Sunday, 7 July 2013

error bercerita,"Sebuah sisi hidup hitam"

"WHAT??!", teriakku saat mendengar berita itu dari temanku


"Ya, begitu. Dia di'ambil' siang tadi oleh orang hijau", jawab temanku


Aku terdiam berpikir keras bagaimana cara untuk menjemput temanku yang menurut temanku 'diambil' oeh orang hijau. Orang hijau itu sebutan kami untuk kelompok yang 'memegang' daerah utara. Ufh ada masalah apa lagi dengan temanku yang satu itu? Dia selalu saja bermasalah dengan kellompok lain, dan selalu membuat kami jadi memutar otak. Rasa setia kawan antar kami amat besar. Tak pernah kami membiarkan salah satu dari kami masuk dalam masalah sendirian.


"Trus piye, bro?", tanya temanku padaku.


Hmm, aku memang perempuan, tapi di team ini semua memanggilku bro, cuma aku satu-satunya perempuan di sini, tapi mereka mengakui kenekatan dan semangat perangku.


"Aku ke sana. Aku yang jemput. Bos Hijau masih punya 1 hutang denganku", jawabku serius sambil mulai bangkit


"Bro, sendirian? Aku melu, ngikut ya bro. Jangan sendirian. Bahaya", ujar temanku dengan nada khawatir


"Halah, ora sah, ga usah. Aku sendiri aja. Ga apa-apa", jawabku


"Bro, tinggalin sebungkus bro. Habis nih, mau beli malas", temanku yang satu lagi berkata padaku


Sebungkus rokok kretek kulemparkan padanya sambil bercanda berkata,"Ora modal, ga modal. Payah. Rokok minta, gimana bisa jadi garang?"


Temanku tertawa terbahak-bahak. Sudah terlalu biasa aku mengatakan hal itu. Mana bisa kamu disegani orang, kalau rokok aja masih menadah.


Jaket di kursi aku ambil dan kukenakan. Helm fullface juga. Temanku melempar kunci motor padaku sambil berteriak,"Hati-hati bro, yakin bisa sendiri?". Aku tertawa.


                              ********************


Motor kuhela maximal. Motor sudah jadi bagian hidupku. Jadi kalau ngebut, itu sama seperti nafasku. Sedangkan masalah mesin motor, sudah ada bengkel yang mengurus semua itu. Gratis, karena masih masuk bagian lingkungan penjagaan keamanan teamku. Beres semua untuk perkara motor.


Hmm, sudah sampai di base camp Hijau. Ada beberapa orang sedang duduk merokok, dan seorang yang berambut panjang mendekatiku sambil tertawa.


"Waah, bro yang ini yang menjemput. Piye kabarmu bro?", tanyanya padaku sambil menepuk bahuku


"Apik, bro. Baik-baik aja. Piye, bos di dalam ga? Iya, aku mau ketemu si bos", jawabku sambil turun dari motor.


"Helmnya di motor aja bro, ga sah dibawa", Ujarnya sambil tertawa. Dia pasti sudah mendengar cerita tentangku kemarin yang berkelahi bersenjatakan helm. Aku tertawa.


"Polos ga bro?", tanyanya lagi. Maksud kata polos adalah tak membawa apapun, baik senjata tajam maupun senjata api.


"Lah aku baik-baik, bro. Mau ngobrol aja sama si bos, masa bawa-bawa", aku tersenyum. Hmm, padahal belati kecil selalu ada terselip di celanaku. Tapi biarlah, cuma belati kok.


Diantarnya aku ke dalam, bertemu bos Hijau yang biasa kupanggil Granda. Granda ada di sana sedang duduk tenang mendengarkan musik jazz, dan ruangannya tertata apik.


"Bro! Hlah bener to kamu yang datang. Mau jemput bro-mu itu? Bukan masalahmu, bro cantiiik", ujar Granda sambil tersenyum dan mengulurkan tangan menjabat tanganku'


"Granda, apik? Iyo Grand, mau jemput bro team-ku. Ayolah Granda, jangan dia ditahan. Ada masalah apa, Granda?"


"Dia bacok anak baruku. Ya diambil sama anak-anakku. Bro-mu itu kurang ajar, sok jagoan. Jangan dipakai lah dia itu. Aku dah mikir, pasti kamu yang datang. Heh, mau tukar sama hutangku ya?", tanya Granda sambil mengangsurkan sebotol coke untukku. Granda tau, aku tak suka minuman beralkohol, apalagi di 'jam kerja' seperti ini.


"Makasih Granda, maafkan bro team-ku, Granda. Aku janji urus dia. Ga akan bermasalah lagi sama anak buah Granda. Mana berani sama Granda, team besar dan hebat!", aku berkata pada Granda dengan tawa dan juga dengan nada serius. Dengan orang seperti Granda tetap harus berhati-hati. Tawa Granda bisa berubah cepat menjadi lubang di tubuh karena letusan tiba-tiba.


"Ga terburu-buru kan? Gimana anak-anakmu di rumah? Apik-apik wae? Sudahlah, berhenti saja dari job-job ini", Granda bicara padaku


"Apik, Grand. Lah mau makan apa Grand kalau berhenti? Gajiku ga cukup, Grand. Ga apa-apa, ada di team yang sekarng jadi ada tambahan Grand", kataku


"Tambahan musuh? Tambahan adrenalin?", Granda tertawa


Aku tertawa mendengar tanya Granda. Ya, Granda benar. Memang menambah musuh, dan menambah adrenalin. Tapi ini hidupku, dan aku menikmatinya. Lelah pasti. Pagi hingga sore aku bekerja seperti biasanya menjadi pegawai di satu perusahaan swasta, sambil memantau kerja teamku lewat informasi di ponsel.


Granda menelfon yang di luar. Anak buahnya masuk. Granda menginstruksikan agar bro team-ku dibawa keluar. Anak buah Granda mengangguk dan bergegas keluar ruangan.


Aku menunggu sambil terus mengobrol dengan Granda. Yang jelas Granda menasehati agar aku berhati-hati dengan bro team-ku itu. Granda juga menyelipkan sejumlah uang untuk anak-anakku. Granda berkata bahwa dia kagum padaku. Seorang ibu, yang berjuang mati-matian untuk anak-anaknya, juga seorang ketua team yang berani membela team, padahal resiko besar ada padaku. Hmm, aku cuma menjalankan hidup, memperjuangkan cita-cita anak-anakku.


Tak lama anak buah Granda masuk
 dengan bro team-ku. Wajah bro team-ku lebam. Ufh, untung cuma lebam... Padahal biasanya lebih dari cuma sekedar lebam. 


"Makasih Granda. Makasih", kataku pada Granda


"Heh, lu! Lu harus ucap makasih ke bro yang cantik ini! Gua lepasin lu karena bro cantik ini baik. Gua biarinin tuh anak-anak gua habisin lu, kalau lu macem-macem lagi, apalagi lu sampai berani sama bro cantik ini! Gua lindungin bro cantik ini, tau ga lu! Dia perempuan tapi ga goblok kayak lu!", seru Granda sambil menampar pipi bro team-ku.


Bro team-ku menunduk, lalu mengucap terimakasih pada Granda juga padaku.


Akhirnya aku bisa menjemput satu dari bro team-ku tanpa harus menggunakaan kekerasan, tanpa harus mengeluarkan belati dari selipan celana...


Pulang... Anak-anakku menunggu di rumah untuk makan malam... Menjadi seorang ibu setelah menjadi ketua 1 team di dunia berbeda...


                              ******************************





      

6 comments: