Tuesday, 29 April 2014

error,"GUSTI, orang yang kucinta ada di sana..."

GUSTI,
tadi aku pergi ke sebuah taman
ada orang yang kucintai di sana...
entah tersenyum,
entah tertawa,
tapi yang jelas aku tersenyum dan tertawa...
aku bahagia melihatnya...

walau ada sedikit airmata mengembang...

GUSTI,
aku duduk di sisinya
memegangnya
mengelusnya
dan berkata tentang rindu dalam hati
dia diam
tak menjawab
tak ada sepatah kata pun
tapi aku bahagia datang padanya
membagi senyum, tawa,
dan bisa bercerita padanya
tentang segala hal
yang terlewatkan olehnya...

GUSTI,
aku harus kembali ke rumah
ke pelukan anak-anakku,
masuk dalam hidup yang nyata
menyatukan rindu yang kami punya

kerinduan yang tumpah dalam doa bersama

GUSTI,
orang yang kucinta ada di sana
sendiri
tanpa teman
orang yang kucinta terbujur tanpa siapa-siapa

beri indah damaiMU untuknya...

tanah dan nisan
jadi penunjuk tempat

dan aku duduk, terduduk
diam, terdiam...
tadi...

GUSTI,
sampaikan rindu ini untuknya...
ah Bapak,
seluruh rindu tercipta karenamu...

GUSTI,
ah,
amin...

-error, masih juga diam...-

error,"Cerita yang belum usai" # 4

"Kamu? Pram? Sejak kapan kamu di sini?", suara lemahnya terdengar. Senyumnya terlihat. Wajahnya masih terlihat ayu, walau ada kerutan di wajahnya. Kepalanya bergerak perlahan, menoleh ke arahku, tersenyum. "Mbak, namanya siapa?", tanyanya dengan ramah. Aku tersenyum, dan menjawab,"Saya Err, Bu". Ah, senyum itu membuat mataku benar-benar akan menumpahkan bermiliar tetes airmata, senyum itu, senyum penuh cinta...

"Gimana kondisimu hari ini?", suara laki-laki parau menahan getar terdengar bertanya pada perempuan ayu yang terbaring di tempat tidur.

"Baik, Pram. Aku baik-baik saja, seperti yang kamu lihat, kondisiku baik-baik saja. Bagaimana kabar nyonya di rumah?"

Tak terdengar jawaban, hening, tak ada suara menjawab...

"Pram, are you ok?"

Masih saja tak ada jawaban. Ah, dia sedang duduk menunduk, sedang berdoa untuk kekasih hatinya...

"Diminum, mbak. Dari kantor? Pasti Pram sebenarnya sedang sibuk. Ah, Pram memang selalu begini. Dia selalu menyempatkan diri untuk datang, padahal saya baik-baik saja".

"Ya, Bu. Bapak seorang yang baik, sama seperti Ibu, seorang yang baik", jawabku sambil menahan airmata agar tak mengalir. Perempuan ayu ini tetap ramah, walau pun kondisinya lemah.

"Janganterlalu banyak bicara. Istirahatlah. Ini aku bawakan buku untukmu, sebuah buku. Bisa kamu baca saat senggang", suara lelaki yang parau terdengar sambil mengangsurkan sebuah buku pada perempuan nan ayu itu.

"Ini...?", suara perempuan ayu bergetar.

"Ya, bacalah. Itu buku harianku dulu. Bacalah, agar kamu mengetahui apa yang sebenarnya dirasa oleh hati", ujar lelaki tua dengan suara parau.

"Ini rahasia hati?"

"Ya, rahasia hati yang disimpan rapi, dan kutulis di sini. Biarkan ini menjadi rahasia kita berdua, sudah terlalu lama aku menyimpannya menjadi rahasia sendiri. Aku harus kembali ke kantor, jaga dirimu baik-baik".


Tak ada jawaban, hening, hanya kulihat ada tatapan penuh kasih beradu. Tissue, tissue, aku cepat menarik beberapa lembar tissue. Tanpa bersalaman, tanpa sentuhan sedikit pun, hanya pancaran mata yang beradu pandang penuh dengan kasih! Ya GUSTI, inikah wujud cinta sesungguhnya? Cepat kuseka mataku dengan tissue. Sebuah pengalaman dan pelajaran berharga tentang cinta...

"Saya juga, Ibu. Saya kembali ke kantor. Sehat dan pulih kembali, Ibu, amin...", ucapku. Dan kuterima senyuman manis darinya. Terlihat matanya berkaca-kaca... Putri dari surga, sebutan yang indah dan penuh cinta, cocok untuknya...

Menuju luar rumah, si bibi mendampingi, lalu mengucap seamat jalan dan terimakasih saat kami memasuki mobil untuk kembali ke kantor. Lagi-lagi hening memenuhi perjalanan. Aku masukdalam alam pikiranku sendiri, tentang cinta yang kulihat dari pancaran mata, cinta yang kulihat dari santunnya bersikap, cinta yang dibatasi oleh sebuah kenyataan hidup... Tak terasa mobil memasuki halaman kantor.

"Terimakasih sudah menemani saya, mbak. Boleh kembali ke ruangan, saya mau istirahat. Besok saya akan menruskan cerita ini. Cerita ini harus selesai tertuang, sebelum ajal menjemput", suara lelaki itu memecah hening, dan aku tersenyum, mengangguk halus, sambil lagi-lagi menyeka mata dengan tissue yang tadi kuambil di rumah Putri dari surga...

*****

Salam senyum,
error


Friday, 25 April 2014

error,"Cerita yang belum usai" # 3

Ufh, hari ini jam serasa lambat bergerak. Pekerjaan masih saja bertumpuk, belum selesai. Mataku mulai tak kuat menahan kantuk. Tiba-tiba terdengar bunyi trrrrt, trrrrt, trrrrt... Telepon di mejaku berbunyi.

"Ya, hallo", ucapku

"Turun ke sini", suara itu ramah tapi tegas memerintah. Aku keluar ruangan, menuruni anak tangga perlahan menuju ruangan yang berada di depan. Mengetuk pintunya perlahan, lalu mendorong pintu dengan hati-hati. Senyum itu terlihat jelas. Raut wajahnya tampak cerah.

"Saya mau melanjutkan cerita", ujarnya sambil menyorongkan piring kecil berisi lumpia lengkap dengan saus dan cabe rawit ke depanku. Lumayan sebagai pengganjal mata ni cabe rawit, pikirku. Lalu kuambil sepotong lumpia, dan muai menggigitnya. Dia tersenyum dan berkata,"Terlihat sekali kamu lelah. Banyak pekerjaan hari ini?". Aku terkejut dengan pertanyaannya, hingga cabe rawit tergigit habis! Oops, minum, aku harus minum. Pedas! Disodorkannya pula segelas air kemasan untukku, dan dengan cepat kuminum. "Pelan-pelan, jangan terburu-buru", ujarnya dengan suara kebapakan. Aku tersenyum.

