Monday, 6 November 2017

(31) Err Dan Bless, Tanpa Bless

Angin laut bernyanyi di telinga bagai sedang menghibur kesendirian yang terasa sejak kemarin. Ombak yang berlari seakan-akan berjalan mengendap-endap agar tak mengganggu keheningan yang kurengkuh. Pasir menghangat seperti membujuk agar kutetap menenggelamkan kaki di dalamnya.

Tapi berada di hamparan pasir yang luas membuatku ingin tenggelam dalam pelukan mentari yang membakar seluruh tubuh. Aku sendiri di sini, tanpa siapa pun, sama seperti dulu. Bedanya kini kuhanya memiliki sebiji mata, karena sebiji mata yang kuberikan pada Bless, menghilang entah kemana.

Pantai ini menyimpan semua perihku, menyimpan rindu, juga menyimpan segala tentangku dan Bless.

"Biarkan dia pergi."

Angin berbisik di telinga.

"Tidak!"

Kuberteriak lebih keras dibanding suara ombak. Gema memecah karang tempat kami biasa berbincang dan bercanda.

Air mata mengalir basahi wajah, tapi berwarna pekat! Bless, kepekatan ini pasti karenamu. Butir-butir rindu jatuh bersama tetes air mata. Melukaiku yang selama ini membahagia bersamanya.

"Err, jangan bersedih."

Suara Bless seakan masuk dalam pendengaran. Tapi dia tak ada!

Bless, di manakah kamu?

Kuraba rongga mata kiriku yang kosong. Lalu berdiri menantang cahaya matahari yang memanggang!

"Bantu aku mendapatkan mataku kembali! Aku tak ingin menangis dengan rongga mata kosong! Aku harus bisa menatapmu dengan dua biji mataku! Bantu aku!"

Berteriak pada matahari, mengepalkan tinju pada langit!

"Bless, di mana pun kamu berada, kuharap kebahagiaan selalu bersamamu. Berbahagialah dengan sepasang biji mata milikmu."

Hei, apakah kamu melihat Bless? Hantu lelaki tinggi besar berbaju hitam? Sejak tadi aku tak melihatnya. Mengelilingi pantai, menyelam ke dasar laut, Bless tetap tak ada.

Adakah kamu melihat Bless? Jika kamu bertemu dengannya, tolong katakan padanya, aku tak akan pernah memintanya untuk kembali, karena kutahu bukan aku yang ada dalam cerita miliknya. Masa lalunya ada dalam rahasia terdalam.

Jika kamu bertemu dengan Bless, katakan padanya, sebiji mataku telah kudapatkan kembali. Katakan begitu padanya, walau kutahu biji mata kiriku tak akan pernah bisa kembali.

Aku Err, hantu wanita penunggu pantai, bergaun hitam. Sendiri di sini tanpa Bless.


Nitaninit Kasapink








Sunday, 22 October 2017

(30) Err Dan Bless, Mata Kiri Err

Siang ini begitu terik, padahal tadi pagi hujan lebat. Aku berdiri menantang sinar matahari tanpa takut membuatku menghitam. Angin laut bertiup kencang.

Bless berdiri di sisi kananku, memandang jauh ke hamparan laut yang penuh gelombang. Setiap deburan keras menghantam karang, tiap kali itu pula kulihat matanya dipejamkan.

Rasanya ingin memeluk erat, dan bertanya apa yang sedang dipikirkan olehnya. Tapi aku tak berani. Melihatnya begitu serius memerhatikan laut, tak ingin mengganggunya.

Sekuntum bunga jatuh di pasir, tepat di depan kaki Bless. Kulihat dia tidak peduli sama sekali. Membenam kakinya dalam pasir.

Sosok tinggi besarnya kerap membenamkanku dalam pelukan yang mendamaikan. Garis tawanya mengajarkanku bagaimana cara tersenyum yang indah.

Tetiba Bless berteriak,"Err! Err!"

Aku berlari mendekatinya. Bless berteriak kesakitan, dua tangan memegang matanya.

"Err, sakit!"

Aku berusaha memeluknya. Tapi dia menolak. Bless menolak pelukanku!

Hanya bisa memandang tanpa bisa berbuat apa-apa. Pemandangan yang tak pernah kulihat, kini ada di hadapanku. Bless yang berteriak, lalu duduk di atas pasir sambil tetap memegang matanya.

Kemudian perlahan sebiji mata kanan terlihat mulai mendesak keluar.

"Hey, Bless, matamu tumbuh! Mata kananmu tumbuh!"

Aku berteriak kegirangan melihat kejadian itu. Bless diam.

"Bless, sekarang kamu memiliki sepasang mata! Kamu sudah memiliki dua mata! Bless! Luar biasa!"

Bless diam, tetap menunduk. Kulihat ada tetes air mata jatuh ke pasir. Bless menangis!

"Aku berbahagia karena tumbuhnya matamu, Bless!"

Tak lama berselang, Bless menjerit keras! Mata kiri mulai melotot.

"Sakit!"

Aku diam, tak berkata apa-apa.

Lalu tiba-tiba mata kirinya melesat keluar, jauh!

"Bless, mata kirimu pun ikut tumbuh!"

Ya, mata Bless tumbuh kembali. Dia bisa melihat lagi dengan dua matanya.

"Aku bisa melihat seperti dulu! Mataku kembali! Mataku tumbuh kembali!"

Kupeluk Bless dengan suka cita. Hangat berada dalam pelukannya yang erat. Lelaki yang kucinta sepenuh kebahagiaan!

"Err, maafkan aku."

"Kenapa, Bless?"

"Di mana mata kirimu yang ad di rongga mataku?"

Aku tersentak! Ya, di mana bola mataku yang sebelumnya ada di rongga mata kirinya? Hilang!

Ombak meninggi melebihi pucuk kelapa. Angin menderas seakan hendak merobohkan seluruh pepohonan yang ada di sini. Pasir pun beterbangan!

Kami mencari sebuah mata kiriku yang beberapa lama ada di rongga mata kiri Bless, tapi tak menemukannya. Mata itu entah berada di mana.

Bless diam, duduk di pasir, sambil menatap lurus ke langit. Kulihat ada tetes air mata turun membasahi wajahnya.

"Bless, aku bahagia matamu sudah kembali. Tak perlu dicari mata kiriku yang hilang karena matamu sudah tumbuh utuh. Kamu sudah tak membutuhkan mataku lagi. Kamu bisa melihat dengan pandanganmu sendiri. Biarlah aku dengan pandanganku yang berimbang dengan kekosongan satu mata. Bukankah dulu kita sempat berbagi pandang?"

Bless diam, sama sekali tak bersuara. Kupeluk dia erat-erat! Tapi pelukannya mengendur, berbeda, tak lagi sama.

Hay, aku Err, dan dia, Bless. Kami hantu di pantai ini. Sepasang hantu berbaju hitam, yang dulu kuyakini saling mengasihi.

Aku, Err, mengasihi Bless, tanpa sedikit pun ingin menguasai kisahnya. Biarkan dia berjalan dalam garisnya sendiri.

Aku mengasihi Bless karena kasih.

Bagaimana denganmu? Apakah mengasihi pasanganmu karena kasih? Plis, jangan berpura-pura mengasihi, juga jangan mengasihi hanya karena kamu sedang bingung dan sendirian. Kasihi orang yang kamu kasihi dengan baik, jangan pernah meninggalkannya, jangan pernah mengendurkan pelukan.

Ketika kasih itu menghilang untuk orang  yang kamu katakan adalah terkasihmu, aku akan datang padamu, menghantuimu.

Aku, Err, dan dia, Bless. Kami tak lagi hidup di dunia sepertimu. Jangan pertanyakan kami ada atau tidak, tapi kami percaya, kasih adalah kelembutan.

"Bless, bukankah begitu?"

Dan kosong, tak ada jawaban.



Nitaninit Kasapink,














Tuesday, 26 September 2017

(29) Err Dan Bless, Err Dan Kematian

Dunia mati adalah dunia yang kosong. Hanya ramai dengan segala hal yang tidak bisa diraba dan tidak bisa dilihat olehmu. Sepi, bukan hening. Senyap, bukan tenang.

Dunia mati memberiku sebuah kenyataan bahwa aku tidak lagi berada bersamamu dalam kehidupan. Menjelajah dunia mati sendiri, tanpa siapa-siapa. Hendak memanggil orang-orang yang kusayang, tak bisa. Mereka tak mendengarku. Aku bingung karena tak mengenal tempat ini.

