Saturday, 22 July 2017

(6) Err Dan Bless, Ada Cinta Dalam Bajaj

"Kita keliling kota!"

"Horee! Aku mau, aku mau!"

"Naik apa?"

"Bajaj! Bajaj yang berwarna biru!"

"Hei, ide bagus, Err! Yuk, aku sudah lama tidak naik bajaj."

Bless menghentikan sebuah bajaj yang hendak melintas. Ah Bless, bersamamu selalu ada kejutan indah!

"Sudah lama sekali aku tidak merasakan naik bajaj!"

Ah, Bless. Aku juga sama, sudah lama tidak naik  bajaj.

"Terima kasih, Bless. Hari yang indah!"

Duduk di dalam bajaj tanpa suara, menyandar santai.

"Bless, kita ke mana?"

"Keliling ke mana pun kita mau. Jangan berhenti sebelum waktunya."

"Sampai kapan?"

"Sampai pada waktuya harus berhenti."

"Kapan?"

"Err, sepertinya aku mengenal seseorang sepertimu di masa lalu. Tapi aku tak bisa mengingatnya. Aku hanya merasa kamu seperti dia. Selalu penuh dengan cerita. Kurasa jika kamu bertemu dengannya, pasti suasana menjadi amat ramai!"

"Siapa?"

"Kamu memaksaku mengingat hal yang tak kuingat?"

Aku tertawa. Bless, kamu selalu menyenangkan untukku.

"Bless, cinta itu penuh logika atau tanpa logika?"

"Perempuan selalu penuh emosi. Hahaha!"

"Nooop!" Teriakku.

"Ya, perempuan selalu mau menang sendiri. Perempuan selalu merasa menjadi yang paling benar. Perempuan itu, ah tapi kamu tidak seperti perempuan yang lain."

Aku tertawa terbahak-bahak.

"Aku perempuan, Bless! Atau aku sebenarnya bukan perempuan?"

"Kamu perempuan berlogika, mungkin."

Mataku memandang lurus ke depan. Berusaha melebur dengan perjalanan. Juga karena tak berani menatapnya.

"I love bajaj!"

Aku menoleh padanya, Bless, lelaki sebiji mata kiri.

"I love bajaj, Err! Bagaimana denganmu?"

Aku tertawa tanpa menjawab.

"I love bajaj!"

"Hai, jangan berteriak! Kamu pikir sopir bajaj ini suka mendengar teriakanmu?"

"Hahaha! Coba saja kamu tanya padanya, apakah aku boleh tertawa, berteriak, ataukah aku harus berbisik di telingamu?"

O ow! No!

"Berteriak sajalah. Bebas berteriak. Ini dunia yang peuh dengan teriakan!"

"I love bajaj, Err! I love bajaj!"

Huh, malah mencintai bajaj, bukan mencintaiku!

"Bajaj punya kenangan sendiri untukku."

"Oh ya? Ceritakan padaku, Bless."

"Keliling kota berdua naik bajaj. Mengobrol tanpa henti."

"Dengan siapa, Bless? Kamu sudah bisa mengingat masa lalumu?" Tanyaku hati-hati.

"Hahahaha. Akan jadi masa lalu, tepatnya!"

Aku melihatnya dengan wajah bingung.

"Maksudmu?"

"Err, bukankah kita sedang keliling kota berdua naik bajaj? Dan kita mengobrol tanpa henti! Ya, atau tidak?"

Tawanya dan  tawaku mengisi ruang. Tak peduli bagaimana sang sopir menilai kami.

"Sini, Err. Aku bisikkan sesuatu."

Dia lambaikan tangannya, mengisyaratkan agar aku mendekat.

"Yes, Bless." Sambil beringsut mendekat.

"Mungkin pak sopirnya berpikir, kita ini suami istri yang cerewet!"

"Bless, berbisik itu bicara dengan volume rendah, bukan berteriak."

"Kalau aku tidak berteriak, nanti kamu tidak mendengar."

"Pendengaranku masih oke." Jawabku agak ketus.

"Wah hebat, sudah bisa ngambek."

Tawanya membahana.

"Aku tidak ngambek, Bless."

"Oh bukan ngambek."

"Yup, bukan. Aku masih dalam tahap belajar ngambek. Satu saat nanti aku pasti akan ngambek."

"Jangan. Tidak boleh. Kamu tidak boleh ngambek. Oh boleh, boleh, tapi hanya setahun sekali."

"Setahun sekali? Ok, berarti aku akan ngambek sekarang, karena hanya diperbolehkan ngambek setahun sekali ," ujarku.

Bajaj membawa kami berkeliling. Entah ke mana, tanpa tujuan. Hanya ingin mengisi waktu bersama.

