Friday, 4 December 2015

SABAR SESABAR DEODORANT

"Ma, kita diklaksonin terus sama motor. Yang mana sih Ma, yang nglaksonin terus tuh?"

"Itu deh kayaknya."

"Ugh! Kalau Ngka digituin, Ngka klaksonin balik tuh! Enak aja dia klakson kayak gitu!"

"Ga perlu."

"Ih Mama, kalau Ngka sih gitu! Gantian Ngka kakson!"

"Ga, ah. Mama sih pengen jadi orang yang sabar kayak Rex*na. Sabar setiap saat."

"Mamaaa, salah! Bukan sabar setiap saat! Tapi setia setiap saat!"

"Ga. Mama maunya sabar setiap saat."

"Kok bisa? Terserah dah!"

"Iya, sabar, Ka. Deodorant itu sabar banget. Tiap saat mampir di ketiak, tapi ga protes. Malah bikin wangi. Sabar banget, kan? Wanginya setiap saat pula! Tuh, sabar banget, kan?"

Dan Ngka pun tertawa.

Ngka, anak sulung gue, sudah bisa berperan sebagai pelindung emak. Di usia  akhir belasan, emosinya terkadang meletup-letup. Gue berusaha meredam, menenangkan, dengan cara obrolan santai. Karena menurut gue sih malah lebih efektif lewat obrolan santai dibanding 'manteng' serius. Ngka menerima santai, dan ga merasa dinasehati. Padahal emaknya ini sedang memenuhi dengan petuah-petuah yang dikemas santai.

Apakah langsung 'Abrakadabra' Ngka berubah? Ya ga. Tetap saja gue memberitahu berulang kali. Tapi setidaknya  itu akan menempel, nyangkut, dan  bisa membuatnya jadi deodoran. Eh, sabar kayak deodorant.

Sebuah harapan seorang emak untuk anak lelakinya yang beranjak jadi dewasa.


Salam Senyum,
Nitaninit Kasapink (Error)





0 komentar:

Post a Comment