Skip to main content

(23) Err Dan Bless, Pantai Dan Laut Yang Berdarah

Pagi, siang, sore, dan malam, pantai ini tetaplah pantai yang indah menurutku. Sepi mau pun ramai, pantai ini tetaplah pantai yang memesona! Pantai ini adalah rumah bagiku.

Rumah ini memang memesona. Enggan pindah dari sini. Aku hanya akan mengisi dunia matiku di sini saja. Bersama Bless, tentunya.

Bless, lelaki besar dengan ukuran sepatu 45 adalah senyum termanisku! Setiap bersamanya senyumku tersungging di bibir. Bibir yang dingin, katanya padaku. Ya, sedingin pelukannya. Bersamanya selalu saja ada alasan untuk tertawa. Bergandengan tangannya membuatku merasa istimewa. Memeluknya menyamankanku. Tempat terindahku ada di dalam pelukannya yang menenangkan.

Damaiku mengalun saat nada-nada lagu didendangkannya untukku. Senyumnya yang sedikit melindungiku dari segala hal. Tawa dan seluruh candanya adalah penghibur yang luar biasa. Keseriusannya membawaku pada sebuah ruang bernama hening. Dan tangisnya adalah pernyataan bahwa dia pun sama sepertiku,membutuhkan kasih yang menyembuhkan luka.

Bless adalah lelaki sempurna untukku!

"Err, di biji yang kamu berikan untukku terasa ada banyak air mata menggenang. Ada banyak guratan luka di sini. Ada banyak kedukaan diiris."

Itu yang diucapkan oleh Bless padaku waktu itu. Pandangnya masuk menusuk ke dalam biji mataku. Memandang tanpa berkedip membuatku tak bisa mengelak.

"Haruskah kujelaskan?"

"Aku serius. Ada banyak gurat luka terluka kudapati di biji mata ini. Air mata pun amat mengenang, malah membanjir di dalamnya. namun tak dapat mengalir. Ada sebuah kekuatan yang menahannya untuk tetap terlihat kering. Entah apa."

Aku menatap sebiji mata Bless yang berasal dari rongga mataku.

"Ceritakan padaku. Jelaskan padaku. Aku tak ingin kamu menyimpan kesedihan. Aku tak ingin kamu bersedih. Aku tak ingin kamu menyimpan cerita penuh luka yang masih basah."

Lembut direngkuhnya aku dalam pelukan dingin.

"Kuras seluruh cerita sedihmu. Beri untukku, agar kita musnahkan bersama. Bukankah kamu pernah berkata bahwa tak akan pernah ada duka asal kita selalu bersama?"

Bless, kamu sealu saja tahu apa yang kurasakan. Padahal sudah kutahan dan kujaga seluruh kenang masa lalu yang luka.

"Jangan disimpan, Err. Musnahkan saja seluruh duka. Bukankah kita berdua saling membahagiakan?"

Berusaha menata hati, menetralisasi emosi, kututup mata.

"Ya, banyak luka yang masih menjadi luka, belum menyembuh, belum mengering. Luka yang masih terbuka walau sudah lama terjadi."

Gaun hitamku diterbangkan angin seperti hendak meninggalkanku untuk menari bersama kupu-kupu menuju angkasa yang luas!

"Err, ayo cerita. Kosongkan seluruh sakitmu. Buang semua kepahitan yang membelenggu. Musnahkan dengan cahaya kebahagiaan yang kita miliki."

Sebiji mata Bless mulai mengalirkan darah berwarna hitam. Sebiji mata yang dulu kuberikan padanya.

Perlahan kulihat tetes hitam kental keluar dari sebiji mata kiri Bless. Amat pelan mengalir, lebih pelan dibanding siput berjalan. Mengalir terus dan terus. Hitam, kental, dan berbau anyir.

Lalu darah hitam kental itu bagai ombak besar keluar dari biji matanya! Mengalir deras dan makin deras!

Tetiba aku tersentak karena menyadari bahwa darah hitam kental anyir yang mengalir itu adalah kenang terpendam yang sejak dulu kukubur dalam-dalam, dan sekarang mengalir dari sebiji mata yang mengisi rongga matanya! Itu kenang buruk masa laluku!

"Err, aku mendesak biji mataku agar mengeluarkan seluruh kisah pahitmu. Dan sekarang terasa akan melesat dari biji mata ini. Guratan-guratan pun terasa menggeliat di sana. Mereka bergerak, Err. Mereka menusuk, saling menusuk! Err, ini sungguh kesakitan yang amat sangat! Ini kepahitan yang amat pahit! Err, bagaimana mungkin kamu menyimpannya semasa lalumu?"

Aku terkesiap memandang wajah dan tubuhnya yang dibanjiri darah!

