Skip to main content

Posts

error,"GUSTI, orang yang kucinta ada di sana..."

GUSTI, tadi aku pergi ke sebuah taman ada orang yang kucintai di sana... entah tersenyum, entah tertawa, tapi yang jelas aku tersenyum dan tertawa... aku bahagia melihatnya... walau ada sedikit airmata mengembang... GUSTI, aku duduk di sisinya memegangnya mengelusnya dan berkata tentang rindu dalam hati dia diam tak menjawab tak ada sepatah kata pun tapi aku bahagia datang padanya membagi senyum, tawa, dan bisa bercerita padanya tentang segala hal yang terlewatkan olehnya... GUSTI, aku harus kembali ke rumah ke pelukan anak-anakku, masuk dalam hidup yang nyata menyatukan rindu yang kami punya kerinduan yang tumpah dalam doa bersama GUSTI, orang yang kucinta ada di sana sendiri tanpa teman orang yang kucinta terbujur tanpa siapa-siapa beri indah damaiMU untuknya... tanah dan nisan jadi penunjuk tempat dan aku duduk, terduduk diam, terdiam... tadi... GUSTI, sampaikan rindu ini untuknya... ah Bapak, seluruh rindu tercipta karenamu... GUSTI, ah, amin... -error, masih juga diam...-

error,"Cerita yang belum usai" # 4

"Kamu? Pram? Sejak kapan kamu di sini?", suara lemahnya terdengar. Senyumnya terlihat. Wajahnya masih terlihat ayu, walau ada kerutan di wajahnya. Kepalanya bergerak perlahan, menoleh ke arahku, tersenyum. "Mbak, namanya siapa?", tanyanya dengan ramah. Aku tersenyum, dan menjawab,"Saya Err, Bu". Ah, senyum itu membuat mataku benar-benar akan menumpahkan bermiliar tetes airmata, senyum itu, senyum penuh cinta... "Gimana kondisimu hari ini?", suara laki-laki parau menahan getar terdengar bertanya pada perempuan ayu yang terbaring di tempat tidur. "Baik, Pram. Aku baik-baik saja, seperti yang kamu lihat, kondisiku baik-baik saja. Bagaimana kabar nyonya di rumah?" Tak terdengar jawaban, hening, tak ada suara menjawab... "Pram, are you ok?" Masih saja tak ada jawaban. Ah, dia sedang duduk menunduk, sedang berdoa untuk kekasih hatinya... "Diminum, mbak. Dari kantor? Pasti Pram sebenarnya sedang sibuk. Ah, Pram memang selalu be...

error,"Cerita yang belum usai" # 3

Ufh, hari ini jam serasa lambat bergerak. Pekerjaan masih saja bertumpuk, belum selesai. Mataku mulai tak kuat menahan kantuk. Tiba-tiba terdengar bunyi trrrrt, trrrrt, trrrrt... Telepon di mejaku berbunyi. "Ya, hallo", ucapku "Turun ke sini", suara itu ramah tapi tegas memerintah. Aku keluar ruangan, menuruni anak tangga perlahan menuju ruangan yang berada di depan. Mengetuk pintunya perlahan, lalu mendorong pintu dengan hati-hati. Senyum itu terlihat jelas. Raut wajahnya tampak cerah. "Saya mau melanjutkan cerita", ujarnya sambil menyorongkan piring kecil berisi lumpia lengkap dengan saus dan cabe rawit ke depanku. Lumayan sebagai pengganjal mata ni cabe rawit, pikirku. Lalu kuambil sepotong lumpia, dan muai menggigitnya. Dia tersenyum dan berkata,"Terlihat sekali kamu lelah. Banyak pekerjaan hari ini?". Aku terkejut dengan pertanyaannya, hingga cabe rawit tergigit habis! Oops, minum, aku harus minum. Pedas! Disodorkannya pula segelas air kema...

error,"Hari kebaya..."

