Monday, 13 March 2017

BAHAGIA ITU SEDERHANA DAN BELANJA KE WARUNG

“Ka, mau ga ke warung belanja?” Tanyaku pada Ngka kecil kelas 2 SD.

“Mau, Ma!”

“Belanja kayak Mama kalau ke supermarket tiap bulan itu loh. Mau, ga?”

“Ngka ga bisa, Ma.”

“Suka ikut Mama ke warung, sama ke supermarket, kan?”

“Iyah.” Dianggukannya kepala dengan keras.

“Berani ga, Ngka sekarang belanja sendiri, mau?”

“Bilangnya gimana?”

“Mama tulis surat untuk tantenya.”

“Mau.”

“Berani?”

“Berani.”

Ini pertama kali Ngka kukenalkan bagaimana berbelanja sendirian, membeli beberapa item kebutuhan rumah sehari-hari. Bukan belanja ke supermarket atau minimarket, tapi ke warung dekat rumah, warung Freddy (disebut begitu karena nama anak pemilik warung bernama Freddy). Pemilik warung pun sudah mengenal kami dengan baik.

Kutuliskan dafttar belanja yang harus dibeli, berikut jumlah uang yang dibawa Ngka, berikut pesan untuk pemilik.

Ci’, tolong anakku mau beli ini: Pasta gigi (merk tertulis), sabun (merk tertulis), shampo (merk tertulis), deterjen (merk tertulis). Harganya tolong ditulis, ya Ci’, juga jumlah kembaliannya. Belanjaannya taruh aja di ranselnya. Makasih ya Ci’.

“Nanti sampai di warung Freddy, kasih ini ke tantenya, ya. Uangnya juga.” Pesanku pada Ngka.

Riang sekali wajah Ngka saat kuberikan uang, kertas pesan untuk warung Freddy. Dan bertambah ceria waktu kubantu memakai ransel, kacamata hitam, dan topi.

“Ranselnya untuk apa, Ma?”

“Nanti belanjaannya taruuh di ransel aja. Jadi ga cape. Kalau bawa pakai tas plastik, pasti sakit tangannya bawa berat begitu.”

Ngka mengangguk.

“Hati-hati, ya.”

“Daah mama..!”

Ngka berangkat dengan langkah gagah. Tersenyum mengantar, lalu melihatnya semakin jauh.
Ga lama kemudian Ngka pulang. 

”Mamaaa..!” 

Aku yang sedang menjemur pakaian di teras menyambutnya dengan senyum.

“Mama, ini belanjaannya! Ngka dikasih permen dong. Tadi tantenya kasih ini.” Dijulurkannya lidah yang berisi permen.

“Waah, asyik banget! Eh, anak Mama hebat banget udah bisa belanja, loh!”

Kubantu melepas ransel, mengambil kertas berisi pesan, dan uang kembalian dari dalam tas. Daftar belanja sudah diisi harga, dan ditulis total pembelian, juga jumlah uang kembalian.
Ngka sibuk mengeluarkan isi ransel. Satu persatu barang belanjaan diletakkan di meja.

“Kata tantenya, Ngka pinter udah bantuin Mama, terus tantenya ngasih permen.”

“Tadi waktu sampai warung, Ngka bilang apa?”

“Tante, beli ini. Ini dari Mama. Ngka kasih surat sama uangnya. Tantenya ambilin belanjaan, habis itu bilang gini, ranselnya sini, diisi belanjaan, gitu Ma. Terus katanya, udah ya, hati-hati, salam untuk Mama.”

“Pinternya annak Mama. Yuk sekarang kita lihat belanja apa aja, habis uang berapa, kembali uangnya berapa.”

Ngka, dan aku pun sibuk menghitung total belanjaan, serta uang kembalian. Belajar berbelanja, belajar menghitung. Ngka senang, ga merasa sedang belajar, padahal sedang belajar berhitung, belajar berbelanja, juga belajar berani.

“Ma, besok Ngka belanja lagi, ya?”


Yes, berhasil! 

Tuesday, 17 January 2017

BAHAGIA ITU SEDERHANA DAN PEDE, PERCAYA DIRI

Anak bungsuku diserang virus ga pede. Virus ini lebih bahaya dibanding virus-virus lain yang bisa menyebabkan autoimunnya bangkit lagi. Ga pede menyebabkan anakku jadi lebih tertutup (introvert). Keceriaannya, hanya ada di rumah, hanya untuk kami, tapi ga untuk yang lain. Ga ada ceria saat berumpul dengan orang lain. Yng ada hanya seorang Pin yang duduk diam, pemalu. Padahal kutau pasti bahwa Pink bukan anak pemalu!

