Monday, 12 May 2014

error bercerita,"In"

"kamu?"

"Ya, mbak"

"Aku akan melapor ke polisi, In"

"Ya, aku juga akan melaporkan pada polisi, mbak"

Aku mengeluarkan ponsel dari kantong jeans kumalku, tapi ufh, mengapa di waktu seperti ini sinyal yang biasanya bagus, malah mendadak jelek. Aku mencoba dan mencoba terus.

"Dia kakakku, mbak. Namanya Mata. Tapi matanya tidak cukup awas terhadap kehidupan. Mata hanya menilhat harta benda, bukan melihat pada keindahan anugerah. Dulu sekali kehidupan kami amat bagus. Rumah kami amatlah besar, dengan halaman yang besar. Mobil berjejer di carport dan ada yang di halaman. Sopir pun selalu siap sedia mengantar jemput kami. Sama sekali tidak berkekurangan. Semua aman, tentram, dan damai", In bercerita sambil matanya menerawang kosong, sedangkan aku masih sibuk mencoba menelepon. Argh, kemana sinyal yang menurut iklan selalu bagus? Pengiklan memang selalu saja pandai menarik konsumen untuk mempercayainya.

"Dia satu-satunya saudaraku. Hanya dia, karena kami dua bersaudara. Dulu kami dimanja. Mata, mama amat menyayanginya. Mama amat memanja Mata. Tapi ternyata cara pengasuhan seperti itu tidak membuat Mata jadi seorang lelaki yang tegar. Mata jadi seorang lelaki yang amat manja. Apa pun yang dimintanya, mama pasti membelikan. Seringkali Mata mendapat barang-barang bagus dari mama, dan banyak uang. Rekeningnya di bank ratusan juta, mbak. Aku tidak, mbak. Tapi aku tidak perduli akan hal itu. Aku dimanja dengan banyak buku, aku dimanja dengan penuhnya jadwal les. Gaya hidupku dan gaya hidup Mata amat berbeda. Mata hanya sibuk pergi ke sana dan ke sini, menghamburkan uang yang ada. Aku sibuk berkutat dengan buku-buku bagus yang kubeli, dan dibelikan oleh papa. Rumah kami dulu amat besar, dan kamarku adalah kamar terbesar. Penuh dengan buku di rak-rak yang besar, poster-poster orang hebat yang menjadi idolaku. Dalam lemari, penuh dengan boneka yang selalu dibelikan, tanpa pernah kuminta. Aku menikmati itu semua dengan kebahagiaan yang amat sangat. Teman-temanku banyak yang iri melihat kamarku. Berbeda sekali bukan, gaya hidupku dan gaya hidupnya? Banyak teman-teman Mata yang iri padanya, tapi mereka iri karena Mata mempunyai banyak uang. Gadis-gadis berebut ingin menjadi kekasihnya. Mata bagai mesin ATM. Semua temannya tunduk padanya, dan semua karena uang", lanjut In, dan matanya masih kosong, sama seperti sinyal di ponselku, kosong.

"Aku keluar dulu, In", kataku pada In.

"Tidak. Dengar dulu ceritaku. Simak baik-baik. Aku butuh seorang sahabat yang mau mendengarkan kisah hidupku. Jangan pergi", jawabnya padaku.

Aku menurut, tapi tetap berdiri. Aku mendengarkan ceritanya dengan agak gelisah.

