Skip to main content

Posts

Showing posts with the label catatan panjang

error bercerita,"Sebuah perjalanan" # episode 18

"Minum, Pa", aku mengangsurkan minuman dalam gelas untuk Hans, Papa dari De, Gi, dan Zi.  Hans terlihat tak acuh. Aku mengambil sepatunya, dan meninggalkan Hans sendirian di ruang tamu. De, Gi, dan Zi, berada di dalam kamar mereka, dan tersenyum lebar saat kumenoleh pada mereka. "Deee", panggilku. De berlari menuju arahku, dan berteriak,"Yaaa Mamaaa" "Diam, berisik", tiba-tiba suara Hans memotong senyum De "Mama, ada apa?", tanya De berbisik "Tanya Papa, Papa mau makan sekarang atau nanti, sana sayang", kataku "Mamaa, tadi Papa udah teriak menyuruh diam, masa sekarang De yang harus tanya Papa sih Ma?", ujar De "Justru itu, tanya sana. Sayang Papa, kan sayang?", tanyaku "Sayang? Hmm... iya", ujar De tapi dengan suara seperti ragu "ya udah sana, tanya ke Papa" kataku Dan kulihat De berjalan ragu-ragu, lalu menoleh padaku. Aku tersenyum dan mengedipkan sebelah mataku padanya, lalu kuli...

error bercerita,"Sebuah perjalanan" # episode 17

"Mamaaaa, tadi di sekolah asyiiik", kata Zi "Oh ya?" "Zi dapat 100 loooh...!" "Aaah Ziii, Gi juga dapat 100", kata Gi "De dapat sejutaaaaa...", kata De Aku tertawa. Celoteh-celoteh ceria ini yang setiap detik menghidupkan hariku. "Nyanyiii nyanyiiii... yuuuk", ajak Zi "If you're happy and you know it clap your hands...!" Lagu itu, lagu riang yang selalu isi hari, berkumandang di rumah. "Mamaaaa, Papa pulang apa Bogooor?", tanya Zi "Hmm, Mama ga tau sayang. Lebih baik Papa pulang kan sayang", jawabku "Gaaaaaa, Mamaaaaa... Lagipula kan kita udah punya makanan, Mamaaaaa..." "Hush, ga boleh gitu cintanya Mama. Harus bisa mencintai Papa sebesar apa hayooo?? Siapa yang ingat mencintai sebesar apa?" "Garaaaaam...!!", teriak Zi, Gi, dan De bersamaan "Ya, mencintai sebesar garam dalam masakan. Tanpa garam, masakan jadi hambar. Begitu juga cinta dalam hidup, mencintai...

error bercerita,"Sebuah perjalanan" # episode 16

"Mam dan Pap pulang ya. Jaga dirimu dan anak-anak baik-baik. Ini untuk jajan anak-anak, simpan dengan baik. O ya, pakai cincin Mam ini untukmu, juga kalung dan gelang ini. Jadi kamu terlihat lebih manis", ujar Mam saat akan pulang. Aku tersenyum. Tak ada kata keluar dari mulutku. De, Gi, dan Zi terlihat sedih.  "Eyaaaaaang, nanti Zi mau beli rumah yang besaaaar... Eyang menginap di rumah Zi lagi ya nantinya. Ada 5 kamar nantinya. Satu kamar untuk Mama dan Zi, satu kamar untuk Gi, satu kamar untuk De, satu kamar untuk Eyang kakung dan Eyang putri sewaktu menginap", Zi berkata sambil memelukku yang berjongkok di sampingnya. "Zi, itu baru 4 kamar. Berarti itu kamar Zi. Papa kan tidur di kamar berdua Mama, ya?", Pap berkata pada Zi sambil mencolek pipi Zi. "Iiiih Eyaaaang...! Yang satunya itu kamar untuk pembantu, tauuuuuu...! Zi sama Mama, Eyang. Papa tidur di rumahnya sendiri aja. Rumah Zi bukan rumah Papa, Eyaaaang. Nanti Eyang boleh parkir mobil di ...