Dunia mati ini kosong. Aku merasa sendirian, dan memang hanya sendiri. Tak mengenal siapa-siapa. Diam melihat ke sekeliling, tak bicara pada siapa pun. Di sudut sana kulihat sosok nenek menangis. Di sisi sini kulihat sosok lelaki kecil terlihat kebingungan. Juga sosok anak kecil yang berlari bersimbah darah.

Hidup di dunia penuh cahaya sudah selesai. Dunia mati adalah penggantinya. Gelap, kelam, suram. Di mana cahaya berpendar yang penuh pelangi? Bukan untukkukah?Berjalan ke sana dan ke sini, amat melelahkan! Hingga akhirnya aku pergi ke pantai ini. Berdiam di sini, melalui hari dengan memandang laut, bermain pasir, menikmati angin dan matahari, juga mengingat masa lalu.Hmm, masa lalu yang pernah kujalani bukan masa lalu yang manis. Tapi juga bukan semuanya berisi hal pahit. Walau ada banyak hal pahit ada di dalam kisahku, hingga akhirnya aku dimutasi ke sini.

Hai, jangan mengernyitkan dahi karena kukatakan mutasi ke dunia mati! Bukankah dunia hidup memang hanya untuk sementara saja? Lalu berhenti, mutasi ke dunia ini, dunia kematian.Saat masih ada di dunia hidup, aku takut melihat hantu! Banyak hantu, arwah yang datang dan terlihat oleh mataku. Siapa bilang aku berani melihat penampakan-penampakan itu? Oh, tidak! Aku ketakutan setengah mati! Hanya saja lama-lama terbiasa. Terbiasa takut, maksudku.Sekarang setelah aku berada di dunia mati, aku memutuskan untuk tidak menampakkan diri pada mereka yang masih hidup. Tidak, tidak, itu jahat sekali! Lagi pula aku juga tidak mau melihat mereka terkencing-kencing karena ketakutan melihatku.

Dulu aku seorang yang dipenuhi kasih keluarga. Masa kecilku amat bahagia! Bermain, melakukan apa pun yang kusuka, menjalankan hobi yang kumiliki, dan juga belajar sesuai dengan inginku. Tidak ada pemaksaan dari orang tua. Aku anank kecil yang pendiam tapi cerewet. Cerewet di dalam hati sendiri. Hanya bicara jika memang itu mengganggu rasa ingin tahuku saja.Masa remajaku pun membahagiakan. Mengajar menari dan membaca puisi untuk anak-anak yang bertempat tinggal di sekitar rumah.

Hingga akhirnya mengenal Su, yang lalu menjadi suami. Dia lelaki terkasih yang pernah ada dalam hidup masa lalu.Setelah mengenalnya beberapa waktu, kami menikah. Aku dan Su. Lalu sifat dan sikapnya berubah. Semakin hari semakin terlihat memusuhiku. Entah kenapa, jangan tanyakan hal itu padaku.

Aku tak lebih hanya seorang perempuan yang patut dihina menurutnya. Bodoh, jelek, dan tak berharga. Sering kali terpikir, mengapa dia memilihku kalau memang bodoh, jelek, dan tak berharga? Entahlah. Pernah bertanya padanya tentang hal itu, dan jawaban yang kuterima hanya,"Memang kamu bodoh. Memang kamu jelek, tidak seperti yang lain, memang kamu tidak berharga."Sakit hatikah aku? Ya, amat sangat! Tapi tak mendendam. Dendam hanya hal buruk yang menjadi racun dalam hidup. Tapi kesakitan karena ucapannya amat terasa memedihkan.

Apa pun yang kulakukan, menurutnya adalah salah dan bodoh! Pilihanku terhadap sesuatu, norak! Dan masih banyak lagi.Air mata turun setiap kali mengingat itu. Tapi aku hanya diam, tak pernah menjawab. Hingga akhirnya di satu hari dia meninggalkanku dan tak pernah kembali lagi. Entahlah harus disyukuri atau bersedih. Tapi terasa melegakan saat dia pergi tanpa salam.

Dimulailah hidup baru tanpa kehadiran Su. Hari yang tenang tanpa bentakan, makian, tanpa ketegangan dan ketakutan yang biasanya merenggut damai milikku.

Sedang menikmati kedamaian yang baru saja kudapat, kejadian-kejadian mengejutkan lain pun berdatangan. Berkaitan dengan Su. Deb kolektor berdatangan ke rumah! Telepon rumah berdering terus-menerus, begitu juga telepon genggam miliknya yang ditinggal. Kemudian menyusul telepon genngamku pun berbunyi. Entah mereka dapat nomorku dari mana. Ancaman demi ancaman datang padaku. Beberapa menunggu di depan rumah, menggebrak pagar, berteriak-teriak memanggil dengan cara amat tak sopan. Aku berusaha tak peduli, tapi tetap saja itu mengganggu. Hingga di satu malam saat aku pulang dari bekerja, seseorang datang menghampiri. Perempuan manis berambut panjang. Dia tersenyum padaku. 

"Err?"

"Ya. Mbak siapa?"

Tiba-tiba saja aku merasakan perih yang dalam di perut sebelah kiri, lalu dada kiri terasa panas. Tubuhku limbung. Jatuh di depan pagar rumah yang belum sempat kubuka gemboknya.

Bayangan perempuan itu semakin samar. Perempuan manis yang tak kukenal, bahkan hingga saat ini pun aku tak mengenalnya. Senyum manisnya masih tergambar dalam ingatan.

"Jangan mengganggu Su! Sekarang dia milikku!"

Kemudian gelap menyergapku. 

"Err."

Lamunanku terhenti. Bless!

"Sedang apa?"

Kupeluk Bless erat. 

"Jangan pergi dariku, berjanjilah."

"Ya, aku berjanji."

Hai, aku, Err. Pernah berada di dunia hidup yang penuh cahaya, tapi semua itu berhenti setelah perut dan jantungku ditikam oleh perempuan yang tak kukenal, tapi menyebut-nyebut nama Su.

Dia, Bless, hantu lelaki gagah yang selama ini mendampingiku. Dia yang selalu menenangkanku. Aku tak pernah tahu tentang masa lalunya. 

Kami berada di dunia mati.

Kamu yang berada di dunia hidup, seperti apakah kisahmu? Tengah malam nanti aku dan Bless akan datang untuk mendengarkan kisahmu. 



Nitaninit Kasapink















x

Sunday, 24 September 2017

(28) Err Dan Bless, Menikah

Pantai ini memang selalu memberi nyaman untukku. Pasir lembutnya memijat telapak kaki, menempel saat kaki basah oleh air laut, dan menjadi bersih setelah dibasuh kembali oleh air laut. Di tempat inilah seluruh angan disimpan, juga di sinilah mengubur sebagian mimpiku.

Aku suka angin laut yang menghembus kencang, memainkan gaun hitamku, mengacak-acak rambut seleherku. Ini mengusik masa lalu yang kerap datang di hari-hariku.

"Apa cita-citamu?"

Guru wali kelasku saat aku SD di kelas pertama menanyakan itu pada kami, seluruh murid. Banyak teman-teman berteriak ingin menjadi dokter.

"Err, apa cita-citamu?"

"Pengantin!"

Aku menjawab dengan lantang.

Kelas menjadi ramai setelah mendengar jawabanku. Sedangkan ibu guru amat terkejut.

"Err, apa cita-citamu?"

"Pengantin, Bu Guru."

"Dokter, insinyur, pilot, astronot. Ada banyak pilihan, kenapa cita-citamu jadi pengantin?"

"Aku suka jadi pengantin."

"Kenapa?"

"Karena aku ingin punya adik. Setiap orang yang jadi pengantin, pasti punya adik bayi. Aku ingin punya adik bayi."

Guruku diam tak menjawab.

Ya, itu cita-cita pertamaku, menjadi pengantin. Dan saat kami sekeluarga datang ke pantai ini saat kukecil, kuletakkan sebuah surat untuk Tuhan, agar mengabulkan cita-citaku menjadi pengantin.

Pantai ini menyimpan anganku.

Waktu berlalu begitu cepat hingga akhirnya aku mendewasa dan dilamar Su, cita-cita pertamaku terkabul! Jadi pengantin!

Tapi di sini pula kukubur bagian mimpiku menjadi pengantin yang berbahagia. Di pantai ini kutulis surat pada Tuhan, betapa hancurnya aku saat menjadi pengantin seorang Su selama bertahun-tahun.

Menikah menjadi sebuah cita-cita sekaligus sebuah kesakitan yang bagai tak tersembuhkan!

"Err. Lagi-lagi kamu melamun!"

Bless! Lelaki tinggi besar ini memang selalu saja mengusik lamunanku.

"Err, berkelana dalam masa lalu lagi?"

"Iya. Ingat tentang cita-cita pertamaku."

