Thursday, 20 October 2016

Perempuan Di Depan Rumahmu

Namanya Geo. Gadis manis bermata sendu. Kamu mengenalnya? Dia selalu ada di depan rumahmu, sendiri tanpa teman.
Aku pernah berbincang sekali. Dia bercerita tentang keluarganya yang menghilang entah kemana! Cerita berbalut rindu.
"Lalu dengan siapa kamu sekarang?" Tanyaku.
"Aku sendiri."
"Kamu tak mengenal siapa pun di sini?"
Menggeleng lemah tanpa daya, disapunya dahi yang tertutup tanah.
Namanya Geo, kemarin kulihat mengejar kucing berlarian kucing- kucing ketakutan! Persis di depan rumahmu. Masak kamu tidak mengenalnya?
Baju yang dipakai masih sama. Polkadot pink, mungkin itu baju favoritnya.
Katanya sudah setahun, di depan rumahmu, dibawah pohon jambu. Setiap malam dia bermain di depan rumahmu. Bernyanyi-nyanyi sendiri, tertawa-tawa, terkadang menangis pilu.
Namanya Geo. Masa kamu tidak tahu?

Nitaninit Kasapink, 20 Oktober 2016

Thursday, 1 September 2016

Bahagia Itu Sederhana Dan MONYET!

“Monyet!” 

Marah mendengar teriakan penuh amarah, atau ejekan itu? Kenapa marah? Karena monyet jelek? Wah, kalau aku yang diteriaki atau diejek dengan kata monyet, aku sih gak marah. Karena menurutku itu ejekan untuk monyet, bukan ejekan untukku. Kok ejekan untuk monyet? Ya iya dong, ejekan untuk monyet, karena mengandung maksud wajah yang jelek. Padahal monyet bukan jelek, loh. Monyet kan bukan manusia, jadi ya gak bisa distandard-kan dengan manusia. Jadi, ya gak jelek, dong. Monyet kan standard wajahnya memang seperti itu.

Masih marah diteriaki, atau diejek dengan kata,”Monyet!”? Wah, rugi banget kalau marah. Monyet itu lincah, pandai memanjat, lucu. Ada yang salah dengan monyet? Gak ada, kan?
Sewaktu anak-anakku masih kecil, aku mengajarkan mereka untuk melihat segala sesuatu dari sudut positif. Monyet bukan negatif. Monyet hewan yang positif. Lihat dari sudut positif, bukan dari sudut negatif, bukan dari fisik.

“Sayang, lihat tuh monyetnya lucu di atas pohon. Loncat dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Tuh ayun-ayunan di pohon!” 

Aku mengomentari monyet yang kami tonton bersama. Ngka melongo memandangi layar tv.

“Tuh lihat tuuuh, pinter banget, ya? Hebat, ya? Lucunya kalau monyet tertawa. Tuh lihat!” Ujarku lagi. Itu awal aku ‘mencuci otak’ anakku tentang monyet.

Lalu Ngka mulai tertawa-tawa melihat monyet di tv yang asyik berayun, dan berpindah dari pohon yang 1 ke pohon yang lain.

”Ma, pinter ya monyetnya! Ngka mau jadi monyet!”

Aku tertawa mendengar ucapannya, kemudian menjawab,”Ngka kan manusia, beda sama monyet. Monyet pinter memanjat, berayun di pohon. Ngka pinter membaca, menulis, menyanyi. Ya kan?”

“Tapi Ngka mau jadi monyet!”

“Monyet memang hebat, ya?”

Pandangan anakku terhadap monyet, positif, bagus. Berhasil!

Tahun berganti, Ngka memiliki 2 adik, Esa, dan Pink. Pada Esa, dan Pink, aku juga mengajarkan hal yang sama. Niatku 1, mengubah pandangan yang ada di masyarakat tentang kata ejekan,”Monyet!”

Kugendong Esa di tangan kanan, Pink di tangan kiri, dan Ngka berpegang erat di kakiku.

” Pegangan yang kenceng, ya, Mama ga megangin.”

Lalu mereka berpegang erat padaku, sambil tertawa-tawa. Aku berjalan di dalam rumah. Tiga anakku senang sekali, merasa diajak bermain-main. Padahal aku mempunyai niat tertentu. Mereka gak tau bahwa aku sedang mengajar mereka.

“Wah, jadi kayak monyet ya? Bisa bergelantungan! Hebat banget anak-anak Mama!” Teriakku dengan suara seakan-akan aku takjub pada mereka.

“Iya, Ma. Ngka monyet.”

“Esa yang monyet, Ma.”

“Pink yang monyet.”

