Friday, 10 October 2014

error, flash fiction,"Dia, mereka yang berbeda"

Aku ketakutan mendengar suaranya memanggil, dan semakin ketakutan saat dia ada di hadapanku. Sosoknya yang besar, hitam, dibalut senyum yang penuh kepastian tentang kelicikan. ingin berlari, tapi kaki tertahan di lantai, melekat erat, hingga tak bisa beranjak. 

"Ternyata di sini. Hebatnya aku, bisa menemukanmu. Pergi kemana pun, aku tahu kamu berada di mana", dengan seringainya yang membuatku semakin ketakutan, tapi aku berusaha untuk menyembunyikan ketakutanku dalam hati.

"Hmm", jawabku sambil terus saja bermain dengan ponsel, berusaha tidak melihat wajahnya.

"Aku akan berada di sini, mennemanimu".


"Tak perlu", aku menjawab tanpa memperhatikannya sedikit pun.

Lalu dia menghilang. Seperti biasa dia menghilang tiba-tiba, seperti kemunculannya yang juga selalu tiba-tiba. Aku tak bisa menyembunyikan betapa lega rasanya saat dia pfffh, hilang! Bertahun-tahun sosok itu menghantui hidupku, mengganggu keseharian yang kumiliki. Andai saja kubisa menghancurkannya! Hingga aku bisa menghilang, pergi dari tempat tinggal lamaku. Tapi ternyata dia bisa menemukanku dengan mudahnya.

Suasana rumah sepi. Tak ada siapa pun di sini. Semoga saja dia benar-benar menghilang dari hidupku.

"Err! Err!", suara teriakan dari luar rumah terdengar memanggilku. Ugh, tak ada siapa pun. Lalu terdengar lagi suara memanggilku dari luar,"Err!". Tetap tak ada siapa-siapa di luar sana. Rasanya ingin membalas teriakan itu, tapi untuk apa? Berteriak marah pada sosok tak berwujud? Semua orang akan menyebutku gila, jika hal itu kulakukan. Lanjutkan saja kegiatanmu, suara halus berbisik di telingaku. Aaargh, mereka mengganggu lagi.

Dengan tenang kuambil kunci motor, tinggalkan sejenak rumah yang mulai dipenuhi suara tanpa sosok. Segar di luar, angin deras menyentuh tubuh yang tanpa balutan jaket. Biar saja sinar matahari memelukku. Di area pusat jajanan, aku berhenti. Memesan sepiring batagor dan segelas es doger, kurasa mampu menghilangkan penat karena suara-suara, dan karena datangnya sosok hitam besar tadi.

"Hai Err", seorang teman menyapa.

"Hai. Sendiri?".

"Ya. Malas di rumah", jawabnya. Lalu tak ada pembicaraan lagi, kami menikmati hidangan tanpa kata-kata.

Waktunya pulang... Sepanjang perjalanan aku berdoa agar tak bertemu dengan sosok aneh, dan tak lagi mendengar suara yang memanggil. Great, orang lain bisa saja menganggapku gila, padahal sosok itu benar-benar nyata, dan ada! Aku tidak gila, bukan penderita schizofrenia. Sixth sense ini ada sejak kecil, dan sungguh mengganggu. Beberapa teman dengan santainya berkata padaku untuk mencoba berkomunikasi dengan 'mereka'. Hah! Mereka fikir apa yang kulihat dan kudengar itu tak membuatku bergidik? Mudahnya bicara, tapi coba hal ini menimpa mereka, apakah mereka akan berbuat seperti saran mereka padaku? Belum tentu, mallah mungkin tidak, dan mungkin saja mereka lebih penakut dibanding aku.

Tiba juga di depan pagar, dan kulihat seorang ibu duduk di atas pagar rumah tetangga, dan kulihat seorang anak kecil menangis di pinggir selokan. Huh, ternyata di mana pun sama saja, percuma berlari dari satu tempat ke tempat lain, karena penglihatanku yang berbeda, akan tetap melihat mereka yang berbeda, sosok lain yang hidup di dunia lain...


Salam senyum,
error






0 komentar:

Post a Comment