"Bless, I love you. Tapi bukan berarti aku harus memilikimu, loh. Cinta bagiku adalah anugerah. Bisa mencintaimu adalah anugerah. Kamu mencintaiku atau tidak, itu bukan urusanku."

Tak ada jawaban sama sekali. Hanya suara ramai jalan raya yang terdengar.

"Bless, Yes I love you, tapi aku tahu kamu masiih punya tugas untuk kamu selesaikan. Ada hal yang menjadi prioritasmu untuk dikerjakan, dan itu  bukan aku. It's ok for me. Kan aku mencintaimu karena cinta, bukan karena ingin menguasaimu, bukan karena ingin memilikimu. Hanya menikmati perasaan cinta yang ada di hati."

Hening. Kubuang tatapanku ke arah jalan di depan. Tidak menoleh ke arahnya sedikit pun. Aku takut terperangkap dalam rasa ingin memiliki jika melihat tatapannya. Mata yang menatap bisu. Mata yang memandang dalam-dalam, tapi sinarnya suram.

Ya, dia Bless, lelaki yang kucintai selama ini. Senyum segaris tipis yang terkadang aku malah ragu menyebutnya sebagai senyum. Datar, ya datar. Garis keras di wajahnya amat datar. Tidak terlihat ada lonjakan emosi sepertiku. Hahaha, jelas saja berbeda. Perempuan dan lelaki, perbedaan yang jelas sekali.

"Err, boleh pegang tanganmu?"

Terdengar sayup-sayup lagu You and I dari Scorpions, di telinga Entah hanya halusinasiku atau bukan.

You and I just have a dream.

To find our love a place, where we can hide away.

You and I were just made.

To love each other now, forever and a day.

"Err...."

Mataku basah mendengar lagu yang memanja di telinga dan mengusap hati.

"Err, boleh kugenggam tanganmu?"

You and I just have a dream, to find our love a place, where we can hide away.  Kalimat yang membuatku banjir air mata. Ya, just a dream for me.

"Err, Err..."

"Oh ya, kenapa, Bless?"

"Melamun?"

"Aku?"

"Ya iya, siapa lagi? Sopir bajaj melamun? Sudah tabrakan dari tadi kita kalau dia melamun." Jawab Bless sambil tertawa.

Aku suka tawanya. Aku suka garis yang ada di wajahnya saat dia tertawa. Ada cahaya kecil di sana, di ujung bibirnya.

"Err!"

"Yes!"

"Boleh kugenggam tanganmu?"

Kuulurkan tanganku, masuk dalam genggamannya. Entah apa yang dia rasakan saat ini. Menggenggam telapak tanganku yang kasar. Sedangkan aku harus meredakan debur yang kurasa dalam dada. Ini mengalahkan debur ombak!

"Aku mencintaimu dengan logika, Bless. Aku ingin kamu bahagia. Saat kamu bahagia, aku tahu aku pun bahagia. Aku mencintaimu bukan untuk memilikimu. Bukan memintamu untuk selalu ada di sisiku. Tapi aku ada untukmu."

"Jangan meninggalkan aku, ya?"

"Aku ada. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji."

It's all written down in your lifelines.

It's written down inside your heart.

Lagi-lagi potongan lagu itu masuk dalam telinga.

Sopir bajaj jadi saksi cinta penumpang yang dibawa tanpa arah tujuan pasti.

"Bless, lain kali kita keliling kota naik becak, ya?"

"Bu, Pak, jangan naik becak kalau mau keliling kota. Kasihan bapak becaknya. Ini aja bensin saya sampai habis." Celetuk si sopir.

Bless terbahak-bahak juga aku.

Ada cinta dalam bajaj!

"Err, kamu sedang apa?"

"Bless!"

Debur ombak bergemuruh. Pantai ini, laut ini, pasir ini, agin ini, langit ini, bebatuan ini, karang ini. Hei, aku di pantai tempatku biasa berada!

"Kebiasaan buruk. Melamun." Ujar Bless mengusap rambut seleherku.

Kutatap matanya. Ya, Bless dengan sebiji mata kiri! Sedangkan dalam lamunanku, Bless dengan dua mata. Tapi aku mencintainya. Seperti apa pun dia, aku mencintai Bless yang berbagi pandang denganku.

Sambil masuk dalam pelukannya, aku berbisik,"Bless, aku mau naik Bajaj."

Aku, Err. Dia, Bless. Kami bersama dalam kisah hari ini. Dan kami selalu ada di hari ini. Bagaimana denganmu dan kekasihmu?



Nitaninit Kasapink


































































































































































0 komentar:

Post a Comment