Tiga anakku berebut menjadi monyet! Mau tau rasa apa yang ada dalam dadaku? Bahagia tak terkira!
Aneh mungkin ya, kok aku bahagia anakku monyet. Bahagia banget! Itu cuma sebuah cara agar mereka mau memandang segala sesuatu bukan dari sudut jelek, bukan dari sudut negatif. Aku berusaha agar anak-anakku bisa memandang segala sesuatu dari sudut lain. Berbeda dari kebanyakan orang, ga salah kok, asalkan kita memandangnya dari sudut yang benar.

Aku berharap Ngka, Esa, dan Pink, bisa bijak menghadapi segala sesuatu. Monyet cuma sebuah contoh kasus. Ketika semua orang memandang monyet sebagai hal yang jelek, kami memandang monyet sebagai hal yang pintar. Karena memang pada kenyataannya monyet itu pintar. Lagipula monyet juga gak salah apa-apa pada kita, kok kita jadikan tolok ukur sebagai ‘jelek’.

“Monyet!”

Masih marah? Kalau masih marah karena teriakan monyet yang ditujukan pada kita, dan marah karena diejek monyet, terus terang aku orang pertama yang tertawa terbahak-bahak. Kasihan, gak tau ya, monyet itu pintar? Kasihan, ga tau ya, monyet itu lucu?

Masih marah juga? Ah, kasihan.

Bagaimana bisa bahagia kalau hanya memandang segala sesuatu dari sudut negatifnya saja? Bagaimana bisa bahagia kalau gak mau membuka pandangan bahwa menghakimi si monyet yang gak ngerti apa-apa, dengan menjadikannya standard jelek itu adalah sebuah dosa.


Masih marah? Ah, lucunya!


Salam Bahagia,
Nitaninit Kasapink


Wednesday, 31 August 2016

Bahagia Itu Sederhana Dan Banjir!


Banjiiir! Banjiiiir! Banjir masuk rumah, anak-anakku, Ngka, Esa, Pink, masih kecil. Ngka kelas 1 SD, Esa belum sekolah, apalagi Pink, masih kecil. Air banjir yang berwarna cokelat seperti susu cokelat masuk ke dalam rumah. Ga tegalah emak yang satu ini membiarkan anak-anak terkena air banjir! Banjir ga tinggi sih masuk ke dalam rumah, ‘hanya’ sebatas betis. Tapi terbayang di otak ini setinggi apa untuk anak sekecil anak-anakku. Ga deh, jangan main air banjir, ya sayang.

Aku ajak tiga anakku duduk di tempat tidur. 

“Ayo Ngka, Esa, Pink, kita naik kapal! Kakinya jangan turun ke bawah! Kaki jangan kena air! Hati-hati, ada ikan paus! Hati-hati ada ikan hiuuuu! Ayo kita dayung, dayung, dayung! Lihaat, ada ikan duyuung di ujung sana!” Itu yang kukatakan pada Ngka, Esa, dan Pink. 

Kami tertawa-tawa di atas tempat tidur. 

“Mamaaaa, itu ikan hiu! Awas kaki!” Ngka berteriak. 

“Hiiii, ikan hiu!” Teriak Esa, dan Pink. 

Suasana gembira tercipta di kamar.

Saatnya makan siang, aku turun dari tempat tidur, tapi dengan pesan,”Kakimu jangan kena air! Kalau Mama kakinya besar! Ikan hiu takut sama Mama. Ayo kakinya jangan turun.” 

Lalu aku ke dapur, menyiapkan makan untuk tiga anakku yang imut-imut.

“Makan siap, komandan! Makan siap, kapten! Ayo kita makan!” 

Kuletakkan piring, lauk, dan nasi di atas tempat tidur. 

“Mama, kita piknik di kapal, ya?” Tanya Ngka. 

Aku tertawa mendengar pertanyaan Ngka, lalu menjawab,”Yup! Kita piknik di kapal, keliling duniaaa! Horrree, kita keliling duniaa!” Seruku sambil bertepuk tangan, yang diikuti teriakan serta tepuk tangan Ngka, Esa, dan Pink. “Horrree, horree! Pikniiik!”

Itu yang kulakukan saat banjir masuk ke dalam rumah saat mereka masih kecil. Mengajak mereka berimajinasi piknik di kapal, mengarungi laut, samudera, berkhayal ada ikan paus, ikan hiu, ikan duyung. Banjir ga menjadi hal buruk, tapi malah menjadi hiburan tersendiri, juga anak-anakku ga berkecipak-kecipuk di air banjir yang kotor!

Ada lagi cerita banjir. Hihi, daerah perumahan kami tinggal memang rajin didatangi banjir. Waktu itu Pink sudah TK A, Esa TK B, Ngka kelas 3 SD. Aku menjemput mereka pulang sekolah, tiga-tiganya sekaligus, naik motor. Jalanan banjir. Aku ga tau bahwa jalan yang kulewati itu ternyata air banjirnya tinggi sekali, hingga masuk ke knalpot. Motorku tewas dengan sukses! Tiga anak ada di atas motor, tiba-tiba aku dikejutkan suara teriakan,”Mamaaaaaa, Pink takuuuut! Takut ikan hiuuuu! Huwaaaa!”

