Sunday, 12 May 2013

error,"Maaf Mas, aku mencintaimu..."#episode 5

Aku sedang asyik mengetik di lepi, saat kulihat tanda hijau ada di nama Mas yang berarti on chat di situs jejaring sosial yang aku dan Mas ikuti.


Salam ditulisnya, dan kujawab. Lalu percakapan berlangsung. Dari mulai bercerita tentang pekerjaan, tentang yang terjadi hari ini, dan semua canda yang ada. Tawa selalu ada diantara seriusnya pembicaraan yang berlangsung. Dan aku tercekat saat Mas menulis satu hal...

Mas : Ga tahu kenapa, hidung berdarah. Mimisan kayaknya nih


Aku : Mimisan?? Cape tuu.., panas dalem? wooooooooooiii...gimana         

        mimisannya??


Mas : Masih, banyak, ga tahu kenapa, Ni masih ngelap pakai sapu tangan. 

         Baju sampai kotor...


Aku : Ni dimana?


Mas : Di rumah


Rasa khawatir menjalar di seluruh inci sendiku. Airmataku mulai mengalir. "Ya GUSTI, kumohon sehatkan Mas, Ya GUSTI, tolong dengar doaku. Ya GUSTI, rasa ini benar-benar menyiksaku..."


Lalu aku mulai sibuk browsing segala hal tentang mimisan. Aku copas untuk Mas.


Mas : Gue ga kuat. Gue mau rebahan dulu di sofa. Bye dulu sebentar. Gue da      

         baca info mimisannya. Oke, posisi tidur dengan kepala gue tetap di 
         atas. Maafin gue. Gue ga kuat.


Airmata makin deras mengalir. GUSTI, apa yang bisa kuperbuat? GUSTI, di saat seseorang yang kucintai dalam keadaan sakit, aku tak bisa berbuat apa-apa. GUSTI, ini amat menyakitkan, sungguh amat menyakitkan... Hanya bisa diam tanpa bisa berbuat apa-apa, tanpa melihat apa yang terjadi sebenarnya di sana. GUSTI, aku ingin berteriak...

Airmata masih saja mengalir. kejadian bertahun lalu melintas tanpa bisa kucegah. Cerita masa lalu yang amat membekas, saat almarhum suamiku dalam keadaan sakit. Seluruh cerita berputar di otakku. Seluruh kisah berlarian menabrak logika. Aku tak ingin kehilangan Mas! Airmata membanjiri pipiku, dan aku mulai terisak. Padahal aku tak pernah terisak saat menangis. Jika menangis aku hanya diam dan airmata yang deras mengalir. Tapi kali ini aku terisak! Jangan larang aku menangis, kumohon. Ini amat menyedihkan. begitu berharganya Mas untuk hidupku. Jangan, jangan sakit. Segala macam kebingungan menderaku.


Aaarrgh...! Rasa ini amat menyiksa, tak menyenangkan. Airmata semakin deras mengalir. Semakin aku khawatir, semakin aku merasakan keterpurukkan. kesedihan ini tak bisa terhapus hanya dengan tissue sekotak! 


Aku hanya ingin berada di samping Mas, apalagi dalam keadaan sakit. Tapi siapa aku di kehidupannya? Aku hanya seorang yang menyayang dan mencintainya, tak lebih dari itu. Aku tak berhak atas Mas.


Aaargh..!! GUSTI, rencanaMU pasti indah. Tapi aku tak kuat dengan anugerah cinta yang demikian indahnya... Amat sulit menyikapi anugerah ini. Mas seorang laki-laki beristri, dan jelas tak bisa menikahiku. keadaan ini menyesakkan, dan aku tak bisa berbuat apa-apa... Aaargh!!


Tiba-tiba aku melihat tanda ol Mas menyala. Mas!!