"Oh ya, nanti saya akan ke rumahnya, menjenguknya. Mau ikut?"

Pertanyaan simple, tapi membuatku terbatuk-batuk. Senyumnya hadir lagi.

"Dari tadi kamu terbatuk kaget terus. Ada apa?"

Aku menggeleng dan tersenyum, juga menjawab,"Ga apa-apa, nanti saya boleh ikut?"

"Loh, malah nanya. Saya mengajak kamu"

"Ya, dengan senang hati"

"Sekarang, mari. Supir sudah siap di depan"

Wow, berarti hari ini pekerjaanku harus kubawa pulang, karena hari ini jam kerjaku digunakan untuk mendampinginya pergi.

Di depan, mobil sudah siap menunggu. Aku ikut pergi, duduk di belakang. Perjalanan tanpa suara, hanya suara klakson yang riuh rendah di jalan yang membuat ramai gendang telingaku. Aku berpikir tentang dia, dan dia, tentang cinta mereka yang belum usai, cinta yang terpisah oleh jodohkah? Lalu apa sebenarnya yang disebut jodoh? Orang yang dicintai dan mencintainya dengan tulus, tidak menjadi pasangan hidupnya, tapi memiliki cinta yang terus menerus disimpan dalam hati, tidak terusik, tidak diusik. Hmm, perjalanan hidup, tak seorang pun mengetahui di mana akan berakhir, dan apa yang akan dihadapinya. Apakah cintaku juga akan...

"Sudah sampai. Ayo turun. Sejak tadi kamu melamun", suaranya menghentikan lamunanku. Aku tersenyum, dan tertawa kecil.

Rumah yang megah! Aku berdecak melihat megahnya rumah ini. Hebat! Jadi perempuan yang dicintainya adalah perempuan yang hebat!

"Dia seorang pengusaha sukses, dulu menjabat Presiden Direktur di sebuah perusahaan ternama. Dia memang hebat, pintar, tapi tidak pernah sombong, dan tidak pernah merendahkan siapa pun. Dia seorang yang baik", ujarnya.

"Ya, betul. Rumah ini..., wuuh! Andai saya bisa memiliki rumah, tak usah semegah ini, tapi cukuplah untuk sebuah kata layak bagi 3 anak saya, pasti saya sudah merasa bahagia. Belum punya rumah saja saya bahagia, apalagi memilikinya. Rumah ini, besar sekali", kataku.

"Ditempati oleh dia, dan seorang pembantu setianya. Saudara-saudaranya sesekali berkunjung menjenguk dan menginap. Mereka semua orang yang sukses dalam karir. Mari kita masuk", dia menambahkan.

Terlihat seorang perempuan berlari-lari mendekati kami setelah menutup gerbang rumah. Senyum lebarnya terlihat jelas. "Bapak, Ibu sudah menunggu sejak kemarin. Mari Pak", perempuan itu berkata dengan amat ramah, dan terdengar amat lega karena si Ibu dijenguk.

Memasuki rumah ini, rasanya seperti memasuki sebuah istana kecil. Sentuhan seni ada di seluruh ruangan. Indahnya! GUSTI, boleh kan aku memohon? Rumah yang indah penuh cinta untuk aku dan anak-anakku. Ah ya, rumah ini terasa dingin karena tak ada cinta di dalamnya. Ada sepotong cinta dari sebuah hati, dan potongan lain ada jauh dari tempat ini, dan menjadi hangat sewaktu potongan itu datang. Ingin cepat-cepat bertemu dengan perempuan yang dicintainya!

Masuk ke sebuah kamar, ada sebuah kursi roda di dekat tempat tidur, dan terlihat seorang perempuan tua yang masih terlihat cantik, tidur pulas.

"Ssst, jangan berisik, dia sedang tidur. Lihat, dia bagai seorang putri surga", dengan tersenyum dia mengucap ini padaku, dan kurasa tak membutuhkan jawabanku sama sekali. Jadi aku cuma tersenyum saja.

Bibi yang tadi membuka dan menutup gerbang serta mengantar kami ke kamar, datang membawa 3 cangkir teh manis, dan 3 gelas berisi minuman berwarna merah. Weh, tiba-tiba aku merasa haus, tapi kutahan untuk meminum. Nanti saja, sopanlah sedikit, Err! Bisik hatiku pada diriku sendiri. Lalu aku memandangnya, lelaki yang selalu bercerita padaku tentang pengalaman hidupnya, dia sedang memandang perempuan yang dikasihnya. Oh, dia berdoa untuk perempuan yang disimpannya dalam cerita hati! Tissue, aku membutuhkan tissue! Tak kuasa menahan haru, airmataku muolai mengambang. Ada sekotak tissue di sisi tempat tidur, dan kutarik perlahan. GUSTI, inikah cinta sejati? Saling mencintai walau tak pernah bisa memiliki, dalam diam menyimpan separuh cintanya, dalam hening menyimpan sepotong cintanya, dalam bisu mengasihi cintanya, dan hanya doa yang membuat tetap hidup cintanya... Aku makin membutuhkan tissue...

*****
Salam senyum,
error


Tuesday, 22 April 2014

error,"Hari kebaya..."

Bangun pagi kemarin, gue ingat bahwa itu hari Senin, 21 April 2014, dan hari kartini... Tapi beneran deh, ga terbayang apa pun tentang hari kartini. Sampai akhirnya gue pergi ke pasar swalayan dekat rumah. Masih biasa aja sih sebenarnya, tapi sewaktu gue masuk, oops.., ada apakah ini? Apa gue salah masuk? Gue lihat perempuan-perempuan berkebaya dan berkonde ada di sini. Memangnya ada pernikahan di sini? Itu pertanyaan gue dalam hati, yang ga gue lontarkan pada siapa pun. Dan gue terus saja masuk ke dalam pasar swalayan itu. Pikir, pikir, dan pikir..., hmm..., hari kartini...