"Cita-cita pertamamu? Apa cita-cita pertamamu?"

"Jadi pengantin!"

"Hah?"

"Kenapa? Huh, apa ada yang salah dengan cita-citaku itu? Tapi ya memang salah, karena cita-cita pertama yang sudah kuraih itu mengandaskan seluruh mimpi dalam kehidupanku. Dan hampir saja membuat seluruh kisah hidupku berkeping-keping!"

Aku berteriak marah. Bless kehilangan senyumnya sejenak. Ditatapnya aku dalam-dalam.

"Cita-cita bodoh! Itu kebodohan terbesarku, Bless! Tidak seharusnya itu menjadi sebuah cita-cita! Pernikahan! Itu sebuah kebodohan dan kesalahan besar!"

Amarahku meluap. Ombak berdebur keras. Angin menderu kencang. Alam pun merasakan kemarahanku!

"Su! Dia lelaki yang tak pernah mencintaiku! Tapi kenapa dia malah menikahiku? Bukankah pernikahan terjadi karena ada cinta kasih, Bless? Pernikahan hanya kebohongan dalam hidupku! Su hanya membuat jejak yang tak pernah bisa hilang dari kisahku, dan teramat dalam sakitnya!"

Matahari menyengat makin gila. Cahayanya menyilaukan mata, apalagi saat dipantulkan oleh gelombang laut yang juga menggila!

Bless menatapku tanpa berkedip.

"Bless, aku benci cita-cita pertamaku! Bless, aku benci semua itu!"

Bless meraih kepalaku, dimasukkannya ke dalam pelukannya yang erat. Lembut dielus rambut seleherku.

"Bless, aku lelah."

Makin erat pelukannya.

"Bless, jika kita bertemu saat dulu, bertemu di masa lalu, apakah kamu akan menikahiku? Apakah kita akan seperti sekarang? Mengisi waktu bersama dengan kasih? Apakah tak akan pernah ada kemarahan, caci maki, yang kuterima? Bless, apakah kamu memelukku erat seperti sekarang jika kita bertemu di masa lalu?"

Tangisku mulai pecah.

Bless tidak menjawab, tapi terasa ada yang membasahi rambutku.

"Bless, kamu menangis?"

Tidak ada jawaban.

"Bless, aku tidak suka berandai-andai. Tapi jika saja aku bertemu denganmu di masa lalu, aku pasti memilih bersamamu! Tidak akan pernah ada kekerasan dalam hidupku jika saja kita bersama sejak dulu."

Kami saling memeluk erat. Sepasang hantu berbaju hitam tenggelam dalam tangisan yang pilu karena kisah hidup di masa lalu.

"Berjanjilah padaku, Bless. Jangan pernah tinggalkan aku."

Kurasakan kecupan lembut di rambutku.

Kami sepasang tanpa raga bermata satu, yang berbaju hitam di pantai, mengisi waktu dengan berbagi kasih, berbagi pandang, berbagi kisah. Masa lalu yang dilewati bukan hal yang indah untuk dikenang. Dan itu membuat kami menyadari bahwa berbagi kasih adalah hal terindah.

Kehidupan di dunia bercahaya yang seharusnya penuh dengan kisah bahagia penuh kasih, tertulis dalam kenang. Tak bisa kami hapus, tak bisa diubah. Pahit dan manis adalah hal yang sudah terjadi. Saat ini hanya bisa dikenang, karena tak bisa kembali ke masa lalu.

Memperbaiki kisah masa lalu hanya bisa dilakukan saat ini. Menyikapi segala sesuatu dengan penuh kasih. Hari ini penuh kasih, maka saat berada di hari esok, masa lalu menjadi kenang yang indah.

Hari ini memenuhi gerak dengan kasih yang tulus, setiap hari. Kami tak ingin memiliki masa lalu penuh dengan tinta amarah, kecewa, dan tangis pilu.

Kamu yang masih berada di dunia hidup, bagaimana denganmu? Memenuhi hari dengan kasih, atau memenuhi dengan kebencian yang penuh caci maki dan amarah?

Bagaimana dengan pernikahanmu? Seperti milikku, ataukah seperti yang kujalani saat ini setelah berada di dunia mati?

Aku, Err. Dia, Bless. Kami memang hantu berbaju hitam yang menikmati pantai dan memandang laut setiap kali. Tapi kami berdua berbagi kasih. Bless mengasihiku dengan kasihnya yang besar, begitu pula aku. Kumengasihi Bless dengan seluruh kasih yang kumiliki.

Jangan pertanyakan apakah kami memang benar ada atau hanya kisah bohong belaka. Kami selalu memerhatikanmu dari sini, dunia mati.


Nitaninit Kasapink,

  









Tuesday, 12 September 2017

(27) Err Dan Bless, Kasih Itu Istimewa

Bless berlari sekuat tenaga ke arahku.

"Err! Err!"

Suaranya menggema memanggil. Menggaung.

"Err!"

Teriakannya seakan bisa memecahkan karang, tapi telingamu tak bisa mendengarnya. Hanya ada sunyi, senyap.

Jejak kakinya tercetak di pasir. Sebagian malah beterbangan. Angin berhembus amat kencang hingga daun-daun kelapa berdansa mengikuti iramanya.

Ombak bergulung besar lalu pecah di pantai. Pasir menyurut ditarik ombak yang datang dan pergi.

"Err!"

"Ya, sudah, tidak usah berteriak lagi. Aku sudah ada di hadapanmu, lelaki besar."

Dia tertawa hingga menyipit mata.

"Ada apa, Bless? Ada hal penting yang hendak dibicarakan? Kamu hendak melamarku?"

Tawa kami lepas bersama.

"Aku punya ide bagus!"

"Ide apa? Tumben sekali kamu punya ide bagus, big guy!"

Aku terbahak melihat matanya membelalak.

"Err, aku serius."

"Yes, bicara saja."

"Kita pergi dari sini!"

Tangannya menggandengku tergesa. Langkah besarnya membuatku setengah berlari mengikuti.

"Bless, kita hendak ke mana?"

"Sudahlah, ikut saja."

"Kamu mau melamarku?"

Genggamannya semakin mengencang.

Ya, aku juga menyadari bahwa hal itu tidak mungkin untuk kami. Hai, ini dunia mati!

"Bless! Ini tempat liburan dan rekreasi! Ini tempat bermain yang dulu sering kudatangi!"

Senyumnya melebar. Alis tebalnya yang sering kali membuatku iri dinaikkannya.

"Yes!"

Seorang anak lelaki kecil mendekati kami, tertawa kecil menunjukku.

"Kamu bisa melihat kami?" Tanyaku pelan.

Dia tertawa, mendekatiku seperti hendak memeluk.

"Err, dia bisa melihatmu!"

Bless setengah berteriak.

Dia pun menoleh ke Bless, tersenyum.

"Bless, dia pun bisa melihatmu! Dan dia tidak takut!"

Bless mendelik ke arahku.

"Maksudmu? Seharusnya dia takut saat melihatku yang tinggi besar bermata satu? Begitu?"

Aku tertawa mengikik.

Seorang perempuan muda yang kurasa adalah sang ibu, datang mendekati, lalu menggandengnya.

"Mama, ada tante dan om. Mereka berbaju hitam. Mata mereka satu."

Sang ibu menoleh ke arah yang ditunjuk.

"Hai, aku tahu kalian ada. Aku juga percaya kalian baik. Buktinya Kung bisa melihat kalian dan dia tidak takut."

Suaranya riang, terkesan tidak takut.

Kudekati dia, lalu kubisikkan di telinganya,"Terima kasih."

Kurasa dia mendengar bisikanku, karena kulihat dia mengangguk.

"Selamat bermain, Tante, Om! Kung ke sana, ya."

Kami membalas lambaian tangan kecilnya.

"Bless, mereka tidak takut pada kita!"

"Ya, kan kita tidak mengganggu mereka."

Digandengnya lagi  tanganku.

"Aku mau main itu!" Seruku sambil menunjuk ke arah roller coaster.

"Berani?"

"Dulu aku tidak boleh naik permainan itu oleh bapakku. Bahaya, kata beliau. Ndak mati mengko."

"Ndak mati mengko?"

"Iya, itu bahasa Jawa, kurang lebih artinya bisa mati nanti."

Bless terkekeh.

"Ayo, kita naik!"

Tidak perlu mengantri seperti manusia hidup. Kami hantu! Pilih saja yang kami mau!

Mau tahu apa yang kurasakan saat permainan ini membawa turun naik?

"Bleeeess!"

Lalu kami berdua tertawa-tawa.