Hahahaha, aku tertawa ngakak! Otomatis Pink terdiam mendengar tawaku yang keras, dan ga bisa berhenti. Sebagai catatan untuk diketahui, aku ga bisa tertawa pelan. Ga mantap rasanya kalau tertawa cuma hihi pelan. Maklum deh, aku bukan ibu-ibu yang manis.

“Mama kok malah ketawaaaa?” Tanya Pink.

Kujawab,”Ikan hiunya ga ada, pada main jauh. Bosan kan main di sini terus.” Uhk, bohong yang mujarab! Pink berhenti menangis.

Dengan Ngka, Esa, Pink, duduk manis di motor, kudorong motor. Tenang, aku kuat, kok. Ada tenaga Gatot Kaca bersarang di otot. Sumpah, beraaaat! Apalagi sewaktu melewati polisi tidur. 

Dalam hati aku berpikir,”Kalau udah selesai banjir, gue bongkar nih polisi tidur!” 

Segenap tenaga kukerahkan, sambil tetap mengajak Ngka, Esa, Pink, bernyanyi,”Berlabuh, berlabuh, buang lelah, dan sauh.”

Dorong mendorong motor usailah sudah. Sampai juga di rumah dengan selamat, sentosa, dan merdeka!


Aku ingin anak-anakku bisa menikmati sewaktu menghadapi hal yang ga banget dalam ukuran nyaman. Banjir memang ga nyaman, apalagi memiliki anak-anak yang masih kecil. Tapi tetap bisa jadi hal yang indah kalau berpikir bahwa ini indah. Aku rasa banjir ini pembelajaran untuk anak-anakku agar bisa santai menyikapi apa pun yang terjadi. Bisa menikmati apa pun yang ada. Bahagia memang sederhana, kan? Tapi tetap aku berharap, berdoa, jangan banjir lagi. Haha! 

Salam Senyum,
Nitaninit Kasapink

Bahagia Itu Sederhana Dan Kambing

Kambing! Hewan yang ingin kumiliki. Alasannya karena penasaran dengan bentuk kotorannya. Karena menurut teman-teman kecilku, kotoran kambing berbentuk bulat!

“Bap, memangnya tahi kambing itu bulat-bulat, ya?”

“Iya.”

“Kayak apa?”

“Ya bulat.”

“Ninit ga pernah lihat. Ninit pengen lihat.”

Hanya percakapan itu yang terjadi. Hingga satu sore saat bap pulang kerja.

“Niiiit, Niniiit!” Suara bap memanggil.

Aku tergopoh-gopoh menyambut bap. Tapi amat mengejutkan karena ada hadiah tak terbayangkan untukku!

“Kambiiing! Kambiiiing! Bap bawa kambiiing! Kambing siapa?” Aku berteriak-teriak kegirangan.

“Kambing untuk Ninit. Katanya pengen lihat tahi kambing.” Ujar bap.

Kambing! Bap membeli 2 ekor kambing untukku! Mereka diikat di halaman samping. Aku duduk ga jauh dari sana. Menunggu kambing mulas. Menunggu kambing buang air besar. Menunggu tahi kambing! Apa iya bulat-bulat seperti kata teman-teman, dan seperti kata bap? Lama menunggu, kambing ga mulas juga. Bosan, kutinggal saja mereka.

“Udah lihat?” Tanya bap.

“Belum.”

“Loh kok belum?”

“Kambingnya ga mulas.”
Bap tertawa, juga mama.

Aku santai di kamar, membaca majalah. Lalu tiba-tiba teringat kambing-kambing. Aku berlari ke halaman samping.

“Ada apa, Nit?” Tanya Mama.

“Tahi kambing!”

Aku ga tau ekspresi mama saat itu, karena aku konsentrasi pada kambing-kambing. Harus segera mulas! Kambing-kambing harus buang air besar! Tahi kambing! Kulihat kambing-kambing sedang santai duduk. Tapi kok ga ada tahinya. Huh!

“Kambiiing, ayo dong mulas! Cepetan buang air besar!” Aku membujuk kambing, tapi kambing ga menjawab.

Duduk dekat kambing ga nyaman menurutku. Jadi kutinggal lagi para kambing. Aku berlari lagi ke kamar. Huh, kambing payah! Masa sih buang air besar aja ga mau. Padahal kan aku cuma ingin lihat bentuk tahinya aja! Aku malas pergi melihat kambing-kambing itu lagi.

Pagi hari bap bertanya padaku,”Udah lihat kambingnya?”

“Belum. Kambing-kambingnya ga ada yang buang air besar. Nit kan cuma ingin lihat tahi kambing aja.”

