Skip to main content

(3) Err Dan Bless, Pelukan Dingin Yang Hangat

Ufh, ramai sekali pantai di sini saat hari liburan. Anak-anak asyik berenang di pantai dengan ban renang yang beraneka bentuk dan warna. Jadi bagai pelangi yang jatuh berpencar di air laut. Orang dewasa asyik mendampingi anak-anak yang bermain pasir dan berenang.

Beberapa anak jongkok bersama membuat istana dari pasir. Tawa mereka riuh rendah. Di pasir tampak jejak-jejak kaki tercetak.

Hampir di semua tingkatan umur, laki-laki, perempuan, semua ada di sini. Tumpah ruah, menyemut! Dasar manusia!

Memandang aktifitas mereka yang terlihat suka ria, jadi teringat kenangan masa lalu saat masih bersama dengan orang-orang yang kukasihi.

"Err, jangan masuk ke tengah laut!" Teriak mama saat aku berlari menuju pantai.

Aku bermain air laut, mengejar ombak kecil, menyusuri garis pantai, mencari rumah kerang kosong, bermain pasir, duduk menyelonjorkan telanjang kakiku yang kecil, menyiram rambut dengan pasir layaknya sedang keramas, juga berpura-pura menjadi seekor ikan kecil yang berenang masuk ke dalam celah karang. Berlari menikmati sinar matahari yang menghanguskan kulit. 

Bercelana pendek, kaos tanpa lengan, asyik menikmati kesendirian yang ramai dalam jiwa. Ya, sendiri, tanpa kawan. Selalu menikmati kesendirian yang ada. Terkadang ada beberapa anak sebaya bergabung. Tapi aku lebih menyukai kesendirian. Mengherankan karena mereka menikmati keceriaan bersamaku, sedangkan aku menikmati kesendirian walau ada banyak tawa bersama mereka.

Aneh? Ya, aku memang anak kecil yang aneh.

Pantai adalah keindahan semesta yang luar biasa bagiku. Air berlimpah! Tidak perlu sebuah ember atau bak untuk menampungnya! Padahal airnya sungguh banyak! 

Pantai menawarkan ketenangan, kenyamanan. Menjanjikan ketenangan, suka cita dan kebahagiaan. Ada keheningan yang siap sedia mendekap, menjauhkan dari segala duka dan mengubah tangis menjadi senandung sunyi tapi menghanyutkan.

"Err, jangan makan es krim! Bajumu penuh noda nanti!"

Teriakan mama selalu itu-itu saja saat sedang menikmati indahnya laut! Bagaimana mungkin aku melepaskan es krim, sedangkan penjual itu selalu mengikutiku? Bagaimana mungkin kuhempaskan es krim dari genggaman sedangkan papa membelikanku? Seperti biasa, sepulang dari pantai, laut, dan kebahagiaan sehari itu, direnggut oleh omelan mama karena noda di bajuku. Dan seperti biasa, aku cuma diam memandang, tanpa suara. Bukankah lebih baik diam daripada bersuara? Nikmati saja hening yang kucipta sendiri.

"Laut? Kamu menyukai laut? Bodohnya!"

Suara kebodohan itu berusaha membodohiku. Hai, apa yang ada di pikirannya tentang laut? Hanya air? Tapi aku hanya memandangnya dengan dua mata tanpa berkedip. Tapi membiarkan lelaki yang menjadi orang terkasih menertawaiku.

"Angin pantainya membelai indah sekali! Kami menikmati pantai, pasir, laut, juga sinar matahari yang memanggang!"

Sebuah kemenangan bersorak di dalam hati. Hai, bukankah kamu tak menyukai laut, pantai, dan segala isinya? Bukankah menurutmu menyukai laut adalah kebodohan?

Aku memandangnya dalam-dalam. Disambanginya laut tanpa aku. Lelaki itu berusaha membuatku cemburu pada keberuntungannya bisa menikmati laut, padahal dia membencinya! 

Laut mengajakku bersuara tanpa kata. Menyihirku menjadi bidadari tercantik tanpa tanding! 

"Err, kamu melamun?"

Suara itu terdengar amat nyata! 

"Err, Err, Err!"

"Bless! Kamu!"

"Ya, kamu pikir siapa? Masa lalumu memanggilmu demikian dekatnya?"

Aku tertawa terbahak-bahak. Aneh juga bagaimana dia bisa tahu apa yang ada di pikiranku?

"Karena aku mengenalmu."

What? Dia menjawab tanya yang kuucap dalam hati? Hantu macam apa Bless ini?

"Err, Err, kamu pikir aku hantu macam apa? Aku hantu lelaki sebiji mata, Err!"

Aku terpana mendengar penjelasannya.

"Err, Err, sadar, Err. Jangan menakutiku dengan rongga mata kosongmu yang gelap!"

"Huh! Hantu aneh!" Seruku sambil meninju perlahan lengannya.

Bless menatapku. Aku pura-pura mengalihkan pandangan ke laut lepas. Melepaskan diri dari pandang lekatnya.

"Err. Kamu memandang apa, sih?"