Aku selalu mengajak Pink pergi setiap ada acara setelah kutahu bahwa kondisi kesehatannya membaik. Di acara-acara tersebut Pink hanya diam. Ga bergerak! Laksana patung! Bersuara hanya jika kuajak bicara. Itu pun dengan suara lemah. Pink lenyap ditelan kesendiriannya di tengah keramaian. Betapa ini membuatku mulai pasang strategi untuk membangkitkan percaya dirinya.
Undangan cooking class kudapat dari sebuah merk elektronik terkenal. Diadakan di sebuah pusat perbelanjaan dekat rumah. Yuhuuu, siapa menolak? Aku langsung menjawab undangan tersebut, dengan syarat aku boleh membawa anakku Pink. Dan yuhu lagi, Pink diijinkan ikut! Siapa yang ga bersorak-sorak gembira kalau begini? Akuu yang sdang merancang strategi pembangunan percaya diri untuk Pink, rasanya ingin meloncat-loncat karena bahagia! Pink kuberitahu acara itu, dan kutambahkan,”Nanti kamu fotoin Mama, ya? Mama ikutan lomba memasaknya, loh!” Jawaban Pink ga terdengar di telingaku, tapi kulihat mulutnya membentuk kerucut. Manyun! Tapi aku cuma tertawa saja membalas ke-manyun-an mulutnya.

Yeah, tiba juga hari cooking class! Sejak awal Pink terlihat agak  malas-malasan. Sewaktu berangkat pun tak terdengar suaranya. Cuma ada manyun, dan manyun yang terlihat di wajahnya. Aku ga pedulikan itu. Biar saja manyun, itu kan mulutnya sendiri. Tekad cuma satu, membangun percaya dirinya.

Aku meminta Pink memotret saat lomba memasak. Langkahnya terlihat berat, malas! Wajahnya tetap saja manyun! Hanya saat kuminta seorang panitia memotret aku dan Pink saja wajahnya berubah tersenyum. Tapi sesudah itu, puuh, ga ada senyum sedikit pun!

“Pink, difoto tuh chefnya.” Kataku.

“Hmm.” Berat hati dia memotret sang chef.

Lomba memasak selesai, jelas dan pasti sekali aku ga menang! Ya iyalah, emak yang ini ga pintar memasak! Tujuanku bukan untuk lomba, tapi membangkitkan percaya diri Pink. Haha, ini alasan terbaikku. Pink menertawai saat tahu aku ga menang. Bahagia sekali melihat wajahnya ga diisi mulut manyun! Ketidak menangan adalah kebahagiaanku waktu itu.

Sebelum acara ditutup, seorang panitia meminta Pink maju. Kuis mudah harus dijawab Pink. Tapi Pink ga beranjak sama sekali dari tempat duduknya! Menggeleng dengan keras! 

Aku berkata padanya,”Ayo Nduk, maju.” 

Pink semakin melekat di kursi! Okelah, aku ga memaksanya.

Acara selesai, kuajak Pink berkeiling pusat perbelanjaan itu. Sambil santai aku berkata padanya,”Kalau tadi maju, kamu bisa beli ini itu, itu, dan itu tuh! Kan kalau tadi maju, menjawab kuis, dapat voucher.” Aku berpura-pura ga melihat raut wajahnya yang terlihat hampir menangis. “Nduk, kalau kamu masih bersikap kayak begini, ga merasa percaya diri, Mama ga akan ajak kamu kemana pun kalau Mama ada acara. Mama ga mau bikin kamu stress karena harus sedikit tampil ga mempedulikan keberadaan orang lain. Mama pergi sendiri aja. Ga percaya diri itu bikin ga maju, loh. Tadi ga maju juga karena ga percaya diri. Kamu kan cantik, pintar, apa yang bikin ga percaya diri? Anak Mama hebat, masa ga percaya diri? Ga percaya diri tuh ga bersyukur ke Tuhan. Tuhan beri hal terindah untuk kita semua. Masih ga pede? Ya silakan. Tuhan pasti kecewa karena ternyata pemberianNYA ga bikin kamu bersyukur.” Pink hanya diam. Sesampai di rumah pun hanya diam.

Waktu berlalu, ada ajakan untuk ikut sebuah acara lagi. 

“Pink, mau ikut Mama ga? Mama ada acara nih.” 

Pink mengangguk. 

“Pede, ga?” Jawaban Pink,”Pede dong!”

Hari H tiba, di acara itu Pink terlihat menikmati. Memotret kegiatanku, bahkan memvideokan! Pink lincah bergerak. Ga disangka-sangka, dia ditunjuk oleh pembawa acara untuk maju menjawab kuis, Pink maju! Great! Dengan wajah ceria yang masih terlihat agak malu-malu, dia menjawab. 

Pulang ke rumah ada senyuman di wajah Pink, dan ada hadiah dalam tas, hasil menjawab kuis. Dan ada kebahagiaan berlimpah di hatiku.



Thursday, 12 January 2017

PAWON IBU SRI, Cita Rasa "Njawani Banget"

Gue, emak yang ga jago masak, tapi jago makan *lihatlah kebuncitanku!*, gue suka masakan Jawa. Masakan Jawa tuh unik dan syedap nikmat syalalala untuk lidah gue. Tapi susah ya dapat cita rasa Njawani Banget di sini. Selalu saja kecewa saat mencoba di sana dan di situ, yang katanya gembar-gembornya sih,"Masakan Jawa." Geregetan banget kan sewaktu berharap dapat cita rasa yang sesuai dengan keinginan, eh tahunya jauh banget dari rasa Njawani!

