Friday, 26 April 2013

error dan cerita Henk kepadamu...




Cerita yang gw tulis di sept 2012...




Cerita Henk Kepadamu

by Nitaninit Kasapink (Notes) on Saturday, September 22, 2012 at 9:50am

Aku ingin menghapus airmatanya yang mengalir basahi pipinya dan menghapus semua duka yang ada dalam hidupnya selama ini. Tapi aku cuma bisa memandanginya yang masih saja menangis dan bercerita padaku tentang apa saja yang dilaluinya bersama 3 anak kami dan tanpaku di sisi mereka. Kupandangi juga 3 buah hati kami yang sedang asik bercanda dan asik bercerita. Aku cuma bisa memandang dan tanpa berkata sepatah katapun. Mereka tak mendengarku.

Melayang ingatan ke masa lalu belasan tahun silam...dimana semua berlangsung awal. Aku dan dia bersama dalam sebuah kisah yang menurutnya amat indah dan membahagiakan, sedangkan aku merasa semua adalah hal yang biasa-biasa saja. Cintanya membuatku merasa diperhatikan, cintanya memperhatikan hidupku. Dan aku selalu biasa-biasa saja. Indah? Aku juga tidak tahu apakah itu indah menurutku. Bahagia? Aku juga tidak tahu apakah aku berbahagia selama bersamanya. Satu per satu anak kami lahir dan aku ada di sana, di tempat yang sama dengannya. Dan aku biasa-biasa saja. Anak-anak hannya membuat kebisingan menurutku, untunglah mereka tidak membisingkan hidupku dulu.

Anak-anak tumbuh dan berkembang. Dia pun tersenyum dan mencintai mereka, juga mencintaiku seperti apa yang selalu diucapkan dan dilakukannya selama ini padaku dan pada 3 anak kami. Sebuah cinta dan cinta dan selalu cinta kulihat di matanya. Tapi aku tak pernah mengetahui cintakah aku padanya. Aku tak pernah tahu, apakah cinta padanya selama hidupku. Yang kutahu, dia tak pernah perduli cinta atau tidak aku padanya. Dilakukannya apa yang baik untukku juga untuk 3 anak kami.

Setiap hari berlalu, dan aku tetap tak pernah tahu tentang cinta untuknya. Tidak setiap hari kami bertemu dan habiskan waktu bersama. Rindu selalu diucapkannya,dan aku juga tahu tentang kerinduannya padaku melalui tatapan matanya dan melalui perlakuannya padaku. tapi tetap aku tak bergeming, dan tetap tak tahu rindukah akau padanya, rindukah aku pada anak-anak kami yang penurut dan selalu saling menolong yang aku tahu dari cerita-ceritanya yang sering mengalir dari tulisan-tulisan yang diselipkannya di dompetku atau dimasukkannya ke dalam tas kerjaku, yang kubaca lalu kubuang ke tempat sampah dan pernah dia menemukan surat yang ditulisnya untukku ada di tempat sampah, dan diambilnya, lalu diberikannya kembali padaku, dan kubuang kembali.

Aku masih memandangnya tanpa berkedip. Aku merasakan cintanya yang masih mengalir untukku. Tapi aku masih juga tak tahu tentang cintakah aku padanya. Jika kusadari saat inipun mungkin sudah tak berguna lagi. Aku melihat kerinduannya untuk bertemu denganku, dan amat bersukacita ketika bermimpi tentangku yang tersenyum dan berbincang dengannya. Satu hal yang tak pernah kulakukan selama ini dalam hidupku.

Dia hapus airmatanya, dan tersenyum padaku. Aku tersenyum padanya. Betapa ingin memberikan kekuatan padanya bahwa dia tak sendiri dalam jalani hidupnya dan anak-anak. Tapi rasanya percuma saja, karena dia memang tak pernah sendiri. Dalam dirinya ada kekuatan besar dari 3 anak kami, dan kutahu itu adalah penyemangat hidupnya.

Hingga saat ini dia masih saja mencintaiku dan memikirkan tentang keberadaanku. Padahal aku tak pernah ada dalam hidupnya apalagi saat ini. Dijenguknya aku di pagi buta, dan dibersihkannya rumahku dari ilalang yang tumbuh liar. Aku cuma memandanginya tak bisa membantunya. Kulihat airmata mengalir deras, dan kudengar suaranya lirih namun tegas berkata tentang rindunya dan cintanya padaku, juga tentang cinta dan rindunya 3 anak kami padaku, dan juga permintaan maafnya karena baru bisa datang menjenggukku. Aku tak keluar dari rumah saat dia datang. Aku tetap diam dalam rumahku sendiri, tak berbuat apa-apa.

Dia istriku, yang menemaniku selama 16 tahun, dan dia memberiku anak-anak yang manis. Dia istriku, apakah kamu tahu itu? Aku akan datang padamu untuk bercerita tentang hari-hari yang ada di masa lalu menyangkut aku dan dia juga anak-anak kami. Tunggu aku malam ini...aku akan datang padamu. Jika tirai di jendelamu terkuak sendiri, itu tanda kedatanganku, dan akan kuucap..."Hai, aku Henk...suaminya selama 16 tahun, dan meninggal 5 tahun lalu karena kanker hati...dengarlah ceritaku tentang kami...tentang dia, aku,dan anak-anak kami dulu semasa aku masih hidup..."

-error...22sept12- MENJELANK 5 TAHUN WAFATNYA HENK...











2 comments:

  1. keren banget mbak.. menceritakannya dari sudut pandang suami Mbak yang sudah wafat.. saya selalu salut dengan single moms spt mbak.. dimana kekuatan terbesarnya dari anak2.. terus semangat mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mbak Marita Ningtyas atas supportnya :). Salam kenal :)

      Delete