Monday, 6 November 2017

(31) Err Dan Bless, Tanpa Bless

Angin laut bernyanyi di telinga bagai sedang menghibur kesendirian yang terasa sejak kemarin. Ombak yang berlari seakan-akan berjalan mengendap-endap agar tak mengganggu keheningan yang kurengkuh. Pasir menghangat seperti membujuk agar kutetap menenggelamkan kaki di dalamnya.

Tapi berada di hamparan pasir yang luas membuatku ingin tenggelam dalam pelukan mentari yang membakar seluruh tubuh. Aku sendiri di sini, tanpa siapa pun, sama seperti dulu. Bedanya kini kuhanya memiliki sebiji mata, karena sebiji mata yang kuberikan pada Bless, menghilang entah kemana.

Pantai ini menyimpan semua perihku, menyimpan rindu, juga menyimpan segala tentangku dan Bless.

"Biarkan dia pergi."

Angin berbisik di telinga.

"Tidak!"

Kuberteriak lebih keras dibanding suara ombak. Gema memecah karang tempat kami biasa berbincang dan bercanda.

Air mata mengalir basahi wajah, tapi berwarna pekat! Bless, kepekatan ini pasti karenamu. Butir-butir rindu jatuh bersama tetes air mata. Melukaiku yang selama ini membahagia bersamanya.

"Err, jangan bersedih."

Suara Bless seakan masuk dalam pendengaran. Tapi dia tak ada!

Bless, di manakah kamu?

Kuraba rongga mata kiriku yang kosong. Lalu berdiri menantang cahaya matahari yang memanggang!

"Bantu aku mendapatkan mataku kembali! Aku tak ingin menangis dengan rongga mata kosong! Aku harus bisa menatapmu dengan dua biji mataku! Bantu aku!"

Berteriak pada matahari, mengepalkan tinju pada langit!

"Bless, di mana pun kamu berada, kuharap kebahagiaan selalu bersamamu. Berbahagialah dengan sepasang biji mata milikmu."

Hei, apakah kamu melihat Bless? Hantu lelaki tinggi besar berbaju hitam? Sejak tadi aku tak melihatnya. Mengelilingi pantai, menyelam ke dasar laut, Bless tetap tak ada.

Adakah kamu melihat Bless? Jika kamu bertemu dengannya, tolong katakan padanya, aku tak akan pernah memintanya untuk kembali, karena kutahu bukan aku yang ada dalam cerita miliknya. Masa lalunya ada dalam rahasia terdalam.

Jika kamu bertemu dengan Bless, katakan padanya, sebiji mataku telah kudapatkan kembali. Katakan begitu padanya, walau kutahu biji mata kiriku tak akan pernah bisa kembali.

Aku Err, hantu wanita penunggu pantai, bergaun hitam. Sendiri di sini tanpa Bless.


Nitaninit Kasapink








0 komentar:

Post a Comment