Sampai akhirnya seorang sahabat mengenalkan masakannya ke lidah gue. Yay, ini njawani banget! Gue makan sayur rebung urang pete, plus botok udang. Yummy! Ini rasa yang gue cari! Rasa yang "Njawani Banget"! Rasa ke-Jawa-an yang melekat di lidah membuat lupa bahwa gue tinggal jauh dari daerah Jawa.

Melihat penampakannya aja udah bikin ngeces, ngiler, apalah-apalah namanya. Apalagi saat makan! Wua, mantap!

"Sayur Rebung Urang" yang bikin gue lupa timbangan :D

"Botok Udang" yang bikin ketagihan!

Sayur rebung urangnya terasa gurih, udangnya ga 'sendirian', alias banyak udangnya di setiap porsinya. Dan yes, yes, yes, ada petainya! Ini yuhu cihui banget! Wanginya menggoda, dan saat masuk mulut, rasanya bikin merem melek.

Bagaimana dengan si Botok Udang? Kelapa parutnya lembut, bumbunya amat terasa di lidah, kemangi dan udangnya membuat gue ga ingin berhenti mengunyah.

Kemarin gue makan berempat. Gue, Ngka, Esa, Pink. Kami makan dengan semangat membara! Nah ini, ada satu hal yang bikin gue ga percaya pada penglihatan, saat Esa (anak nomor 2) ikutan makan. Hey, kan Esa ga suka banget sama udang dan petai! Tapi eladalah, dua masakan itu lahap disantapnya! Bisa terbayang kan hebohnya makan kemarin? Terbayang kan enaknya?

Dan heyhey, ternyata ada banyak pilihan menu! Dan semuanya benar-benar dengan cita rasa "Njawani Banget".
- Ayam Ungkep
- Ayam Bakar
- Ayam Goreng Serundeng
- Sambel Goreng
- Kering Tempe
- Tahu/ Tempe Bacem
- Sayur Rebung Urang
- Urap
- Perkedel Kentang
- Botok Tahu
- Botok Pindang
- Botok Petet (Pete Cina)
- Botok Udang

Ini masakannya siapa sih?










Minimum order 20 buah. Ga usah takut harga mahal. Harga terjangkau, rasa mewah yang "Njawani Banget".

Jadi, arisan bulan depan ga usah bingung mau menghidangkan apa. Pesan aja di:

PAWON IBU SRI
Sri Kusmiati
0815 951 8543
Menerima pesanan nasi kotak & tumpeng 
untuk berbagai acara dengan cita rasa "Njawani Banget"
Jl. AMD XII RT. 04 RW. 02 No. 39
Makasar
Jakarta Timur









Wednesday, 11 January 2017

Menikah (Lagi?)

Dalam beberapa hari ini gue mendapat pertanyaan,"Kapan akan menikah lagi?" Ufh, ini membuat gue sedikit nyengir, sedikit tertawa, dan banyak gedeg *hihi.

Kenapa sih pertanyaan itu selalu ada? Dikira enak ya mendapat pertanyaan seperti itu terus menerus? Trus gue harus menjawab terus menerus? *Mulai deh baper.

Sembilan tahun jadi single mom, kenapa kok ga menikah? Alasannya apa kok ga menikah lagi sampai sekarang?
Plis deh ya, gue ga harus menjawab itu semua, kan? Memangnya harus gue uraikan panjang, lebar, keliling, tentang ke-single-an ini?

Saat gue sendiri, itu bukan berarti gue sendirian. Ada tiga kekasih menemani gue. Ngka, Esa, Pink! Mereka setia mendampingi gue dalam setiap kejadian hidup. Dalam air mata, dalam senyum, mereka selalu ada. Tulus mendampingi.

Saat gue terlihat tanpa pasangan, sekitar (walau bisik-bisik) waspada, khawatir gue 'mengganggu' stabilitas rumah tangga mereka. Cape deh! Pengen banget tepak jidat tuh orang satu per satu!

Saat ada yang dekat dengan gue, sekitar (tetap bisik-bisik) menggosip, mengintip, ngapain aja tuh single mom di situ. Cape lagi, deh! Pengen banget tepak berulang-ulang jidat mereka ramai-ramai!

Dan setiap saat tetap ada pertanyaan,"Kapan menikah lagi? Ada niat menikah lagikah?" Lagi-lagi, cape deh.

Bersyukur gue bisa menjadi single mom dan bisa berkumpul dengan tiga kekasih, tanpa harus terpisah. Saling menguatkan, saling menenangkan, saling mengerti.

Hello semua, menikah bukan hal yang mudah. Bukan berarti sekali ketemu lelaki, langsung gue seret ajak menikah. Plis deh ya, justru karena gue single mom, banyak yang harus dipertimbangkan. Terutama mempertimbangkan tentang tiga kekasih.

