Skip to main content

Posts

error,"Maaf Mas, aku mencintaimu..."#episode 4

"Mas, a ku dapat undangan pernikahan" "OH ya? Siapa? kapan? Dimana?" kusebutkan sebuah alamat, dan kujelaskan pernikahan itu adalah pernikahan kakak dari seorang teman yang kuanggap sebagai anak. karena usia temanku sebaya dengan anak sulungku. "Oke. Gue jemput lo besok. kita dateng ke sana. Tapi gue harus kerja dulu" Ah Mas, rasanya aku mau melompat kegirangan! Biasanya sewaktu mendapat undangan pernikahan atau undangan apapun itu, aku selalu datang mengajak anakku. Ahaaay.., kali ini berbeda! Aku bingung mau mengenakan baju apa di pesta pernikahan besok. Hmm.., gaun?? Oh noooo..!! Aku tak punya gaun. Tumpukan bajuku hanya berisi kaos-kaos santai, kemeja, dan celana jeans. Ufh, bingung juga menentukan mau mengenakan apa besok! Bongkar! Bongkar! Bongkar! Haha, seperti lagu seorang penyanyi favoritku, kubongkar tumpukan baju di kamar. Aaaargh.., tetap saja tak kutemukan baju yang pantas untuk pergi bersama Mas besok. Anak-anakku tertawa meliha...

error,"Maaf Mas, aku mencintaimu..."#episode 3

bangun tidur kuterus mandi...  Haha, tak seperti biasanya hal ini kulakukan. Biasanya di hari libur begini jadwal mandiku siang-siang. Tapi hari ini berbeda. Mas berjanji akan menjemputku untuk pergi ke rumah sahabatku . Aku menunggu kedatangan Mas. Tunggu ditunggu Mas tak datang juga. Ponselku juga tak berbunyi menandakan ada sms atau panggilan dari Mas. Ufh, Mas pasti sibuk lagi...                                                                                           *** Aku dan Ngka pergi ke tempat perbelanjaan dekat rumah. Lalu ponselku bernyanyi... Ah, Mas... "Dimana ni?" "Di sini...", jawabku seraya menyebutkan nama tempat perbelanjaan tersebut "Ngapain lagi?" "Ada yang harus dibeli" "Sama siapa?" "Sama Ngka" "Gue baru aja berangkat. Tadi ada t...

error,"PEDE ITU WAJIB"

Ada banyak orang yang kutemui merasa ga pede. Ga pede karena fisik. Pede alias Percaya Diri, menurut gue itu adalah hal yang wajib. Seluruh organ tubuh yang ada di kita adalah pemberian GUSTI. Seluruhnya adalah original sejak masih dalam kandungan.  Hal yang ori itu pastilah mahal, llebih mahal dari yang palsu, dari yang kW super sekalipun. GUSTI memberi ori semua. Mahal semua! Jadi kenapa harus ga pede alias ga percaya diri ato minder karena fisik?? Apa bukan berarti sedang menghina pemberian GUSTI?  Pesek? Hm.., tapi ori kan? Hidung mancung yang palsu aja mahal, berarti hidung pesek yang ori jauh lebih mahal dibanding si hidung mancung yang palsu. Itu menurut gue. Entah menurut yang lain. Berbeda itu biasa, tapi menjadi sama dalam mensyukuri pemberian GUSTI, gue rasa itu baik... Yuk ah, ga sah minder.., ga sah ga pede... Pede itu wajib, berarti kita bersyukur atas apa yang telah diberi GUSTI... Jadi untuk apa ga pede? kenapa juga minder karena fisik? Semua yang diber...

error,"kenangan Lorong Rumah Sakit berdua bersamamu, laki-laki yang mengantarku dan menghilang..."

