Skip to main content

Posts

Tawa Riang Tepi Sawah

Sepulang dari kantor, gue ngobrol, bercanda dengan Ngka, Esa, dan Pink. Biasa, sharing cerita sehari yang dijalani. Sekitar tengah malam, gue pun tertidur. Tapi lalu gue terbangun karena suara berisik yang berasal dari depan rumah. Oh ya, depan rumah gue tuh sawah yang luas! Tetangga-tetangga sih penuh kiri dan kanan, karena lokasinya memang di perumahan. Di depan rumah gue persis, biasanya ramai ibu-ibu, anak-anak, malah ada bapak-bapak juga yang berkumpul di sana. Jadi, rumah gue selalu dalam keadaan aman, karena selalu dijaga oleh tetangga-tetangga yang biasa berkumpul di situ. Nah, karena suara berisik anak bermain itulah, gue pikir sudah siang, dan gue terlambat bangun. Hedeeh, padahal Esa sudah berpesan minta dibangunkan pukul 5.00 pagi,"Mau belajar, Ma." Terburu-buru gue bangun, melihat jam di dinding. Weh, lah kok baru pukul 3.00 pagi! Gue lihat luar, keadaan memang masih gelap. Tap[i suara anak yang riang bermain, jelas di telinga. Suara dua anak perempuan yang ri...

Oops, Asap!

Hari Minggu sore, seperti biasa, gue mengajak Esa, dan Pink, pergi jalan-jalan, untuk mengusir jenuh di rumah. Kalau gue sih, jelas pergi terus, kan  gue bekerja. Esa, pergi ke sekolah. Pink, dia homeschooling, dan otomatis lebih banyak berada di rumah, dibanding ada di luar rumah. Ngka, setiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu, kuliah. Jadi, kegiatan di hari Minggu bermaksud  mengajak Pink jalan-jalan, melihat suasana di luar rumah. Ngka sudah memberitahu gue, bahwa kuliah di hari Minggu dimulai sejak pagi, dan baru selesai malam. Malah sewaktu gue sedang di luar rumah, Ngka mengirim pesan BBM, bahwa di amengerjakan tugas liputan, lalu menginap di rumah temannya. Ga masalah untuk gue, cuma berpikir, di rumah kasihan Cinut, Cimut, dan Cilut, bertiga di rumah. Tiga kucing kecil yang masih manja. Sebenarnya kami punya 4 ekor kucing, tapi sudah sebulan ini hilang. Ufh, Cucing...  Malam hari setiba di rumah, rumah kontrakan kami yang mungil terlihat ga berubah, masih tetap mun...

Shopious Belanja Online Yang Membahagiakan

"Sandal siapa itu di teras?" tanya gue pada Esa, anak gue yang nomor 2. Dia tersenyum, lalu tertawa. Gue jadi tambah penasaran, sandal karet siapa yang tergeletak manis itu. Karena ga ada yang memiliki sandal seperti itu di rumah. Akhirnya Esa menjawab,"Sandal teman Ngka, Ma.". Weeh, Ngka meminjam sandal temannya? Kemudian Esa melanjutkan,"Sepatu Ngka rusak waktu dia ke kampus, Ma. Temannya meminjamkan sandal." Esa pun menunjukkan sepatu Ngka yang rusak berat. Di kepala gue terbayang harus pergi mengantar Ngka membeli sepatu. Haduh, mana sempat? Sebagai single mom yang bekerja, dan terkadang penuh kegiatan (cuit, cuit!), rasanya ga ada waktu deh untuk berkeliling mall cari sepatu yang cocok untuk Ngka. Lalu tuing! Teringatlah pada Shopious , website aggregator toko online instagram. Di sana kita bisa membeli barang-barang terbaik, dan terbaru dari seluruh toko online terpercaya yang ada di Indonesia! Banyak sih toko online saat ini, tapi karena banyak...

Tidak Ada Hal Yang Sia-Sia

Gue pernah cerita tentang anak tetangga yang sering dapat kekerasan dari ibunya, kan? Dan gue berusaha untuk menarik anak tersebut ke rumah, memberi pendampingan belajar menulis, mewarnai, dan juga gue mendongeng untuknya, dongeng yang berisi ajakan moral menjadi orang yang murah senyum, ceria, dan ga mudah marah. Sang ibu kerap cemberut ke gue, berteriak-teriak ke arah rumah gue, tapi gue sih cuek aja, gue rasa ga perlu membalas dengan perbuatan yang sama. Gue punya keinginan agar anak tetangga gue memiliki rasa kasih sayang, ga meniru ibunya, tapi juga ga marah, apalagi memendam dendam pada sang ibu. Haduh, seram kalau terjadi hal seperti itu! Gue hanya ingin memutus rantai kekerasan yang didapat olehnya. Jangan sampai terjadi karena dia mendapat kekerasan sewaktu kecil, lalu saat dewasa dan memiliki anak, dia pun melakukan hal yang sama seperti sang ibu padanya. Ga cuma gue, 3 anak gue pun ikut serta dalam pendampingan ini. Hari demi hari dilalui, bulan demi bulan pun lewatlah su...

error,"Monas (bagian III)".