Hello semua, menikah itu butuh dua orang, bukan cuma gue sendirian. Kalau sendirian tuh namanya bukanmenikah, tapi mencuci. Ya ga sih, ga perlu dua orang kalau nyuci, sih. Sendiri juga cukup. Tapi kalau menikah? Dua, dua! Dan berpasangan, laki-laki vs perempuan. Lah ini, gue sendirian, ya. Mana laki-lakinya? Haha, kan jadi aneh, kan. Gimana ga aneh, gue sendirian di pelaminan, dan cuma nama gue sendiri yang ada di undangan.

Hello, plis jangan suka menyanyakan hal ini ke siapa pun yang statusnya belum menikah (lagi). Karena terkadang rasanya ga enak.

Ini cuma sekadar uneg-uneg aja, sih. Kalau masih mau bertanya ke gue, ya silakan, paling gue jawab dengan sedikit senyum, sedikit tawa, dan banyak gedeg. Hihihi.

Salam Penuh Kasih,

Nitaninit Kasapink



Tuesday, 10 January 2017

KEDAI MAMPIR DOELOE, Pilihan Nongkrong Asyik Di Bekasi

Gaes, mau mengenalkan tempat nongkrong asyik di daerah Bekasi, nih. Malam Sabtu yang lalu, kami sekeluarga ke sana. Awalnya gue mendapat info dari seorang sahabat. Saat datang, gue lihat tempatnya memang keren. Tapi please deh, ini tempat nongkrong, makan, ga bisa percaya begitu aja kalau cuma melihat. Ya ga, sih?

Akhirnya triing, kami ke sana!

Wah, lahan parkirnya luas, jadi ga ribet parkir. Ada pilihan duduk di kursi, atau lesehan. Yuhuu, dengan riang gembira anak-anak gue melesehkan diri. Santai. Pepohonan hijau terlihat meneduhkan.

Lahan parkir luas!



Santai lesehan, gaes


Ternyata konsumen di sana ga cuma keluarga aja. Ada anak-anak muda (berasa banget gue sudah tua) yang seseruan ulang tahun, dan ada juga tuh yang terlihat serius, sepertinya sih bincang bisnis. Jadi terpikir mau ajak teman-teman ke sana, deh. Eh iya, ajak ibu-ibu arisan, ah. Kalau kocok arisan kan juga bisa nih di sini! Ah mak, keren! Di seberang gue, ada seorang yang membuka laptop, sibuk mengetik (pasti pakai fasilitas wifi gratisnya, nih). Anak-anak gue ngegames menggunakan fasilitas wifi gratis juga. "Hemat paket data, Ma," kata anak-anak sambil nyengir. Sedangkan gue menikmati hiburan music tv channel. Suasana ga sunyi senyap, tapi juga ga bising.

Waktu gue ke belakang mau cuci tangan di wastafel, ada beberapa orang sedang shalat Isya. Iya, yang mau menunaikan sholat ga perlu bingung, karena tempat ini memiliki mushola sendiri. Dan jelas terawat, bersih. Disediakan sajadah, dan perlengkapan sholat.

Oh iya, ada lagi nih yang penting banget, mengenai toilet. Bersih, gaes. Ada toilet duduk, dan ada toilet jongkok.

Pilihan menunya juga benar-benar komplit, loh. Ada mie goreng dengan banyak pilihan, kwetiaw dengan banyak pilihan, ayam dengan banyak pilihan, bebek dengan banyak pilihan, nasi goreng pun dengan banyak pilihan, ikan bawal, ikan nila, sup ikan nila, sayur ada beberapa menu, lauk, nasi. Ada menu menu paket nongkrong, Nasi Bebek. Bisa dilihat di foto bawah ini, deh. 
Menunya bukan cuma sekadar komplit, tapi rasanya memang mak nyus! 





Minumannya juga banyak pilihan. Selain jus, ada minuman kemasan, kopi, juga ada minuman tradisional, loh! Kunyit asem es, kunyit asem hangat, beras kencur, jahe susu panas, sakoteng, bandrek, bajigur! Suwegeer! Jarang-jarang loh ada menu pilihan minuman tradisional gini. 

Kalau waktu itu sih gue  memesan kopi hitam. Ada pilihan kopi yang lain, tapi mau gimana lagi ya, gue lebih suka kopi hitam pahit, dan yes, ada tuh di menu pilihan minuman. Selain itu memesan es teh tawar, es teh manis. Mau order minuman lagi, perut sudah kelabakan kenyang. Hahaha!



Ada lagi nih yang bikin tambah gereget. Ada sudut camilan zaman doeloe alias jadoel. Gue seneng banget tuh bisa menemukan lagi camilan waktu gue kecil!

Camilan kenangan jadoel


Baidewei, pasti ada pertanyaan,"Gimana dengan harga?" Ini gila, gila banget, harga di kisaran 20k itu untuk makanan yang nikmat, endes, ditambah tempat yang nyaman. Harga segitu tuh terjangkau banget! 

Penasaran ya, lokasinya gimana? Susah dijangkau atau ga? 
*Mudah dijangkau!

Tambah penasaran, ya? Di mana, di mana?
*Di sini, loh.

Kedai Mampir Doeloe
Jl. Pahlawan 27A
Duren Jaya
Bekasi Timur 17111

Segera ke sana, deh. Kedai Mampir Doeloe jadikan tempat tujuan, bukan sekadar mampir.