"Hingga akhirnya papa bangkrut. Rumah kami dijual, dan kami tinggal di rumah yang lebih kecil di luar kota. Mobil-mobil juga turut dijual. Tak ada lagi rumah besar dan mobil yang banyak. Tak ada lagi pembantu yang melayani kami di rumah, dan tak ada sopir. Pembantu tak dibutuhkan lagi. Rumah kami kecil. Sebelumnya aku tak pernah bertemu Mata, walau pun sama-sama ada di rumah. Rumah itu amat besar. Sedangkan sewaktu pindah, aku jarang bertemu Mata, karena Mata jarang di rumah. Meski pun keadaan keuangan sudah berubah, Mata tetaplah Mata. Tidak berubah. Dia tetap meminta uang pada mama dan papa. Uang dalam jumlah yang banyak! Papa cuma diam, mama menangis. Mata sering marah-marah pada mama dan papa. Tapi dia tidak pernah marah padaku, karena kami memang sejak lama tidak pernah bertegur sapa. Mungkin menurutnya, aku tidak pernah ada dalam hidupnya, mbak. Aku sering melihat mama menangis, dan berkata bahwa mama dan papa memang orangtua yang tidak berguna, karena tidak bisa memenuhi permintaan anak. Papa cuma diam, tidak berkata sepatah kata pun. Aku bukan seorang yang banyak bicara. Ternyata keadaan ekonomi semakin memburuk. Rumah kami terakhir, ini rumah terakhir kami. Rumah yang sempit, bocor, banjir, dan langit-langitnya jebol di sana-sini. Bukan hal yang buruk untukku. Semua ini kuhadapi dan kujalani dengan senyum. Aku bekerja sebagai penulis lepas. Uangku untuk membantu perekonomian keluarga ini. Lalu mama stroke, lumpuh. Papa kanker, dan akhirnya papa meninggal setelah melalui sejumlah cara medis. Mama masih berduka, tapi Mata tidak perduli. Mata datang meminta uang pada mama. Mama menangis, Mata marah-marah, dan aku diam. Airmata mama semakin deras mengalir, dan Mata semakin keras membentak mama. Aku tetap diam, karena aku memang pendiam. Lebih baik bertindak dibanding hanya bicara. Untuk apa bicara banyak pada orang dungu seperti Mata? Aku berkata pada mama, satu saat nanti aku akan habisi Mata. Mama hanya memandangku. Tadi Mata datang, dan marah-marah lagi, membentak mama yang tidak berdaya. Aku ambil pisau yang memang sudah kusiapkan lama. Saat Mata sedang membentak mama, kuarahkan pisauku ke perutnya, lalu kutusuk berulangkali hingga Mata ambruk ke lantai. Mama menangis, lalu kuberikan minum yang sudah kuberi racun. Aku tak mau jika aku dipenjara, mama yang lumpuh tak ada yang menjaga. Tak lama kemudian mama pun berpulang menyusul Mata, putra kesayangannya. Dan aku diam di sini. Lalu mbak datang, karena hendak memberi makanan pada k
ami seperti biasanya. Mbak amat baik pada kami. Aku hendak melapor pada polisi, mbak. Tapi ternyata aku merasa ini tidak adil jika aku dipenjara. Mata yang seharusnya dihukum, bukan aku...", suaranya makin lirih terdengar. Lalu kulihat dia bangkit dari kursi, menendang tubuh Mata yang kaku dan berlumuran darah, lalu berjalan ke arah kamar, mengintip mamanya yang juga kaku dengan mulut berbusa, kemudian menuju meja dekatku, mengambil gelas yang ada di sana, lalu minum. Aku memperhatikannya dengan seksama. Lalu kulihat dengan cepat diambilnya pisau yang ada di meja, diirisnya nadi pergelangan tangannya. In!

"Jangan marah padaku, mbak. Jangan sedih. Ini jalanku, tadi pun aku sudah meminum air berisi racun. Tolong mbak, lapor polisi. Jasad mama harus segera dikebumikan...", ujarnya sambil menangis, lalu melemah, dan In tak ada lagi...

In seorang gadis muda yang baik. Aku mengenalnya setahun lalu. Dia pekerja keras. Sejak pagi hingga malam, dia bekerja untuk keluarga. Pendiam, dan selalu tersenyum. In, gadis cantik yang baik. Tapi ini jalan yang dipilihnya. Membunuh karena cintanya pada orangtuanya. In yang baik memberontak, dan ini pemberontakkannya. In, ah... Dan sinyal ponsel pun penuh, saatnya melapor pada polisi...

****









0 komentar:

Post a Comment