Di depan terowongan bawah tanah yang merupakan pintu masuk menuju Tugu Monas, banyak penjual souvenir. Ada penjual topi, kaus, gantungan kunci, aksesoris, dan layang-layang. Aku menawarkan pada Pink, mungkin ada yang ingin dibelinya. Tapi ternyata Pink menolak. Dalam hati, gue berkata,"Pinteeerrnya anak gueee...! Ga borooosss...!", Hahaha! Masuk turun ke bawah, lewati anak tangga. Loket tiket ada 2, yang sebelah kiri untuk pengunjung yang masuk sampai ke puncak Monas, sedangkan yang satunya untuk pengunjung yang hanya sampai di pelatarannya saja. Gue memilih hanya sampai di pelatarannya saja, karena gue pikir, teman-teman Pedas-Penulis dan Sastra, berkumpul di sana. Tiketnya murah, Rp. 5.000,- untuk dewasa, dan Rp. 2.000,- untuk anak sekolah/anak-anak. Jadi untuk masuk ke sana, gue membayar tiket Rp. 7.000,-, karena gue berdua Pink, ditambah asuransi Rp. 1000,-. Masuk terus ke dalam lorong, lalu sampai di ujung, harus naik tangga lagi. Haduh, banyak anak tangga yang harus ...

error,"Monas (Bagian II)".

Sudah pagi! Sabtu, 10 Januari 2015, hari H untuk pergi ke Monas . Pukul 3.30 bangun dari tidur. Ngka, Esa, dan Pink, masih lelap. Gue pandangi tiga kekasih jiwa tercinta, mengucap syukur, diberi indahnya kebersamaan selama ini oleh GUSTI, dan berserah atas hidup juga mati kami, gue, dan 3 anak gue, Ngka, Esa, Pink. Ga lupa berdoa untuk perlindungan bagi mereka, walau gue juga sudah tahu, GUSTI selalu melindungi. Gue sudah ga khawatir lagi. Ajaib banget! Lalu mulai sibuk dengan laptop, browsing, juga on di medsos. Chatting dengan seorang sahabat mengenai acara pagi ini, acara di hari ini. Hingga ga terasa gue belum membangunkan Esa, yang hari Sabtu pun masuk sekolah. Tapi Esa ga terlambat berangkat sekolah, kok. Juga tetap sempat sarapan sebelum diantar oleh Ngka. Pink bangun, mandi, bersiap. Gue? Sudah siap, lah! Sekitar pukul 07.45, Pink, dan gue, diantar Ngka. Mampir dulu membeli konsumsi untuk Pink. Lalu pukul 08.00, sudah berada di dalam angkot. Duduk di depan. Seperti biasa, ma...

error,"Baju Dan Celana Yang Menciut".

Di satu pagi yang cerah,"Aargh!", gue berteriak sekeras-kerasnya. Ayam tetangga yang tidur pun bangun karena kaget! Oh noooo! Celana serta baju gue menciut! Panik! Coba baju yang ini, yang itu, celana ini, dan itu. Semua jadi menciut! Celana sempit, begitu pun baju! Teriak lagi,"Aaaaargh!!". Gue pandangi tumpukan baju dan celana yang menciut. Bagaimana mungkin ini terjadi? Ugh, patut direnungkan, kenapa baju dan celana menciut. Bahan baju dan bahan celana bukan model bahan yang bisa menciut. Bahan biasa, tapi kenapa jadi begini? Oh, kenapaaa? Lalu mulailah perenungan ini... Gue perempuan bekerja, yang mempunyai bos amat baik hati, suka membawa oleh-oleh makanan cemilan untuk dikeroyok bersama. Dan gue bukan orang yang suka menyakiti orang lain. Gue ga mau menyakiti hatinya dengan tidak memakan oleh-olehnya. Dibawakan, ya gue makan. begitu pula saat ada yang balik dari pulang kampung, dan menggeletakkan korban makanan untuk gue habiskan. Ga mungkin gue cuek aja. Bis...