“Tengok dulu sekarang. Siapa tau aja udah tuh. Lihat dulu gih!”

Enggan aku berjalan menuju halaman samping. Kambing-kambing asyik makan kangkung. Aku ga tau siapa yang memberi makan.

“Baaaaap...! Baaaap...!” Aku berteriak memanggil bap.

Bap tergesa ke arahku,”Kenapa Nit?”

“Kambingnyaaaa!” Aku menunjuk ke arah kambing.

“Kenapa?” Bap penasaran.

“Tahinya bulaaat! Ituuu banyaaak!”

Bap tertawa terbahak-bahak, sedangkan aku kegirangan melihat tumpukan tahi kambing! Ternyata tahi kambing memberi kebahagiaan besar untukku! Terimakasih, Bap.


Salam Senyum,
Nitaninit Kasapink



Friday, 26 August 2016

8 Langkah Menjadi Bahagia

Siapa yang mau jadi orang berbahagia? Aku yakin semua orang ingin selalu berbahagia. Tapi seringkali terbentur masalah, bersedih, lalu akhirnya merasa ga bahagia!

Sebenarnya amat mudah menjadi orang yang selalu berbahagia. Karena Tuhan selalu memberi kebahagiaan untuk manusia, jangan hanya karena ga mendapat hal yang sesuai dengan yang diinginkan, lalu berpikir bahagia itu sulit.

Terima apa yang terjadi dengan senyum. Apapun yang terjadi, hadapi, jalani, dengan senyum. What? Gila aja gimana bisa tersenyum kalau rumah kebanjiran, kemalingan, anak sakit, dan masih banyak hal buruk lain terjadi! Ih, bisa, kok, bisa. Ada caranya.

Ikuti langkah ini agar menjadi orang yang berbahagia:

1.    Tenang
     Jangan panik! Saat terjadi hal yang ga menyenangkan, tenangkan diri. Panik hanya
     akan membuat kita sulit berpikir jernih.

2.    Positif Thinking
     Buang jauh-jauh berpikir sebagai orang yang paling sengsara, paling merana, paling
     susah, paling menderita. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya.

3.    Optimis
     Pandang segala yang terjadi dengan optimis. Hadapi, dan jalani yang terjadi dengan
     optimis,”Saya bisa!”

4.    Tersenyum
Senyum membuat hati menjadi lebih nyaman, buang cemberut, karena hanya akan menambah kekesalan.

5.    Nikmati
     Hancurkan segala keluh kesah yang menggila di dalam diri. Nikmati saja yang ada.
     Segala sesuatu pasti bisa dinikmati asal kita ringan hati menghadapi dan
     menjalaninya.

6.    Tuhan selalu memberi yang terbaik
     Yakinkan diri bahwa apa yang terjadi adalah hal terbaik dari Tuhan. Dia mengetahui
     yang terbaik untuk kita, dan segala rencanaNYA adalah terindah untuk kita. Dia tahu
     apa yang menjadi kebutuhan kita, yang terkadang ga sesuai dengan yang kita
     inginkan.

7.    Setiap hari adalah hari yang indah
Tuhan ga akan pernah memberi hari yang sial, atau hari yang buruk! Semua hari adalah hari yang indah, karena setiap hari ada pembelajaran hidup untuk kita agar bisa berkembang menjadi lebih baik.

8.    Bersyukur
     Ada orang lain yang menghadapi hal lebih ga menyenangkan dibanding kita. Kita
     lebih beruntung. Syukuri yang ada.

Ga sulit kan untuk bisa menjadi orang yang berbahagia? Lakukan 8 langkah di atas, dan jadilah orang yang berbahagia di setiap kejadian hidup.


Salam bahagia selalu,
Nitaninit Kasapink



     

Monday, 22 August 2016

BAHAGIA ITU SEDERHANA DAN GOSIP, FITNAH

Pernah difitnah? Pernah digosipi? Aku sering. Aih, sering difitnah, digosipi, kok bangga. Ya iyalah bangga. Aneh, ya? Jangan merasa aneh, tapi ga bohong, jujur nih, aku sih bangga-bangga aja tuh sampai difitnah, dan digosipi sama orang.

Pasti jadi pertanyaan deh, sakit hati atau ga, aku difitnah. Namanya aja manusia, ya pasti pernah merasakan hati seperti diiris silet. Perih, mak, perih. Kalau mikir sakit, ya jadi sakit di hati. Tapi aku berusaha untuk tenang aja. Merasakan sakit di hati cukuplah beberapa menit.
Aku termasuk orang yang ga gitu peduli omongan orang lain. Sebodo teuinglah, cuek ajah. Mikir apa yang orang omongin tentang aku, ga akan ada habisnya sakit hati. Untungnya aku ga model ‘pemikir’.

