Monday, 22 August 2016

Single Mom Yang Bahagia

Namanya aja single, ya sendiri, tanpa pasangan. Tapi jangan lupa, she is a mom! Ada anak-anak terkasih bersama mereka. Single mom is a mom! Seorang ibu yang mengasihi anak-anaknya. Melakukan segala sesuatu untuk mereka. Berat? Nop! Dengan kasih, single mom menjalani hidup. Tidak ada yang berat, walau pun bukan hidup yang ringan. Tapi karena mengerjakannya dengan kasih, segala sesuatu yang dikerjakan jadi indah.

Apa aja sih yang katanya jadi tugas si single mom, dan yang katanya bikin berat si single mom? Dan kenapa si single mom kok ya tetap aja berbahagia walau katanya berat, ya? Ini pengalamanku sebagai single mom dan segala hal yang 'berat-berat' itu.

Single mom si pencari nafkah
Saat suami masih ada (suamiku meninggal karena kanker di tahun 2007), aku seorang ibu rumah tangga, bukan ibu bekerja. Pernah bekerja, tapi lal resign karena suami tidak mengizinkan bekerja. Setelah suami meninggal, otomatis harus mencari pekerjaan agar bisa mencukupi biaya kebutuhan kami. Sekolah, rumah, makan, dan semuanya.
Tapi bukankah sejak dulu banyak perempuan menjadi pencari nafkah? Bukan hanya single mom yang bekerja menjadi pencari nafkah. Yang memiliki pasangan pun bekerja, kok.
So, apakah setelah menjadi single mom, lalu mencari nafkah, aku merasa hal itu sebagai sesuatu yang berat? Jawabannya adalah bahagia, bukan berat . Karena yakin segala sesuatu jika dikerjakan dengan suka cita tidaklah berat.
Penghasilan kecil? Uang tidak mencukupi untuk biaya kebutuhan hidup? Ssshh, tenang aja, ada Tuhan yang Luar Biasa, Maha Kaya. Berusaha, berdoa. Tidak mungkin tidak dicukupi.
Masih belum cukup juga? Berusaha maksimal itu wajib, tapi ingat, Tuhan yang memutuskan segalanya. Rejeki tidak akan pernah salah alamat.

Single mom si pengurus anak
Waduh, memangnya yang bukan single mom tuh ga perlu mengurus anak, ya? Hanya single mom aja yang seharusnya mengurus anak? Menurutku sih, tidak seperti itu.
Saat kami masih menjadi keluarga utuh, aku mengurus anak-anak, juga suami. Anak-anakku adalah nyawa bagiku. Sudah sepantasnya dijaga, dilindungi, dicintai. Lalu setelah suami meninggal, hal tersebut tidak akan pernah hilang. Malah semakin membahagiakan. Kok bisa? Karena semua itu menjadi utuh hakku, karena setiap detik selalu bersama.

Single mom si pengurus rumah
Bukan hanya single mom kalau tentang mengurus rumah.  Berat? Jalani saja dengan senyum suka cita.
Waktu anak-anak masih kecil, rumah berantakan mainan, baju kotor beseakan. Kuajari anak-anak membereskan kembali mainan setelah bermain. Baju kotor berantakan? Sediakan tempat yang mudah dijangkau oleh anak-anak untuk tempat baju kotor. Masih berantakan juga? Santai saja, aku dulu sambil berjalan ke dapur, mengambil baju-baju kotor yang berserakan sambil bernyanyi, dan olahraga. Mau tahu olahraganya gimana? Jongkok, ambil, jongkok, ambil. Lumayan perut jadi tidak membuncit. Malah sesudah anak-anak besar, perutku membuncit karena baju kotor sudah ada di tempatnya! O ow!
Aku nikmati saja  semuanya. rumah berantakan itu peranda anak-anak ada bersamaku. Satu saat nanti, mereka dewasa, hilang sudah semua ini, dan pasti merindukan keberantakan ini.

Single mom si pembuat keputusan
Merasa sendirian saat harus membuat keputusan? Tenang, tenang. Single mom adalah seorang yang hebat! Tidak bergantung pada orang lain, karena sudah terbiasa menghadapi semua sendiri.
Duh, kok susah, ya? Tenang lagi, tenang lagi. Ada Tuhan bersama single mom. Kita tidak sendiri. Lagi pula semua orang memang harus bisa memutuskan sesuatu yang terbaik untuk dirinya, untuk keluarganya. Bukan cuma single mom kok yang harus bisa menjadi pengambil keputusan. Siapa pun bisa memberi masukan sewaktu kita menghadapi satu hal. Tapi siapa pembuat keputusan? Kita sendiri.

Single mom si sahabat anak
Single mom berperan sebagai ibu dan bapak sekaligus? Oh, no! Single mom itu ibu-ibu, ya. Bukan bapak-bapak. Aku tidak mau membebani diri dengan begitu banyak peran. Tapi kan anak-anak butuh figur bapak! Biasanya sih itu yang sering aku dengar. Figur seorang bapak bisa diambil dari siapa saja, kok. Kakek, pakde, om, sahabat, teman, bahkan siapa pun itu, selama figur itu memang bisa dijadikan contoh seorang bapak.
Sejak dulu aku lebih memilih menjadi sahabat untuk tiga anakku. Berperan menjadi sahabat rasanya lebih membahagiakan. Bahagia bukan cuma untukku, tapi juga untuk 3 anakku. Mereka bisa bercerita apa pun tanpa takut dicela, dimarahi. Karena menempatkan diri sebagai sahabat, kami menjadi amat akrab, layaknya teman. Bersahabat tanpa menasehati

Tuh, sama aja  kan tugas single mom dengan yang berpasangan? Hanya beda sedikit karena single mom sendiri, dan semua diselesaikan sendiri.

Jadi single mom yang berbahagia? Yes, dong ah!


Salam penuh kasih,
Nitaninit Kasapink
Emaknya Ngka, Esa, Pink




6 comments:

  1. Salut dengan single mom. Anak2 pasti sangat sayang dengan namanya ;-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ga harus jadi single mom pun, anak-anak seharusnya sayang mamanya, Mbak :D
      Terimakasih :)

      Delete
  2. Intinya adalah selalu bersyukur apapun kondisi dan keadaan kita ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, betul, Mbak. Itu yang bikin tetap bahagia.

      Delete
  3. Single mom si pencari nafkah maka dari itu single mom dapat di katakan lebih dari seorang pahlawan untuk anak-anaknya. Maka dari itu anak-anak sudah sepatutnya menyayangi orang tuanya apalagi single mom semacam ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seorang anak sudah sepatutnya menyayangi orang tuanya, loh. Tanpa harus jadi single mom dulu orang tuanya :D

      Delete