error bercerita,"Sebuah perjalanan" # episode 15

"Mamaaa, Papa ga pulang", kata Zi padaku "Pulang, sayang" "Ga pulaaaang", sahut Zi lagi "Pulang, cintaaaaa", kataku "Mamaaaa, maapin Zi. Tadi Zi buka sms dari Papa, katanya Bogor, gitu Ma. Berarti Papa ga pulang kan??" Aku tersenyum mendengar perkataan Zi. Entahlah tersenyum lega karena Hans tidak pulang atau tersenyum karena melihat Zi dengan gayanya yang polos bercerita padaku. Ah Hans, maafkan kami. Tanpamu selalu memberi sebuah kelegaan bagi kami, walaupun juga tetap ada rasa sedih tanpa kehadiranmu. "Hans ga pulang?", tanya Pap "Ga, Pap" "Sibuk sekali dia", ujar Pap "Ga setiap kali Hans sibuk, Pap", sahutku sambil melangkah ke belakang rumah. Mesin cuci belum juga selesai kuservis. Tapi ternyata Pap mengikutiku dari belakang. "Mesin cuci?" "Ya" "Servis sendiri?" "Ya" "Hans?" Aku terkekeh. Mana pernah Hans turun tangan urusan rumah? Semu...

error bercerita,"Sebuah perjalanan" #episode 14

"Hans?", aku terkejut melihat Hans ada di depan pintu. Sungguh aku tidak mendengar kedatangannya. "Hmm", jawabnya tanpa senyum, dengan wajah tak acuh "Mam dan Pap datang" "Sudah tau", ujarnya sambil melepas sepatu di ruang tamu "Aku tidak mendengar kamu datang. Maaf" "Carport sudah penuh dengan mobil orang tuamu. Ga butuh permintaan maafmu" "Hans, sudah pulang? Mam dan Pap ga tau kamu dah sampai di rumah. Ga ada suara", Mam dan Pap tiba-tiba ada di ruang tamu. Hans tak acuh pada Mam dan Pap. Dia terus saja masuk ke dalam tanpa berkata apapun. Mam dan Pap memandangku. Ada banyak pertanyaan kulihat di wajah Mam dan Pap. Tanya tanpa kata. Aku hanya diam tak berkata apapun. Duduk, dan masuk ke dalam karena Hans memanggil. Aku tinggalkan Mam dan Pap dan jutaan pertanyaan yang terlihat jelas... Hans di kamar duduk dengan muka masam. Aku berdiri di hadapannya dan memandangnya tanpa berkata apapun. "Sejak kapan Mam dan...

error bercerita,"Sebuah perjalanan" #episode 13

Trek trek trek! Tin tin tin!! Suara dari luar. Pagar diketok gembok, dan suara klakson mobil. "Deeee...! Giiii...! Ziii...!", suara teriakan dari luar mengejutkanku. Aku berlari keluar. Mam! Pap! Tergesa aku membuka gembok, sambil tersenyum. Rindu ini tak tertahan lagi... "Aaah, kamu kurus sekali...", Mam berkata dan memelukku "Ya, sini Pap rindu", Pap berkata, lalu memelukku erat "Jangan diet terlalu keras, sayang. Terlalu kurus bisa sakit. Mana De, Gi, dan Zi? Hans mu?", Mam berkata padaku. "Mereka masih tidur, Mam. Lelah semalam bercanda" "Hans juga?", tanya Pap "Hans nanti pulang, Pap. Ada pekerjaan yang tak bisa ditinggal" "Hmm..", ujar Pap "DOOOOOOORRRRR!!!!" Mam, Pap, dan aku terkejut bukan main. Tiba-tiba saja De, Gi, dan Zi, muncul berteriak dari balik pintu! Cintaku tercinta..., selalu punya cara unik meramaikan suasana. "Hahahaha!!!", tawa Pap, lalu memeluk 3 cucu yang juga t...

error bercerita,"Sebuah perjalanan" #episode 12

Trek trek trek...! "Mamaaaa, ada orang di pagar", kata Zi "Gi aja ya Ma... Gi yang keluar ya", ujar Zi, lalu berlari ke luar. Tak lama kemudian Gi terlihat membawa kantong plastik besar merah warna merah sambil tertawa. "Gi aja yang keluar kalau ada yang trek trek pagar ya Maaaa", kata Gi, dan menambahkan,"Selalu makanan!", dan disambut tawa De juga Zi. Aku tersenyum... "Makan ma?", tanya Gi Aku tersenyum, dan mengangguk. "Maaaaaaa, ada 2 kardusnyaaaaa...", suara Zi berteriak tertahan, jadi lebih cenderung disebut mendesis. Matanya melotot melihat ada 2 kardus dalam kantong plastik. "Ma, apa iya dia tau kalau kita ga punya makanan?", tanya De serius "Gaaaa... Ga tauuu Deeeee... GUSTI yang tau ya Maaaaa...", sahut Zi "Eh iya Zi pintar! Jadi gini, GUSTI berbisik padanya,"Hai, di sana ada yang habis makanannya... Ayo beri 2 kardus"", kata Gi Aku menahan airmata. Satu hal yang sepertinya...

