Saturday, 14 December 2013

error,"Amarah"

Saat ini aku mau bercerita tentang kemarahan yang kemarin pagi aku lihat.

Aku melihat dari dekat matanya yang penuh dengan amarah, dan suaranya yang bergetar menahan emosi, juga terlihat dari tangannya yang bergetar karena luapan kemarahan yang ditahan, dan akhirnya dibantingnya mug berisi teh yang tadinya ada di atas meja kerjanya. Aku tidak bergeming, tetap memandangnya dengan penuh perhatian, sesekali mengangguk, tersenyum memandang wajahnya yang terlihat mengeras. Lalu aku pun bangkit, menyalaminya, dan berkata,"Terimakasih, aku keluar dulu, mau bereskan pecahan mug yang berserakan di lantai." Aku berjalan ke pantry, mengambil majun, lap tebal yang memang tersedia banyak di sana. Ternyata dia mengikutiku, mengambil sapu dan pengki. "Aku bertanggung jawab atas mug yang pecah, aku masih kuat membersihkannya sendiri." Ujarnya padaku. Aku tersenyum, dan mengatakan bahwa aku hanya ingin membantunya membereskan lantai ruangan yang penuh dengan air teh dan pecahan mug yang berserakkan.

Sebuah kemarahan kutemui di pagi hari, dan itu bukan kemarahan untukku, aku hanya sebagai tempat baginya mencurahkan cerita yang mengganjal di hatinya. Luapan emosinya benar-benar klimaks, setelah akhirnya dibantingnya mugnya sendiri. Seorang sahabat mengatakan padaku, jika itu terjadi pada dirinya, pasti dia akan balas menggebrak meja, dan balas meneriaki orang itu. Aku tersenyum, dan berkata,"kalau gue, rasanya mendengarkan kemarahan itu dan mencerna apa penyebab kemarahan dan melihat hasil dari meluapnya amarahnya itu adalah hal yang terpenting, dibanding membalas kemarahannya. Bagaimana bisa membalas kemarahan yang sebenarnya jelas bukan untuk gue?" Sewaktu aku mendengarkan kalimat kemarahannya, aku bertanya,"Marah pada saya?" dan aku mendapat jawaban,"Bukan, maaf, bukan marah padamu."

Setelah kejadian itu, semua berjalan biasa kembali. Ya, orang yang marah sangat mungkin melakukan kesalahan karena kemarahan menyebabkan kehilangan kemampuan pengendalian diri dan penilaian objektif. Kemarahan dapat memobilisasi kemampuan psikologis untuk tindakan korektif. Namun, kemarahan yang tak terkendali dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup pribadi dan sosial. Memanage kemarahan itu penting. Jangan sampai kemarahan yang meluap dari dalam diri itu mengganggu diri kita sendiri...

Mau marah? Boleh aja, asalkan dengan cara yang baik dan benar. Tapi apa ga lebih asik tersenyum??


Salam Senyum,
nita error


0 komentar:

Post a Comment