Mas : Gue dah istirahat. Dah agak mendingan. Dah mampet. Tapi gue laper 
         banget! Pengen ngacak-ngacak lemari. Istri dan anak gue ga tahu gue 
         mimisan. Dah pada tidur semua. Lo sendiri gimana? Besok lo kerja, 
         kenapa ga bobo? Met bobo, jangan begadang. Ga bagus. Jaga kondisi 
         lo. Doa gue mnyertai lo. Terimakasih, sayang...


Aku : Jangan merokok, jangan ngopi. Please istirahat, Mas. Ya, aku kerja. Ga 
        apa-apa, aku berangkat siang kok. Paling jam 9 aku berangkat kerja. 
        Mas jangan angkat berat-berat dulu, istirahat. Aku mau Mas sehat. Ga 
        apa-apa aku dibilang cerewet.


Mas : Iya, gue istirahat. Tapi ada rapat teknik, ga bisa bolos. Dah ga apa-apa, gue da bisa nyengir lagi kok. Hati-hati, dan juga jaga kesehatan lo ya...

Ah, Mas! Masih bisa menasehatiku menjaga kesehatan, sedangkan Mas sendiri dalam keadaan sakit. Ah, Mas! Terbayang lagi kejadian bertahun silam saat kusakit parah dan suamiku sendiri tak perduli. GUSTI, apa rencanaMU di balik semua ini? Airmataku mengalir deras. Mas, aku mencintaimu...


Dan bincang-bincang ol berhenti. Aku matikan laptop. Dan merenung sendiri...

                                           
                                                    ***


Pagi datang, dan aku sibuk dengan memasak untuk 3 nyawa kecilku dan untuk mama juga bapak, sebelum aku berangkat kerja. kesibukkan yang amat kunikmati. Setelah selesai pekerjaan rumah, aku terbang ke kamar mandi. 

Waktu menunjukkan pukul 9.00, dan aku masih sibuk berdandan. Ponselku bernyanyi. Mas...

"Ya, Mas"

"Di mana?"

"Rumah, masih dandan. Aku kan perempuan", jawabku

"Haha, iya ya, lo cewek. Inget gue. Lo memang cewek"

"Iya. Tapi banyak orang yang berkata bahwa aku macho, tak seperti perempuan lainnya. Aku tak seperti mereka", ujarku sambil tertawa, lalu melanjutkan,"Mas sehat? Pusing? Dimana sekarang?"


"Gue di tol. Ga apa-apa, gue dah sehat. Ga ah, lo ga macho. Lo cewek. Lo baik banget ke gue. bener, lo baik banget"

Aku terdiam. Aku tak bicara apa-apa.

"Eh, halloo..."

"ya, Mas. Sedang pakai sepatu", jawabku

"Dah mau berangkat ya? Ya udah, hati-hati ya"

"Ya, Mas. Hati-hati..."

Dan aku menyambar tas lalu mengendarai motorku dengan kecepatan penuh. Ah, Mas, aku bahagia!

                                              ***


Di kantor dengan kesibukkan seperti biasanya aku bersenandung pelan.

"Mbak, happy banget deh hari ini", temanku berkata padaku

"Haha, kayak biasa, bahagia selalu", sahutku


"Ada yang beda nih", lanjut temanku

"Biasa aja...", aku menyahut sambil tetap mengetik


"Acara besok ikut,mbak?"


"Ya, semoga aku bisa ikut"
Ponselku bernyanyi. Ngka. Ada apa Ngka menelfonku? Tak biasanya Ngka menelfonku di ponsel saat jam kerja.

"Ya, Ngka, ada apa sayang?", tanyaku

"Pink panas! Panas, Ma! Gimana nih? Ngka harus gimana? Mama.., gimana nih??", suara Ngka putus asa terdengar.

"Tenang, sayang, tenang cintanya mama. kasih minum yang banyak. Jangan tinggal Pink, ok? Jaga terus. Mama pulang sekarang", jawabku

Ngka mematikan telfon. Aku menekan tuts-tuts ponsel, menelfon dokter yang biasa menangani Pink. 