Ternyata permainan ini tidak membuatku mati! Tentu saja tidak, karena aku sudah mati sebelumnya! Jadi apa yang dikhawatirkan oleh bapakku tidak menjadi kenyataan. Buktinya aku mati karena sebab lain. Bukan karena permainan berbahaya atau karena perbuatan konyolku. Kematianku disebabkan oleh hal lain. Nanti satu waktu akan kuceritakan kenapa aku berada di sini, di dunia mati.

"Yuk, Err. Kita ke permainan berikutnya."

Aku memeluknya. Bless, terima kasih.

"Ayo Err, kita ke sana!"

Entah hanya perasaanku saja, beberapa pasang mata melihat ke arah kami, dan mereka tersenyum. Pandangan mereka ramah, bukan melihat dengan ketakutan karena melihat sepasang hantu berbaju hitam.

Bless, terima kasih. Kamu sungguh baik padaku. Perhatian yang tak pernah kudapat saat masih berada di dunia hidup, kudapatkan saat berada di sini, di dunia yang dulu menakutkan.

Bless, terima kasih, kasihmu yang tulus membuatku merasa menjadi istimewa!

Dalam rengkuhannya, aku tenang, dan nyaman.

Kamu yang sedang menjalani hidup di dunia penuh cahaya yang berwarna, apakah kasih juga melingkupimu? Apakah kamu juga merasakan bahagia saat berada dalam rengkuhan terkasihmu?

Aku, Err, hantu perempuan yang bergaun hitam, merasakan kasih yang tulus setelah berada di dunia mati. Semua karena Bless, hantu lelaki tinggi besar yang mengasihiku.

Sekarang jujurlah padaku, apakah kekasihmu mengasihimu dengan baik atau tidak? Jika tidak, sebutkan namanya, tengah malam nanti akan kudatangi dia. Memberitahunya betapa menyakitkan saat tidak dikasihi tulus, dan betapa membahagiakan saat merasakan ketulusan kasih.

Aku, Err. Dia, Bless. Kami sepasang hantu berbaju hitam yang saling mengasihi. Jangan pisahkan kami, hanya itu pintaku.

Jangan pertanyakan kami ada atau tidak, saat ini kami sedang memandangmu dengan senyum penuh kasih.



Nitaninit Kasapink
















Friday, 8 September 2017

(26) Err Dan Bless, Hujan Masa Lalu

"Bleeess, hujaaan!"

Aku berlari-lari ke arah Bless yang sedang melempar-lempar batu ke laut. 

"Bleeeess! Hujaaan!"

 Bless membalikkan badan ke arahku. Seperti biasa membuka lebar kedua tangannya siap memelukku yang datang semakin dekat.

Masuk dalam pelukannya yang dingin memang selalu membuatku tenang.

"Bless, hujan."

"Iya, hujan. Kamu tidak basah, kan?"

"Hahaha, tidak, Bless."

"Lalu kenapa kamu berlari sambil berteriak memberitahuku bahwa hujan turun?"

Aku terdiam, tak bicara sepatah kata pun. 

"Hey perempuan, bicaralah. Jangan diam. Tadi kamu berlari sambil berteriak keras, lalu sekarang kamu diam? Beritahu aku, ada apa? Kamu punya kisah tentang hujan di masa lalu? Atau kamu ingin membuat kisah tentang hujan dan kita?"

"Hujan selalu membuatku merasa tenang dan damai. Hujan memberiku kehangatan yang dingin. Hujan memelukku dengan seluruh airnya yang menyentuh kulit. Hujan memberiku gigil yang nyaman, dan memberi nyaman yang penuh gigil."

"Err, perempuanku yang perempuan. Kurasa ada banyak kalimat berlari di kepalamu. Mana sini, biarkan kubaca isi kepalamu sekarang."

Bless memegang kepalaku, berpura-pura seakan sedang membaca.

"Heeey, tak ada apa-apa di sana. Tak ada satu kalimat pun bicara di kepalamu. Jadi, ayolah bicara dengan mulutmu, bicara padaku, beritahu aku tentang hujan yang ada dalam kisahmu yang panjang."

Aku tertawa mendengar kalimatnya yang menurutku lucu.

Digandengnya tanganku, lalu kami berjalan menuju gundukan batu pembatas pantai. Duduk di sana sambil mengecipakkan air laut dengan dua kaki kami. Sinar matahari memancar tapi tidak menggosongkan kulit. Angin menyapu pori-pori lembut.

"Err, perempuanku. Ayo ceritalah sekarang, sebelum kepalamu meledak karena terlalu penuh dengan cerita masa lalu yang disimpan erat."

Suaranya terdengar amat serius namun hangat. Ah, mana pernah Bless bicara tanpa hangat menyertai? Dia selalu hadir dengan kehangatan yang luar biasa. Dia pun selalu memberi hangat dalam setiap geraknya.

"Ok, aku akan berkisah tentang hujan dan seorang perempuan. Namanya sebut saja, In. Dia perempuan yang selalu saja ingin bermandi hujan. Dipeluk hujan adalah keinginan terdalamnya setiap kali. Perempuan keras padahal dia lemah. Dan itu disadarinya. Walau sering kali orang tuanya menganggap dia sebagai seorang laki-laki, In tetaplah perempuan yang perempuan."

"Siapa In? Apakah dia sahabatmu? Atau dia hanya seorang yang kamu kenal di masa lalu, Err?"

"In adalah seorang perempuan di masa lalu yang amat kukenal. Dia tidak cantik, tapi dia percaya bahwa dia cantik, seperti yang selalu diucapkan oleh ayahnya sejak kecil. In seorang perempuan yang memiliki confidence tinggi. Ayahnya yang menanamkan rasa percaya diri begitu besar dalam hidupnya. Cantik, pintar, baik, penyayang, penuh kasih. Ayahnya selalu berkata bahwa dia perempuan yang melelaki dan luar biasa! In seorang perempuan yang amat mengasihi ayahnya, mencintainya hingga akhirnya meniru sikap beliau dalam hadapi hidup. In bukan perempuan pengecut. Bukan seorang yang cengeng, tapi juga kadang menangis. Ya, Bless, namanya In."

Bless menggenggam jemariku erat. Ditatapnya aku lekat-lekat dari sisi duduknya.

"Bless, In mencintai hujan karena hujan merancukan antara hujan dan air mata yang deras turun dari matanya. Sejak dia mengenal lelaki yang dicintainya, air matanya mengalir hampir setiap detik. Dia merindukan hujan setiap detik, sesering hati meluka, sesering itu pula dia rindu bermandi hujan. Seluruh kisah gelap yang mencekam terasa luruh diguyur hujan. Riang menyambut hujan!"

Bless memeluk bahuku.

"Err, perempuanku, siapakah In? Apakah dia masih menyukai hujan walau lukanya sudah hilang?"

"Kurasa dia masih mencintai hujan sampai saat ini. Luka-lukanya tak seperti dulu, sudah membaik. Hanya saja baginya hujan tetaplah cinta yang dalam."

Bless mengecup rambutku, lembut. 

"Sampaikan salam penuh kasihku untuk In, Err. Katakan padanya, Bless, lelaki tinggi besar ini, mencintainya sepenuh kasih. Katakan padanya, aku pun mencintai hujan. Aku juga suka diterpa air hujan. Katakan padanya, mulai saat ini, tetaplah bersamaku menikmati hujan, bersamaku bermandi hujan, tanpa air mata. Bermandi hujan dengan kebahagiaan saja. Katakan padanya, aku mencintainya."

Bless!

"Bless, perempuan itu In."

"Ya, dan In adalah kamu."

Bless, lelaki besar yang amat mengenalku. Walau pun kusamarkan cerita perempuan pecinta hujan, Bless tetap tahu bahwa In adalah aku.

"Aku mencintaimu, Err, In, siapa pun namamu. Aku mencintaimu dengan kasih yang kupunya."

Bless!

"Kita sama-sama mencintai hujan, sama-sama memiliki cerita di masa lalu. Bedanya hanya kamu perempuan dan aku lelaki. Tapi justru karena itu kita saling mengasihi. Satu saat nanti aku akan bercerita padamu tentang masa laluku. Hingga saat ini aku masih belum bisa berkisah tentang itu. Bukan terlalu menyakitkan, tapi karena aku mencintaimu. Aku tak ingin mencampur aduk antara masa lalu dengan masa sekarang yang bahagia bersamamu. Masa lalu untukku hanya kisah yang pernah ada. Tapi bersamamu bukan kisah, tapi kebahagiaan yang meraja."

Bless!

"Kamu tahu, Err, aku melihat dengan biji matamu saat kembali ke masa lalu. Memandang dengan separuh matamu, dan separuh rongga kosong mataku. Itu menyempurnakanku."

Bless!