"Ma, malam Minggu besok ke sini lagi, ya?"

Dan jawaban gue adalah,"Kemooon, oke banget!"

Tahu ga, tempat ini akhirnya jadi pilihan favorit keluarga kami. 


Yuk mariii!







Tuesday, 3 January 2017

Hari Ini Tanpa Khawatir, Tanpa Cemas

Yes, selamat datang hari ini. Hari yang mungkin saja dikhawatirkan oleh kemarin. Ya, ada saja kekhawatiran tentang hari esok. Entah mengenai keuangan, hubungan dengan siapa-siapalah itu, atau bisa juga khawatir tentang anak.

Terkadang gue juga dihinggapi rasa khawatir. Dan tahu ga menyebabkan apa? Khawatir, cemas, trus stress deh. Ish, ga enak banget merasakan stress! Deg-degan, nangis ga jelas juntrungannya, dan jelas bikin pusing! Ga enak banget, ga nyaman banget.

Biasanya sih gue berusaha untuk menghilangkan khawatir dengan,"Ok, GUSTI, ini bagianMU." Hihi, kelihatannya curang ya, pas bagian yang stress-stress kasihkan aja ke GUSTI. Lah tapi bukankah sudah seharusnya begitu? Mengembalikan pada yang Empunya Rencana.

Trus sekarang gue ga punya khawatir sama sekali, gitu? Hihi, nop. Bukan begitu. Kan tadi gue bilang, berusaha. So, tetap sih sesekali muncul kekhawatiran. Tapi langsung aja gue 'gebrak' diri sendiri,"Bukan bagian lo, Nit! Itu bagianNYA."

Khawatir, cemas, bukan bagian gue, itu yang gue percaya, GUSTI memberi pertolongan di titik yang pas menurutNYA, memberikan yang dibutuhkan menurutNYA. See, menurutNYA loh ya, bukan menurut kita. Ya sih suka-suka beda antara pas menurut kita dan pas menurutNYA. Tapi gue percaya, GUSTI tahu yang terbaik.

Jujur sih awalnya gini, gue kan percaya bahwa GUSTI melindungi sebaik-baik perlindungan. Dan pernah di satu saat sekitar tahun 2007 - 2008, gue dihadapkan pada kasus: GUE BUNUH LO DAN TIGA ANAK LO!
Der! Gila, mampus, gue takut! Gue ga takut berhadapan dengan lelaki brutal dengan tinggi 180 cm. Gue ga takut harus berkelahi dengan lelaki yang jago taekwondo! Tapi gue takut, cemas, khawatir, meninggalkan anak-anak, tiga kekasih. Ya GUSTI, lindungi tiga kekasihku.

Saat itu gue ga menangis, tapi langsung cabut ke kantor polisi, bikin laporan bla bla bla. But you know apa yang terjadi? Orang itu masih sliweran di depan mata gue! GUSTI, apa-apaan ini?

Lalu gue mengurus pindah sekolah untuk tiga kekasih, sekaligus asrama. Karena gue pikir, pastilah aman. Ya dong aman, kan sewaktu gue bekerja (saat itu gue sudah menjadi singlemom), anak-anak ada di asrama. Lagipula, tempat baru jauh dari rumah, jauh dari sekolah asal. Beres, semua clear!

Hingga di malam hari gue berkata pada Sang Empunya Hidup, GUSTI,"GUSTI, aku ga mau tidur malam ini. Aku mau ngobrol denganMU." Yes, gue bergadang, sibuk bicara padaNYA. Menceritakan segala hal yang dihadapi, yang terjadi. Lalu ini yang terjadi. Gue menangis sejadi-jadinya! Kenapa? Karena saat gue sedang menceritakan kecemasan, kekhawatiran, ada jawaban yang menohok sekali,"Percaya padaKU, bukan percaya pada manusia. Kalau percaya padaKU, kenapa kamu masih saja takut?" Sumpah seperti ditampar!

Akhirnya anak-anak ga jadi pindah sekolah, ga jadi masuk asrama.

"Kamu takut ga dibunuh?"
Jawaban tiga kekasih yang saat itu masih kecil-kecil,"Ga!"

GUSTI, aku salah. Ampuni aku!
Yes, ga ada yang bisa membunuh gue, atau anak-anak gue, kalau GUSTI ga mengijinkan.

Sejak saat itu gue jadi malu kalau khawatir, cemas. Malu banget ke GUSTI. Setiap khawatir, cemas, buru-buru deh berdoa minta ampun. Krisis iman, itu menurut gue. Percaya bukan cuma di mulut, tapi dari hati.

Sampai saat ini gue masih tetap belajar untuk berusaha benar-benar, sungguh-sungguh, percaya dari hati, yang berarti membuang cemas dan khawatir.

Oh iya, tentang si orang tinggi gede itu yang mengancam membunuh gue dan anak-anak, akhirnya terkapar di jalanan depan rumahnya. Mau tahu kenapa? Gue ajak berkelahi, setelah itu dia menghilang. Ini cerita gue sesungguhnya, bukan fiksi.