"Ya, pagi. Aku mau mendaftar untuk dokter hari ini". Tapi belum sellesai aku bicara, sudah ada jawaban yang mengejutkan,

"Dokter tidak praktek hari ini. Tiga hari lagi baru buka praktek"

Lemas seluruh organ tubuhku... Airmata mengalir deras tanpa isak. Pink putriku sakit auto imun, dan dokter yang ahli menanganinya tidak praktek hari ini. kepalaku jatuh membentur meja kerjaku. Aku diam. Lalu terisak. Pink sakit, dan dokter tidak ada. Aku tidak bisa mempercayakan anakku pada sembarang dokter. Beberapa bulan lalu kubawa ke rumah sakit besar tapi tanpa kejelasan apapun, dan akhirnya pindah rumah sakit, barulah dokter di rumah sakit itu merujuk untuk dibawa ke dokter yang sekarang ini. Aku masih menangis. Temanku diam tak bicara apa-apa. Dia tahu kondisi Pink beberapa bulan ini. 


Ponselku bernyanyi lagi... Mas...

"Sibuk?"


"Biasa aja, Mas"

"Hei suara lo beda! Pilek? Jaga kesehatan lo"

"Ya, pilek", sambil mengusap airmata yang masih mengalir. Tapi akhirnya aku tak kuasa menyembunyikan rasa sedihku. "Pink panas lagi, dan dokter tutup, Mas", aku berkata sambil terisak


"Hah?? Terus gimana?", panik suara Mas terdengar

"Nanti aku hubungi Mas. Aku pusing" 

"Ya, ya. Ya, gue tutup dulu"


Aku masih menangis, dan tak bisa berucap apa-apa lagi. Hingga bosku datang dan temanku berkata pada bos bahwa aku harus pulang karena Pink sakit. Dan temanku bercerita panjang lebar tentang dokter yang tutup praktek hari ini. Ah teman, terimakasih... 


Bosku terkejut mendengar berita itu. Lalu dia memberitahuku untuk mencoba ke dokter anak langganan keluarganya, yang spesialis darah, sedangkan Pink seharusnya ke dokter anak spesialis auto imun. Tapi pikirku, ya sudahlah, dokter ini pasti bagus. Aku setuju, lalu bosku memberi alamat dokter tersebut.

Hari ini ada jadwal untuk menginterview dan memberi psikotest untuk calon karyawan baru. Bosku bertanya apavah aku sanggup padahal kondisi mentalku sedang rapuh. kujawab, aku bisa, dan setelah selesai aku baru akan pulang. Bosku terlihat khawatir. Tapi aku tersenyum dan meyakinkan aku bisa.

Saat mengetestpun tiba. Berjalan lancar. Saat test berlangsung aku menghubungi Mas, kukatakan aku akan bawa Pink ke dokter anak langganan keluarga bos. kusebutkan daerah tempat praktek dokter tersebut. Tak kusangka Mas berkata bahwa Mas akan datang menjemput dan mengantar ke dokter. Ah Mas, aku terharu...

Selesai test berlangsung, aku berpamitan pulang pada bosku dan teman-teman baikku di kantor. Mereka menangis. Aku diam tapi airmata mengalir deras...

                                          ***

Perjalanan pulang ke rumah diisi dengan airmata dan isak yang keras di motor sendirian. Ya GUSTI, sehat puihkan orang-orang terkasih,amin... Jalanan tak terlihat jelas karena terhalang airmata.

Akhirnya tiba juga di rumah. Tergesa aku masuk rumah. Pink tidur nyenyak, Ngka ada di samping Pink. Ah betapa manisnya persaudaraan ini ya Ngka...

"Pink da tidur dari tadi, ka?"