"Apakah kamu ingin tahu tentang masa laluku, Err? Atau biarkan saja masa lalu dikubur bersama jasad tak utuhku dulu?"

Bless!

"Jasad tak utuh? Maksudmu, Bless?"

"Tenang, Err. Satu saat nanti aku akan menceritakannya utuh padamu. Itu pun jika kamu memang sungguh-sungguh ingin tahu."

"Aku mengerti, Bless. Jangan memaksa diri bercerita jika itu tak nyaman bagimu."

Kusandarkan kepala di bahunya. Amat nyaman bersamanya! Bahagia mengalir, memenuhi setiap inci hidup. 

Bless, aku mencintaimu!

Aku, Err, dan dia, Bless. Kami sepasang hantu, tanpa raga berbaju hitam, yang mengisi dunia mati di pantai. Menikmati dunia mati dengan saling mengasihi.

Aku, Err, hantu perempuan bergaun hitam yang dicintai oleh Bless, hantu lelaki besar yang juga berbaju hitam. Dan aku pun mencintainya sungguh-sungguh.

Saat kuhidup di masa lalu, di dunia hidup yang saat ini kamu berada, aku mencintai hujan karena ingin menutupi kelam cerita berair mata. Dan tak seorang pun mau tahu tentang hal itu, walau aku pernah bercerita tentang ini pada orang terkasihku dahulu. Malah dia menambah luka hati, dan menambah cintaku pada hujan. 

Dan saat sekarang sesudah meninggalkan dunia hidup, menetap di dunia mati, kutemukan Bless, lelaki besar yang mau dan bisa mengerti apa yang kurasakan.

Kurasa siapa pun pasti ingin dimengerti, begitu juga aku. Kurasa kamu pun ingin dimengerti. Kita semua ingin bisa dimengerti oleh yang lain. Jadi kenapa tidak dimulai dari diri sendiri? Mulai sekarang, belajar untuk mau dan bisa mengerti tentang yang lain. Seperti Bless dan aku. 

Indah sekali saat saling mengerti. Amat membahagiakan.

Bagaimana denganmu? 

Jangan pertanyakan apakah aku, Err, dan dia, Bless, ada atau tidak. Kami di berada di dunia mati setelah masa hidup berakhir. Melihatmu dan yang lain berinteraksi. 

Jika kami melihat kalian tidak mau dan tidak bisa saling mengerti, kami pasti datang untuk memperlihatkan betapa indahnya dunia saat kita saling mau mengerti.

Angin membisikkan padamu kedatangan kami, dengan hembusan dinginnya yang lembut menerpa pori-pori di tubuhmu, dan membuat berdiri bulu tengkukmu.

Aku, Err, dia, Bless. Kami melihatmu dari sini.


Nitaninit Kasapink







Thursday, 7 September 2017

(25) Err Dan Bless, Dunia Pengabaian

Langit malam ini luar biasa indahnya! Penuh bintang bertebaran, kerlap-kerlip cahaya kecilnya! Daun-daun nyiur ditiup angin menari. Ombak-ombak kecil seperti anak-anak yang bermain kejar-kejaran.

Aku, Err, perempuan bergaun hitam tanpa raga, hantu pantai yang memilih duduk di sini, di hamparan permadani pasir yang sejuk. Butir-butiran halusnya memberi sensasi pijat yang lembut di telapak kaki, dulu. Sedangkan sekarang aku hanya bisa mengenang betapa nyamannya butiran itu mengelus kulit.

Tak pernah sekali pun terbayang akan berada di sini, di pantai dengan gaun hitam panjang yang sejak dulu kusuka. Dengan sebiji mata kanan yang kupunya, berusaha melihat dengan jelas ke depan, ujung garis pembatas laut.

Menikmati kesendirian dalam hening adalah kebiasaan yang kulakukan sejak dulu. Lebih menyukai berada sendirian dibanding bersama dengan yang lain. Sering kali mulutku terkunci, diam, tak bisa bicara sepatah kata pun. Sendiri, menyendiri, dan itu kebahagiaanku! Aneh? Ya, aku memang aneh.

Ketika teman sebaya menyukai berkumpul, pergi bersama-sama, kulebih menyukai bergaul dengan tulisan. Buku-buku, majalah, adalah sahabat terbaikku. Jiwa tulisan lebih bisa kumengerti dibanding jiwa orang lain. Karakter tulisan lebih bisa kucerna dibanding karakter siapa pun.

Sama seperti aku lebih menyukai bersahabat dengan binatang dibanding dengan manusia. Karakter binatang lebih bisa kumengerti. Manusia amat rumit.

Tetiba sedaun nyiur melewati batas tanganku. Ah, ternyata aku tadi melamun.

"Bless!"

Kupanggil Bless yang sedang asyik menggoda seekor kucing kecil. Kucing berguling-guling di atas pasir, Bless tertawa-tawa.

"Bless!"

Berlari mendekatinya. Gaun hitam menari ditiup angin.

Bless menoleh padaku, tersenyum, bangkit, lalu membuka dua tangannya bersiap memelukku. Aku tertawa lalu mempercepat lari, kemudian masuk dalam pelukan dinginnya yang menenangkan.

"Kenapa, Err?"

Aku menggeleng pelan.

"Perempuan. Kamu perempuan yang memang perempuan."

Semakin kumasukkan kepalaku dalam peluknya yang melindungi dari segala hal yang tak menyenangkan.

"Pasti tadi kamu melamun, ya?"

"Ya. Aku mengembara ke masa lalu, Bless."

"Yuk, jalan-jalan. Berkeliling, mau?"

"Mau."

"Ayo. Bagaimana kita bisa berkeliling kalau kamu masih memeluk erat begini?"

"Aku masih mau dipeluk."

"Ya, aku peluk."

Dipeluknya aku makin erat.

"Ada apa?"

"Hanya merasa kembali berada di masa lalu, tadi. Bless, pernahkah saat berada di dunia hidup mendengar tentang kekasih yang menghilang karena diabaikan? Dia masuk ke dalam dunia pengabaian! Menjerit tak ada yang mendengar. Merintih tak ada yang peduli. Hingga akhirnya dirinya disedot masuk ke dunia bebas tanpa suara."

"Pengabaian? Aku tidak pernah mendengar itu."

"Ya, dunia pengabaian. Tidak ada kepedulian, tidak ada kasih. Hanya ada pengabaian, hanya ada ketidak pedulian. Seorang perempuan pernah hidup dalam dunia yang tidak peduli pada hidupnya."

Aku makin masuk dalam pelukannya. Baju hitamnya dibasahi air mata yang merembes keluar.

"Hey, kamu tidak boleh menangis, sayang."

Bless, love you, my big guy!

"Aku tidak menangis."

"Perempuan. Apakah basah oleh air mata bukan menangis namanya?"

Kumasukkan kepala makin masuk dalam pelukan dinginnya yang menenangkan.

"Perempuan. Kamu sedang sensitif."

Bless, love you!

"Perempuan. Jangan simpan gundahmu. Bukankah ada aku, lelaki besarmu?"

Senyum kecilku mulai terbit.

"Yuk, kita duduk di pasir yang menjorok ke laut! Biarkan ombak itu menerpa. Bukankah kita tak bisa lagi dihanyutkannya?"

Aku menganggukkan kepala.

Angin menghembus hingga gaun hitamku melambai, menari. Baju hitamnya terlihat basah karena air mataku tadi.

Hei, mengapa masih saja aku berpikir tentang dunia pengabaian, sedangkan bersamaku ada lelaki besar penuh kasih?

"Bless."

Langkahku berhenti. Tanganku menahannya agar tak melanjutkan langkah.

"Ya, Err. Kenapa?"

"Maafkan aku, Bless. Kamu lelakiku yang amat baik dan penuh kasih."

"Ya, lalu?"

"Dunia pengabaian hanya ada di masa lalu. Bukan di saat sekarang. Saat ini ada kamu bersamaku, mengiringi langkahku, mendampingiku. Tak seharusnya masih berpikir tentang kekecewaan yang bersumber di masa lalu."

"Lalu?"

"Aku bahagia bersamamu."

"Lalu?"

"Aku pernah kecewa. Tapi itu telah diubah menjadi bahagia setelah kita bersama."

"Lalu?"

"Aku tak mau bercerita tentang dunia pengabaian."

"Lalu?"

"Aku mau bercerita tentang aku, kamu, kita, dan dunia kebersamaan yang kita punya! Dunia penuh peduli dan penuh kasih!"

"Lalu?"

"Bless, aku bahagia bersamamu. Bahagia bersamamu. Ya, bahagia bersamamu."

