Thursday, 20 June 2013

Sebenarnya ini terjadi di bulan Mei lalu saat aku mendampingi dan menjaga Bapak di rumah sakit. Aku mendampingi dan menjaga sendirian tanpa teman. Riwa riwi ke sana ke sini sudah menjadi tugasku selama itu. Tak pandang pagi, siang, sore ataupun malam, jika perawat memberi resep, itu berarti aku harus berangkat ke apotek.


Waktu itu malam hari. Perawat ICU memberikan resep untuk kutebus di apotek. Dari ICU menuju apotek lumayan jauh. ICU berada di lantai 2, dan berbeda lokasi gedung dengan apotek. Untuk turun ve lantai 1 aku memilih lift, dibanding harus menuruni lewat tangga. Suasana sepi dan dingin. Hujan mulai rintik-rintik. Menuju lift terasa sepi senyap, tapi aku tetap langkahkan kaki dengan tenang. Di depan lift tua aku sendirian menunggu pintu lift terbuka. Tiba-tiba mataku menangkap bayang seorang lelaki berbadan tegap yang kelihatan sedang menunggu. Entah sedang menunggu apa, atau entah sedang menunggu siapa. Dia bersandar di pinggir tangga. Terlihat resah. Berkaos hijau seperti hijau tentara. Aku menatapnya sejenak, lalu tersadar saat lelaki itu menghilang seketika, berbarengan dengan pintu lift yang terbuka. Ufh...


Di dalam lift aku mulai sedikit resah. kusandarkan punggungku ke dinding lift yang dingin. Lantai 1, dan pintu lift terbuka. Aku bergegas keluar dari lift dan berjalan cepat menuju apotek. Ingatan tentang lelaki di dekat lift tadi mulai hilang. Hands free yang kupakai di telinga menyuarakan lagu-lagu yang akrab di telingaku. Lalu kurasakan lapar menggodaku untuk mampir makan di kantin yang masih buka. Setelah memesan makanan, kugeletakkan kepalaku di atas meja. Aaah, lelah dan kantuk mulai memberati mata. Aku memandang ke luar. Lalu aku tersentak. Ada rambut panjang menjuntai dari atas pohon. Oops!! kuarahkan pandang ke atas pohon. Sesosok putih yang memunggungi duduk di cabang pohon, dan rambutnya terurai sampai ke tanah! Ya GUSTI!! Lalu sosok itupun hilang. Hanya gelap yang ada. Bulu kuduk meremang. Aku berusaha menenangkan hati yang berdegup cepat. Setelah selesai makan aku langsung meninggalkan kantin. Tentu saja sesudah membayar. Aku tidak lupa kok. Hehe...


Langkahku menjadi cepat dan semakin cepat. Lift! Hmm.., degup jantung bertambah keras dan cepat. Lift terbuka, dan aku masuk, menuju lantai 2, dengan debaran jantung yang uuufh, haduh! Lantai 2... keluar dari lift aku menambah kecepatan langkah menuju ruang ICU untuk memberikan obat yang tadi diresepkan untuk Bapak. Setellah itu aku kembali ke luar bagian ICU, tiduran di kursi yang jadi tempat tidurku selama menjaga Bapak di ICU. Doaku untuk Bapak tak pernah putus untuk kesembuhan dan pulihnya Bapak, tapi juga ditambah untuk mereka yang kutemui tadi, teman-teman ghaib yang mungkin juga sedang resah, semoga tenang di alamnya.., amin.



Salam Senyum,
error
  

2 comments:

  1. Waduh serem ya mbak.. aku pernah praktek di RS tapi syukurnya belum pernah ngalamin kejadian seperti ini... rejeki...rejeki..:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serem banget, mbaK. Beruntung mbaK ga ngalamin Kejadian gini. AKu ngalamin beberapa Kali di rumah saKit, mbaK

      Delete