“Mbak, kamu dibilang bawa gendruwo!”

Eh bujut, bawa gendruwo! Pernah loh aku difitnah begitu! Aku tertawa aja. Ga tau darimana tuh orang bisa lihat gendruwo bareng aku. Lah aku kan ga pernah janjian date sama gendruwo! Hedeh, janjian sama tukang baso sih pernah. “Bang, ke rumah, ya!” Itu janjian sama tukang baso keliling, pas lapar. 

“Jeruk kok makan jeruk!”

Ya ampuuun, mentang-mentang eike janda bertahun-tahun dan ga nikah-nikah juga, dibilang lesbi! Hihihi, plis deh, pliiiis, eike normaaal..! Aku tertawa ngakak saat seorang sahabat membawa kabar itu.

“Dasar tukang morotin!”

Wahahaha, ini juga lucu. Sejak dulu aku berusaha sendiri, bekerja pontang-panting untuk menafkahi Ngka, Esa, dan Pink. Aku memang bukan orang yang berpenghasilan melimpah, tapi ini maksimal yang kukerjakan. Morotin orang, ga terlintas samasekali di otakku. Aku juga tertawa waktu mendengar ini.

“Janda gatel!”

Ya ampuun, gatel mah digaruk aja kali, ya? Aku benar-benar ga bisa nahan tawa saat itu!
Masih banyak lagi yang masuk telingaku. Marah? Ga. Biar aja. Aku bersyukur memiliki hidup yang bahagia seperti ini. Fitnah, gosip, datang silih berganti, dan itu malah membuatku makin bahagia. Walau kalau disuruh memilih antara dipenuhi fitnah, dan gosip, atau tanpa fitnah dan gosip, ya jelas aku memilih tanpa difitnah, dan tanpa digosipi. Lah kok bisa bahagia difitnah dan digosipi? Ya bisa aja, kenapa ga?

Aku hidup tenang dengan 3 anakku yang hebat. Hidup kami ga berlebihan. Kami bukan orang yang berlimpah harta. Kami hidup tenang tanpa sibuk ribut harta. Kami tenang dalam segala kesederhanaan yang ada.

Fitnah, gosip, datang ke dalam kehidupanku, memberi warna bahagia baru. “Ternyata aku amat bahagia, hidupku enak, aku ga susah, aku cantik, aku disukai banyak orang baik wanita mau pun pria!” Itu yang ada di otak saat fitnah, dan gosip datang.

Hei, hei, kalau hidupku ga bahagia, aku ga menarik, aku ga indah, mana ada mereka sibuk mencari ‘lahan’ fitnah, dan gosip untukku? Seorang berkata padaku,”Lo kok ga pernah sepi fitnah, sama gosip, sih Nit?” Jawabanku begini,”Gue kan artis Bekasi!”

Kenapa juga jadi sedih, marah, jengkel, pada fitnah, dan gosip, yang tersebar, berserakan? Hidupku jauh lebih penting dibanding hanya mengurusi perkara itu. Lebih baik meneruskan hidup yang berjalan indah bersama Ngka, Esa, dan Pink, daripada bergulat dengan fitnah, gosip, yang jelas-jelas diciptakan untuk menjatuhkanku. Kalau aku memusingkan fitnah, gosip, yang ada, pemfitnah, penggosip, pasti tertawa senang! Dan aku? Cuma dapat pusing, stress! Rugi banget, kan? Karenanya aku sih cuek aja. Toh fitnah, gosip, akan hilang dengan sendirinya.

Gegara fitnah, gosip, sahabat-sahabat pergi menjauh! Aku ga ambil pusing akan hal itu. Justru di situlah aku jadi tau kualitas sahabat-sahabat yang kumiliki. Jika mereka memang sahabat, pasti mereka akan bersikap bijak, ga akan termakan fitnah, gosip. Mereka pasti akan bertanya kejelasannya padaku. Mereka juga pasti tau seperti apa aku, kalau mereka memang sahabatku, kalau aku memang dianggap sahabat oleh mereka.

Jadi sekarang udah jelas kan kenapa aku bahagia dengan adanya fitnah dan gosip yang datang padaku? Karena berarti Tuhan memberi hidup yang bahagia untukku, dan 3 anakku. Hidupku diintip oleh si pemfitnah, dan si penggosip. Mereka sibuk memperhatikanku. Malah mereka lebih memperhatikanku dibanding diri mereka sendiri. Buktinya mereka membiarkan diri mereka dosa karena memfitnah, dan menggosipiku! Hebat, kan aku? Juga karena dari fitnah, dan gosip, aku bisa tau mana sahabat sesungguhnya, dan mana yang bukan.

Aku berbahagia, dan berbahagia terus. Hadapi, jalani, nikmati, syukuri semua yang ada. Tuhan tau apa yang terjadi dalam hidup. Jadi, semua yang ada pasti berisi kebahagiaan! Yuk berbahagia.