Salam Penuh Kasih,
Nitaninit Kasapink









Thursday, 20 October 2016

Perempuan Di Depan Rumahmu

Namanya Geo. Gadis manis bermata sendu. Kamu mengenalnya? Dia selalu ada di depan rumahmu, sendiri tanpa teman.
Aku pernah berbincang sekali. Dia bercerita tentang keluarganya yang menghilang entah kemana! Cerita berbalut rindu.
"Lalu dengan siapa kamu sekarang?" Tanyaku.
"Aku sendiri."
"Kamu tak mengenal siapa pun di sini?"
Menggeleng lemah tanpa daya, disapunya dahi yang tertutup tanah.
Namanya Geo, kemarin kulihat mengejar kucing berlarian kucing- kucing ketakutan! Persis di depan rumahmu. Masak kamu tidak mengenalnya?
Baju yang dipakai masih sama. Polkadot pink, mungkin itu baju favoritnya.
Katanya sudah setahun, di depan rumahmu, dibawah pohon jambu. Setiap malam dia bermain di depan rumahmu. Bernyanyi-nyanyi sendiri, tertawa-tawa, terkadang menangis pilu.
Namanya Geo. Masa kamu tidak tahu?

Nitaninit Kasapink, 20 Oktober 2016

Thursday, 1 September 2016

Bahagia Itu Sederhana Dan MONYET!

“Monyet!” 

Marah mendengar teriakan penuh amarah, atau ejekan itu? Kenapa marah? Karena monyet jelek? Wah, kalau aku yang diteriaki atau diejek dengan kata monyet, aku sih gak marah. Karena menurutku itu ejekan untuk monyet, bukan ejekan untukku. Kok ejekan untuk monyet? Ya iya dong, ejekan untuk monyet, karena mengandung maksud wajah yang jelek. Padahal monyet bukan jelek, loh. Monyet kan bukan manusia, jadi ya gak bisa distandard-kan dengan manusia. Jadi, ya gak jelek, dong. Monyet kan standard wajahnya memang seperti itu.

Masih marah diteriaki, atau diejek dengan kata,”Monyet!”? Wah, rugi banget kalau marah. Monyet itu lincah, pandai memanjat, lucu. Ada yang salah dengan monyet? Gak ada, kan?
Sewaktu anak-anakku masih kecil, aku mengajarkan mereka untuk melihat segala sesuatu dari sudut positif. Monyet bukan negatif. Monyet hewan yang positif. Lihat dari sudut positif, bukan dari sudut negatif, bukan dari fisik.

“Sayang, lihat tuh monyetnya lucu di atas pohon. Loncat dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Tuh ayun-ayunan di pohon!” 

Aku mengomentari monyet yang kami tonton bersama. Ngka melongo memandangi layar tv.

“Tuh lihat tuuuh, pinter banget, ya? Hebat, ya? Lucunya kalau monyet tertawa. Tuh lihat!” Ujarku lagi. Itu awal aku ‘mencuci otak’ anakku tentang monyet.

Lalu Ngka mulai tertawa-tawa melihat monyet di tv yang asyik berayun, dan berpindah dari pohon yang 1 ke pohon yang lain.

”Ma, pinter ya monyetnya! Ngka mau jadi monyet!”

Aku tertawa mendengar ucapannya, kemudian menjawab,”Ngka kan manusia, beda sama monyet. Monyet pinter memanjat, berayun di pohon. Ngka pinter membaca, menulis, menyanyi. Ya kan?”

“Tapi Ngka mau jadi monyet!”

“Monyet memang hebat, ya?”

Pandangan anakku terhadap monyet, positif, bagus. Berhasil!

Tahun berganti, Ngka memiliki 2 adik, Esa, dan Pink. Pada Esa, dan Pink, aku juga mengajarkan hal yang sama. Niatku 1, mengubah pandangan yang ada di masyarakat tentang kata ejekan,”Monyet!”

Kugendong Esa di tangan kanan, Pink di tangan kiri, dan Ngka berpegang erat di kakiku.

” Pegangan yang kenceng, ya, Mama ga megangin.”

Lalu mereka berpegang erat padaku, sambil tertawa-tawa. Aku berjalan di dalam rumah. Tiga anakku senang sekali, merasa diajak bermain-main. Padahal aku mempunyai niat tertentu. Mereka gak tau bahwa aku sedang mengajar mereka.

“Wah, jadi kayak monyet ya? Bisa bergelantungan! Hebat banget anak-anak Mama!” Teriakku dengan suara seakan-akan aku takjub pada mereka.

“Iya, Ma. Ngka monyet.”

“Esa yang monyet, Ma.”

“Pink yang monyet.”

Tiga anakku berebut menjadi monyet! Mau tau rasa apa yang ada dalam dadaku? Bahagia tak terkira!
Aneh mungkin ya, kok aku bahagia anakku monyet. Bahagia banget! Itu cuma sebuah cara agar mereka mau memandang segala sesuatu bukan dari sudut jelek, bukan dari sudut negatif. Aku berusaha agar anak-anakku bisa memandang segala sesuatu dari sudut lain. Berbeda dari kebanyakan orang, ga salah kok, asalkan kita memandangnya dari sudut yang benar.

