya, ya gue jawab."

"Err, gue di sini, ya?"

"Iya, katanya serem di sini?"

"Ga napa dah, kan ada lo."

Sreeet, pintu lemari di pojok ruangan bergeser sendiri. Kertas di meja pun bergeser.

"Eeeerr!" Ge berteriak, mukanya pucat pasi.

Doa pada Gusti kuucap, lalu berkata,"Jangan ganggu."

Ge terisak,"Err, gue pipis di celana. Dikit sih, tapi kan judulnya gue ngompol."

Rasanya ingin tertawa ngakak, tapi ga tega melihatnya lemah di kursi.

"Ya udah, ga apa-apa. Ntar gue minta office boy cuci tuh kursi."

"Jangan bilang gue ngompol, ya?" Ge dengan suara tertahan, dan senyum jelek memohon.

Akhirnya kursi kugotong ke toilet, dan meninggalkannya di sana. Sedangkan Ge mengikuti dari belakang, lalu masuk toilet membersihkan diri.

"Err, jangan tinggalin gue!"

"Iyeh."

Tak lama kemudian Ge keluar sambil meringis.

"Err, gegara tadi gue ngomong sembarang tentang setan, ya?" Tanya Ge.

"Ga, udah, ga apa-apa. Yuk, pulang. Udah 16.30, nih."

Ge mengiyakan, lalu kami menuju ruangan masing-masing. Beberes meja, mematikan komputer, ac, dispenser, lalu mematikan lampu. Sip, siap pulang! Tapi saat mengunci pintu dari luar, ada yang mengetuk pintu dari dalam. 

Tuk, tuk!

Si cewek baju putih bebercak kemerahan ada di dalam! Matanya yang cekung hitam memandang kosong ke arahku. Siapa dia sebenarnya? Bergidik bulu kuduk.

Bye, aku pulang, kataku dalam hati. Semoga besok dia sudah menghilang. 



-Nitaninit Kasapink (Error)-

























Tuesday, 1 December 2015

Masih Misteri

"Bu, saya masih harus menunggu Pak Jie?" Tanya Raf di telepon. Dia karyawan muda tempatku bekerja.

"Kamu di mana, Raf?"

"Saya tadi pagi mengantar Pak Jie ke site, Bu."

"Kamu?"

"Ya, Bu. Tapi sejak tadi Pak Jie belum kembali ke mobil, Bu."

"Kamu antar Pak Jie?"

"Ya, Bu."

"Sejak pukul berapa kamu pergi?"

"Tadi pukul 8.00 pagi, Bu."

Tiba-tiba aku merasa takut, sambil mencuri pandang orang yang sedang duduk di hadapanku.

"Raf, kamu kembali saja ke kantor."

"Baik, Bu. Pak Jie gimana, Bu?"

"Biar saja, ga apa-apa. Nanti biar pulang naik taksi."

Gagang telepon kuletakkan perlahan, lalu berkata,"Pak, jadwal ke site pukul berapa?"

"Pukul 13.00, Mbak. Seharusnya saya berangkat sekarang, tapi ga ada supir kantor yang mengantar."

"Ini tadi Raf, dia bilang mengantar Pak Jie ke site sejak tadi pagi."

"Loh, saya kan di sini."

"Jadi, siapa yang bersama Raf?"

"Wah, saya ga tau. Saya di kantor sejak tadi."

Kupandangi dia lekat-lekat. 

"Kenapa, Mbak?"

Aku masih memandanginya. 

"Ini benar Pak Jie, atau bukan?"

"Maksudnya?"

Kulirik sepatunya menginjak lantai. Hantu ga menapak lantai. Ah, tapi kan itu sepatu! Bingung, dan takut, mulai menjalar di hati. 

"Gimana, Mbak?" Suaranya memecah hening. 

Sambil menenangkan hati, aku menjawab,"Sebentar, aku coba cari supir yang bisa antar. Nanti aku kabari."

Dia pun berlalu setelah mengucapkan terimakasih. Melenggang keluar sambil tersenyum. 

Sepeninggalnya, aku diam di depan monitor. Siapa yang benar, dan siapa yang salah, di sini? Raf, atau aku? Raf mengatakan dia mengantar Pak Jie, sedangkan orang yang tadi datang ke ruanganku adalah Pak Jie!

Ah sudahlah, daripada bingung, lebih baik menelepon ruang supir, mencari yang bisa mengantar Pak Jie.

"Halo, aku Err, ini siapa?"

"Ya, Bu. Ini Raf."

"Raf,  kamu barusan kembali?"

"Kembali dari mana, Bu? Saya sejak tadi di sini menunggu Pak Jie, katanya Pak Jie minta diantar pukul 11.00."

"Lah, kan tadi kamu menelepon dari site. Kamu bilang, Pak Jie ga keluar-keluar, lalu kamu tanya, apakah kamu harus menunggunya, atau pulang saja."

"Ga, Bu. Saya ga menelepon. Kapan ya, Bu?"

Aku menggaruk kepala yang ga gatal.

"Tadi saya terima telepon dari kamu."

"Ga, Bu. Sumpah, ga."

"Oh, jadi? Ya sudahlah. Kamu ke depan saja sekarang. Pak Jie nanti aku beritahu."

"Baik, Bu."

Makin bingung aku menghadapi permasalahan ini. Siapa yang meneleponku tadi? Raf? Bukan? 

"Mbak, sudah ada supir untuk saya?"

Terhenyak aku! Tetiba saja Pak Jie ada di hadapanku!

"Eh, loh, kok tau-tau ada di sini? Raf ada di depan. Bapak bisa pergi dengan Raf."

"Terimakasih." Pak Ji berlalu sambil menyungging senyum.

"Eh, Pak Jie, maaf, tunggu!"

"Ya?" Pak Jie menoleh ke arahku, wajahnya berubah menjadi Raf, lalu berubah lagi menjadi pak Jie, kemudian berubah menjadi Raf! Senyumnya menyeringai!

Aaaargh! Pandanganku kabur, menggelap. 

******


Nitaninit Kasapink (Error)