Saturday, 22 July 2017

Err Dan Bless, Jangan Pergi!

Hai, aku, Err. Sedang apa kamu di sini? Sepertikukah, menunggu senja datang sambil memandang ombak kecil yang berlari menerjang karang.

Apakah kamu mencintai laut sepertiku? Laut yang tenang, dan laut yang marah. Ombak yang kecil, ombak yang besar. Ikan yang berenang riang, dan ikan yang sembunyi dalam celah batu.

Pernahkah kamu melihat hantu di pinggir pantai sedang mengheningkan diri di batu sambil mengecipakkan air laut? Pernahkah kamu menjadi hantu? Ah, tidak, tidak, ini pertanyaan terkonyol yang pernah kulontarkan padamu.

Sedang apa kamu di sini? Memerhatikan awan berarak, menantang terik matahari, dan menghadang angin, sepertiku?

Aku ada di sini karena inginku sendiri. Pergi dari keriuhan yang hingar bingar. Menemui keheningan yang sepi, tapi bukan kesepian yang hening. Aku menyatu dalam hening sunyi tanpa nada, dan itu membuatku tahu bahwa sahabat terbaik untukku adalah hening.

Biasanya aku ada di sini bersama Bless. Sudah pernah berkenalan dengan Bless? Lelaki tinggi besar dengan sebiji mata kiri, dan serongga kanan mata kosong. Hantu lelaki yang berbagi pandang denganku. Tapi Bless menghilang! Meninggalkan jejak yang dalam. Jejak kaki berukuran 45 ada dalam kenang. Sedangkan sosoknya, entah ada di mana.

Bersama Bless, kunikmati hening. Berdua masuk dalam hening yang tanpa suara, tanpa kata-kata. Genggaman dan dekapnya lebih dari cukup untuk menguras seluruh cerita yang bergumul dalam hati.

Hening berdua dengannya mendamaikan seluruh lara. Mengobati semua luka yang menganga.

"Bless."

Tak ada yang menjawab. Suaraku dibawa angin yang halus menerpa.

"Bless, kamu ada di mana?"

Tak ada Bless di sini. Hanya ada aku sendiri.

"Bless."

Tak ada siapa-siapa.

"Kenapa kamu pergi meninggalkanku, Bless?"

Sama seperti tadi, tak ada yang menjawab.

"Bleeeeeess! Kamu jahaaaaat!"

Suaraku bergema di dalam karang.

Kesedihan ini tak dapat lagi ditahan. Meraung dalam gelap.

"Jangan pergi, Bless. Jangan pergi!"

Raungan ini menjadi semakin keras.

Air mata menitik, lalu menderas dari sebiji mata kananku.

"Bleeess, aku tak butuh mata yang menangis. Aku butuh sebiji mata yang memandang bersamamu."

Kuambil bii mataku, menimangnya, mengelus, lalu melemparkan sejauh mungkin ke ujung batas laut!

"Aku tidak butuh sebiji mata menangis, Bless!"

Tangisku menggelegar. Ombak pun membesar. Angin bertiup seakan siap menerbangkan siapa pun yang menghadang!

Raunganku menyayat, mengiris telinga yang mendengar! Membangkitkan rasa takut yang berada di pantai. Semua berlomba menyingkir!

Aku tidak bisa menahan gemetar dalam hati. Ini kesedihan terdalam yang kumiliki. Ini kehilangan yang menyakitkan!

Teringat masa lalu yang memenjarakanku dalam kepedihan pahit. Lelaki di masa lalu yang pergi dan tak pernah berkabar lagi.

"Bless, kumohon jangan biarkan aku jatuh cinta padamu jika akhirnya hanya mengiris dan menyakitkan kisahku."

Merintih sambil melempar pasir ke atas langit. Berhamburan butirnya masuk dalam rongga mata kosong hingga penuh!

"Aku perempuan bermata pasir, Bless!Penuh butiran kasar! Aku perempuan bermata kosong! Aku adalah kamu yang dulu, Bless!"

Jatuh lunglai tergeletak di pasir basah. Aku tak peduli. Kepala terkubur pasir. Kepiting kecil berjalan miring melintasi rambutku.

Gelap, kegelapan, kosong merongga. Aku tak tahu harus berbuat apa.

"Pantai, laut, pasir, maafkan aku. Tak lagi bisa memandangmu seperti dulu. Tapi kenang ingatan pemandanganmu, tercatat rapi."

Sepi. Tak terdengar suara apa pun. Ombak juga berbisik takut-takut.

"Bless, aku sedih tanpamu."

"Aku juga, Err. Aku sedih tanpamu."

"Bless?"

"Ya, Err. Aku, Bless."

"Bless, jangan tinggalkan aku. Berjanjilah untuk tidak pernah tinggalkan aku."

"Aku tidak meninggalkanmu, Err. Aku hanya pergi sebentar untuk menggali ingatan tentang masa lalu. Bukankah kamu sering kali bertanya tentang masa laluku?"

"Bless, jangan pergi. Jangan pergi."

"Tidak, Err Aku di sini. Mana sebiji matamu?"

Kurasakan dua tangan memegang wajahku.

"Mana sebiji matamu, Err?"

Aku hanya diam tak bisa menjawab.

"Err, mana sebiji matamu, Err? Siapa menyakitimu? Err?"

Suaranya mulai terdengar panik. Aku terisak tanpa air mata.

"Bless. Bless, maafkan aku."

"Ufh, kamu membuangnya?"

Aku tetap diam, tapi memeluknya lebih erat dari sebelumnya. Isakku lebih keras.

"Karena aku?" Tanyanya sambil memeluk erat.

Isakku lebih kuat lagi.

"Kamu buang ke mana?"

"Laut."

"Yakin kamu buang ke sana?"

Kuanggukkan kepalaku kuat-kuat.

"Tunggu di sini." Ujar Bless.

Dilepaskannya pelukannya. Lalu kurasakan sesuatu dimasukkan dalam rongga kosong mata.

"Bless! Sebiji mataku!"

Dijawilnya pipiku, kemudian dia berkata,"Aku melihatmu dari belakang. Saat sebiji mata dilempar, kutangkap."

"Oh ya?"

"Ya. Dasar perempuan. Jangan mengambil keputusan saat sedang emosi."

Selalu dan selalu, masuk dalam pelukannya adalah tempat terdamai yang kutemukan.

Bless, lelaki tanpa raga yang memiliki sebiji mata, hantu pantai, hantu laut, entahlah apa lagi sebutannya, dia adalah lelaki yang kukasihi. Dia pun mengasihiku.

Bagaimana denganmu? Saling mengasihikah dengan kekasihmu?

Aku, Err, dan dia, Bless. Kami sepasang tanpa raga yang berusaha saling melengkapi. Sekarang kami ada di dunia berbeda, tapi pernah sama seperti kalian, hidup di dunia yang hidup. Jangan terlambat seperti kami. Karena belum tentu sesudah berada di dunia kami, kalian bisa merasakan hal yang sama seperti kami.

Aku, Err. Dia, Bless.


Nitaninit Kasapink
















   





Err Dan Bless, Ada Cinta Dalam Bajaj

"Kita keliling kota!"

"Horee! Aku mau, aku mau!"

"Naik apa?"

"Bajaj! Bajaj yang berwarna biru!"

"Hei, ide bagus, Err! Yuk, aku sudah lama tidak naik bajaj."

Bless menghentikan sebuah bajaj yang hendak melintas. Ah Bless, bersamamu selalu ada kejutan indah!

"Sudah lama sekali aku tidak merasakan naik bajaj!"

Ah, Bless. Aku juga sama, sudah lama tidak naik  bajaj.

"Terima kasih, Bless. Hari yang indah!"

Duduk di dalam bajaj tanpa suara, menyandar santai.

"Bless, kita ke mana?"

"Keliling ke mana pun kita mau. Jangan berhenti sebelum waktunya."

"Sampai kapan?"

"Sampai pada waktuya harus berhenti."

"Kapan?"

"Err, sepertinya aku mengenal seseorang sepertimu di masa lalu. Tapi aku tak bisa mengingatnya. Aku hanya merasa kamu seperti dia. Selalu penuh dengan cerita. Kurasa jika kamu bertemu dengannya, pasti suasana menjadi amat ramai!"

"Siapa?"

"Kamu memaksaku mengingat hal yang tak kuingat?"

Aku tertawa. Bless, kamu selalu menyenangkan untukku.

"Bless, cinta itu penuh logika atau tanpa logika?"

"Perempuan selalu penuh emosi. Hahaha!"

"Nooop!" Teriakku.

"Ya, perempuan selalu mau menang sendiri. Perempuan selalu merasa menjadi yang paling benar. Perempuan itu, ah tapi kamu tidak seperti perempuan yang lain."

Aku tertawa terbahak-bahak.

"Aku perempuan, Bless! Atau aku sebenarnya bukan perempuan?"

"Kamu perempuan berlogika, mungkin."

Mataku memandang lurus ke depan. Berusaha melebur dengan perjalanan. Juga karena tak berani menatapnya.

"I love bajaj!"

Aku menoleh padanya, Bless, lelaki sebiji mata kiri.

"I love bajaj, Err! Bagaimana denganmu?"

Aku tertawa tanpa menjawab.

"I love bajaj!"

"Hai, jangan berteriak! Kamu pikir sopir bajaj ini suka mendengar teriakanmu?"

"Hahaha! Coba saja kamu tanya padanya, apakah aku boleh tertawa, berteriak, ataukah aku harus berbisik di telingamu?"

O ow! No!

"Berteriak sajalah. Bebas berteriak. Ini dunia yang peuh dengan teriakan!"

"I love bajaj, Err! I love bajaj!"