"Sikapi dengan bahagia. Sikapi dengan senyum dan tawa. Sikapi dengan keceriaan. Jika kamu bahagia bersamaku, sikapi dengan bahagia, tunjukkan bahagia yang kita punya. Jangan tenggelam dalam masa lalu yang mengecewakanmu. Bukankah aku adalah hari ini milikmu, Err?"

Sebiji mata kirinya memandangku lekat-lekat.

"Err, lihat sebiji mata ini. Kita berbagi mata, berbagi pandang. Bahagia ini kita yang punya. Kita ada di hari ini, Err."

Serongga mata kosong kanannya gelap dan pekat.

Kupeluk Bless.

"Jangan pergi dari aku, Bless."

Erat dan penuh perlindungan yang kurasa saat berada dalam dekapnya yang dingin. Ya, aku tak akan lagi berada dalam masa kecewa yang dulu pernah ada dalam masa lalu. Hari ini adalah hari ini, dan hari ini adalah bahagia, karena Bless bersamaku.

"Hei, Err, mari kita berlomba menuju pasir yang menjorok ke laut! Ayo!"

Lalu kami berlari riang! kemudian duduk beralas pasir, menantang ombak. Kami tidak takut ombak menghajar. Kami bersama menghadapi apa pun yang terjadi. Aku bahagia, Bless bahagia, kami bahagia!

Aku, Err. Dia, Bless. Kami sepasang tanpa raga yang saling mengasihi di dunia mati. Sepasang hantu yang berbagi biji mata.

Kami pernah hidup di masa lalu, sama sepertimu. Kami punya kisah yang tak indah di dunia hidup, lalu mengubahnya menjadi kisah bahagia di hari ini.

Aku, Err. Dia, Bless. Kami sepasang hantu berbaju hitam. Aku adalah hari ini miliknya, dan dia adalah hari ini milikku. Hari ini, setiap hari. Kami adalah hari ini, bukan masa lalu, juga bukan masa depan.

Bagaimana denganmu? Masih berkutat dengan pengabaian yang pernah didapat? Atau seperti kami, menghadapi hari ini sebagai hari ini? Kekecewaan masa lalu adalah masa lalu, dan jangan mau tenggelam di sana.

Mari hadapi ombak, jangan takut!

Jangan pertanyakan kami ada atau tidak. Saat kamu tenggelam dalam kecewa masa lalu, kami hadir mengajakmu menghadapi hari ini, hanya hari ini, setiap hari. Mau?


Nitaninit Kasapink

















Tuesday, 5 September 2017

(24) Err Dan Bless, Dendang Kita

Belum pernah terpikir akan meninggalkan pantai berpasir hangat beserta laut luas yang membentang. Butir-butir pasirnya mengenalku, begitu juga setiap tetes airnya! Bertahun berada di sini mengisi hari, tak sedetik pun bosan menikmati semuanya. 

Sejak dulu semasa masih di dunia hidup, aku sering ke sini, ke pantai ini. Pantai ini menyimpan air mataku, tawaku, juga senyum yang kumiliki. Hampir seluruh jalan hidupku ditumpahkan di sini. Masa kecil, remaja, hingga dewasa, sering bermain ke sini.

Dan sekarang aku berada di sini bersama Bless, lelaki besarku yang penuh kasih. Duduk di butiran pasir yang menghampar, diselimuti hangatnya mentari.

Kakiku menggali pasir, lalu menimbunnya. Bless memainkan  pasir dengan jari telunjuknya.

"Bless, apa hobimu?"

"Hobi? Aku suka bernyanyi."

"Oh ya?"

"Ya. Dulu aku suka berkumpul dengan teman-teman, main gitar, bernyanyi sama-sama."

"Oh ya?"

"Ya. Apa hobimu, Err?"

"Aku? Membaca, menulis, dan menikmati lagu."

"Menikmati lagu?"

"Ya, hanya sebagai penikmat. Aku tak bisa menyanyi, tak hafal lirik lagu."

Bless tertawa  terbahak.

Aku suka melihatnya tertawa. Garis wajahnya terlihat ceria dan lepas, bebas.

"Aku suka lagu Beautiful Girl, Bless. Dulu aku berkhayal lagu itu dinyanyikan khusus untukku. Membayangkan sebuah jendela besar terbuka lebar, aku duduk di kursi menghadap pemandangan di luar. Seseorang menyanyikan lagu itu untukku. Khusus untukku. Ya, Bless, khusus untukku!"

Mataku menerawang jauh ke depan.

"Pernahkah seseorang menyanyikan lagu itu untukmu, Err?"

Bless menyentuh bahuku lembut.

Aku tertawa lirih, menggeleng pelan.

"Tidak pernah ada."

Aku tertawa geli mengingat khayalan masa lalu.

"Aku membayangkan, akulah si beautiful girl!"

Bless tertawa keras.

Aku menabok pelan lengannya.

"Dulu aku sering menyanyikannya sambil berkhayal ada seorang lelaki hadir dalam kehidupanku. Lembut,memesonaku."

Tawanya semakin keras.

"Jangan menertawakanku, Bless. Aku serius, aku ingin ada yang menyanyikannya untukku."

Wajahku berubah menjadi serius.

"Ya, ya, aku serius. Aku bukan menertawakan keinginanmu, tapi menertawakan mereka semua yang tak pernah tahu bahwa kamu ingin dinyanyikan lagu itu, Err."

Aku tersenyum padanya. Bless, lelaki besarku yang luar biasa! Entah kenapa menurutku dia selalu punya pemikiran berbeda.

Waktu berjalan lambat. Aku sibuk menghitung butiran pasir yang memang tak pernah mungkin bisa selesai dihitung. Sedangkan Bless sedang asyik dengan pikirannya sendiri. Kulihat senyumnya digaris dalam bibir.

Laut amat tenang tanpa ombak besar. Angin pun lirih berdesir. Tak ada keramaian di sini. Sunyi, tenang, amat menyenangkan!

Pasir ini hangat,  seakan bisa menghangatkan dinginnya dunia yang sedang kujalani. Sinar matahari memancar tapi tak memanggang.

Hei, ini hari yang sempurna!

"Yuk kita ke batu karang besar di sana, Err."

Bless menggandeng tanganku, membimbing berjalan ke arah batu karang besar.

Ombak yang berlari, saling bersahutan. Ada beberapa burung terbang melintas di langit. Damai sekali pantai!

"Duduklah di sini. Jangan bergerak. Tersenyum. Ayo tersenyum sekarang. Ya, pas! Jangan lepas senyummu!"

Bless berkata sambil tersenyum memandangku yang menahan tawa.

Angin laut mengusap kulitku dengan lembut. Rambutku yang sebatas leher dikibarkannya. Gaun hitamku juga ditiup angin.

Perlahan kudengar senandung sebuah lagu. Beautiful girl! Itu laguku!

Bless tenang menatap laut, senandung itu berasal  darinya. Bless menyenandungkan lagu yag kusuka! Lagu yang sejak dulu ingin kudengar didendangkan khusus  untukku.

Kupeluk Bless erat-erat!

"Kamu tahu, Err? Dendang ini untukmu."

"Ya, aku tahu. Terima kasih, Bless."

Pelukanku semakin erat padanya. Bless, my big guy, dia lelaki yang baik, penuh perhatian, penuh kasih. Dulu semasa masih berada di dunia penuh cahaya kehidupan, tak kutemui seseorang seperti dia. Tapi sekarang di dunia mati tanpa kehidupan, justru kutemukan sosok Bless yang luar biasa mengasihiku!

"Jangan tinggalkan aku, ya?"

Bless mempererat pelukannya. Sedangkan aku? Tentu saja makin masuk dalam pelukan dinginnya yang menenangkan.

Apakah kamu yang berada di dunia penuh cahaya kehidupan merasakan hal yang sama sepertiku? Tenang dan merasa menjadi perempuan istimewa karena kasih yang dilimpahkan tulus memenuhi cerita yang dijalani.

Atau kamu malah merasakan hal yang sama sepertiku saat berada di dunia yang sama denganmu? Berharap mendapat dendang lagu yang memang ditujukan untukku, tapi tak pernah mendapatkannya.

Kamu dan kamu yang berada di dunia hidup penuh cahaya berlimpah, berdendanglah untuk yang terkasih. Tak harus menjadi penyanyi bersuara merdu, tapi berikan dengan sepenuh kasih yang tulus. Makna kasihmu pasti akan diterima dengan getar kasih yang membahagiakan.

Aku, Err. Dia, Bless. Jangan pertanyakan kami ada atau tidak. Jika satu hari nanti kamu mendengar suara angin mendesau, itu adalah kami yang sedang saling mendendangkan lagu penuh kasih.