"Err, lepaskan semua rasamu. Jangan lagi dikekang, jangan pula dipenjarakan. Ini kisah yang membusuk dalam hidupmu dahulu, dan tetap dibawa hingga detik ini. Err, musnahkan semua ini. Bukankah kita bahagia saat bersama? Masa lalumu bukan penghenti bahagiamu."

Aku bagai dipaku di tempatku berdiri.

"Err, sebiji mata ini mengeluarkan bagian kenang kelammu. Kamu tahu kenapa saat ini dia keluar? Karena aku mencintaimu. Berusaha keras membahagiakanmu. Kenang hitammu menggelegak! Mereka tak ingin kamu bahagia utuh. Awalnya kamu memenjarakan, tapi akhirnya mereka yang membelenggumu!"

Aku diam melihat seluruh kejadian mengerikan yang ada di hadapanku. Terus mengalir, bahkan ada yang menggumpal, ada yang berbentuk bongkahan.

"Err, lepaskan kenangmu, Err. Agar tuntas semua kelam masa lalu. Biarkan kenang hanya menjadi cerita pembelajaran kita saja."

Kengerian mencengkeramku!

"Err, ayolah lepaskan."

Aku mengatupkan mata, berusaha mendorong seluruh kegelapan yang menyelimuti masa lalu. Kisah hitam kelam yang selama hidup menghantuiku, lalu setelah berada di dunia mati pun mengganggu.

"Ayo, Err. Jangan mau diam dalam kedukaan yang menyiksa. Kita bahagia, Err. Kita! Kamu dan aku."

Semakin kudorong keluar. Harus! Harus musnah dari kisahku! Keluarlah masa lalu yang mencekam jiwa, musnahlah kenang gelap yang menyelimuti!

Terasa ada yang mendesak menyesak di rongga mata! Terasa pedih, perih, ngilu!

"Buang Err, musnahkan kenangmu yang gelap!"

Lalu dari sebiji mataku keluarlah bongkahan-bongkahan darah hitam yang amat anyir! Menggelinding keluar. Dari rongga mata kosong pun meloncatlah darah hitam beku yang membentuk seperti bola bergerigi. Amat menyakitkan!

Seluruh lubang pori-pori meregang. Menggelincir pula darah hitam beku dari setiap pori-pori!

Lubang telinga, lubang hidung, seluruh lubang yang ada, semua mengeluarkan bongkahan besar, kecil, yang amat menyakitkan! Juga dari lubang akar rambut!

"Bless, ini menyakitkanku. Bless, tolong aku!"

Seluruh tubuh banjir darah hitam pekat dan amat anyir!

Air mata pun berupa darah hitam kental yang sama anyirnya!

"Bless, tolong aku! Bless, aku tidak sanggup!"

Aku memekik, menjerit.

"Teruskan, Err. Kita bisa lalui ini semua. Kamu harus menuntaskan pemusnahan kenang pahit yang membuatmu sakit. Ada aku, Err."

Bless memandangku sambil melengkungkan senyum di bibir.

Pantai bersimbah darah hitam pekat. Udara mengantar anyir yang amat menjijikkan! Laut berubah menjadi laut darah hitam kental!

Aku bisa, aku bisa menuntaskan seluruh kisah lama yang pahit dan menetap sebagai kepedihan yang menduka.

Aku harus menuntaskan pemusnahan cerita kelam yang disimpan dalam memori seumur hidup yang meracuni.

Aku ingin tenang menjalani kisah di duniaku sekarang, dengan cara memusnahkan kisah duka semasa berada di dunia hidup.

Aku mencintai Bless. Aku bahagia bersamanya. Musnahlah, musnahkan kenangan pahit.

"Bagaimana kita bisa bahagia dan damai jika masih menyimpan duka lara serta kepahitan dalam jiwa?"

Ya, Bless. Ya, aku bahagia bersamamu!

Aku, Err. Dia, Bless. Kami sepasang tanpa raga yang berbaju hitam, ada di sini saling mendukung, berusaha saling membahagiakan.

Aku, Err. Dia, Bless. Kami hantu pcinta hitam yang saling berbagi kasih. Ini salah satu cara kami mengasihi satu sama lain. Musnahkan seluruh cerita hidup yang dipenuhi duka, sakit hati, amarah, juga dendam kebencian. Karena bahagia akan utuh terasa jika seluruh hati berisi damai yang tenang.

Bagaimana denganmu, masihkah menyimpan kepahitan di sudut jiwa terdalam?

Jangan pertanyakan kami ada atau tidak. Kami melihatmu dari sini, dunia mati.