Huh, malah mencintai bajaj, bukan mencintaiku!

"Bajaj punya kenangan sendiri untukku."

"Oh ya? Ceritakan padaku, Bless."

"Keliling kota berdua naik bajaj. Mengobrol tanpa henti."

"Dengan siapa, Bless? Kamu sudah bisa mengingat masa lalumu?" Tanyaku hati-hati.

"Hahahaha. Akan jadi masa lalu, tepatnya!"

Aku melihatnya dengan wajah bingung.

"Maksudmu?"

"Err, bukankah kita sedang keliling kota berdua naik bajaj? Dan kita mengobrol tanpa henti! Ya, atau tidak?"

Tawanya dan  tawaku mengisi ruang. Tak peduli bagaimana sang sopir menilai kami.

"Sini, Err. Aku bisikkan sesuatu."

Dia lambaikan tangannya, mengisyaratkan agar aku mendekat.

"Yes, Bless." Sambil beringsut mendekat.

"Mungkin pak sopirnya berpikir, kita ini suami istri yang cerewet!"

"Bless, berbisik itu bicara dengan volume rendah, bukan berteriak."

"Kalau aku tidak berteriak, nanti kamu tidak mendengar."

"Pendengaranku masih oke." Jawabku agak ketus.

"Wah hebat, sudah bisa ngambek."

Tawanya membahana.

"Aku tidak ngambek, Bless."

"Oh bukan ngambek."

"Yup, bukan. Aku masih dalam tahap belajar ngambek. Satu saat nanti aku pasti akan ngambek."

"Jangan. Tidak boleh. Kamu tidak boleh ngambek. Oh boleh, boleh, tapi hanya setahun sekali."

"Setahun sekali? Ok, berarti aku akan ngambek sekarang, karena hanya diperbolehkan ngambek setahun sekali ," ujarku.

Bajaj membawa kami berkeliling. Entah ke mana, tanpa tujuan. Hanya ingin mengisi waktu bersama.

"Bless, I love you. Tapi bukan berarti aku harus memilikimu, loh. Cinta bagiku adalah anugerah. Bisa mencintaimu adalah anugerah. Kamu mencintaiku atau tidak, itu bukan urusanku."

Tak ada jawaban sama sekali. Hanya suara ramai jalan raya yang terdengar.

"Bless, Yes I love you, tapi aku tahu kamu masiih punya tugas untuk kamu selesaikan. Ada hal yang menjadi prioritasmu untuk dikerjakan, dan itu  bukan aku. It's ok for me. Kan aku mencintaimu karena cinta, bukan karena ingin menguasaimu, bukan karena ingin memilikimu. Hanya menikmati perasaan cinta yang ada di hati."

Hening. Kubuang tatapanku ke arah jalan di depan. Tidak menoleh ke arahnya sedikit pun. Aku takut terperangkap dalam rasa ingin memiliki jika melihat tatapannya. Mata yang menatap bisu. Mata yang memandang dalam-dalam, tapi sinarnya suram.

Ya, dia Bless, lelaki yang kucintai selama ini. Senyum segaris tipis yang terkadang aku malah ragu menyebutnya sebagai senyum. Datar, ya datar. Garis keras di wajahnya amat datar. Tidak terlihat ada lonjakan emosi sepertiku. Hahaha, jelas saja berbeda. Perempuan dan lelaki, perbedaan yang jelas sekali.

"Err, boleh pegang tanganmu?"

Terdengar sayup-sayup lagu You and I dari Scorpions, di telinga Entah hanya halusinasiku atau bukan.

You and I just have a dream.

To find our love a place, where we can hide away.

You and I were just made.

To love each other now, forever and a day.

"Err...."

Mataku basah mendengar lagu yang memanja di telinga dan mengusap hati.

"Err, boleh kugenggam tanganmu?"

You and I just have a dream, to find our love a place, where we can hide away.  Kalimat yang membuatku banjir air mata. Ya, just a dream for me.

"Err, Err..."

"Oh ya, kenapa, Bless?"

"Melamun?"

"Aku?"

"Ya iya, siapa lagi? Sopir bajaj melamun? Sudah tabrakan dari tadi kita kalau dia melamun." Jawab Bless sambil tertawa.

Aku suka tawanya. Aku suka garis yang ada di wajahnya saat dia tertawa. Ada cahaya kecil di sana, di ujung bibirnya.

"Err!"

"Yes!"

"Boleh kugenggam tanganmu?"

Kuulurkan tanganku, masuk dalam genggamannya. Entah apa yang dia rasakan saat ini. Menggenggam telapak tanganku yang kasar. Sedangkan aku harus meredakan debur yang kurasa dalam dada. Ini mengalahkan debur ombak!

"Aku mencintaimu dengan logika, Bless. Aku ingin kamu bahagia. Saat kamu bahagia, aku tahu aku pun bahagia. Aku mencintaimu bukan untuk memilikimu. Bukan memintamu untuk selalu ada di sisiku. Tapi aku ada untukmu."

"Jangan meninggalkan aku, ya?"

"Aku ada. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji."

It's all written down in your lifelines.

It's written down inside your heart.

Lagi-lagi potongan lagu itu masuk dalam telinga.

Sopir bajaj jadi saksi cinta penumpang yang dibawa tanpa arah tujuan pasti.

"Bless, lain kali kita keliling kota naik becak, ya?"

"Bu, Pak, jangan naik becak kalau mau keliling kota. Kasihan bapak becaknya. Ini aja bensin saya sampai habis." Celetuk si sopir.

Bless terbahak-bahak juga aku.

Ada cinta dalam bajaj!

"Err, kamu sedang apa?"

"Bless!"

Debur ombak bergemuruh. Pantai ini, laut ini, pasir ini, agin ini, langit ini, bebatuan ini, karang ini. Hei, aku di pantai tempatku biasa berada!

"Kebiasaan buruk. Melamun." Ujar Bless mengusap rambut seleherku.

Kutatap matanya. Ya, Bless dengan sebiji mata kiri! Sedangkan dalam lamunanku, Bless dengan dua mata. Tapi aku mencintainya. Seperti apa pun dia, aku mencintai Bless yang berbagi pandang denganku.

Sambil masuk dalam pelukannya, aku berbisik,"Bless, aku mau naik Bajaj."

Aku, Err. Dia, Bless. Kami bersama dalam kisah hari ini. Dan kami selalu ada di hari ini. Bagaimana denganmu dan kekasihmu?



Nitaninit Kasapink


































































































































































Wednesday, 19 July 2017

Err Dan Bless, Kami Saling Mengisi

Hai, namaku, Err. Aku di sini karena aku mencintai pantai, laut! Aku cinta pantai yang berpasir, karang, bebatuan, dan suara ombak laut tanpa henti, juga angin yang berhembus menyejukkan.

Aku, Err, perempuan yang biasa sendiri, dan amat suka menyendiri. Punya masa lalu yang panjang. Tak akan cukup setahun bercerita tentang semua, karena amat panjang! Juga perlu mengguatkan hati untuk menceritakannya.

Ya, aku, Err, lebih menyukai hening dibanding riuh hiruk pikuk manusia. Lebih memercayai bercerita pada hening yang damai. Karena itu aku lebih banyak diam saat menghadapi kejadian. Hanya mataku saja yang menatap dalam saat aku berhadapan dengan orang lain. Ya, itu dulu,  di masa lalu.

Err, namaku Err. Hanya Err, tanpa tambahan nama lain. Nama yang sederhana dan mudah diingat, bukan? Err.

Panggil aku, Err. Perempuan bermata cerewet, karena mataku lebih banyak berkata-kata dibanding mulut. Aku membaca sosok orang yang ada di hadapan, dengan mataku. Membaca hati dan pikiran. Semua tanpa suara, tanpa kata-kata.

Tak akan sulit menemukanku di sini, karena di antara banyak sosok yang bisa kamu temui di sini, yang menikmati pemandangan seperti di masa lalu, hanya aku. Ya, berada di sini memang untuk menikmati sepenuh hati.

"Err," suara yang lembut memanggilku.

"Bless," sedang apa di sini?

"Aku? Mencarimu tentu saja. Kupikir kamu ada di sebelah sana, ternyata sembunyi di dalam lubang karang ini."

Bless mengambil posisi duduk di sisiku. Kakinya sama sepertiku, melipat lutut agar bisa menumpu tangan. Disenggolnya tubuhku pelan, lalu tersenyum menggoda.

Dia, Bless. Lelaki yang penuh kasih. Bersamanya menimbulkan rasa nyaman dan aman. Selalu membuatku merasa seperti seorang putri cantik! Bless luar biasa, bukan?

Panggil dia dengan sebutan Bless. Namanya memang Bless. Dan kurasa itu sesuai dengan sosoknya yang pastinya merupakan anugerah untuk siapa pun.

Jangan tanya padaku nama lengkapnya. Bless, hanya Bless. Itu yang kutahu. Dia pun menyebutkan namanya Bless. Mungkin memang namanya sama sepertiku, hanya terdiri dari 1 suku kata. Mudah diingat. Atau mungkin saja namanya amat panjang, tapi dia lebih menyukai nama yang singkat, Bless.

Bless, lelaki tinggi besar. Aku hanya sebahunya. Lumayan lelah saat bicara padanya, atau jika ingin menatap matanya.
 karena harus menengadahkan kepala.

Dia lelaki bermata kosong saat bertemu dengannya pertama kali. Kosong, benar-benar kosong! Ada banyak cerita dalam rongga kosong yang gelap itu, kurasa. Tapi dia tak ingat apa pun, atau mungkin enggan bercerita mengenai masa lalunya? Entahlah. Kurasa itu adalah haknya untuk memilih bercerita atau diam.

