Wednesday, 31 August 2016

Bahagia Itu Sederhana Dan Banjir!


Banjiiir! Banjiiiir! Banjir masuk rumah, anak-anakku, Ngka, Esa, Pink, masih kecil. Ngka kelas 1 SD, Esa belum sekolah, apalagi Pink, masih kecil. Air banjir yang berwarna cokelat seperti susu cokelat masuk ke dalam rumah. Ga tegalah emak yang satu ini membiarkan anak-anak terkena air banjir! Banjir ga tinggi sih masuk ke dalam rumah, ‘hanya’ sebatas betis. Tapi terbayang di otak ini setinggi apa untuk anak sekecil anak-anakku. Ga deh, jangan main air banjir, ya sayang.

Aku ajak tiga anakku duduk di tempat tidur. 

“Ayo Ngka, Esa, Pink, kita naik kapal! Kakinya jangan turun ke bawah! Kaki jangan kena air! Hati-hati, ada ikan paus! Hati-hati ada ikan hiuuuu! Ayo kita dayung, dayung, dayung! Lihaat, ada ikan duyuung di ujung sana!” Itu yang kukatakan pada Ngka, Esa, dan Pink. 

Kami tertawa-tawa di atas tempat tidur. 

“Mamaaaa, itu ikan hiu! Awas kaki!” Ngka berteriak. 

“Hiiii, ikan hiu!” Teriak Esa, dan Pink. 

Suasana gembira tercipta di kamar.

Saatnya makan siang, aku turun dari tempat tidur, tapi dengan pesan,”Kakimu jangan kena air! Kalau Mama kakinya besar! Ikan hiu takut sama Mama. Ayo kakinya jangan turun.” 

Lalu aku ke dapur, menyiapkan makan untuk tiga anakku yang imut-imut.

“Makan siap, komandan! Makan siap, kapten! Ayo kita makan!” 

Kuletakkan piring, lauk, dan nasi di atas tempat tidur. 

“Mama, kita piknik di kapal, ya?” Tanya Ngka. 

Aku tertawa mendengar pertanyaan Ngka, lalu menjawab,”Yup! Kita piknik di kapal, keliling duniaaa! Horrree, kita keliling duniaa!” Seruku sambil bertepuk tangan, yang diikuti teriakan serta tepuk tangan Ngka, Esa, dan Pink. “Horrree, horree! Pikniiik!”

Itu yang kulakukan saat banjir masuk ke dalam rumah saat mereka masih kecil. Mengajak mereka berimajinasi piknik di kapal, mengarungi laut, samudera, berkhayal ada ikan paus, ikan hiu, ikan duyung. Banjir ga menjadi hal buruk, tapi malah menjadi hiburan tersendiri, juga anak-anakku ga berkecipak-kecipuk di air banjir yang kotor!

Ada lagi cerita banjir. Hihi, daerah perumahan kami tinggal memang rajin didatangi banjir. Waktu itu Pink sudah TK A, Esa TK B, Ngka kelas 3 SD. Aku menjemput mereka pulang sekolah, tiga-tiganya sekaligus, naik motor. Jalanan banjir. Aku ga tau bahwa jalan yang kulewati itu ternyata air banjirnya tinggi sekali, hingga masuk ke knalpot. Motorku tewas dengan sukses! Tiga anak ada di atas motor, tiba-tiba aku dikejutkan suara teriakan,”Mamaaaaaa, Pink takuuuut! Takut ikan hiuuuu! Huwaaaa!”

Hahahaha, aku tertawa ngakak! Otomatis Pink terdiam mendengar tawaku yang keras, dan ga bisa berhenti. Sebagai catatan untuk diketahui, aku ga bisa tertawa pelan. Ga mantap rasanya kalau tertawa cuma hihi pelan. Maklum deh, aku bukan ibu-ibu yang manis.

“Mama kok malah ketawaaaa?” Tanya Pink.

Kujawab,”Ikan hiunya ga ada, pada main jauh. Bosan kan main di sini terus.” Uhk, bohong yang mujarab! Pink berhenti menangis.

Dengan Ngka, Esa, Pink, duduk manis di motor, kudorong motor. Tenang, aku kuat, kok. Ada tenaga Gatot Kaca bersarang di otot. Sumpah, beraaaat! Apalagi sewaktu melewati polisi tidur. 

Dalam hati aku berpikir,”Kalau udah selesai banjir, gue bongkar nih polisi tidur!” 

Segenap tenaga kukerahkan, sambil tetap mengajak Ngka, Esa, Pink, bernyanyi,”Berlabuh, berlabuh, buang lelah, dan sauh.”

Dorong mendorong motor usailah sudah. Sampai juga di rumah dengan selamat, sentosa, dan merdeka!


Aku ingin anak-anakku bisa menikmati sewaktu menghadapi hal yang ga banget dalam ukuran nyaman. Banjir memang ga nyaman, apalagi memiliki anak-anak yang masih kecil. Tapi tetap bisa jadi hal yang indah kalau berpikir bahwa ini indah. Aku rasa banjir ini pembelajaran untuk anak-anakku agar bisa santai menyikapi apa pun yang terjadi. Bisa menikmati apa pun yang ada. Bahagia memang sederhana, kan? Tapi tetap aku berharap, berdoa, jangan banjir lagi. Haha! 

Salam Senyum,
Nitaninit Kasapink

4 comments:

  1. Hha judulnya kocak juga ya bahagia itu sederhana dan bajir :D tapi memang benar sih kadang di kala banjir anak-anak malah senang :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, iya, bahagia itu terjadi setiap saat, tinggal gimana kita memandang kejadian yang terjadi aja. Mau menganggap sebagai kebahagiaan, atau menganggap sebagai musibah?

      Delete
  2. Wkwkwkw bayangin Pink, Esa dan Ngka main kapal-kapalan jd ketawaa sendiri mbaak. Anak kecil emang menyenangkan bangeett, sederhananya bahagiaa bisa merubah hal-hal gak menyenangkan seperti banjir jd super asik dan penuh tawa. hehehe. . superr mom banget mbak nita, saluuut :D Salam kenaal mbak yaa. .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal, Mbak :)
      Hihihi, anak-anak memang penuh keceriaan ya, Mbak. Sederhana berimajinasi, luas bahagia jadinya :D

      Delete