Jadi teringat sewaktu masih jadi siswa SD sampai SMA, setiap tanggal 21 April, diharuskan mengenakan kebaya untuk siswa perempuan. Lomba-lomba yang ada tuh lomba ayu berkebaya, eh ngemeng-ngemeng, gue dulu menang terus loooh...! Hahaha, gue juga ga nyangka, ternyata bisa juga ya gue dulu tuh menang. Ada juga lomba merangkai bunga, lomba memasak, pokoknya judulnya kewanitaan. Aneh juga ya? Padahal digembar-gemborkannya ibu kartini kan tentang emansipasi wanita, lah kok perayaannya sebatas kewanitaan dan kebaya, konde. Identik dengan kebaya dan konde. Lah kartini yang beremansipasi tuh mana ya? Dan sampai sekarang, masih saja ada yang merayakannya dengan kebaya dan kewanitaan. Ga ada tentang emansipasi sama sekali. Aneh! Ya seperti di pasar swalayan itu, haduh, susah banget deh tuh mbak dengan kebaya dan sanggul! Bayar sendiri untuk dandannya, perusahaannya cuma nyuruh aja. Lah...! Sebenarnya apa sih yang mau dirayakan? Bajunya, atau pemikirannya? a

Ternyata masih saja melihat seseorang dari apa yang disandang, bukan dari bagaimana dia bersikap, bagaimana dia memandang hidup... kebaya..., hmm, kartini identik dengan kebaya. Jadi, 21 April itu adalah hari kebaya, bukan hari emansipasi wanita... Hahaha!


Salam Senyum,
error






Monday, 21 April 2014

error,"Sarapan pagi? Luar biasa"

Setiap pagi di rumah gue ada kebiasaan sarapan. Hehe, biasa banget ya, bukan hal yang luar biasa deh kebiasaan sarapan pagi. Iya sih, emang, itu biasa banget. Tapi buat gue, sarapan itu luar biasa. Bayangkan, kalau ga ada yang bisa untuk dimakan saat pagi, ya ga bisa sarapan. Masak? Ga ada apa-apa di kulkas, kosong. Beli dong sarapannya. Lah ga punya duit, mau beli sarapan pakai apa? Dompet kosong, atm ga ada isinya. Jadi, sarapan itu adalah hal yang luar biasa untuk gue yang amat sangat biasa ini.

Pas ada uang, pastinya di kulkas udah ada 'something' untuk dimasak. Entah itu telur, sayuran, atau apa deh lainnya. Masak pagi itu untuk sampai sore, sorenya ya gue masak lagi sepulang kerja. Biasanya sih gue masak yang simpel aja, tapi ada sayuran juga lauknya. Sayurnya yang simpel juga, tumis aja deh, hehe biar cepat matang, dan lauknya juga simpel, yang cepat matang juga. Bisa jadi biar cepat matang tuh masak tumis sayurannya dicampur sama lauknya :D, entah ayam, daging, tahu, pokoknya jadi 1, beres! Itu karena gue juga harus cepat bersiap berangkat kerja. Gue cuma berusaha supaya bisa masak cepat, dan hasilnya bisa segera disantap oleh anggota keluarga di rumah. Mama, Ngka, Esa, Pink, bisa segera makan, setelah masakan matang. Gue kan single parent, jadi semua harus bisa dikerjakan cepat, dan sendiri. Tapi ada juga loh waktu-waktu gue ga masak, digantikan oleh anak gue yang sulung, Ngka yang masak untuk sarapan. Juga masak simpel, seringnya sih nasi goreng dengan banyak sayuran.

Masak ga menghabiskan waktu panjang, cukup 5 menit sampai 10 menit, beres. Bahan dan bumbu-bumbu, biasanya disiapkan sejak malam sebelumnya. Jadi sewaktu pagi sudah siap, tinggal masaknya aja. Bumbu halus sudah siap dalam stoples di kulkas. Hari libur, gue sibuk menghaluskan bumbu-bumbu, seperti bawang putih, bawang merah, menggunakan blender. Sedangkan kalau butuh bumbu yang diiris pun biasanya gue udah iris malam, dan masukkan dalam plastik klip, jadi tertutup rapat. Biasanya sih sayuran juga gue masukkan dalam plastik klip di kulkas.

Itu pas ada uang. Pas ga ada uang? Ya ga usah diceritain di sini ya... Jelas dong ga sarapan, k
an ga ada uangnya, dan jelas ga ada bahan yang bisa dimasak :D.

Untuk gue, sarapan itu luar biasa, karena berarti ada rejeki GUSTI di pagi hari untuk Ngka, Esa, Pink, juga mama.

Udah sarapan? Hehehe, gue sih belum... Gue cuma masak, tapi gue sendiri ga sarapan, karena gue ga mau mengurangi jatah makanan yang ada untuk kasapink dan mama.


Salam senyum,
error



"Tulisan ini diikutsertakan dalam GiveAway Yuk Menulis Part 1"

l


Sunday, 20 April 2014

error,"Isi blog lagi..!"

Lama banget blog ini ga diusik sama yang punya. Dasar error, punya blog ga diurus, ga diisi dengan tulisan-tulisan yang memang seharusnya jadi warna blog. Siapa sih si error itu? Hehe, gue... :D

Ya ampun, bener deh, susah banget untuk memulai sebuah tulisan lagi. Ya ini gegara imajinasi terlalu lama dikurung di otak yang belagu, sok sibuk, dan akhirnya mandek, macet, lumpuhlah si imajinasi. Sedih banget, sedih banget... :'(. Berusaha keras untuk membuat si imajinasi mau berlari-larian, dan itu butuh tenaga ekstra! Imajinasi mulai muncul, tapi bener-bener ga utuh, sepotong, dan berhenti sebelum setengah permainan. Draft demi draft bermunculan, dan selalu jadi draft. Membuka, dan membaca draft, dan tetap jadi draft. Sedih banget! Tapi gue ga menyerah, pantang mundur, kudu maju..., pantang ga maju...

Akhirnya kemarin, hari Minggu, 19 April 2014, ada kumpul-kumpul blogger di Summarecon Bekasi, acara One day tour with blogger, mulai pukul 10.00 - 15.00. Teorinya sih memang sampai pukul 15.00, prakteknya siih lebih... hihihi... :D. Pesertanya ya blogger.

Bloggernya keren-keren... Semuanya blogger aktif, yang tulisannya bagus semua. Sedangkan gue? Waduh, malu banget bener... Blog gue lama cuti diisi, dan lama ga disentuh.

Gue merasa gue harus mulai lagi dari awal, memulai semangat yang baru, mengisi energi baru untuk imajinasi. Harus, harus..! Gue harus berusaha, apalagi seudah gue ngobrol sama mbak Lidya, mbak Tanti Neng Amalia, dan mbak Elisa koraag, yang pada heboh ngeblognya.

bareng mbak Lidya


bareng mbak Tanti Neng Amalia


bareng mbak Elisa koraag

Dan gue bersyukur bisa mengenal semua blogger hebat ini. Gue jadi termotivasi untuk mengisi blog lagi. Berusaha keras agar imajinasi utuh berlarian, lalu ditangkap, dicerna, dan biarkan jari bicara. Ayo error, error bisaaaa...!!