"Err," dia memanggilku.

"Yes, Bless."

"Aku cuma ingin memanggil namamu."

"Ya, aku juga senang memanggil. Tapi takut kamu menolak."

"Hei, kenapa kamu pikir aku akan menolak?"

"Entahlah, Bless. Begitu banyak penolakan terjadi dulu."

Menerawang memandang laut yang jauh di sana.

"Hus, jangan suka melamun. Nanti kesambet, loh!"

"Hahaha, iya, Bless. Bisa kesambet hantu mata kosong, ya?"

"Hai, aku sudah punya sebiji mata! Lihat nih, lihat!"

Dipamerkannya mata sebelah kiri. Ya, mata itu ada di sana, tak lagi kosong seperti rongga di kanannya.

"Iyaaa, iyaaa! Tapi mana bisa aku kesambet? Hantu mana pun ga akan bisa bikin aku kesurupan, Bless!"

Tawa kami menggema di dalam karang.

"Err."

"Bless."

"Err, aku sayang kamu. Entah kamu tahu atau tidak."

"Aku tahu, kok."

"Oh ya? Dari mana?"

"Dari caramu memperlakukanku. Aku merasa menjadi istimewa saat bersamamu!"

"Oh ya? Padahalaku biasa-biasa saja bersikap padamu."

"Maksudmu? Bless, maksudmu?"

Bless berlari menjauh sambil tertawa-tawa. Huh, dasar hantu iseng!

Lalu asyik saling mengejar seperti saat kecil. Menyenangkan sekali! Ceria setiap bersama dengannya.

"Bless."

Aku duduk di antara karang. Bless ikut duduk, tapi di hadapanku.

"Jangan di depanku!"

"Kenapa?"

Kamu menghalangi pandang."

Dia berdiri lalu berjalan ke arahku, kemudian duduk di belakangku.

"Bless! Aku tak bisa melihatmu!"

"Err, aku di belakangmu agar tak menghalangi pandangmu. Kita sama-sama memandang ke depan."

Direngkuhnya aku erat dari belakang.

Bless selalu punya cara unik dalam menyampaikan sesuatu.

"Err, kalau aku menghilang 10 hari, atau seminggu, bagaimana?"

"Tidak! Jangan!"

Hening. Kami masuk dalam diam, dalam hening masing-masing. Tapi erat dekapannya menentramkan, aku tidak sendiri.

Panjangnya cerita masa lalu, tak ada satu kisah pun seperti sekarang. Ini amat membahagiakan. 

"Bless, kamu tahu bagaimana caraku mencintai?"

"Tidak. Perempuan itu sulit ditebak."

"Hahaha! Aku aja tak pernah bisa mengerti tentang perempuan. Padahal aku perempuan."

Tak ada sahutan.

"Bless, aku mencintai dengan logika. Menurutku, mencintai seseorang dengan baik bukan berarti harus memilikinya."

Sepi.

"Aku berusaha mengerti tentangnya. Bahagia saat dia merasa bahagia."

Senyap.

"Bless."

"Ya. Aku mendengarkan."

"Aku mencintai tanpa berharap dicintai. Bodoh, ya?"

Hening.

"Bless."

Tetap tak berjawab.

"Bless."

"Err."

"Ceritalah tentangmu."

"Aku?"

"Yup!"

Tarikan napas panjang jelas sekali terlihat dan terdengar. Hembusannya pun amat keras. Bless, ada apa denganmu?

"Aku, Bless. Namaku Bless. Nama panjangku, Bleeeeeeeeeeeeeeesssss!"

Aku yang sedang serius mendengarkan, jadi tersentak.

"Bless! Uuuh!"

Kupukul pelan lengannya.

Bless tertawa terbahak-bahak.

"Err, sudahlah. Kita ada di hari ini. Tidak perlu mengingat masa lalu."

"Aku cuma ingin tahu sedikit tentangmu." Pungkasku ketus sambil cemberut.

"Bless. Namaku hanya 1 kata. Masih kurang sedikit?"

Huh!

Bless memang selalu mengingatkanku untuk selalu berpikir tentang hari ini, hari ini, dan hari ini saja. Setiap hari adalah hari ini. Sedangkan aku berpikir tentang masa lalu karena ada hal yang tak dapat kuraih dulu.

Bless mengajarkanku bagaimana menyikapi kejadian yang ada. Tenang, Err, tenang. Jika ingin punya masa lalu yang indah, maksimal saja di hari ini. Kalau masa lalu ada yang tidak indah, maksimal saja hari ini agar tidak buruk seperti yang lalu.

Bless si mata kosong, Bless yang sekarang sebiji mata satu, menjadi penyeimbangku, dan aku menjadi penyeimbangnya. Aku memberinya rasa yang mungkin kosong di masa lalunya. Bless memberiku pemikiran logika yang terkadang kuabaikan. Seperti katanya selalu padaku, perempuan!

Bless dan aku, sama sebiji mata satu, dan sama memiliki seruang rongga kosong dalam mata kosong. Kami sama-sama saling mengisi.

Aku, Err, dan dia, Bless. Kami sekarang memang berada di dunia berbeda, tapi dulu pun kami hidup seperti kalian, dan itu masa lalu bagi kami.

Dan kamu, please saling mengisi dengan pasanganmu. Saling menguatkan, saling mengingatkan. Jangan terlambat seperti kami.


Nitaninit Kasapink




















Sunday, 16 July 2017

Err Dan Bless, Tetap Bersama

Setiap waktu aku ada di sini, di tepi pantai, memandang laut, bermain pasir. Tak pernah merasa bosan berada di sini. Bersama debur ombak yang terkadang menggelegar saat gulungannya besar, mengikuti angin yang menggoyang dedaunan, juga menghitung jumlah pasir di sekelilingku. Semuanya terasa indah dan luar biasa!

Mengenang masa lalu adalah bagian kegiatanku setiap waktu. Karenadi masa lalulah aku hidup, di waktu itulah aku  merasakan sentuhan yang hangat. Tidak di masa sekarang, terasa dingin walau dalam dekapan sekali pun.

Berbaring di atas pasir tanpa alas, dengan berbantal dua tangan, memandang langit biru,sambil menikmati bisikan angin di telinga, sungguh membuatku semakin merasa damai. Lalu kupejamkan mata, mencoba merasakan keindahan lain yang bisa terasa saat tak menatap langit.

"Err."

Suara halus membelai telinga.

"Err."

Suara yang memberi ketenangan.

"Err."

Suara lembut yang penuh kasih.

"Err."

Suara yang mengajakku lebih mengenal tentang kasih.

"Errrrrrr!"

"Whaat!"

"Hahaha, sedang apa kamu di sini?"

"Huh, Bless! Nakal! Huh!"

Kupalingkan wajahku darinya. Menghindar dari degup jantung bahagia karena melihatnya ada di sii bersamaku.

"Kamu marah? Maaf, Err. Tadi kamu kupanggil pelan, tapi kamu diam saja. Jadi kupikir lebih baik kuteriakkan saja namamu, agar kamu mendengar." Terdengar lembut tapi ada tawa tertahan di sana.

"Aku marah." Ujarku.

"Wah, bagus dong! Kemajuan. Ngambek?"

"Bukan. Marah."

"Itu ngambek namanya, Err."

"Bukaaaaan, Bless. Bukan ngambeeeek!"

"Oh, bukan ya? Baiklah, itu bukan ngambek. Ya kan, Err? Bukan ngambek, kan ya? Kamu bukan sedang ngambek, kan? Ya kan? Ya kan, ya?"

"Oh, kamu meledek ya? Meledek aku, gitu? Iya? Oke, oke. Oke kalau gitu," kuangguk-anggukan kepala saat berbicara pada Bless.

Wajah Bless terlihat sedikit cemas. Mungkin dia berpikir aku sungguh-sungguh marah padanya.

"Sekali lagi, ya Bless. Aku tidak marah. Oke? Aku bukan ngambek. Oke? Aku kangen, titik!"

"Hah? Kangen?"

Mulutnya terbuka saat mengucap itu. Sebelah biji matanya melotot besar. Rongga kosong di sebelah matanya tetaplah gelap. Tapi aku mencintainya. Ups, what? Mencintainya? No no no, ini tak boleh terjadi.

"Err, kamu kenapa sih?"

Digandengnya tanganku, dibimbingnya berjalan menapaki pasir yang basah.

"Ceritakan padaku, kangen pada siapa? Pada masa lalumu lagi? Pada dia si lelaki sombong itu?" Suaranya bersungut-sungut saat mengatakan tentang si lelaki sombong.

"Bless."

"Ya, Err. Ceritalah padaku. Aku ada di sini bersamamu. Kamu boleh bercerita apa pun juga."

"Lelaki tetalah lelaki. Huh! Walau hantu, tetap saja kamu lelaki."

"Heeei, ya iyalah aku lelaki. Sejak masih hidup sampai sekarang sudah menjadi hantu, aku tetap lelaki. Masasih setelah jadi hantu, aku berubah menjadi perempuan?"

Tawanya membahana.

"Kamu menertawaiku!"

"Loh, loh? Ada apa sih, Err?"

Aku masuk dalam hening. Enggan bercerita apa pun pada Bless. Aku ingin enikmati hening berdua dengannya. Hanya ingin hening tanpa cerita. Menikmati waktu yang ada tanpa suara diucap. Hanya ada genggaman tangan, dekapan erat. Aku hanya ingin merasakan ini.

"Err, kamu kenapa?Jangan bikin aku cemas, deh."

Tangannya semakin erat menggenggam.

"Hush, hantu, diam."

Bless tertawa mendengar ucapanku.