error bercerita,"Sebuah perjalanan" #episode 11

Gas habis, uang habis, makanan habis. Tapi kamu tak pernah tahu, Hans... Cinta ini tak pernah ada habisnya... "Ma, mama lapar ga?", tanya De "Ga, sayang" "Mama belum makan" "Hei lihat nih...", aku berdiri dan berpose lagak binaragawan. De tertawa terbahak-bahak. De memandangku serius, dan bertanya padaku,"Mama bener ga lapar" Aku tertawa, dan berkata,"Mama ga lapar, Mama punya banyak persediaan makanan di badan, sayang" De melihatku dengan seksama, dan berkiata,"Ya, Mama memang besar sekali..." Aku tertawa terbahak-bahak, dan De mengernyitkan keningnya seraya berkata,"Mamaaaa, Mama memang besaaaar..! De seriuuus..!!" Ganti aku mengernyitkan kening, lalu De tertawa terbahak-bahak,"Mamaaaa.., bener loh Mama memang besar sekaliii... Tapi De sayaaaang sama Mama...", lalu memelukku erat. Hans, kamu merugi...Kamu tak pernah tahu cinta sejati... Inilah cinta sejati, Hans... Ini yang namanya cinta sejat...

error bercerita,"Sebuah perjalanan" #episode 10

De dan Gi yang baru bangun tidur berjalan ke arahku lalu memelukku... Ah cinta, indah sekali hari ini. "Ma, mandinya nanti yaaa...", ujar Gi "Ma, De mau duduk di depan yaaaa", kata De Aku mengiyakan mereka, dan mengecup satu persatu pipi mereka. Nasi goreng sudah kuhangatkan di magic jar untuk De, Gi, dan Zi sarapan. "Mamaaaa, Zi mau makaaaan", Zi berlari lalu memelukku. "Ambil piring ayo" Zi menurut mengambil piring, lalu diberikannya padaku. Nasi goreng dalam magic jar kuambil dan kucetak hingga nasi yang ada di piring Zi tercetak rapi. Lalu kutusukkan tusuk gigi yang di bagian atasnya sudah kuberi kertas laksana bendera berwarna merah putih, bendera Indonesia. "Mamaaaa, cantik banget nasi gorengnyaaa..." Aku tersenyum "Mamaaa, ini Indonesia ya Ma..." "Ya, cinta" "Bogor itu Indonesia bukan?" "Indonesia, cintanya Mama" "Papa di Indonesia juga?" "Ya" "Papa teman Zi ga pul...

error bercerita,"Sebuah perjalanan" #episode 9

"Mamaaa...", Zi berlari mendekatiku "Yaaa, cintanya mama, kenapa?", aku lalu berjongkok supaya bisa melihat Zi dengan jelas "Zi mau nyanyi. De dan Gi sedang tidur" "Ya ayo nyanyi" "Tapi kasih uang" "Memangnya kenapa? Nyanyi kok minta uang?" "Zi mau mengumpulkan uang" "Hmm?" "Ngamen, Mamaaa... Ngameeen... Ceritanya Zi mau ngamen. Tapi ngamennya ke Mama aja" "Uang untuk apa?" "Mau nabung" "Terus, uangnya untuk apa kalau udah banyak??" "Zi mau kasih ke Mamaaaa..." Aku termangu mendengar ucapan Zi. "Zi sayang Mamaaaa... Zi mau cari uang yang banyaaak... Zi mau kasih Mama uang yang banyaaaak..." "Wah , Zi baik sekali sama Mama", ujarku memeluk Zi "Zi sayang Mama... Zi mau Mama punya uang, jadi kita bisa pergi-pergi" "Hmm, iya" "Bisa jalan-jalan, Ma" "Ya, sayang" "Beli rumah untuk Mama" "...

error bercerita,"Sebuah perjalanan" #episode 8

"If you're happy and you know it claps your hands... If you're happy and you know it claps your hands... If you're and you know it and you face is surely show it, if you're happy and you know it claps your hands...!!", suara bening De, Gi, dan Zi, memenuhi rumah. Tepuk tangan mereka memenuhi seluruh sudut ruangan. Anugerah indah dari GUSTI... Ceria dan senyum yang manis De, Gi, dan Zi... "Mamaaaaa...!!", suara Gi berteriak memanggilku dan mendekat. "Ya, cinta", sahutku setelah Gi ada di dekatku "Mesin cucinya masih rusak?", tanya Gi padaku. Dilihatnya aku sedang mencuci baju. "Mesin cucinya mogok kerja ya Ma?", tanyanya lagi "Ga... Mesin cucinya sedang cuti. Mesin cucinya mau istirahat dulu", jawabku. Gi berlari meninggalkanku. Aku pun melanjutkan mencuci. "Tuh, tuh, lihat tuh..!", suara Gi memecah konsentrasi. Aku membalikkan badan untuk melihat sedang apa mereka. "Tuh, mesin cucinya cuti kata...

