Skip to main content

Ya, Aku Bahagia, Anakku... Kita Bahagia Bersama...


Di hari perayaan usiaku yang ke 63 tahun ini, tiga anakku telah berhasil mewujudkan ucapan mereka 21 tahun lalu...

“Kami akan membahagiakan mama”, anak sulungku  berkata, diiringi anggukan adik-adiknya. ”Kami akan sekolah sampai lulus perguruan tinggi dengan biaya sendiri, akan bekerja keras untuk kita. Susah bersama, senang juga bersama. Tidak melupakan masa lalu saat makan nasi dan garam, ma. Kita harus bahagia bersama”.
                                                             
 ******************                       



Comments

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat
    Segera dicatat sebagai peserta Kontes Unggulan;Enam Puluh Tiga
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama pak dhe...

      Salam senyum senyum penuh cinta dari error n kasapink

      Delete
  2. wah... bahagianya ini keluarga yah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin...
      ini imajinasiku tentang masa depanku dan anak-anakku

      :)

      Delete
  3. eehhmm.......harmonis. moga nanti begitu ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin...semoga bahagia selalu,amin... juga keluarga mbak Rosa, bahagia selalu,amin :)

      Delete
  4. jadi teringat masih belum bisa membahagiakan orang tua hiks..

    ReplyDelete
    Replies
    1. mulai skarang brusaha membahagiakan ortu... :)

      Delete
  5. makan "asam garam" aja udah dikatakan berpengalaman. ga kebayang bila makan "nasi garam", pasti udah expert bgt dibidangnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya mbak, aku dan anak-anak memang dulu pernah makan lauknya istimewa banget, garam. Ya nasi garam.Itu udah bersyukur banget bisa makan,mbak.Dan akhirnya jadi lebih bisa bersyukur waktu akhirnya kami bisa makan nasi dengan lauk beneran :D

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Prediksi Jitu, Nomor Jitu, Akibatnya juga Jitu

Sebenarnya ini sebuah cerita dari pengalaman seorang teman beberapa tahun yang lalu. Judi, ya mengenai judi. Temanku itu bukan seorang kaya harta, tapi juga bukan seorang yang berkekurangan menurutku, karena tetap saja masih ada orang yang jauh lebih berkekurangan dibanding dia. Empat orang anaknya bersekolah di sekolah swasta yang lumayan bergengsi di kota kami dulu. Tapi temanku itu tetap saja merasa 'miskin'. Selalu mengeluh,"Aku ga punya uang, penghasilan papanya anak-anak cuma berapa. Ga cukup untuk ini dan itu." Hampir setiap hari aku mendengar keluhannya, dan aku cuma tersenyum mendengarnya. Pernah aku menjawab,"Banyak yang jauh berkekurangan dibanding kamu". Dan itu mengundang airmatanya turun. Perumahan tempat kami tinggal memang terkenal 'langganan banjir', jadi pemilik rumah di sana berlomba-lomba menaikkan rumah posisi rumah lebih tinggi dari jalan, dan temanku berkeinginan meninggikan posisi rumahnya yang juga termasuk 'langganan ba...

error tentang,"Ga dibantu malah terbantu"

Ingat banget kejadian di bulan September 2007, itu barusan aja suami alias papa dari Ngka, Esa, Pink meninggal. Ga enak mendengarnya, cenderung menyebalkan, tapi justru ini yang membuat gue jadi punya semangat besar untuk bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk Ngka, Esa, Pink. Suami, Henk, meninggal di usia 39 tahun. Tepat seminggu sebelum ulang tahun gue yang ke 36 tahun. Ngka usia 11 tahun, Esa 8 tahun, Pink menjelang 7 tahun. Gue ibu rumah tangga, yang ga berpenghasilan. Gue ibu rumah tangga murni. Waktu itu diadakan acara selametan meninggalnya Henk. Hampir seluruh keluarga berkumpul di rumah kami. Berdoa untuk Henk. Sewaktu orang-orang sudah mulai berkumpul, ada seorang saudara dari Henk berkata begini,"Membantu satu kali itu ga apa-apa ya Nit. Tapi kalau membantu seterusnya ya ga lah". Diucap di depan semua orang yang akan berdoa. Gue kaget, terus terang kaget mendengar ini. Tapi gue bisa menetralisir hati, dan menjawab,"Oh, jangan dibantu, mas. Ga perl...

(2) Cerita Panjang: Err.

Selamat pagi, dunia! Aku pecinta malam, tapi hal yang paling membahagiakanku adalah saat meninggalkan malam yang kelam! Setiap pagi badan terasa amat letih karena sang malam memaksa pergi menuju dunia kelam tanpa bisa menolak. Malam adalah hal yang menyenangkan karena tidak mengusikku agar bergerak cepat, tidak membuatku tergesa-gesa. Tapi malam juga sekaligus menjadi waktu yang menakutkan bagiku. Malam yang memaksa untuk tidur. Padahal setiap aku mulai terlelap, jiwa disedot kuat hingga tenggelam ke kerak bumi terdalam! Bertemu dengan para makhluk aneh yang tak terlihat olehmu dan orang-orang lain. Mereka makhluk tanpa raga. "Err! Mandi!" Mama berteriak memanggil dan menyuruhku segera mandi. Pagi! Waktu yang kubenci dan sekaligus kutunggu. "Iya, Ma! Otewe kamar mandi!" "Jangan berteriak ke orang tua!" "Kalau aku berbisik, Mama tidak mendengarku!" Berlari menuju kamar mandi. Di sudut dapur kulihat wanita menunduk dengan rambut terg...