Skip to main content

Posts

error,"Pink, autoimun, kucing, dan GUSTI"

Ngka, Esa, Pink, sejak lama meminta ijin untuk punya binatang peliharaan lagi. Gue selalu menolak permintaan mereka itu. Sejak Pink mengidap autoimun, gue menolak untuk ada binatang di rumah. Binatang pembawa penyakit, pembawa virus, pembawa banyak bakteri. Pink ga boleh terpapar virus, bakteri, penyakit. Gue ga mau ambil resiko Pink diserang imunnya cuma karena binatang peliharaan konyol. Setiap kali ada kucing, setiap kali itu juga gue selalu mendengar,"Lucu ya Ma". Gue tersenyum menanggapi celoteh tentang kucing lucu. Sebenarnya gue sendiri suka banget sih punya binatang peliharaan. Dulu gue punya banyak kucing, dan semuanya nurut ke gue. Setiap mau makan, gue 'ting ting ting' tuh piring keras-keras. Hasilnya? Para kucing berlari pulang semua untuk makan. Yang gue pelihara kucing kampung, bukan kucing ras. Dan lagi, yang gue adopsi tuh kucing-kucing yang kondisinya ga bagus. Ada satu ekor kucing yang gue beri nama 'kutu", karena dia gue ambil di pasar, da...

Selamat 14 tahun, Pink!

Selamat 14 tahun, Pink! Hari ini, 22 Desember 2014, Pink 14 tahun. Buat gue, amat istimewa! Hari lahir anak-anak gue, adalah hari istimewa, amat istimewa untuk gue. Istimewa ga berarti ada perayaan yang heboh. Berjalan seperti hari biasa, biasa bahagia! Hari ini ada banyak kue, dan itu dari sahabat, bukan dari gue, yang notabene adalah mamanya. Beberapa novel ada di tangannya, dan itu adalah hadiah hari lahirnya, yang gue berikan untuk Pink di awal bulan. "Novel horor, ya Ma", pintanya. Selamat 14 tahun, Pink! Doa dan doa terucap untukmu, nduk cantik cintanya mama... Sehat, bahagia selalu, ada cinta untukmu di sepanjang jalan hidupmu, dari mama, Ngka, Esa. GUSTI selalu mendampingimu, nduk... Selamat 14 tahun, Pink! Senyum, tawa ceria, binar bahagia, jangan pernah hapus... Hadapi, jalani, nikmati, segala yang GUSTI beri... Hidup adalah anugerah terindah, isi dengan gerak positif, penuhi dengan bintang ceriamu... Selamat 14 tahun, Pink! Sungguh, mama mencintai...

error,"Gadis berkaus cokelat".

Ada banyak teman yang menganggap aku seorang pemberani untuk melihat sosok-sosok tak nyata, sosok-sosok dari dunia yang berbeda. Itu karena mereka tahu tentang aku yang memang kebetulan bisa melihat dan merasakan kehadiran mereka Tapi sesungguhnya, aku takut, sama seperti kalian, tidak berani untuk melihatnya. Cuma mau bagaimana lagi, kenyataannya aku melihat, tanpa bisa menghindar. Semalam ketika aku sedang di luar pagar rumah, aku merasa ada Pink, putri bungsuku berdiri di sebelahku. Sama-sama diam, sama-sama tanpa kata-kata. Bukan hal yang aneh kan? Tapi sewaktu menoleh ke kanan, Pink tidak ada. Dia sedang di ruang tamu, asyik nge-games. Cuma heran karena pink sudah mengganti kausnya. Pink mengenakan kaus berwarna pink, sedangkan tadi mengenakan kaus berwarna cokelat. "Nduk, kamu ganti kaus?", tanyaku pada Pink. "Ga, Ma", jawab Pink dengan tetap asyik nge-games. "Tadi kamu pakai kaus cokelat". "Mama, dari tad...

error,"Ingkar"

