"Aku tidak mau melihatmu dalam hidupku!"
Dengan tenangnya dia tetap saja tersenyum manis padaku. Manis? Hmm, mungkin saja itu memang senyum termanis yang dia miliki! Senyuman yang aneh.
"Pergilah. Aku tidak mau ada kamu di hari-hariku."
Senyumnya semakin manis! Ah, kenapa juga aku menyebutnya manis, padahal jelas kutahu itu bukan manis! Karena senyumnya lebih tepat disebut sebagai seringai.
"Dengarkan aku sebentar. Jangan berteriak. Suara dalam hatimu sudah bisa kudengar. Jangan mengusirku." Suaranya memohon, tapi seperti menghipnotis.
"Aku sudah tahu. Sejak dulu kumendengarkanmu, dan itu membuatku jadi manusia yang aneh!"
"Dengarkan aku."
"Ya."
"Biarkan kubersamamu. Aku tak kan mengganggumu. Lupakanlah yang sudah berlalu. Maafkan aku. Biarkan aku bersamamu, menjagamu, aku janji."
"Menjaga? Aku tak butuh penjagaanmu."
"Aku butuh teman, sahabat."
"Bukan aku. Aku tidak mau berteman, apalagi bersahabat denganmu."
"Hanya kamu. Tak ada seorang pun mau menjadi sahabatku!" Mukanya memerah, terlihat sedang memendam amarah yang amat dalam.
"Aku juga sama seperti yang lain, tak mau bersahabat denganmu."
"Kamu mau!"
"Tidak!"
"Cuma kamu yang melihat keberadaanku tanpa sorot mata takut."
"Lalu kamu pikir, aku mau berteman, bersahabat? Kamu salah!"
"Tolonglah aku. Aku bosan sendirian."
"Ada banyak temanmu."
"Mereka? Mereka siapa?"
"Mereka yang terus menerus berteriak, tertawa, dan berlagak seperti penguasa!"
"Lupakan mereka. Aku membutuhkanmu sebagai sahabat. Dengarkan ceritaku."
Akhirnya kumengalah, mendengar cerita yang menyedihkan, menyeramkan. Tawanya, tangisnya, menggema di telingaku.
"Err, bangunlah. Sadarlah, Err."
Mama! Itu suara mama! Tapi di manakah mama? Kusapu sekeliling, tak kutemukan mama. Hanya makhluk-makhluk dalam gelap yang berkeliaran.
"Err, sadarlah Err. Sudah 3 hari kamu tidur. Bangun, Err. Bangun, sadar!" Mama dan cemas suaranya masuk ke gendang telingaku.
Kupandang sosok gelap di hadapan. Senyumnya kian lebar, asyik bercerita dengn suaranya yang menggelegar.
"Tetaplah di sini, jangan pergi. Hanya kamu teman dan sahabatku," katanya.
Hingga saat ini aku masih di sini bersamanya, mendengarkan ceritanya yang dari waktu ke waktu selalu menyayat sekaligus menyeramkan. Cengkeraman pemilik senyum aneh ini memaksaku tetap bersamanya.
"Bangun, Err. Sudah sebulan kamu tidur."
Mama!
*Nitaninit Kasapink, 26 Desember 2015
Tolooooong
ReplyDeleteYang nolongin yang dalam gelap, malahan :D
Deleteoh..ternyata..., udah lama banget aku ga bikin fiksi...., keren mah..yg bisa nulis gini..
ReplyDeleteAku juga lama ga nulis, Mbak. Ini baru mulai lagi nulis :D
Delete