"Kita sama-sama hantu sebiji mata, Err. Kita sama-sama hantu serongga mata kosong. Kita sama-sama saling membutuhkan untuk bisa melihat dengan jelas."

Kueratkan lagi genggaman tanganku.

"Err, jangan diam. Diammu membuatku cemas."

Kugeser posisiku agar lebih dekat padanya. Menyusuri pasir pantai berdua sambil saling menggenggam erat tangan, adalah anganku di masa lalu.

"Oke, kamu hanya ingin diam, Err? Aku juga ingin diam, sama sepertimu. Kita sama-sama menikmati hening, ya?"

Bless, kamu tahu yang kumau.

Pantai adalah saksi bahagiaku. Laut adalah mata perjalanan ini. Pasir menjadi sahabat yang tak bisa dihitung saat suka citaku melonjak karena Bless.

"Bless."

Tak ada jawaban.

"Bless."

Tak ada jawaban juga. Kugoyangkan tangan hingga genggaman kami pun terguncang. Tapi tetap tak ada jawaban.

"Bleeeeess."

Hanya ada sepi.

"Bless, berhenti. Aku mau bicara."

Bless menghentikan langkahnya, memandangku sambil tersenyum.

"Aku mau bicara. Kamu ga menjawab saat kupanggil."

"Looh, bicaralah. Yuk kita duduk di sini. Aku diam mendengarkanmu, menyimak sambil memandangmu."

"Hantu lelaki yang gombal," ujarku sambil tertawa lirih.

Bless tertawa. Aku suka caranya tertawa. Matanya hidup, walau sebelah rongga matanya kosong dan gelap. Aku suka caranya tertawa, ada irama menenangkan, dan ada selengkung garis yang manis di bibirnya.

Bless, lelaki tinggi besar yang lembut. Penuh kasih, penuh pengertian. Lelaki yang kutemui saat dua matanya kosong. Dua mata tanpa sinar, gelap, kelam.

"Katamu mau bicara, tapi malah asyik bicara sendiri dalam hati."

Kusandarkan kepala di bahunya.

"Perempuan. Bicara  pada hati sendiri Kamu pikir aku nih dukun ya, Err?"

"Dukun? Maksudmu?"

Kepalaku tetap masih bersandar di bahunya. Rasa nyaman mengalir di hati.

"Err, aku kan tidak bisa tahu apa yang ada dalam hatimu, kalau kamu tidak memberitahu."

Aku diam.

"Bicaralah. Aku ada di sini, kan? Dulu mungkin kamu tidak pernah membicarakan apa yang kamu rasa. Tapi kan itu dulu. Dulu, loh Err. Sekarang kamu harus bicarakan itu padaku. Kan ada aku. Bless, hantu lelaki sebiji mata."

Masih berada dalam hening. Masuk dalam hening yang mendamaikan. Apalagi aku tahu sekarang heningku tidak sendiri, ada Bless bersamaku dalam hening. Hantu lelaki dengan sebiji mata.

"Err, kamu merasa kangen, rindu? Pada siapa? Bukankah kamu ada di masa sekarang, di hari ini, bukan di masa lalu? Masa lalu cuma sebuah kenangan, tapi bukan untuk dikenang terus menerus. Come on, babe, kita ada di masa sekarang. Kamu, aku, dan yang lain yang berada di setiap jengkal pantai ini, ada di masa sekarang. Kita sama-sama punya masa lalu. Aku juga punya masa lalu, walau sampai sekarang tak dapat mengingat sedikit pun."

Bless yang kosong tentang masa lalunya. Indahnya tak mengingat masa lalu. Memulai segala sesuatu di hari ini.

"Hiiih, menyebalkan kamu ini. Perempuan. Selalu saja hidup dalam pikirannya sendiri."

Suaranya memaksaku makin masuk dalam hening yang amat damai.

"Err, pernahkah kamu merindukan aku?"

Kupeluk lengannya dengan dua tangan. Beringsut semakin mendekatkan diri padanya. Kepalaku makin tenggelam dalam bahunya yang berupa bayang-bayang.

"Jangan pergi."

"Apa, Err?"

"Jangan pergi. Aku takut kehilanganmu. Jangan pergi. Di masa lalu aku banyak kehillangan. Banyak yang pergi dariku. Banyak yang menolak kehadiranku. Jangan pergi, Bless. Tetaplah di sini. Aku merasa nyaman bersamamu. Aku belum pernah merasa senyaman ini."

Tiba-tiba Bless melepaskanku. Berdiri tanpa mengibas pasir. Berjalan menjauh tanpa menoleh.

"Bless!"

Bless diam, terus saja berjalan.

Pagi ini aku kehilangan Bless, seperti masa lalu, kehilangan orang-orang  terkasih. Diam sendiri di sini. Di pantai tanpa siapa-siapa. Tanpa Bless.

Bless, apa yang harus kulakukan sekarang?

Pernahkah kamu merasakan apa yang kurasakan saat ini? Ditinggalkan saat merasa nyaman. Menghilang saat terasa mencinta.

"Hai, Err."

Tersentak, lalu menoleh ke belakang!

"Bless!"

Kupeluk dia erat. Masuk dalam pelukannya yang dingin, tapi menghangatkan ceritaku.

"Jangan pernah pergi. Tetaplah bersamaku. Aku ada di sini, bukan berada dalam masa lalu. Aku merindukanmu selalu, bukan rindu masa laluku. Bless, janji ya, jangan pergi."

Semakin erat pelukanku.

"Err, cup cup, jangan menangis. Kita ada di hari ini, bukan di hari yang sudah lalu. Hari kemarin sudah dijalani. Cup cup, tenanglah. Aku ada di sini, berjanji tetap ada di sini. Bukankah kita ada untuk berbagi pandang? Hai ingatlah Err, sebiji matamu ada padaku. Dan serongga mata kosong pun jadi milikmu. Tak akan pernah kumeninggalkanmu."

Hai, pernahkah kamu mengalami seperti kami? Berbagi mata untuk berbagi pandang. Satu saat nanti jika hidup sudah selesai dijalani, dan masuk dalam dunia kami, mungkin kamu akan mengerti. Tetaplah berbagi kasih, tetaplah menggenggam kasih, tetaplah mendekap kasih. Hangat dan mendamaikan.

Pelukan ini memang dingin, tapi ini terhangat yang kumiliki setelah menjalani hidup yang dingin saat seharusnya merasakan hangat.

Aku, Err, dan dia Bless. Kami sama-sama sebiji mata, dan serongga mata kosong. Tapi bisa melihat segala sesuatu bersama, berbagi pandang. Juga melihatmu melalui sebiji mata dan rongga mata kosong milik kami.

Nitaninit Kasapink



Friday, 14 July 2017

Err Dan Bless, Pelukan Dingin Yang Hangat

Ufh, ramai sekali pantai di sini saat hari liburan. Anak-anak asyik berenang di pantai dengan ban renang yang beraneka bentuk dan warna. Jadi bagai pelangi yang jatuh berpencar di air laut. Orang dewasa asyik mendampingi anak-anak yang bermain pasir dan berenang.

Beberapa anak jongkok bersama membuat istana dari pasir. Tawa mereka riuh rendah. Di pasir tampak jejak-jejak kaki tercetak.

Hampir di semua tingkatan umur, laki-laki, perempuan, semua ada di sini. Tumpah ruah, menyemut! Dasar manusia!

Memandang aktifitas mereka yang terlihat suka ria, jadi teringat kenangan masa lalu saat masih bersama dengan orang-orang yang kukasihi.

"Err, jangan masuk ke tengah laut!" Teriak mama saat aku berlari menuju pantai.

Aku bermain air laut, mengejar ombak kecil, menyusuri garis pantai, mencari rumah kerang kosong, bermain pasir, duduk menyelonjorkan telanjang kakiku yang kecil, menyiram rambut dengan pasir layaknya sedang keramas, juga berpura-pura menjadi seekor ikan kecil yang berenang masuk ke dalam celah karang. Berlari menikmati sinar matahari yang menghanguskan kulit. 

Bercelana pendek, kaos tanpa lengan, asyik menikmati kesendirian yang ramai dalam jiwa. Ya, sendiri, tanpa kawan. Selalu menikmati kesendirian yang ada. Terkadang ada beberapa anak sebaya bergabung. Tapi aku lebih menyukai kesendirian. Mengherankan karena mereka menikmati keceriaan bersamaku, sedangkan aku menikmati kesendirian walau ada banyak tawa bersama mereka.

Aneh? Ya, aku memang anak kecil yang aneh.

Pantai adalah keindahan semesta yang luar biasa bagiku. Air berlimpah! Tidak perlu sebuah ember atau bak untuk menampungnya! Padahal airnya sungguh banyak! 

Pantai menawarkan ketenangan, kenyamanan. Menjanjikan ketenangan, suka cita dan kebahagiaan. Ada keheningan yang siap sedia mendekap, menjauhkan dari segala duka dan mengubah tangis menjadi senandung sunyi tapi menghanyutkan.

"Err, jangan makan es krim! Bajumu penuh noda nanti!"

Teriakan mama selalu itu-itu saja saat sedang menikmati indahnya laut! Bagaimana mungkin aku melepaskan es krim, sedangkan penjual itu selalu mengikutiku? Bagaimana mungkin kuhempaskan es krim dari genggaman sedangkan papa membelikanku? Seperti biasa, sepulang dari pantai, laut, dan kebahagiaan sehari itu, direnggut oleh omelan mama karena noda di bajuku. Dan seperti biasa, aku cuma diam memandang, tanpa suara. Bukankah lebih baik diam daripada bersuara? Nikmati saja hening yang kucipta sendiri.

"Laut? Kamu menyukai laut? Bodohnya!"

