Skip to main content

Posts

error,"Gadis berkaus cokelat".

Ada banyak teman yang menganggap aku seorang pemberani untuk melihat sosok-sosok tak nyata, sosok-sosok dari dunia yang berbeda. Itu karena mereka tahu tentang aku yang memang kebetulan bisa melihat dan merasakan kehadiran mereka Tapi sesungguhnya, aku takut, sama seperti kalian, tidak berani untuk melihatnya. Cuma mau bagaimana lagi, kenyataannya aku melihat, tanpa bisa menghindar. Semalam ketika aku sedang di luar pagar rumah, aku merasa ada Pink, putri bungsuku berdiri di sebelahku. Sama-sama diam, sama-sama tanpa kata-kata. Bukan hal yang aneh kan? Tapi sewaktu menoleh ke kanan, Pink tidak ada. Dia sedang di ruang tamu, asyik nge-games. Cuma heran karena pink sudah mengganti kausnya. Pink mengenakan kaus berwarna pink, sedangkan tadi mengenakan kaus berwarna cokelat. "Nduk, kamu ganti kaus?", tanyaku pada Pink. "Ga, Ma", jawab Pink dengan tetap asyik nge-games. "Tadi kamu pakai kaus cokelat". "Mama, dari tad...

error,"Ingkar"

Sebenarnya ini cerita tentang 2 tahun yang lalu, setelah beberapa bulan sakit dan pertama kali lumpuh tangan. Disarankan oleh dokter yang waktu itu memeriksa kondisi Pink, untuk membawa Pink ke seorang psikolog anak, karena khawatir kondisi psikis menjadi kurang baik setelah berbulan-bulan ga sekolah, hanya di rumah, dan bolak-balik kontrol ke rumah sakit. Di taxi, dalam perjalanan menuju rumah, gue teringat seorang teman kuliah dulu, perempuan yang juga seorang psikolog, yang membuka taman kanak-kanak sekaligus jasa konseling, dan kebetulan bertempat tinggal lumayan ga begitu jauh dari perumahan tempat gue tinggal. Saat itu juga gue menghubungi dia. Dia meminta gue datang saat itu juga, karena kebetulan memang sedang kosong jadwal, katanya. Gue bertanya pada Pink, apakah Pink mau untuk konseling dengan teman gue itu yang sudah dikenalnya, dan apakah Pink kuat untuk pergi lagi setelah tiba di rumah. Jawaban Pink adalah ya. Sip, berarti sesampai di rumah, Pink dan...

error,"Cinta kasih dan bully".

Sebuah lagu dari masa kanak-kanak masih terpatri di ingatan dan kenangan, tentang kasih ibu yang tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. Seorang ibu memancarkan kasih yang lembut, melindungi. Ibu tidak akan menyakiti seorang anak, baik fisik mau pun psikis. Begitu mulianya seorang ibu. Begitu damainya bersama ibu. Ibu memberi indah dan kebahagiaan pada anak. Tapi banyak juga kenyataan kasus per kasus yang berbeda dengan hal itu, tentang seorang ibu yang seharusnya lembut, mengasihi dengan cinta yang luar biasa, mendamaikan hati, menggebyarkan hidup dengan kebahagiaan yang penuh. Seorang ibu memukul anaknya, memaki anaknya, membimbing anak dengan penuh kemarahan, mengajari anak tanpa kasih. Makna seorang ibu menjadi buram, kusam, hilang... Ibu tak lagi mendamaikan, tak lagi penuh cinta kasih. Yang menyedihkan, ibu tak menyadari sedang membentuk pribadi anak, terekam hingga dewasa. Lalu sang anak yang dewasa tak menyadari bahwa ...

error,"Pohon Nenangga".