Satu hari nanti, kami akan mendendangkannya untukmu, kalau kamu masih saja menutup suara kasihmu untuk dia, orang terkasihmu.



Nitaninit Kasapink




















Monday, 21 August 2017

(23) Err Dan Bless, Pantai Dan Laut Yang Berdarah

Pagi, siang, sore, dan malam, pantai ini tetaplah pantai yang indah menurutku. Sepi mau pun ramai, pantai ini tetaplah pantai yang memesona! Pantai ini adalah rumah bagiku.

Rumah ini memang memesona. Enggan pindah dari sini. Aku hanya akan mengisi dunia matiku di sini saja. Bersama Bless, tentunya.

Bless, lelaki besar dengan ukuran sepatu 45 adalah senyum termanisku! Setiap bersamanya senyumku tersungging di bibir. Bibir yang dingin, katanya padaku. Ya, sedingin pelukannya. Bersamanya selalu saja ada alasan untuk tertawa. Bergandengan tangannya membuatku merasa istimewa. Memeluknya menyamankanku. Tempat terindahku ada di dalam pelukannya yang menenangkan.

Damaiku mengalun saat nada-nada lagu didendangkannya untukku. Senyumnya yang sedikit melindungiku dari segala hal. Tawa dan seluruh candanya adalah penghibur yang luar biasa. Keseriusannya membawaku pada sebuah ruang bernama hening. Dan tangisnya adalah pernyataan bahwa dia pun sama sepertiku,membutuhkan kasih yang menyembuhkan luka.

Bless adalah lelaki sempurna untukku!

"Err, di biji yang kamu berikan untukku terasa ada banyak air mata menggenang. Ada banyak guratan luka di sini. Ada banyak kedukaan diiris."

Itu yang diucapkan oleh Bless padaku waktu itu. Pandangnya masuk menusuk ke dalam biji mataku. Memandang tanpa berkedip membuatku tak bisa mengelak.

"Haruskah kujelaskan?"

"Aku serius. Ada banyak gurat luka terluka kudapati di biji mata ini. Air mata pun amat mengenang, malah membanjir di dalamnya. namun tak dapat mengalir. Ada sebuah kekuatan yang menahannya untuk tetap terlihat kering. Entah apa."

Aku menatap sebiji mata Bless yang berasal dari rongga mataku.

"Ceritakan padaku. Jelaskan padaku. Aku tak ingin kamu menyimpan kesedihan. Aku tak ingin kamu bersedih. Aku tak ingin kamu menyimpan cerita penuh luka yang masih basah."

Lembut direngkuhnya aku dalam pelukan dingin.

"Kuras seluruh cerita sedihmu. Beri untukku, agar kita musnahkan bersama. Bukankah kamu pernah berkata bahwa tak akan pernah ada duka asal kita selalu bersama?"

Bless, kamu sealu saja tahu apa yang kurasakan. Padahal sudah kutahan dan kujaga seluruh kenang masa lalu yang luka.

"Jangan disimpan, Err. Musnahkan saja seluruh duka. Bukankah kita berdua saling membahagiakan?"

Berusaha menata hati, menetralisasi emosi, kututup mata.

"Ya, banyak luka yang masih menjadi luka, belum menyembuh, belum mengering. Luka yang masih terbuka walau sudah lama terjadi."

Gaun hitamku diterbangkan angin seperti hendak meninggalkanku untuk menari bersama kupu-kupu menuju angkasa yang luas!

"Err, ayo cerita. Kosongkan seluruh sakitmu. Buang semua kepahitan yang membelenggu. Musnahkan dengan cahaya kebahagiaan yang kita miliki."

Sebiji mata Bless mulai mengalirkan darah berwarna hitam. Sebiji mata yang dulu kuberikan padanya.

Perlahan kulihat tetes hitam kental keluar dari sebiji mata kiri Bless. Amat pelan mengalir, lebih pelan dibanding siput berjalan. Mengalir terus dan terus. Hitam, kental, dan berbau anyir.

Lalu darah hitam kental itu bagai ombak besar keluar dari biji matanya! Mengalir deras dan makin deras!

Tetiba aku tersentak karena menyadari bahwa darah hitam kental anyir yang mengalir itu adalah kenang terpendam yang sejak dulu kukubur dalam-dalam, dan sekarang mengalir dari sebiji mata yang mengisi rongga matanya! Itu kenang buruk masa laluku!

"Err, aku mendesak biji mataku agar mengeluarkan seluruh kisah pahitmu. Dan sekarang terasa akan melesat dari biji mata ini. Guratan-guratan pun terasa menggeliat di sana. Mereka bergerak, Err. Mereka menusuk, saling menusuk! Err, ini sungguh kesakitan yang amat sangat! Ini kepahitan yang amat pahit! Err, bagaimana mungkin kamu menyimpannya semasa lalumu?"

Aku terkesiap memandang wajah dan tubuhnya yang dibanjiri darah!

"Err, lepaskan semua rasamu. Jangan lagi dikekang, jangan pula dipenjarakan. Ini kisah yang membusuk dalam hidupmu dahulu, dan tetap dibawa hingga detik ini. Err, musnahkan semua ini. Bukankah kita bahagia saat bersama? Masa lalumu bukan penghenti bahagiamu."

Aku bagai dipaku di tempatku berdiri.

"Err, sebiji mata ini mengeluarkan bagian kenang kelammu. Kamu tahu kenapa saat ini dia keluar? Karena aku mencintaimu. Berusaha keras membahagiakanmu. Kenang hitammu menggelegak! Mereka tak ingin kamu bahagia utuh. Awalnya kamu memenjarakan, tapi akhirnya mereka yang membelenggumu!"

Aku diam melihat seluruh kejadian mengerikan yang ada di hadapanku. Terus mengalir, bahkan ada yang menggumpal, ada yang berbentuk bongkahan.

"Err, lepaskan kenangmu, Err. Agar tuntas semua kelam masa lalu. Biarkan kenang hanya menjadi cerita pembelajaran kita saja."

Kengerian mencengkeramku!

"Err, ayolah lepaskan."

Aku mengatupkan mata, berusaha mendorong seluruh kegelapan yang menyelimuti masa lalu. Kisah hitam kelam yang selama hidup menghantuiku, lalu setelah berada di dunia mati pun mengganggu.

"Ayo, Err. Jangan mau diam dalam kedukaan yang menyiksa. Kita bahagia, Err. Kita! Kamu dan aku."

Semakin kudorong keluar. Harus! Harus musnah dari kisahku! Keluarlah masa lalu yang mencekam jiwa, musnahlah kenang gelap yang menyelimuti!

Terasa ada yang mendesak menyesak di rongga mata! Terasa pedih, perih, ngilu!

"Buang Err, musnahkan kenangmu yang gelap!"

Lalu dari sebiji mataku keluarlah bongkahan-bongkahan darah hitam yang amat anyir! Menggelinding keluar. Dari rongga mata kosong pun meloncatlah darah hitam beku yang membentuk seperti bola bergerigi. Amat menyakitkan!

Seluruh lubang pori-pori meregang. Menggelincir pula darah hitam beku dari setiap pori-pori!

Lubang telinga, lubang hidung, seluruh lubang yang ada, semua mengeluarkan bongkahan besar, kecil, yang amat menyakitkan! Juga dari lubang akar rambut!

"Bless, ini menyakitkanku. Bless, tolong aku!"

Seluruh tubuh banjir darah hitam pekat dan amat anyir!

Air mata pun berupa darah hitam kental yang sama anyirnya!

"Bless, tolong aku! Bless, aku tidak sanggup!"

Aku memekik, menjerit.

"Teruskan, Err. Kita bisa lalui ini semua. Kamu harus menuntaskan pemusnahan kenang pahit yang membuatmu sakit. Ada aku, Err."

Bless memandangku sambil melengkungkan senyum di bibir.

Pantai bersimbah darah hitam pekat. Udara mengantar anyir yang amat menjijikkan! Laut berubah menjadi laut darah hitam kental!

Aku bisa, aku bisa menuntaskan seluruh kisah lama yang pahit dan menetap sebagai kepedihan yang menduka.

Aku harus menuntaskan pemusnahan cerita kelam yang disimpan dalam memori seumur hidup yang meracuni.

Aku ingin tenang menjalani kisah di duniaku sekarang, dengan cara memusnahkan kisah duka semasa berada di dunia hidup.

Aku mencintai Bless. Aku bahagia bersamanya. Musnahlah, musnahkan kenangan pahit.

"Bagaimana kita bisa bahagia dan damai jika masih menyimpan duka lara serta kepahitan dalam jiwa?"

Ya, Bless. Ya, aku bahagia bersamamu!