Aku berharap Ngka, Esa, dan Pink, bisa bijak menghadapi segala sesuatu. Monyet cuma sebuah contoh kasus. Ketika semua orang memandang monyet sebagai hal yang jelek, kami memandang monyet sebagai hal yang pintar. Karena memang pada kenyataannya monyet itu pintar. Lagipula monyet juga gak salah apa-apa pada kita, kok kita jadikan tolok ukur sebagai ‘jelek’.

“Monyet!”

Masih marah? Kalau masih marah karena teriakan monyet yang ditujukan pada kita, dan marah karena diejek monyet, terus terang aku orang pertama yang tertawa terbahak-bahak. Kasihan, gak tau ya, monyet itu pintar? Kasihan, ga tau ya, monyet itu lucu?

Masih marah juga? Ah, kasihan.

Bagaimana bisa bahagia kalau hanya memandang segala sesuatu dari sudut negatifnya saja? Bagaimana bisa bahagia kalau gak mau membuka pandangan bahwa menghakimi si monyet yang gak ngerti apa-apa, dengan menjadikannya standard jelek itu adalah sebuah dosa.


Masih marah? Ah, lucunya!


Salam Bahagia,
Nitaninit Kasapink


Wednesday, 31 August 2016

Bahagia Itu Sederhana Dan Banjir!


Banjiiir! Banjiiiir! Banjir masuk rumah, anak-anakku, Ngka, Esa, Pink, masih kecil. Ngka kelas 1 SD, Esa belum sekolah, apalagi Pink, masih kecil. Air banjir yang berwarna cokelat seperti susu cokelat masuk ke dalam rumah. Ga tegalah emak yang satu ini membiarkan anak-anak terkena air banjir! Banjir ga tinggi sih masuk ke dalam rumah, ‘hanya’ sebatas betis. Tapi terbayang di otak ini setinggi apa untuk anak sekecil anak-anakku. Ga deh, jangan main air banjir, ya sayang.

Aku ajak tiga anakku duduk di tempat tidur. 

“Ayo Ngka, Esa, Pink, kita naik kapal! Kakinya jangan turun ke bawah! Kaki jangan kena air! Hati-hati, ada ikan paus! Hati-hati ada ikan hiuuuu! Ayo kita dayung, dayung, dayung! Lihaat, ada ikan duyuung di ujung sana!” Itu yang kukatakan pada Ngka, Esa, dan Pink. 

Kami tertawa-tawa di atas tempat tidur. 

“Mamaaaa, itu ikan hiu! Awas kaki!” Ngka berteriak. 

“Hiiii, ikan hiu!” Teriak Esa, dan Pink. 

Suasana gembira tercipta di kamar.

Saatnya makan siang, aku turun dari tempat tidur, tapi dengan pesan,”Kakimu jangan kena air! Kalau Mama kakinya besar! Ikan hiu takut sama Mama. Ayo kakinya jangan turun.” 

Lalu aku ke dapur, menyiapkan makan untuk tiga anakku yang imut-imut.

“Makan siap, komandan! Makan siap, kapten! Ayo kita makan!” 

Kuletakkan piring, lauk, dan nasi di atas tempat tidur. 

“Mama, kita piknik di kapal, ya?” Tanya Ngka. 

Aku tertawa mendengar pertanyaan Ngka, lalu menjawab,”Yup! Kita piknik di kapal, keliling duniaaa! Horrree, kita keliling duniaa!” Seruku sambil bertepuk tangan, yang diikuti teriakan serta tepuk tangan Ngka, Esa, dan Pink. “Horrree, horree! Pikniiik!”

Itu yang kulakukan saat banjir masuk ke dalam rumah saat mereka masih kecil. Mengajak mereka berimajinasi piknik di kapal, mengarungi laut, samudera, berkhayal ada ikan paus, ikan hiu, ikan duyung. Banjir ga menjadi hal buruk, tapi malah menjadi hiburan tersendiri, juga anak-anakku ga berkecipak-kecipuk di air banjir yang kotor!

Ada lagi cerita banjir. Hihi, daerah perumahan kami tinggal memang rajin didatangi banjir. Waktu itu Pink sudah TK A, Esa TK B, Ngka kelas 3 SD. Aku menjemput mereka pulang sekolah, tiga-tiganya sekaligus, naik motor. Jalanan banjir. Aku ga tau bahwa jalan yang kulewati itu ternyata air banjirnya tinggi sekali, hingga masuk ke knalpot. Motorku tewas dengan sukses! Tiga anak ada di atas motor, tiba-tiba aku dikejutkan suara teriakan,”Mamaaaaaa, Pink takuuuut! Takut ikan hiuuuu! Huwaaaa!”

Hahahaha, aku tertawa ngakak! Otomatis Pink terdiam mendengar tawaku yang keras, dan ga bisa berhenti. Sebagai catatan untuk diketahui, aku ga bisa tertawa pelan. Ga mantap rasanya kalau tertawa cuma hihi pelan. Maklum deh, aku bukan ibu-ibu yang manis.

