Wednesday, 16 August 2017

(21) Err Dan Bless, Aku Ada Karena Keberadaanmu

Dear Bless,
apakah kamu tahu bahwa aku mengasihimu setulus hati? Apakah kamu tahu aku mencintaimu sepenuh cinta yang kurasa? Apakah kamu tahu merindumu tanpa jeda adalah kegilaan yang memaksaku terus-menerus ingin bersamamu?

Semoga kamu tahu,
bahwa menjadi bagian dari detik milikmu adalah hal yang amat istimewa bagiku.
Bahwa berada dalam dekapanmu adalah keindahan luar biasa untukku.
Bahwa dalam genggamanmu aku merasa menjadi perempuan cantik.
Bahwa saat mendengar suaramu melambungkanku ke langit tanpa batas.
Bahwa melihatmu adalah magic untukku!
Bahwa denganmu aku bukan perempuan yang tersia-sia, apalagi disia-siakan.

Aku merasa ada karena keberadaanmu dalam gerakku.
Err


Kulipat secarik kertas sederhana berwarna hitam, lalu memasukannya ke dalam gunungan guguran bunga yang ada di taman pantai ini.

Perlahan bangkit bangun. Gaun hitamku berkibar terkena angin yang berhembus lembut. Rambutku pun dihela angin.

Pantai ini sepi.

Air laut tenang, tak ada ombak, hanya ada riak-riak kecil. Hamparan pasir ini menambah kenyamanan yang terasa.

Bless, lelaki besarku yang kukasihi sedang duduk di atas batu karang besar. Baju hitamnya terlihat amat pekat terkena sinar matahari. Celana panjang hitamnya pun amat kelam. Dibalut warna hitam, Bless tampak gagah di mataku.

Kubiarkan saja dia sendiri di sana.

Kupandang Bless dari belakang. Rasanya ingin berlari memeluknya dari belakang. Tapi tak kulakukan. Malah asyik memandangnya dari sini sambil duduk di di dedaunan yang menggunung di pasir.

Lalu kuteringat surat-surat yang dikirimkan olehnya di dedaunan.

Err, 
dedaunan bisa saja menguning lalu gugur ke bumi. Tapi tidak dengan aku. Aku tidak akan pernah menyerah dalam mencintaimu. Tak akan jatuh waktu mencintaimu. 
Bukankah kita bukan sedang jatuh cinta, Err? Kita sedang merasakan cinta yang melogika, dan mencintai dengan logika. 

Err,
seperti katamu, jatuh cinta itu menyakitkan! Jatuh adalah satu bentuk kecelakaan. Sedangkan kita merasakan cinta bukan karena kecelakaan! Tapi karena logika membantu kita agar bisa mencintai tanpa rasa sakit. Mencintai dengan rasa yang positif. 
Kita sedang mencintai dengan logika, melogikakan cinta. Kita sama-sama menyadari datangnya sang cinta. Cinta yang kita miliki bukan karena kecelakaan, bukan karena jatuh lalu cinta!

Aku percaya ketika cinta datang, dia menyebut namamu dan namaku di dalam rindunya,
Bless

Menurutku surat yang ditulisnya amat manis!

Lalu kutersenyum mengingat surat daun lainnya dari Bless wakt itu.

Err,
saat ombak berlari menuju pantai, dan ikan kecil masuk ke dalam celah karang, ada angin lembut menyapu pantai ini. Tapi tahukah kamu, sebentuk rindu melangkah bergegas menuju pintu kasih yang memang dibuka untuknya. Dan itu adalah aku, menuju ke arahmu!

Err,
dalam hening memang ada senyap. Tapi dalam suasana seperti apa pun, selalu saja ada hening yang memanggilmu dalam kasihku.

Di daun yang menguning ada sesurat penuh kasih darinya lagi.

Err,
ketika aku tak memiliki mata, kamu ada dalam penglihatanku. Dan saat sebiji matamu menjadi mataku, kamu ada dalam seluruh pandangku.

Err,
pernahkah kamu memanggil nama lain selain aku? Aku pernah memanggil nama lain yang bukan kamu. Tapi kutahu pasti bahwa hanya namamu yang akan selalu kupanggil, seperti kamu yang selalu memanggilku setiap waktu, tanpa jeda, dan tak akan jenuh. 

Kita selalu saling memanggil dalam setiap gerak., dengan seluruh kasih.

Bless, lelaki tanpa raga yang duduk di batu karang, melempar batu kecil ke laut. Airnya melompat seperti lumba-lumba cantik.

Bless, dia lelakiku yang lembut. Lelakiku yang pernah punya masa lalu dengan yang lain. Tapi dia adalah Bless, lelakiku di hari ini! Aku hanya ingin mencintainya dengan logika. Bukan dengan kecemburuan yang liar berlari, atau dengan keegoisan yang bisa menghanguskan kasih yang ada.

Bagaimana denganmu? Masih saling memusuhi?

Aku, Err. Dia, Bless. Kami sepasang tanpa raga. Kami hantu yang tak lagi hidup sepertimu. Kami ada di dunia mati yang amat berbeda dengan duniamu. Tapi kami menemukan cinta dan kasih malah setelah berada di sini, dalam mati.

Aku, Err. Dia, Bless. Tersenyum memandangmu dari sini.

Jika ada aliran angin dingin menerpamu, itu berarti kami ada di dekatmu. 

Ya, kami, Err dan Bless.


Nitaninit Kasapink






0 komentar:

Post a Comment