error bercerita,"Sebuah perjalanan" #episode 7

"Mamaaaa, sekarang hari apa?", tanya Zi padaku "Ihh, Zi, masa lupa sih?", Gi menyahut pertanyaan Zi "Zi pikun ya Ma ya?", De menyahut pula Zi cemberut mendengar perkataan Gi dan De. Aku tersenyum geli mendengar dan menyaksikan kelakuan De, Gi, dan Zi. Anak-anak yang lucu... "Maaa, hari apaaa?", Zi merajuk "Jangan jawab, Ma", kata De "Maaaa, hari apaaaa?", Zi masih juga merajuk "Diam aja Ma....", kata Gi sambil tertawa Zi yang kesal mendengar perkataan Gi dan De yang menggodanya bangkit dari duduk di karpet yang digelar di depan tv menuju tas sekolahnya, mengambil buku agenda sekolahnya. Lalu Zi berteriak, yang mengejutkanku juga Gi dan De. Teriakan yang memilukan menurut hatiku... "MAMAAAAA... INI HARI JUMAAAAT...!!", seru Zi De dan Gi tertawa sesudah bisa menguasai keterkejutannya. "Memangnya kenapa Zi, memang ini hari Jumat", kata De Zi diam menunduk, berjalan ke arahku, lalu duduk di pangkuank...

error bercerita,"Sebuah perjalanan"# episode 6

Hmm, sudah jam 4.00 pagi. Ternyata waktu berjalan cepat. Aku bergegas keluar kamar. Memasak nasi, memasak untuk sarapan, juga memasak air untuk membuat teh hangat. Hans hanya mau minum teh hangat. Selain teh hangat, dia tak pernah mau meminumnya di rumah. Beberes rumah, lalu memeriksa apakah De, Gi, dan Zi sudah komplit memasukkan buku dan perlengkapan sekolah dalam tas mereka masing-masing.   Jam di dinding menunjukkan pukul 5.00 pagi. De, Gi, dan Zi bangun tanpa harus kubangunkan. Mereka sudah terbiasa bangun pagi-pagi. Tanpa harus kusuruh pun mereka mandi bergantian, lalu memakai seragam sekolah yang memang sudah kusiapkan. Mereka bergegas tanpa suara bising. Tenang, ya dengan tenang tanpa suara mereka menyelesaikan itu. Sarapan pun tanpa suara. Tapi sungguh terlihat senyum manis mereka di bibir yang tak pernah hilang barang sedetik. Sebuah anugerah yang penuh keindahan melihat senyum yang amat manis di pagi hari saat orang-orang sibuk mempersiapkan hari yang baru. Tidak di si...

error bercerita,"Sebuah perjalanan" # episode 4

"Mama, periksa PR De, Ma", ujar De "Mamaaa, periksa PR Gi duluuuu, Ma", kata Gi "Mamaaaa, Zi ga mau ngerjain PR. Nanti Mama sibuk periksa PR terus. Kapan kita keliling-keliling naik motor?", ujar Zi sambil memandangku dengan mata redup. Aku yang sedianya akan memeriksa PR De dan Gi jadi tersenyum lalu tertawa geli. De dan Gi tertawa terbahak-bahak. "Zi, cepat selesaikan PR, selesai diperiksa oleh Mama, kita berempat naik motor ya Ma ya?", ujar De "Ayo Zi, cepaaaat...", tambah Gi pada Zi Zi yang mendengar itu langsung memandangku,"Mama, iya Ma? Begitu ya Ma?". Aku mengangguk dan menepuk pundaknya pelan sambil tersenyum. Zi terburu-buru mengambil tas sekolahnya dan mengambil buku PR lalu dikerjakan dengan serius. Aku bersyukur pada GUSTI yang menghadirkan 3 nyawa kecil ini dalam hidupku. Mereka teramat manis, dan polos. Aku teringat padanya, laki-laki yang sedang bekerja di sana, yang terkesan tak pernah perduli p...

