Sunday, 12 October 2014

Beberapa hari lalu gue bertemu dengan seorang teman, dia mengeluh ga punya uang, hingga anak-anaknya hanya bisa dimasakkan telur. Gue terdiam mendengar ceritanya, dan jadi teringat Ngka, Esa, Pink, mereka pernah kelaparan, dan mereka tetap tersenyum. Dan sewaktu gue tiba di rumah, gue berkata pada Esa,"Sa, besok bawa bekal untuk ke sekolah, nasi telur ya? Ga apa-apa kan?". Dan jawaban Esa,"Ma, udah bagus banget bisa makan telur". Ya, Ngka pun berangkat kuliah membawa bekal makan dan minum dari rumah, supaya lebih hemat, dan sehat, juga seringkali membawa bekal nasi telur. Jadi, sesuatu hal akan jadi masalah kalau dianggap masalah, dan ga jadi masalah, kalau dianggap bukan masalah. Sebagai seorang ibu, single mom, gue ga mau mempermasalahkan makan apa hari ini. tapi gue lebih menekankan bersyukur ada rejeki, dan bisa makan.

Sebagai orangtua, adalah kewajiban memberi nafkah, memberi penghidupan pada anak, memberi hal indah pada mereka. Ufh, menurut gue sih, itu bukan kewajiban, tapi semua itu adalah hak gue sebagai orangtua, untuk bisa memberi hal maksimal, hal yang indah untuk anak-anak gue, dan gue jalani itu dengan sukacita. Maksimal, indah, maksimal. Gue menekankan pada kata maksimal. Maksimal yang bisa gue lakukan ga berarti sama maksimalnya dengan yang orang lain lakukan. Dan gue memberi pengertian pada Ngka, Esa, Pink, untuk bisa menerima keadaan yang ada. Hadapi, jalani, nikmati apa yang ada, jangan mengeluh, syukuri apa yang sudah diberi Tuhan. Siapa sih yang ga ingin hidup makmur? Pasti ingin, tapi bukan berarti sewaktu merasa ga makmur, jadi mengeluh, dan menangisi keadaan.

Bersyukur itu bukan hanya di saat mudah saja kan? Bersyukur di setiap saat, di saat sulit pun harus bersyukur. Dan sewaktu bersyukur, segala hal jadi indah. Masih terngiang di telinga gue,"Makasih Tuhan, bisa makan nasi pakai garam. Garamnya asin, tapi enak banget, amin". Itu sebuah doa salah satu anak gue beberapa tahun yang lalu, dan menurut gue, itu adalah doa yang indah...

Mengajarkan anak untuk mensyukuri sejak kecil, menjadikan anak selalu 'kaya' di setiap waktu, di setiap keadaan, di setiap kejadian hidup. Semoga, amin...


Salam senyum,
error



4 comments:

  1. Betul, beruntung masih bisa makan. Makan nasi dengan garam pun kalau bersyukur pasti terasa enak. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, mbak. Bersyukur jadi bikin segalanya terasa asyik :D

      Delete
  2. Hidup emang belum klop kalo belom jatuh bangun ya mbak, saya pernah dulu waktu blm menikah dan tinggal sama orang tua, waktu usaha ayah bangkrut dan rumah terancam disita bank, ngerasain bgt yg namanya susah sampe sebungkus indomie utk dimakan berempat. Sampe bernazar gk akan makan nasi kalo keadaan blom balik seperti semula. Tp semua pembelajaran ya mbak malah bikin kita kuat utk ngejalanin hidup yg sekarang tentunya dengan syukur yg lebih banyak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup bener, rasa syukur jadi lebih banyak karena semua permasalahan seharusnya jadi pembelajaran, dan mendewasakan. Rugi kalau ga jadi pembelajaran, dan ga mengubah kita jadi lebih dewasa hadapi hidup.
      Makasih sharingnya mbak :)

      Delete