Suara kebodohan itu berusaha membodohiku. Hai, apa yang ada di pikirannya tentang laut? Hanya air? Tapi aku hanya memandangnya dengan dua mata tanpa berkedip. Tapi membiarkan lelaki yang menjadi orang terkasih menertawaiku.

"Angin pantainya membelai indah sekali! Kami menikmati pantai, pasir, laut, juga sinar matahari yang memanggang!"

Sebuah kemenangan bersorak di dalam hati. Hai, bukankah kamu tak menyukai laut, pantai, dan segala isinya? Bukankah menurutmu menyukai laut adalah kebodohan?

Aku memandangnya dalam-dalam. Disambanginya laut tanpa aku. Lelaki itu berusaha membuatku cemburu pada keberuntungannya bisa menikmati laut, padahal dia membencinya! 

Laut mengajakku bersuara tanpa kata. Menyihirku menjadi bidadari tercantik tanpa tanding! 

"Err, kamu melamun?"

Suara itu terdengar amat nyata! 

"Err, Err, Err!"

"Bless! Kamu!"

"Ya, kamu pikir siapa? Masa lalumu memanggilmu demikian dekatnya?"

Aku tertawa terbahak-bahak. Aneh juga bagaimana dia bisa tahu apa yang ada di pikiranku?

"Karena aku mengenalmu."

What? Dia menjawab tanya yang kuucap dalam hati? Hantu macam apa Bless ini?

"Err, Err, kamu pikir aku hantu macam apa? Aku hantu lelaki sebiji mata, Err!"

Aku terpana mendengar penjelasannya.

"Err, Err, sadar, Err. Jangan menakutiku dengan rongga mata kosongmu yang gelap!"

"Huh! Hantu aneh!" Seruku sambil meninju perlahan lengannya.

Bless menatapku. Aku pura-pura mengalihkan pandangan ke laut lepas. Melepaskan diri dari pandang lekatnya.

"Err. Kamu memandang apa, sih?"

Aku diam. Lebih baik tidak menjawab, daripada harus menatapnya lagi. 

"Kamu tidak suka ya ditemani aku?"

Aku diam. Duduk memeluk lutut, memandang ombak yang berdebur.

"Ya sudah, aku pergi saja kalau begitu. Aku kan tidak mau mengganggumu."

Bless berdiri perlahan. Aku masih diam.

"Err, kamu kenapa, sih?"

"Aku cuma sedang menikmati hening. Kamu berisik."

"Hahahaha! Bukankah kamu jauh lebih berisik dibanding aku? Hei, sadar, Err, sadar!"

Diguncangnya bahuku pelan.

"Bless, duduk sini. Aku ingin bercerita sesuatu."

Masih juga kumenatap laut.

"Bless, menurutmu apakah mereka merindukanku?"

"Siapa, Err?"

"Mereka."

"Iya, mereka. Siapa?"

"Mereka ya mereka."

"Perempuan! Maksudmu masa lalumu?"

"Ya."

"Ada apa dengan masa lalumu? Kamu merindukan masa lalumu?"

Aku menggeleng lemah. Rindu adalah rasa yang kuhindari. Tak ingin merasakan rindu bergelayut lalu akhirnya jatuh terkapar! Masa lalu! Rindu itu....

"Err," panggilnya.

"Aku pernah merindukan mereka semua, saat aku masih bersama mereka, Bless. Tapi aku salah. Rindu yang kumiliki tentang mereka, untuk mereka, cuma jadi sampah dalam hidup mereka. Aku cuma sampah, Bless."

Menunduk dalam-dalam, menundukkan kepala ke lutut yang ditekuk. Air mata mulai menetes.

"Kamu tahu, Bless, aku bukan siapa-siapa bagi mereka. Aku bukan hal penting. Cuma figuran yang lewat dan kena edit, habis!"

Bless diam, duduk di sisiku dengan posisi duduk yang sama.

"Aku tak ingin kembali ke masa lalu, Bless. Tak ingin mengingatnya. Tapi masa lalu tak pernah bisa dihapus."

Dilingkarkan lengannya ke bahuku.

"Sssh, jangan menangis."

"Bless, aku takut rasa rindu."

"Rindu pada siapa? Kamu rindu aku, Err?" Disenggolnya aku perlahan sambil tertawa lirih.

"Bukan," pungkasku.

"Sudahlah, tidak perlu berbohong, Err."

"Iiih, bukan."

"Iya."

"Bukan," aku menjawab dengan ketus.

"Oh, bukan aku. Kamu tidak pernah rindu aku, Err?"

Aku diam. Ombak, bantu aku! Jangan berdebur seirama jantungku! Angin, bantu aku! Jangan membelai rasa yang kumiliki!

"Err, siapa sih yang kamu rindu? Sombong banget ih, yang punya rindu. Ecieee, rinduuu."

"Huh, berisik."

"Err, aku mau cerita."

"Ya, ceritalah."

"Rasanya aku pernah punya rasa rindu di masa lalu. Tapi entah pada siapa. Waktu kamu bercerita tentang rindu, tiba-tiba aku merasa pernah mengenal rasa itu, pernah merasakannya di masa lalu. Tapi tidak bisa mengingat apa pun."

"Ah, kamu rindu aku, Bless!"

"Ya, iya, aku rindu kamu saja, Err."

"Bless, dulu aku mencintai mereka. Aku bergerak untuk mereka, berusaha apa pun untuk mereka juga."

"Cinta aku?"

"Bless, aku hidup untuk mereka dan untuk mereka."

"Sekarang untuk aku?" Matanya menatapku.

"Bless, kamu mendengarkanku atau tidak, sih?"

"Iya, iya. Teruskan saja ceritamu. Aku kan hanya bertanya, dan tidak kamu jawab."

"Bless, apakah kamu tahu, aku tak pernah mau bergantung pada siapa pun. Segala sesuatu kutangani sendiri. Itu karena kumencintai mereka."

"Tapi kan kamu tidak mencintaiku. Aku cemburu pada masa lalumu. Kenapa kamu tidak hidup di masa laluku saja, Err?"

"Aku ingin memeluk mereka, Bless. Aku pun ingin dipeluk oleh mereka. Tapi tidak pernah terjadi. Mereka tidak ingin bersamaku."

"Aku saja yang memelukmu."

Direngkuhnya aku dalam peluknya yang amat dingin. Meletakkan kepala di bahunya, seperti mimpi yang terwujud indah!

"Jangan menangis, Err. Ada aku di sini. Kamu boleh bercerita apa saja yang kamu mau padaku, boleh memelukku kapan pun kamu mau, boleh menyubitku, boleh melakukan apa pun terserah kamu. Aku ada di sini untukmu."

Pernahkah kamu mendengar pernyataan seperti ini dari orang terkasih padamu? Atau pernahkah kamu mengucapkan ini pada orang terkasihmu? Pernyataan tulus, bukan omong kosong yang cuma sekadar lip service.

Ini kisah kami. Aku, Err. Dan dia, Bless. Tanpa raga tapi berusaha mengasihi dan mengimplementasikannya dengan baik. Jujur pada rasa yang dimiliki.

Jangan bertanya apakah benar kami ada atau tidak. Tapi tanya saja pada hatimu, adakah kejujuran dan ketulusan pada orang terkasih? Selama jantungmu masih berdetak, dan ragamu masih hangat. Tidak seperti kami yang berada di dunia berbeda denganmu.

Sebelum terlambat, peluklah kasihmu erat-erat, seperti Bless memelukku saat ini. Pelukan dingin tapi menghangatkan jalan ceritaku di dunia yang berbeda denganmu.


Nitaninit Kasapink












Err Dan Bless, Kasih Di Dunia Berbeda

Suara ombak yang pecah di karang menemaniku, dan membuatku makin masuk ke dalam hening yang menenangkan. Helaian rambut beterbangan, diajak menari oleh angin yang mendesir lembut. Sengatan matahari yang sebelumnya berkuasa melegamkan, tak lagi terasa. Tapi kutahu sinarnya menyilaukan mata orang-orang yang berusaha menatap jauh ke depan, lepas menuju batas pandang laut.

Aku, Err, menjalani waktu di sini, tanpa siapa-siapa. Hanya aku. Masa lalu yang penuh warna, dulu pernah dijalani. Ya, aku hidup di dalam jutaan warna yang sebelumnya tidak kukenal. Hidup bersama seorang lelaki terkasih yang penuh amarah dan kebencian.

Memandang garis laut yang ada di seberang, mengundangku untuk hanyut dalam kisah lama yang dikubur dalam-dalam. Kisah yang tak pernah terlupakan, tapi enggan sekali untuk mengingatnya.

"Bodoh! Kamu memang bodoh!"

Seorang wanita diam di hadapan lelaki yang bersungut-sungut.

Itu aku, Err.! Wanita bodoh yang kerap dimaki. Lelaki itu adalah pasangan yang kukasihi bertahun lamanya. Dan hanya melihatku sebagai wanita bodoh.

"Norak, kampungan! Kenapa  sih kamu ga bisa cantik seperti teman-temanku di kantor?"

Ya, itu aku, Err! Wanita kampungan, norak, yang tak pernah bisa cantik menawan, apalagi di matanya, mata lelaki yang kukasihi. Seumur hidupnya tak pernah melihatku cantik.

"Makan?"

"Aku ga suka masakanmu."

Ya, memang itu aku, Err! Wanita yang tak bisa memasak lezat untuk lelaki yang dikasihinya. Dimuntahkannya semua yang pernah masuk dalam tubuhnya.

"Jangan tidur di sini. Kamu cuma membuat tempat tidur ini sempit!"

Err! Aku, Err, wanita yang memenuhi tempat tidur lelaki yang dihormati. Wanita yang tak pernah punya tempat sedikit pun dalam hidup lelaki yang dikasihi.