Setibanya di rumah, gue bercerita tentang obrolan dengan blogger-blogger hebat, juga dengan bangganya menunjukkan cincin dari mbak Tanti Neng Amalia. Cincinnya okeee bangeeet!!

cincin dari mbak Tanti Neng Amalia

Cincin yang tadinya nempel di jari mbak Tanti berpindah ke jari gue. Nah tuh cincin kan pernah merasakan jari mbak Tanti bicara ya, jadi bisa juga sebagai penyemangat untuk jari gue supaya bisa bicara banyak! Lebai? Biarin aja, namanya aja lagi berusaha membiarkan imajinasi berlari-larian dan berusaha menangkap imajinasi, lalu membiarkan jari bicara :D.

Ngka, Esa, Pink, serius mendengarkan cerita gue, dan mereka tertawa sesekali. Beruntung banget gue punya kasapink yang juga mendukung gue untuk bisa mengisi blog lagi. Mereka menyingkir dari laptop (hehe, laptop cuma 1 buah, dan itu digunakan bergantian untuk berempat), membiarkan gue menggunakannya.

Hasilnya? Ngos-ngosan :D, lumayan pusing karena si imajinasi dipaksa lari, dan jari dipaksa bicara. Tapi blog ini jadi ada isinya lagi... HOREEE!!

Ceritanya segini aja dulu ya. Cerita lengkap tentang acara One day tour with blogger nya nanti aja ya...


Salam senyum,
error















error,"Cerita yang belum usai" # 2

Masih terbayang wajahnya yang menahan sebuah kerinduan selama berpuluh tahun pada wanita yang dicintainya. Ingin rasanya aku menghapus airmata yang menggenang di pelupuk matanya. Lelaki tua yang aku hormati layaknya seorang bapak. Ah, dia menangis dalam hatinya...

"Sibukkah? Datanglah ke mari, sekarang", sebuah suara yang amat kukenal masuk dalam gendang telingaku. Suara yang lunak, tapi tegas. Aku bergegas berjalan keluar, berlari di tangga menuju lantai pertama, dan tergesa melangkah ke ruangan sederhana namun punya sentuhan indah. Perlahan kuketuk pintu, lalu membukanya juga dengan amat perlahan. Terlihat wajah dengan senyum, duduk di belakang meja besar, dengan setumpukan berkas yang seakan berteriak memohon padanya untuk dibubuhi tandatangan seorang pimpinan besar di perusahaan ini. Aku tersenyum, menganggguk, lalu menarik sebuah kursi di hadapanku, dan duduk dengan tenang sambil berkata,"Ya, Pak". Ada senyum lebar digambar di bibirnya.

"Saya cuma ingin meneruskan cerita kemarin pada anda. Ada waktukah hari ini?"

"Ya, Pak, silakan. Pekerjaan saya sudah selesai", jawabku.

Helaan nafasnya terihat jelas. Matanya menerawang lagi. "Saya menceritakan pada istri saya tentang kondisinya. Saya ingin istri saya tau, dan menjenguk bersama saya. Tapi ternyata responna di lluar dugaan saya. Isitri saya hanya berkata, kasihan, lalu tak lagi membahasnya. Berdosakah orang yang saya cintai dalam hati, berdosakah dia mencintai saya di dalam hatinya? Tidak pernah dia mengganggu rumah tangga kami, tidak pernah dia masuk dalam rumah tangga kami, tidak pernah saya berkasih-kasihan dengannya. Cinta itu ada di dalam hati, tidak dimunculkan, tetap ada dalam dasar hati. Apakah salah?", ujarnya lagi, tanpa memandangku sedikit pun. Diusapnya matanya perlahan. Aku diam memperhatikan, dan menunggu kelanjutan cerita.

Pintu diketuk dari luar, cerita terhenti. Ada yang ingin bertemu dengannya, sudah ada janji, kata temanku yang barusan saja mengetuk.

"Baik, nanti kita lanjutkan lagi. Saya ada tamu", ujarnya. Aku pun beranjak dari kursi, tersenyum, dan mengucap terimakasih.

Di meja kerjaku, aku masih saja terpikir tentang cinta yang dimiliki orang yang kuhormati. Ah, cinta, apakah berdosa mencintai seseorang dalam hati? Apakah berdosa menyimpan sebuah cinta dalam hati?

"Besok ada jadwal Psikotestkah?", sebuah tanya membuyarkan pikiranku tentang cinta yang ternyata masih belum usai...


******

-error-

Saturday, 19 April 2014

error,"HORREE HORREE GA BANJIRRR...!!"

Tadi tuh hujan deras. Dag dig dug juga khawatir banjir seperti waktu-waktu sebelumnya. Gue sedang ada acara di luar, ga di rumah. Hedeh, moga-moga sih ga banjir. Bisa aja sih bbm ke kasapink di rumah, tapi pas lowbat :D. Ya sudahlah, gue pasrah, sambil komat-kamit dalam hati, semoga ga banjir... (kalau dalam hati, yang komat-kamit tuh hatinya, atau apa ya? :D)

Acara masih lumayan lama sebelum akhirnya pulang. Di motor, gue benar-benar tebak menebak, dan tetap berdoa,"GUSTI, kalau boleh nih, jangan banjr ya...". Hehe, kehendak manusia yang bicara, tapi tetap GUSTI yang menentukan. Ya kan ya? :D. Jalanan lumayan becek, sewaktu masuk perumahan, lumayan becek. Tetap aja gue berdoa yang sama,"GUSTI, kalau boleh, jangan banjir ya...". Sesampai di jalan depan rumah, weh, ga banjir...! Tapi kan posisi rumah gue tuh ada di bawah jalan. Gue harus masuk, periksa ke dalam.

Sampai juga di rumah. Esa keluar karena gue klakson 2 kali dari pagar rumah seperti biasanya kalau gue pulang dari bepergian. Gue buka sepatu, dan langsung periksa kamar mandi. Iya kamar mandi, kan ada lubang pembuangan air. Dan ternyata...,"HORRREEEE... HORREEE... GA BANJIRRRR...!!". MAkASIH YA GUSTI, ga banjir... Jajdi ga salah dong gue ga nyoblos tuh muka caleg yang katanya mau benerin perumahan tempat tinggal gue, supaya ga banjir. Tanpa orang yang ga tulus itu, ternyata ga banjir tuh... Misalkan tetap banjir, ya gue ga menyesal ga nyoblosin muka tuh caleg... GUSTI pasti tau, yang tulus itu yang indah... Ah, pokoknya judul hari ini adalah... HORRREEE HORRREEE GA BANJIRRR...!!!