Salam penuh kasih,
Nitaninit Kasapink

Single Mom Yang Bahagia

Namanya aja single, ya sendiri, tanpa pasangan. Tapi jangan lupa, she is a mom! Ada anak-anak terkasih bersama mereka. Single mom is a mom! Seorang ibu yang mengasihi anak-anaknya. Melakukan segala sesuatu untuk mereka. Berat? Nop! Dengan kasih, single mom menjalani hidup. Tidak ada yang berat, walau pun bukan hidup yang ringan. Tapi karena mengerjakannya dengan kasih, segala sesuatu yang dikerjakan jadi indah.

Apa aja sih yang katanya jadi tugas si single mom, dan yang katanya bikin berat si single mom? Dan kenapa si single mom kok ya tetap aja berbahagia walau katanya berat, ya? Ini pengalamanku sebagai single mom dan segala hal yang 'berat-berat' itu.

Single mom si pencari nafkah
Saat suami masih ada (suamiku meninggal karena kanker di tahun 2007), aku seorang ibu rumah tangga, bukan ibu bekerja. Pernah bekerja, tapi lal resign karena suami tidak mengizinkan bekerja. Setelah suami meninggal, otomatis harus mencari pekerjaan agar bisa mencukupi biaya kebutuhan kami. Sekolah, rumah, makan, dan semuanya.
Tapi bukankah sejak dulu banyak perempuan menjadi pencari nafkah? Bukan hanya single mom yang bekerja menjadi pencari nafkah. Yang memiliki pasangan pun bekerja, kok.
So, apakah setelah menjadi single mom, lalu mencari nafkah, aku merasa hal itu sebagai sesuatu yang berat? Jawabannya adalah bahagia, bukan berat . Karena yakin segala sesuatu jika dikerjakan dengan suka cita tidaklah berat.
Penghasilan kecil? Uang tidak mencukupi untuk biaya kebutuhan hidup? Ssshh, tenang aja, ada Tuhan yang Luar Biasa, Maha Kaya. Berusaha, berdoa. Tidak mungkin tidak dicukupi.
Masih belum cukup juga? Berusaha maksimal itu wajib, tapi ingat, Tuhan yang memutuskan segalanya. Rejeki tidak akan pernah salah alamat.

Single mom si pengurus anak
Waduh, memangnya yang bukan single mom tuh ga perlu mengurus anak, ya? Hanya single mom aja yang seharusnya mengurus anak? Menurutku sih, tidak seperti itu.
Saat kami masih menjadi keluarga utuh, aku mengurus anak-anak, juga suami. Anak-anakku adalah nyawa bagiku. Sudah sepantasnya dijaga, dilindungi, dicintai. Lalu setelah suami meninggal, hal tersebut tidak akan pernah hilang. Malah semakin membahagiakan. Kok bisa? Karena semua itu menjadi utuh hakku, karena setiap detik selalu bersama.

Single mom si pengurus rumah
Bukan hanya single mom kalau tentang mengurus rumah.  Berat? Jalani saja dengan senyum suka cita.
Waktu anak-anak masih kecil, rumah berantakan mainan, baju kotor beseakan. Kuajari anak-anak membereskan kembali mainan setelah bermain. Baju kotor berantakan? Sediakan tempat yang mudah dijangkau oleh anak-anak untuk tempat baju kotor. Masih berantakan juga? Santai saja, aku dulu sambil berjalan ke dapur, mengambil baju-baju kotor yang berserakan sambil bernyanyi, dan olahraga. Mau tahu olahraganya gimana? Jongkok, ambil, jongkok, ambil. Lumayan perut jadi tidak membuncit. Malah sesudah anak-anak besar, perutku membuncit karena baju kotor sudah ada di tempatnya! O ow!
Aku nikmati saja  semuanya. rumah berantakan itu peranda anak-anak ada bersamaku. Satu saat nanti, mereka dewasa, hilang sudah semua ini, dan pasti merindukan keberantakan ini.

Single mom si pembuat keputusan
Merasa sendirian saat harus membuat keputusan? Tenang, tenang. Single mom adalah seorang yang hebat! Tidak bergantung pada orang lain, karena sudah terbiasa menghadapi semua sendiri.
Duh, kok susah, ya? Tenang lagi, tenang lagi. Ada Tuhan bersama single mom. Kita tidak sendiri. Lagi pula semua orang memang harus bisa memutuskan sesuatu yang terbaik untuk dirinya, untuk keluarganya. Bukan cuma single mom kok yang harus bisa menjadi pengambil keputusan. Siapa pun bisa memberi masukan sewaktu kita menghadapi satu hal. Tapi siapa pembuat keputusan? Kita sendiri.