Gelombang air laut yang memecah di karang makin menenggelamkanku dalam cerita yang karam. Angin membuka kenangan yang dingin. Ya, kenangan yang dipeti eskan selama hidup.

Aku, Err, wanita yang semasa hidup, belajar mengenal warna satu persatu. Pelan-pelan, diam-diam, tanpa suara, tanpa kata-kata, tanpa cerita. Belajar mengerti makna semua warna yang datang.

Terkadang air mata menitik saat warna menikam mati jantungku. Kadang air mata mengalir deras membasahi seluruh hari tanpa bisa ditahan. Warna itu makin lama semakin kumengerti. Warna yang amat menakutkan! Karena menyeretku melebur dalam caci maki yang penuh kobaran permusuhan. Dan aku cuma diam. Hanya saja jiwaku bersijingkat masuk dalam hening yang bening menenangkan. Selalu begitu. Hidup diisi jutaan warna kelam dan warna penuh kebingungan. Semuanya bercampur aduk di waktu yang berjalan lambat. Dari detik ke detik, lalu ke menit, kemudian terus, dan terus, dan terus. Hingga bertahun lamanya. Kisah mengerak dalam peti es. Kisahku mati sebelum hidup berhenti.

Tapi kubukan wanita yang larut dalam sedih. Akhirnya kupilih menikmati hidupku dengan tawa. Biarkan saja warna-warna masuk dalam kehidupan. Bukankah bagus mengenal dan memahami maknanya dari jalan hidup yang dihadapi? Hidup dimulai di hari ini. Selalu hari ini.

Ya, itu aku, Err. Wanita yang berusaha berjalan sendiri. Hingga....

"Err!"

Teriakan yang kukenal!

"Bless!"

Aku tertawa melihatnya berlari tergesa.

Bless, dia lelaki yang selalu bersamaku di sini. Bukan, dia bukan dari masa lalu. Dia lelaki pemilik sebiji mata, yang berbagi pandang denganku. Dia melihat dari sisi kiri biji mata, dan sisi kanan rongga kosongnya. Sedangkan kumemandang dari sisi kanan biji mata, dan melihat dari sisi kiri rongga kosong. Ya, Bless memiliki sebiji mata kiri, dan aku memiliki sebiji mata kanan.

Kami melihat dari dua sisi yang berbeda. Dan saling mengisi rongga kosong di mata yang kami punya. Bless dan aku, dua pemilik sebiji mata. Satu saat nanti aku akan ceritakan padamu bagaimana kami berbagi pandang.

"Kamu sedang apa tadi, Err?"

"Aku? Hihi, sedang mengingatmu!"

Tawanya membahana. Pantai yang sepi menjadi riuh karena gelaknya.

"Pembohong! Sejak kapan kamu memikirkanku?"

"Hahaha, sejak angin membasahi laut."

"Sejak kapan angin membasahi laut?"

Aku tertawa, tapi tidak menjawab. Mataku menatap laut dalam-dalam.

Hening.

"Bless," panggilku. Tapi tak berjawab.

Kulihat matanya menatap jauh ke depan, seperti aku tadi. Mungkin dia pun sedang menelanjangi masa lalunya sendiri.

Kusentuh ujung jarinya yang dingin, malah amat dingin.

"Bless."

Tetap tak bergerak sedikit pun. Sebiji matanya nanar. Sedangkan rongga kosong sebelah matanya amatlah gelap.

"Bless. Kamu sedang menyelam dalam kisahmu?"

"Ya, Er? Kamu memanggilku?"

"Ah, Bless, kamu melamun."

"Tidak. Aku hanya sedang berusaha mengingat seluruh kisah yang kupunya di masa lalu."

"Lalu? Kamu sudah mengingatnya?" Tanyaku hati-hati.

"Uuh, tidak. Hilang semua seperti mata kosongku." Jawabnya sambil tertawa.

Aku membelai bahunya perlahan.

"Err, aku rasa lebih baik seperti ini saja. Cukup begini saja."

"Maksudmu, Bless?"

"Ya, lebih baik aku tak mengingat masa laluku. Biar saja kosong, seperti mata kosongku. Bukankah aku sudah memiliki sebii mata darimu? Aku ada di hari ini, untuk hari ini."

Kugenggam tangan esnya yang tak pernah hangat. Yup, tangannya sedingin es, malah lebih dari es! Tapi menghangatkan hari  yang kupunya. Lebih hangat dari sinar matahari yang kurasakan, dulu.

"Bless, kalau mata kosongmu diisi sebiji mata oleh yang lain, bagaimana?"

"Err! Kita berbagi mata, berbagi pandang. Berbagi ruang kosong. Berbagi segala hal yang kita punya. Teganya kamu berkata begitu." Kata Bless kesal.

"Hahaha! Biar nanti wajahmu kuseterika, Bless! Kusut kali wajah kau itu!"

Tawa kami pun lebur jadi satu.

"Bless, bagaimana menurutmu tentang laut yang ada di depan kita?"

"Penuh misteri."

"Seperti masa lalumu?"

"Bukan, tapi seperti sebiji mata yang kuterima darimu."

"Kok misteri sih mata dariku?"

"Ya misteri, karena aku tak tahu kenapa kamu merelakan sebiji mata untukku?"

"Karena aku ingin berbagi pandang denganmu."

"Berarti kamu adalah misteri seperti laut yang ada di depan kita."

"Huh, aneh. Kamu aneh, Bless. Kamu teraneh sedunia kita ini."

Bless tertawa.

"Ya, aku memang aneh di dunia kita, dan lebih aneh lagi di dunia yang bukan milik kita."

Tawa kami mengisi pantai yang sebelumnya hanya diisi oleh suara ombak dan angin. Aku bahagia bersamanya. Tapi aku tak tahu apa yang dirasakan olehnya tentangku.

Malam melarut, air laut pasang. Kami diam satu sama lain, tapi saling menggenggam dingin.

"Tahukah kamu, ketika sebuah kasih ditempatkan di singgasana sebuah kisah, hancurlah segala duka yang pernah singgah." Ujarnya sambil memelukku.

Aku diam dalam pelukan kasihnya yang dingin. Kurasa dia pun merasakan hal yang sama, dingin mengalir di dalam pelukku.

Jangan bertanya padaku, kenapa ada kasih di saat seluruh kisah hidup sudah selesai. Tapi coba tanya pada hatimu, apakah di dalam hidupmu yang masih berjalan, masih tersimpan kasih?

Jangan bertanya pada kami, mengapa kasih tumbuh saat hidup sudah selesai dilewati. Bukankah kisah ini hampir sama dengan kisahmu? Hanya bedanya kami sudah lenyap dari pandangmu, sedangkan kami melihatmu dan terus memandangmu dengan sebiji mata yang masing-masing kami miliki, dan menerobos kisahmu dengan serongga mata kosong yang ada pada kami.

Aku, Err. Dia, Bless. Tanpa raga, tapi punya kasih yang menetap bersama kami. Suatu hari nanti kamu akan tahu bagaimana ini bisa terjadi. Nanti, saat kisah hidupmu habis dan berlanjut di sini, di dunia yang berbeda denganmu.

Selamat menikmati hari ini bersama kasih dari kami, Err dan Bless.


Nitaninit Kasapink








Monday, 10 July 2017

Lelaki Bermata Kosong Itu Bernama Bless

Beberapa tahun yang lalu, di sini, di tempat ini, aku bertemu dengannya. Lelaki tinggi besar yang ramah. Siapa pun bisa terkecoh jika menilainya dari sosok yang terlihat. Beberapa anak kecil, bahkan orang tua, berlari saat melihatnya sedang berdiri memandang laut dengan mata kosong. Dia Bless, yang selalu ada bersamaku, berbagi pandang.  

"Hai, Bless." Diulurkannya tangan untuk menyalami.

Bless?

"Hai, aku Bless." Diulanginya sekali lagi.

"Oh ya, Err."

Menyalami tangan besar yang kokoh, tenggelam dalam telapak tangan yang erat menggenggam, seharusnya terasa nyaman sekaligus hangat. Tapi tangannya dingin sedingin es.

"Err? Apakah kita pernah bertemu?"

Matanya seakan menyelidik.

"Entahlah. Mungkin. Aku sulit untuk mengingat sesuatu di masa lalu."

"Hahaha, berarti kita sama. Ingatanku hanya bertahan sebentar."

Bless. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Bless. Tapi biarlah, yang kuhadapi adalah Bless di hari ini.

"Err."

"Ya."

"Sudah lama di sini?"

"Baru beberapa tahun aku ada di sini."

"Kamu memilih berada di sini?"

"Tidak. Tapi aku menyukai debur ombak, desir angin, pasir pantai. Dulu aku menghadang sengatan matahari yang melegamkan kulit. Berjalan membiarkan pasir mengelus telapak kaki."

"Lalu kamu memutuskan berada di sini?"

Aku mengangguk.

"Kamu baru di sini? Aku belum pernah melihatmu."

Bless diam. Mata kosongnya menatap laut yang menghampar. Aku tak ingin mengganggu. Biarkan saja dia dalam hening yag diciptanya sendiri. Lalu sama-sama diam menikmati hening yang kami miliki. Ombak berlari kecil saling kejar. Angin membelai rambut yang hanya sebatas leher. Matahari menyengat, tapi tak lagi bisa melegamkan. Hai, mana mungkin sinar matahari bisa menghitamkan kami?

"Pantai, sawah, gunung, punya daya panggil yang kuat." Tiba-tiba suaranya memecah sunyi.