Tadi pagi aku mengantar bapak ke rumah sakit untuk sinar. Bapakku kanker. Sehabis menjalani sinar bapak mengatakan ingin ke kantin sebelum pulang. Menuju kantin rumah sakit, melewati banyak lorong. Sewaktu melewati salah satu lorong, tiba-tiba aku teringat padamu, teman gaib yang pernah membantuku menunjukkan jalan menuju apotek dan mengantar kembali ke ruang perawatan dimana bapak dirawat waktu itu. Aku memandang lorong yang dulu kulewati. Sepi, padahal ini pagi hari, desahku. Lorong jadi terasa dingin. Angin perlahan menyentuh kulitku. Dingin... Suasana hening. Langkah kakiku dan langkah kaki bapakpun tak terdengar. Hening... Mataku memandang jauh ke depan, dalam hati aku berkeinginan untuk menjumpai sosok baik itu di antara hening dan dinginnya lorong, walaupun di sisi lainku aku ngeri mengingat kejadian saat Februari 2012 lalu kualami.  Lorong sepi dingin serasa tanpa tanda kehidupan.  "Semoga kamu tenang di tempat GUSTI, teman...", lirih dalam hati kumengucap. Saat ini ...

error,"Maaf Mas, aku mencintaimu..." #episode 2

#Sebuah episode lanjutan dari error,"Maaf Mas, aku mencintaimu..." "Ada dimana?" Aku menjawab telfon dari Mas, dan menyebutkan salah satu tempat perbelanjaan yang berada dekat rumah. "Oh, selamat berbelanja" "Ga kok mas, ga belanja" Jawabku "Sama siapa?" "Ngka, Mas" "Ok, selamat berbelanja" "Mas ke sini aja. Ga apa-apa" "Lama?" "Cuma lihat-lihat" "Nanti dihubungin deh kalau memang jadi dateng ya. Ini masih di kantor. Ok?" kata Mas di telfon "Oke"                                                     ***   Tak lama kemudian aku dan Ngka, putra sulungku tiba di tempat perbelanjaan.  "Ma, langsung ke tempat sepatu ya" Pinta Ngka.  "Ya, ya. Langsung ke tempat sepatu" jawabku singkat. Ngka memang memintaku untuk membelikannya sepatu untuk sekolah karena sepatu lamanya sudah rusak. Di bagian sepatu, Ngka sibuk melihat dan memilih sepatu yang sesuai ...

error,"Siapa laki-laki yang mengantarku dan menghilang itu?"

Cerita ini terjadi di bulan Februari 2012 saat bapakku dirawat inap di sebuah rumah sakit di Jakarta. Aku menunggu bapak di rumah sakit. Pada saat itu hari pertama bapak mulai dirawat di sana.  Malam hari perawat menyuruhku ke apotek untuk keperluan obat bapak. Tanpa pikir pannjang aku langsung pergi ke apotek yang dimaksud. Rumah sakit itu tergolong rumah sakit besar. Gedung tempat bapak dirawat ada di belakang, di lantai IV. Aku yang belum hafal tempat-tempat seputar rumah sakit mulai bingung apotek itu ada di sebelah mana rumah sakit. kususuri lorong gelap rumah sakit. Sepi menusuk. Taman terlihat gelap. Mau bertanya dimana apotek berada, tapi pada siapa? Sepi dan temaram malam itu. Sewaktu aku mulai bingung menentukan arah, datang seorang laki-laki usia di atasku. Mukanya ramah, dengan senyumnya yang lebar menyapaku, "Mau kemana?" Lega rasanya ada orang yang bisa kujadikan korban pertanyaanku. "Mau ke apotek, pak. Tapi aku ga tau apoteknya ada dimana" Jawabku...

error,"Maaf mas, aku mencintaimu..."

"Aku mencintaimu. Amat mencintaimu. Tapi aku tak bisa menikahimu" Kalimat itu masih saja terngiang di telingaku walaupun sudah berminggu lalu diucap olehnya, seorang lelaki yang kucintai. Seseorang yang datang dari masa kecilku, yang kupanggil dengan sebutan 'Mas'. Beberapa waktu yang lalu aku mulai sering berbincang dengannya. Banyak hal jadi topik menarik.  Setiap hari aku berbincang tentang pengalaman kami dalam menghadapi kehidupan. Saling percaya, itu basic pertemanan yang kami mulai. Baik dan buruk yang kami lalui dulu jadi hal asik untuk dibicarakan berdua.  Rindu-rindu terasa memenuhi ruang hati. Tapi aku masih bersikukuh bahwa kami berteman baik, bersahabat baik. Seperti yang selalu diucapkannya padaku,"LO SAHABAT GUE!".  Aku menerima pernyataannya tanpa pernah protes sedikitpun.  Ya, aku adalah sahabatnya, sahabat baiknya.                                     ...