Salam Senyum,
error






error berpuisi bebas,"Antara aku, kamu, dan GUSTI"

Tau ga sih,
pengen banget memukulmu
agar kamu tau
aku ada di sini
mengingatmu...

Ngerti ga sih,
pengen banget menjepretmu dengan karet
agar kamu sadari
aku merindukanmu
tak henti...

Heran banget,
sewaktu pengen memukul
tangan ini melemah
saat ingin menjepret
ga menemukan karet yang biasanya tergantung di dinding

Berdoa aja deh ya...
semoga rasa ini
ga jadi sia-sia
semoga rasa ini
bisa menjadikanku bersyukur
ternyata
aku masih punya perasaan...

sebodo ah tentangmu...

GUSTI,
udah dengar doaku tadi?
MAkASIH ya...


-error-

error,"Cerita yang belum usai" # 1

Matanya menerawang, menatap langit-langit ruangan. Hening. Aku menunggu lanjutan cerita darinya. Lelaki tua di hadapanku ini adalah orang yang kuhormati. Dia menghela nafas panjajng, melenguh pelan. Masih hening, dan aku masih menunggunya melanjutkan cerita masa lalu miliknya...

"Saya mencintainya, tapi dia bukan milik saya, dan tak akan pernah menjadi milik saya. Dia pun menyadari ini. Bukan tak pernah dicobanya untuk berhubungan dengan lelaki lain, dia sudah mencoba, tapi selalu dihentikannya. Dia tak bisa melupakan saya. Ada rasa berdosa di hati saya, tapi ini sudah takdir. Seorang perempuan lain mengisi hidup saya, lalu 4 anak manis menambah semarak hidup. Sedangkan dia tetap sendiri, hingga saat ini, hingga menua, dan lumpuh. Tapi hatinya tak pernah lumpuh untuk saya...", matanya masih menerawang...

Aku diam, tak berkata apa pun. Menunggunya melanjutkan...

"Saya selalu merasakan apa yang sedang dia rasa. Sewaktu ia sakit, saya pun tau, saya pun merasakannya. Dan dia pun merasakan saat saya sakit. Jodoh, kita tak pernah tau tentang jodoh...". Suasana kembali hening. Ruangan sejuk ini jadi terasa dingin. Aku menunggu suaranya memecah hening.

"Isitri saya amat mencintai saya, saya pun mencintainya, tapi ada seorang lain yang tak pernah bisa tergantikan oleh siapa pun, disimpan rapi dalam kenangan, dan saya jaga, jangan hilang, saya amat menghormati cintanya, dan saya punya cinta yang tak tersentuh untuk dia. Beberapa puluh tahun lalu dia selalu ada dekat saya, mendampingi saya dalam hidup. Dengan kesabarannya, dia membangkitkan saya. Dibelainya hati saya hingga semangat selalu ada. Tak pernah dia memegang tangan saya, menyentuh ujung jari pun tak pernah. saya juga tak pernah menyentuhnya. Saya mencintainya. Jodoh, tak ada yang tau...", matanya menutup dan tangannya pun mengatup.

Hening lagi... Aku mengambil tissue yang ada di atas meja, yang menjadi jarak antara aku dan dia. Airmata haru mulai menggenang. Cinta, sebegitu rumitkah untuk menyikapinya?

"Dia sakit, terbaring tak berdaya. Saya menjenguknya, dan ada sebuah buku berjudul We'll Meet Again di samping tempat tidurnya. Saya merasa bersalah, saya ingin memeluknya, tapi tak bisa. Saya mencintainya, tapi dia bukan istri saya, saya mempunyai seorang istri yang mencintai saya. Saya menahan tangis. Ah, dia memandang dengan tatapan rindu...", dia bercerita sambil mengusap matanya yang juga mulai dipenuhi airmata...

Lelaki di hadapanku diam, dan suasana menjadi hening lagi...

"Besok saya akan cerita lagi padamu tentang dia. Hari ini ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Besok kembalilah ke mari. Terimakasih sudah menjadi pendengar yang baik", ucapnya sambil tersenyum.

Aku tersenyum, melangkah menuju pintu. Pekerjaan hari ini bertumpuk di meja kerjaku...

*****
-error-






Tuesday, 15 April 2014

error,"Paku dan Tinta Ungu, dan 5 tahun sesudahnya"

Tanggal 9 April 2014 yang lalu kita semua rakyat Indonesia 'mencoblos' memilih pemimpin rakyat. Eh, apa iya semua rakyat ya? Hihi, ya ga tau juga sih... Di sini gue cuma mau cerita tentang hari 'H' yang gue jalanin, berhubungan dengan pencoblosan itu. Sejak hari sebelumnya, gue dah gembira banget menyambut tanggal 9 April 2014, yang jatuh di hari Rabu. Gembira karena mau nyoblos? Bukan...! Gue gembira karena hari itu dinyatakan sebagai hari libuuur...!! Hahaha, asyik banget kan? Terbayang sudah hari 'leha-leha' di rumah, ga perlu berangkat kerja, ga perlu menghadapi macet. Beberapa hari sebelum pencoblosan, anak gue yang nomor 2, Esa, menyodorkan bundelan kertas yang dia ambil dari selipan pagar rumah.

"Apa tuh Sa?"

"Ga tau, Ma. Ada di pagar tuh"

Gue buka. Oops, ada politikus di lembaran kertas :D. Politikus sedang asyik pusing berusaha menang. Di lembaran kertas yang lumayan banyak, ada copy surat pernyataan si bapak yang minta dicoblos pakai paku, dan janjinya kalau terpilih :D, juga ada surat selebaran dari developer rumah tentang banjir.

Oh iya, gue ceritain dulu deh ya, perumahan tempat gue tinggal tuh jadi langganan banjir. Dikit-dikit banjir, sebentar-sebentar banjir. Sampai-sampai bos gue selalu sms kalo di tempat tinggalnya yang jauuh itu hujan,"Mbak Nita, di tempat saya hujan deras dari tadi. Harapan Indah amankah? Semoga ga banjr, amin". That's it. Sebegitu seringnya banjir, sebegitu seringnya gue terhalang banjr hingga ga bisa berangkat kerja, bos gue yang baik hati, ramah dan tidak sombong, juga penyabar dan sering bercanda itu selalu sms kalau hujan. Terbayang ga banjrnya? Waktu Januari kemarin sih parah.

banjir januari 2014

Itu sudah mulai surut, loh. Dan juga dalam rumah lebih dari segitu, karena posisi rumah gue, eh rumah ortu deng, gue belum punya rumah :D, lebih rendah dari jalan. Parah? Ya iya, memang.