"Ya, tapi aku lebih memilih pantai, danau, hujan. Air, aku menyukai air. Mungkin aku jelmaan putri duyung," terkekeh menimpali.

"Haah, mermaid! Mermaid in love!"

Itu pertemuan pertamaku dengan Bless, saat matahari bersinar terik. Setelah itu kami sering bertemu. Berbincang dengannya amat menyenangkan. Lebih tepatnya bukan berbincang, karena aku lebih banyak bicara. Dengan sabar didengarkannya kecerewetanku saat bercerita ini dan itu. Suaranya jauh lebih lembut dibanding suaraku yang terkadang memekik parau.

Hingga di satu saat Bless bertanya padaku.

"Err, seperti apa laut yang ada di depan kita?"

"Luas! Dan hanya air. Penuh dengan air!"

"Eeeeerr, ya jelas penuh air! Laut!"

Kami terbahak bersama.

"Adakah karang besar?"

"Ya. Karang besar dan bebatuan berjajar di pinggir pantai. Ayo kita ke sana!"

Kugandeng tangannya. Pasir-pasir yang dulu melekat di kaki saat berjalan tanpa sendal, sekarang tak melekat lagi. Pasir-pasir adalah bagian kenangan masa lalu. Bless menggenggam erat tanganku.

"Bless! Karang! Ayo naik!"

Tawanya terdengar riang. Dielusnya karang yang kini ada di hadapannya.

"Oh! Karang ini tajam, Err!"

"Bless, yang lembut itu kamu. Karang ya tajam."

Lagi-lagi kami tertawa. Suara menggema saat kami berteriak di dalam karang yang besar.

"Karang tak bisakah menjadi lembut?"

"Entah, Err. Aku juga tidak tahu. Mungkin karang memang sejatinya keras dan kasar. Karang bisa hancur, tapi tidak melembut."

Aku diam. Lagi-lagi tercipta hening di antara kami.

Matahari mulai menyurut, tak lagi menyorot garang. Tapi kami tetap hening.

"Sudah malam, Err."

"Ya. Biar saja. Malam tak akan pernah bisa menakutiku. Malam tak mengubahku jadi pengecut seperti dulu. Hahaha, dulu aku takut kegelapan, takut malam. Sekarang? Aku adalah gelap, dan aku adalah malam."

Bless menoleh ke arahku. Matanya menatap kosong. Kugenggam erat-erat tangannya seakan takut kehilangan sosok yang selalu ada menemani.

"Boleh aku memegang tanganmu, Bless?"

Tak ada jawaban. Hanya saja tanganku terasa digenggam amat kuat.

Malam makin menggelap. Laut terlihat menghitam. Angin deras menerpa.

Aku melihat Bless. Lelaki dengan mata kosong yang sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Siapakah Bless? Dari mana dia berasal? Entah, aku tak pernah ingin bertanya tentangnya Biar saja dia sendiri yang bercerita tentangnya dan masa lalu. Yang kutahu Bless hari ini. Ya, Bless yang ada di hari ini. Siapa pun dia di masa lalu, biarkan saja. Bukankah semua punya masa lalu? Sebagaimana juga aku.

"Ceritakan padaku tentang laut dan seluruh isinya yang bisa kamu lihat, Err. Ceritakan padaku tentang karang yang banyak berada di sana. Ceritakan juga tentang bebatuan berjajar yang kita lewati."

Bless! Aku bukan pencerita yang baik. Bagaimana caraku menceritakan tentang laut yang tak bisa kuduga dalamnya? Bagaimana cara menerjemahkan bentuk karang yang dulu sering menyayatku? Juga bagaimana merumuskan bebatuan yang kita lewati bersama saat perjalanan?

Bless! Tangisku perlahan turun.

"Jangan menangis."

"Bagaimana kubisa menceritakan padamu tentang itu semua, Bless?"

"Ceritakan padaku. Ayo, ceritakan tentang semuanya."

Perlahan kuusap lembut mata kosongnya.

"Bless, kamu bisa melihatnya sendiri."

"Tidak, Err. Aku butuh kamu sebagai penglihatanku."

Kuusap matanya sekali  lagi dengan penuh kasih. Blessku yang selalu ingin tahu seperti apakah laut, karang, batu, dan semuanya.

Perlahan kuambil satu dari sepasang mataku. Kumasukkan ke dalam rongga matanya yang kosong.

"Bless, kita bisa melihat laut bersama. Kita bisa melihat karang dan melihat bebatuan. Tidak hanya itu. Kita juga bisa melihat apa pun yang kita mau. Kita bisa melihat bersama, Bless."

Bless, lelaki dengan mata kosong, yang memang kosong, sekarang menatap laut bersamaku. Sebiji mata ada di mata kirinya, dan sebiji mata ada di mata kananku. Cukuplah kami masing-masing melihat dengan sebiji mata.

"Bless, menyenangkan sekali bisa bersamamu memandang semua yang ada!"

Aku Err dan dia Bless, sosok tanpa raga yang selalu bersama di pantai ini. Jangan tanya tentang masa lalu kami saat masih menjalani hidup. Kami ada di sini, itu saja.

Maukah kamu berbagi mata dengan terkasihmu?



Nitaninit Kasapink









 

Thursday, 20 April 2017

Tutup Gelas Bergoyang Atau Digoyang?

Ini kejadian lama, di hari pertama kerja di tahun 2017. Setelah libur beberapa hari, yang lumayan panjanglah, akhirnya bisa kembali ke ruangan ini lagi. Ruang dingin, yang terkadang penuh canda tawa, tapi sering kali sepi tanpa suara.

Seperti biasa, pagi-pagi segelas kopi, segelas teh, segelas air putih, diantar ke meja gue. Minuman yang selalu menemani di waktu kerja. Bukan minuman wajib, tapi itu minuman asyik!

Di hari itu suasana ruangan sepi, hening. Cuma ada suara tak tik tak tik mengetik.

Karena gue ga suka minuman panas, gue membuka tutup gelas kopi dan teh. Dua tutup gelas ada di atas meja. Tenang, ga ada kejadian apa pun. Gue santai menyelesaikan tugas sambil mendengarkan lagu-lagu dari youtube lewat handsfree.

Rrrrrrrr! Rrrrr!

Wuaa! Ehm, gue kaget pakai banget! Mau tahu kenapa? Ufh, tapi walau pun kaget tekaget-kaget beberapa detik, akhirnya gue tertawa. Ada yang berusaha mengucap salam ke gue. Dua tutup gelas yang gue letakkan di atas meja, berputar kencang! Ga mungkin kan tutup gelas berputar karena angin? Apalagi memang ga ada angin yang berhembus. Lumayan lama dua tutup gelas berputar.

"Mbak Nita kenapa?" Tanya seorang teman.

"Ga apa-apa."

"Iseng banget muter-muterin tutup gelas."

"Lah wong itu muter sendiri, kok. Aku ga muterin.Makanya aku ketawa geli."

"Serius?"

"Ya iyalah. Memangnya aku pernah bohong?"

Tanpa babibu lagi, teman gue kabur meninggalkan gue, meninggalkan ruangan.

Gue menoleh ke sudut ruangan sambil berkata,"Hai, ketemu lagi. Mbok ya jangan iseng."

Tutup gelas berhenti berputar. Ruangan kembali sepi, tinggal gue yang asyik bernyanyi sendiri mengikuti lagu dari youtube.


Salam Senyum,
Nitaninit Kasapink




Tuesday, 18 April 2017

Bahagia Itu Sederhana Dan Terimalah Sebagai Kebahagiaan

Melihatnya bercanda, berlari mengejar Ngka, berjalan bersama Esa ke warung, belajar di ruang tamu sambil mendengarkan lagu-lagu, sibuk bermain dengan kucing-kucing peliharaan, membuatku merasa amat bahagia. Ceria yang terpancar dari wajahnya membuatku benar-benar bersyukur memiliki Pink, Ngka, dan Esa.

Siapa Pink? Pink adalah anak bungsuku, anak perempuan satu-satunya. Apa yang istimewa dari Pink? Seorang perempuan kecil usia belasan dengan tubuh kurus, bukan siswa sekolah reguler, karena Pink seorang homeschooler, dia peserta homeschooling. Hebatnya di mana? Anakku bukan anak hebat, tapi istimewa.

Siapa Ngka, dan Esa? Mereka adalah dua kakak lelaki Pink, yang selalu memberi kasih sayang untuk   Pink, menyemangati Pink, dan mendukungnya dalam segala hal.

Pernah mendengar autoimun? Pink mengidap autoimun. Imun yang ada dalam tubuh Pink, salah mengerjakan job des-nya. Seharusnya imun menyerang penyakit yang masuk ke dalam tubuh, imun yang Pink miliki malah menyerang organ tubuhnya. Ga ada obat untuk autoimun. Jadi autoimun dibawa seumur hidup oleh pengidap. Imunnya pernah menyerang banyak organ di tubuhnya. Selama bertahun-tahun, Pink berada di dalam rumah, hampir ga pernah ke luar rumah, kecuali ke profesor tempatnya berobat saat autoimun menyerang.

Lambungnya pernah bengkak hingga seperti ‘polisi tidur’ di bawah tulang rusuk kirinya. Juga pernah terkena serangan jantung, lumpuh tangan, lumpuh kaki, malah pernah lumpuh total, muntah darah, mimisan, buang air besar darah, kesulitan bernapas. Itu dirasakannya bertahun-tahun. Selama bertahun-tahun minum obat saat imun menyerangnya.