Aku, Err. Dia, Bless. Kami sepasang tanpa raga yang berbaju hitam, ada di sini saling mendukung, berusaha saling membahagiakan.

Aku, Err. Dia, Bless. Kami hantu pcinta hitam yang saling berbagi kasih. Ini salah satu cara kami mengasihi satu sama lain. Musnahkan seluruh cerita hidup yang dipenuhi duka, sakit hati, amarah, juga dendam kebencian. Karena bahagia akan utuh terasa jika seluruh hati berisi damai yang tenang.

Bagaimana denganmu, masihkah menyimpan kepahitan di sudut jiwa terdalam?

Jangan pertanyakan kami ada atau tidak. Kami melihatmu dari sini, dunia mati.


Nitaninit Kasapink



















Thursday, 17 August 2017

(22) Err Dan Bless, Bersamamu Dalam Hitam

Laut ini masih laut yang sama, dengan ombak  yang sama, hamparan butir pasir yang juga sama, hembusan angin yang sama, dan cahaya matahari yang memang sama. Semua sama seperti biasanya. Tidak ada yang berbeda.

Menikmati sinar matahari yang memanas di kulit pastilah menyenangkan sekali! Tapi tidak untukku. Matahari tidak bisa menyengatkan sinarnya padaku. Hai, betapa luar biasanya hidup di dunia ini! Di saat kamu berjemur ingin menggelapkan kulit, aku tak dapat disentuh oleh panasnya sedikit pun. Dan saat kamu berlindung dari sengatan matahari, aku memang tak dapat menggelap!

Gaun hitamku selalu berkibar seperti layar kapal dihembus angin. Rambut seleher diacak angin. Tapi biar saja, kubiarkan terlihat seperti sedang dipermainkan angin. Padahal mana mngkin angin menyentuh gaun dan rambutku? Dunia berbeda yang memberi perbedaan besar.

Ini gaun hitam yang amat kusuka! Tanpa renda, tapi membuatku merasa anggun. Ayah yang membelikan untukku.

"Kamu cantik dengan gaun hitam, Ell."

Itu yang diucap ayah padaku. Ell? Ya, itu panggilanku. Karena saat kecil kesulitan mengucap huruf 'r', maka namaku menjadi,"Ell." terkadang ayah memanggilku Err, dan terkadang Ell.

Banyak orang berpikir aku selalu mengenakan warna hitam karena kedukaanku ditinggal Su. Aku hanya tertawa saat mereka berkata itu padaku. Mereka salah! Aku menyukai hitam sejak aku kecil. Hitam menenggelamkanku dalam hening yang damai. Ya, warna hitam melindungiku dari tatapan orang. Aku terselamatkan dari pandangan siapa pun. Hitam menghilangkanku dari kehidupan ramai. Dalam warna kelam itu aku merasa didekap erat oleh ketenangan yang luar biasa menyejukkan. Hanya ada aku dan hening yang tenang dan damai. Tidak ada siapa pun lagi.

Kemudian aku mencintai malam. Karena dalam malam ada gelap yang memenjara. Dan gelap itu pun berwarna hitam! Hitam yang kucinta! Saat malam pun kumerasa tak ada kegaduhan yang sibuk. Semua dibungkus oleh tenang. Kalau pun ada kehebohan yang hiruk-pikuk, tetap saja malam mengemas dengan cantik. Riuh itu menjadi senyap karena tanpa tergesa diburu waktu.

Aku mencintai hitam, tapi sekitarku tak menyukainya.

"Warna berduka!"

"Warna berkabung!"

"Warna yang mati!"

Aku tak peduli apa kata orang tentang kecintaanku pada hitam. Tapi itu mempengaruhiku memilih baju. Ada banyak warna di lemariku. Padahal aku tak suka!

Su, lelaki itu pun tak menyukai hitam.

"Hitam? Kamu aneh!"

Senyumku mengembang mendengar celaannya. Apakah warna lain lebih terhormat dibanding warna kecintaanku? Kurasa tidak. Semua warna punya arti sendiri.

Hanya ada Bless yang mencintai hitam sepertiku, dan dia selalu mengenakan warna hitam.

"Hitam adalah warna kecintaanku," katanya satu hari padaku.

Hai, aku baru menyadari ternyata kami sepasang hantu yang berbaju hitam! Yey, sepasang hantu berbaju hitam! Sepasang tanpa raga yang berbaju hitam!

Jika kamu bertemu dengan kami, apakah kamu takut? Kami berdua berbaju hitam, dari dunia mati.

Tidak, tidak, kami tidak akan mengganggumu. Kami tidak akan pernah ingin berada dalam dunia hidupmu lagi. Penuh dengan permusuhan dan juga penuh dengan kepura-puraan.

Aku dan Bless berusaha saling mendukung agar kami bisa melepas amarah, benci, apalagi dendam yang mungkin pernah ada di masa lalu. Kami ingin tenang berada di sini.

"Eeeerrr!"

Suara Blessmenggetarkan pendengaranku!

"Sedang apa, Err?"

"Berpikir."

Bless tergelak.

"Memangnya kamu bisaberpikir? Bukankah kamu berkata bahwa kamu tak suka berpikir?"

Aku tertawa geli.

"Aku sedang berpikir tentang sepasang hantu berbaju hitam!"

"Hantu berbaju hitam? Sepasang?"

"Iya, sepasang hantu berbaju hitam."

Keningnya berkerut.

"Maksudmu?"

"Ada sepasang hantu berbaju hitam, Bless."

"Ya,di mana?"

"Kita, Bless! Kamu dan aku! Kita adalah sepasang hantu berbaju hitam! Lihat bajumu, celanamu, juga gaunku. Kita sepasang hantu berbaju hitam, bukan?"

Bless tergelak. Diraihnya jemariku, digenggamnya erat.

"Ya, ya, kita sepasang hantu berbaju hitam."

"Ya, kita sama-sama berbaju hitam."

"Karena kita mencintai hitam."

"Kamu hanya mencintai hitam?" Tanyaku.

"Ya,aku hanya mencintai hitam."

"Kamu tidak mencintaiku?" Tanyaku lagi.

Direngkuhnya aku dalam pelukannya.

"Masih butuh jawaban?"

"Iyaaaaa!"

Lalu kami tertawa bersama.

Hai, aku, Err. Dia, Bless. Kami sepasang tanpa raga yang berbagi kasih di dunia mati. Kami sepasang hantu berbaju hitam.

Kami berbaju hitam karena kami mencintai warna hitam. Bukan karena terpaksa, atau dipaksa oleh siapa pun. Kami memilih warna hitam karena keinginan kami sendiri. Tak peduli apakah kamu menyukai warna ini atau tidak. Juga kami tak akan pernah memaksamu menyukai warna ini, dan tak akan memusuhimu karena warnamu berbeda dengan kami.

Aku, Err. Dia, Bless. Kami mencintai hitam, dan memang pecinta hitam, selain tentu saja kami saling mencintai.

Aku mengenakan warna hitam bukan karena Bless. Bless mengenakan warna hitam juga bukan karena aku. Kami kebetulan mencintai warna yang sama, lalu mengekspresikan dengan menggunakannya dalam gerak kami.

Bagaimana denganmu? Apakah kamu memaksakan warna piihanmu pada yang lain? Apakah pecinta warna yang berbeda denganmu memaksakan warnanya untuk kamu kenakan?

Warna adalah pilihan. Setiap warna punya karakter sendiri, punya cerita sendiri. Karena kami pecinta hitam,maka kami hanya bisa menceritakan padamu tentang warna hitam dalam kebersamaan kami.

Warnamu adalah warnamu. Warnamu adalah pilihanmu. Seperti kami, warna ini adalah pilihan kami. Kamu boleh saja tak menyukai warna kami. Tak harus menyukai warna kami.

Masih bertengkar karena memilih warna yang berbeda? Masih saling memusuhi karena tak sama dalam warna?

Satu hari nanti kami akan datang padamu dalam warna hitam yang kami cintai. Sepasang hantu berbaju hitam akan menyambangimu di malam yang kelam. Hendak bertanya apakah kamu menyukai warna yang sama dengan kami atau tidak. Kalau kamu suka, berarti kita sama pecinta hitam. Kalau tidak suka, berarti kita berbeda. Tapi jangan takut, kami hanya ingin bertanya itu saja, tidak lebih dari itu.

Aku, err. Dia, Bless. Warna adalah warna, dan terserah padamu hendak memilih warna apa untuk mengisi hidupmu. Jangan biarkan siapa pun memaksakan warnanya bagimu, dan jangan memaksakan warnamu pada yang lain.

Kami sepasang hantu berbaju hitam melihatmu dari sini, dunia mati.


Nitaninit Kasapink