Balik lagi ke surat pernyataan si bapak yang minta dicoblos-coblos ya... :D. Surat itu copy an dari surat pernyataan, tulisan tangan yang ga bisa gue bilang kalau itu tulisan tangan yang bagus :D, dan bermeterai. Intinya gini: 'Pilih gue ya, kallau lo milih gue, dan gue menang, ga sah khawatir deh, Harapan Indah ga bakal kebanjiran'. Dan surat dari developer yang diikutsertakan itu adalah surat yang waktu banjir kemarin memang diedarkan, tentang banjir, ga ada hubungannya dengan si bapak yang memohon dicoblos, cuma digunakan aja oleh dia supaya lebih cihui, gitu . Hebat juga si bapak itu masih menyimpan surat edaran itu. Anak gue ikut membaca surat pernyataan itu, dan menurut dia, wah asyik banget ga banjir lagi, gitu.

"Ma, kalo nyoblos dia nih, berarti kita ga kebanjiran lagi dong ya. Baik ya Ma?".

"Yang, kalo baik, kenapa ga dari kemarin sewaktu belum banjir, ni bapak bergerak? Dia ngomong begini karena pengen dicoblos. Tinggal berapa hari lagi kan nyoblos, makanya dia sibuk deh bikin janji gini. Lagi pula sekarang sih ga hujan, lah mana kita tau bakal banjir atau ga lagi. Misalkan dia ga terpilih, ya dia bisa mengelak,"Lah kan kalau gue terpilih, baru deh gue benerin tuh lokasi tempat tinggal lo. Ga terpilih, ya ga lah".". Itu jawaban gue ke Esa, sambil senyum-senyum. Ya iyalaah, janji-janji gegara mikir 5 tahun ke depan dia bisa ngapain aja, bisa beli mobil mewahkah, atau bisa ajak keluarga shopping di kutub utaara, mungkin? Hedeh, 'negative thinking' nya gue mulai jalan... :D

"Mama ga bakal nyoblos dia dong?", tanya Esa lagi.

"Ga. Dia ga tulus. Dia begitu cuma karena dia ada kepentingan untuk diri dia sendiri. Lah ga ada niat tulus untuk 'cuma' di sini. Padahal kan daerah yang bakal dipimpin bukan cuma di sini aja", jawab gue lagi. Dan Esa pun mengangguk-angguk sambil tertawa.

Hmm, hari pencoblosan... Ga sabar menunggu hari libur itu... :D

Cihuiii, akhirnya Rabu, 9 April 2014 tiba. Gue dan Ngka, Esa, juga Pink, libur! Asyik kan? Ini yang gue tunggu. Leha-leha yang asyik! Sebenarnya ga leha-leha, karena setiap libur, itu artinya sibuk mencuci baju, dan semua pekerjaan rumah. Tapi ini gue sebut leha-leha, karena bisa berkumpul dengan 3 nyawa kecil tercinta. Tapi, oops..., hmm, magic jar ternyata rusak! hedeh, si bapak yang minta dicoblosin paku itu, mau ga ya ngegantiin majic jar gue yang rusak ini dengan magic jar yang baru? Hahaha!! Lupakan! Hahaha! Jadi, akhirnya gue masak nasi a la tradisional.

Sewaktu asyik meribetkan diri dengan segala urusan kerjaan rumah, Ngka, anak sulung gue yang berusia 17 tahun, dan ini pertama kali boleh nyoblos, berkata ke gue,"Ma, ntar bareng ya nyoblosnya". Gue mengiyakan. Anak gue dah rapiii dan wangiii..., gue sih masih apek aja. Setelah menunggu gue kok dilihatnya gue masih aja bercelana pendek ria dan cuek, Ngka bertanya lagi,"Ma, mau nyoblos jam berapa?". Gue menjawab, siang aja, nunggu sepi. Ngka ga sabar, lalu berangkat nyoblos bareng sahabatnya. Sepulang nyoblos, Ngka bercerita dengan riangnya ke gue.

"Ma, tadi Ngka jajdi omongan orang, Ma".

"Omongan gimana?"

"Ngka datang tuh TPS nya rameeee, Ma. Terus tiba-tiba ada angin kenceng! Terus, wuuus!! Hahaha, masa kertasnya Ngka jadi ada di atas, Ma. Terus, Ngka jadi duluan dipanggilnya. Hahaha, jadi omongan deh".

Gue tertawa mendengar cerita Ngka.

"Ma, ntar aja Ma, datangnya. Masih rame", tambah Ngka lagi.

Dan ya, gue santai aja di rumah, hingga gue mendengar suara,"TPS akan tutup 20 menitr lagi". Yukah Yuk, siap-siap... Di TPS sepiii banget! Gue datang, langsung dapat giliran untuk nyoblos. Waduh, kok banyak banget ya pilihannya? Waduh... gue angkat paku... JLEB!! JLEB!! JLEB!! JLEB!! JLEB!! Hloh, kok banyak? Ya banyak, kan piihannya banyak :D. Tibalah waktunya untuk mengungukan jariiii...!!
kelingking unguku

Di rumah, Ngka, Esa, Pink, bertanya,"Pilih apa, Ma? Pilih siapa?", gue jawab sambil tersenyum,"Pilihannya banyak, dan yang penting ungu!". Hahaha..., 3 nyawa kecil tertawa. Ngka berkata,"Ada yang mukanya kan Ma? Ngka coblos aja dia. Lucu banget mukanya". OMG, berarti tu orang harus bersyukur punya muka lucu, karena Ngka memilih dia gegara mukanya lucu!

Paku untuk mencoblos, tinta ungu yang ada di jari kelingking, itu berpengaruh hingga 5 tahun mendatang... Apa yang akan terjadi 5 tahun mendatang sesudah ini? Ga ada yang tau... Lihat aja nanti... Semoga aja jauh lebih baik dibanding sekarang, amin ;)


Salam senyum,
error























Monday, 14 April 2014

error,"Tawuran? Argh!"