error bercerita,"Sebuah perjalanan" # episode 3

"Mama, Papa pulang ke rumah ga hari ini?", suara mungil De memecah konsentrasiku yang sedang mereparasi sendiri mesin cuci yang rusak. "Ga, cinta. Papa ga pulang hari ini", jawabku sambil menoleh dan tersenyum pada De, putra sulungku. De berlari ke depan sambil berteriak, dan disusul teriakan Gi dan Zi,"HORE PAPA GA PULANG!! HORE PAPA GA PULANG!!". Aku tersentak dan merasakan pilu di hati. Duh Pa, seandainya saja kamu tau apa yang terjadi saat ini... Perlahan kuusap airmata yang hendak jatuh membasahi pipi. "Mama! Mama!", teriakan Gi dan Zi bersahut-sahutan memanggilku. Berlarian mereka ke arahku. Kuhentikan kesibukanku, kuletakkan obeng yang sedang kupegang, dan menunggu mereka tiba di hadapanku. Ah nyawa kecilku yang manis... Nyawa kecilku tercinta, betapa rasa cinta yang ada di hati ini seluruhnya hanya untuk mereka. Hidupku untuk mereka, ya untuk mereka. "Mama!" "Ya, sayangnya mama, ada apa?" "Kata De, Papa ga pulang...

error,"Maaf Mas, Aku Mencintaimu..."#Episode 17, episode terakhir

"Hai Mas", ujarku pada Mas yang datang ke rumah saat sedang sibuk seisi rumah untuk persiapan esok hari.   "Masihkah mengingat gue?"   "Ya, aku tak melupakanmu, tapi aku tak mengingatmu" "Lo lupain gue!" "Tidak, tak pernah aku melupakanmu sama sekali. Siapa melupakan siapa? Coba kamu bertanya pada dirimu sendiri. Apakah kamu mengingatku? Apakah kamu tidak lupa aku selama ini?" "Gue ga pernah lupa lo!" "Who knows?" "Terserah! Gue ga pernah lupain lo!" "Ya, tapi kamu tidak menghubungiku. Tidak. Ya, tidak. Aku bukan bayangan yang ada di saat terang dan hilang saat cahaya menghilang. Aku bukan malam juga bukan siang. Aku bukan matahari yang menyingkirkan kabut, aku juga bukan embun yang datang saat pagi lalu hilang saat terang mulai memanggang. Aku adalah seseorang yang ada, aku seseorang yang nyata. Bukan di hati, tapi ada di sini, di hadapanmu, kalau kamu membuka matamu. Tapi kamu menutup matamu dan t...

error bercerita,"Sebuah perjalanan" # episode 2

"Makan?", tanyaku Disodorkannya uang pecahan padaku, dan berkata,"Beli sepotong ayam goreng, digoreng kering. Jangan lupa, dada". Dengan tetap tersenyum kuterima uang yang diberikannya, lalu kukeluarkan motor dari garasi. Berlari kecil anak bungsuku, Zi, menyusulku dan berkata dengan suara yang riang,"Mama, ikut". Aku tersenyum, dan membiarkannya naik ke motor. Zi dibonceng duduk di depan. Aku tak beran i membiarkan Zi duduk di belakang sendirian. Ada kekuatiran Zi terjatuh dari motor. "Mama mau beli ayam goreng untuk Papa ya?", tanya Zi memecah lamunanku. "Ya, sayang" "Untuk Papa?" "Ya, sayang" "O. Papa lapar ya Ma?" "Ya, sayang" "Harus ayam goreng yang beli?" "Ga harus, tapi Papa ingin makan ayam goreng" "Setiap kali?" "Ya, Pas Papa ingin aja" "Mama ga ingin?" "Ga" "Zi?" "Zi sudah makan kan tadi?", ujarku pada Zi,...

error bercerita,"Sebuah perjalanan" # episode 1

"Ya, itu suratku", kataku dalam hati saat melihat kertas berwarna putih dengan lipatan khas yang tadi aku selipkan di dalam dompetnya. Aku ambil dan aku selipkan di saku bajunya yang kugantungkan di kapstok kamar, sedangkan dia masih mandi.  Suara pintu kamar mandi terdengar dibuka. Dia sudah selesai, pikirku. Akupun bersiap ke dapur, menyiapkan sarapan untuknya.  "Mana bajuku?", dia berteriak dari kamar. Selalu dengan kalimat yang sama, padahal selalu baju untuknya sudah kusiapkan setiap dia mau berangkat kerja. "Di tempat biasa", jawabku sambil tetap sibuk di meja makan "Aku ga mau yang ini!", suaranya terdengar berteriak.  Aku tergopoh-gopoh mendatanginya di kamar. Baju yang sudah kupersiapkan untuknya teronggok di lantai, dan surat itu ada di samping baju, terlihat kumal. Ufh, sulitnya mendapat kasihmu, kataku dalam hati. Baju warna hitam kotak-kotak kecil yang kusut di lantai aku ambil, surat yang tadi kuselipkan di saku baju itu kubiarkan...