Nitaninit Kasapink



















Comments

  1. Sedih dan serem bayangin cerita yg ini mba... :( ..luka err saat hidup dulu bener2 luarbiasa yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Fann. Luka Err dari masa lalu semasa hidupnya memang benar-benar luar biasa menyakitkan. Makanya harus benar-benar dimusnahkan supaya bisa bahagia di masa sekarang yang dia jalani bersama Bless.

      Delete
  2. Susah mbak, bener2 susah menghapus masa lalu yg pahit, blm lagi masa skr seperti masih masa ujian. Baca kisah Err. dan Bless, mau rasanya Ada di dunia mereka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti kata Bless,"Bagaimana kita bisa bahagia dan damai jika masih menyimpan duka lara serta kepahitan dalam jiwa?"
      Kepahitan masa lalu bukan untuk dilupakan atau untuk dibiarkan hidup dan pahit. Tapi ampuni saja seluruh kisah pahit, dan berdamai. Kebahagiaan berawal dari mengampuni, dan berdamai.
      Dunia Err dan Bless adalah dunia kematian. Dunia hidup, berada di dalamnya, adalah anugerah terindah dari GUSTI.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Prediksi Jitu, Nomor Jitu, Akibatnya juga Jitu

Sebenarnya ini sebuah cerita dari pengalaman seorang teman beberapa tahun yang lalu. Judi, ya mengenai judi. Temanku itu bukan seorang kaya harta, tapi juga bukan seorang yang berkekurangan menurutku, karena tetap saja masih ada orang yang jauh lebih berkekurangan dibanding dia. Empat orang anaknya bersekolah di sekolah swasta yang lumayan bergengsi di kota kami dulu. Tapi temanku itu tetap saja merasa 'miskin'. Selalu mengeluh,"Aku ga punya uang, penghasilan papanya anak-anak cuma berapa. Ga cukup untuk ini dan itu." Hampir setiap hari aku mendengar keluhannya, dan aku cuma tersenyum mendengarnya. Pernah aku menjawab,"Banyak yang jauh berkekurangan dibanding kamu". Dan itu mengundang airmatanya turun. Perumahan tempat kami tinggal memang terkenal 'langganan banjir', jadi pemilik rumah di sana berlomba-lomba menaikkan rumah posisi rumah lebih tinggi dari jalan, dan temanku berkeinginan meninggikan posisi rumahnya yang juga termasuk 'langganan ba...

error tentang,"Ga dibantu malah terbantu"

Ingat banget kejadian di bulan September 2007, itu barusan aja suami alias papa dari Ngka, Esa, Pink meninggal. Ga enak mendengarnya, cenderung menyebalkan, tapi justru ini yang membuat gue jadi punya semangat besar untuk bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk Ngka, Esa, Pink. Suami, Henk, meninggal di usia 39 tahun. Tepat seminggu sebelum ulang tahun gue yang ke 36 tahun. Ngka usia 11 tahun, Esa 8 tahun, Pink menjelang 7 tahun. Gue ibu rumah tangga, yang ga berpenghasilan. Gue ibu rumah tangga murni. Waktu itu diadakan acara selametan meninggalnya Henk. Hampir seluruh keluarga berkumpul di rumah kami. Berdoa untuk Henk. Sewaktu orang-orang sudah mulai berkumpul, ada seorang saudara dari Henk berkata begini,"Membantu satu kali itu ga apa-apa ya Nit. Tapi kalau membantu seterusnya ya ga lah". Diucap di depan semua orang yang akan berdoa. Gue kaget, terus terang kaget mendengar ini. Tapi gue bisa menetralisir hati, dan menjawab,"Oh, jangan dibantu, mas. Ga perl...

(2) Cerita Panjang: Err.

Selamat pagi, dunia! Aku pecinta malam, tapi hal yang paling membahagiakanku adalah saat meninggalkan malam yang kelam! Setiap pagi badan terasa amat letih karena sang malam memaksa pergi menuju dunia kelam tanpa bisa menolak. Malam adalah hal yang menyenangkan karena tidak mengusikku agar bergerak cepat, tidak membuatku tergesa-gesa. Tapi malam juga sekaligus menjadi waktu yang menakutkan bagiku. Malam yang memaksa untuk tidur. Padahal setiap aku mulai terlelap, jiwa disedot kuat hingga tenggelam ke kerak bumi terdalam! Bertemu dengan para makhluk aneh yang tak terlihat olehmu dan orang-orang lain. Mereka makhluk tanpa raga. "Err! Mandi!" Mama berteriak memanggil dan menyuruhku segera mandi. Pagi! Waktu yang kubenci dan sekaligus kutunggu. "Iya, Ma! Otewe kamar mandi!" "Jangan berteriak ke orang tua!" "Kalau aku berbisik, Mama tidak mendengarku!" Berlari menuju kamar mandi. Di sudut dapur kulihat wanita menunduk dengan rambut terg...