Setiap mendengar kata tawuran, rasanya ingin marah. Apa sih yang didapat dari tawuran? Ada masalah apa sih sampai akhirnya terjadi tawuran? Beberapa kali sewaktu pulang kerja, motor terhenti, macet, karena ada tawuran pelajar. Aargh, apa yang dicari para pelajar sebenarnya? Apa iya jadi pintar gegara ikut tawuran? Ga banget! Gue yang single parent, seorang sahabat, seorang ibu bagi 3 anak gue, rasanya jengkeeeel banget sama pelajar yang tawuran! Ga ngerti ya mereka itu, bagaimana kerasnya usaha orangtua agar mereka bisa bertumbuh dan berkembang dengan baik, agar mereka bisa meraih cita-cita mereka, bisa mendapat pendidikan yang memang selayaknya mereka dapat. Eh mereka malah seenaknya sendiri mengisi hari dengan tawuran yang konyol. Gue ingat anak-anak gue, ngka, esa, pink, yang masih dalam tumbuh kembang. Ufh, ga jadi hebat karena tawuran, itu yang ga terpikir oleh mereka yang tawuran, mungkin. Ah, gue jadi ngomel sendiri deh... (haha!)

Jadi teringat kejadian sewaktu pulang kerja. Di perjalanan, gue lihat beberapa motor berbalik lagi, ga meneruskan perjalanan. Gue tetap aja tancap gas, terus...! kasapink menunggu di rumah, kalau berbalik, hmm.. memakan waktu yang lebih lama untuk sampai di rumah, dan tentunya gue juga jadi lebih cape. Oops, ternyata ada tawuran! Gue yang selalu geregetan sama yang namanya tawuran, menghentikan motor, gue standard, lepas helm fullface, dan berteriak ke mereka "peserta tawuran","WOOI, BEREHENTI!! PULANG LO SEMUA!! IBU LO NYARIIN LO SEMUA!! GOBLOk LO SEMUA!! GOBLOk LO TAWURAN GINI!! PULANG LO!! PULANG!!", gue berteriak sambil mengacungkan helm tinggi-tinggi. Gue tau, ini tindakan konyol. Tapi siapa yang mau menghentikan tawuran ini? Menunggu polisi datang? Ga ada polisi yang datang, ga ada seorang pun yang berusaha menghentikan. Padahal harus ada yang menghentikan, harus ada yang menyentak mereka bahwa tawuran itu ga banget!! Dan cuma ada gue, seorang ibu yang miris melihat tawuran. Sebenarnya ga cuma sekali itu gue lakukan hal seperti itu. Beberapa kali gue ambil tindakan semacam itu, sewaktu gue berpapasan dengan tawuran pelajar. Dan anehnya, mereka mendadak sontak berhenti tawuran. Aneh kali ya, ada ibu-ibu hentikan motor, standard motor, copot helm fullface, lalu berteriak dengan marah pada mereka, sambil acungkan helm! Hahaha, tapi biar deh ga apa-apa... Toh akhirnya bisa menghentikan tawuran yang sedang berlangsung. Tapi kan ga mungkin ya, setiap ada tawuran gue nongol, JRENG JRENG JREEEENG!! Hahaha..!!

Tanggung jawab siapa ini semua? Tanggung jawab siapa pelajar jadi suka tawuran? Ga usah saling menuding, dimulai dari diri sendiri aja yuk, untuk tidak menyimpan dendam, tidak menyimpan amarah, apalagi memperbesar amarah, tidak menyimpan iri dan dengki. Hal baik pasti menular, lah wong hal buruk aja bisa menular, apalagi hal baik, ya ga sih? Yuk ah berdamai dengan keadaan, berdamai dengan hari, berdamai dengan hidup, berdamai dengan hati. Caranya? Sama-sama yuuk kita bersyukur, syukuri apa pun yang kita hadapi dan kita jalani. Bukan menyukuri orang lain,"SUkUR LO JATUH!!", hahaha!! Itu ga banget!!

Tawuran? Jangan ada lagi, ga ada lagi, amin...


Salam senyum,
error


error,"Perempuan dan dendam"

"Aku hanya ingin pergi menyelesaikan ini semua. Aku hanya ingin menyelesaikan hingga tuntas", ujarku pada diri sendiri sambil menyelipkan sebilah pisau di pinggang, dan sepucuk senjata api di sepatu boots yang kukenakan. Senyum manis tetap tergambar di bibir yang selalu polos tanpa warna lipstick.

"Aku berangkat. Dia harus diselesaikan. Malam ini, harus selesai. Aku berangkat, jangan cegah aku", aku mengambil jaket hitam kesayangan, lalu mengambil helm hitam fullface milikku. Senyum tetap ada, dan tetap sama seperti sebelumnya.

Suara motor keras menghantam gendang telinga. Aku memacu motor dengan cepat, seperti biasanya. Aku sama sepertimu, seorang perempuan yang mencintai anak-anakku, tapi juga seorang perempuan yang keras. Selalu terselip sebilah pisau dan sepucuk senapan kecil. "Ini cuma sebagai penjagaku, pelindungku, bukan sebagai pemeran utama dalam masalah. Jangan khawatir, aku menggunakannya hanya jika dalam situasi terdesak saja. Aku bukan seorang yang konyol, yang selalu menggunakan kekerasan dalam penyelesaian masalah. Tapi aku juga bisa saja menggunakannya sewaktu-waktu, tanpa bisa diprediksi", itu penjelasanku pada teman-teman yang mengetahui kebiasaanku itu. Aku seorang perempuan dengan rambut coklat, penyuka es kopi hitam pahit, dan perokok. Tapi apakah aku salah jika menjadi diri sendiri?

Berhenti di muka sebuah rumah mungil, pintunya tak dikunci. Aku masuk, dan kulihat dia duduk di sebuah kursi sambil membaca sebuah tabloit.

"keluar. Tunjukkan padaku kehebatanmu, tunjukkan sesumbarmu yang berkata akan membunuhku dan anak-anakku", aku berkata sambil meletakkan pisau di lehernya. Dia tersentak kaget. Laki-laki dengan perawakan tinggi besar, sparing partner saat latihan beladiri itu benar-benar terkejut.

"Ada apa? Jangan emosi", ujarnya gugup.

"Takut? Ini pisau yang kubeli tahun lalu, kamu juga mengetahui seberapa tajam pisau ini", kataku sambil tertawa.

Terdengar jeritan perempuan di dalam rumah, menyebut nama Tuhan, dan berteriak akan memanggil poisi. Aku cuma tertawa. Pisau tetap berada di lehernya, dan dia berjalan menuju luar, dengan aku berada di belakangnya yang tetap siaga.

"Tunjukkan sekarang nafsu ingin membunuhmu. Ayo", aku berkata tegas sambil membuang pisau.

"Jangan emosi", ujarnya.

"Takutkah? Aku juga tangan kosong sama sepertimu. Aku bukan pengecut yang bisanya mengancam!"