Di depan rumah gue ada pohon jambu air, persis di depan tembok pagar rumah yang gue tempati bersama Ngka, Esa, dan Pink. Pohon jambu airnya memang rajin banget berbuah, ga berhenti berbuah. Siapa pun boleh memanjat, memetik, mengambilnya menggunakan galah. Dengan cara apa pun, jambu air boleh diambil, dan disantap siapa pun, tanpa perlu repot-repot minta ijin. Tadi sewaktu gue sedang mengobrol santai dengan Ngka, dan pink, tiba-tiba,"Woi, Bu! Ayo rujakaaan!". Gue kaget banget! Ibu tetangga sebelah rumah, tiba-tiba nongol kepalanya dari balik tembok pagar. Gue tertawa, lalu berjalan ke teras. Tetangga gue asyik dengan galahnya, mengambil jambu air. "Saya suka manjat, Bu". "Bisa manjat?", tanya gue. "Iya, saya manjat ambil jambu. Tapi saya ga suka rujak. Yang suka rujak tuh anak saya. Saya lebih suka makan jambu gini aja", lanjutnya sambil mengambil sebuah jambu air, memasukkan ke mulutnya. Pohon jambu depan rumah memang pohon jambu air biasa, ...

error,"Pojok Esa"

Esa, putra ke-2 gue, selalu membuat gue, Ngka, dan Pink, geleng-geleng kepala. Gimana ga geleng-geleng kepala, lah setiap hari selalu aja pojok rumah di bagian rak buku, bergelimpangan segala benda milik Esa, dan ya tetap begitu, lalu Pink dapat bagian membereskan. Hingga akhirnya kami bertiga, gue, Pink, dan Ngka, sepakat memberi nama "Pojok Esa". "Esa, beresin bukunya", kata Pink. "Pink, Pinky aja, aku ga bisa", jawab Esa. "Esa, ga mungkin ga bisa", Pink berujar lagi. "Pink, tapi aku ga bisa. Aku bantuin aja deh", Esa menjawab, lalu bersiap pergi lagi ke sekolah untuk acara Bulan Bahasa. Pink menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa. Esa pun tertawa, lalu pamit pergi kegiatan Bulan Bahasa di sekolah. Pojok ini masih menunggu Esa pulang dari kegiatan Bulan Bahasa, agar bisa rapi kembali... Salam Senyum, error

error,"Rujak Jleb!"

Waktu itu gue ke pasar berdua Ngka. Ngka minta dibelikan mangga muda untuk rujak. Wah , mantap banget deh, karena itu gue langsung menyetujui. Tapi ternyata kesibukan (jiailaaah, sibuuuk...! Hahaha!) , gue ga bikin tuh rujaknya. Apalagi di hari Sabtu dan Minggu, jadwal Ngka kuliah tuh padat banget, dari pagi sampai malam. Alhasil mangga muda hanya dipandangi aja di dapur. Horre, Ngka libur, dan tiba-tiba gue ingat tentang rujak. Asyik banget nih makan rujak. Berangkat kerja kemarin, gue melihat segerombol jambu air ada di pohon. Tambah mantap ngerujaknya, mangga muda, dan jambu air! Lalu gue asyik di dapur ngulek bumbu rujak. Bumbu rujak yang komplit, karena menggunakan kacang goreng juga. Terbayang asyiknya makan rujak di siang hari yang panas. Taraaaa, jadilah bumbu rujaknya. Gedubrak gedubruk, cari sana-sini, mangga mudanya kok ga ada ya? Gue masih berusaha mencari tuh mangga muda yang kecut tapi 'jleb' sekaleee kalau dirujak. "Pink, mangga mudanya kok ga ada, ya?...

error,"WHAT?? BPKB GUE ADA DI MANA?".

Tadi gue ke Adira Finance, yang bertempat di Sentra Bisnis, Harapan Indah, Bekasi. Tertanggal l1 Juni 2014, gue merevisi BP K B, yang sejak awal penerimaan ternyata no rumah di bagian alamat, salah. Oleh Adira Finance, saat penerimaan itu, gue diminta ke bagian revisi, yang ternyata sebuah biro jasa, CV. Vinno JAYA. Untuk merevisi, gue dikenakan biaya Rp. 50.000,-. Agakbingung juga, karena itu kan bukan kesalahan gue, tapi kok oleh ADIRA finance gue diminta ke bagian yang revisi dan dikenakan biaya, ya? Tapi gue malas ribut, gue bayar tuh biaya revisi. "Nanti Ibu dihubungi kalau sudah selesai, saya ga tahu kapan revisi ini selesai', kata mbak penjaga counter revisi CV. Vinno JAYA. Tunggu ditunggu, ga ada tuh gue dihubungi. Bulan September, gue datangi CV. Vinno JAYA yang di Adira Finance, Sentra Bisnis, Harapan Indah, Bekasi. Ternyata alamat masih belum berubah. Gue kecewa banget, dan rasanya ingin marah. mbak penjaga counter bilang,"Na...