“Mama kok malah ketawaaaa?” Tanya Pink.

Kujawab,”Ikan hiunya ga ada, pada main jauh. Bosan kan main di sini terus.” Uhk, bohong yang mujarab! Pink berhenti menangis.

Dengan Ngka, Esa, Pink, duduk manis di motor, kudorong motor. Tenang, aku kuat, kok. Ada tenaga Gatot Kaca bersarang di otot. Sumpah, beraaaat! Apalagi sewaktu melewati polisi tidur. 

Dalam hati aku berpikir,”Kalau udah selesai banjir, gue bongkar nih polisi tidur!” 

Segenap tenaga kukerahkan, sambil tetap mengajak Ngka, Esa, Pink, bernyanyi,”Berlabuh, berlabuh, buang lelah, dan sauh.”

Dorong mendorong motor usailah sudah. Sampai juga di rumah dengan selamat, sentosa, dan merdeka!


Aku ingin anak-anakku bisa menikmati sewaktu menghadapi hal yang ga banget dalam ukuran nyaman. Banjir memang ga nyaman, apalagi memiliki anak-anak yang masih kecil. Tapi tetap bisa jadi hal yang indah kalau berpikir bahwa ini indah. Aku rasa banjir ini pembelajaran untuk anak-anakku agar bisa santai menyikapi apa pun yang terjadi. Bisa menikmati apa pun yang ada. Bahagia memang sederhana, kan? Tapi tetap aku berharap, berdoa, jangan banjir lagi. Haha! 

Salam Senyum,
Nitaninit Kasapink

Bahagia Itu Sederhana Dan Kambing

Kambing! Hewan yang ingin kumiliki. Alasannya karena penasaran dengan bentuk kotorannya. Karena menurut teman-teman kecilku, kotoran kambing berbentuk bulat!

“Bap, memangnya tahi kambing itu bulat-bulat, ya?”

“Iya.”

“Kayak apa?”

“Ya bulat.”

“Ninit ga pernah lihat. Ninit pengen lihat.”

Hanya percakapan itu yang terjadi. Hingga satu sore saat bap pulang kerja.

“Niiiit, Niniiit!” Suara bap memanggil.

Aku tergopoh-gopoh menyambut bap. Tapi amat mengejutkan karena ada hadiah tak terbayangkan untukku!

“Kambiiing! Kambiiiing! Bap bawa kambiiing! Kambing siapa?” Aku berteriak-teriak kegirangan.

“Kambing untuk Ninit. Katanya pengen lihat tahi kambing.” Ujar bap.

Kambing! Bap membeli 2 ekor kambing untukku! Mereka diikat di halaman samping. Aku duduk ga jauh dari sana. Menunggu kambing mulas. Menunggu kambing buang air besar. Menunggu tahi kambing! Apa iya bulat-bulat seperti kata teman-teman, dan seperti kata bap? Lama menunggu, kambing ga mulas juga. Bosan, kutinggal saja mereka.

“Udah lihat?” Tanya bap.

“Belum.”

“Loh kok belum?”

“Kambingnya ga mulas.”
Bap tertawa, juga mama.

Aku santai di kamar, membaca majalah. Lalu tiba-tiba teringat kambing-kambing. Aku berlari ke halaman samping.

“Ada apa, Nit?” Tanya Mama.

“Tahi kambing!”

Aku ga tau ekspresi mama saat itu, karena aku konsentrasi pada kambing-kambing. Harus segera mulas! Kambing-kambing harus buang air besar! Tahi kambing! Kulihat kambing-kambing sedang santai duduk. Tapi kok ga ada tahinya. Huh!

“Kambiiing, ayo dong mulas! Cepetan buang air besar!” Aku membujuk kambing, tapi kambing ga menjawab.

Duduk dekat kambing ga nyaman menurutku. Jadi kutinggal lagi para kambing. Aku berlari lagi ke kamar. Huh, kambing payah! Masa sih buang air besar aja ga mau. Padahal kan aku cuma ingin lihat bentuk tahinya aja! Aku malas pergi melihat kambing-kambing itu lagi.

Pagi hari bap bertanya padaku,”Udah lihat kambingnya?”

“Belum. Kambing-kambingnya ga ada yang buang air besar. Nit kan cuma ingin lihat tahi kambing aja.”

“Tengok dulu sekarang. Siapa tau aja udah tuh. Lihat dulu gih!”

Enggan aku berjalan menuju halaman samping. Kambing-kambing asyik makan kangkung. Aku ga tau siapa yang memberi makan.

“Baaaaap...! Baaaap...!” Aku berteriak memanggil bap.

Bap tergesa ke arahku,”Kenapa Nit?”

“Kambingnyaaaa!” Aku menunjuk ke arah kambing.

“Kenapa?” Bap penasaran.

“Tahinya bulaaat! Ituuu banyaaak!”

Bap tertawa terbahak-bahak, sedangkan aku kegirangan melihat tumpukan tahi kambing! Ternyata tahi kambing memberi kebahagiaan besar untukku! Terimakasih, Bap.


Salam Senyum,
Nitaninit Kasapink