"Ya, ma", jawab Ngka


"Nanti mama mau bawa ke dokter"

"kasihan Pink ya ma", ucap Ngka dengan nada sedih

Aku tersenyum dan mengelus rambut Ngka, lalu mengambil ponsel dan mengabari Mas bahwa aku sudah tiba di rumah. Mas menjawab, Mas sebentar lagi akan berangkat menjemput aku dan Pink, dan mengantar ke dokter. Ah Mas, terimakasih...

                                          ***

Otak dan hati serasa kacau. Ah, mana tenangmu, tanyaku pada diri sendiri. Lalu kukeluarkan motor. Lebih baik aku keluar rumah sejenak, pikirku. Aku juga lapar.

Perlahan kukendarai motorku. Di ujung jalan kulihat mobil Mas sedang menuju arah rumahku. kuklakson motorku, dan mellambaikan tangan pada Mas. Lalu aku berbalik arah menuju rumah. 

"Mau kemana lo?", tanya Mas sesudah parkir di depan rumahku

"Mau keluar aja, pusing"

"Yuk gue antar"

Akupun masuk ke mobil Mas. Dan berkata bahwa aku apar tapi malas untuk makan. Mas memandangku sejenak, dan mengelus rambutku.

"Lo mau makan apa?"


"Entah"

"Hm, apa?"

"Pempek aja yuk", ajakku


"Yuk, apa aja asal perut lo ga kosong"

Di tempat pempek aku bisa makan dengan cepat. Aku memperhatikan Mas yang duduk di sampingku. Ah, Mas...

Selesai makan aku dan Mas kembali ke rumah. Pink sudah bangun, dan tersenyum melihatku dan Mas.

"Mau ke dokter ya Ma?"

"Ya, sayang. Ganti baju. Berangkat sekarang aja. Ya kan Mas?"


Mas mengangguk. Pink langsung masuk kamar,mengganti bajunya.

Siap berangkat!

                                            ****

Ternyata jauh juga tempat praktek dokter tersebut dari rumahku. Setelah tanya sana dan sini, tiba kami di sana. Ah Mas... terimakasih...

Di dokter ada seorang bapak yang mengira Mas dan aku adalah suami istri, dan bapak itu mengajak kami mengobrol panjang lebar. Ah Mas, ya jika saja... Tapi aku tak suka dengan berandai-andai...

Giliran Pink dipanggil dokter. Mas juga ikut masuk. Ah Mas... aku tak suka berandai-andai, tapi jika saja... Ah sudahlah, bathinku sendiri.

                                            ***

"Pink, mau apa?"

"Ga mau apa-apa, Om"


"Belum makan. Mau makan apa?"

"Apa aja, Om"

ku hanya diam mendengarkan percakapan mereka berdua. Aku menikmati perjalanan ini dengan segala rasa yang kupunya. Cinta ada di sini...

Memasuki kawasan dekat rumahku, Mas menghentikan mobil. Makan. Mas, Mas terllihat sayang pada Pink! Amat berbeda dengan almarhum suamiku, papa kandung Pink yang tak perduli akan anak-anaknya sendiri.

Di sana Mas mengajak Pink berbincang, bercanda. Aku melihat ada keakraban di mata anakku dan ada rasa sayang di sana, dan juga ada keakraban di mata Mas.

"Anak gue"

Itu yang dibisikkan Mas ke telingaku.

Ya GUSTI, dua orang yang bersamaku adalah bagian cerita cinta dalam hidupku. Adakah rencanaMu menyertakan kami dalam cinta yang hak, bahagia yang hak?

Ah Mas, aku semakin mencintaimu setiap detik bertambah menjadi besar dan membesar... Ah Mas, maaf aku mencintaimu... Maaf, kami mencintaimu...

                              

                            ***************************



error




















  

2 comments:

  1. "Istri dan anak gue ga tahu gue mimisan. Dah pada tidur semua"

    Wah, excited banget pas bagian itu, ternyata kisahnye mencintai suami orang to...

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha, yup, serial ini dimulai dari serial 1 berkisah tentang perempuan yang mencintai si Mas, seorang lelaki beristri :D

      Delete