Tapi jangan salah, di rumah kami ga ada yang namanya sedih. Dalam keadaan seperti itu pun, kami tetap bersukacita, bergembira, tertawa, bercanda. Pink? Senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya. Dia pun selalu larut dalam canda, tawa, dan bersenandung bersama Ngka, Esa, dan aku. Ngka, dan Esa, selalu membantu Pink, dalam banyak hal tanpa kusuruh, tanpa kuminta. Dan mereka pun membantu Pink agar bisa kembali sehat, dengan cara mengingatkan apakah sudah minum obat, menyemangatinya agar tetap bersemangat dalam kondisinya yang lemah. Canda, dan canda selalu saja terdengar meriah di rumah. Dan memang Pink selalu bersemangat, ga pernah menyerah dengan kondisinya yang lemah.

Sewaktu Pink lumpuh kedua tangannya, dia menyambutku yang baru saja pulang dari kantor, dengan ucapan,”Mama, Mama tahu ga, Pink main laptop pakai apa?” Aku menggeleng, lalu diperagakannya mengetik di laptop menggunakan jari-jari kakinya! Aku terkejut, sekaligus kagum, betapa bersemangatnya anakku! 

”Hebatnya anak mama! Besok belajar menulis pakai kaki, ya?” 

Pink menjawab,”Susah, Ma, kalau nulis pakai kaki.” 

Aku tersenyum, kemudian berujar,”Ga ada yang susah, sayang. Tuhan menciptakan manusia hebat. Ada yang dilahirkan tanpa kaki, tanpa tangan. Mereka bisa.” 

Pink tersenyum, tertawa, manjawab,”Ok, Ma.” Great! 

Kuakui semangat yang dimilikinya amat luarbiasa. Yang mengejutkanku setelah itu adalah Ngka menginstall desktop keyboard di laptop, untuk memudahkan Pink menggunakannya. Luar biasa! Esa mengambilkan minum, memegang gelas, menyodorkan sedotan untuk Pink minum. Luar biasa, luarbiasa! Aku berterimakasih pada Tuhan, anak-anakku adalah anak-anak yang luar biasa.

Saat lumpuh kedua kakinya, aku, Ngka, dan Esa, bergantian mengajaknya berkeliling seputar perumahan, mendorongnya di kursi roda, setiap pagi. Ga ada terlihat wajah sedih padaPink. Senyumnya tetap ada, celotehnya tetap saja ramai. Beberapa pandang kasihan kulihat dari orang-orang yang kami temui di jalan, ada pula yang terlihat sinis mengejek, tapi Pink tenang, santai. Aku ga melihat rasa malu tersirat di wajahnya. Sering bertemu dengan teman-temannya di jalan, dan dia dengan wajah riang membalas sapaan temannya. Ngka, dan Esa, ga pernah mengeluh mendorong kursi roda adiknya untuk berkeliling. 


Dan saat di rumah, Ngka, Esa, bergantian menggendong adiknya ke mana pun dia mau. 

“Aku mau nonton tivi.” 

Digendonglah adiknya ke depan tivi. 

“Aku mau ke kamar mandi.” 

Digendonglah adiknya ke kamar mandi.

Pink pernah lumpuh total. Setiap kali aku menggendongnya ke luar kamar, agar ga jenuh terus menerus berada di kamar. Ngka, dan Esa pun bergantian menggendong adiknya.

Awal mula Pink terkena autoimun ketika Pink baru saja menjadi siswi SMP negeri dekat rumah. Kelas pertama dilaluinya hanya dengan beberapa kali bersekolah. Kelas ke-dua dilaluinya tanpa pernah datang ke sekolah, hanya saat ujian kenaikan kelas saja Pink datang ke sekolah, kuantar, didorong di kursi roda. Hingga akhirnya kenaikan kelas pun tiba. Pink naik ke kelas akhir.

Kondisinya semakin sering diserang imun, semakin melemah, kemudian kuputuskan mengeluarkannya dari sekolah reguler, memulai homeschooling. Sebelumnya kutanyakan dulu padanya, apakah dia setuju dengan rencanaku. Ternyata Pink setuju. Mulai saat itu, Pink menjalani homeschooling. Guru privat datang ke rumah untuk membimbingnya belajar. Selain itu, aku, Ngka, dan Esa juga ikutan membimbingnya dalam pelajaran.

Bukan hal yang aneh ketika sedang belajar dengan guru privat, tiba-tiba Pink tergeletak tak berdaya. Ngka, Esa, sigap menggendong adiknya ke kamar. Karena itulah guru privat pun hanya datang sesuai permintaan Pink. Bisa tiba-tiba pukul 9 malam, Pink merasa sehat, dan saat itulah guru privat dipanggil, mulai belajar. Belajar disesuaikan dengan kondisi kesehatannya. Tapi yang jelas, Pink bersemangat, begitu pula Ngka, dan Esa. Mereka saling menyemangati, saling mendukung.
Waktu bergerak terus, kondisi Pink masih tetap lemah, malah semakin melemah. Ngka, Esa, ga pernah lelah mendukung adik mereka. Semangat ga pernah henti bergelora di jiwa Ngka, Esa, dan Pink. Hingga satu saat Pink bisa berjalan! Semakin membaik, dan membaik! Hingga kondisi Pink membaik dibanding sebelumnya. Ini sungguh luar biasa menurutku. Hal yang ga pernah terpikirkan, ga pernah terbayang di benakku. Ini berkat Ngka, Esa, kedua kakak yang ga pernah berhenti mendukung, menyemangati, dan memberi kasih sayang untuk Pink.

Pink melewatkan ikut Ujian Nasional SMP, lalu ikut di tahun berikutnya, karena setelah mempertimbangkan kondisinya yang baru saja membaik, pastilah amat berat untuknya mengejar begitu banyak pelajaran untuk mengikuti ujian kelulusan. 

Kutanyakan padanya, apakah dia ga keberatan jika ikut ujian nasional tahun depan, jawabannya sungguh luarbiasa, Pink berkeras ingin ikut ujian di tahun kemarin. Luar biasa semangat yang dimilikinya! Pelan-pelan kuberitahu dasar pertimbanganku, dia pun kuajak ikut mempertimbangkannya. Ngka, dan Esa, juga kuajak ikut mempertimbangkan. Kemudian kami berempat sepakat tahun depan Pink ikut ujian nasional, yang berarti di tahun ini Pink akan ikut ujian nasional. Dia pun meminta, setelah lulus, dia ingin bersekolah reguler. 

Tawa canda di rumah tetap bergema di rumah. Kami berempat setiap hari berkumpul, saling tukar cerita, saling tukar informasi, bercanda ga henti, tertawa bersama. Kejadian apa pun yang selama ini terjadi dalam kehidupan kami berempat, ga kami jadikan sebagai hal yang menyedihkan sehingga membuat kebahagiaan menghilang. Kami saling menguatkan, saling mendukung, saling berbagi kasih.


Bahagia itu sederhana, ga perlu menjadi orang yang bermewah-mewah harta. Bahagia itu sederhana, berbahagia menghadapi kejadian yang terjadi dengan senyum, menjalaninya dengan senyum, menikmati dengan senyum, dan mensyukurinya dengan tersenyum pada Tuhan. 

Ga ada hal yang buruk, semua adalah hal terindah dari Tuhan, yakin pasti ada kebahagiaan di sana, pasti ada kebahagiaan di setiap kejadian yang terjadi dalam hidup. Tetap semangat, senyum, percaya bahwa di segala kejadian hidup pasti berisi kebahagiaan. Syaratnya cuma satu, terimalah segala hal yang terjadi sebagai kebahagiaan, maka segala hal itu menjadi kebahagiaan dalam hidup.


Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink




Monday, 17 April 2017

Kartini Memang Berbeda

Di otak gue, sosok Kartini adalah wanita Jawa yang lembut, feminin. Dengan busana berkebaya, bersanggul, menambah kuat sosok feminin perempuan Jawa zaman dulu. Tapi ternyata salah! Kartini, R.A. Kartini, bukan seorang perempuan Jawa seperti dalam bayangan gue. Nop!

Kartini memang perempuan Jawa, memang hidup dalam aturan tata krama, adat, Jawa yang kental. Apalagi Kartini adalah anak seorang Bupati Japara. Tapi beliau bukan perempuan yang lemah gemulai, melainkan sosok yang beda.

Kartini memang berbeda. Kartini seorang perempuan tomboy, Kartini yang membangkang adat, tapi tetap santun.

Kartini dalam film ini ditampilkan dalam kesehariannya yang berbeda. Bayangkan saja, berkain kebaya, tapi bisa duduk-duduk santai di atas tembok keputren! Ada obrolan antara Kartini, Kardinah dan Roekmini, tentang keengganan menikah, enggan bersuami, karena mereka merasa tanpa suami pun mereka bisa membantu orang lain. See? Itu pemikiran perempuan yang lahir di zaman dulu. Sedangkan di saat ini saja masih sibuk orang bertanya-tanya tentang,"Kapan menikah?"

Ditampilkan pula sosok Kartono, seorang kakak yang mendukung kebebasan berpikir yang dimiliki Kartini, selain juga ditampilkan sosok kakak lain yang menentang pemikirannya. Ada juga sosok bapak dari Kartini, ibu kandung, juga ibu tiri, serta kakak perempuannya yang pulang ke rumah karena suaminya menikah lagi.

Kartini yang melekat di otak gue adalah tentang perempuan yang fokus pada pendidikan perempuan. Ternyata beliau pun memikirkan tentang ekonomi masyarakat di Japara.

Kartini yang hebat, dengan pemikiran hebat, dan bukan cuma sekadar berpikir, tapi direalisasikan.

R.A. Kartini diperankan oleh Dian Sastrowardoyo, bermain apik. Begitu juga pemeran yang lain memainkan peran dengan apik.

Film garapan Hanung Bramantyo ini sukses membuat air mata menitik, tapi tidak membuat jadi cengeng.