Bangun pagi kemarin, gue ingat bahwa itu hari Senin, 21 April 2014, dan hari kartini... Tapi beneran deh, ga terbayang apa pun tentang hari kartini. Sampai akhirnya gue pergi ke pasar swalayan dekat rumah. Masih biasa aja sih sebenarnya, tapi sewaktu gue masuk, oops.., ada apakah ini? Apa gue salah masuk? Gue lihat perempuan-perempuan berkebaya dan berkonde ada di sini. Memangnya ada pernikahan di sini? Itu pertanyaan gue dalam hati, yang ga gue lontarkan pada siapa pun. Dan gue terus saja masuk ke dalam pasar swalayan itu. Pikir, pikir, dan pikir..., hmm..., hari kartini... Jadi teringat sewaktu masih jadi siswa SD sampai SMA, setiap tanggal 21 April, diharuskan mengenakan kebaya untuk siswa perempuan. Lomba-lomba yang ada tuh lomba ayu berkebaya, eh ngemeng-ngemeng, gue dulu menang terus loooh...! Hahaha, gue juga ga nyangka, ternyata bisa juga ya gue dulu tuh menang. Ada juga lomba merangkai bunga, lomba memasak, pokoknya judulnya kewanitaan. Aneh juga ya? Padahal digembar-gembork...

error,"Sarapan pagi? Luar biasa"

Setiap pagi di rumah gue ada kebiasaan sarapan. Hehe, biasa banget ya, bukan hal yang luar biasa deh kebiasaan sarapan pagi. Iya sih, emang, itu biasa banget. Tapi buat gue, sarapan itu luar biasa. Bayangkan, kalau ga ada yang bisa untuk dimakan saat pagi, ya ga bisa sarapan. Masak? Ga ada apa-apa di kulkas, kosong. Beli dong sarapannya. Lah ga punya duit, mau beli sarapan pakai apa? Dompet kosong, atm ga ada isinya. Jadi, sarapan itu adalah hal yang luar biasa untuk gue yang amat sangat biasa ini. Pas ada uang, pastinya di kulkas udah ada 'something' untuk dimasak. Entah itu telur, sayuran, atau apa deh lainnya. Masak pagi itu untuk sampai sore, sorenya ya gue masak lagi sepulang kerja. Biasanya sih gue masak yang simpel aja, tapi ada sayuran juga lauknya. Sayurnya yang simpel juga, tumis aja deh, hehe biar cepat matang, dan lauknya juga simpel, yang cepat matang juga. Bisa jadi biar cepat matang tuh masak tumis sayurannya dicampur sama lauknya :D, entah ayam, daging, tahu, ...

error,"Isi blog lagi..!"

Lama banget blog ini ga diusik sama yang punya. Dasar error, punya blog ga diurus, ga diisi dengan tulisan-tulisan yang memang seharusnya jadi warna blog. Siapa sih si error itu? Hehe, gue... :D Ya ampun, bener deh, susah banget untuk memulai sebuah tulisan lagi. Ya ini gegara imajinasi terlalu lama dikurung di otak yang belagu, sok sibuk, dan akhirnya mandek, macet, lumpuhlah si imajinasi. Sedih banget, sedih banget... :'(. Berusaha keras untuk membuat si imajinasi mau berlari-larian, dan itu butuh tenaga ekstra! Imajinasi mulai muncul, tapi bener-bener ga utuh, sepotong, dan berhenti sebelum setengah permainan. Draft demi draft bermunculan, dan selalu jadi draft. Membuka, dan membaca draft, dan tetap jadi draft. Sedih banget! Tapi gue ga menyerah, pantang mundur, kudu maju..., pantang ga maju... Akhirnya kemarin, hari Minggu, 19 April 2014, ada kumpul-kumpul blogger di Summarecon Bekasi, acara One day tour with blogger, mulai pukul 10.00 - 15.00. Teorinya sih memang sampai pukul...

error,"Cerita yang belum usai" # 2

Masih terbayang wajahnya yang menahan sebuah kerinduan selama berpuluh tahun pada wanita yang dicintainya. Ingin rasanya aku menghapus airmata yang menggenang di pelupuk matanya. Lelaki tua yang aku hormati layaknya seorang bapak. Ah, dia menangis dalam hatinya... "Sibukkah? Datanglah ke mari, sekarang", sebuah suara yang amat kukenal masuk dalam gendang telingaku. Suara yang lunak, tapi tegas. Aku bergegas berjalan keluar, berlari di tangga menuju lantai pertama, dan tergesa melangkah ke ruangan sederhana namun punya sentuhan indah. Perlahan kuketuk pintu, lalu membukanya juga dengan amat perlahan. Terlihat wajah dengan senyum, duduk di belakang meja besar, dengan setumpukan berkas yang seakan berteriak memohon padanya untuk dibubuhi tandatangan seorang pimpinan besar di perusahaan ini. Aku tersenyum, menganggguk, lalu menarik sebuah kursi di hadapanku, dan duduk dengan tenang sambil berkata,"Ya, Pak". Ada senyum lebar digambar di bibirnya. "Saya cuma ingin ...