Tuesday, 22 December 2015

SEBUAH BUKU PENUH PUISI: TANAH SILAM, KARYA FENDI KACHONK

Berjanji pada si Bung FENDI KACHONK untuk menulis, mengomentari buku kumpulan puisinya yang berjudul TANAH SILAM, jadi tertunda lama. Karena buku ini menarik, hingga lumayan lama juga pindah dari tangan ke tangan.

Buku yang berisi 83 puisi karya Bung Fendi (aku menyebutnya Bung. Jangan tanya kenapa, tapi rasanya kok klik aja memanggilnya Bung.) membuatku bersuara. Yup, bersuara dalam arti sebenarnya, karena kubaca puisi-puisinya dengan suara yang jelas bisa didengarkan oleh orang lain. Aku suka puisi-puisi si Bung, dan dengan suka cita mengatakan,"Hey Bung, aku salah satu penggemar puisimu!" Semoga aku ga salah dalam mencerna puisi-puisi indahmu, Bung.



Puisi ke-45, yang berjudul PEREMPUAN KECIL, mengajak untuk menikmati hidup. Hidup bukan hanya melulu tentang nikmat tanpa luka, karena luka pun adalah bagian hidup yang harus dinikmati. Tuhan selalu ada, dan menyertai.

Puisi ke-54, NYANYIAN PEREMPUANKU, melangitkanku sebagai seorang perempuan. Perempuan sebagai sosok ibu yang penuh kasih, mencintai anak-anak tanpa berharap dicintai kembali. Juga sebagai istri. Perempuan yang mampu menanam cemburu pada suami, karena kasih pada anak yang tak berbatas. Duh, ternyata cinta seorang perempuan bernama ibu bisa membuat lelaki bernama bapak menyimpan cemburu.

Puisi ke-3, INGIN PULANG, lagi-lagi menyangkut ibu. Seorang anank yang ingin kembali ke masa-masa bersama sang ibu yang selalu menentramkan dengan kidung-kidungnya, menyelimuti dengan kasih. Anak yang rindu karena doa-doa sang ibu melekat dalam jiwa, dan belaian lembutnya. Mengingatkanku akan mama. Bung, tadi aku membaca puisi ini di rumah, dan merekamnya dengan cara sederhana.

Masih ada 80 puisi lagi di dalam buku kumpulan puisi TANAH SILAM karya FENDI KACHONK, dan buktikan aja sendiri, semua puisinya bisa membuat bersuara.

Salam Puisi,
Nitaninit Kasapink


0 komentar:

Post a Comment