Single mom si sahabat anak
Single mom berperan sebagai ibu dan bapak sekaligus? Oh, no! Single mom itu ibu-ibu, ya. Bukan bapak-bapak. Aku tidak mau membebani diri dengan begitu banyak peran. Tapi kan anak-anak butuh figur bapak! Biasanya sih itu yang sering aku dengar. Figur seorang bapak bisa diambil dari siapa saja, kok. Kakek, pakde, om, sahabat, teman, bahkan siapa pun itu, selama figur itu memang bisa dijadikan contoh seorang bapak.
Sejak dulu aku lebih memilih menjadi sahabat untuk tiga anakku. Berperan menjadi sahabat rasanya lebih membahagiakan. Bahagia bukan cuma untukku, tapi juga untuk 3 anakku. Mereka bisa bercerita apa pun tanpa takut dicela, dimarahi. Karena menempatkan diri sebagai sahabat, kami menjadi amat akrab, layaknya teman. Bersahabat tanpa menasehati

Tuh, sama aja  kan tugas single mom dengan yang berpasangan? Hanya beda sedikit karena single mom sendiri, dan semua diselesaikan sendiri.

Jadi single mom yang berbahagia? Yes, dong ah!


Salam penuh kasih,
Nitaninit Kasapink
Emaknya Ngka, Esa, Pink




Tuesday, 2 August 2016

Pakcoy Saus Tiram Tabur Keripik Otak-Otak

Di rumah, tiga kekasih, Ngka, Esa, Pink, suka makan sayuran. Emaknya juga suka, tapi lebih suka lagi kalau yang memasak tuh para kekasih. Hihi, dasar emak malas! Karena kebutuhan akan makan sayur, dan butuh masak cepat, ringkas, ga pakai lama, mudah, juga murah, pakcoy saus tiram jadi pilihan menu.
Beli pakcoy bisa di pasar, atau di supermarket. Pakcoy ada di mana-mana.

Yuk, yuk, masak!
Cuma butuh: pakcoy, cabai (boleh rawit merah, boleh juga cabai merah keriting, atau pakai paprika juga boleh), bawang bombay, bawang putih, saus tiram, garam, gula pasir, minyak goreng sedikit. Oh iya, jangan lupa otak-otak untuk taburan akhir. Ga pakai juga ga apa-apa.

-Siapkan pakcoy. Buang aja bagian bonggolnya, jangan dipotong-potong lagi


-Bawang bombay, iris-iris
-Bawang putih 1 siung aja cukup, kok. Keprek, gecek, geprek, apa deh istilahnya, judulnya tuh bawang putih ga usah dihaluskan
-Cabai diiris


-Saus tiram (ini sih beli kemasan, hihihi)

Lanjut yuk!
-Panaskan wajan, tuang minyak sedikit aja untuk menumis.
-Masukkan bawang bombay, bawang putih, cabai, tunggu hingga harum
-Masukkan pakcoy, aduk-aduk
-Tuang saus tiram, gula pasir (dicoba rasanya, ya. Biasanya sih kemasan gitu udah asin, jadi emak ini ga menggunakan garam lagi)
-Aduk, aduk, selesai!

Taburan keripik otak-otaknya gimana? Ih gampang, beli otak-otak, iris tipis, goreng kering. Jadi tuh keripik otak-otak untuk taburan!

Taraaaa tuh kan, mudah, kan?


By the way, kalau ga punya saus tiram, bisa kok diganti saus teriyaki. Kalau ga ada juga, bisa aja saus tiram diganti pakai kecap aja. Mau pakai udang, baso, atau sosis? Ide bagus juga.

Ga sulit, kan? Yuk masuk dapur!

Salam Manis,
Nitaninit Kasapink







Monday, 1 August 2016

Macaroni Schotel

Gajian tiba, aku dan Ngka pergi ke pasar dekat kantor. Biasa, belanja keperluan dapur memang lebih banyak gue beli di sana karena lebih murah.
Di kios pojok jual segala macam bahan kering lumayan komplit. Dari kerupuk, kacang, bihun, mie, banyak deh.

"Makaroni, Ma." Ujar Ngka.
Gue beli makaroni 1/2 kg.
"Mau bikin apa?"
"Schotel, Ma," jawab Ngka.
Berlanjut pergi ke bagian sayuran. Beli bawang bombai, wortel, bawang putih, susu, kornet, keju.
Yes, siap untuk memasak macaroni schotel.
Sampai di rumah, siap-siap di dapur.

-Isi panci untuk merebus macaroni, beri minyak agar ga menempel. Rebus hingga setengah matang. Setelah itu ditiriskan.
-Potong kotak bawang bombai, wortel
-Kocok telur, lalu makaroni yang sudah direbus, dicampur dalam kocokan telur
-Parut keju untuk taburan di atas
-Cincang bawang putih
Tapi ya seperti biasa, ga pakai ukuran. Kira-kira aja.