Aku diam. Lebih baik tidak menjawab, daripada harus menatapnya lagi. 

"Kamu tidak suka ya ditemani aku?"

Aku diam. Duduk memeluk lutut, memandang ombak yang berdebur.

"Ya sudah, aku pergi saja kalau begitu. Aku kan tidak mau mengganggumu."

Bless berdiri perlahan. Aku masih diam.

"Err, kamu kenapa, sih?"

"Aku cuma sedang menikmati hening. Kamu berisik."

"Hahahaha! Bukankah kamu jauh lebih berisik dibanding aku? Hei, sadar, Err, sadar!"

Diguncangnya bahuku pelan.

"Bless, duduk sini. Aku ingin bercerita sesuatu."

Masih juga kumenatap laut.

"Bless, menurutmu apakah mereka merindukanku?"

"Siapa, Err?"

"Mereka."

"Iya, mereka. Siapa?"

"Mereka ya mereka."

"Perempuan! Maksudmu masa lalumu?"

"Ya."

"Ada apa dengan masa lalumu? Kamu merindukan masa lalumu?"

Aku menggeleng lemah. Rindu adalah rasa yang kuhindari. Tak ingin merasakan rindu bergelayut lalu akhirnya jatuh terkapar! Masa lalu! Rindu itu....

"Err," panggilnya.

"Aku pernah merindukan mereka semua, saat aku masih bersama mereka, Bless. Tapi aku salah. Rindu yang kumiliki tentang mereka, untuk mereka, cuma jadi sampah dalam hidup mereka. Aku cuma sampah, Bless."

Menunduk dalam-dalam, menundukkan kepala ke lutut yang ditekuk. Air mata mulai menetes.

"Kamu tahu, Bless, aku bukan siapa-siapa bagi mereka. Aku bukan hal penting. Cuma figuran yang lewat dan kena edit, habis!"

Bless diam, duduk di sisiku dengan posisi duduk yang sama.

"Aku tak ingin kembali ke masa lalu, Bless. Tak ingin mengingatnya. Tapi masa lalu tak pernah bisa dihapus."

Dilingkarkan lengannya ke bahuku.

"Sssh, jangan menangis."

"Bless, aku takut rasa rindu."

"Rindu pada siapa? Kamu rindu aku, Err?" Disenggolnya aku perlahan sambil tertawa lirih.

"Bukan," pungkasku.

"Sudahlah, tidak perlu berbohong, Err."

"Iiih, bukan."

"Iya."

"Bukan," aku menjawab dengan ketus.

"Oh, bukan aku. Kamu tidak pernah rindu aku, Err?"

Aku diam. Ombak, bantu aku! Jangan berdebur seirama jantungku! Angin, bantu aku! Jangan membelai rasa yang kumiliki!

"Err, siapa sih yang kamu rindu? Sombong banget ih, yang punya rindu. Ecieee, rinduuu."

"Huh, berisik."

"Err, aku mau cerita."

"Ya, ceritalah."

"Rasanya aku pernah punya rasa rindu di masa lalu. Tapi entah pada siapa. Waktu kamu bercerita tentang rindu, tiba-tiba aku merasa pernah mengenal rasa itu, pernah merasakannya di masa lalu. Tapi tidak bisa mengingat apa pun."

"Ah, kamu rindu aku, Bless!"

"Ya, iya, aku rindu kamu saja, Err."

"Bless, dulu aku mencintai mereka. Aku bergerak untuk mereka, berusaha apa pun untuk mereka juga."

"Cinta aku?"

"Bless, aku hidup untuk mereka dan untuk mereka."

"Sekarang untuk aku?" Matanya menatapku.

"Bless, kamu mendengarkanku atau tidak, sih?"

"Iya, iya. Teruskan saja ceritamu. Aku kan hanya bertanya, dan tidak kamu jawab."

"Bless, apakah kamu tahu, aku tak pernah mau bergantung pada siapa pun. Segala sesuatu kutangani sendiri. Itu karena kumencintai mereka."

"Tapi kan kamu tidak mencintaiku. Aku cemburu pada masa lalumu. Kenapa kamu tidak hidup di masa laluku saja, Err?"

"Aku ingin memeluk mereka, Bless. Aku pun ingin dipeluk oleh mereka. Tapi tidak pernah terjadi. Mereka tidak ingin bersamaku."

"Aku saja yang memelukmu."

Direngkuhnya aku dalam peluknya yang amat dingin. Meletakkan kepala di bahunya, seperti mimpi yang terwujud indah!

"Jangan menangis, Err. Ada aku di sini. Kamu boleh bercerita apa saja yang kamu mau padaku, boleh memelukku kapan pun kamu mau, boleh menyubitku, boleh melakukan apa pun terserah kamu. Aku ada di sini untukmu."

Pernahkah kamu mendengar pernyataan seperti ini dari orang terkasih padamu? Atau pernahkah kamu mengucapkan ini pada orang terkasihmu? Pernyataan tulus, bukan omong kosong yang cuma sekadar lip service.