Sebenarnya ini cerita tentang 2 tahun yang lalu, setelah beberapa bulan sakit dan pertama kali lumpuh tangan. Disarankan oleh dokter yang waktu itu memeriksa kondisi Pink, untuk membawa Pink ke seorang psikolog anak, karena khawatir kondisi psikis menjadi kurang baik setelah berbulan-bulan ga sekolah, hanya di rumah, dan bolak-balik kontrol ke rumah sakit. Di taxi, dalam perjalanan menuju rumah, gue teringat seorang teman kuliah dulu, perempuan yang juga seorang psikolog, yang membuka taman kanak-kanak sekaligus jasa konseling, dan kebetulan bertempat tinggal lumayan ga begitu jauh dari perumahan tempat gue tinggal. Saat itu juga gue menghubungi dia. Dia meminta gue datang saat itu juga, karena kebetulan memang sedang kosong jadwal, katanya. Gue bertanya pada Pink, apakah Pink mau untuk konseling dengan teman gue itu yang sudah dikenalnya, dan apakah Pink kuat untuk pergi lagi setelah tiba di rumah. Jawaban Pink adalah ya. Sip, berarti sesampai di rumah, Pink dan...

error,"Cinta kasih dan bully".

Sebuah lagu dari masa kanak-kanak masih terpatri di ingatan dan kenangan, tentang kasih ibu yang tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. Seorang ibu memancarkan kasih yang lembut, melindungi. Ibu tidak akan menyakiti seorang anak, baik fisik mau pun psikis. Begitu mulianya seorang ibu. Begitu damainya bersama ibu. Ibu memberi indah dan kebahagiaan pada anak. Tapi banyak juga kenyataan kasus per kasus yang berbeda dengan hal itu, tentang seorang ibu yang seharusnya lembut, mengasihi dengan cinta yang luar biasa, mendamaikan hati, menggebyarkan hidup dengan kebahagiaan yang penuh. Seorang ibu memukul anaknya, memaki anaknya, membimbing anak dengan penuh kemarahan, mengajari anak tanpa kasih. Makna seorang ibu menjadi buram, kusam, hilang... Ibu tak lagi mendamaikan, tak lagi penuh cinta kasih. Yang menyedihkan, ibu tak menyadari sedang membentuk pribadi anak, terekam hingga dewasa. Lalu sang anak yang dewasa tak menyadari bahwa ...

error,"Pohon Nenangga".

Di depan rumah gue ada pohon jambu air, persis di depan tembok pagar rumah yang gue tempati bersama Ngka, Esa, dan Pink. Pohon jambu airnya memang rajin banget berbuah, ga berhenti berbuah. Siapa pun boleh memanjat, memetik, mengambilnya menggunakan galah. Dengan cara apa pun, jambu air boleh diambil, dan disantap siapa pun, tanpa perlu repot-repot minta ijin. Tadi sewaktu gue sedang mengobrol santai dengan Ngka, dan pink, tiba-tiba,"Woi, Bu! Ayo rujakaaan!". Gue kaget banget! Ibu tetangga sebelah rumah, tiba-tiba nongol kepalanya dari balik tembok pagar. Gue tertawa, lalu berjalan ke teras. Tetangga gue asyik dengan galahnya, mengambil jambu air. "Saya suka manjat, Bu". "Bisa manjat?", tanya gue. "Iya, saya manjat ambil jambu. Tapi saya ga suka rujak. Yang suka rujak tuh anak saya. Saya lebih suka makan jambu gini aja", lanjutnya sambil mengambil sebuah jambu air, memasukkan ke mulutnya. Pohon jambu depan rumah memang pohon jambu air biasa, ...

error,"Pojok Esa"

Esa, putra ke-2 gue, selalu membuat gue, Ngka, dan Pink, geleng-geleng kepala. Gimana ga geleng-geleng kepala, lah setiap hari selalu aja pojok rumah di bagian rak buku, bergelimpangan segala benda milik Esa, dan ya tetap begitu, lalu Pink dapat bagian membereskan. Hingga akhirnya kami bertiga, gue, Pink, dan Ngka, sepakat memberi nama "Pojok Esa". "Esa, beresin bukunya", kata Pink. "Pink, Pinky aja, aku ga bisa", jawab Esa. "Esa, ga mungkin ga bisa", Pink berujar lagi. "Pink, tapi aku ga bisa. Aku bantuin aja deh", Esa menjawab, lalu bersiap pergi lagi ke sekolah untuk acara Bulan Bahasa. Pink menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa. Esa pun tertawa, lalu pamit pergi kegiatan Bulan Bahasa di sekolah. Pojok ini masih menunggu Esa pulang dari kegiatan Bulan Bahasa, agar bisa rapi kembali... Salam Senyum, error