Nah, sekarang menyiapkan dandang untuk mengukus di atas kompor. Jangan lupa, tutupnya diberi serbet, supaya air jangan menetes ke makaroni yang sedang dikukus nanti.

Selesai? Lanjuut!
-Siapkan wajan
-Tumis bawang bombai, bawang putih, menggunakan mentega secukupnya, sampai layu
-Masukkan makaroni yang tadi sudah dicampur dalam kocokan telur
-Aduk sampai rata
-Masukkan kornet, aduk rata
-Tuang susu (plain) ke dalam wajan, aduk rata
-Beri garam, merica
-Coba dirasakan, sudah pas selera atau belum
-Aduk sampai susu meresap
-Matikan kompor

Yes, selesai! Dandang sudah panas? Yes, lanjut!

-Siapkan loyang yang akan digunakan. Kalau aku sih pakai loyang alumunium.
"Ngka, tolong diolesin mentega yang rata ya di loyangnya."
-Isi loyang dengan macaroni yang sudah selesai dimasak tadi, lalu beri toping parutan keju
-Kukus kurang lebih 20 menit

Selesai! Eh, udah oleh dimakan. Tapi aku masih lanjut. Setelah dikukus, dipanggang. Ga terlalu lama, sebentar aja.

Yes, yes, yes, sajikan dengan cocolan saos sambal.


Ga menghabiskan waktu lama untuk habisnya macaroni schotel ini.

Masak, yuk
Nitaninit Kasapink









Friday, 8 July 2016

MOS Spesial Untuk Pink

Iseng banget ya pakai ada MOS untuk Pink. Pink kan homeschooling, untuk apa MOS? Juga ngapain aja sih Pink di kegiatan MOS-nya yang diprakarsai emak dan dibantu oleh 2 kakak cowoknya, Ngka dan Esa?
MOS biasa diadakan oleh sekolah untuk menyambut siswa baru, sedangkan MOS ini diadakan agar Pink merasakan ada MOS, bersenang-senang aja, juga untuk melatih percaya diri, dan bisa sedikit cuek, ga pemalu. Kalau Pink ikut sekolah reguler, emaknya ga setuju dia ikutan MOS. Karena lebih ke arah bully membully, bentak-membentak, dan mengacu ke pengalaman 2 kakaknya sewaktu MOS, menghabiskan banyak biaya.
Ide MOS ini baru muncul saat Pink memosting satu meme tentang MOS, dan dikomentari olehnya gini: 'HS ga ada MOS'. Setelah melihat itu, dipikir-pikir, ga ada salahnya kan mengadakan MOS untuk Pink. MOS yang bertujuan untuk melatih percaya dirinya, dan juga kegiatan yang diberikan adalah kegiatan berguna. Bukan kegiatan yang jelas-jelas hanya untuk ngisengin.
Pada Ngka dan Esa, 2 kakak cowok Pink, emak ini mengutarakan niat mengadakan MOS. Bisa dipastikan mereka sorak-sorak bergembira! Bagaimana dengan Pink? Hihi, dengan sukacita menerima diadakan MOS spesial untuknya.
Ditentukan berapa hari MOS akan diadakan, siapa yang boleh memberi tugas, dan deadline mengerjakan tugas MOS ga mengikat. Jadi kalau Pink merasa lelah, ya tidur saja, MOS bisa dilanjut nanti. Semua tergantung kondisi Pink.
Berapa hari MOS? Seminggu! Dengan catatan, bisa lebih singkat. Lagi-lagi tergantung kondisi Pink.
Siapa yang boleh memberi tugas? Emak, Ngka, Esa. Tapi dengan persetujuan emak, karena emak adalah kepala sekolah di sini.
Tugas apa saja yang harus dikerjakan Pink? Ga banyak. Hari ini adalah hari pertama MOS-nya. Tugasnya memasak pokcoy saos tiram. Mulai dari mengiris bumbu menyiangi sayur, hingga selesai. Tujuannya supaya bisa memasak menu yang simpel. Bisa memasak itu bagus, dan penting. Ga perlu jadi koki terkenal, kok.
Cuma itu? Ga. Ada lagi. Tugas ke-2 di hari ini ga sulit, kok. Ga harus mengerjakan apa-apa. Hanya harus rela dan pede aja tampil beda. Kuku kaki dan kuku tangan diwarnai kuteks warna-warni. Ga perlu ke luar rumah, hanya diposting aja di sosial media. Pink pun sukses terbahak-bahak!
Apa kegiatan hari selanjutnya? Belum tahu. Itu nanti menyusul aja. Selalu ada ide mendadak  nanti dari emak dan 2 guru ganteng, Ngka dan Esa.
MOS spesial untuk Pink? Ini diadakan karena cinta kami untuknya.

Salam Senyum,
Nitaninit Kasapink