Ini kisah kami. Aku, Err. Dan dia, Bless. Tanpa raga tapi berusaha mengasihi dan mengimplementasikannya dengan baik. Jujur pada rasa yang dimiliki.

Jangan bertanya apakah benar kami ada atau tidak. Tapi tanya saja pada hatimu, adakah kejujuran dan ketulusan pada orang terkasih? Selama jantungmu masih berdetak, dan ragamu masih hangat. Tidak seperti kami yang berada di dunia berbeda denganmu.

Sebelum terlambat, peluklah kasihmu erat-erat, seperti Bless memelukku saat ini. Pelukan dingin tapi menghangatkan jalan ceritaku di dunia yang berbeda denganmu.


Nitaninit Kasapink












Comments

  1. maksudnya untuk aku itu apa ya, sampai ku baca berkali kali, apa berharap gitu kah? tapi dianya masih memikirikan masa lalunya, makanya sampe dia bilang "apakah kamu mendengarkanku"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku itu Err. Err bicara pada Bless.
      Err sedang mengingat masa lalunya.

      Semoga setelah ini, bisa menangkap penyampaian maksud tulisanku :)
      Kalau masih ada yang belum jelas, boleh kok nanya lagi.

      Terima kasih sudah membaca, juga atas pertanyaannya.

      Salam Penuh Kasih :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Prediksi Jitu, Nomor Jitu, Akibatnya juga Jitu

Sebenarnya ini sebuah cerita dari pengalaman seorang teman beberapa tahun yang lalu. Judi, ya mengenai judi. Temanku itu bukan seorang kaya harta, tapi juga bukan seorang yang berkekurangan menurutku, karena tetap saja masih ada orang yang jauh lebih berkekurangan dibanding dia. Empat orang anaknya bersekolah di sekolah swasta yang lumayan bergengsi di kota kami dulu. Tapi temanku itu tetap saja merasa 'miskin'. Selalu mengeluh,"Aku ga punya uang, penghasilan papanya anak-anak cuma berapa. Ga cukup untuk ini dan itu." Hampir setiap hari aku mendengar keluhannya, dan aku cuma tersenyum mendengarnya. Pernah aku menjawab,"Banyak yang jauh berkekurangan dibanding kamu". Dan itu mengundang airmatanya turun. Perumahan tempat kami tinggal memang terkenal 'langganan banjir', jadi pemilik rumah di sana berlomba-lomba menaikkan rumah posisi rumah lebih tinggi dari jalan, dan temanku berkeinginan meninggikan posisi rumahnya yang juga termasuk 'langganan ba...

error tentang,"Ga dibantu malah terbantu"

Ingat banget kejadian di bulan September 2007, itu barusan aja suami alias papa dari Ngka, Esa, Pink meninggal. Ga enak mendengarnya, cenderung menyebalkan, tapi justru ini yang membuat gue jadi punya semangat besar untuk bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk Ngka, Esa, Pink. Suami, Henk, meninggal di usia 39 tahun. Tepat seminggu sebelum ulang tahun gue yang ke 36 tahun. Ngka usia 11 tahun, Esa 8 tahun, Pink menjelang 7 tahun. Gue ibu rumah tangga, yang ga berpenghasilan. Gue ibu rumah tangga murni. Waktu itu diadakan acara selametan meninggalnya Henk. Hampir seluruh keluarga berkumpul di rumah kami. Berdoa untuk Henk. Sewaktu orang-orang sudah mulai berkumpul, ada seorang saudara dari Henk berkata begini,"Membantu satu kali itu ga apa-apa ya Nit. Tapi kalau membantu seterusnya ya ga lah". Diucap di depan semua orang yang akan berdoa. Gue kaget, terus terang kaget mendengar ini. Tapi gue bisa menetralisir hati, dan menjawab,"Oh, jangan dibantu, mas. Ga perl...

(2) Cerita Panjang: Err.

Selamat pagi, dunia! Aku pecinta malam, tapi hal yang paling membahagiakanku adalah saat meninggalkan malam yang kelam! Setiap pagi badan terasa amat letih karena sang malam memaksa pergi menuju dunia kelam tanpa bisa menolak. Malam adalah hal yang menyenangkan karena tidak mengusikku agar bergerak cepat, tidak membuatku tergesa-gesa. Tapi malam juga sekaligus menjadi waktu yang menakutkan bagiku. Malam yang memaksa untuk tidur. Padahal setiap aku mulai terlelap, jiwa disedot kuat hingga tenggelam ke kerak bumi terdalam! Bertemu dengan para makhluk aneh yang tak terlihat olehmu dan orang-orang lain. Mereka makhluk tanpa raga. "Err! Mandi!" Mama berteriak memanggil dan menyuruhku segera mandi. Pagi! Waktu yang kubenci dan sekaligus kutunggu. "Iya, Ma! Otewe kamar mandi!" "Jangan berteriak ke orang tua!" "Kalau aku berbisik, Mama tidak mendengarku!" Berlari menuju kamar mandi. Di sudut dapur kulihat wanita menunduk dengan rambut terg...