Jeritan perempuan itu masih saja terdengar, tapi anehnya tak seorang pun mendengarkan. Banyak orang berkumpul di depan rumahnya, tapi tak seorang pun membantunya. Hanya tegak diam, menonton perkelahian yang terlihat tak seimbang. Aku seorang perempuan dengan tubuh kecil, sedangkan dia seorang lelaki tinggi besar! Tapi mungkin jadi terlihat seimbang, karena aku bisa menangkis serangannya, dan bisa membalas serangan. Hingga kulihat dia mengambil pisau yang tadi kulempar. Tawanya licik. Senjata api kecilku kukeluarkan dari boots. Perlahan tapi pasti kuarahkan pada dirinya, sambil tersenyum.

Selesai, semua ini selesai. Tubuhnya yang terkapar bersimbah darah bukan lagi ancaman untuk aku dan anak-anakku... Polisi? Itu urusan nanti. Bos Cosa Nostra tempatku bergabung selalu membantuku dalam situasi seperti ini. Yang terpenting, anak-anakku dalam keadaan aman. Jeritan perempuan tak ada lagi. Raungan motorku memecah malam yang hening... Anak-anakku pasti sudah terlelap. Dan aku masih dalam perjalanan menuju base camp Costa Nostra... "Selamat tidur, sayang, mama pulang setelah ini", bisikku dalam hati.

*****












Friday, 11 April 2014

error,"Doa di pinggir jalan"

GUSTI...,
ada banyak bendera warna-warni di sepanjang jalan,
lalu ada banyak wajah tersenyum ditempel di tembok-tembok, 

juga tertawa di baliho

katanya,
calon pemimpin hebat
calon pemimpin kuat
calon pemimpin yang cerdas
calon pemimpin yang lugas
calon pemimpin yang tegas...
calon pemimpin yang pemaaf
semoga saja
bukan pemimpin yang suka sambat,
pemimpin yang cuma main keras
yang ternyata pemaaf, karena minta dimaafkan atas uang yang diembat

GUSTI...,
apakah kemarin sudah lihat gambar apa yang aku lubangi,
sudahkah melihat wajah siapa yang aku lukai dengan paku,
di kertas suara...
ada upah untuk mengangkat paku dan melubangi
lembaran seratus ribu
yang sudah habis untuk beli beras
lumayan, cukup untuk makan dengan garam beberapa hari

GUSTI...,
ampuni aku, karena tak perduli dengan siapa mereka
perut anakku lebih penting diisi, dibanding hanya berpikir untuk beberapa tahun ke depan...
lima tahun lalu, lima tahun sebelumnya, sama saja...
dulu aku menahan lapar
sekarang anakku menjerit lapar
dulu tak bisa sekolah
sekarang gratis pun susah
tetap tak bisa sekolah
gratis yang membuat tangis
mana uang buku?
mana uang seragam?
mana uang piknik?
gratis cuma membuat hatiku miris

GUSTI...,
siapa pemimpin kami nanti?
pasti GUSTI tau jawabannya
atau malah
negara ini tak butuh pemimpin?
ah,
sesumbar
tawanya hambar
sedangkan anakku lapar

pemimpin itu sanggupkah lapar?

GUSTI...,
terimakasih sudah mau mendengarkanku
pasti nanti ada jawaban
kita lihat saja ya GUSTI,
siapa tau kita bisa tersenyum,
bahkan tertawa
karena lapar tak lagi jadi problema
atau malah tak lagi sempat tersenyum,
tak bisa lagi tertawa
karena lapar sudah dijemput
malaikat terbang ke surga
ke tempatMU,
ya GUSTI...


amin


-error, pagi-pagi, belum mandi-



































Sunday, 6 April 2014

error,"doa rejeki hari ini..."

GUSTI,
ada yang kebingungan karena di kartu atm-nya cuma ada angka yang katanya beberapa M saja...
ada yang sedih karena dompetnya rusak gara-gara lembaran uangnya memenuhi dompetnya, hingga tak bisa ditutup...
GUSTI,
dari kartu atm itu katanya bisa keluar uang, loh!
aku mauuu...!!
uang penuhi dompet itu rasanya gimana ya?
dompet aja aku ga punya...

GUSTI,
katanya ada yang memohon agar penghasilannya naik
kasihan, ya GUSTI...
uangnya kurang
hingga mereka mencuri miliaran rupiah
miliaran rupiah itu bisa untuk beli goreng tempe berapa truk ya GUSTI?
GUSTI,
ada yang memohon lima ratus juta setiap bulan...
karena gajinya hanya puluhan juta, katanya...

GUSTI,
aku berterimakasih rejeki yang ada dariMU
cukup untuk makan siang ini
tapi kalau mereka yang berpenghasilan banyak itu masih juga merasa kekurangan,
hari ini aku mau memohon padaMU...
penghasilan mereka yang dirasa kurang itu,
untukku saja...
aku mensyukuri yang ada...
bersyukur hal yang kecil, dan mensyukuri hal yang besar tentu saja...
jadi aku mohon,
penghasilan yang diterima mereka,
berikan saja untukku...
untuk membeli makan seluruh orang yang tak bisa membeli makanan siang ini...

amin...


# error, dalam diam, 06 april 2014


Wednesday, 2 April 2014

error,"GUSTI, dan aku"

GUSTI,
aku tahu semua hariMU adalah indah
aku tahu bahwa semua detikmu adalah cinta
ampuni aku yang masih kosong doa hingga pagi menjelang siang

GUSTI,
jemariku bengkak saat menyapu cemas dari otakku
hatiku mengecil saat berusaha meraih kasih berkawat duri
ampuni aku yang masih saja lupa bahwa ada kasih yang besar dariMU,
lebih dari kasih siapa pun

GUSTI,
aku duduk di bangku kayu sederhana
menundukkan kepala
merapatkan jemari
mengucap satu dua kata
menyebut namaMU
merembes airmata
perlahan lalu deras mengaliri wajah
membanjiri hati

GUSTI,
kubuka lembaran halaman kitab tebalMU
sarat dengan kidung penghalau duka
dipenuhi nyanyian suka cita gema kasih...
lalu
merapatlah hati yang berkeping
merekatlah asa yang terkoyak
menyatulah kasih yang berserak

ah, lagi-lagi, GUSTI...
senyum ini tercipta
ada terangMU menembus jalanku...

dua puluh enam huruf ini
tak bisa menjadi ucapan terimakasihku
terlalu singkat...
atau kubiarkan sebanyak mungkin huruf berjajar
dan semua untukMU
untuk ucapkan
ah GUSTI,
terimakasih
suaraMU menghapus resahku...


-error-