Skip to main content

error dan puisi,"Wayang-wayang Sang Dalang"

:GUSTI, aku menyerah kalah... 

aku duduk di sini tanpa bicara apa-apa
memandang panggung kosong
sedangkan pagelaran sudah dimulai
wayang itu ada dalam benakku 
kamu, aku, kita
entah berkisah tentang apa
rama shinta, hanoman, atau tentang punakawan
aku tak perduli lagi
bertempur sudah bukan waktuku...

kibaran bendera putihku 
di sudut hati, sudahkah kamu lihat? 
masih duduk di sini tanpa bergerak
membayangkan menonton wayang
dan menjadi wayang di pentas
aku bisu, aku tuli, dan aku buta
tapi aku bisa melihatmu!
aku bisa mendengarmu!
dan 
aku bisa melihatmu...
sayup-sayup
samar-samar
dan aku melenguh
aku kalah..

memanggilmu dalam hati yang kosong
kibaran bendera putih itu sebentar lagi berubah warna
sudah usang,lapuk didera air hujan 
lalu hanyut dibawa banjir
bendera kuning ada di tangan
haruskan kutancapkan perlambang duka di sini?
kematian seorang pecinta wayang
perlahan ditusuk belati cintanya sendiri

aku menyerah
aku kalah

bendera kuningku hampir berkibar
datang, beri aku sebuah kekuatan
jika dua bendera itu harus dibuang...

kutunggu 
di sini

di depan panggung kosong
pagelaran tanpa kisah berujung
tapi di sudut lain
Sang Dalang tersenyum
jemputlah aku
kita sambut senyumNYA berdua...

-error, dalam perjalanan wayang-




 

Comments

Popular posts from this blog

Prediksi Jitu, Nomor Jitu, Akibatnya juga Jitu

Sebenarnya ini sebuah cerita dari pengalaman seorang teman beberapa tahun yang lalu. Judi, ya mengenai judi. Temanku itu bukan seorang kaya harta, tapi juga bukan seorang yang berkekurangan menurutku, karena tetap saja masih ada orang yang jauh lebih berkekurangan dibanding dia. Empat orang anaknya bersekolah di sekolah swasta yang lumayan bergengsi di kota kami dulu. Tapi temanku itu tetap saja merasa 'miskin'. Selalu mengeluh,"Aku ga punya uang, penghasilan papanya anak-anak cuma berapa. Ga cukup untuk ini dan itu." Hampir setiap hari aku mendengar keluhannya, dan aku cuma tersenyum mendengarnya. Pernah aku menjawab,"Banyak yang jauh berkekurangan dibanding kamu". Dan itu mengundang airmatanya turun. Perumahan tempat kami tinggal memang terkenal 'langganan banjir', jadi pemilik rumah di sana berlomba-lomba menaikkan rumah posisi rumah lebih tinggi dari jalan, dan temanku berkeinginan meninggikan posisi rumahnya yang juga termasuk 'langganan ba...

error tentang,"Ga dibantu malah terbantu"

Ingat banget kejadian di bulan September 2007, itu barusan aja suami alias papa dari Ngka, Esa, Pink meninggal. Ga enak mendengarnya, cenderung menyebalkan, tapi justru ini yang membuat gue jadi punya semangat besar untuk bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk Ngka, Esa, Pink. Suami, Henk, meninggal di usia 39 tahun. Tepat seminggu sebelum ulang tahun gue yang ke 36 tahun. Ngka usia 11 tahun, Esa 8 tahun, Pink menjelang 7 tahun. Gue ibu rumah tangga, yang ga berpenghasilan. Gue ibu rumah tangga murni. Waktu itu diadakan acara selametan meninggalnya Henk. Hampir seluruh keluarga berkumpul di rumah kami. Berdoa untuk Henk. Sewaktu orang-orang sudah mulai berkumpul, ada seorang saudara dari Henk berkata begini,"Membantu satu kali itu ga apa-apa ya Nit. Tapi kalau membantu seterusnya ya ga lah". Diucap di depan semua orang yang akan berdoa. Gue kaget, terus terang kaget mendengar ini. Tapi gue bisa menetralisir hati, dan menjawab,"Oh, jangan dibantu, mas. Ga perl...

(2) Cerita Panjang: Err.

Selamat pagi, dunia! Aku pecinta malam, tapi hal yang paling membahagiakanku adalah saat meninggalkan malam yang kelam! Setiap pagi badan terasa amat letih karena sang malam memaksa pergi menuju dunia kelam tanpa bisa menolak. Malam adalah hal yang menyenangkan karena tidak mengusikku agar bergerak cepat, tidak membuatku tergesa-gesa. Tapi malam juga sekaligus menjadi waktu yang menakutkan bagiku. Malam yang memaksa untuk tidur. Padahal setiap aku mulai terlelap, jiwa disedot kuat hingga tenggelam ke kerak bumi terdalam! Bertemu dengan para makhluk aneh yang tak terlihat olehmu dan orang-orang lain. Mereka makhluk tanpa raga. "Err! Mandi!" Mama berteriak memanggil dan menyuruhku segera mandi. Pagi! Waktu yang kubenci dan sekaligus kutunggu. "Iya, Ma! Otewe kamar mandi!" "Jangan berteriak ke orang tua!" "Kalau aku berbisik, Mama tidak mendengarku!" Berlari menuju kamar mandi. Di sudut dapur kulihat wanita menunduk dengan rambut terg...